(sekuel I love you, Masumi)
“Aku ingin putus darimu, Masumi” kata Maya tiba-tiba ketika Masumi datang menjemputnya.
“Mengapa?”Tanya Masumi
“Apa aku harus mengatakan alasannya?” Maya balik bertanya
“Tentu saja aku harus tahu alasannya. Apa yang menyebabkan kamu tiba-tiba bicara seperti itu”
“Karena..kamu datang terlambat, aku harus menunggumu lamaaaa” sahut Maya kesal
“Jangan main-main kamu Maya. Aku sudah memberimu penjelasan, mengapa aku datang terlambat”
“Ah, alasan apapun aku tidak mau tahu. Pokoknya aku mau putus karena kamu datang terlambat” kata Maya
“Tapi, tetap saja itu tidak masuk akal” Ucap Masumi bersikeras “Masa karena aku datang terlambat, kamu langsung memutuskan hubungan kita”
“Kenapa tidak?”Tanya Maya
“Maya, jangan becanda….cara becandamu tidak lucu”
“Siapa yang sedang becanda. Aku serius” sahut Maya sambil meninggalkan Masumi
“Maya” panggil Masumi sambil menarik tangan Maya.
“Lepaskan akuu…” seru Maya sambil menarik tangannya”awas, kalau kamu mengikutiku” ancam Maya sambil pergi meninggalkan Masumi.
*****
Beberapa hari kemudian
Maya sedang berbaring menatap langit-langit kamarnya. Ia sangat merindukan Masumi.
Berulang kali Maya melihat ponselnya, berharap Masumi meneleponnya atau mengiriminya pesan.
Tapi, berkali-kali Maya menghela napas kecewa.
“Masumi…mengapa kamu tidak meneleponku?Kamu jahat…benar-benar jahaaaaat” seru Maya
Deg
“Ah..jangan-jangan Masumi menganggap serius ucapanku waktu itu.”ucap Maya lagi teringat kembali saat ia mengatakan kata ‘putus’ karena Masumi terlambat menjemputnya.
“Aaaaaaaaaaa…..aku memang bodoooooh! Mengapa aku tidak berpikir dulu sebelum bicara? Mengapa aku mengatakan itu pada Masumi?bodoh….sangat bodooooh” teriak Maya kesal sambil memukul-mukul kepalanya.
Maya langsung bangun dan duduk di tempat tidurnya.
“Aku harus segera menjelaskan padanya bahwa waktu itu aku tidak sungguh-sungguh……Masumi, maafkan aku”
Akhirnya maya mengambil ponselnya dan memberanikan diri menghubungi satu nama.
“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.Silahkan coba beberapa saat lagi”
Berkali-kali Maya mencoba tapi tetap saja ponsel Masumi tidak aktif.
“Masumi…aku sangat rindu padamuuu” ucap Maya sambil terisak “Mengapa ponselmu tidak aktif? Dasar Masumi jahaaat…..”
Semalaman Maya tidak bisa tidur. Ia sangat menyesal dengan apa yang pernah ia ucapkan pada Masumi.
Kata yang menyebabkan Masumi meninggalkannya.
Pagi-pagi sekali, Maya sudah berada di depan kantor Daito. Kantor itu masih tutup. Tapi Maya tidak peduli. Ia terus menunggu. Ia sangat ingin menemui Masumi.
Detik demi detik..menit demi menit…jam demi jam berlalu….Akhirnya penjaga kantor membuka pintu dan karyawan mulai berdatangan.
Maya berdiri di depan pintu dan mengawasi setiap orang yang masuk. Tapi ia tidak melihat Masumi. Sampai akhirnya ada seseorang yang dikenalnya datang.
“Nona Mizuki…..” panggil Maya
Mizuki yang baru turun dari taksi, mencari orang yang memanggilnya, dan akhirnya ia melihat Maya yang sedang datang menghampirinya.
“Maya?” tanyanya terkejut “ Ada apa kamu pagi-pagi kemari?”
“Nona Mizuki..Masumi, mengapa dia belum datang juga?”Tanya Maya
“Pak Masumi?” Mizuki mengerutkan keningnya “Memangnya kamu tidak tahu, Maya? Pak Masumi tidak mengatakannya padamu sampai kamu mencarinya?”
“Mengatakan apa?”Tanya Maya penasaran
“2 hari yang lalu, Pak Masumi berangkat ke Kyoto. Ia ada urusan bisnis di sana. Masa ia tidak mengatakannya padamu?” Tanya Mizuki tidak percaya Karena ia mengetahui hubungan atasannya itu dengan Maya.
“Pak Masumi ke Kyoto?” Ucap Maya balik bertanya.
“Jadi kamu benar-benar tidak tahu?Kalian kenapa lagi? Ribut lagi?Aku heran deh dengan kali----
“Huaaaaaa…….”
Tiba-tiba Maya menangis keras dan memeluk Mizuki.
Mizuki hampir saja terjatuh karena ditubruk Maya.
Tangisan keras Maya membuat orang-orang yang disekitar mereka memandang mereka.
“Maya…diam…jangan menangis seperti ini…kita jadi tontonan” ucap Mizuki mencoba menenangkan Maya.
Maya akhirnya di bawa Mizuki ke dalam kantor Daito.
“Sudah lebih tenang sekarang?” Tanya Mizuki sambil membawa segelas susu coklat hangat dan memberikannya pada Maya.
Maya meminum susu coklat itu perlahan.
“Kamu sebenarnya kenapa lagi dengan pak Masumi?” Tanya Mizuki lagi “Kalian ribut lagi?”
Maya menggeleng.
“Lalu kenapa?”
“Aku…..beberapa hari yang lalu…aku mengatakan putus pada Masumi” ucap Maya perlahan.
“PUTUS?” Tanya Mizuki tidak percaya “Kamu mengatakan putus?”
Maya menggangguk.
“Nona Mizuki…aku tidak serius…saat itu aku sedang kesal karena Masumi terlambat menjemputku”
“Maya..Maya kamu ini ada-ada saja. Masa gara-gara hal seperti itu, kamu langsung minta putus” sahut Mizuki sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Nona Mizuki…lalu sekarang bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Ya bagaimana menjelaskannya pada Masumi karena sebenarnya aku tidak ingin putus….”
“Kalau begitu aku juga tidak tahu……” ucap Mizuki yang ikutan bingung
“Nona Mizukii….” Panggil Maya dan air mata mulai menggenang di matanya.
“Jangan menangis lagi Maya. Kamu menangis sekarang juga percuma. Pak Masumi sedang tidak ada di sini. Nanti saja ya kamu menangisnya kalau Masumi sudah datang” bujuk Mizuki.
*****
Maya melewati hari-harinya dengan sedih. Ia sangat ingin bertemu Masumi. Rei yang melihat Maya bersedih sepanjang hari mengajak Maya pergi jalan-jalan ke salah satu mal.
Saat mereka berkeliling mal itu, tiba-tiba mata Maya tertuju pada satu sosok. Di sana, di salah satu toko perhiasan, Maya melihat sosok yang dirindukannya…..bersama seorang wanita…..sedang memilih sesuatu.
Saat wanita itu berbalik, barulah Maya tahu siapa wanita itu.
“Masumi dan nona Shiori…….Masumi dan nona Shiori? Tidak mungkin…tidak mungkin….” seru Maya sambil berbalik dan berlari menjauhi toko itu.
Dengan segera Rei mengejarnya.
“Maya…tunggu…..” teriaknya.
Akhirnya Rei berhasil menangkap tangan Maya.
“Rei…Masumi….Masumi….dia kembali dengan nona Shiori……. Dia bersama nona Shiori lagi…lalu aku bagaimana…aku bagaimana, Reiii.” Ucap Maya disela-sela tangisannya.
“Maya….” Ucap Rei yang hanya biasa memeluk Maya mencoba menenangkan gadis itu. Ia tidak tahu harus berkata apa karena ia sudah tahu kalau yang meminta putus duluan adalah Maya.
*****
Hari ini, Maya baru saja selesai syuting film terbarunya. Hanya itu yang bisa maya lakukan setiap harinya, Bolak-balik ke lokasi syuting untuk melupakan kesedihannya. Toh, semua itu salahnya. Dia sendiri yang cari gara-gara. Jadi bukan salah Masumi kalau Masumi kembali lagi pada Shiori.
Dengan tertunduk lesu, Maya menyusuri jalan menuju apartemennya. Rencananya ia akan mampir untuk membeli beberapa roti. Walaupun beberapa hari ini ia kehilangan nafsu makannya, tapi ia memaksakan diri untuk tetap makan karena ia sadar ia punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Tanpa Maya sadari, sedari tadi Maya dibuntuti oleh sebuah mobil sedan hitam. Saat di tempat yang sepi, mobil itu berhenti tepat di dekat Maya. Salah satu penumpangnya keluar dan membekap Maya dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius sehingga menyebabkan Maya tidak sadarkan diri.
Ketika Maya membuka matanya, ia berada di sebuah kamar yang cukup luas. Ia bangun dan mendekati pintu, mencoba membukanya tapi pintu itu terkunci.
Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki seseorang mendekati tempatnya di kurung.
“Ada yang datang…” ucap Maya “Tapi siapa yang datang?”
Ceklek
Seseorang membuka pintu kamar tersebut.
Maya menjauh dan kembali duduk di tepi ranjang.
Seseorang memakai jubah hitam dan bertopeng ghostface (Topeng yang di pakai di film SCREAM) berdiri di depan pintu.
“AAaaaaaa……..” teriak Maya terkejut melihat orang yang bertopeng menakutkan itu, refleks ia bangun dari tempat tidur dan mundur ke belakang.
“Ka..kamu..si..sia..pa?”Tanya Maya takut-takut
Orang itu tidak menjawab panggilan Maya, dia hanya berjalan mendekati Maya.
“Ma..mau apa ka..mu?” Tanya Maya lagi sambil terus mundur menjauh.
Orang bertopeng itu terus mendekati Maya, sementara Maya terus mundur menjauhi sampai akhirnya dia terpojok. Punggungnya menyentuh tembok. Ia terdesak.
“Ja..ngan mendekat..per..gi…..pergiiii…” seru Maya yang ketakutan.
Tapi, orang bertopeng itu mengacuhkannya dan terus mendekati Maya.
Ia semakin dekat dan semakin mendekati Maya….
Maya semakin ketakutan.
Satu nama terlintas di pikirannya.
“Masumiiii…..tolong aku…Masumiiii…..” teriaknya sekeras mungkin walaupun ia tahu mustahil Masumi akan mendengarnya karena ia tidak tahu Masumi ada di mana.
Langkah orang bertopeng itu berhenti.
“Akhirnya…kamu memanggil namaku Maya” ucap orang bertopeng itu.
“Ma..masumi?” ucap Maya tidak percaya saat mengenali suara itu.
Orang itu membuka jubah hitam dan topeng ghostface-nya dan tampaklah wajah tampan yang sangat dirindukan Maya sedang tersenyum menatapnya.
Tanpa pikir panjang, Maya langsung berlari ke pelukan pria itu.
Tapi….
Tak lama kemudian Maya seolah tersadar dan melepaskan pelukannya.
“Jahaaaat” seru Maya “Kamu sungguh jahaaaat, Masumi…kamu benar-benar membuat aku ketakutan” lanjutnya sambil memukuli Masumi.
Masumi meringis kesakitan.
“Ampun, Maya…ampun”ucapnya.
Tapi, Maya terus tidak peduli dan terus memukuli Masumi.
Masumi menangkap tangan Maya.
“Maaf…maaf ya Maya…..Maaf” ucap Masumi sambil menatap Maya
Maya menarik tangannya dan dengan wajah cemberut ia pergi menjauhi Masumi.
Ia duduk di tepi ranjang, membelakangi Masumi.
Masumi tersenyum melihat tingkah gadis mungilnya itu.
Ia kemudian mendekati Maya dan memeluk Maya dari belakang.
Pada mulanya Maya memberontak,tapi Masumi tidak melepaskan pelukannya. Jadi akhirnya Maya hanya diam saja.
“Maya…maafkan aku ya….maaf…jangan marah lagi ya….” Bujuk Masumi
Maya tidak bergeming.
“Maya…”
“Jahaaat….Masumi jahaaat….” Ucap Maya sambil terisak
“Iya..iya…aku memang jahat…..Maafin aku ya…..jangan menangis seperti itu,Maya. Aku tahu aku salah” kata Masumi lagi
“Kenapa kamu tega melakukan itu? Kamu tahu aku tadi sangat ketakutan…kamu benar-benar jahaaaat” seru Maya
“Maya..aku kan sudah minta maaf….aku tahu aku jahat dan tidak seharusnya menakuti kamu…..aku minta maaf ya….”bujuk Masumi sekali lagi.
“Maya…..”
Maya diam saja.
“Jadi…kamu tidak mau memaafkan aku? ya sudah..aku tinggal….” Sahut Masumi sambil melepaskan pelukannya dan hendak berdiri.
Tapi Maya menahan tangannya.
“Kamu tidak boleh pergi sebelum menjelaskan mengapa kamu tega melakukan itu padaku” ucap Maya.
Masumi tersenyum kecil dan kembali duduk di sebelah Maya
“Baiklah….baiklah aku jelaskan” ucap Masumi
“Apa?” Tanya Maya
“Anggap saja aku sedang membalas apa yang kamu pernah lakukan padaku dulu”sahut Masumi
“Memangnya apa yang pernah aku lakukan padamu dulu?” kata Maya balik bertanya.
“Kamu lupa kejutan apa yang kamu lakukan pada hari ulang tahunku sehingga menyebabkan aku hampir terkena serangan jantung?” Tanya Masumi “Jadi anggap saja hari ini aku sedang membayarnya” lanjutnya enteng.
“Tapi----“ Maya mencoba protes
“Tapi apa?”
“Tapi waktu itu kan karena kamu sedang berulang tahun jadi aku memberimu kejutan. Sekarang aku tidak berulang tahun” sahut Maya
“Memangnya hanya di hari ulang tahun saja baru boleh memberi kejutan?”
“Jadi….untuk apa kamu memberi aku kejutan yang sampai membuat aku ketakutan seperti tadi?hanya iseng? Sengaja ya?” Tanya Maya lagi
“Tidak…tidak iseng…kalau sengaja sih iya” sahut Masumi sambil tertawa yang kemudian mendapat pukulan
dari kekasihnya itu.
“Kenapa hari ini kamu galak sekali, Maya. Main pukul saja. Besok bisa-bisa badanku memar-memar lho” kata Masumi
“Biarin….” Sahut Maya kembali cemberut
“Maya..jangan marah lagi dong..aku kasih alasannya deh….karena aku ingin merayakan sesuatu” Kata
Masumi lagi.
“Apa?”
“Karena…aku ingin merayakan….merayakan-----hmmm….” Jawab Masumi berahasia.
“Merayakan apa?” Tanya Maya penasaran
“Coba kamu tebak”jawab Masumi
“Aaah, Masumi…kasih tahu aku saja langsung. Jangan buat aku penasaran” rajuk Maya
“Coba tebak dulu” sahut Masumi bersikeras.
“Hmmmm” Akhirnya Maya mencoba berpikir “Ulang tahunmu? Jelas bukan….ulang tahunku? Juga bukan….apa tanggal kita jadian, Masumi?” Tanya Maya akhirnya.
“Memangnya hari ini tanggal kita jadian?” Masumi balik bertanya.
“Bukaaan” jawab Maya
“Kalau gitu…ya bukan” sahut Masumi “Ayo, pikirkan lagi yang lain”
“Apa kamu berhasil memenangkan proyek yang besar?” Tanya Maya
“Tidak”jawab Masumi
“Oh…aku tahu…hari pertama kali kita bertemu?” Tanya Maya lagi
“Bukan” jawab Masumi lagi
“kalau begitu hari kita bertemu di lembah plum?”
Masumi menggeleng.
“Atau…hari pertama kita menonton sejuta bintang?”
Sekali lagi Masumi menggeleng.
“Bukan juga…..ah…jadi apa?atau hmmmm….tanggal putusnya pertunangan kamu dengan nona Shiori?”
“Hah” Masumi terkejut mendengar pertanyaan Maya tapi kemudian ia tertawa,
“Tentu saja bukan,,apa hubungannya…” sahutnya.
“Jadi apa? Semuanya bukan….aku menyerah” ucap Maya “Masumi, kamu beri tahu saja ya…ayolah beritahu saja aku” bujuk Maya
Baiklah..aku beritahu….hari ini adalah hari----“Masumi menggantung kalimatnya.
“Hari apa Masumi?” Tanya Maya penasaran
“Tepat hari ini….beberapa tahun yang lalu…..bibirku pertama kalinya bersentuhan dengan bibir gadis mungil yang akhirnya aku sadari bahwa aku mencintainya”Jawab Masumi
“Apa maksudmu? bibirmu-----“Maya menatap Masumi yang mengangguk dan akhirnya ia mengerti
“Ah…jadi itu ciuman pertamaku yang kamu curi…kapan? Masumi..kapan dan bagaimana itu bisa terjadi?” Tanya Maya penasaran
“Curi? Kamu mengatakan aku mencuri?”
Maya menggangguk “Mengambil tanpa diketahui pemiliknya bukannya mencuri namanya?”
“Ayo, Masumi..kasih tahu aku…kapan?” desak Maya
“Kamu mau tahu kejadiannya? Tidak usah deh….”
“Aku mau tahu….aku harus tahu, Masumi…ayo beritahu aku” paksa Maya “Atau aku pukul kamu lagi nih” ancam Maya
“Baiklah..baiklah aku beritahu…kamu main pukul sekarang ya”jawab Masumi pasrah
Maya tersenyum menang.
“Malam itu…hujan turun lebat….” Masumi memulai kalimatnya sambil menatap Maya “Aku menemukanmu sedang duduk di ayunan di taman favoritmu. Lalu kamu jatuh pingsan dan aku membawamu ke rumahku. Dokter mengatakan bahwa kamu hampir terkena radang paru-paru. Dan karena kamu belum terbangun dari pingsanmu, jadi aku memberimu obat lewat----“Masumi menghentikan kalimatnya.
“Jadi…..jadi di hari itu….hari…..”
Tatapan Masumi berubah sendu.
“Hari itu…orang yang sangat kamu benci malah mencuri ciuman pertamamu dengan alasan ingin memberimu obat, padahal gara-gara aku, kamu-----“
Maya meletakkan jarinya di bibir Masumi.
“Jangan mengungkit masalah itu lagi, Masumi. Aku sudah memaafkanmu” ucap Maya.
Lalu untuk meyakinkan perkataannya, Maya memeluk Masumi.
“Aku mencintaimu, Masumi Hayami”bisiknya.
Masumi yang mendengar itu terkesiap. Kemudian dia membalas pelukan Maya.
“Terima kasih, Maya” sahutnya.
Mereka berpelukan erat.
Tapi, tiba-tiba maya melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Masumi menjauhinya dan kembali menatap Masumi.
“Nah…sekarang aku sudah tahu kapan ciuman pertamaku kamu curi….jadi ciumanku saat kamu ulang tahun itu ciuman kedua kan, Masumi?” tanyanya
“Bukan” sahut Masumi pendek
“Bukan? Kamu masih mengatakan bukaan?” Tanya Maya tidak percaya “Jadi…berapa kali kamu mencuri ciumanku?
Masumi hanya tersenyum mendengar pertanyaan Maya.
“Masumiiii” panggil Maya gemas “Jawaaaab”
“Hanya 2 kali, Maya”
“2 Kali? Jadi yang kedua kapan?” Tanya Maya penasaran
“Yang kedua? Kamu mau tahu juga yang kedua kapan?”
“Iya…aku ingin tahu….kapan kamu mencuri ciumanku yang kedua…dasar Masumi pencuri…” sahut Maya gemas
“Yang kedua…hmmmm….kapan ya?” Masumi berpura-pura mengingatnya “ah, nanti saja ya Maya aku memberitahunya….kalau waktunya sudah sampai”jawab Masumi akhirnya,
“Kamu..mau memberitahu dengan memberi aku kejutan lagi? Seperti tadi?” Tanya Maya tidak percaya “Kamu tega melakukan itu lagi, Masumi? Menakut-nakutiku lagi?”
“Memberimu kejutan lagi…..pasti…tapi yang seperti tadi---“ Masumi pura-pura berpikir “ tentu saja tidak, Maya. Aku tidak mungkin memberi kejutan dengan cara yang sama. Kalau sama kamu kan tidak akan merasa terkejut karena kamu pasti sudah tahu…..tenang saja..aku ini orangnya kreatif…aku pasti memiliki cara lain” sambungnya menyombongkan diri.
“Aduh..lagakmu”sahut Maya lalu tertawa.
Masumipun ikut tertawa.
Tapi kemudian keduanya tiba-tiba terdiam dan saling bertatapan.
Perlahan tapi pasti, wajah keduanya mendekat.
Maya melingkarkan tangannya di leher Masumi.
Bibir mereka saling bersentuhan.
Mereka berciuman panjang dan lama menumpahkan semua perasaan mereka.
Dan tiba-tiba…..
Maya mendorong Masumi menjauhinya sehingga bibir mereka terpisah.
Masumi membuka matanya dan memandang tak mengerti.
Maya membalas tatapan Mata Masumi.
“Masumi….”ucap Maya.
“Hmmmm”
“Aku……lapar” lanjutnya polos
Masumi bengong mendengar perkataan Maya tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
“Kamu…kamu memang pandai merusak suasana, Maya” ucapnya di sela tawanya.
“Apanya yang merusak suasana?: Tanya Maya “Salahmu, menculik aku saat aku akan membeli makanan. Jangan tertawa terus Masumi. Aku lapar, ayo kita cari makanan…” lanjut Maya sambil berdiri dan menarik tangan Masumi.
Masumi kembali menarik tangan Maya dan menyebabkan tubuh mungil itu terduduk di pangkuannya.
“Masumi….”
“Tapi di sini, tidak ada restoran, Maya” ucap Masumi menyesal
Maya membelalakkan matanya.
“Masumi…tegaaaa…..jadi di sini sama sekali tidak ada makanan?” tanyanya dengan wajah memelas
Masumi pura-pura berpikir.
“Hmmm…kayanya di lemari es ada----“
Maya langsung berdiri dan menarik tangan Masumi.
“Ayo…kalau begitu…kita lihat isi lemari es…” serunya semangat.
Masumi tersenyum dan mengikuti langkah Maya yang keluar dari kamar lalu menuruni tangga menuju ke lantai bawah.
Tapi di bawah, langkah Maya terhenti. Ia celingak-celinguk.
“Masumiii….”
“Hmmm….”
“Dapurnya di mana?” tanyanya polos.
Masumi menunjuk ke satu arah dan dengan segera Maya kembali menarik tangan Masumi dan menuju arah yang ditunjuk Masumi tadi.
Lemari es itu besar dan didalamnya banyak daging.
“Kita barbeque-an ya Maya” ucap Masumi “Ayo…bantu aku membawanya keluar”
“Keluar?” Tanya Maya bingung
Masumi hanya mengangguk dan meminta Maya mengikutinya.
Di teras, ternyata Masumi telah menyiapkan tempat.
Dilatari suara ombak dan berpayungkan sejuta bintang tampak sebuah meja dan 2 buah kursi. Tak jauh dari situ ada tempat untuk memanggang daging.
Di atas meja tampak satu buket besar mawar ungu.
Maya terpaku di tempatnya berdiri.
Melihat Maya yang hanya bengong, Masumi membimbingnya menuju ke salah satu kursi.
“Silahkan duduk, nona” ucap Masumi “Dan tunggu sebentar, masakan segera siap” lanjutnya sambil meninggalkan Maya dan menuju tempat memanggang.
Maya hanya duduk diam memperhatikan Masumi yang sibuk memanggang daging.
Tak lama tercium bau harum dari daging yang dipanggang Masumi.
“Silahkan nona. Steak daging saus barbeque ala chef special Masumi Hayami telah siap. Silahkan dinikmati” ucap Masumi sambil meletakkan piring itu di dekat Maya kemudian ia duduk di kursi satunya lagi.
“Mengapa diam saja” ayo di makan…..tadi katanya lapar” ucap Masumi
Maya menatap Masumi dengan mata berkaca-kaca.
Masumi kebingungan.
“Kamu kenapa lagi?apa kamu sakit?” tanyanya khawatir
Maya menggeleng
“Aku..aku sungguh terharu, Masumi”Ucap Maya perlahan “Terima kasih”
Masumi tersenyum senang.
“Aku senang dapat membuatmu terharu…tapi sekarang habiskan makanmu..bukankah dari kamu mengatakan kamu belum makan dari tadi siang? Aku tidak ingin melihatmu sakit” kata Masumi
Maya hanya mengangguk dan memulai makan.
Selesai makan, Masumi dibantu Maya membereskan piring lalu mereka pindah ke sofa yang ada di teras.
Maya menyandarkan kepalanya di dada Masumi.
“Masumi”
“Hmmm…”
“Ini di mana?” tanyanya
“Izu” jawab Masumi pendek.
“Di izu?” jadi ini villamu yang lain?” Tanya Maya yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan melihat
villa yang berbeda dengan yang pernah ia datangi
“Bukan..ini bukan milikku…aku pinjam” sahut Masumi
“Pinjam?” Tanya Maya mengerutkan dahinya”Pinjam dari siapa?”
“Dari seorang jenderal tua yang galak” jawab Masumi pendek
“Jenderal tua yang galak?” ulang Maya
“Ah, tidak usah di bahas, Maya. Yang penting beliau bersedia meminjamkannya” jawab Masumi.
Keduanya lalu tersiam menikmati suasana malam itu.
“Hmm….Masumi” ucap Maya memecah keheningan
“Apa?"
“Aku….aku ingin meralat ucapanku waktu itu”kata Maya
“Ucapan yang mana?”
“Waktu itu aku pernah mengatakan kalau aku…kalau aku ingin putus darimu” Maya mengangkat wajahnya dan memandang Masumi “Aku tidak sungguh-sungguh mengucapkan itu, Masumi…aku tidak mau putus…tidak mauuuu” lanjutnya
“Aku tahu kamu menyesal mengatakan itu” sahut Masumi yakin “Karena mana rela kamu melepas laki-laki tampan berkharisma----“
“Yang dingin dan gila kerja” sambung Maya cepat sambil tertawa.
“eit…aku kan tidak dingin dan gila kerja kalau bersama kamu, maya” protes Masumi
“Iya…iya….tapi kamu pengganggu, usil juga pencuri-----“ mata maya berkilat-kilat jahil saat melanjutkan kalimatnya “Ah ha…aku punya panggilan baru untukmu sekarang Masumi…..Masumi pencuri ciuman bertopeng” ucapnya terkikik
“Kamu menyebutku apa? Pencuri ciuman bertopeng?”
Maya mengangguk. “Iya…kamu kan pernah mencuri ciumanku lalu tadi menakutiku dengan memakai topeng seram itu..cocok kan?”
“Tidak…tidak cocok…aku tidak suka panggilan itu” jawab Masumi “Lagipula aku hanya mencuri ciumanmu 2 kali”
“2 kali juga tetap pencuri namanya” sahut Maya bersikeras
Masumi menghembuskan napasnya panjang.
“Sekarang aku menyesal memberitahukannya padamu, Maya. Harusnya aku tidak pernah mengatakannya. Biar tetap menjadi rahasia saja” ucapnya dengan nada menyesal
“Sudah terlambat, Masumi pencuri ciuman bertopeng” sahut Maya sambil tertawa. Tapi kemudian wajahnya berubah sedih. Ia kembali teringat sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Masumi yang melihat perubahan Maya merasa bingung.
“Sekarang mengapa kamu tiba-tiba murung?”tanyanya
“Masumi….aku…aku tidak mengerti bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku”
“Apa maksudmu?”
“Masumi, apa benar di hatimu hanya ada aku dan kamu sungguh-sungguh mencintaiku?” Tanya Maya meminta kepastian
“Mengapa kamu tanyakan itu?”
“Soalnya…soalnya sepulang dari Kyoto, kamu tidak pernah menghubungiku tapi…tapi kamu malah bersama dengan..dengan….”
“dengan siapa?”
“Dengan nona Shiori” jawab Maya perlahan “aku…aku pernah melihatmu sedang berduaan dengan nona Shiori” lanjutnya sedih
Masumi mengangkat alisnya.
“Dimana kamu pernah melihat aku berduaan dengan Shiori?” Tanya Masumi
“Di toko perhiasan”
“Oh..di sana” sahut Masumi enteng
“Jadi…jadi benar kalau kamu kembali dengan nona Shiori? Lalu…lalu mengapa kamu sekarang bersama aku?”
“Apa kamu cemburu Maya?”
“Tidak…siapa yang cemburu” sangkal Maya
“Oh..jadi benar nih tidak cemburu, kalau begitu----“
“Masumiiii….” ucap Maya sambil cemberut lalu memalingkan wajahnya.
Masumi tertawa.
“Sudah..sudah….jangan marah lagi…aku hanya becanda. Aku hanya kebetulan ketemu Shiori di sana. Ia hendak mencari kado untuk kekasihnya. Dan Aku…aku membelikan ini untukmu” ucap Masumi sambil memperlihatkan sebuah kalung dengan liontin bintang yang ditengahnya tertanam berlian.
“I..ini….” kata Maya terkejut
“Ini…tentu saja untukmu…untuk bidadari mungilku yang mudah marah tapi walaupun begitu aku sangat mencintainya. Dihatiku hanya ada dia” sahut Masumi menegaskan perasaannya.
“Masumi…” ucap Maya yang kembali menatap Masumi dengan pandangan berkaca-kaca.
“Jangan menangis” kata Masumi lalu ia mengecup mata Maya “Mengapa hari ini kamu cengeng sekali” keluhnya
“Aku tidak menangis…aku hanya mengeluarkan air mata bahagia..aku sungguh terharu” kata Maya
“Mengeluarkan air mata itu namanya menangis,Maya”
“Bukan” sahut Maya bersikukuh
“Menangis”
“Bukaan…Masumi…bukaaan…..aku tidak menangis”
“Iya deh..iya…bukan….”Kata Masumi akhirnya mengalah.
Lalu ia memasangkan kalung itu dileher Maya.
Kemudian Masumi mendekatkan wajahnya ke wajah Maya hendak mencium Maya.
Ketika bibir mereka hampir bersentuhan….
Tiba-tiba Maya mendorong masumi dan memalingkan wajahnya.
“Ah…masumi..” seru Maya “Ada bintang jatuh”
“Mayaaaa…..”ucap Masumi gemas.
The end
manis sekali ^^
BalasHapus*smile smile...* jd ketawa ketiwi bacanyaa..lanjuddd :)
BalasHapushihihihihi lutuna......funnn sekali. Maya emang bikin gemessss
BalasHapusso fun,,,
BalasHapus