Tok..tok…tok…
Pintu ruangan Masumi terbuka, tampak Mizuki melongokkan kepalanya.
“Permisi, pak” ucap Mizuki
Masumi yang sedang membaca dokumen, mengangkat kepalanya.
“Ya…Mizuki ada apa?”
Mizuki pun masuk ke ruangan Masumi.
Ia meletakkan beberapa kertas yang terjilid rapi di meja Masumi.
“Apa ini?” tanya Masumi sambil mengambil kertas itu.
“Ini proposal mengenai perayaan yang akan dilakukan, pak” jawab Mizuki.
“Perayaan? Perayaan apa?”
“Hmm…itu pak. Perayaan ulang tahun Daito” jawab Mizuki lagi.
“Ulang tahun Daito?” tanya Masumi lagi yang masih belum mengerti maksud Mizuki.
“Benar, pak. Dalam rangka merayakan ulang tahun perak Daito, kami seluruh staff, karyawan dan artis ingin membuat sebuah acara. Hanya sebuah acara internal, Pak. Untuk mempererat hubungan antara staff dan artis juga atasan dan karyawan” jelas Mizuki "Dan kami berjanji tidak akan mengganggu jam kerja, pak. Jadi….apa bapak bisa menandatangani surat persetujuannya?” tanya Mizuki penuh harap.
Masumi membalik-balikkan lembaran-lembaran kertas itu,
“Hmm…baiklah. Tapi hanya untuk kali ini saja, Mizuki” ucap Masumi sambil membubuhkan tanda tangannya di lembar pertama. Kertas yang bertuliskan surat persetujuan dari direktur daito.
Kemudian ia menyodorkan kembali proposal itu ke tangan Mizuki.
“Terima kasih banyak, pak” kata Mizuki sambil mengambil proposal itu kembali.
“Dan…hmmm……itu pak”
“Ada apa lagi, Mizuki?”
“Apa bapak bisa mengambil undiannya sekarang?” tanya Mizuki sambil menyodorkan sebuah toples kecil yang berisikan gulungan-gulungan kertas kecil.
“Undian? Undian apa?” tanya Masumi tidak mengerti
“Undian yang berisikan peran apa yang akan anda mainkan dalam puncak acara, pak”
“Maksudmu?”
“Kami akan membuat sebuah pertunjukan dengan judul ‘kisah putri salju’. Karena acara ini special jadi ada yang lain dari biasanya, pak. Yang akan memerankan tokoh dalam pertunjukan ini bukan artis tetapi juga karyawan Daito, yang biasanya hanya berdiri di belakang panggung akan ikut berpartisipasi. Dan anda….sebagai direktur Daito telah mendapat dukungan penuh untuk mengambil sebuah peran dalam pertunjukan itu” jelas Mizuki.
Masumi ternganga mendengar penjelasan Mizuki.
“Jadi maksudmu, aku juga ikut dalam pertunjukan itu?” tanyanya tidak percaya
“Benar, pak” jawab Mizuki sambil mengangguk kepalanya.
“Aku tidak mau, Mizuki. Aku ini direktur daito bukan pemain sandiwara. Aku tidak bisa berakting. Jangan mengada-ngada” sahut Masumi
“Tapi, pak---“
“Apa kamu tidak mendengar kata-kataku? Aku tidak mau, kamu suruh orang lain saja. Jangan melibatkanku” kata Masumi lagi.
“Tapi anda harus mau, pak. Masa anda melanggar apa yang telah anda setujui”
“Apa---“
“Bapak kan sudah menandatangani surat persetujuan ini, pak” jawab Mizuki sambil menunjukkan tanda tangan Masumi yang tertera dalam surat persetujuan itu.
“Bukankah itu surat untuk meminta persetujuanku untuk merayakan ulang tahun Daito?”
“Memang benar, pak. Tapi di dalamnya juga tertulis bahwa bapak juga bersedia ikut ambil bagian dalam memeriahkan acara tersebut” jawab Mizuki
“Benarkah? Coba aku lihat” ucap Masumi sambil mengambil kembali kertas yang ditandatanganinya dan membacanya dengan teliti.
Dan di sana memang tertera tulisan kalau Masumi juga setuju akan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut dengan memerankan sesuatu dalam pertunjukan yang menjadi puncak acara.
“Di sana tertulis dengan jelas kan, pak?’ tanya Mizuki “Jadi, apa anda sekarang bisa mengambil undiannya?”
Masumi menatap Mizuki.
“Kamu…berani mengerjai aku ya?”
“Tidak, pak. Kan bapak sendiri yang sudah menandatangani surat persetujuan itu” sahut Mizuki memasang wajah polos sambil mengambil kembali surat itu dan sekali lagi menunjukkan pada Masumi.
Masumi menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku tegaskan padamu, Mizuki…aku tidak mau….”
“Pak, masa anda melanggar surat persetujuan yang telah anda tanda tangani? Anda bisa dicap sebagai orang yang tidak punya rasa tanggung jawab---“
“MIZUKI…”
“Maaf. Pak. Tapi sekali ini saja….hanya untuk sekali ini saja, pak. Untuk meramaikan acara. Setuju ya, pak”
“Kamu…..”
“Maya juga ikut berperan serta, pak. Dia sudah mengambil undiannya dan mendapat peran sebagai putri salju. Apa bapak tidak mau menjadi pangerannya?” bujuk Mizuki "kalau saya tidak salah baca naskah, sepertinya di sana ada adegan pangeran mencium putri salju. Apa bapak rela kalau Maya dicium orang lain?”
“Apa? Kamu mengatakan apa?”
“Jadi pak---“ lanjut Mizuki mengacuhkan nada tidak suka Masumi “Silahkan bapak mengambil undiannya. Siapa tahu anda yang menjadi pangerannya” sambil menyodorkan kembali toples itu pada Masumi.
Masumi menghembuskan napasnya panjang.
“Kamu tuh ya benar-benar sekretaris yang menyebalkan” kata Masumi yang dengan sangat terpaksa akhirnya mengambil sebuah gulungan dalam toples itu.
“Ingatkan aku untuk memecatmu nanti” ucapnya sambil membuka gulungan kertas itu.
Setelah gulungan kertas itu terbuka, Masumi membacanya.
Tiba-tiba matanya membelalak tidak percaya dengan apa yang tertulis dalam kertas itu.
“Anda akan berperan sebagai apa, pak?” tanya Mizuki
“Kamu…benar-benar mengerjaiku. Dalam cerita putri salju mana ada peran ini?” tanya Masumi balik bertanya.
“Maaf, pak. Tapi semua peran yang tertulis dalam setiap kertas itu ada dalam pertunjukan nanti” jawab Mizuki “Memangnya apa yang harus anda perankan?” ucap Mizuki sambil mengambil gulungan kertas yang Masumi lempar ke atas meja.
Mizuki tersenyum simpul setelah membacanya.
“Baik,pak. Terima kasih. Nanti saya akan memberi naskahnya pada anda” kata Mizuki.
“Jadi…kamu benar-benar menyuruhku memerankan peran itu? Aku tidak mau” seru Masumi
“Pak Masumi…anda harus bertanggung jawab dengan peran yang anda pilih sendiri” jawab Mizuki tenang. “Kalau begitu saya permisi dulu, pak. Bila semua pemeran sudah lengkap. Saya akan melaporkannya pada anda” lanjutnya sambil meninggalkan ruangan Masumi.
“Mizuki..aku tidak mau memerankannya dan aku juga membatalkan surat persetujuan itu. Tidak akan ada pertunjukan apapun” seru Masumi tapi Mizuki sudah keluar dari ruangan Masumi dan menutup pintu.
*****
3 hari kemudian…
“Pak masumi, ini naskah yang harus anda pelajari dan ini adalah daftar susunan pemain yang akan berpartisipasi dalam pertunjukan ‘kisah putri salju’” ucap Mizuki sambil menyerahkan sebuah buku naskah dan selembar kertas.
Masumi sama sekali tidak menyentuh buku naskah dan kertas itu.
“Mizuki, bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa aku membatalkan surat persetujuan itu? Jadi tidak ada pertunjukan apapun” kata Masumi dingin
‘”Ta..tapi, pak---”
“Tidak ada tapi, dan keputusanku tidak boleh dibantah”ucap Masumi memotong kata-kata Mizuki “Sekarang silahkan kamu keluar dari ruanganku”
Mizuki hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Masumi, ia pun dengan langkah perlahan keluar dari ruangan Masumi.
*****
Studio Kids…
Maya sedang berlatih akting ketika seseorang mendekatinya.
“maya, ada yang mencarimu”
“Siapa?" tanya Maya
“Aku tidak tahu….seorang pria” jawab teman Maya “Tuh orangnya” lanjutnya sambil menunjuk ke arah pintu masuk.
“Oh..aku tahu. Terima kasih” kata Maya ketika mengenali pria yang tersenyum dan melambaikan tangan padanya.
Maya pun menghampiri pria itu.
“Pak Hijiri”
“Halo Maya..” sapa Hijiri “Ini dari pak Masumi” lanjutnya sambil menyerahkan buket mawar ungu pada Maya
“Terima kasih, pak Hijiri” sahut Maya sambil mengambil buket itu.
“Dan pak Masumi memintaku untuk membawamu ke Izu. Beliau menunggumu di sana” kata Hijiri lagi.
“Pak Hijiri, tolong sampaikan padanya, terima kasih untuk bunganya. Tapi aku tidak mau menemuinya”
“Maya…mengapa---“
“Masumi tahu jawabannya, pak Hjiri. Sampaikan saja seperti itu” jawab Maya tenang.
“ehm…baiklah kalau itu maumu, Maya. Aku akan menyampaikan pesanmu pada pak Masumi. Kalau begitu aku permisi dulu” sahut Hijiri sambil melangkah pergi.
*****
Malam harinya
Selesai akting, Maya bersiap akan pulang.
Kring…kring…kring…..
Maya mendengar ponselnya berbunyi, ia membuka tasnya dan mengambil ponselnya.
Maya membaca nama yang tertera di ponsel itu.
Masumi...
Maya mengacuhkan panggilan itu dan memasukkan kembali ponselnya dalam tas.
“Kamu sudah siap,Maya” tanya Koji
Maya mengangguk dan berjalan bersama Koji keluar dari studio kids.
“Tunggu sebentar ya. Aku ambil motorku dulu” ucap Koji ketika mereka sudah sampai depan pintu.
Sekali lagi Maya mengangguk dan menunggu.
Tak lama, Koji menghentikan motornya di depan Maya dan menyerahkan helm pada Maya.
Maya memakai helm itu dan naik ke motor Koji.
Koji pun melajukan motornya meninggalkan studio kids.
Mereka berdua tidak menyadari kalau di belakang mereka, sebuah sedan hitam membuntuti dan pengemudinya menatap geram pada mereka berdua.
Di sebuah warung udon, Koji menghentikan motornya.
“Mengapa berhenti di sini?” tanya Maya kebingungan.
“Aku lapar. Kita makan dulu di sini ya, Maya” jawab Koji “Kamu juga pasti lapar kan?”
“Aku---“
Krukk…kruyuuuukkkk….
Perut Maya menjawab lebih dulu sebelum Maya menyelesaikan kalimatnya.
Koji tertawa mendengarnya.
“Tuh, perutmu juga sudah minta diisi. Jadi ayo kita makan” ucapnya sambil menggandeng Maya ke dalam.
Masumi yang sudah memarkirkan mobilnya tak jauh dari tempat Maya dan Koji berdiri, menatap marah dan memegang setir sekuat-kuatnya, ketika melihat kejadian itu.
Masumi mencoba menahan dirinya untuk tidak turun dan melabrak mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, Maya dan Koji keluar dari warung udon.
Dengan cepat, Masumi keluar dari mobil, menghampiri mereka berdua dan tanpa berkata apa-apa menarik tangan Maya.
“Hei..lepaskan aku” teriak Maya yang terkejut.
Dan sangat terkejut ketika melihat siapa yang menarik tangannya.
“Masumi…”
Masumi mengacuhkan seruan Maya dan terus menarik tangan Maya.
“Masumi..lepaskan aku….sakit” seru Maya lagi.
Tapi Masumi tidak memperdulikannya.
Sesampainya di depan mobilnya, Masumi membuka pintu belakang dan mendorong Maya masuk ke dalam mobil serta menutup pintu.
Kemudian bergegas, ia membuka pintu depan dan masuk ke dalam serta melajukan mobilnya, meninggalkan Koji yang masih berdiri di tempatnya, menatap mobil Masumi yang semakin menjauh.
*****
“Kamu apa-apaan sih, Masumi?” tanya Maya marah
Masumi menatap tajam Maya melalui kaca depannya.
“Aku yang harusnya bertanya mengapa….mengapa kamu menolak menemuiku dan tidak mengangkat telponku, tapi malah pergi bersama dia?”
“Karena aku sangat marah…sangat marah padamu” jawab Maya.
“Memangnya apa salahku?’
“Pura-pura tidak tahu lagi” jawab Maya kesal.
Masumi menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia membuka pintu, keluar dan duduk di kursi belakang.
Maya merapat ke pintu mobil, tidak mau didekati Masumi.
Masumi menghembuskan napasnya panjang.
“Memangnya apa salahku, Maya?” tanyanya dengan nada lunak.
“Huh…masih saja pura-pura tidak tahu” jawab Maya sambil mengerucutkan bibirnya.
“Maya…aku benar-benar tidak tahu apa salahku padamu” sahut Masumi
“Mengapa kamu menolak peran itu dan membatalkan pertunjukan itu?” tanya Maya
“Jadi, gara-gara itu kamu marah padaku?” masumi balik bertanya.
Maya diam dan tidak berkata apa-apa.
“Maya…aku bukan pemain sandiwara sepertimu. Aku tidak bisa berakting”
“Tapi…sebagian besar yang main pertunjukan itu juga bukan aktor atau artis. Mereka sama sepertimu baru pertama kali berakting” sahut Maya tidak mau kalah.
“Dan peran itu---“
“Memangnya kenapa dengan peran itu?”
“Mana ada peran itu dalam cerita puri salju, peran itu adanya di---“
“Tidak usah peran itu yang kamu jadikan alasan deh, Masumi. Naskahnya kan sudah kamu terima. Dan peran itu ada dalam naskah tersebut”
“Memangnya siapa sih yang menulis naskah seperti itu? Mencampur adukkan---“
“Aku” potong Maya cepat “Aku yang menulisnya. Memangnya kenapa? suka-suka aku dong mau menulis seperti apa” lanjut Maya sewot.
“Kamu?” tanya Masumi tidak percaya “Kamu bisa menulis naskah?”
“Iya” jawab Maya pendek.
"Benar naskah itu kamu yang membuatnya, Maya?” tanya Masumi sekali lagi, masih tidak percaya.
“Iya..betul” jawab Maya “Tapi banyak dikoreksi oleh pak Kuronuma sih” lanjutnya perlahan.
Masumi tertawa kecil mendengar lanjutan kata-kata Maya.
“Kenapa ketawa? Memangnya ada yang lucu?” tanya Maya yang masih marah.
“Tidak…iya deh…iya..aku tidak tertawa” sahut Masumi menahan tawanya.
“Ah sudahlah, aku malas berbicara denganmu. Terserah kamu deh mau memerankannya atau tidak” kata Maya kemudian "aku turun di sini” katanya lagi sambil membuka pintu.
Tapi dengan sigap, Masumi memegang lengan Maya, menahannya agar tidak pergi.
“Lepaskan tanganku” seru Maya
“Tidak…”
“Lepaskan”
“Dengarkan aku dulu”
“Tidak mau….aku tidak mau mendengarkan alasanmu lagi” jawab Maya sambil berusaha menarik-narik tangannya.
“walaupun aku mengatakan---“ Masumi berhenti sejenak “aku akan memerankannya?”
Maya mematung dan menatap Masumi penuh selidik.
“Kamu akan memerankannya? Kamu akan ikut dalam pertunjukan itu?” tanya Maya tidak mempercayai pendengarannya.
Masumi menatap Maya kemudian perlahan ia mengangguk.
“Benarkah, Masumi? Kamu mau memerankannya?” tanya Maya lagi
“Tutup dulu pintunya dan dengarkan aku” sahut Masumi.
Dengan patuh, Maya menutup pintu dan duduk, menunggu Masumi bicara.
Masumi menghembuskan napas panjang. Ia benar-benar tidak bisa berkutik menghadapi gadis mungilnya.
“Baiklah aku akan memerankannya dan tidak akan membatalkan surat persetujuan itu” kata Masumi kemudian.
“Janji?” tanya Maya sambil mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Masumi.
“Aku janji” sahut Masumi sambil mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Maya.
“Awas kalau bohong. Aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi” ancam Maya.
“Aku tidak bohong” jawab Masumi
“Benar ya?” tanya Maya lagi
“Iya, Maya, benar. Aku tidak bohong dan aku tidak akan mengingkari janjiku” sahut Masumi “Untuk membuktikannya aku akan memberikanmu stempel”
“Stempel?” tanya Maya tidak mengerti.
Dengan cepat, Masumi mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Maya cepat.
Maya membelalakkan matanya karena terkejut..
Wajah Masumi masih berada dekat dengan wajahnya.
Mereka bertatapan dan tanpa berkata apa-apa, Maya menutup matanya dan Masumi kembali menciumi bibir maya dengan lembut.
*****
Keesokan harinya
Setelah selesai membaca dan menandatangani dokuman-dokumen, Masumi melirik kr buku naskah yang diletakkan Mizuki kemarin di atas meja, dan belum pernah disentuhnya.
Pikirannya mulai bimbang.
“Baca…..tidak…..baca….tidak…..”
Akhirnya, Masumi meraih kertas yang berada di atas buku naskah itu dan membacanya.
Susunan pemain ‘Kisah putri salju”
Putri salju : Maya Kitajima
Pangeran : Sakurakoji
“Koji? Koji yang jadi pangerannya?” desis Masumi geram.
Ratu :
Kurcaci Doc :
Kurcaci Sneezy :
Kurcaci Dopey :
….
Sampai ia menemukan perannya.
(Kenalkah dengan tokoh dongeng ini?)
(Apakah Masumi cocok memerankan tokoh tersebut?xixixixi...)
(Ehem..tapi bukan…bukan tokoh itu yang harus Masumi perankan… tapi sebagai cucu dari pak Gepetto tua alias Gepetto junior ^^)
Spesial cast.
Gepetto jr : Masumi Hayami
Masumi hanya bisa menghembuskan napasnya dalam-dalam.
“Mengapa hanya aku yang memerankan tokoh yang tidak ada dalam dongeng putri salju?.Mereka memang bekerja sama untuk mengerjaiku” gumam Masumi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia meletakkan kertas itu dan mengambil buku naskah.
Kemudian, Masumi pun membuka buku naskah itu dan membacanya.
Setting 1 : dalam istana, kamar ratu
(ratu sedang bertanya pada cermin ajaib)
Masumi melewati bagian itu. Ia terus membuka lembar demi lembar buku naskah itu sampai pada…
Setting 2 : dalam hutan
(Putri salju berjalan mendekati rumah kurcaci)
Setting 3 : di depan rumah kurcaci
(Putri salju mengetuk pintu rumah itu tapi tidak ada yang menjawab)
(Putri salju membuka pintu dan masuk ke dalam rumah kurcaci)
Setting 4 : Dalam rumah kurcaci, terlihat 7 kursi mungil yang mengelilingi sebuah meja. Di salah satu sisi berjajar 7 tempat tidur yang juga mungil dengan nama masing-masing pemilik di kepala tempat tidurnya – Doc, Happy, Bashful, Sleepy, Sneezy, Grumpy, dan Dopey).
Masumi terus membaca naskah itu sekilas dan tidak memperhatikan dialog-dialog yang harus diucapkan setiap pemain.
(7 kurcaci keluar dari sisi panggung, berbaris. Mereka baru pulang dari tambang)
(7 kurcaci terkejut ketika melihat seorang wanita tertidur pulas di tempat tidur mereka)
(Putri salju terbangun)
(7 kurcaci berunding dan akhirnya mereka mengizinkan putrid salju tinggal dirumah mereka. Tapi karena rumah mereka kecil dan sempit, mereka memanggil pak Gepetto, tukang kayu terkenal untuk memperluas rumah mereka dan membuatkan kursi dan tempat tidur yang muat untuk putri salju)
(Gepetto jr berjalan mendekati para kurcaci yang terkejut melihatnya)
Gepetto jr : Halo, aku adalah tukang kayu yang kalian panggil.
Kurcaci Doc : Apakah benar kamu yang namanya pak Gepetto?
Gepetto jr : Benar (sambil mengangguk)
Kurcaci happy : Tapi bukankah pak Gepetto adalah seorang yang sudah tua?
Gepetto jr : Pak gepetto tua adalah kakekku. Aku cucunya. Beliau tidak bisa datang karena sedang pulang kampung. Jadi aku yang menggantikannya. Tapi kalian tidak usah khawatir. Kemampuanku tidak kalah dengan kakekku.
Masumi mengangkat alisnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Benar-benar cerita yang ngawur” ucapnya lalu kembali melanjutkan membaca.
(7 kurcaci berunding sejenak)
Kurcaci Doc : Baiklah kalau begitu, kami ijinkan kamu untuk bekerja di sini.
(Gepetto jr mulai bekerja di halaman rumah kurcaci. Memotong kayu, membuat kursi dan tempat tidur)
(Terdengar senandung dari dalam rumah)
(Gepetto jr yang penasaran dengan bunyi senandung yang merdu, mengintip ke
dalam melalui jendela)
(Putri salju sedang menyapu sambil bersenandung)
(Gepetto jr berdiri diam memandang putri salju dengan sorot terpesona)
Lalu, Masumi membaca adegan di mana datang nenek sihir yang memberikan apel beracun pada putri salju dan menyebabkan putri salju meninggal.
(Putri salju tidur di peti kaca, dikelilingi 7 kurcaci yang menangis sedih)
(Gepetto jr muncul di panggung dan berjalan mendekati 7 kurcaci)
Geppeto jr :Apa yang terjadi?
Kurcaci Sneezy : (Hat…cih….)putri salu telah (Hat…cih..) meninggal karena (Hat…cih…) memakan apel beracun (Hat..cih…) (Diikuti isak tangis 6 kurcaci lainnya)
(Pangeran masuk ke dalam panggung dan mendekati peti kaca putri salju)
Pangeran : Mengapa gadis secantik ini tidur di atas peti kaca?
7 kurcaci : karena ia telah meninggal
Pangeran “ benarkah? Pipinya masinh merah merona dan bibirnya tidak pucat, tidak seperti orang yang sudah meninggal ( sambil mengelus lembut pipi putri salju)
Masumi yang membaca adegan itu mulai ‘naik darah’
Pangeran : Ia pasti hanya tertidur. Biar aku coba membangunkannya (membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah putri salju)
(Pangeran mencium bibir putri salju)
BRAAAK…….
Masumi melempar buku naskah itu.
“Cerita macam apa itu?” ucapnya geram “Jadi, naskah itu buatanmu, Maya?
Kamu menginginkan aku melihatmu dicium oleh pangeran Koji-mu itu didepan
mataku?” lanjutnya marah bercampur cemburu.
Masumi lalu berdiri, menyambar jasnya dan pergi meninggalkan ruangannya,
sambil membanting pintu keras-keras.
Mizuki yang sedang duduk di kursinya dan mengetik sesuatu melompat kaget
mendengar suara bantingan pintu itu.
“Ada apa lagi dengan pak Masumi?” gumamnya menggeleng-gelengkan kepala
sambil memandang punggung Masumi yang semakin menjauh.
bersambung ke SPuM 2....

ini masih bersambung ya?
BalasHapusaaaah, Masumi dapet peran apa siiih, jadi penasaran deeeeh.
BalasHapusAyo lanjuuuut....
yah msh blm ketauan, tp tumben scene cium biasanya ada gangguan dr writernya tp ini lancaar jaya wakakakaakaka
BalasHapusthanks apdetnya
-tina-
ini settingnya kapan sista?
BalasHapusweeeeeeeeeeeeee................ jd kurcaci kahhh?? >_<
BalasHapusOh tdak, masumi cemburu, apa aksi selanjutnya? Lanjuuut
BalasHapushihihi...kocak bgt...ada gepetto (jr) di putri salju...gabungan putri salju ama pinokio....
BalasHapusgimana ending crt nya tuh...maya ada2 aja... ^_^
jgn2 putri salju gak bangun lg meski dicium pangeran tp mlh bangun gara2 dicium gepetto jr hihihi......
ayo update lagi sista...
*liana*
hiiiyyyyy....mba feeeennnn...manaaaaaaaaaaa lanjutannyaaaaa!!!
BalasHapusbagusss,,,
BalasHapusbener bener ngawur,,sejak kpn gepetto ada di putri salju,,,qiqiqi
lanjoottt,,,