Ruang konferensi pers di gedung Daito
Kedatangan Masumi yang mengenggam erat tangan Maya membuat wartawan yang hadir di sana segera mengerumuni mereka berdua dan mengajukan banyak pertanyaan.
“Pak Masumi apa benar anda dan nona Maya terlibat affair?”
“Apa yang sebenarnya akan anda lakukan di kapal itu bersama Maya?”
“Apakah kalian pergi diam-diam tanpa sepengetahuan tunangan anda?”
“Mengapa anda mengkhianati nona Shiori?.....”tanya wartawan yang tiada henti dan terus mengikuti Maya dan Masumi.
Masumi mengacuhkan semua pertanyaan wartawan dan sambil melindungi Maya, ia terus berjalan menuju tempat yang telah disediakan untuk konferensi.
“Teman-teman wartawan, saya mohon harap tenang dan mengambil tempat agar konferensi dapat dilakukan” ucap Mizuki mencoba menertibkan wartawan dibantu beberapa petugas keamanan gedung Daito.
Setelah Masumi duduk dan wartawan mengambil tempatnya masing-masing, Masumi memulai konferensi pers tersebut.
“Selamat siang kepada semua yang hadir di sini. Dalam konferensi ini, saya akan menjelaskan kejadian yang sebenarnya atas apa yang terjadi di antara kami. Alasan mengapa kami ditemukan bersama dalam kapal itu adalah…..karena pada malam itu kami diculik oleh seseorang yang----“
“Bagaimana mungkin anda bisa diculik dan siapa yang menculik anda dan nona Maya, pak Masumi?” Tanya salah seorang wartawan menyela perkataan Masumi “Apakah itu hanya akal-akalan anda saja untuk mengelak kejadian yang sebenarnya?”
Pertanyaan yang di ajukan oleh wartawan membuat Masumi menatap tajam wartawan yang bicara hal tersebut.
“ Hati-hati anda kalau bicara, apa yang saya katakan adalah kenyataan dan untuk lebih jelasnya, saya akan menayangkan sebuah rekaman cctv yang menggambarkan kejadian tersebut” ucap Masumi sambil memberi tanda pada seorang staff untuk memperlihatkan tayangan tersebut.
Sebenarnya, masumi enggan mengatakan bahwa kejadian ini adalah karena mereka di culik, sebab ia tidak mau mengeluarkan rekaman cctv tersebut karena di sana tergambar Maya yang tiba-tiba muncul dan berusaha menolong dirinya. Tapi, Maya bersikeras, agar Masumi tetap menayangkan rekaman itu untuk membuktikan kalau mereka memang benar-benar pernah diculik.
Alasan Masumi untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya adalah karena dengan kemunculan Maya yang tiba-tiba di parkiran Daito akan menjadi tanda tanya besar buat wartawan, mengapa Maya bisa berada di sana padahal Maya baru saja selesai pementasan dan belum ada urusan pekerjaan di Daito lagi.
Dan dugaannya benar, setelah rekaman cctv itu selesai ditayangkan, wartawan lebih tertarik dengan kemunculan Maya yang tiba-tiba ada di sana daripada penculikan yang terjadi.
Wartawan pun memberondong Maya dengan berbagai pertanyaan.
“Nona Maya, apa yang sebenarnya anda lakukan di sana?”
“Mengapa anda bisa tiba-tiba muncul dan berusaha menolong pak Masumi?”
“apakah anda memang sedang menunggu Pak Masumi?”
“Ada hubungan apa anda dan Pak Masumi?....”
“Eh..itu…itu karena---“ jawab Maya yang kelabakan karena terus di desak wartawan.
BRAK
Suara gebrakan meja yang dilakukan Masumi membuat wartawan terdiam.
Masumi memandangi mereka semua dengan tatapan dingin.
“Bila anda semua tidak bisa bersikap tenang dan tertib. Saya akan mengakhiri konferensi ini” ucapnya marah.
Suasana di ruangan itu mendadak hening, tidak ada seorang wartawan pun yang berani berucap.
Masumi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, kemudian ia berkata “ alasan Maya ada di sana adalah…..” Masumi menatap Maya sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Karena saya yang memanggilnya untuk datang dan menunggu di sana” sambung Masumi
Maya menatap masumi dengan kaget.
“Masumi mengapa kamu---“
Masumi menggenggam tangan Maya dan meremasnya, memberi isyarat agar Maya tetap diam.
Seorang wartawan memberanikan diri bertanya pada Masumi.
“Hmm…maaf pak Masumi…..kalau boleh tahu mengapa anda memanggil Maya?”
Masumi menatap wartawan itu, yang membuat wartawan itu sedikit merasa takut.
“Karena…saya ingin memastikan perasaan saya padanya. Walaupun pada saat itu saya amnesia tapi saya merasa saya mengenalnya. Selalu muncul perasaan aneh yang tidak bisa saya mengerti setiap melihatnya, jadi saya memanggilnya untuk menanyakan beberapa pertanyaan” jelas Masumi
“Emm…..perasaan apa yang ingin anda pastikan, pak?”
“Saya merasa……saya jatuh cinta padanya”
Pernyataan Masumi membuat wartawan yang hadir di sana tersentak kaget.
“Masumi…” ucap Maya
“Jadi, kalau begitu anda memang benar mengkhianati nona Shiori dan menjalin hubungan dengan nona Maya tanpa sepengetahuan nona Shiori?”
“Perasaan saya pada Maya sudah diketahui oleh Shiori jauh sebelum saya berangkat ke Amerika. Dan sebenarnya pada saat saya kembali lagi ke Jepang, saya akan mengumumkan bahwa saya akan mengakhiri pertunangan itu. Tapi sayangnya, dalam kepulangan itu, saya mengalami kecelakaan dan amnesia”
“Apa nona Maya adalah alasan mengapa anda memutuskan pertunangan anda dengan nona Shiori?”
“Bukan…saya tegaskan pada kalian semua. Bahwa semua ini tidak ada hubungannya dengan Maya. Keputusan ini MURNI keputusan saya sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan Maya. Saya memutuskan untuk mengakhiri pertunangan ini karena saya menyadari bahwa pertunangan ini adalah sebuah kesalahan. Bila saya terus mempertahankannya, kami –saya dan Shiori- akan menderita. Jadi keputusan itu adalah keputusan yang terbaik untuk kami berdua” jelas Masumi
“Pak Masumi apakah nona Shiori juga menyetujui keputusan itu? Dan apakah ada pengaruhnya dengan Daito?”
“Pertanyaan itu, silahkan anda tanyakan sendiri pada Shiori. Dan apakah ada pengaruhnya pada Daito. Saya jawab tidak ada. Karena mulai hari ini, saya bukan direktur daito lagi”
Wartawan kembali tercengang.
“Maksud anda apa pak Masumi?”
Masumi tersenyum sebelum menjawab pertanyaan wartawan.
“Anda pasti telah mengerti dengan maksud saya. Tapi akan saya tegaskan bahwa saya telah mengundurkan diri sebagai direktur Daito. Mulai hari ini, saya tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Daito. Jadi anda sekalian jangan mengkaitkan masalah ini dengan Daito” ucap Masumi “Saya rasa penjelasan saya sudah sangat jelas, jadi konferensi ini saya akhiri” lanjutnya.
Masumi lalu berdiri dan menarik tangan Maya kemudian meninggalkan ruangan konferensi juga meninggalkan wartawan yang masih bertanya-tanya mengapa ia memutuskan hal tersebut.
Setelah konferensi selesai, Masumi menghilang bagai di telan bumi. Tidak ada yang dapat mengetahui keberadaannya. Tidak ada seorang wartawan pun yang berhasil melacak jejaknya.
*****
Beberapa bulan kemudian….
Sebuah sedan hitam berhenti di sebuah tempat penjualan ikan segar yang ramai dipenuhi pembeli. Seorang pria memakai kaca mata hitam turun dari mobil itu. Ia lalu melepaskan kaca mata hitamnya dan berjalan mendekati tempat itu.
“Pak Masumi…” panggil pria itu saat melihat seseorang yang dikenalnya sedang melayani pembeli dengan ramah.
Masumi tersenyum melihat kedatangannya.
“Aku akan segera ke sana. Tunggu sebentar” ucap Masumi sambil menunjuk sebuah arah.
Pria itu mengangguk tanda mengerti dan pergi ke tempat yang ditunjuk Masumi.
“Maaf membuatmu menunggu lama, Hijiri. Dan apa yang membuatmu kemari?” Tanya Masumi tak lama kemudian.
Hijiri yang sedari tadi duduk menunggu, langsung berdiri dan mengangguk hormat pada Masumi.
“Kamu tidak perlu bersikap formal seperti itu. Sekarang aku bukan direktur Daito. Aku juga bukan atasanmu” ucap Masumi
“Tapi di hati saya, bapak tetap orang yang paling saya hormati” sahut Hijiri
“Terima kasih, Hijiri” kata Masumi sambil tersenyum tulus.
“Oh ya, kamu belim menjawab pertanyaanku. Apa yang membuatmu kemari?”
“Kedatangan saya kemari, saya diperintahkan Tuan eisuke untuk menyampaikan pesan pada anda” jawab Hijiri
“Pesan? Ayah menitipkan pesan?”
Hijiri mengangguk.
“Tuan Eisuke mengatakan bahwa beliau tidak akan mempersoalkan masalah itu lagi dan tidak akan ikut campur atas hubungan anda dengan Maya. Dan beliau juga meminta anda untuk kembali ke Tokyo. Sekarang keadaan sudah tenang, pak Masumi jadi anda bisa pulang. Tuan Eisuke juga mengatakan bahwa beliau akan membantu anda untuk meyakinkan para pemegang saham bahwa anda masih sangat layak menduduki kursi direktur daito. Jadi kedatangan saya adalah untuk menjemput anda” jelas Hijiri
Masumi menghembuskan napas panjang dan menatap Hijiri.
“Hijiri, tolong sampaikan ucapan terima kasihku pada ayah juga maafku padanya karena aku tidak mau kembali”
“Pak Masumi…”
“Mungkin kamu berpikiran bahwa hidupku menderita di sini. Di sini, aku memang tidak memiliki kemewahan tapi aku merasakan kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan saat menjabat sebagai direktur daito. Di sini aku bebas, bebas melakukan apapun, bebas menjadi diriku sendiri. Aku mendapatkan apa yang aku inginkan, Hijiiri. Kehidupan yang tenang, tidak ada curiga juga dendam. Aku benar-benar sangat bahagia di sini”jelas Masumi “Jadi, aku harap kamu mengerti dan membantuku menjelaskan pada ayah”
Hijiri mengangguk tanda mengerti, ia memang dapat melihat raut wajah bebas dan bahagia dari Masumi.
“Baiklah, pak Masumi. Bila memang itu keputusan anda, saya akan menyampaikan pesan anda pada Tuan Eisuke. Kalau begitu saya permisi dan jagalah diri anda baik-baik” pamit Hijiri sambil mengangguk hormat pada Masumi.
“Bila suatu waktu anda memerlukan saya, kapan pun anda dapat menghubungi saya. Saya akan selalu siap membantu anda” sambungnya sebelum melangkah pergi.
“Terima kasih, hijiri” sahut Masumi kemudian ia terus menatap kepergian Hijiri sampai masuk ke dalam mobil dan pergi menjauh.
*****
Dengan cepat, Maya berjalan menuju tempat biasa Masumi berjualan. Ia celingak-celinguk di sekitar tempat itu, Tapi orang yang dicarinya tidak terlihat.
“Pak Ogure” panggil Maya pada seorang pria setengah baya yang sedang sibuk melayani pembeli “Apakah bapak tahu ke mana Masumi?” tanyanya.
“Oh Masumi… dia tadi berkata akan pergi ke suatu tempat” sahut Pak Ogure
“Pergi ke mana, pak?” tanya Maya
“Kurang tahu ya. Masumi tidak mengatakannya”
Sebersit raut kecewa muncul di benak Maya
“Oh begitu ya pak” jawabnya “Kalau begitu saya permisi dulu” lanjutnya dan dengan langkah gontai meninggalkan tempat itu.
Baru beberapa langkah, Maya meninggalkan tempat itu, terdengar suara pak Ogure memanggilnya.
“Maya….” Serunya
Maya menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Ada apa, Pak Ogure?”
“Ada yang bapak lupa. Tadi Masumi menitipkan ini dan meminta untuk memberikannya padamu” jawab Pak Ogure sambil mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkannya pada Maya.
“Terima kasih, pak Ogure” sahut Maya “Kalau begitu saya permisi dulu” sambungnya.
Pak Ogure mengangguk dan kembali ke tempatnya berjualan..
*****
Maya memandangi amplop yang dipegangnya. Hatinya bertanya-tanya, apa isi amplop itu dan mengapa Masumi menitipkan amplop itu pada Pak Ogure.
Perlahan, ia merobek amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat di dalamnya.
Tulisan di kertas itu singkat saja.
‘Aku menunggumu di dermaga’
Setelah membaca kalimat itu, Maya berlari menuju dermaga dan mengedarkan pandangannya.
Akhirnya ia menemukan pria yang dicarinya. Diujung dermaga tampak seorang pria sedang memandang batas cakrawala.
“Masumi…” panggil Maya
Masumi menolehkan kepalanya dan tersenyum pada Maya.
Maya berlari mendekati Masumi dan memeluknya erat.
“Akhirnya aku menemukanmu” bisik Maya senang.
“Aku kan memang tidak ke mana-mana, Maya. Lagipula dari surat yang aku titipkan, sudah aku tulis dengan jelas bahwa aku menunggu di sini” sahut Masumi geli.
“Masumiii…” seru Maya sambil mencubit pinggang Masumi
Masumi tertawa keras karena berhasil menggoda Maya, tapi kemudian ia memasang wajah serius.
“ada yang ingin aku katakan padamu, Maya” ucapnya
“Apa?”
“tadi Hijiri menemuiku…”
“Pak Hijiri?”
Masumi mengangguk.
“ayah memintanya untuk menjemputku kembali ke rumah. Tapi aku menolaknya”
“Menolak?Kamu menolaknya?” Tanya Maya
Masumi mengangguk lagi, kemudian ia menatap Maya.
“Maya….sekarang aku bukan direktur Daito. Aku hanya Masumi si penjual ikan segar” ucapnya sambil tersenyum “sekarang aku tidak bisa memberikanmu rumah mewah, memanjakanmu dengan harta melimpah dan aku juga tidak mampu membelikanmu perhiasan mahal yang bertahtakan batu permata”
Maya hanya diam mendengarkan perkataan Masumi. Ia belum mengerti maksud dari Masumi.
Masumi mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya, kemudian ia membukanya dan memperlihatkannya pada Maya.
“sekarang…hanya ini yang aku bisa berikan padamu” ucapnya
“I..ini…?”
“ini adalah kunci dari sebuah rumah kecil yang berhasil aku beli dengan kerja kerasku belum lama ini. Tapi aku bisa pastikan padamu, Maya. Walaupun rumah ini kecil, didalamnya akan penuh dengan cinta…” jawab Masumi
Maya masih tetap diam dan menatap Masumi.
Masumi mengeluarkan sebuah kotak lagi yang ukurannya lebih kecil dari kotak yang sebelumnya, dan memperlihatkan isinya pada Maya.
“Aku juga hanya bisa memberimu cincin sederhana ini, Maya…disertai sumpahku bahwa aku akan selalu menjagamu, melindungimu, membahagiakanmu dan mencintaimu selamanya” kata Masumi lagi,
Melihat Maya yang hanya diam saja dan tidak bereaksi apapun kecuali menatapnya lekat, Masumi melanjutkan kalimatnya,
“Aku hanya bisa melamarmu dengan ini, Maya…”
“Me..melamarku?” Tanya Maya tidak percaya
Masumi mengangguk.
“Aku laki-laki yang sekarang tidak punya apa-apa dan hanya punya segudang cinta untukmu sedang melamarmu, Maya” jawab Masumi
“Masumi..aku..aku---“
“Kamu boleh menolaknya, Maya. Aku akan menerima penolakan itu dengan lapang dada. Aku tahu kamu berhak memdapatkan pria yang lebih baik, yang lebih bisa membahagiakanmu. Bukan laki-laki yang---“
Kata-kata Masumi terhenti karena Maya menutup mulut Masumi dengan jari tangannya.
“Jangan katakan itu, Masumi..jangan” ucap Maya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Saat kita bersama dalam badai, aku sudah mengatakan padamu, apapun yang terjadi, aku ingin selalu bersamamu…apapun yang terjadi aku ingin selalu di sisimu”sahut Maya “aku hanya terlalu terkejut dengan apa yang kamu katakan. Aku sama sekali tidak menyangka akhirnya kamu akan mengatakan kalimat yang selama ini aku tunggu…kalimat yang ingin aku dengar dari mulutmu”
Maya tersenyum lalu melanjutkan perkataannya.
“Kamu mengatakan bahwa kunci ini hanyalah kunci sebuah rumah kecil…atau cincin ini yang hanyalah sebuah cincin yang sederhana…tapi buatku ini lebih bernilai dan lebih berharga dari sebuah rumah megah ataupun cincin permata yang mahal..” kata Maya “Kamu tahu mengapa, Masumi?”
Maya kembali menatap Masumi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Karena aku tahu, ini adalah hasil dari usaha kerasmu. Saat kamu memutuskan untuk berhenti menjadi direktur daito dan memulai hidup barumu disini. Memulai semuanya dari nol. Aku tahu perjuanganmu. Kamu yang semula tinggal di rumah yang mewah dan berkantor di gedung besar ber-ac dan wangi, kini harus bermandikan keringat dan berkutat dengan bau amis ikan segar. Karena itu kedua benda itu sangat berarti, sangat bernilai dan tidak dapat disamakan dengan benda mewah apapun”
“Maya….”
“aku sangat senang menerimanya, Masumi…sangat senang” lanjut Maya.
“Jadi…jadi kamu mau menerimanya, Maya? Kamu bersedia menjadi istriku?”
Maya mengangguk yakin.
“Apa kamu benar-benar yakin,Maya….sekarang aku tidak bisa memberimu kemewahan…”
“Aku tidak membutuhkan kemewahan, Masumi. Aku hanya ingin bersamamu..aku hanya menginginkan dirimu juga cintamu. Kamu hanya perlu mengatakan bahwa cintamu tidak akan bisa pudar, cintamu akan selalu ada untukmu dan kamu tidak akan pernah meninggalkan aku…itu sudah lebih dari cukup buatku. Karena hanya cintamu yang bisa membuatku kuat menghadapi apapun” ucap Maya
“Aku bersumpah,Maya. Cintaku tidak akan pernah pudar. Cintaku akan terus tumbuh dan semakin banyak setiap harinya. Kita akan selalu bersama karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu” sahut Masumi
Maya tersenyum mendengar perkataan Masumi.
“Terima kasih, Masumi, Aku juga bersumpah padamu, Masumi. Bahwa kita akan selalu bersama dan cintaku hanya untukmu selamanya” ucap Maya.
“Jadi…sekarang aku boleh memasangkan cincin ini di jarimu, Maya?”Tanya Masumi.
Maya mengangguk dan mengulurkan tangannya.
Kemudian Masumi menyematkan cincin itu ke jari manis Maya dan mencium punggung tangan Maya tersebut.
Maya memandangi cincin yang kini tersemat di jari manisnya dengan hati yang berbunga-bunga. Ia sangat-sangat gembira.
Maya kemudian melingkarkan tangannya ke leher Masumi.
Keduanya saling bertatapan dengan penuh cinta.
Perlahan wajah mereka semakin mendekat dan bibir mereka pun hampir bersentuhan…
“Guk…grrrrrr”
Gonggongan dan geraman pudel di belakang kaki Maya membuat Maya kaget dan menjerit…
“Wuaaa….”
Reflek, Maya melompat ke pelukan Masumi.
(Tapi akhirnya, mereka menyadari kalau ini hanyalah kejahilan penulis, jadi mereka melotot ke arah penulis)
(“Ups, maaf..maaf….mari kita ulangi adegannya” seru penulis sambil tertawa)
(Ehem….)
Perlahan wajah mereka semakin mendekat dan bibir mereka pun AKHIRNYA bersentuhan.
Mereka berciuman panjang dan lamaaaaa……..
Matahari yang mulai terbenam, suara deburan ombak dan burung-burung camar yang terbang di atas kepala mereka menjadi saksi cinta sejati mereka yang tidak akan bisa terhapus oleh waktu dan tidak akan goyah oleh ‘badai’ sekuat apapun..
The end
.
hahaha.... paling suka pas anjing pudhel ny guk guk.... ^^
BalasHapusCkckckck....penulisnya iseng bener yach...
BalasHapusoooowww,,,
BalasHapusso sweett,,,
*iket ajah ituwh cuteNcrazy cupid di kebon belakang*
masumi jadi penjual ikan segar...*ide bagus * geleng-geleng kepala .
BalasHapus-hadua-