Halaman

Selasa, 29 November 2011

Why I did Fall in Love With You

“Aku tidak pernah tahu mengapa aku bisa jatuh cinta padanya…pesona apa yang dimilikinya sehingga aku tidak mampu memalingkan hatiku darinya. Padahal, dia hanyalah gadis mungil dengan wajah yang ‘biasa’ jika dibandingkan dengan banyak wanita cantik di sekelilingku”

Masumi memandang dari kejauhan gadis mungil yang biasanya tampak ‘biasa’ itu. Hari ini, ada yang lain darinya. Dia tampak cantik dan dewasa dalam balutan gaun putih dan elegan. Wajahnya berseri-seri dan senyuman tidak pernah berhenti mengembang dari bibirnya.

Lalu…lagu itu mulai terdengar…lagu yang menandakan bahwa upacara pernikahan akan dimulai.
Di depan altar, seorang pria muda sedang menunggunya. Pria itu adalah Koji…ya dia adalah Sakurakoji. Koji menatap penuh cinta dan tersenyum pada gadis mungil yang sedang melangkah perlahan mendekatinya.




Masumi mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya. Walaupun dia hanya bisa melihat punggung gadis mungil itu, tapi dia tahu, gadis mungil itu sedang tersenyum dan menatap dengan tatapan yang sama dengan Koji. Tak urung, amarah mulai muncul dalam dirinya.

Langkah gadis mungil itu semakin dekat dan akhirnya tangan Koji terulur menyambut tangan gadis mungil itu.

Kini, Masumi dapat melihat dengan jelas, senyum dari keduanya yang tampak bahagia dan mereka saling bertatapan mesra.

Masumi mulai merasa dadanya sakit melihat pemandangan itu. Tapi ia tidak mampu memalingkan pandangannya dan beranjak dari tempat itu. Ia hanya bisa diam mematung dengan perasaan cemburu yang semakin menyesakkan dadanya.

Lagu pengantin berhenti dan pendeta mulai memimpin jalannya upacara.
“Bersediakah kamu-----“ kata pendeta itu.

“TIDAAAAK……..” teriak Masumi spontan dan keras membuat semua mata tertuju padanya. Tapi Masumi tidak memperdulikan semua itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera menghampiri gadis itu dan menarik lengannya, hendak membawanya pergi dari tempat itu.

“Ma..masumi…..” ucap gadis mungil itu terkejut dan terhuyung-huyung mengikuti langkah Masumi.

@@@@@

“Sekarang aku kembali bertanya, mengapa aku bisa jatuh cinta pada gadis mungil yang keras kepala ini? Gadis yang sedari tadi tidak mau melihat wajahku dan mengacuhkan pernyataan maafku. Walau mulutku sampai berbusa-busa membujuknya tapi dia tidak peduli dan tetap tidak mau menghiraukanku…”

Masumi menghela napasnya menatap punggung Maya yang sedang menatap laut dari jendela besar yang ada di villanya. Gadis itu benar-benar marah besar padanya. Tidak mau melihatnya dan tidak mau berbicara dengannya.

“Maya….” Panggil masumi.

Maya tetap diam dan tidak bergeming seolah tidak mendengarkan panggilan Masumi.

Masumi kembali menghela napasnya kemudian menghampiri dan memeluk Maya dari belakang.

“Lepaskan aku….” ucap Maya sambil memberontak dalam pelukan Masumi.

“Tidak” sahut Masumi “Aku tidak akan melepaskanmu” lanjutnya sambil mengeratkan pelukannya.

“Lepas….” Seru Maya marah.

“Maaf….maafkan aku ya…..” ucap Masumi dengan penuh penyesalan.

Maya hanya diam dan tidak menanggapi permintaan maaf Masumi.

“Maya…aku mohon..maafkan aku…” kata Masumi lagi.

Maya masih saja tetap diam.

“Maya…marahlah, pukullah aku…tapi jangan mendiamkan aku seperti ini. Kumohon…..”

Tapi, Maya tetap saja tidak bergeming.

“Mayaaa…..” ucap Masumi mulai putus asa sambil memutar tubuh gadis mungil itu sehingga kini mereka saling berhadapan.

Dengan pandangan marah, Maya menatap Masumi.

“Konyol…..Dasar Masumi konyol…..” serunya sambil memukuli dada Masumi “Apa kamu tahu? Kamu membuat aku lelah….gara-gara ulahmu, aku harus mengulang adegan itu 3 kali…..3 kali, Masumi….” Ucapnya gemas

Masumi tersenyum kemudian tertawa terbahak-bahak. Bukan karena ucapan Maya tapi menertawakan kejadian tadi. Memang benar apa yang dikatakan gadis mungilnya itu, tadi ia memang sungguh konyol. Terbayang kembali olehnya sutradara yang menahan amarah dan kesal namun tidak berani memarahinya dan berusaha dengan ‘sopan’ memintanya keluar dari gereja agar tidak mengganggu syuting mereka.

“Mengapa tertawa? Siapa yang menyuruhmu tertawa?” tanya Maya masih sewot “Aku sangat marah tahu….kamu benar-benar…..benar-benar mengesalkan…”

“Maaf…Maya….maaf……” ucap Masumi “Aku tidak sadar melakukannya. Aku begitu cemburu sehingga logikaku tidak bisa berjalan dengan benar”

“cemburu?”

Masumi mengangguk.

“Aku sangat cemburu. Apalagi lawan mainmu adalah Koji. Tadi aku berusaha menahan diri dan mengingatkan diriku bahwa itu hanya syuting, tapi melihatmu memakai gaun pengantin dan berpasangan dengan pria lain, akal sehatku hilang dan aku tidak dapat mengendalikan diriku. Aku tidak berpikir panjang ketika aku menghampirimu dan menarikmu keluar dari sana. Itu hanya gerak refleks, Maya….gerak refleks karena aku tidak rela melihat kamu bersanding dengan pria lain” jelas Masumi memberi alasan

“Tapi, Masumi…yang benar saja. 3 kali kamu mengacaunya. Bagaimana mungkin kamu bisa berpikiran bahwa itu nyata. Jelas-jelas itu hanya syuting. Ada sutradara dan banyak kru di sana”

“Maaf, Maya. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak memperhatikan mereka. Yang aku lihat hanya kamu…..mataku hanya tertuju padamu, dan aku hanya melihat kamu menikah dengan pria lain, dan aku tidak bisa menerimanya”

“Masumiii……”

“Salah sutradaranya juga yang terlalu perfeksionis. Mengapa membuat adegan itu terlihat begitu detail dan nyata sehingga aku tidak mampu menahan diriku untuk tidak membawamu lari dari tempat itu”

“Masumi….”

“Jadi, Maya. Jangan salahkan aku kalau aku tadi melakukan hal seperti tadi. Kamu adalah milikku dan tidak boleh menikah dengan pria lain” tegas Masumi.

“Aku bukan milikmu dan aku berhak memutuskan dengan siapa aku akan menikah” sahut Maya.

“Tidak boleh” kata Masumi “Kalau kamu melakukannya. Hal yang sama seperti tadi akan terjadi”

“Kamu berani? Membawaku lari?” tanya Maya sambil memandang Masumi tidak percaya.

Masumi mengangguk.

“Bohoong……”

“Kamu coba saja kalau tidak percaya” tantang Masumi “Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain memilikimu karena kamu adalah milikku”

“Ge-eR….Masumi keGe-eRAn. Siapa yang mau jadi milikmu?”

“Mayaaa….”

“Dan, Masumi….lain kali kamu tidak perlu melihat syutingku lagi”ucap Maya sambil menatap Masumi sungguh-sungguh.

“Mengapa?”

“Mengapa? Kamu masih bertanya mengapa?” sahut Maya “Kamu benar-benar mengesalkan” lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya.

Masumi gemas melihat Maya yang seperti itu sehingga dengan cepat ia mendekatkan wajahnya.

CUP….

Bibirnya menyentuh bibir Maya.

Maya yang tidak menduga Masumi akan mengecupnya, membelalakkan matanya karena terkejut.

“Ma…..masu---“

Maya tidak sempat melanjutkan kalimatnya karena Masumi sudah ‘membungkam’ mulutnya dengan bibirnya kembali.

Perlahan, Maya menutup matanya dan membalas ciuman Masumi serta melingkarkan tangannya ke leher Masumi.

Mereka terus berciuman….dan terus berciuman.
..
Tanpa melepaskan ciumannya, Masumi mengangkat tubuh Maya dan membawanya ke sofa yang ada di dekat situ.

Dengan lembut, ia membaringkan tubuh Maya di sofa itu.

Masumi terus menciumi bibir Maya dan tangannya kini mulai bergerak menyelinap ke balik kaos Maya sehingga membuat kaos Maya sedikit tersingkap.

“Mmmm….” Desah Maya sambil menggeliat ketika tangan Masumi mulai menyusuri sisi tubuh Maya. Tangannya terus bergerak ke atas dan semakin ke atas.

Tiba-tiba……

An…..an…..an……
Tottemo daisuki…….Doraemon…….

Suara itu terdengar berulang kali dan semakin keras.

“Ma…Masumi….ponselku berbunyi” ucap Maya sambil mendorong tubuh Masumi.

“Hmmm….biarkan saja” sahut Masumi lalu kembali menciumi bibir Maya.

“Masumiii…..” ucap Maya lagi sambil mendorong Masumi lebih keras dan bangun serta meraih ponselnya.

“Siapa sih yang menelponmu? Dia benar-benar pintar memilih waktu untuk merusak suasana ya”gerutu Masumi.

Maya hanya tersenyum mendengar gerutuan Masumi.

@@@@@@

Beberapa bulan kemudian…….

“Hari ini, aku kembali bertanya mengapa aku bisa jatuh cinta padanya… pada gadis mungil yang kini tampak terpesona dalam balutan gaun pengantin berwarna putih dan sedang tersenyum lembut padaku”

Masumi seolah mengalami deja-vu. Dia kembali menatap gadis mungil yang terlihat cantik dan dewasa dalam balutan gaun pengantin putih yang elegan itu. Senyum terus mengembang dari bibir gadis mungil itu.

Lalu…lagu itu pun terdengar lagi dan gadis itu mulai melangkahkan kakinya menuju altar. Tapi kali ini, ada perbedaan yang begitu nyata. Upacara pernikahan itu sungguhan bukan bagian dari adegan dalam sebuah film. Dan yang kini berdiri di depan altar, menunggu gadis mungil itu bukan Koji atau pria lainnya melainkan dirinya….ya dirinya….Masumi hayami…….

Sambil melangkah perlahan dan semakin mendekat pada Masumi yang sedang menunggunya, Maya tersenyum dan menatap penuh cinta pada Masumi. Masumi membalas senyuman dan tatapan itu.

Lalu,,,,tangan Maya kini berada dalam genggaman tangannya. Mereka lalu bersama-sama berbalik dan menghadap ke arah pendeta yang akan mempersatukan mereka dalam ikatan cinta.

@@@@@

“Sampai gadis mungil itu telah resmi menjadi istriku dan kami akan melewati malam pertama, aku masih belum menemukan jawaban mengapa aku bisa jatuh cinta padanya. Kepolosannyakah? Keluguannyakah? Kekeraskepalaannyakah? Kecerobohannyakah? Atau apa yang bisa membuat aku jatuh cinta padanya? aku tidak tahu. Tapi kini aku tidak perlu lagi mencari jawabannya. Karena cinta tidak memerlukan jawaban atas pertanyaan mengapa. Sesuatu yang pasti adalah dia ditakdirkan untukku. Dan penantianku selama lebih dari 7 tahun ini berakhir. Aku merasa bahagia…sangat bahagia karena aku bisa menghabiskan sisa hidupku bersamanya”

Angin malam membelai rambut Maya yang sedang memandangi bintang-bintang yang bertebaran memenuhi langit di balkon kamar honeymoon suite yang disewa Masumi.

Masumi yang baru saja keluar dari kamar mandi, tersenyum melihat gadis mungil yang kini telah menjadi istrinya itu.

Perlahan, ia menghampiri gadis mungil itu dan melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu.

“Hmmm….Masumi…..” ucap maya sambil menyandarkan kepalanya ke dada Masumi.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Masumi.

“Bintang….” Sahut Maya sambil menunjuk ke langit “Di sini banyak sekali bintang seperti di dalam planetarium, Masumi”.

“Kamu..suka melihatnya?”

Maya mengangguk.

“Aku pun suka melihatnya bersamamu” kata Masumi sambil mengecup kepala Maya.

“Masumi….ada bintang jatuh …..” kata Maya tiba-tiba.

“Apa permohonanmu, Maya?”

“Permohonanku…aku ingin bersama Masumi selamanya” sahut Maya “Lalu…permohonanmu, Masumi?”

“Aku tidak punya permohonan apa-apa” jawab Masumi.

“Mengapa? Apa kamu masih beranggapan permohonanmu tidak akan bisa terkabul?” tanya Maya.

“Bukan…” jawab Masumi sambil menggelengkan kepalanya “Sekarang aku tidak perlu menyebutkan permohonanku pada bintang, karena keinginanku sudah terkabul. Lagipula……”

“Lagipula…..apa?”

“Lagipula…bintang itu kini sudah jatuh ke tanganku” sahut Masumi sambil memperlihatkan sebuah kalung berliontin bintang pada Maya.

“Masumi….”

“Aku ingin selalu menjadi bintang yang ada dalam hatimu, Maya. Yang selalu menerangi hatimu dengan cahaya cintaku”

Masumi memasangkan kalung itu di leher Maya kemudian membalikkan badan Maya sehingga menghadap ke arahnya.

“Liontin itu kini berada di dadamu dan dekat dengan jantungmu melambangkan aku yang ingin selalu terus hidup bersamamu”

“Masumi….”

Masumi tersenyum, lalu perlahan ia membelai lembut pipi Maya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Maya.

Masumi mengecup bibir Maya.

Maya menutup Matanya dan membalas kecupan Masumi.

Kecupan Masumi berubah menjadi ciuman. Ciuman yang lembut dan dalam.

Perlahan, tangan Masumi turun menuju tali mengikat mantel kamar yang dipakai Maya dan melepaskan ikatannya dengan perlahan. Kemudian tangannya beranjak ke bahu Maya dan melepaskan mantel itu dari tubuh Maya dan membiarkannya jatuh ke lantai.

Masumi melepas ciumannya dan menatap Maya.

Ia lalu membopong Maya dan membaringkannya ke atas tempat tidur besar yang ada di dalam honeymoon suite itu.

Masumi kembali menciumi bibir Maya lalu ciumannya beralih ke dagu dan leher Maya sambil dengan lembut menurunkan tali spaghetti dari gaun tidur yang dipakai Maya.

Bibirnya beralih ke bahu Maya yang telanjang dan mengecupnya di sana. Kemudian ia kembali mengecup bibir Maya.

Lalu….

Masumi mengangkat wajahnya dan menatap Maya.

“Maya…..”

“Hmmmm…” sahut Maya sambil membuka matanya dan membalas tatapan Masumi.

“Apa ponselmu sudah dimatikan? Aku tidak mau diganggu oleh ringtone doraemonmu itu lagi….”

The end…….


Catatan penulis…
Maaf, bila kalimat terakhir Masumi merusak suasana (wkakakakaka…) lagipula aku juga tidak bisa melanjutkan adegan selanjutnya karena sudah pasti harus di sensor. Jadi lanjutannya di khayalin sendiri aja ya ^^

8 komentar:

  1. sekuelnyahhhhh
    lanjottt sis fenny
    bikin dirikuwh senyum2 and panas dingin innih
    :DD

    BalasHapus
  2. Waqaq, doraemon mengganggu, msh mau, ayo tambah

    BalasHapus
  3. wakakakakkkk...pas baca paragraf2 awal sempat males krn mikir maya nikah beneran sama koji XD ternyataaaaa cuma akting :)

    BalasHapus
  4. wkwkwk.... ringyone doraemon, jdi inget masa kul deh pake tu ringtone. anyway love it, lucu, ringan,but romantis dgn k gokilan cemburuan masumi;-)

    BalasHapus
  5. YEAY! Aku suka... Ringan, manis, penghilang stres betsu ^^ <3

    BalasHapus
  6. wakakakaka....gokilll bgd ni cerita... awalnya kaget waduh maya nikah ma koji.. ternyta...*ngakak2*.... mantapp fennny..... lanjotttttttttttttttttttt......................

    BalasHapus
  7. Xixixi...Hmmmm nice story sista....pertama2 BT ndak taunya cm syuting walah masumi cemburunya....

    BalasHapus
  8. sukaaaaa, romantissss, bikin sekuelnya dooong hehe

    BalasHapus