Beberapa saat kemudian…
“Hmmm…pa..pak Masumi” panggil Maya yang baru saja keluar dari kamar mandi pada Masumi yang berdiri membelakanginya.
Masumi pun membalikkan badannya dan ia tersenyum melihat Maya yang telah memakai piyamanya dan berdiri tak jauh darinya.
“Sudah selesai mandinya?” tanyanya kemudian.
Maya mengangguk.
“Semoga kamu nyaman dengan piyamaku itu, mungil” ucap Masumi “Bajumu sudah aku masukkan ke mesin pengering. Jadi sampai menunggu bajumu benar-benar kering, terpaksa kamu memakai piyamaku“
“Tidak apa-apa,pak Masumi” sahut Maya “A..aku cukup nyaman dengan piyama anda ini” lanjutnya dengan wajah sedikit memerah, yang membuat Masumi kembali tersenyum.
“Duduklah di sana” katanya kemudian sambil menunjuk ke sofa yang ada di ruang tamunya.
Maya mengangguk lalu ia berjalan menuju sofa dan duduk di salah satu sofa.
“Ini..minum susu coklat panas supaya badanmu hangat” ucap Masumi yang ternyata mengikuti Maya dari belakang, sambil menyodorkan mug yang dipegangnya.
“Te..terima kasih, pak Masumi” ucap Maya sambil mengambil mug itu dengan kedua tangannya dan Masumi pun kemudian duduk di samping Maya.
“An..anda tidak minum juga, pak masumi?” tanya Maya yang melihat Masumi hanya membawa satu mug dan memberikannya padanya.
“Aku sudah tadi” jawab Masumi “Ayo diminum dan hati-hati meminumnya, susu coklatnya masih panas”.
Maya kembali mengangguk lalu mendekatkan mug itu ke depan mulutnya dan menyeruputnya perlahan.
Masumi menatap maya yang sedang asyik menyeruput susu coklat panas dan tersenyum-senyum melihatnya.
“Mengapa anda terus menatapku dan tersenyum-senyum seperti itu?” tanya Maya sambil menoleh dan menatap Masumi.
“Ah..tidak apa-apa” sahut Masumi “Aku hanya ingin menatapmu saja. Memangnya tidak boleh?”
“eh i..itu…” sahut Maya mulai memerah.
“Oh iya, mungil. Ternyata dugaanku benar” ucap Masumi tiba-tiba.
“Eh?” tanya Maya.
“Piyamaku itu memang---“
“Wuaaaa…pak Masumi. Berhentilah menggodaku” seru Maya memotong perkataan Masumi dan dengan sebelah tangannya, ia memukuli tangan Masumi “jahat…..sampai kapan anda akan menggodaku terus….”
Masumi menangkap tangan Maya dan menahannya kemudian ia menatap Maya dengan tatapan yang lembut, dalam dan menghanyutkan (wkakakaka….).
Dan Maya seolah terkunci dengan tatapan Masumi.Perlahan, dengan tangannya yang bebas, Masumi meraih mug yang masih di pegang Maya dan meletakkannya di atas meja.
“Mungil….”panggil Masumi lembut tanpa mengalihkan tatapannya.
Maya hanya bisa diam terpaku dan menatap Masumi.
Perlahan, wajah Masumi mendekat dan semakin mendekati wajah Maya. Lalu…..
DUUAAR……
“Kyaaa…” teriak Maya melompat kaget.
Masumi pun tak kalah kagetnya mendengar suara guntur yang begitu memekak telinga. Lalu wajah keduanya memerah dan mereka pun menjaga jarak.
Siiiing……..Suasana mendadak hening.
Kaok…kaok…kaok……
(biasanya begini kan kalau di pilem-pilem kartun. Ada beberapa ekor gagak lewat xixixi…..)
“Mungil..” panggil Masumi ketika gagak-gagak itu telah lewat (
“hmmm…..?”
“Tadi…di jembatan Asahi ketika aku memayungimu, kamu memanggilku apa?”
“Mawar ungu” jawab Maya pelan.
“Mungil, aku bukan ---“
“Iya…anda adalah mawar ungu” serobot Maya.
“Mu..mungil, kamu salah orang. Aku bukan---“
“Pak Masumi, mengapa anda terus menyangkalnya?” tanya Maya sambil menatap Masumi dengan tatapan sedih.
“Mungil, mengapa kamu berpikiran bahwa aku adalah mawar ungu? Aku bukan---“
“Iyaa….anda adalah mawar ungu” ucap Maya bersikeras “Aku sudah mengetahuinya sejak lama”
“Eh..dia mengetahuinya?” ucap Masumi dalam hatinya, terkejut “Bagaimana bisa ia mengetahui bahwa aku adalah mawar ungu sejak lama?”
“Pak Masumi, anda akui saja—“ucap Maya ketika melihat Masumi terus menatapnya.
“Mungil, sekali lagi aku tegaskan kalau aku bukan---“
“Pak Masumi, mengapa anda tidak mau mengakuinya?” tanya Maya “Aku sudah mengatakan aku sudah tahu kalau anda sebenarnya adalah mawar ungu”
“Ba..bagaimana mungkin?” ucap Masumi yang tanpa sadar keceplosan (Heu…sejak kapan, Masumi bisa keceplosan? Xixixixi…)
“Karena kecerobohan anda, akhirnya aku tahu bahwa anda adalah---“
“Tunggu, mungil” kata Masumi cepat memotong perkataan Maya “ceroboh? Kamu mengatakan karena kecerobohan aku?”
Maya mengangguk.
“Mungil, aku bukan orang yang ceroboh….”
“Tapi, anda ceroboh…” sahut Maya tidak mau kalah.
“Eh..” kata Masumi sambil mengangkat kedua alisnya “Apa tidak salah kamu mengatakan aku ceroboh? Kata ‘ceroboh’ itu tepatnya untuk kamu”
“Pak Masumii…aku memang ceroboh” aku Maya “Dan anda juga ceroboh karena itu aku bisa mengetahui kalau anda adalah---“
“Tidak..tidak mungkin” ucap Masumi “Pasti ada yang memberitahumu. Katakan mungil, siapa orangnya?orang yang sembarangan mengatakan bahwa aku adalah mawar ungu?”
“Pak Masumi, mengapa anda menuduh orang?” tanya Maya “Jelas-jelas anda sendiri yang membongkar identitas anda”
“tidak” geleng Masumi “tidak mungkin aku. Aku orang yang sangat berhati-hati”
“Benarkah?” tanya Maya dengan tenang “Jelas-jelas anda telah 2 kali membongkar identitas anda sebagai mawar ungu”
“Dua? Dua kali?” kata Masumi tidak percaya “Mungil, kamu terlalu mengada-ngada”
“Aku tidak mengada-ngada” seru Maya “Anda memang 2 kali melakukan kecerobohan”
“Mungil, aku tidak mungkin---“ ucap Masumi “Oke..oke aku mungkin pernah sedikit ceroboh. Tapi kalaupun aku pernah tanpa sengaja ceroboh, tidak mungkin kamu cukup pintar untuk mengetahuinya. Pasti ada orang yang---“
“Pak Masumii…” seru Maya “Lagi-lagi anda meledekku. Menyebalkan” lanjutnya kemudian ia mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya.
”Enak saja, mengatakan aku tidak cukup pintar untuk mengetahuinya sendiri dan menyangka ada yang memberitahukannya padaku” dumel Maya “Jelas-jelas aku tahu sendiri”
Masumi tersenyum mendengar dumelan Maya. Tapi kemudian ia terhenyak. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
“Eit tunggu….” ucap Masumi dalam hatinya sambil menatap Maya “dia tadi mengatakan kalau dia sudah tahu bahwa aku adalah mawar ungu sejak lama, tapi mengapa dia tetap bersikeras ingin bertemu dengan mawar ungu? Apakah itu artinya….dia mau bertemu denganku? Jadi dia tidak….tidak….”
“Dia tidak membencimu” ucap Makhluk bersayap yang tiba-tiba muncul lagi “Aku kan sudah mengatakannya padamu, Masumi. Gadis itu tidak membencimu”
“Benar….dia tidak membenciku….” ucap Masumi lagi dalam hatinya “Kalau dia membenciku, dia pasti tidak akan mau bertemu denganku setelah tahu kalau aku adalah mawar ungu, dia tidak akan menungguku di tengah hujan, dan juga dia tidak mungkin berada di sini, duduk di sofaku, memakai piyamaku dan berdebat denganku… “
Masumi tersenyum dengan pemikirannya dan ia merasa lega….teramat lega, karena ternyata ketakutannya tidak beralasan. Ia yang terlalu berpikir yang tidak-tidak. Senyum Masumi berubah menjadi tawa…tawa yang keras sehingga mengejutkan Maya.
Maya menolehkan kepalanya dan menatap Masumi dengan mimik bingung.
“Pak…pak Masumii…anda..anda kenapa?”
Masumi tidak menjawab pertanyaan Maya, ia terus saja tertawa.
“Pak Masumi…” seru Maya “Mengapa anda tiba-tiba tertawa seperti itu?”
Tapi Masumi masih tidak menjawab pertanyaan Maya, ia hanya menatap Maya dan tetap tertawa.
“Pak Masumiii…” seru Maya kesal “Anda menertawakan aku ya?”
“Tidak” jawab Masumi kemudian di sela tawanya.
“Lalu mengapa anda tiba-tiba tertawa seperti itu?”
“Aku hanya menertawakan kebodohanku, mungil” jawab Masumi “Kebodohanku…ketakutanku…”
“Bodoh? Takut?” tanya Maya tidak mengerti “Mengapa anda mengatai diri anda bodoh? Lalu anda takut pada siapa?”
“Pada---“ jawab Masumi yang tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya diam dan menatap Maya.
“Pak…pak Masumii….”
“Mungil, aku akan mengaku—“ ucap Masumi sambil terus menatap lekat Maya.
“Eh?”
“Kamu benar….aku memang mawar ungu, pengagummu sela---“
Bruk….
Tiba-tiba saja, Maya kembali memeluk Masumi.
“Mu..mungil?”
Maya melonggarkan pelukannya dan mengangkat wajahnya, menatap Masumi.
“Akhirnya….akhirnya anda mengakuinya juga, pak Masumi….akhirnya anda mengatakannya dengan mulut anda sendiri kalau anda adalah mawar ungu” ucap Maya dengan mata berkaca.
“Mu..mungil….”
“Aku senang….aku sangat senang mendengar pengakuan anda itu, pak Masumi. Terima kasih….” Ucap Maya lagi dan kembali memeluk Masumi.
Akhirnya, Masumi pun membalas pelukan Maya. Mereka saling berpelukan erat.
“Hmm…mungil?”
“Ya?”
“Boleh aku tahu, sejak kapan kamu tahu kalau aku adalah mawar ungu?” tanya Masumi yang penasaran.
Maya kembali mengangkat wajahnya dan menatap Masumi.
“Anda mau tahu, pak Masumi?”
Masumi mengangguk.
“Anda ingin tahu kapan anda ceroboh?” tanya Maya lagi.
“Mungil aku tidak---“ sahut Masumi tidak menyelesaikan kalimatnya, ia hanya menghela napasnya “Iya..iya…aku ingin tahu kapan aku ceroboh?” lanjutnya mengalah.
“Akhirnya anda juga mau mengakui kalau anda ceroboh…” ucap Maya sambil tersenyum senang.
“Mungiiil….” seru Masumi gemas “Cepat katakan kapan---”
“Pak Masumi, aku ingin bertanya pada anda” kata Maya yang bukannya menjawab pertanyaan Masumi tapi malah balik bertanya.
“Bertanya apa?”
“Saat aku memerankan jean di padang liar yang tak terlupakan, aku menggunakan scarf berwarna apa?”
“Eh?” tanya Masumi mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Maya “Mungil, mengapa kamu bertanya seperti itu?Kamu sedang bermain kuis tentang hal-hal yang berhubungan dengan pertunjukanmu denganku?”
“Pak Masumi….jawab saja pertanyaanku…”
“Hmmm….” gumam Masumi mencoba mengingat-ngingat “Warna apa ya? Aku sudah tidak ingat….”
“Pak Masumi…”
“Mungil, pertunjukan itu sudah lama. Aku mana mungkin ingat…”
“Pak Masumi anda harus mengingatnya” sahut Maya “Kalau tidak aku tidak akan memberitahu anda”
“Hmm…apa ya?” gumam Masumi kembali mencoba mengingat-ngingat tapi kemudian ia menghela napasnya “Aku benar-benar tidak ingat, mungil…”
“Pak Masumi payah…bukankah anda pengagum rahasiaku? Harusnya anda mengingat segala---“
“Itu tidak mungkin, mungil. Masa aku harus mengingat apapun yang ada dalam pertunjukanmu secara detail….” Sahut Masumi tidak mau kalah “yang terpatri kuat di ingatanku hanya wajahmu” sambungnya perlahan.
“Eh..” ucap Maya terkejut “Anda..anda mengatakan apa?”
“Aku mengatakan aku tidak mungkin bisa mengingat secara detail barang apa saja yang ada dalam pertunjukanmu” jawab Masumi.
“Lalu?”
“Lalu apa?”
“Kalimat terakhir anda tadi?”
“Kalimat? Kalimat yang mana?” tanya Masumi pura-pura lupa “Aku tidak mengatakan apa-apa lagi”
”Pak Masumi…”
“Mungil, kamu beritahukan saja jawabannya padaku. Aku menyerah” lanjut Masumi mengalihkan pembicaraan “memangnya waktu itu kamu memakai scarf warna apa?”
“Ah..pak Masumi…anda harus mengingatnya sendiri” sahut Maya bersikeras “Anda menulisnya di kartu---“
“Kartu? Kartu apa?”
“Waktu aku mendapatkan penghargaan tertinggi dari persatuan drama nasional. Anda sebagai mawar ungu, mengirimi kartu ucapan selamat…”
“Lalu?”
“Anda menuliskan warna scarfnya di situ…”
“Ya ampun, mungil. Aku benar-benar tidak ingat apa yang aku tulis. Itu kan sudah lama sekali” kata Masumi “Kamu beritahukan saja padaku ya?”
“Anda menulis kalau anda benar-benar kagum saat aku mengenali Steward dari scarf warna birunya…”
“Hmm..kalau begitu warna scarf yang kamu pakai saat itu adalah biru?”
“Itulah kecerobohan anda yang pertama, pak Masumi” sahut Maya.
“Apa maksudmu?”
“Selama sebulan pertunjukan, anda hanya satu kali saja menonton pertunjukanku…”
“Eh?”
“Scarf biru hanya di pakai saat pertunjukan perdana, pak Masumi. Karena pada hari itu, tanpa sengaja scarf itu terbakar oleh rokok pak Kuronuma” ucap Maya sambil menatap mata Masumi “Dan pada pertunjukan perdana….hanya ada satu penonton, yang rela datang menerjang badai demi menonton pertunjukanku” lanjut Maya mengulurkan tangannya dan memegang pipi Masumi “Hanya satu orang…dan orang itu adalah anda, pak Masumi….”
Masumi tidak dapat berkata apapun. Ia hanya bisa membalas tatapan Maya. Tatapan mereka terkunci. Tidak bisa berpaling…tidak mampu berkedip. Mereka hanya saling diam dan bertatapan.
“Masumi…” ucap makhluk bertanduk yang tiba-tiba muncul “kesempatan…sekarang ini adalah kesempatanmu memiliki gadis itu. Ayo..tunggu apa lagi…bergeraklah….jadikanlah dia milikmu…”
Perlahan, tangan Masumi terangkat dan memegang tangan Maya yang menempel di pipinya. Dan dengan perlahan pula, ia menurunkan tangan Maya. Tanpa melepaskan tatapannya, wajah Masumi mendekat ke wajah Maya. Kemudian bibirnya menyentuh lembut bibir Maya. Setelah mengecupnya ringan, Masumi kembali memberi jarak antara bibirnya dengan bibir Maya.
Sambil tetap menatap Maya, ia lalu mendorong pelan tubuh Maya sampai Maya terbaring di sofa. Lalu, wajahnya kembali mendekat, dan bibir Masumi hampir menyentuh bibir Maya kembali. Sedikit lagi….tinggal sedikit lagi….
Preet…..(Bunyinya kaga enak banget xixixixi….)
“Kyaa…” seru Maya terkejut karena tiba-tiba ruangan itu menjadi gelap gulita “Pak Masumi….lampunya….lampunya mati..."
“Biarkan saja, mungil…” sahut Masumi “lebih baik kita---“
“Aang…pak Masumi…gelap”ucap Maya “Bangun…pak Masumiii……Cari lilin atau senter ….”lanjutnya sambil mendorong dada Masumi.
“Ti—“
“Ayo dong, pak Masumi.Tidak enak gelap-gelapan. Tidak kelihatan apa-apa ini…”
“Betul, pak Masumi…ayo di cari lilin atau senter…..” celetuk si cupid yang tiba-tiba ngerecokin “Saya gak kelihatan nih mau ngetik apa wkakakakaka….”
“ini kan gara-gara kamu juga” sahut Masumi pada si cupid “pakai acara mati lampu segala…”.
“Lah…koq nyalahin saya…itu lampunya pengen mati sendiri xixixixi…” kata si cupid gak mau kalah.
“Hush…sudah pergi sana, kembali ke alammu, dan jangan mengganggu kami lagi….” Kata Masumi kemudian.
“Iya deh…iya…saya tidak akan mengganggu” kata si cupid dengan ekor eh sayap lunglai. Dan “Triiing…” si cupid lalu menghilang. Cerita pun kembali berlanjut qiqiqiqiqi……
“Pak Masumiii…..” seru Maya “Ayo….cari lilin….”
“Tapi di apartemenku tidak ada lilin, mungil” sahut Masumi “Jadi lebih baik---“
“Aaaa….tidak mau….” Kata Maya “Pokoknya pak Masumi harus mencari lilin. Beli kalau perlu…”
“Mungil…”
“Pak Masumi….ayo cepat bangun. Cari lilinnya….”
“Baiklah..baiklah” sahut Masumi dan dengan terpaksa ia pun bangun. Ia mencari-cari korek api gas yang ada di sakunya dan menyalakannya kemudian dengan perlahan-lahan, ia berjalan menuju dapurnya. Di sana ia mencari-cari lilin di setiap laci yang ada di sana.
Tak lama kemudian, Masumi kembali lagi ke ruang tengah, dengan sebatang lilin yang sudah dinyalakan.
“Itu ada…” kata Maya yang sudah duduk di sofanya “Dasar pak Masumi. Tadi hanya mencari alasan saja, mengatakan tidak ada”
“Aku kan tidak ingat menyimpannya, mungil” sahut Masumi “Sudah lama aku tidak memakai lilin ini” sambungnya kemudian meletakkan lilin itu di atas meja dan kembali duduk di samping Maya.
“Lilinnya cuma ada satu ya, pak Masumi?”
“Eh?”
“Lilinnya hanya sebatang itu saja?” tanya Maya lagi.
“Tidak…ada satu kotak” jawab Masumi “memangnya kenapa, mungil?”
“Kenapa pak Masumi hanya membawa satu batang saja?” kata Maya balik bertanya “Tidak di bawa semuanya?”
“Eh?”
“Ambil sisanya, pak Masumi” ucap Maya “Kita nyalakan semuanya supaya ruangan ini lebih terang”
“satu batang saja cukup, mungil” sahut Masumi “Sudah cukup terang koq…”
“Tidak mau….” seru Maya “Aku ingin banyak lilin menyala…”
“Mu..mungil..”
“Ya..pak Masumi…ya…?” ucap Maya sambil menatap Masumi di antara remang-remang cahaya lilin dengan tatapan memohon.
Jadi..aku harus kembali lagi ke dapur dan mengambil sisanya?”
Maya mengangguk.
“Kamu mengerjaiku…”
“Ayo dong, pak Masumi…” bujuk Maya “Pak Masumi baik deh…”
“Kamu….”
“Pak Masumi…ambil dong. Please….ya…ya pak Masumi…ya?”
Masumi menghela napasnya kemudian ia pun berdiri dan meraih lilin yang berada di atas meja kemudian kembali berjalan ke arah dapur.
“Ini…” kata Masumi beberapa saat kemudian sambil meletakkan satu pak lilin dan lilin yang sudah menyala di atas meja kemudian ia duduk kembali di samping Maya.
“Terima kasih, pak Masumi” ucap Maya senang dan…
Cup..
Dengan cepat, Maya mengecup pipi Masumi kemudian meraih lilin-lilin yang ada di atas meja.
“Eh?” kata Masumi yang terkejut dengan apa yang dilakukan Maya. Refleks, tangannya langsung memegang pipinya yang tadi dikecup Maya “Mu..mungil ka..kamu---“
“Ayo..pak Masumi…kita nyalakan semua lilinnya” ucap Maya seolah tidak pernah terjadi apa-apa, walaupun sebenarnya jantungnya berdebar keras dengan apa yang dilakukannya tadi. Ia pun lalu mengeluarkan lilin-lilin itu dari kotaknya dan menyalakannya satu persatu.
“Nah..jadi terang kan, pak Masumi?” tanya Maya sambil menoleh dan melihat Masumi yang sedang memandanginya.
Tiba-tiba…
“Kyaa…” seru Maya yang terkejut, karena Masumi menarik tangannya sehingga ia berada di dalam pelukannya.
“Pak..pak Masumi…???”
“Biarkan aku memelukmu seperti ini, mungil…” pinta Masumi mengeratkan pelukannya.
Maya hanya bisa diam dalam pelukan Masumi.
“hmm…pak Masumiii…” panggil Maya setelah beberapa saat mereka hanya terdiam.
“Apa?”
“Apa coklat pemberianku sudah anda makan?”
“Coklat? coklat apa?”
“Ah…masa pak Hijiri tidak memberikannya pada anda” sahut Maya “Aku kan menitipkannya pada pak Hijiri…”
“Oh…coklat hati yang penyok itu?” tanya Masumi sambil tertawa.
“Pak Masumii…anda jangan meledekku…” seru Maya “Menyebalkan. Padahal aku dengan susah payah membuatnya”
“Maaf…mungil…maaf” ucap Masumi “Aku suka koq dengan coklatmu itu”
“Benar?” tanya Maya mengangkat wajahnya dan menatap Masumi.
“Benar” angguk Masumi membalas tatapan Maya.
“Bagaimana rasanya menurut anda coklatku itu, pak Masumi?”
“Eh?”
“Rasanya, pak Masumiii…” ucap Maya gemas “Enak atau tidak?”
“Aku tidak tahu…”
“Koq bisa tidak tahu?” tanya Maya “Anda membuangnya ya?”
“Tidak” jawab Masumi “Aku hanya belum sempat memakannya”.
“Bohong…” seru Maya “Anda pasti membuangnya….anda tidak mau memakannya karena takut rasanya aneh dan menjadi sakit perut….”
“Aku tidak bohong, mungil” sahut Masumi “Aku tidak membuangnya”
“Lalu…mengapa anda tidak memakannya?”
“Karena aku merasa sayang….”
“eh?”
“Aku masih merasa sayang untuk memakannya. Aku masih ingin memandanginya” jawab Masumi.
“Alasan…bilang saja anda memang tidak mau memakannya karena takut---“
“hmm…sebenarnya…iya sih---“ sahut Masumi kembali tertawa.
“Tuh kan….Anda memang menyebalkan” seru Maya “Aku tidak mau dipeluk oleh anda lagi…” lanjutnya sambil mendorong Masumi dan beringsut menjauh.
“Mungil, aku hanya becanda” ucap Masumi sambil berusaha menarik Maya mendekat tapi Maya menolaknya “Nanti, aku pasti akan memakannya…” lanjutnya.
“Nanti? Nanti kapan?”
“Ya..nanti” jawab Masumi “coklatnya tertinggal di kantor, jadi---“
“Anda janji akan memakannya sampai habis, pak Masumi?”tanya Maya sambil menatap Masumi.
“Iya…aku janji…”
“Walaupun rasanya aneh, anda akan tetap memakannya sampai habis?” tanya Maya lagi.
“Ehem…kalau itu---“
“Pak Masumii….”
“Iya deh…iya….aku janji akan menghabiskannya” ucap Masumi.
“Tidak bohong kan, pak Masumi?”
“Tidak…”
“Kalau begitu…” kata Maya sambil mengacungkan kelingkingnya “Ayo…kita kaitkan jari kelingking, tanda anda berjanji akan memakan coklat buatanku walaupun resikonya mungkin anda akan masuk rumah sakit karena makan coklat buatanku” lanjut Maya sambil cekikikan.
“Kamu..kamu senang ya kalau aku masuk rumah sakit gara-gara kamu”ucap Masumi pura-pura kesal.
“Ah..aku kan hanya becanda, pak Masumi” sahut Maya “Aku kan sudah memberitahukannya pada anda kalau coklatnya sudah layak makan…tidak akan membuat anda sakit perut”
“Benarkah?”
“Tuh kan…anda tidak percaya…” seru Maya “Ya sudah anda kembalikan lagi coklatnya padaku…”
“Eit…coklat yang sudah kamu berikan tidak bisa di ambil lagi, mungil” sahut Masumi “Tidak baik”
“Tapi..tapi kan anda tidak percaya padaku dan takut---“
“Siapa bilang aku takut?” tanya Masumi memotong perkataan Maya kemudian ia mengaitkan jari kelingking ke jari Maya “Nih…aku benar-benar janji untuk memakannya”
Maya pun tertawa senang tapi kemudian ia menghentikan tawanya karena di lihatnya Masumi diam dan menatapnya.
“Pak..pak Masumi mengapa anda---“ tanya Maya yang tidak mampu menyelesaikan pertanyaannya karena dengan cepat, Masumi mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Maya dengan lembut.
“Pak..pak Masumi….” ucap Maya ketika Masumi melepaskan ciumannya dan menatapnya.
Masumi tidak menjawab panggilan Maya, Ia hanya membalas tatapan Maya dan kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Maya lalu menciumnya lagi.
Maya memejamkan matanya dan membiarkan Masumi terus menciuminya.
Perlahan, Masumi kembali membaringkan Maya di sofa.
Plop…
“Benar..Masumi…seperti itu” seru makhluk bertanduk girang “Ayo…ciumi gadis itu…..sentuh dia…belai tubuhnya…..jangan berhenti….”
“Masumi….hentikan….” ucap makhluk bersayap “kamu harus bisa menahan dirimu….kamu tidak boleh----“
“Jangan dengarkan, makhluk alim itu, Masumi…” seru makhluk bertanduk lagi “Sekarang adalah kesempatan bagus. Mumpung mati lampu….hanya di terangi cahaya lilin….suasananya benar-benar mendukung jadi…..ayo…..terus…..jangan menghentikannya. Caplok aja….(eit…what is caplok? :p)"
“Masumi, jangan---“
“Hei makhluk alim….pergi jauh-jauh….jangan mengganggu dan melarang-larang…..biarkan Masumi menikmati surga dunia”
“Masumi tidak boleh melakukannya” sahut makhluk bersayap “Ia harus dapat menahan diri…”
“Menahan diri? Huahahahahaha……sampai kapan Masumi harus menahan diri? Sampai tua? Sampai ubanan? Sampai punggungnya bongkok?” tanya makhluk bertanduk “cape deeeh…..” lanjutnya sambil menepok jidatnya.
“Masumi…lekas hentikan……sebelum terlambat…..”
“Jangan, Masumi….kalau kamu laki-laki normal….terus lanjutkaan….”
“Berhenti….”
“Lanjut…”
“Berhenti…”
“Lanjuut….”
Drrrrrr……..
Kedua makhluk itu kembali saling bertatapan dan aliran listrik kembali muncul dari mata keduanya lalu mereka melayang di atas kepala Masumi.
“Ka..kamu….”
“A..apa?”tanya makhluk bertanduk “Ayo…lebih baik kita bertanding lagi. Dan pertandingan kali ini harus tuntas, jangan seperti pertandingan sumo. Gara-gara sigung yang tiba-tiba datang dan mengeluarkan bau….pertandingan jadi bubar”
“oke…siapa takut…” jawab makhluk bersayap.
Plop…..
Tiba-tiba di udara muncul ring tinju. Dan pendukung dari makhluk bersayap maupun makhluk bertanduk telah berkumpul di sana. Kedua makhluk yang berselisih itu pun telah siap bertanding.
Di sudut kanan, bersiap makhluk bersayap memakai celana boxer putih dan di sudut kiri makhluk bertanduk pun telah berancang-ancang dengan celana boxer hitamnya.
Teng…teng…teng…..
Pertandingan pun di mulai…..
Makhluk bertanduk secara agresif langsung memberi pukulan demi pukulan tapi masih bisa di tahan dan di tangkis oleh makhluk bersayap. Lalu….tiba-tiba sebuah pukulan keras berhasil membuat makhluk bersayap terhuyung…dan mari kita lihat apa yang sedang Masumi lakukan…..(maaf kalau ceritanya jadi membingungkan xixixixixi….)
Tanpa menghentikan ciumannya, sebelah tangan Masumi mulai bergerak naik ke atas, menuju kancing teratas piyamanya yang sedang di pakai Maya.
Brak…bruk…brak….bruk…..
Makhluk bertanduk terus melayangkan pukulan-pukulan dan tidak memberi kesempatan makhluk bersayap untuk membalas.
Perlahan, Masumi melepas satu persatu kancing piyama itu.
Kancing pertama…..
Kancing kedua….
Kancing ketiga…..teruuus……..sampai kancing terakhir. Kemudian………
Bruk…..
Makhluk bersayap tersungkur, bertepatan dengan Masumi yang menyibak piyama yang di pakai Maya sehingga membuat tubuh Maya tersingkap.
“Yeaah…..” seru makhluk bertanduk “Terus…terus lakukan Masumi…habisi…eh salah maksudnya lanjutkan……jangan ragu…..makhluk alim itu telah KO. Jadi tidak akan ada yang memperingatkanmu dan mengirim sinyal tanda bahaya….” lanjutnya penuh semangat.
Tangan Masumi mulai menyusuri tubuh Maya mulai dari pinggang dan perlahan merayap naik ke atas dan semakin ke atas.
“Aaaa…..” desah Maya ketika tangan Masumi menyentuh lembut dadanya.
Sementara tangannya terus bergerak, bibir Masumi pun semakin intens menciumi bibir Maya. Kemudian perlahan bibirnya melepaskan bibir Maya dan berpindah ke dagu dan mengecupnya di sana. Lalu berpindah ke leher, bahu dan terus turun ke bawah sampai……
Kring….kring…..kring……
Suara telpon yang berbunyi menyadarkan Maya. Ia pun mendorong bahu Masumi sehingga Masumi mengangkat wajahnya dan menatapnya.
“Ehm…pak…pak Masumi…..ponsel anda berbunyi…..” ucapnya sambil menutupi tubuhnya yang terbuka dengan kedua tangannya.
“Biarkan saja…” ucap Masumi sambil mendekatkan dirinya kembali dan hendak mencium Maya lagi.
Tapi….Maya kembali mendorongnya.
“Pak Masumiii…..angkat telpon……dari tadi berdering terus……”
“Hmm….baiklah…baiklah…..” ucap Masumi dengan berat hati lalu ia mengangkat tubuhnya dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
“Ya?”
Sambil mendengarkan lawan bicaranya, sesekali Masumi melirik ke arah Maya yang sudah duduk di sofa dan merapatkan piyamanya untuk menutupi tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Masumi pun menutup telponnya.
Byar…..
Lampu kembali menyala. Dan saat itu, Maya dapat melihat Masumi sedang menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca dan wajahnya tampak pucat.
“Pak..pak Masumi…..an...anda kenapa?" tanya Maya "a..apa telah terjadi sesuatu? siapa yang menelpon anda tadi?"
Masumi hanya diam dan tetap menatap Maya kemudian ia menghela napasnya.
“Mungil, aku----“
“Pak Masumi….ada apa?” ulang Maya karena Masumi menggantung kalimatnya.
Tapi…lagi-lagi Masumi hanya menatap Maya dan menghela napasnya.
“Pak Masumiiii…….”
Masumi tetap tidak menjawab. Ia malah menolehkan kepalanya dan meniupi lilin-lilin yang menyala di atas meja.
“Pak Masumiii….” Seru Maya lagi yang mulai kesal “Sebenarnya ada apa sih? Mengapa dari tadi aku tanya, anda tidak pernah menjawab. Siapa sih yang tadi menelpon anda sampai anda jadi bersikap aneh seperti ini” gerutunya kemudian.
“Mungil…yang tadi menelponku itu---“ucap Masumi akhirnya mengeluarkan suaranya.
Maya menatap Masumi dan menunggu Masumi menyelesaikan kalimatnya tapi sekali lagi Masumi menggantung kalimatnya. Ia hanya diam dan balas menatap Maya.
“Pak Masumiii…” seru Maya kesal “anda memang menyebalkan. Ya sudah kalau anda tidak mau memberitahu aku” lanjutnya sambil bangun dari sofa.
“Mau ke mana?” tanya Masumi sambil dengan cepat meraih tangan Maya, menahannya agar tidak pergi.
“Lepaskan tanganku” seru Maya “Aku mau pulang”
“Tapi, mungil—“
“Lepaskan, pak Masumiii….”kata Maya sambil berusaha menarik tangannya yang masih dipegang Masumi “Jangan melarangku. Aku tidak mau berada di sini dan berdekatan dengan anda. Anda menyebalkan. Bisanya hanya meng---“
“Mungil, apa kamu mau pulang dengan berpakaian seperti itu?” tanya Masumi mengacuhkan omelan Maya sambil menahan tawanya.
“Eh…?”
Wajah Maya langsung memerah ketika menyadari kalau ia sedang memakai atasan piyama Masumi.
“An..anda….” teriaknya kemudian “Kembalikan bajuku, pak Masumi…..aku mau pulang….”
“hmm..tidak bisa, mungil”
“Mengapa tidak bisa?” tanya Maya marah “Pak Masumi….kembalikan bajuku!!!”
“Bajumu masih basah” jawab Masumi.
“Alasan!” seru Maya “Bukankah tadi anda mengatakan kalau bajuku sedang anda keringkan di mesin pengering? Masa sampai sekarang belum kering juga?”
“Mungil….tadi kan listriknya mati. Jadi pasti bajumu itu juga belum benar-benar kering” sahut Masumi memberi alasan.
“Tapi---“
“Dan aku juga sedang membutuhkanmu” lanjut Masumi dan secara tiba-tiba ia menarik Maya ke pelukannya “Jadi kamu tidak boleh pulang dulu…”
“Kyaaa……” teriak Maya yang terkejut “Pak Masumi…lepaskan aku…..”lanjutnya sambil memberontak.
“Mungil..biarkan aku memelukmu….”
“Tidak mau….” Seru Maya “Lepaskan aku……”
“Mungil, please…..biarkan aku memelukmu sebentar” mohon Masumi.
“Pak…pak Masumi….anda..anda kenapa?” tanya Maya yang akhirnya berhenti memberontak dan membiarkan Masumi memeluknya.
Masumi hanya diam dan memeluk Maya dengan erat.
Perlahan, tangan Maya pun terangkat dan membalas pelukan Masumi. Sesaat kemudian keduanya saling berpelukan erat.
“Pak Masumi….”
“Hmm…..”
“Pak Masumi…..Apa…apa telah terjadi sesuatu yang buruk?” ucap Maya memberanikan diri untuk bertanya.
Masumi tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya.
“Pak Masumi….siapa yang tadi menelpon anda?” tanya Maya lagi.
“Hmm…itu Hijiri” jawab Masumi singkat.
“Eh? Pak Hijiri?” ucap Maya terkejut. Kemudian ia melonggarkan pelukannya dan menatap Masumi “Pak Hijiri yang menelpon?”
Masumi mengangguk.
“Memangnya apa yang pak Hijiri katakan sampai anda jadi bersikap aneh seperti ini?” tanya Maya penasaran.
“Hijiri mengatakan kalau dia----“
Ting…tong…ting….tong……
Bunyi bel membuat Masumi tidak melanjutkan kalimatnya. “Ah…itu pasti Hijiri” ucapnya “Tunggu sebentar, mungil. aku bukakan pintunya dulu,” lanjutnya sambil melepaskan pelukannya kemudian ia pun bangun dari sofa dan berjalan menuju pintu.
Beberapa saat kemudian……
“Lho….pak hijirinya mana?” tanya Maya heran ketika ia melihat Masumi masuk sendiri.
“Sudah pergi” jawab Masumi pendek sambil menghampiri Maya dan kembali duduk di sampingnya.
“Koq pergi lagi?” tanya Maya lagi sambil menatap Masumi, tidak mengerti.
“Dia hanya mengantarkan sesuatu” sahut Masumi “Sesuatu yang membuatku takut…. akhirnya sampai juga di tanganku” lanjutnya sambil memperlihatkan barang yang dipegangnya pada Maya.
“Pak Masumi…itu kan-----huaaa…..rupanya anda mengerjai aku…” ucap Maya ketika ia mengenali barang yang dipegang Masumi, yaitu kotak coklat pemberiannya “Sudah sini kembalikan…” lanjutnya sambil berusaha mengambil kotak coklat itu dari tangan Masumi.
“Aku kan sudah mengatakan, mungil Barang yang sudah kamu berikan tidak boleh diambil lagi” ucap Masumi sambil menjauhkan kotak coklat itu dari jangkauan Maya.
“Tapi coklat itu yang anda maksud dengan sesuatu yang buruk kan?”kata Maya “Jadi kembalikan saja coklatnya padaku”
“Aku tidak mengatakan seperti itu” sahut Masumi “Kamu yang mengatakannya”
“Tapi anda takut untuk memakannya kan? Kalau begitu kembalikan saja padaku” ucap Maya lagi.
“Memang sih aku----“
“Tuh kan…” seru Maya “makanya kembalikan saja coklatnya.
“Tapi…aku akan memakannya”sambung Masumi sambilmenatap Maya.
“Benarkah?”
“Benar” angguk Masumi “Sekarang aku akan membukanya dan memakannya” lanjutnya kemudian ia membuka kotak coklat itu dan mengambil coklat yang ada di dalamnya.
“hmm..mungil…” ucap Masumi sebelum ia memasukkan coklat itu ke dalam mulutnya..
“Apa?”
“ini…pegang ponselku” kata Masumi sambil menyerahkan ponselnya pada Maya.
“Eh?” tanya Maya sambil mengerutkan keningnya “untuk apa, pak Masumi?”
“Kalau terjadi sesuatu denganku setelah memakan coklatmu ini, kamu tekan saja nomor 1 lalu gambar telpon yang berwarna hijau itu. Aku sudah memasukkan nomor ambulance di sana” jawab Masumi dengan mimik yang dibuat serius.
“Pak Masumiii....Anda memang menyebalkan” seru Maya sambil mengerucutkan bibirnya “memangnya coklatku akan mencelakai anda? Kalau anda takut terjadi sesuatu dengan anda, anda tidak perlu memakannya. Kembalikan saja padaku. Siniii….kembalikan….” lanjutnya sambil berusaha mengambil coklat itu dari tangan Masumi.
Masumi kembali menjauhi coklat itu dari jangkauan Maya dan ia tertawa terbahak “Mungil, aku kan hanya becanda”
“Tidak lucu” sahut Maya sambil cemberut.
“Maaf deh maaf” ucap Masumi “Sudah, jangan ngambek lagi. Aku makan nih coklatnya…aku makan” lanjutnya sambil membuat gerakan perlahan memasukkan coklat ke dalam mulutnya.
“Krauk..” (makan coklat atau makan apa ini xixixixi….)
Masumi menggigit coklat itu dan menguyahnya perlahan, lalu….
Bruk…
Tiba-tiba, tubuh Masumi terhempas ke dalam sofa dan matanya terpejam.
“Pak Masumii…” teriak Maya kaget sambil mendekati Masumi kemudian ia menggoyang-goyangkan tubuh Masumi “Aah, pak Masumi. Jangan becanda deh…..ayo banguun…..”
Tapi, Masumi tidak bergeming.
“Pak Masumi, tidak lucu” ucap Maya lagi “Jangan berpura-pura deh”
Masumi tetap saja diam.
“Pak Masumi, kalau anda masih tidak bangun, aku pergi nih….”kata Maya lagi sambil bangun dari sofa dan berjalan menjauhi Masumi. Setelah beberapa langkah, Maya berjalan, ia membalikkan badannya dan melihat Masumi masih dalam posisinya semula dan matanya tetap terpejam.
Melihat Masumi yang tetap seperti itu, Maya kembali menghampiri Masumi dan berlutut di depannya.
“Pak Masumi…anda jangan membuatku takut. Tidak mungkin coklat buatanku bisa membuat anda pingsan atau tertidur seperti itu. Aku kan tidak memasukkan obat tidur ke dalam coklat buatanku. Rei saja yang mencobanya tidak apa-apa”ucap Maya “Sudahlah, pak Masumi. Jangan becanda terus denganku”
Tapi Mata Masumi tetap saja terpejam dan tidak bergerak.
“Pak Masumii…..”
Masumi masih..masih saja diam.
“Hua…pak Masumi….jangan menakutiku dong” seru Maya “Atau…jangan-jangan anda benar-benar----Aaaaa….mana..mana ponselnya pak Masumi tadi……”lanjutnya sambil bergegas mencari-cari ponsel Masumi.
“Di mana tadi aku melemparnya?” gumam Maya sambil terus mencari-cari ponsel. Ia memeriksa meja dan sofa.
“Ah itu dia” ucap Maya ketika melihat ponsel yang berada di sisi dalam sofa, dekat tangan Masumi. Maya pun segera mengambil ponsel itu, tapi tiba-tiba….
“Kyaa….” Teriak Maya.
Bruk….
Maya terjatuh dan menindih tubuh Masumi karena tiba-tiba saja, Masumi menarik tangannya.
“pak Masumii…”
“Hmm…..” gumam Masumi sambil membuka matanya.
“Keterlaluan….anda benar-benar keterlaluan….” Seru Maya sambil memukul-mukul dada Masumi.
“Aduh…aduh…ampun mungil….” ucap masumi sambil mengaduh.
“Rasakan” seru Maya sambil mendorong dada Masumi dan mengangkat tubuhnya dan bangun. Masumi pun bergegas menggeser tubuhnya sehingga posisinya menjadi setengah duduk. Dan sebelum Maya menjauhinya, Masumi menarik tubuh maya merapat padanya dan segera memeluknya.
“Lepaskan…”
“Tidak mau…”
“Aang….pak Masumi. Lepaskan” seru Maya sambil mendorong Masumi.
“Tidak” sahut Masumi sambil mengunci tubuh Maya.
“Aku sebal dengan anda. Aku tidak mau dekat-dekat anda. Anda keterlaluan, selalu saja---“
Cup….
Masumi dengan cepat mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Maya sehingga Maya tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
Sesaat kemudian, Masumi melepaskan kecupannya dan menatap Maya.
“Pak Masu---“
Masumi kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Maya dan kembali menciumnya.
Maya memejamkan matanya dan membalas ciuman Masumi. Kemudian tangan Maya terangkat dan melingkar di leher Masumi. Mereka terus saja berciuman. Saling merasai satu sama lain.
Tanpa melepaskan ciumannya, Masumi mengangkat tubuhnya dan mendesak tubuh Maya sehingga Maya kembali terbaring di sofa. Tangan Masumi mulai menyentuh sisi tubuh Maya dan naik ke atas, dan bibirnya mulai berpindah. ia mulai mengecup leher Maya. Kemudian---
Pret…..
“Kyaa….pak Masumi…lampunya kembali mati” teriak Maya sambil mendorong tubuh Masumi “ayo, nyalakan lagi lilinnya…”
“Biarkan saja” sahut Masumi.
“Pak Masumi, ge---“
Ucapan Maya mendadak terputus karena Masumi membungkam mulutnya dengan ciuman.
Lalu------------------
"Waks..." teriak si cupid "kaga kelihatan. Gelaap.....pak Masumi, nyala-in dulu dong lilinnya supaya saya bisa lanjutin nulis apa yang anda lakukan pada Maya (
Tapi Masumi mengacuhkan si cupid dan mungkin (kaga kelihatan jelas sih...gelap, cuma kelihatan bayang-bayangnya aja yang bergerak-gerak, jadi hanya bisa mengira-ngira hehehehehe...)ia terus saja asyik mencumbu Maya.
Akhirnya si cupid hanya bisa menghela napasnya dan berkata "mohon maap ya..buat semua yang baca, dengan terpaksa cerita ini saya akhiri sampai di sini aja xixixixi...."
Setelah itu si cupid berteriak kegirangan sambil lari-lari keliling kampung "Horee....the end....akhirnya cerita ini THE END....."

Cupid.....jangan iseng dong ah...
BalasHapusDemen bener bikin cerita ngantung...
*cubit cupid*
qiqiqi....lampu mati, ayo masumi teruskan...ini kesempatanmu...bujuk masumi kecil yg bertanduk...,
BalasHapusbiasa dech pas lagi seru-serunya kepotong...Ayo semangat masumi!!!eh writer...semangat apdetnya!!!
cupiiiiiid.....perusak suasana neh....
BalasHapuslampu mati, masumi tetep melanjutkan aksinya bukan begitu cupid :D
BalasHapuswakaka...PLN-nya usil aja-nih..gak nanghung..jadi penulisnya gak bisa melanjutkan apa yg mereka lakukan..hihi...
BalasHapuslike it sista -narty-
jyaaah....pas bener dah, lagi kondisi begitu mati lampu, lanjuuuut masumi-sama....
BalasHapusjangan teruskan kalo telepon itu dari shiori, ganti aja dari mizuki mendingan masumi kerja 3 hari 3 malam dah drpada ketemu shiomay(emang yg nulis siapa ya????)...
BalasHapusituh...kayanya shiori deh yg nelpon ;p jd gak usah diterusin kan critanya?horeeeee.....xixixixi....
Hapusaduh siapa sih yg nelpon masumi, bikin ilfil aja
BalasHapuspadahal lg asyik nie MM
Lanjut lg ya
#maaf bru baca
yah....kok selesai????kan bukan shiomay yang nelpon....he3x...lha iya jd tuh si nenek sihir dibiarin aja di restoran...ga diputusin masumi?...:)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus