Masumi berjalan cepat menuju studio 5, tempat latihan putri salju.
BRAK…
Ia pun membuka pintu keras-keras.
Orang-orang yang kebetulan sedang latihan akting, menghentikan latihannya dan melihat siapa yang datang.
Pak Kuronuma yang melihat pria yang datang itu segera menghampiri Masumi.
“Apakah sekarang anda telah memiliki waktu untuk berlatih bersama kami, Pak Masumi?” tanyanya.
Masumi tidak menjawab pertanyaan pak Kuronuma, ia hanya mengedarkan pandangannya ke orang-orang yang sedang berkumpul di atas panggung.
“Pak Kuronuma, di mana Maya Kitajima?” tanya Masumi ketika ia tidak melihat orang yang di carinya.
“Oh, Maya…dia sedang pergi membeli minuman untuk kami semua” jawab Pak Kuronuma “Tunggu saja sebentar Pak Masumi, sebentar lagi juga mereka datang”
“Nah itu maya” kata Pak Kuronuma lagi, tak lama kemudian ketika dilihatnya Maya sedang berjalan ke arahnya bersama Koji.
Masumi melihat arah yang ditunjuk Pak Kuronuma menggertakkan giginya menahan amarah, karena dilihatnya Maya dan Koji tampak berjalan berdampingan dan sedang tertawa-tawa.
Ia pun segera menghampiri mereka berdua.
“Oh, Masumi…” panggil Maya saat melihat Masumi yang mendekatinya “Aku se—“
Tanpa berkata apa-apa. Masumi menarik lengan Maya dan membawanya keluar dari studio.
“Masumi…kamu mau bawa aku ke mana? Bukannya kita mau latihan?” tanya Maya sambil setengah berlari karena lengannya di tarik Masumi.
Masumi tidak menjawab pertanyaan Maya, ia hanya mempercepat langkahnya, menjauhi studio tersebut.
“Masumi…apa kamu tidak bisa berjalan perlahan-lahan?” tanya Maya “Dan lepaskan tanganku…sakit”
Sekali lagi, Masumi tidak memperdulikannya. Ia terus saja menarik Maya menuju ke ruangannya.
Sesampainya di depan ruangannya, masumi membuka pintu kemudian menutup pintu dengan membantingnya keras-keras.
“Ya ampun…ada apa dengan Pak Masumi hari ini? Dari tadi kerjaannya membanting pintu terus” gumam Mizuki yang kembali terkaget.
Masumi menghempaskan Maya ke sofa besar yang ada dalam ruangannya itu.
Bruk…
“Aaaww….” Teriak Maya.
Ia pun kemudian bangun dan duduk di sofa sambil mengusap-ngusap lengannya yang tampak merah karena di pegang Masumi dengan kencang.
“Masumi, kamu kenapa sih?”
Masumi menatap tajam Maya.
“Aku yang harusnya bertanya padamu, mengapa? Apa maksudmu menulis naskah seperti itu?”
“Naskah?”
“Benar, naskah…naskah yang kemarin kamu katakan bahwa kamu yang menulisnya. Sekarang aku tanya sekali lagi padamu Maya, apa benar naskah itu kamu yang menulisnya?” tanya Masumi yang ingin mencoba meyakinkan dirinya.
Maya mengangguk perlahan.
“Memangnya menga---“
“Jadi…kamu juga yang menulis adegan itu?” tanya Masumi lagi memotong kata-kata Maya.
“Adegan? Adegan apa?” tanya Maya bingung.
“Jangan pura-pura tidak ingat dengan adegan apa saja yang pernah kamu tulis” jawab Masumi kesal.
“Tapi..Masumi…dalam naskah itu kan banyak adegannya. Adegan mana yang kamu maksud?”
“Kamu tidak tahu, adegan mana yang aku maksud? Apa kamu benar-benar tidak tahu adegan mana yang membuat aku marah?”
Maya menggeleng.
“Adegan Pangeran mencium putri salju…” seru Masumi “Mengapa adegan itu harus ada dalam naskah tersebut?”
“Masumi, itu---“
“Bahkan haruskah dijelaskan dengan begitu detail bahwa pangeran harus mencium BIBIR putri salju?” tanya Masumi lagi menekankan kata ‘bibir’
“Masu---“
“Apa itu sebenarnya keinginanmu? Dicium pangeran Kojimu? Didepan mataku? Kamu sengaja melakukannya untuk menyakiti hatiku? Begitu?” tanya Masumi sinis “Pantas saja kamu terus memaksaku untuk ikut dalam pertunjukan itu, agar aku melihat ciuman kalian dari dekat”
“Masumi, tidak begitu…”
“TIdak begitu? tidak begitu apanya? Dalam naskah itu jelas-jelas tertulis. Apa kamu mau mengatakan aku salah membacanya?” kata Masumi sambil mengambil buku naskah yang tergeletak di lantai, tak jauh dari kakinya.
“Sekarang kamu lihat dan baca…apa aku salah” seru Masumi sambil membanting buku naskah itu di depan Maya.
Masumi, dengarkan aku dulu---“
“Kamu yang harusnya mendengarkan aku, Maya” seru Masumi “Aku akan membatalkan pertunjukan itu. TIDAK ADA pertunjukan apapun”
“Masumi, tapi kemarin kan kamu sudah janji..”
“Waktu aku berjanji padamu, aku tidak tahu akan ada adegan seperti itu. Kalau aku tahu, aku tidak akan pernah mau berjanji untuk ikut dalam pertunjukan itu dan aku akan langsung membatalkannya”
“Masumiii….”
“Aku tidak rela, Maya….aku sungguh tidak rela. Koji atau pria lain menyentuh wajahmu apalagi mencium bibirmu” ucap Masumi “HANYA aku yang boleh melakukannya!”
“Tapi..tapi Masumi. Itu kan hanya akting. Bukan sungguhan.”
“Bukan sungguhan katamu? Jadi menyentuh wajahmu atau mencium bibirmu bukan sungguhan?Jelas-jelas itu sungguhan” sahut Masumi ngotot “Dan aku benar-benar tidak suka”
Maya hanya bisa menghembuskan napasnya panjang. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi”
Masumi pun tidak berkata apa-apa. Hanya diam menatap Maya.
Suasana tiba-tiba menjadi hening.
Tok..tok…tok….
Ketukan pintu menyadarkan Masumi.
“masuk” sahut Masumi pendek.
“Ma..maaf, Pak masumi” kata Mizuki takut-takut sambil melongokkan kepalanya.
“Ada apa?” tanya masumi dingin sambil melepaskan pandangannya dari Maya.
“Saya…saya hanya ingin mengingatkan bahwa anda ada janji dengan Tuan Tanaka. Dan sekarang beliau sedang menunggu anda di ruang meeting”
“Baik, aku akan segera ke sana”
"Kalau begitu, saya akan beritahu Tuan Tanaka bahwa anda akan segera datang, Pak Masumi”ucap Mizuki
“Tunggu dulu, Mizuki” kata Masumi cepat sebelum kepala Mizuki menghilang dari balik pintu.
“A..ada apa, pak?”
“Tolong, kamu buat surat perintah pembatalan pertunjukan kisah putri salju. Dan aku menginginkan surat itu sudah ada di mejaku, saat aku selesai meeting dengan Tuan Tanaka”
Baik, Maya maupun Mizuki terkejut dengn ucapan Masumi. Mereka saling bertatapan.
“Tapi, Masumi..mana bisa kamu---“
“Apa yang tidak bisa? Aku punya hak untuk membatalkannya”
“Tapi…” ucap Maya lagi “Masa hanya karena adegan itu---“
“Bukan hanya karena adegan itu. Karena aku juga menyadari satu hal. Kalian, bekerja sama mengerjai aku”
“Pak, kami sama sekali tidak punya niat untuk mengerjai anda” sahut Mizuki
“Aku tidak peduli apa katamu. Keputusanku sudah bulat,. Dan kamu,Mizuki segera buatkan surat itu. Apa kamu mau melanggar perintahku?”
Sekali lagi, Mizuki menatap Maya, yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Ba..baik, pak. Saya akan segera membuatnya” jawab Mizuki akhirnya, kemudian ia undur diri.
“Masumi, jangan begitu. Kamu tidak boleh----“
Tanpa menunggu Maya menyelesaikan kalimatnya, Masumi meninggalkan Maya dan berjalan cepat keluar ruangannya menuju ruang meeting untuk bertemu dengan Tuan Tanaka.
@@@@@
Maya terus menunggu Masumi sampai selesai rapat. Dengan sabar, ia menunggu di depan ruang meeting.
Beberapa jam kemudian, Masumi diikuti Tuan Tanaka keluar dari ruangan tersebut.
Masumi yang melihat Maya menunggunya, mengacuhkannya. Ia berjalan melewati Maya dan bersikap seolah-olah tidak melihat Maya.
“Masumii….” Panggil Maya.
Masumi pura-pura tidak mendengar dan mengajak Tuan Tanaka mengobrol.
“Masumi….” Panggil Maya sekali lagi, tapi tetap saja, Masumi mengacuhkannya.
“Mmm…maaf, pak Masumi. Gadis itu memanggil anda” kata Tuan Tanaka.
“Oh…tolong tunggu sebentar, Tuan Tanaka” jawab Masumi sambil membalikkan badannya dan mendekati maya kemudian dia menyeret Maya menjauhi Tuan Tanaka.
“Aku sedang ada tamu, Maya. Jadi tolong jangan ganggu aku” desis Masumi.
“Tapi, Masumi….aku mohon----“
“Aku tidak mau mendengar permohonanmu lagi, apalagi menyangkut masalah itu. Aku sudah tidak ingin membahasnya. Kamu sudah tahu keputusanku kan?” kata Masumi memotong perkataan Maya dan tanpa mendengar kata-kata protes dari Maya, ia pergi menjauhi Maya dan menghampiri Tuan Tanaka.
“Mari, Tuan Tanaka. Kita pergi” ajak Masumi.
Tuan Tanaka melihat Maya yang masih berdiri mematung menatap punggung Masumi yang semakin menjauh, tapi kemudian ia mengangkat kedua bahunya dan menyusul Masumi.
“Masumi….mengapa kamu keras kepala sekali….” Ucap Maya kesal.
@@@@@
Sambil membuka pintu apartemennya, Maya terus menggerutu.
“Dasar Masumi. Kekanak-kanakan. Masa begitu saja marah. Mengapa harus cemburuan tidak karuan sampai tidak mau mendengarkan aku dan mengacuhkan aku. Tidak tahu apa---“
Rei yang sedang menonton televisi mendengar gerutuan Maya, ia pun membalikkan badannya, memandang Maya.
“Mengapa kamu datang-datang mengoceh sendiri?” tanya Rei.
“Gara-gara Masumi. Dia tuh benar-benar manusia yang paling menyebalkaaan” seru Maya sambil mendekati Rei dan duduk di sebelahnya.
“Kamu ribut lagi dengan pak Masumi? Apa tidak bosan, Maya. Sedikit-sedikit ribut melulu”
“Tidak ribut. Bagaimana bisa ribut, kalau dia tidak mau mendengarkan aku”jawab Maya “Dasar tuh Masumi egois, cemburuan dan seenaknya sendiri. Masa dia tidak mau memerankan peran yang harus dimainkannya juga membatalkan pertunjukannya” lanjut Maya kesal.
“Tidak mau memerankan peran dan membatalkan pertunjukan? Peran apa dan pertunjukan apa?” tanya rei tidak mengerti.
“Pertunjukan kisah putri salju, Rei . Untuk memperingati ulang tahun Daito. Masumi juga mendapat peran untuk memerankan seorang tokoh dalam pertunjukan itu” jawab Maya.
“Pak Masumi akan pentas?” tanya Rei tidak percaya
“Iya. Untuk meramaikan acara. Jadi kami minta partisipasinya dalam pertunjukan itu” jawab Maya lagi.
“Oh begitu.Lalu mengapa pak masumi membatalkannya? Memang ada masalah dengan pertunjukannya?” tanya Rei lagi yang belum mengerti.
“Iya, gara-gara masalah sepele. Dia membatalkannya begitu saja”
“Masalah sepele?”
Maya mengangguk.
“Masa cuma gara-gara ada adegan ciuman, dia marah-marah tidak jelas”
“Adegan ciuman?”tanya Rei lagi sambil Rei mengerutkan keningnya.
Sekali lagi, Maya mengangguk.
“Iya. Dalam ‘kisah putri salju’ kan ada adegan putri salju dicium pangeran. Masa dia tidak menyetujui adegan tersebut sih?”
“Yang jadi putri saljunya siapa, maya?”tanya Rei.
“Aku” jawab Maya
“Lalu, yang jadi pangeran?”
“Koji” jawab maya lagi.
“Lalu pak Masumi, jadi apa?”
“Jadi cucunya kakek Gepetto. Karena Gepetto tua berhalangan hadir, jadi digantikan dengan cucunya” sahut Maya.
“Hah…” kata Rei bengong “Dalam pertunjukan putri salju mana ada peran gepetto, Maya. Ini malah cucu gepetto segala. Ada-ada saja”
“Habis, kalau harus jadi kakek Gepetto kan ketuaan, Rei. Jadi dibuat peran cucunya gepetto yang seumuran dengan pangeran” jawab Maya tidak mau kalah.
“Tapi mengapa harus ada peran gepetto sih? Apa pak Masumi tidak dapat memerankan peran lain yang ada di cerita putri salju?”
“Ya karena memang begitu ceritanya Rei. Putri salju yang datang ke rumah kurcaci kan membutuhkan tukang kayu untuk memperbesar rumah dan membuatkan ranjang dan kursi untuk putri salju”
Rei hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan penjelasan Maya.
“Ya terserah kamulah. Ceritanya mau seperti apa. “ ucapnya sambil mengangkat kedua bahunya tanda tidak peduli “Tapi tadi kamu mengatakan bahwa putri salju dicium pangeran, jadi maksudnya..dalam adegan itu kamu dicium Koji?”
Maya mengangguk.
“Kalau begitu, aku mengerti. Aku tidak heran kalau pak Masumi marah dan membatalkan pertunjukan itu”
“Mengapa begitu?”
“Maya, kamu bersamanya, tapi mengapa kamu belum juga mengerti sifatnya?” tanya Rei
“Maksudmu?”
“Kamu tahu kalau pak masumi cemburuan dan over protektif padamu. Tapi mengapa kamu berharap pak masumi menyetujui begitu saja adegan tersebut?apa kamu menginginkan pak Masumi melihatmu dicium Koji dihadapannya dan menerimanya begitu saja?”tanya Rei lagi.
“Tapi, itu kan akting, Rei. Masa dia tidak mengerti sih” sahut Maya tidak mau kalah.
“Baiklah kalau menurutmu itu hanya akting. Sekarang aku ingin kamu membayangkan kalau kamu berada di posisi pak Masumi. Bagaimana perasaanmu?”
“Aku di posisi Masumi? Apa maksudmu, Rei?” tanya Maya tidak mengerti
“Kita berandai-andai saja. Seandainya pertunjukannya seperti ini. Pak Masumi adalah pangeran yang tertidur karena terkena kutukan dan hanya bisa terbangun oleh kecupan sang putri. Dan yang kebetulan memerankan putri dalam kisah ini adalah nona Shiori. Apa kamu rela melihat Masumi dicium nona Shiori di depan matamu?”
Maya terdiam mendengar pertanyaan Rei.
Bayangan Masumi yang sedang dicium Shiori muncul dipikirannya.
Seketika itu juga, perasaan marah, cemburu dan tidak rela bercampur-aduk dibenaknya.
Maya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Masumi tidak boleh melakukan itu. Awas kalau dia berani melakukannya. Aku tidak akan mau menemuinya dan berbicara lagi padanya” seru Maya marah, mengungkapkan perasaannya tanpa sadar.
Rei tersenyum mendengar perkataan Maya.
“Tapi…jelas-jelas kamu tahu kalau itu hanya akting, Maya”ucap Rei tenang, membalikkan kata-kata Maya.
“Tetap saja tidak boleh” sahut Maya ngotot “enak saja. Cari-cari kesempatan”gerutu Maya.
“Nah! Jadi apa bedanya kamu dengan pak Masumi? Kalau kamu juga tidak menyetujuinya. Jadi jangan salahkan pak Masumi kalau ia marah dan membatalkan pertunjukan itu.”
Maya terdiam mendengar kata-kata Rei. Dalam hatinya membenarkan ucapan sahabatnya itu.
“Aku…aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal seperti itu, Rei” ucap Maya kemudian. “Aku memang salah karena tidak memikirkan perasaan Masumi” lanjutnya dengan nada menyesal.
“Sudahlah, Maya. Kamu tunggu pak Masumi tenang dulu, baru kamu menemuinya dan meminta maaf padanya. Aku yakin pak Masumi akan memaafkanmu”
“Tapi, Rei. Pertunjukan itu tidak boleh dibatalkan. Kasihan pada semua pemain yang sudah meluangkan waktunya untuk latihan akting, tetapi pada akhirnya pertunjukan itu batal. Mereka pasti akan kecewa” ucap Maya “Jadi, baiknya aku harus bagaimana ya, Rei?” lanjut Maya sambil menatap Rei, meminta pendapat sahabatnya itu.
Rei tampak berpikir sejenak.
“Sebenarnya ada satu cara sih, yang mungkin…aku mengatakan mungkin ya Maya, membuat pak Masumi akan membatalkan keputusannya” Kata Rei.
“Cara apa?”
“bagaimana kalau cerita itu dimodifikasi?”
“Mo..modifikasi?”
“Ya…dengan kata lain diubah. Adegan pangeran mencium putri salju ditiadakan dan diubah dengan adegan lain” jawab Rei.
Maya tampak mempertimbangkan usulan Rei.
“Ah, benar juga. Kalau adegan itu dihilangkan dan diubah dengan adegan lain, mungkin Masumi mau memerankan perannya dan tidak jadi membatalkan pertunjukan itu. Kamu memang jenius, Rei. Kepikiran cara seperti ini” sahut Maya senang.
“Tapi Maya?”
“Apalagi, Rei?”
“Kalau adegan tersebut dihilangkan dan diubah dengan adegan lain. Jalan ceritanya akan berbeda, jadi lebih baik kamu mendiskusikannya dulu dengan sutradaranya dan pemain yang bersangkutan, terutama Koji, yang pasti kehilangan kesempatannya untuk menciummu” ucap Rei sambil menggoda Maya.
“Reii….bisa-bisanya kamu becanda di keadaan seperti ini” Seru Maya kesal sambil mencubit tangan Rei.
Rei tertawa, tapi kemudian ia kembali serius.
“Dan terutama, penulis naskahnya, Maya. Orang yang menulis naskah belum tentu setuju, naskahnya diubah-ubah begitu saja”lanjutnya.
“Demi Masumi…dan demi pertunjukan itu…aku tidak keberatan koq kalau naskahnya diubah” jawab Maya.
“Kamu?” tanya Rei tidak mengerti.
“Kan aku yang membuat naskahnya, Rei” jawab Maya sambil bangun dari duduknya “Aku pergi dulu ya, Rei. Aku mau menemui pak Kuronuma untuk mendiskusikannya” lanjutnya sambil bergegas keluar dari apartemennya tanpa memperdulikan Rei yang terlihat terkejut.
Rei yang akhirnya tersadar dari rasa terkejutnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau kamu yang membuat naskahnya. Mengapa kamu memasukkan adegan itu, Maya? Apa kamu sengaja mau membuat Masumi marah? Dasar Maya…”
bersambung ke SPuM 3....
jiaaahhhh masumi gak asik ah lha di cerita putri salju emang ada adegan gitu ckckckcckck seperti biasa lanjuuutkaaannn...XD thanks apdetnya
BalasHapustop masumi
BalasHapusgitu donk, never let anyone touch ur lady
bgs masumi.... lagian maya juga payah bgt... udah tau masumi cemberuan banget.. masih juga buat yang aneh2... btw.. lanjut sista.....^_^
BalasHapusMaya begok....gak sensitif...aku gak suka.
BalasHapuswaaaaaa, jagung ini "jadi gantung", maya ini bener2 ya, masa adegan "itu" tidak sungguhan, tidak sungguhan dimana, lah ada kontak fisik kok, akakak, saya setuju dg masumi, kecuali ya tdk ada kontak fisik, jd cuman seolah2, akakak, dijamin tetep masumi gag akan rela, sampe mati dia itu gag rela, yak ditunggu selanjutnya seperti biasa ya jenk fenny, dipertigaan *asal ini*
BalasHapusOw ow ow ngambek lagi nih...tapi cowok or cewek mana yg rela liat pacarnya dicium org lain mana orgnya ketauan suka juga lagi hehehehe....mudah2an Maya bisa ngerti so masalahnya lgak jadi berlarut larut... Padahal klo pertunjukannya jadi seru juga kali ya liat Masumi beradu akting sama Maya n koji di satu panggung...apalagi sutradaranya kuronuma... Pengen tau dia bisa marah2in Masumi gak xixixixix Ow ow ow ngambek lagi nih...tapi cowok or cewek mana yg rela liat pacarnya dicium org lain mana orgnya ketauan suka juga lagi hehehehe....mudah2an Maya bisa ngerti so masalahnya lgak jadi berlarut larut... Padahal klo pertunjukannya jadi seru juga kali ya liat Masumi beradu akting sama Maya n koji di satu panggung...apalagi sutradaranya kuronuma... Pengen tau dia bisa marah2in Masumi gak xixixixix
BalasHapuswaduhhh mulai deeee.... maya tidak diberi kesempatan bwt ngomong...huh *sentil masumi pake karet gelang..:D*
BalasHapuscemburu cemburu mulu, tp betul jugaa ci .. mana ada yg rela pasangan nya mesra2 ma orang lain.... jihahhahahha....:D
kurang byk ni... tambahin donk... >_<
untung akhirnya maya sadar juga dasar dodol.......peka dikit dong Maya...hehehehehe suka bgt deh...lanjutannya jgn lama2 dong fen...seruuuu :P
BalasHapusYa ampun Maya mesti diterangin sm Rei baru ngerti...dasaranak kecil!!!!
BalasHapusso,,adegan kissu kissu bakal berubah jd apa nih,,,
BalasHapushmmm,,,lanjoootttt