Pertemuan Masumi dengan Mr. Robin ternyata tidak memakan waktu lama. Saat jam makan siang, Masumi sudah selesai dan keluar dari gedung X.
“Hua….akhirnya selesai juga pertemuanmu dengan bapak gendut berkepala botak itu, Masumi. Aku hampir saja mati kebosanan mendengarkan percakapan kalian” ucapmu sambil berjalan disamping Masumi.
“Memangnya siapa yang menyuruhmu mengikutiku terus?”
“Habis kalau aku tidak mengikutimu, aku harus mengikuti siapa?” tanyamu balik bertanya.
“Tidak tahu” sahut Masumi sambil mengangkat kedua bahunya “Terserah kamu dan aku akan sangat berterima kasih kalau kamu berhenti mengikutiku”
“Jangan harap, Masumi…” sahutmu cepat “Selama aku di sini, aku akan terus mengikutimu, kan aku sudah mengatakan kalau aku adalah bayanganmu”
Masumi hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapanmu.
“Eh, tapi Masumi….mengapa kamu tidak bekerja sama dengan direktur muda yang tampan dan menarik saja sih? Tapi malah dengan pria botak gendut dan mirip dengan Chu pat kai itu. Melihatnya saja membosankan apalagi mendengar kata-katanya yang bertele-tele. Hua…telingaku sampai kecapaian mendengarkannya” ucapmu lagi “Coba kalau rekan bisnismu itu seorang pria muda yang tampan, modis dan keren…menemanimu rapat seharian, pasti tidak akan membosankan. Bisa memandangi 2 pria tampan, siapa yang menolak hahahahaha….”
“Mulai lagi kumat penyakitnya” gumam Masumi sambil terus berjalan menuju parkiran dan mengacuhkan pertanyaanmu.
Karena hari itu Masumi pergi ke gedung X tidak memakai sopir, maka setibanya di mobilnya, ia membuka pintu depan.
“Masumi…tunggu…..” serumu tiba-tiba.
Masumi yang hendak masuk ke mobil, menatap ke arahmu.
“Bukakan pintunya….” Ucapmu.
“Buka saja sendiri” jawab Masumi sambil masuk ke mobilnya.
“Masumi…benar nih tidak apa-apa, aku yang buka ? Kalau ada orang lewat dan melihat pintu mobilmu terbuka sendiri, jangan salahkan aku kalau kamu harus membawanya ke unit gawat darurat karena terkena serangan jantung”
“Kamu….” Kata Masumi kesal, tapi kemudian lewat dalam, ia pun membukakan pintu mobilnya.
“Silahkan nona” ucapnya gemas.
“Hehehehehehe…terima kasih, Masumi” sahutmu sambil masuk ke dalam mobil.
@@@@@
“Sekarang kita ke mana, Masumi? Belanja ya?” tanyamu sambil melirik Masumi yang sedang menyetir mobil.
“Tidak” jawab Masumi pendek.
“Ya, Masumi. AKu kan sudah mengatakan, kalau aku perlu berbelanja. Membeli baju dan perlengkapanku lainnya”
“Memang kamu harus mengganti bajumu?” tanya Masumi.
“Ya iyalah….masa tidak ganti-ganti baju, bau dong xixixixi….”jawabmu.
“Nanti saja kalau begitu, sesudah makan siang” sahut Masumi kemudian.
“Makan? Hore….aku juga mau makan…..” serumu gembira “Masumi, kamu tahu saja kalau aku sudah kelaparan”
“Kamu juga bisa kelaparan dan perlu makan?” tanya Masumi.
“Ya iyalah masa ya iya dong…..duren saja dibelah bukan dibedong” sahutmu sambil cekikikan.
Masumi menggelengkan kepalanya lagi mendengar jawabanmu.
“Kamu tuh memang agak-agak---“
“Agak-agak apa, Masumi?” tanyamu memotong perkataan Masumi “Ah…tidak…aku tidak agak-agak tapi..memang….” lanjutmu.
“Memang?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya.
“Memang orang stress wkakakakaka….”jawabmu.
Masumi hanya bisa tersenyum kecil mendengar jawabanmu sambil (Lagi-lagi) menggelengkan kepalanya.
“Wah..kamu tersenyum…..” ucapmu girang “Hore…berhasil…berhasil….aku berhasil membuat direktur muda Daito yang dingin seperti es kutub tersenyum”
“Makanya kamu harus dekat-dekat aku, Masumi. Jadi sering tersenyum dan siapa tahu sering juga tertawa, tertawa itu sehat lho, Masumi” ucapmu lagi.
“Sehat? Atau malah jadi ketularan tidak waras seperti kamu?”tanya Masumi.
“Ya…beda-beda tipislah” sahutmu enteng “Eh, Masumi. Kita mau makan di mana?”
“Kita? Memang siapa yang mau mengajakmu makan?” tanya Masumi.
“Ih…Masumi suka begitu deh…..” jawabmu “Tapi tidak apa-apa, setidaknya sekarang Masumi tidak mengacuhkan aku lagi, sudah mau menjawab pertanyaanku dan membalas candaku”
“Aku tidak becanda dan mengapa aku meladenimu, supaya telingaku tidak panas mendengar rengekanmu dan celotehanmu yang bikin sakit kepala” sahut Masumi.
“Hah…jadi betulan kamu mau makan sendiri?” tanyamu “Tega….nanti kalau aku kelaparan bagaimana? Bisa the end di sini dan tidak bisa pulang dong…Huaaaa…… tidak mau…aku tidak mau terjebak selamanya di sini”
“Bukannya kamu senang menggangguku terus di sini?” kata Masumi balik bertanya.
“Iya sih…hehehehe…”jawabmu “Tapi aku tidak mau menderita dan sengsara di sini. Pokoknya kamu juga harus memberi aku makan. Kamu harus tanggung jawab, Masumi…..”
“Mengapa aku harus bertanggung jawab? Bukan aku menyuruhmu datang ke sini” kata Masumi.
“Memang sih, mungkin karena aku yang terlalu…terlalu ‘tergila-gila’ padamu dan termasuk dalam khayalanku untuk bisa masuk ke duniamu sehingga sekarang aku bisa bersamamu” katamu mengakui “Tapi aku tidak mau kelaparan dan karena aku sudah berada di sini, kamu harus bertanggung jawab…..jangan sampai aku pulang ke duniaku, aku menjadi kurus kering seperti mumi hidup…hiii……aku tidak mau…nanti pacarku kabur…”
“Heh…. Mulai lagi melantur…”
“Ya…aku kan memang seperti itu…..kan aku sudah mengaku, Masumi” katamu enteng.
@@@@@
Disebuah restoran, Masumi menghentikan mobilnya.
“Tunggu di sini” ucap Masumi ketika melihatmu akan keluar dari mobil.
“Tidak mau…aku ikut…..” jawabmu.
“Tunggu aku di sini. Kalau kamu terus mengikutiku, aku benar-benar tidak akan memberimu makan” ancam Masumi sambil keluar dari mobilnya.
“Huaaa……Masumi tega………….”
Dengan sangat terpaksa, kamu pun menunggu Masumi di dalam mobilnya, 15 menit kemudian Masumi keluar dari restoran itu lalu masuk kembali ke dalam mobil.
“Ini untukmu” katanya sambil memberikan sebuah bungkusan untukmu.
Kamu menerimanya dan membukanya.
“Wua…..udon…..” katamu senang dan kamu pun memakannya dengan lahap.
“Enak…….” Katamu kemudian “ehem…Masumi sekarang kita ke mana? Shopping ya?”
“Hmmm……”
Kring…kring…..kring……
Masumi mengangkat ponselnya yang berbunyi.
“Ya?....” katanya sambil menyimak perkataan lawan bicaranya.
“Hmm…baik aku akan segera ke sana”kata Masumi lagi sambil menutup telponnya.
“Siapa, Masumi?”tanyamu tapi Masumi tidak menjawab pertanyaanmu dan tetap fokus menyetir.
Pada sebuah lapangan kosong, ia membelokkan mobilnya dan menghentikannya di sana.
“Tunggu di sini dan jangan keluar” perintah Masumi lalu keluar mobilnya.
Kamu memperhatikan Masumi yang menunggu seseorang. Tak lama kemudian tampak seorang pria menghampiri Masumi.
“Eh..itu kan---“ katamu ketika mengenali orang itu.
Dengan antusias, kamu keluar dari mobil dan berlari mendekati Masumi.
“Kamu…” kata Masumi yang melihatmu menghampirinya.
“Maaf, membuat anda menunggu, pak Masumi” kata pria itu yang membuat kata-kata Masumi padamu terputus.
“Tidak, aku juga baru sampai” sahut Masumi “dan informasi apa yang akan kamu sampaikan padaku?”
“Ehem…itu…” kata pria itu kemudian menatapmu.
“Ada apa, Hijiri?”
“Ehem itu, pak…” kata pria itu yang tak lain adalah Hijiri.
“Ya?”
“Kalau boleh tahu siapa gadis yang berdiri di samping anda, pak Masumi? Saya baru melihatnya…” tanyanya sambil melirikmu.
“Eh?”
Kamu menunjuk dirimu sendiri.
“Aku?” tanyamu ”Kamu dapat melihatku, Hijiri?”
Masumi menatap Hijiri.
“Hijiri, kamu….kamu dapat melihatnya?”tanya Masumi mengulang pertanyaanmu.
“Maksud bapak?” tanya Hijiri tidak mengerti.
“Wua…hore…hore……..” serumu antusias sambil mengangkat tanganmu dan lari keliling lapangan “Hijiri juga bisa melihatku…aku bisa dilihat 2 cowok keren…..horeee……hidup aku…..”
Hijiri melongo melihat tingkahmu.
“Pak Masumi, dia…?”
“Bersiaplah untuk melalui hari-hari yang tidak tenang, Hijiri” kata Masumi “Dan tabahkan hatimu dalam menghadapinya” lanjut Masumi sambil menepuk pundak Hijiri.
“Maksud, bapak?”
“Nanti kamu juga akan mengerti” jawab Masumi “Sekarang mana dokumen yang aku inginkan?”
@@@@@
Seusai bertemu Hijiri dan meninggalkannya masih dengan penuh tanya tentang kamu, Masumi akhirnya membawamu ke salah satu pusat perbelanjaan.
Kamu dengan antusias memilih barang-barang yang kamu inginkan.
“Dan, Masumi…..aku juga mau beli---“
“Apa lagi?” tanya Masumi “Bukankah sudah banyak barang yang kamu beli?” lanjutnya sambil menunjukkan beberapa kantong belanjaan padamu.
“Masih belum selesai, Masumi. Ada satu barang penting yang harus di beli”
“Barang penting? Apa itu?”
“Hmmm….” Jawabmu sambil memandangi toko-toko yang ada di tempat itu. “Nah..itu dia….” Lanjutmu sambil menunjuk ke salah satu toko.
“Hah…i…itu…?”
Kamu mengangguk.
“Ayo, Masumi. Kita ke sana” ajakmu.
“Tidak…” sahut Masumi “Aku tidak mau masuk ke toko itu”
“Ayolah, Masumi. Mengapa tidak? Tidak ada yang melarang laki-laki tidak boleh masuk ke toko itu koq” katamu tidak mau kalah sambil mendorong Masumi.
“Aku mengatakan tidak….ya tidak” kata Masumi lagi sambil membalikkan badannya dan hendak pergi menjauh.
Kamu menghalangi jalan Masumi dan menatap Masumi dengan mimik memohon.
“Ayolah, Masumi…please….Masuk ke sana tidak berarti masuk ke neraka koq. Di sana sama ademnya” bujukmu.
“Tapi..aku tidak mau..”
“mengapa?”
“Karena…hmmm…karena---“ Masumi tidak melanjutkan kalimatnya dan perlahan wajahnya mulai memerah.
“Karena apa, Masumi?Dan mengapa wajahmu merah seperti itu? Kamu malu ya masuk ke sana?” godamu.
“Ah, pokoknya aku tidak mau. Kamu pergi saja sendiri” ucap Masumi.
“Masumi, kalau aku bisa membelinya sendiri, aku tidak akan menyuruhmu. Tapi masalahnya….” Ucapmu dengan wajah sedih sambil menatap Masumi “Kamu tahu sendiri hanya kamu yang dapat melihat dan berkomunikasi denganku, jadi…”
“Hijiri juga bisa melihatmu. Dia saja yang nanti mengantarmu membeli itu” kata Masumi.
“Masumi…..sekarang saja, lagian kita kan sudah di sini. Dan tokonya juga ada di depan mata, tinggal masuk saja” sahutmu tidak mau kalah.
“Tidak..” kata Masumi bersikeras “Jangan memintaku untuk membelikanmu barang itu. Yang lain saja”
“Masumi, tapi aku memerlukannya. Masa tidak diganti-ganti. Kan tidak nyaman. Kamu benar-benar tega…”
Masumi menatapmu dan menghembuskan napas panjang.
“Apa tidak apa-apa kalau kamu memakainya? Kamu tidak terlihat dan bila memakainya,apa barang itu tidak akan terlihat melayang?”
“Mela—huahahahahaha…” tawamu langsung menyembur mendengar perkataan Masumi ”Tidak, Masumi…tidak…kamu tidak perlu khawatir. Barang yang melekat pada tubuhku, otomatis tidak akan ikut terlihat. Kalau aku memakai baju dari duniamu, baju itupun akan ikutan ‘menghilang’. Aku juga kan seorang gadis yang harus mengganti pakaianku. Kalau aku tidak dapat mengganti pakaianku, masa aku harus bugil di depanmu” ucapmu masih tertawa “Kamu tenang saja” lanjutmu menenangkan Masumi. “Jadi…belikannya?”
“Hmmm…..”
“Masumi…..”
“Kamu tuh benar-benar merepotkan” keluh Masumi.
“Aku tahu aku merepotkan. Tapi belikan ya, Masumi…ya?”
“Hmmm…”
“Masumiii……dari tadi hmmm…hmmm…..mulu. Belikan atau tidak?”
“Baiklah kalau begitu” sahut Masumi akhirnya.
“Benar ya?” tanyamu dengan mata berbinar senang.
“Benar dan cepat sebelum aku berubah pikiran kembali” ucap Masumi.
“Oke…Masumi memang baik” sahutmu sambil berjingkrak-jingkrak senang.
@@@@@
Dengan langkah perlahan, Masumi mengikutimu yang sudah lebih dulu masuk ke dalam toko pakaian dalam wanita.
“Masumi…” panggilmu “Ayo cepat….”
Sesampainya di depan toko, langkah Masumi terhenti. Ia terlihat ragu.
“Masumi….” Panggilmu lagi “ayo, masuk…”
Seorang penjaga toko yang melihat Masumi tediam di depan tokonya dan terlihat ragu, menghampirinya.
“Maaf, pak. Ada yang dapat saya bantu?” tanyanya ramah sambil tersenyum.
“Uhm…itu…eh….” Jawab Masumi gelagapan.
“Masumi…” serumu dari dalam toko “Yang ini lucu ya?” tanyamu sambil menunjuk sepasang pakaian dalam bermotif polkadot berwarna-warni.
Buush…..
Wajah Masumi mulai kembali memerah.
“Maaf, pak…” sapa penjaga toko sekali lagi.
Masumi menarik dan mengeluarkan napasnya berulang kali, berusaha menenangkan dirinya. Sambil menekan rasa malunya, ia pun melangkahkan kakinya masuk dalam toko itu dan menghampirimu yang sedang asyik melihat-lihat pakaian-pakaian dalam dengan motif-motif lucu yang berjajar rapi di sana.
Kamu tersenyum melihat kedatangan Masumi.
“Masumi, aku mau yang ini…juga yang ini….lalu yang itu…juga yang sebelahnya kemudian yang di atas itu…” ucapmu pada Masumi sambil menunjuk pakaian-pakaian dalam yang kamu inginkan.
Dengan sangat terpaksa, Masumi mulai mengambili pakaian-pakaian dalam yang kamu inginkan dan menyerahkannya pada pelayan toko yang mengikuti di belakangnya.
Niatnya hanya satu agar semua ini cepat berakhir dan ia bisa segera beranjak dari tempat itu.
“Ehem…” terdengar deheman pelayan toko “Maaf, pak. Bukannya saya mau mencampuri urusan anda. Tapi saya ingin memastikan apa ini semua yang akan anda beli?” tanyanya dengan sopan.
“Memangnya kenapa?” tanya Masumi datar.
“Bukan apa-apa, pak. Hanya pakaian dalam yang anda ambil, size-nya berbeda-beda. Apa memang sengaja, pak?”
Kamu terkikik perlahan mendengar pertanyaan pelayan toko itu, tapi kamu pura-pura tidak mendengar dan bergegas menjauhi Masumi.
“Eh?”
Langkah Masumi terhenti dan menatap pelayan toko itu.
“Ehem…size?” tanyanya dengan bingung.
“Benar, pak. Apa anda mau memberikan pakaian dalam pada banyak wanita karena yang anda ambil, sizenya berlainan?”
“Uhuk….”
Tiba-tiba Masumi terbatuk mendengar pertanyaan pelayan toko itu dan wajahnya memerah.
“Oh,jadi yang saya ambil itu sizenya tidak sama?” tanya Masumi pura-pura bodoh ”Maaf, saya tidak memperhatikannya”
Pelayan toko itu mengangguk.
“Tidak apa-apa, pak. Biar saya bantu memilihkannya kembali” kata pelayan toko itu “tapi, maaf, pak. Kalau boleh tahu, size yang anda perlukan nomor berapa?”
“Hmm..itu…sizenya….” sahut Masumi kebingungan dan menoleh mencarimu tapi kamu sudah menghilang entah ke mana.
“Sebentar..saya tanya dulu” kata Masumi kemudian pada pelayan toko itu sambil mengambil ponselnya dan berjalan menjauhi pelayan toko itu.
Masumi pura-pura menelpon sambil mengedarkan pandangannya mencarimu.
“Ya ampun..aku benar-benar sudah gila” keluhnya perlahan.
“Masumi…” panggilmu yang membuat Masumi menoleh ke arahmu yang berada di sisi lain toko itu.
“Yang ini juga lucu…aku mau” ucapmu sambil menunjuk pakaian dalam bermotif strawberry.
Masumi bergegas menghampirimu.
“Sizemu nomor berapa?’ tanyanya sambil menatap kesal padamu ditambah malu sambil pura-pura menelpon.
Kamu tertawa melihat ekspresi Masumi seperti itu.
“Lekas jawab dan aku ingin segera meninggalkan tempat ini” desak Masumi
“Oh..sizeku…..(dijawab sendiri aja ya hehehehehe…^^) dan satu lagi, Masumi…aku mau yang ini juga ” katamu sambil menunjuk pakaian dalam itu.
“Kamu..benar-benar….” ucap Masumi gemas.
“Masumi…tambah yang satu ini…..habis itu kamu tinggal bayar dan kita keluar dari toko ini” bujukmu..
“Kamu…”
Masumi berusaha keras menahan kekesalannya menghadapi kamu. Ia berulang kali mengatur napasnya.
Lalu perlahan diambilnya pakaian dalam itu kemudian ia pun menghampiri pelayan toko itu.
“Saya minta semuanya bersize…..(suka-suka ajalah sizenya berapa xixixixi)” ucapnya pada pelayan toko ini “dan tolong jumlahkan semuanya ditam---“
Ucapannya terhenti ketika tanpa sengaja, sudut matanya menangkap sebuah bayangan seorang gadis.
Masumi pun menoleh dan ia hanya bisa diam mematung menatap gadis itu.
Gadis yang ditatap Masumi, tidak kalah kagetnya. Gadis itu hanya bisa menganga dan memandang aneh pada Masumi yang berada di dalam toko pakaian dalam wanita dan sedang memegang pakaian dalam bermotif strawberry.
“Masu---“ panggilmu sambil menghampiri Masumi.
Setelah dekat dengannya, kamu menatap masumi dengan mimik heran.
“Masumi, mengapa kamu berdiri mematung seperti itu? Siapa yang menyihirmu menjadi patung?” tanyamu
Tapi, Masumi seolah tidak mendengarmu.
“masumiiii……hoi……Masumi……” serumu sambil melambaikan tanganmu di depan mata Masumi.
Masumi tetap saja tidak bergeming.
Kamu pun mengalihkan pandanganmu ke arah yang sedang ditatap Masumi.
“Eh…itu kan---“ katamu sambil menunjuk.
“Masumi…itu mungil…..mungilmu……mengapa dia bisa ada di sini?” tanyamu kembali pada Masumi “Hoho….akhirnya aku bisa bertemu dengan Maya Kitajima…..Yeeessss……..” lanjutmu girang.
“Masumi….mengapa kamu masih diam seperti itu? Jangan bengong terus…cepat mendekatinya sebelum dia pergi” katamu lagi pada Masumi “Masumiiii……..”
Kamu masih saja belum menyadari ‘situasi’ apa yang sebenarnya terjadi……
Bersambung ke SaYaH 5....
@@@@@
Nah lho…nah lho…. apa yang ada dalam pikiran maya ketika ‘memergoki’ Masumi berada di dalam toko itu dan sedang memegang pakaian dalam wanita???? Bagaimana Masumi ‘menyelesaikan’ masalah itu dan ulah memusingkan apa lagi yang akan ‘kamu’ buat??? Lanjutannya ada di chapter berikutnya…dan semoga saja saya masih diberi ‘kekuatan’ sehingga dapat terus melanjutkan crita yang semakin kacau ini wkakakakakaka…….
tenang saja, saya akan dengan sangat setia menongkrongi blog ini, dijamin akan memberikan kekuatan selalu, hohohoho
BalasHapusaq akan selalu mampir kesini....always...and.. always... ikut merasakan "KEGILAAN" pengarang yg bisa bikin aq ngakak abisssss....
BalasHapusUPDATE---->JANGAN PAKE LAMA!!!!!! =)))
wakakakaa....
BalasHapusmaya jangan salah sangka yah
ini semua bukan buwat wanita lain di hati masumi
tp buwat aku yg lagi GILA hahahaa...
kyaaaaaaaaaaaa ketemu hijiriiiiiiiiiii
BalasHapusMenunggu dengan setia semoga kegilaan ini akan segera berakhir...wkwkwkwk
BalasHapushijiri bs liat beneran ya hahahaha....
BalasHapuslucu jg kl maya juga bs liat...sp tau bisa bikin maya lbh cemburu lagi krn tokoh "aku" 24 jam loh barengan masumi mulu gak ky shiodong odong wakakakak....
*theresia*
Dasar "kamu"...tetep aja ga di dunia"mu" ato di dunia komik belanja is numb one...aku mau dong yg motif polkadot..blm punya di rmh...qiqiqi
BalasHapuskyaa~...cute cupid..truz gimn nih kl maya jd salah faham.....oh.noooo~~