Halaman

Selasa, 14 Februari 2012

Valentine's Chocolate (1 of 2)



“Bunganya, pak….” Ucap seorang wanita muda menawarkan setangkai mawar merah pada Masumi yang baru saja turun dari mobilnya di depan gedung Daito.

“Ayo, pak. Dibeli bunganya. Untuk istri anda” ucap wanita muda itu lagi terus menawarkan dagangan bunganya pada Masumi.

“Tidak” sahut Masumi pendek.

Tapi wanita muda itu tidak pantang menyerah. Ia terus saja menawarkan dagangannya.

“Ayolah, pak. Bila anda sayang pada istri anda, berilah ia bunga. Ia pasti akan gembira dan semakin mencintai anda” ucap wanita muda itu lagi.

“Tidak” ucap Masumi lagi sambil mempercepat langkahnya masuk ke dalam lobby. Di dalam lobby, ia menghampiri seorang satpam yang sedang mondar-mandir di dalam lobby tersebut.

“Pagi, pak Masumi” ucap si satpam ketika ia melihat Masumi mendekatinya.

“Pagi…” sahut Masumi pendek “Pak satpam, bagaimana kamu bisa membiarkan penjual bunga itu” lanjutnya sambil menunjuk ke arah wanita muda di depan lobby yang sedang menawarkan bunga-bunga pada orang-orang yang masuk ke dalam gedung Daito “Menawarkan bunganya di sana”

“Eh itu…”



“Itu mengganggu sekali. Jadi tolong suruh dia pergi” kata Masumi pada satpam itu.

“Ehem…baiklah pak Masumi” ucap si Satpam “Saya akan menyuruh wanita itu tidak berjualan di sana” lanjutnya sambil bergegas mendekati penjual bunga itu.

“Dasar pak Satpam. Bukan dari tadi” gerutu Masumi sambil melangkahkan kakinya menuju lift.

Tak lama kemudian ia telah sampai di lantai di mana ruangannya berada.

“Mizuki….” Panggil Masumi ketika telah dekat dengan meja Mizuki “ikut aku ke ruanganku” lanjutnya sambil terus berjalan menuju ruangannya.

“Baik, pak Masumi” sahut Mizuki. Ia segera bangun dari duduknya dan mengikuti Masumi dari belakang.

Masumi membuka pintu ruangannya dan ia terperangah melihat apa yang ada di atas mejanya.

“Apa itu, Mizuki?” tanya Masumi.

Mizuki menatap Masumi kemudian tatapannya beralih pada meja Masumi lalu ia kembali menatap Masumi.

“Pak masumi masa anda tidak tahu apa itu?” tanya Mizuki “Itu kan kotak-kotak berisi coklat---“

“Aku tahu itu kotak coklat” sela Masumi “Tapi mengapa ada di atas mejaku?”

“Oh..kotak-kotak coklat itu diterima tadi, pak Masumi. Semuanya untuk anda. Dari para gadis yang menyukai anda” jawab Mizuki “Anda benar-benar idola para gadis ya pak Masumi. Masih pagi saja, tumpukan kotak coklatnya sudah setinggi itu---“

“Mizuki…”

“Ya, pak Masumi?”

“Untuk apa mereka mengirimiku coklat sampai memenuhi mejaku seperti itu?” tanya Masumi.

“EH?” kata Mizuki sambil menatap bosnya “Anda masa tidak tahu, pak Masumi—“

“Tidak tahu apa?”

“Apa anda tidak tahu kalau hari ini adalah hari valentine?” kata Mizuki kembali balik bertanya pada Masumi.

“Lalu memangnya kenapa kalau hari ini hari valentine?”

“Ya…jadi wanita-wanita yang menyukai anda mengirimi anda coklat dan berharap anda menerima lambang perasaan mereka—“

“Begitu?”

“Anda tidak tahu pak Masumi?” tanya Mizuki heran.

“Bukan tidak tahu” jawab Masumi “Tapi untuk hal-hal seperti itu. Aku sama sekali tidak berminat..”

“Pak Masumi..”

“Tolong kamu bantu aku menyingkirkan semua kotak coklat itu…” lanjut Masumi.

“Me..menyingkirkan?”

“Benar menyingkirkan, Mizuki” sahut Masumi “apa kamu tidak tahu apa itu menyingkirkan? Buang semuanya…” lanjuutnya.

“Eh, dibuang?” kata Mizuki lagi “Coklat sebanyak itu dibuang, pak Masumi?”

“Mizuki..tidak bisa kah kamu tidak mengulang kata-kataku dan langsung melakukannya?” tanya Masumi kesal “Kamu sudah mendengar ucapanku kan?”

“Tapi…mengapa coklat sebanyak itu harus di buang, pak Masumi?” tanya Mizuki lagi :kan sayang. Sepertinya coklat itu harganya sangat mahal…” lanjutnya “Setidaknya anda memberikannya pada saya. Tentu dengan senang hati saya akan menerimanya” sambungnya lagi dalam hati.

“Jadi menurutmu, aku harus apakan coklat-coklat itu?” tanya Masumi “Mengembalikan semuanya kembali pada pemberinya?”

“Jangan, pak Masumi. Orang yang memberi coklat itu akan tersinggung bila anda mengembalikan coklat-coklat itu” jawab Mizuki.

“Lalu coklat itu harus di apa kan kalau tidak dibuang? Apa aku harus menerimanya dan memakannya?”

“Eh i…itu?”

“Kamu mengatakan bahwa coklat itu melambangkan perasaan mereka. Aku tidak mau memakannya. Nanti mereka akan beranggapan kalau aku mau menerima perasaan mereka. Dan aku juga tidak mungkin memakan coklat sebanyak itu. Aku tidak suka coklat” kata Masumi “Jadi lebih baik coklat itu di buang saja—“

“Tapi pak Masumi---“

“Apa?”

“hmm…rasanya benar-benar sayang kalau coklat-coklat itu dibuang---“

“Jadi menurutmu baiknya bagaimana?” tanya Masumi lagi.

“Eh?”

“Aku bertanya padamu, Mizuki. Baiknya coklat-coklat ini diapakan kalau tidak dibuang?”

“Hmm..bagaimana kalau coklat itu—“

“Dijual” celetuk Masumi tiba-tiba (Karena ia mendengar bisikan gaib dari penulis yang terus mengatakan ‘juaaal…masumi….jual saja coklatnya’ ke telinga Masumi :P)

“eh?”

“Tidak boleh dibuang, Tidak mungkin di kembalikan. Aku tidak mau memakan. Kalau begitu dijual saja” ucap Masumi.

“A..apa maksud anda?” tanya Mizuki dengan nada terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka bosnya itu akan memiliki pemikiran seperti itu.

“Maksudku?” kata Masumi sambil mengerutkan keningnya “Kamu tidak mengerti maksudku Mizuki?”

Mizuki menggelengkan kepalanya.

“Kamu…tolong aku jualkan coklat-coklat ini pada karyawati-karyawati wanita. Pasti coklat-coklat ini akan laku keras. Mereka kan pasti akan memberikan coklat pada pria yang mereka sukai. Kamu obral saja…”

Mizuki ternganga mendengar ucapan Masumi.

“Pak..pak Masumi…anda..anda menyuruh saya untuk menjual coklat-coklat itu?”

“Benar” angguk Masumi “Ide yang bagus kan? Coklat-coklat ini bisa menjadi bisnis yang menguntungkan…”

“Pak Masumi…..” seri Mizuki “anda keterlaluan…”

“Eh?”

“Masa coklat pemberian gadis yang menyukai anda, anda jual” ucap Mizuki “Dan anda menyuruh saya yang menjualnya lagi. Yang benar saja, pak masumi”

“Lho memangnya kenapa?kamu kan tinggal membawanya ke bawah dan—“

“Tidak mau” seru Mizuki memotong perkataan Masumi “saya tidak mau melakukannya”

“Mizuki…”

“Anda lakukan saja sendiri” lanjut Mizuki.

“Kamu…”

“Kalau anda yang menjualnya pasti akan lebih cepat lakunya, pak Masumi. Para wanita pasti merebut membeli coklat dari anda. ..”

“Mizuki…”

“Kalau tidak ada hal lain yang bisa saya kerjakan, saya permisi dulu, pak Masumi” ucap Mizuki sambil berjalan keluar dari ruangan Masumi “Kalau anda memerlukan saya, anda bisa menelpon saya, tapi saya tidak mau bisa disuruh menjual coklat-coklat itu—“

“Hei..Mizuki..kamu berani memban---“ ucap masumi yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena Mizuki sudah menutup pintu ruangannya.

@@@@@

Studio kids

“Istirahat 10 menit” ucap pak Kuronuma.

Mendengar ucapan pak Kuronuma, maya pun berjalan keluar dari ruang latihan menuju ruang loker. Di tengah perjalanan, ia melihat Koji yang sedang dikerumuni oleh gadis-gadis anggota theater. Mereka berebut memberikan coklat pada Koji.

“Kamu benar-benar idola para gadis, Koji” gumam Maya sambil tersenyum.

“Hei…Maya…..” teriak Koji yang tanpa sengaja melihat maya “permisi..permisi….biarkan aku lewat” lanjutnya pada gadis-gadis itu. Tapi para gadis itu tidak memberinya jalan untuk menghampiri Maya.

Melihat hal itu, Maya hanya bisa tertawa kemudian ia melambaikan tangannya dan melanjutkan langkahnya menuju ruang loker.

Sesampainya di depan lokernya, Maya membuka pintu lokernya dan mengambil ponselnya. Kemudian ia menelpon seseorang.

Tak lama kemudian, telponnya di tutup. Ia meraih tasnya dan sambil berlari-lari kecil pergi keluar dari gedung studio.

“Mayaa….” Panggil Koji yang melihat Maya keluar dari gedung “Kamu mau ke mana?”

“Aku keluar sebentar, Koji” seru Maya sambil terus berlari.

Koji hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maya..maya….sebenarnya kamu mau ke mana? Dan apa kamu tidak takut dimarahi pak Kuronuma? Waktu istirahat yang diberikan pak Kuronuma kan hanya 10 menit” gumamnya.

Sambil terus berlari kecil, Maya naik ke atas jembatan penyeberangan. Sesampainya di tengah jembatan, ia berhenti. Dengan napas terengah-engah, ia terus menatap ke arah tangga naik yang terletak di sisi sebelahnya.

Tak berapa lama, orang yang ditunggunya terlihat sedang menaiki tangga jembatan penyeberangan itu.

“Pak Hijiri” seru Maya sambil bergegas menghampiri Hijiri.

“Maya….maaf kalau kamu harus menunggu lama” ucap hijiri ketika Maya sudah berada didekatnya.

“Tidak” geleng Maya “tidak lama koq. Aku juga baru sampai”

“Hmm…lalu apa yang ingin kamu sampaikan padaku? Kamu tidak menjelaskannya di telpon” ucap hijiri.

“Aku ingin titip ini” sahut maya sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Lalu ia menyerahkan sebuah kotak hati berpita merah pada Hijiri.

“Ini?” tanya Hijiri sambil mengambil kotak hati itu.

“Tolong berikan itu untuk Mawar ungu” jawab Maya.

“Oh…baiklah” sahut Hijiri “Apa ada hal yang lain lagi yang ingin kamu katakan pada Mawar ungu?”

“Tidak” geleng Maya “Anda berikan kotak hati itu saja untukmu”

“Baiklah…kalau begitu aku pergi dulu, Maya” ucap Hijiri “maaf, aku tidak bisa lama-lama. Aku masih ada urusan”

Maya mengangguk.

Hijiri kemudian berbalik membelakangi Maya dan berjalan kembali menuruni jembatan.

Maya menatap punggung Hiiri sampai ia turun ke bawah dan tidak terlihat lagi darinya.

“Waaaaa…..” teriak maya karena ia tiba-tiba saja teringat sesuatu “Sudah berapa menit ini? Telat….celaka…..aku bisa-bisa di marahi pak Kuronuma” lanjutnya sambil berlari-lari, kembali menuju Studio Kids.

@@@@@

Gedung Daito….

Mizuki sedang asyik menikmmati coklat -coklat yang tadinya mau dijual oleh Masumi, akhirnya semuanya diberikan padanya- ketika dilihatnya ada seorang pria yang berdiri di depannya dan tersenyum-senyum memperhatikannya. Mizuki pun segera meletakkan coklatnya dan menyapa pria itu.

“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu…”

“Ah iya siang” sahut pria itu “Bisa saya bertemu dengan pak Masumi?”

“pak Masumi?”

“Benar” angguk pria itu.

“Apa anda sudah membuat janji?”

“hmm…belum” jawab pria itu.

“Anda sebaiknya membuat janji dulu bila ingin bertemu dengan pak Masumi, pak—“

“Jadi kalau tidak membuat janji, tidak bisa?”

“Maaf, tidak bisa” sahut Mizuki.

“Oh begitu” angguk pria itu “Kalau begitu bisakah saya minta tolong, anda memberitahukan pak Masumi bahwa Karato Hijiri ingin bertemu?”

“Hmm…baiklah” ucap Mizuki “Tolong anda tunggu sebentar. Saya akan bertanya pada pak Masumi, apakah beliau bersedia menemui anda atau tidak” lanjutnya sambil mengangkat gagang telpon dan menghubungi Masumi.

Tak lama kemudian, ia meletakkan gagang telponnya dan menatap hijiri.

“Anda bisa menemuinya pak Karato Hijiri” ucap Mizuki “Silahkan anda masuk ke ruangannya”

“Terima kasih” sahut Hijiri sambil melangkahkan kakinya menuju ruangannya Masumi, tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan menoleh kea rah Mizuki.

“Ah iya, nona. Di atas bibir anda banyak coklatnya” ucapnya sambil menahan senyum kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Mizuki yang memerah pipinya karena malu.

@@@@@

“Selamat siang, pak Masumi” sapa Hijiri ketika ia sudah masuk dalam ruangannya Masumi “maaf kalau saya mengganggu anda sebentar”

“Ada apa Hijiri?”

“Saya hanya ingin memberikan ini” jawab Hijiri sambil meletakkan kotak hati berpita merah ke atas meja.

“Apa ini?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya.

“Maya ingin saya memberikan itu untuk Mawar ungu”jawab Hijiri.

“Dari Mungil?”

“benar, pak Masumi…”

“Terima kasih, Hijiri” sahut Masumi sambil mengambil kotak hati itu.

“Kalau begitu saya permisi dulu, pak Masumi” ucap hijiri sambil membungkuk hormat pada Masumi.

Masumi menganggukkan kepalanya dan hijiri pun keluar dari ruangan Masumi.

Mizuki yang melihat Hijiri keluar dari ruangan Masumi bergegas bangun dari duduknya dan setengah berlari menuju kamar mandi wanita. Ia malu…benar-benar malu pada pria itu.

Hijiri yang melihat Mizuki bergegas menjauhinya hanya bisa tersenyum dan ia pun terus berjalan menuju lift.

@@@@@

Dengan perlahan-lahan Masumi menarik pita merah yang mengikat kotak hati itu dan membuka tutup kotaknya. Di dalamnya ia melihat sebuah coklat berbentuk hati yang sedikit penyok dan selembar kertas terlipat.

Masumi pun mengambil kertas itu dan membukanya. Ia kemudian membaca apa yang ditulis Maya.

‘ Happy Valentine….Mawar ungu….’

Semoga anda menyukai coklat buatanku. Coklat ini benar-benar aku buat dengan segenap perasaanku khusus untuk anda….

“Mungil..apa sebenarnya maksud ucapanmu itu?” gumam Masumi.

Aku tahu…anda pasti ragu untuk memakannya karena anda tahu bahwa aku bukanlah orang yang pandai membuat sesuatu.Tapi…jangan khawatir, mawar Ungu. Coklat yang aku kirim ini sudah layak makan. Dijamin rasanya tidak aneh dan tidak akan membuat anda sakit perut.

Masumi tersenyum kecil membaca tulisan maya tersebut dan kembali melanjutkan membaca surat Maya.

Mawar ungu….
Di hari valentine ini, boleh aku memohon sesuatu? Aku harap anda mau mengabulkan permohonanku….
Mawar ungu….aku ingin……sangat ingin bertemu dengan anda….

“Eh?”

Mawar ungu, bisakah nanti sore anda menemuiku di jembatan penyeberangan Asahi? Dulu….aku pernah meminta anda untuk menemuiku di tempat itu, tapi anda tidak datang. Hari ini….di hari valentine ini bersediakah anda menemuiku?Aku sangat berharap kali ini, anda bersedia menemuiku. Aku sangat ingin bertemu dengan anda, Mawar ungu.

“Mungil….”

Sebentar saja….tolong temui aku sebentar saja. Aku tidak akan menyita waktu anda lama-lama. Hanya sebentar saja, Mawar ungu…..

“…..”

“Aku akan menunggu anda di atas jembatan penyeberangan Asahi nanti sore mulai jam 5. Terserah anda mau menemuiku jam berapa. Aku akan terus menunggu sampai anda datang.

“Mungil….” ucap Masumi sambil melipat surat dari Maya “Benarkah kamu ingin menemuiku? Bagaimana reaksimu bila kamu tahu bahwa akulah Mawar ungu. Apa yang akan kamu lakukan? Kamu pasti akan sangat kecewa….begitu tahu bahwa aku adalah mawar ungu…..”

Masumi menghela napasnya.

“Haruskah kali ini aku datang untuk menemuinya? Mampukah aku mengakui bahwa akulah mawar ungu, pengagum rahasianya? Sanggupkah aku menerima kalau dia akan semakin membenciku bila mengetahui kalau aku adalah Mawar Ungu?”

“Apa yang sebaiknya aku lakukan? Menemuinya atau……..tidak?”

@@@@@

Teng..teng..teng……

Jam dinding di ruangan Masumi berdentang 5 kali. Masumi mengangkat wajahnya dan melihat jam itu.

“Sudah jam 5 “ gumamnya “mungil…apa kamu sudah menungguku di sana?”

Waktu pun terus berlalu….5 lewat 15, 5 lewat 30 tapi Masumi belum juga beranjak. Ia masih saja di duduk di kursinya.

“Aku mau menemuinya” tekad Masumi kemudian sambil menyambar jasnya yang tersampir di kursi. Ia berjalan cepat dan membuka pintu.

Tapi….

Ketika kakinya akan melangkah keluar, sebersit pemikiran muncul di benaknya.

“Tidak….mungil pasti tidak bisa menerimanya, aku tidak bisa menemuinya….” gumamnya sambil membalikkan badannya dan kembali duduk di kursinya.

Pikirannya benar-benar berkecamuk antara menemui Maya atau tidak. Kadang ia kembali membulatkan tekad, memberanikan dirinya untuk menemui Maya tapi ketika di depan pintu langkahnya kembali terhenti dan ia kembali memutar tubuhnya. Berulang kali, Masumi melakukan hal itu.

Masumi menghela napasnya. Ia benar-benar tidak tahu keputusan apa yang harus diambilnya. Menemui Maya atau tidak……

Biasanya dalam setiap pengambilan keputusan, ia tidak pernah ragu. Tapi kali ini hatinya benar-benar bimbang. Suara hatinya terbagi dua.

“Pergi…..Masumi..pergilah….temui Maya dan akuilah padanya kalau kamu adalah mawar ungu” bisik (Seorang atau seekor ???? :p) makhluk berwujud dirinya berukuran mungil yang tiba-tiba saja muncul dan duduk di bahu kanannya. Makhluk itu adalah perwujudan sisi baiknya. Berwajah tenang dan damai. Bersayap putih dengan lingkaran halo di kepalanya. Ia memancarkan aura positif mengelilingi tubuh Masumi. Udara di sekitar Masumi tampak bersinar terang..

“Jangan…..jangan menemuinya. Gadis itu sangat membencimu dan akan semakin membencimu apabila kamu mengakui kalau kamu adalah mawar ungu. Dia tidak akan dapat menerimanya” seru makhluk lain yang tiba-tiba muncul dan berdiri di bahu kiri Masumi. Ia merupan perwujudan dari sisi buruk. Berwujud sama dengan makhluk di sebelah kanan, hanya saja, tubuhnya berwarna merah dan sepasang tanduk tumbuh di kepalanya dan ekor meenjuntai di belakang tubuhnya. Kehadirannya memancarkan aura negatif. Kegelapan menyelimuti udara di sekitarnya.

Seketika itu juga, udara di sekitar Masumi terbagi dua. Terang di sisi kanan dan gelap di sisi kiri.

“Jangan mendengarkannya, Masumi” ucap makhluk bersayap dengan lembut dan menenangkan “Maya tidak mungkin membencimu. Ia pasti dapat memaafkanmu dan---“

“Tidak….kamu tidak boleh mendengar dia” serobot makhluk bertanduk “Maya sudah pasti membencimu dan tidak akan pernah memaafkanmu…”

“Masumi…dengarkan aku…” ucap Makhluk bersayap itu lagi.

“Jangaan…dengarkan saja aku….” teriak makhluk bertanduk.

“Masumi..gadis itu sedang menunggumu. Apa kamu tega membiarkannya terus menunggu?”

“Tidak, Masumi….gadis itu pasti akan pergi setelah mengetahui bahwa kamu tidak datang……”

Drrrrr………………

Kedua makhluk itu saling bertatapan. Aliran listrik muncul dari kedua mata mereka. Keduanya pun melayang di atas kepala Masumi.

“Kamu, jangan berkata omong kosong….kamu tahu sendiri gadis itu sangat membencinya. Dia tidak mungkin memaafkannya. Jadi lebih baik terus bersembunyi di balik bayang-bayang mawar ungu” seru makhluk bertanduk itu.

“Tidak mungkin gadis itu akan terus membencinya. Dai pasti akan memaafkan dan menerima pengakuannya. Jadi ia tidak perlu bersembunyi terus. Sudah saatnya ia membuka jati dirinya yang sebenarnya” sahut makhluk bersayap.

“gadis itu pasti sangat..sangat membencinya…..”

“Tidak…gadis itu tidak akan membencinya terus…”

“Benci….”

“Tidak…”

“Benci…”

“Tidaakk…”

Pertengkaran kedua makhluk itu melambangkan kebimbangan hati Masumi. Masumi tidak tahu keputusan mana yang harus di ambilnya. Dia benar-benar tidak tahu…….

Lalu tiba-tiba saja……di atas kepala Masumi muncul arena sumo. (wkakakaka….penulis mulai error, mohon dimaapken )

Banyak makhluk-makhluk mungil bermunculan membentuk 2 kubu. Di sisi kanan, makhluk mungil bersayap berkumpul, dan di sisi kiri dipenuhi oleh makhluk mungil bertanduk. Mereka berteriak riuh memberi dukungan.

Dua makhluk mungil yang tadi bertengkar telah berdiri di dalam dohyo (ring sumo) dan memakai mawashi. Ditengah lapangan, juga telah berdiri makhluk lain yang akan menjadi wasit. Ia memiliki sebelah sayap putih di kanan, dan satu tanduk di kiri kepalanya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kipas yang terlipat.

Dan pertandingan pun akan di mulai…pertandingan yang akan menentukan keputusan yang akan diambil oleh Masumi.

Kedua makhluk mungil itu saling memberi hormat, bersikap siaga dan ketika wasit mengangkat kipasnya serta memberi aba-aba, mereka langsung saling menyerbu. Mendorong…..berusaha mengangkat tubuh lawannya dan berusaha menjatuhkannya.

Makhluk bersayap mulai memegang mawashi makhluk bertanduk, ia berusaha mendorong ke pinggir ring tapi…makhluk bertanduk berhasil menahannya dan kali ini dia yang melakukannya, berusaha mendesak makhluk bersayap sehingga hampir menyentuh garis.

Huuuaaaa…….Bahayaaa…makhluk bersayap semakin terdesak, tapi yaak…. makhluk bersayap berhasil kembali mendorong. Kali ini makhluk bertanduk hampir keluar lapangan.

Yaak…makhluk bersayap ayoooo….dorong terus kalahkan makhluk bertanduk itu… tapi…aaaaah…. sayang sekali makhluk bertanduk bisa bertahan dan kembali mendorong makhluk bersayap…….

Di luar ring, kedua kubu saling bersorak memberi dukungan. Mereka sangat semangat sekali mendukung kawan mereka. Mereka berteriak dan terus berteriak……Suasana bertambah ramai dan semakin ramai….

Kembali lagi ke tengah arena sumo…

Kedua makhluk mungil itu masih saling berusaha melumpuhkan lawan mereka. Mendorong…mendesak…..kembali lagi mendorong….berusaha menjatuhkan lawan. Dan akhirnya……….
(wkakakakaka……ini cerita apa sih sebenarnya? Koq jadi ngelantur gini? )

Ceklek….

“Masumi….”

Plop…..

Semua makhluk-makhluk itu menghilang. Terang dan gelap yang menyelimuti Masumi pun memudar. Keadaan di ruangan Masumi kembali ‘normal’.

Masumi yang melihat kedatangan Shiori segera bangun dari duduk dan menghampirinya.

“Shiori? Mengapa kamu ke mari?”

“Aku ingin mengajakmu makan malam, Masumi” sahut Shiori “Kamu tidak sedang sibuk kan?”

“Itu…”

“ayolah, Masumi. Sekarang kan hari valentine. Jadi ayo kita rayakan..”

“Shiori…aku…”

“Aku sudah memesan tempat di restoran X, Masumi” ucap Shiori “kumohon…..pergilah denganku” lanjutnya sambil menatap penuh harap pada Masumi.

Masumi menatap Shiori.

“hmm…baiklah kalau begitu” ucapnya kemudian.

@@@@@

Di restoran X

Setelah mereka selesai makan malam, Shiori mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyodorkannya pada Masumi.

“Masumi….happy valentine” ucapnya “ini untukmu….”

“ini?”

“Coklat ini sengaja aku pesan untukmu, Masumi” ucap Shiori.

“Shiori, kamu tidak perlu---“

“Tidak apa-apa, Masumi. Sebagai tunanganmu, aku ingin memberikanmu coklat di hari valentine ini” sahut Shiori “Aku harap kamu mau menerimanya”

“Kalau begitu, terima kasih, Shiori” ucap Masumi.

Mereka terdiam sejenak ketika ada seorang pelayang yang sedang menuangkan anggur ke gelas mereka.

“Hujan…” ucap Shiori ketika ia memandang keluar jendela “Hari valentine malah turun hujan….”

“Eh, hujan?” ucap Masumi. Ia pun menolehkan kepalanya kea rah jendela. Di luar jendela, ia dapat melihat hujan turun dengan derasnya.

aku akan terus menunggu, sampai anda datang….
Aku akan terus menunggu, sampai anda datang……..

Kata-kata itu terus muncul di benak Masumi.

“Mungil, kamu tidak mungkin terus menunggu kan?Mungil…..”

Tiba-tiba, Masumi bangun dari duduknya.

“Masumii….”

“Shiori, maaf. Aku harus pergi…” ucap Masumi dan tanpa menunggu jawaban Shiori, ia bergegas keluar dari restoran.

“Masumi…tunggu…..kamu mau kemana?”

Masumi mendengar pertanyaan Shiori, tapi ia mengacuhkannya dan semakin mempercepat langkahnya.

“Masumi, mengapa kamu meninggalkan aku begitu saja?” ucap Shiori perlahan sambil memandangi punggung masumi yang dengan cepat tidak terlihat lagi olehnya. Dan hatinya semakin sedih ketika melihat coklat pemberiannya di tinggalkan begitu saja oleh Masumi.

@@@@@

Jembatan penyeberangan Asahi….

Maya berdiri diam di tengah jembatan. Matanya terus menatap kejauhan. Tubuhnya basah kuyub dan ia menggigil kedinginan. Tapi ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

“Mawar ungu…benarkah? Benarkah kali ini pun anda tidak mau datang untuk menemuiku? Aku hanya meminta waktu anda sebentar….sebentar saja”gumam Maya dengan air mata yang berlinang di pipinya.

“Aku sangat ingin bertemu dengan anda, Mawar ungu……pak Masumi…. Mengapa anda tetap saja tidak mau menemuiku….mengapa?”

Tiba-tiba ia merasakan , ada seseorang berdiri di belakangnya dan memayunginya….

Perlahan dan dengan penuh harap, Maya pun membalikkan tubuhnya.

Dan dengan sangat perlahan pula, Maya menengadahkan wajahnya dan menatap orang yang berdiri di depannya, yang sedang memayunginya.

“Pak Masumi...” ucap Maya ketika ia melihat wajah orang yang memayunginya.

“Mungil, kamu---“

Bruk….

Tiba-tiba Maya menubruk Masumi dan memeluk pinggangnya erat..

“Eh?”

“Aku senang…akhirnya….. akhirnya anda mau datang juga…” kata Maya masih memeluk Masumi “Mawar ungu…” sambungnya kemudian.

Trak…

Payung yang di pegang Masumi terjatuh.

“A…apa…apa yang di katakannya? Dia…dia memanggilku apa?” ucap Masumi dalam hatinya. Ia sangat terkejut dan tidak mempercayai pendengarannya dengan apa yang diucapkan Maya. “Mengapa ia memanggilku mawar ungu? Apa dia sudah tahu kalau aku adalah mawar ungu? Tidak..tidak mungkin…..”

Maya mengangkat wajahnya dan menatap Masumi. Dan Masumi pun membalas tatapan mata Maya. Sesaat kemudian, keduanya hanya saling bertatapan tanpa saling berbicara.

Hujan turun semakin deras, tapi mereka berdua seolah tidak peduli.

Perlahan, tangan Masumi terangkat dan menyentuh pipi Maya dengan lembut.

“Mungil…pipimu dingin….” ucap Masumi khawatir “sebaiknya kita pergi dari sini. Tubuhmu basah kuyub dan badanmu menggigil seperti itu. Nanti kamu sakit” lanjutnya kemudian ia membungkuk mengambil payungnya dan kembali memayungi Maya.

Masumi merangkul Maya dan membawanya menuruni jembatan dan menuju ke mobilnya. Setelah Maya duduk di mobilnya, Masumi pun segera menyusul duduk di kursi pengemudi. Kemudian Masumi mengambil mantelnya yang tergeletak di kursi belakang dan menyerahkannya pada Maya.

“Mungil, lepaskan bajumu yang basah itu dan pakailah mantelku ini…”

“Eh?”

“Kamu bisa sakit kalau terus memakai bajumu yang basah itu” kata Masumi beralasan..

“Ta..tapi pak Masumi---“

“Kamu gantilah pakaianmu. Aku akan keluar” ucap Masumi lagi kemudian sebelum Maya sempat membantahnya, ia kembali membuka pintu mobil, membuka payungnya dan keluar dari mobilnya. “Ah iya, ketuk kacanya kalau kamu sudah selesai menukar pakaianmu” lanjutnya sebelum menutup pintu mobilnya.

Setelah Masumi menutup pintu mobilnya, Maya segera melepaskan bajunya yang basah dan memakai mantel Masumi. Bajunya yang basah, ia letakkan di bawah kakinya. Kemudian ia mengetuk kaca, memberi tanda kalau ia sudah selesai.

Masumi kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya membelah jalanan yang diguyur hujan.

“Aku akan mengantarmu pulang” ucap Masumi sambil fokus menyetir.

Maya mengangguk.

Kemudian suasana menjadi hening. Keduanya tidak ada yang berbicara. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Pak Masumi…” panggil Maya memecah keheningan.

“Ya?”

“Maaf…”

“Eh?”

“Gara-gara aku, anda juga jadi kehujanan…” ucap Maya sambil menatap baju dan rambut Masumi yang basah.

“Kamu tidak usah khawatir, mungil. Aku---haa…. ciiih”

“Pak Masumi…”seru Maya yang mendengar Masumi bersin.

“Tidak apa-apa. Aku tid--- haaa…ciiiih”

“Pak Masumi…anda juga harus mengganti pakaian anda yang basah itu. Anda sudah bersin-bersin…”

“Tidak ada pakaian ganti di sini, mungil” sahut Masumi “Nanti saja setelah aku mengantarmu pulang”

“Ta..tapi…tapi---“

“Sudah aku bilang, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku tidak apa-apa” ucap Masumi sambil mengerem mobilnya “Ah macet…” lanjutnya kemudian ketika dilihatnya mobil-mobil di depannya tidak ada yang bergerak.

Ternyata kemacetan itu kemacetan total. Beberapa menit menunggu, mobil-mobil itu belum bergerak juga.

“Mungil…” kata Masumi tiba-tiba sambil menolehkan kepalanya dan menatap Maya “apartemenku ada di dekat sini. Kamu tidak keberatan kan kalau kita mampir sebentar? Sepertinya di depan kemacetannya sangat parah”

Maya yang mengkhawatirkan Masumi, takut masuk angin karena baju dan rambutnya basah, perlahan mengangguk.

“Benar. Tidak apa-apa?”

Maya kembali mengangguk.

Masumi pun akhirnya membelokkan mobilnya dan menuju ke apartemennya dan tak lama kemudian mereka sampai.

@@@@@

Apartemen Masumi….

“Aku mandi dulu sebentar ya, mungil” ucap Masumi ketika mereka telah berada di apartemennya.

Maya mengangguk.

Masumi masuk ke dalam kamarnya, tapi tak lama kemudian ia keluar lagi.

“Pak Masumi..bukankah anda mau mandi?” tanya Maya keheranan.

“Aku memang mau mandi” sahut Masumi.

“Lalu kenapa anda keluar lagi?”

“Aku ingin---“ jawab Masumi. Tapi ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ia malah berjalan mendekati Maya kemudian mengulurkan tangannya yang sedang memegang handuk dan mengusap-ngusapkan handuk itu ke kepala Maya.

“Pak..pak Ma…Masumi….”

“Rambutmu basah, mungil. Kalau tidak dikeringkan nanti kamu bisa sakit kepala” ucap Masumi sambil terus mengusap-usap kepala Maya dengan handuk.

Deg..deg…deg…..

Jantung Maya berdetak dengan keras.

“Bi..biar saya saja yang melakukannya sendiri, pak Masumi” ucap Maya sambil meraih handuk yang ada di atas kepalanya dan sedikit menjauh dari Masumi.

“Mungil….” Panggil Masumi sambil memandang Maya yang sedang mengeringkan rambutnya.

“hmmm…?”

“Apa kamu mau mandi?” tanya Masumi.

“Eh?”

“Apa kamu mau mandi juga, mungil?”tanya Masumi lagi..

“Pak Masumi…” seru Maya yang terkejut “Anda jangan becanda”

“Eh…becanda?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya “Apa maksudmu dengan becanda?”
.
“I..itu Pak Masumi…tadi..tadi anda mengatakan a..apa aku mau mandi….” jawab Maya dengan wajah mulai memerah.

“Aku memang bertanya seperti itu? Tapi mengapa kamu--- “ ucap Masumi yang tidak melanjutkan perkataannya karena kemudian ia melihat perubahan warna pada wajah Maya “Hei..mengapa wajahmu menjadi merah seperti itu, mungil?”

“A..aku…hmm..i..itu….” sahut Maya gelagapan sambil menundukkan kepalanya.

Masumi memandangi Maya dan akhirnya Masumi mengerti mengapa Maya bersikap demikian dan ia pun tertawa.

“Apa yang ada di pikiranmu itu, mungil?” tanya Masumi lagi “Apa kamu pikir aku akan mengajakmu untuk mandi bersamaku?” lanjutnya sambil kembali tertawa.

Maya hanya bisa tetap menundukkan kepalanya dan wajahnya semakin merah.

“Mungil..mungil..mengapa kamu berpikiran seperti itu. Aku memang bertanya apakah kamu mau mandi” ucap Masumi lagi “Kalau kamu mau mandi, kamu bisa memakai kamar mandi yang ada di sana” lanjutnya sambil menunjuk ke suatu arah.

“Oh..be..begitu..pak Masumi” jawab Maya masih menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap wajah Masumi. Ia malu. “Ka..kalau begitu, aku juga mau mandi…”

“Kamu mau mandi sendiri atau lebih suka aku yang memandikanmu?” goda Masumi.

“Pak Masumii…..”

“Yang mana yang kamu mau, Mungil?” tanya Masumi masih menggoda Maya “Atau kamu lebih suka kalau kita mandi bersama? Sepertinya tadi kamu---“

“Pak Masumiiii…” seru Maya yang mulai kesal karena Masumi terus menggodanya. Ia meraih handuknya, menggulungnya dan melemparkannya pada Masumi.

Bruk…

Handuk itu mengenai dada Masumi dan Masumi segera menangkapnya agar tidak jatuh ke bawah.

“Kamu galak sekali, Mungil” ucap Masumi “aku kan bertanya baik-baik”

“Huh..apanya yang bertanya baik-baik. Jelas-jelas anda menggodaku” sahut Maya sambil membalikkan badannya dan membelakangi Masumi “Anda mandi saja sana, jangan menggangguku terus”

Masumi hanya tersenyum melihat tingkah Maya. “Mungil…” panggil Masumi kemudian sambil menyentuh bahu maya perlahan dan membalikkan tubuh Maya agar kembali menghadapnya. Tapi Maya menahannya. Ia tidak mau menatap Masumi. Ia sangat kesal pada Masumi..

Masumi kembali tersenyum kecil melihat Maya yang ngambek.

“Mungil, aku tidak akan becanda lagi” kata Masumi sambil berjalan dan berdiri di depan Maya “Ini ambil”lanjutnya sambil menyodorkan handuk dan piyamanya.

“Eh?”

“Kamu kan juga mau mandi. Jadi kamu memerlukan handuk itu untuk mengeringkan tubuhmu” jelas Masumi “Dan setelah mandi, kamu juga memerlukan pakaian yang bersih untuk kamu pakai. Tapi, maaf, di sini aku tidak memiliki pakaian wanita yang bisa kamu pinjam, jadi aku hanya bisa meminjamimu piyamaku”

Maya mengangguk tanda mengerti kemudian ia mengambil handuk dan piyama dari tangan Masumi.

“Ya sudah, kalau begitu aku tinggal mandi ya” kata Masumi sambil beranjak pergi, kembali menuju kamarnya. Tapi di tengah perjalanan, langkahnya terhenti dan ia kembali menoleh pada Maya “eh iya, mungil…”

Maya menoleh dan menatap Masumi dengan tatapan bertanya.

“Kamu tidak memerlukan celana piyamanya kan?”

“eh?”

“Kalau Mantelku itu bisa menutupi sampai ke mata kakimu , jadi atasan piyamaku itu…hmm…..paling tidak bisa menutupi sampai lututmu. Aku rasa itu sudah cukup, tidak perlu memakai celana panjang lagi. Nanti kamu jadi tidak kelihatan….” kata Masumi sambil tertawa.

“Huaa….pak Masumi lagi-lagi anda meledekku. Anda memang benar-benar menyebalkan….“ seru Maya sambil menatap kesal Masumi. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan melangkah cepat ke kamar mandi serta menutup pintunya.

Masumi kembali tertawa terbahak melihat tingkah Maya kemudian ia pun masuk ke dalam kamarnya dan mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya itu.


Bersambung ke part 2....

21 komentar:

  1. temuin donk, biar makin sweet valentine nya

    BalasHapus
  2. temuin dong...jgn cemen...xixixi...
    fighting masumi....

    BalasHapus
  3. wekekekekekek
    ga usah ketemu lahhhh * perusak suasana *
    ngapain jugak sih .
    klo mau sekalian aja diculik ( LOHHH ??!!! )

    BalasHapus
  4. whoaaaaaaa motong nya pas lagi seru hiks. lanjut lagi donk

    BalasHapus
  5. wahhhh beneran didatengin kyknya nih
    culik ! culik ! culik !
    bawa aja ke Izu , ga ush pake ngaku2 mawar jingga
    * rusuh mode on *

    BalasHapus
  6. itu pasti hijri
    pasti hijri
    *sotoy*
    ga mungkin masumi berani nemuin maya
    kalopun itu masumi
    pastinya dia ngaku kl dia cuma lagi lewat deket situ ajjah

    gyahhhh...!!

    BalasHapus
  7. ah... jangan2 itu sakurakoji...

    *super sotoy, seperti biasa ;)

    BalasHapus
  8. Balasan
    1. masumi: miss tina, mengapa kamu mengatai aku bodoh?memangnya dimana letak kebodohanku? XDD

      Hapus
  9. yah yah yaaah..pasti koji deh yg mayungin. Huh,bete! Atau kalo gak Hijiri. Huuu masumi payah! *lempar selusin geta en bakiak k kepala masumi.

    BalasHapus
  10. jangan2 koji lagi yg bwa payung
    ahhhhh karunggggggggg!!!!!!!

    paman masumi...keterlaluan

    narty

    BalasHapus
  11. cupiiiiid....jgn lama2 apdetnyaaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak lama koq sis komalasari, kan cuma saia pending beberapa hari *mudah2an* :p

      Hapus
  12. wah beneran di datangin nie sama masumi,,,bagoooos, lanjut ya sis cupid..theks (wi2n)

    BalasHapus
  13. Ayooo! Mandi bareng ajhaaa! wkwkwk

    BalasHapus
  14. Cupid,,, kenalan yaah... ^0^
    Main2 ke rumahku dong, gantian XDDD

    BalasHapus
  15. kemane aje gw... coklat segini bgnyk lom gw lahap ==;;;;

    BalasHapus