Halaman

Kamis, 15 Maret 2012

1001 Mawar Ungu part 04


“Bodoh…bodoh…bodoh….” gumam Maya di dalam taksi yang membawanya pergi “Apa yang aku lakukan? Untuk apa aku datang melihatnya?” lanjutnya dengan berderai air mata.

Tanpa diinginkannya, kejadian di mana Shiori sedang memeluk Masumi terbayang lagi olehnya.

Deg…

Maya pun memegang dadanya yang terasa sakit.

“Mengapa? Mengapa aku seperti ini? Jelas-jelas aku tahu kalau nona Shiori adalah istri pak Masumi. Jadi wajar, kalau ia memeluk pak Masumi. Tapi mengapa aku merasa hatiku sakit? Ada perasaan tidak rela dalam hatiku ketika melihat kejadian itu… Mengapaaa..?”



“Anda tidak apa-apa, nona?” tanya sopir taksi yang melihatnya terus menangis.

“hmm..tidak..” sahut Maya, cepat-cepat menghapus air matanya “saya tidak apa-apa, pak”

@@@@@

Beberapa saat kemudian, taksi berhenti di depan rumah Ryu. Setelah membayar ongkos taksi, Maya pun keluar dari taksi dan berjalan lunglai masuk ke dalam rumah.

“Tante Maya….” seru Momo yang sedang bermain sendirian di ruang tamu ketika melihat Maya masuk “Ayo…sini. Temenin Momo main”

Tapi, Maya melewatinya dan terus berjalan menuju kamarnya.

“Tante Mayaa…” panggil Momo lagi sambil bangun dari duduknya dan berusaha mengejarnya.

Brak…

Pintu langsung ditutup oleh Maya ketika ia telah sampai di kamarnya.

“Tante Mayaa…” panggil Momo lagi yang telah berada di depan pintu. Lalu Momo pun meraih handle pintu dan berusaha membukanya. Tetapi pintu telah dikunci oleh Maya “Tante Maya..buka pintunya. Momo mau macuk…” serunya berulang-ulang sambil menggerak-gerakkan handle pintu.

Ceklek…

“Tante, kenapa Momo pang----eh, kenapa mata tante melah?”tanya Momo ketika pintu dibuka kembali oleh Maya dan melihat mata Maya yang merah “Tante habis menangis ya?”

“Tidak, Momo chan” geleng Maya “Tante tidak---“

“Bohong…itu matanya melah” sahut Momo.

“Tante tidak menangis, Momo chan” ucap Maya “hmm..kamu main lagi saja, ya. Tante mau istirahat” lanjutnya mengalihkan pembicaraan.

“Eh..istilahat? memangnya tante kenapa?”

“Kepala tante sakit. Tante mau tidur, jadi kamu---“

“Tante cakit? Kalau cakit minum obat, tante. Momo mintain obat cama papa ya cupaya tante cepat sembuh”

“Ah tidak usah, Momo chan” jawab Maya “tante hanya ingin tidur. Setelah tidur, pasti sudah tidak apa-apa”

“Benalkah?” tanya Momo tidak yakin “Jadi tidak pellu obat? Atau tante takut minum obat kalena lasanya pahit? Momo minta-in obat yang manis ya cama papa”

“eh?”

“Papa punya koq obat yang lasanya manis. Lasa jeluk”

“Tidak..tidak usah, Momo-chan. Tante hanya butuh tidur. Tidak perlu obat” sahut Maya.

Tante yakin?”

“Iya” angguk Maya.

“Ya cudah kalau begitu, Tante bobo deh bial cepat cembuh. Momo tidak akan ganggu Tante. Momo mau main lagi” ucapnya kemudian ia membalikkan badannya dan berlari-lari kecil menuju mainannya berada.

Setelah Momo pergi, Maya kembali menutup pintu dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Air mata kembali menetes membasahi pipinya.

@@@@@

Setelah Masumi menyelesaikan administrasi, ia kembali ke emergency room untuk menjemput Shiori.

“Kamu yakin akan pulang hari ini, Shiori?” tanya Masmi “Kalau kamu merasa belum kuat, lebih baik kamu istirahat dulu di sini. Aku akan meminta perawat untuk menyiapkan kamar untukmu”

“Tidak, Masumi” geleng Shiori “Aku tidak apa-apa. Aku istirahat di rumah saja”

“Terserah kamu kalau begitu” ucap Masumi mengangkat kedua bahunya “Kalau begitu aku akan memanggil perawat untuk membawakan kursi roda untukmu”

“Tidak usah, Masumi” ucap Shiori “Aku bisa berjalan sendiri” lanjutnya sambil bangun. Tapi pada saat kakinya menginjak tanah, kepalanya terasa pusing.

“Shiori” seru Masumi refleks menahan tubuh Shiori yang limbung dan Shiori pun langsung berpegangan pada lengan Masumi “Kamu tidak apa-apa?”

Shiori menggeleng “Tadi aku hanya merasa pusing, Tapi sekarang sudah tidak apa-apa” ucapnya sambil menegakkan tubuhnya, tetapi tetap tidak melepaskan pegangannya pada Masumi “Ayo kita pergi, Masumi”

“Shiori, mungkin lebih baik kalau kamu—“

“Tidak” potong Shiori “aku mau pulang saja”

Masumi menghela napasnya kemudian dengan sangat terpaksa (mungkin :P), menuntun Shiori keluar dari emergency room menuju halaman rumah sakit. Lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil Shiori yang telah menunggu di sana.

@@@@
“Masumi, temani aku” ucap Shiori sambil bersandar di ranjang yang berada di dalam kamarnya “Jangan tinggalkan aku sendirian”

“Shiori, aku---“

“Masumi, aku mohon—“ ucapnya lagi sambil memegang tangan Masumi dan menatapnya penuh permohonan.

“Aku harus menelpon Mizuki, Shiori” ucap Masumi sambil melepaskan pegangan tangan Shiori “Kamu istirahatlah”

“Setelah menelpon Mizuki, kamu akan kembali ke sini untuk menemaniku kan?”

“Shiori, maaf” ucap Masumi “setelah ituaku ingin istirahat. Kepalaku sedikit pening“

“Kamu bisa istirahat di sini” ucap Shiori cepat “Tempat tidur ini cukup untuk kita berdua”

Masumi menggeleng “Lebih baik aku tidur di kamarku saja, Shiori”

“Ta..tapi Masu---“

“Kamu istirahatlah” potong Masumi “Aku keluar dulu” lanjutnya sambil membalikkan badannya dan melangkah cepat keluar kamar Shiori dan menutup pintunya.

Shiori menatap kepergian Masumi dengan tatapan sedih. “Mengapa? Mengapa Masumi? Mengapa kamu selalu menjauh dariku? Mengapa kamu selalu menolakku? Mengapa?” gumamnya sambil terisak.

@@@@@

Masumi langsung menuju kamarnya lalu meraih ponselnya dan menelpon Mizuki.

“Pak Masumi…anda baik-baik saja?” tanya Mizuki langsung begitu telpon diangkatnya.

“Aku baik-baik saja, Mizuki”

“Tapi tadi saya melihat berita di televisi—“

“Ah, mereka terlalu melebih-lebihkan. Aku hanya mendapat luka ringan di pelipis”

“Anda masih di rumah sakit?” tanya Mizuki lagi.

“Tidak, Mizuki. Aku sudah di rumah” sahut Masumi “Tolong aku men-cancel semua jadwalku hari ini”

“Jangan khawatir, pak Masumi. Saya sudah melakukannya. Jadi anda istirahat saja baik-baik, tidak usah memikirkan pekerjaan”

“Hmm..kalau begitu, terima kasih, Mizuki” ucap Masumi menutup pembicaraan kemudian ia terbaring di tempat tidur. Dan tak lama kemudian, ia pun terlelap.

@@@@@

“Aku pulang”

“eh, tante Kaolu cudah pulang” ucap Momo yang sedang menonton film kartun ketika melihat kedatangan Kaoru.

Kaoru menghampiri Momo dan duduk di sebelahnya “Keponakan tante lagi nonton apa?”

“Ih, maca tante tidak tahu” jawab momo “Tuh, tante lihat caja cendiri” lanjutnya sambil menunjuk layar televisi.

“Momo-chan, kamu tuh ditanya baik-baik koq malah begitu” tegur Kaoru pura-pura kesal “Sudah ah tante tidak mau menemanimu menonton. Tante mau istirahat saja di kamar” lanjutnya sambil bangun dari duduknya.

“Tidak boleh” sahut Momo cepat sambil menarik tangan Kaoru “Tante Kaolu tidak boleh masuk ke dalam kamal”

“Eh, kenapa?”

“Ada tante Maya yang lagi bobo. Kepalanya cakit, katanya” ucap Momo.

“Oh ya?”

“Benar, Kaoru” ucap Ryu tiba-tiba “Sudah sedari siang, Maya mengurung diri di kamar”

“Menguyung dili? Koq menguyung dili sih, papa? Bukannya bobo?” tanya momo bingung.

“Ah iya, bobo” ralat Ryu “Momo-chan, kamu lanjutkan menontonmu ya. Papa mau bicara dengan tante Kaoru” lanjutnya sambil memberi isyarat pada Kaoru untuk mengikutinya ke dalam.

“Sebenarnya Maya kenapa, kak Ryu?” tanya Kaoru ketika mereka telah berada di ruang makan.

“Aku juga tidak tahu” geleng Ryu.

“Eh?”

“Hanya tadi pagi, ada seorang pria yang menemuinya”

“Pria?” tanya Kaoru.

“Benar. Pria itu sepertinya usianya jauh lebih tua dari Maya, bahkan juga dari aku”

“Siapa pria itu?”

“Itu yang aku tidak tahu” sahut Ryu “Tapi, sepertinya aku pernah melihat pria itu—“

“Eh? Di mana kak Ryu melihatnya?”

“Hmm aku---“ ucap Ryu sambil mencoba kembali mengingat-ngingat “kalau tidak salah…aku pernah melihatnya di pasar malam” lanjutnya kemudian.

“Pasar malam?”

“Iya, pria itu” ucap Ryu yang mulai mengingat kembali di mana ia pernah melihat Masumi “Pria itu adalah pria yang menarik lenganmu dan menyebutmu ‘mungil’”

“Pria itu?”

Ryu mengangguk.

“Lalu apa Maya mengenalinya?”

“Ryu menghembus napasnya “Itulah masalahnya” ucapnya kemudian.

“Eh?” tanya Kaoru tidak mengerti.

“Maya tidak mengenalinya”

“Kalau begitu mungkin pria itu kembali salah orang” sahut Kaoru “Di mana masalahnya?” lanjutnya bertanya dengan bingung.

“Tapi ketika pria itu pergi, Maya menatapnya dengan sedih dan ketika aku bertanya padanya apa dia sebenarnya mengenali pria itu dia menganggukkan kepalanya” ucap Ryu.

“Koq bisa begitu?”

“Itu yang membuatku tidak mengerti. Sebenarnya ada hubungan apa antara dia dengan pria dan mengapa ketika pria itu datang, dia malah pura-pura tidak mengenalinya” ucap Ryu tidak mengerti “Dan tadi, ketika ia melihat layar televisi yang kata Momo-chan, menayangkan berita kecelakaan, maya langsung lari keluar rumah dan ketika kembali, dia langsung mengurung diri di kamar”

“Kak Ryu tidak mencoba untuk bertanya padanya?”

“Aku sudah mencoba bertanya, Kaoru” ucap Ryu sambil menghela napasnya “Tapi Maya tidak mau berkata apapun. Mungkin lebih baik kamu yang bertanya padanya. Siapa tahu kalau dengan sesama wanita, dia akan lebih mudah bercerita”

“hmm, baiklah, kak Ryu” sahut Kaoru “Kalau begitu aku yang akan bertanya padanya”

@@@@@

Tok..tok..tok….

“Maya…Maya….” Panggil Kaoru sambil mengetuk-ngetuk pintu “Tolong bukakan pintu sebentar. Aku mau masuk”

Maya yang kelelahan menangis sehingga tertidur, langsung membuka matanya dan bangun. Ia lalu berjalan menuju kaca rias untuk merapihkan rambutnya. Dalam bayangan cermin itu, dia melihat matanya yang merah dan bengkak karena kebanyakan menangis.

“Maya…” panggil Kaoru lagi sambil terus mengetuk pintu.

Maya menghela napasnya. Bengkak dan merah di matanya, tidak dapat ia sembunyikan, jadi ia melangkah perlahan menuju pintu dan membukanya sambil menundukkan kepalanya kemudian ia kembali berbaring di tempat tidur menghadap dinding.

:”Kamu kenapa?” tanya Kaoru sambil masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.

“Tidak..tidak apa-apa” jawab Maya perlahan “Aku hanya merasa sedikit pusing”

Kaoru menghampiri Maya dan duduk di tepi tempat tidur “Tadi kak Ryu bercerita padaku----hmm..tapi Maya jangan berpikiran dia ingin ikut campur. Kakakku itu hanya khawatir dengan keadaanmu” ucap Kaoru “Apa kamu ada masalah?” tanya Kaoru kemudian.

Maya hanya diam saja dan tidak menjawab.

“Maya, kalau kamu ada masalah, kamu bisa menceritakannya padaku. Kamu kan sudah aku anggap keluargaku sendiri. Bukankah setiap aku ada masalah, aku pun sering bercerita padamu. Jadi, bila kamu mau bercerita denganku, dengan senang hati aku akan mendengarkan, mungkin dengan begitu, perasaanmu akan terasa lega, Maya”

“Kaoru, aku---“ ucap Maya sambil membalikkan badannya dan menatap Kaoru.

Kaoru melihat mata Maya yang merah dan bengkak, tapi ia tidak bertanya. Ia hanya diam menunggu lanjutan perkataan Maya tetapi Maya tidak melanjutkan kalimatnya..

“Begitu sulitkah kamu untuk bercerita?” tanya Kaoru akhirnya.

“Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, Kaoru” jawab Maya.

“hmm..bagaimana kalau dari siapa pria itu?” tanya Kaoru.

“Pri..pria itu?”

“Kak Ryu mengatakan ada seorang pria yang datang ke rumah, tapi kamu pura-pura tidak mengenalinya padahal kamu mengenalinya. Mengapa kamu berbuat seperti itu?” tanya Kaoru.

“Itu karena---“ucap Maya yang kembali tidak melanjutkan kalimatnya dan hanya menatap Kaoru.

“Maya, apa sebenarnya hubunganmu dengannya?” tanya Kaoru lagi.

“Dia---hubungannya denganku---“ kata Maya bingung “Aku tidak tahu” lanjutnya karena dia memang tidak tahu apa hubungannya dengan Masumi.

“eh, Tidak tahu?” tanya Kaoru tidak mengerti.

Maya menggeleng “Aku tidak tahu apa hubunganku dengannya”

“Menurut kak Ryu, pria itu jauh lebih tua darimu dan menurutku juga seperti itu”

“Eh…Menurutmu?” tanya Maya “apa kamu juga pernah melihatnya, Kaoru?”

Kaoru mengangguk. “Aku pernah melihatnya di pasar malam. Saat itu pria itu menarik tanganku dan memanggilku ‘mungil’ lalu ak---“

“Mungil…dia memanggilmu mungil?” tanya Maya.

“Benar. Mengapa?”

“Tidak. Itu panggilannya untukku. Dia selalu memanggilku mungil” sahut Maya “Pak Masumi, aku rindu mendengar anda memanggilku seperti itu lagi” sambungnya dalam hati sambil menitikkan air mata.

“Karena dia punya panggilan khusus untukmu, jadi hubunganmu dengan pria itu sangat dekat?” ucap Kaoru menarik kesimpulan.

“Dia memang suka meledekku dengan memanggilku mungil” sahut Maya.

“hmm…jadi apa dia pamanmu?”

Maya menggeleng.

“Bukan?” tanya Kaoru sambil mengerutkan keningnya “hmm..kalau begitu apa dia….pria yang kamu cintai?”

“hmm..itu….” jawab Maya yang tidak bisa menjawab, hanya pipinya yang mulai memerah.

“Jadi, dia adalah pria yang kamu cintai, Maya?” tanya Kaoru lagi

Maya tidak bisa menjawab dan tidak berani menatap Kaoru. Tapi, Kaoru dapat melihatnya kalau Maya memang mencintai pria itu karena pipi Maya semakin merah.

“Ah…aku baru tahu kalau kamu tipe gadis yang menyukai pria yang usianya jauh lebih tua dari usiamu. Kalau aku sih lebih suka yang muda, lebih fresh” katanya kemudian sambil tertawa.

“Kaoru---“

“Ah iya, maaf…maaf, Maya” ucap Kaoru menghentikan tawanya “Sekarang kita kembali serius” lanjutnya. “Ehem…” dehem Kaoru sebelum memulai berbicara “Maya, kalau kamu mencintainya mengapa kamu pura-pura tidak mengenalinya? Hampir 3 tahun kan kalian terpisah? Harusnya kamu senang bertemu dengannya lagi”

“Tidak” geleng Maya “aku tidak mungkin---aku tidak mungkin bersamanya, Kaoru”

“Mengapa?” tanya Kaoru “Apa karena……bekas lukamu itu, Maya?” tanyanya lagi berhati-hati.

Mendengar perkataan Kaoru, perlahan Maya menyentuh bekas luka yang ada di dekat telinga kirinya yang memanjang hampir mendekati dagunya. Bekas luka akibat dari tsunami 3 tahun yang lalu itu memang tidak terlihat karena Maya selalu menutupinya dengan menggerai rambutnya.

“Maya, bekas luka itu sekarang hanya tampak samar, sekilas tidak kelihatan koq “ ucap Kaoru “Jadi seharusnya kamu tidak perlu menghindarinya dan menurutku bila pria itu benar-benar mencintaimu, dia pasti bisa menerimamu apa adanya, tidak peduli kamu seperti apa” lanjutnya.

“Bukan..bukan karena ini” geleng Maya “Tapi karena pria itu tidak mencintaiku”

“eh?” tanya Kaoru tidak percaya “Mana mungkin pria itu tidak mencintaimu. Dia mencarimu, Maya. Dan menurut kak Ryu, wajahnya terlihat terluka ketika kamu pura-pura tidak mengenalinya”

“Tapi dia mencariku bukan karena mencintaiku” sahut Maya.

“Kalau begitu untuk apa dia mencarimu?”

“Aku tidak tahu,tapi yang pasti dia mencariku bukan karena dia mencintaiku, dia tidak mungkin mencintaiku karena dia telah memiliki seorang wanita yang cantik dan cocok untuknya. Wanita yang sempurna dan tepat untuk menjadi istrinya. Wanita yang telah dinikahinya” jawab Maya dengan nada sedih kemudian ia menghela napasnya perlahan mencoba mengurangi rasa sesak di dada yang timbul karena berkata seperti itu. Tapi itulah kenyataannya. Apalah arti dirinya dibanding nona Shiori. Benar-benar bak langit dan bumi.

“Pria itu telah menikah?” tanya Kaoru tidak percaya Maya ternyata mencintai pria yang beristri.

“Benar, dia sudah menikah” sahut Maya sambil mengangguk “Pak Masumi sudah menikah dengan nona Shiori”

“Masumi? Shiori?” tanya Kaoru terkejut “Yang kamu maksud adalah Masumi Hayami dan Shiori Takamiya? Direktur muda Daito dan cucu pengusaha ternama Tenno Takamiya?”

Maya mengangguk.

“Pria yang kamu cintai adalah Masumi Hayami, direktur muda Daito, suami dari Shiori Takamiya?” tanya Kaoru dengan lengkap mencoba memastikan.

Maya kembali mengangguk.

Kaoru menghela napasnya dan menatap Maya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Maya bisa mencintai Masumi Hayami, direktur Daito yang sudah beristri. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?Ini benar-benar hal yang tidak dapat dipercaya olehnya.

@@@@@

Bip..pipipipipipipipipip…..

Bunyi weker membuat Maya membuka matanya. Ia lalu menoleh ke samping dan melihat Kaoru yang masih meringkuk. Biasanya setelah weker berbunyi, Kaoru bergegas bangun. Weker itu memang setiap hari dipasang Kaoru agar ia tidak terlambat masuk kerja.

“Kaoru…” panggil Maya “Wekermu sudah berbunyi”

“hmm..” gumam Kaoru tanpa membuka matanya. Ia malah membalikkan badannya dan terus tertidur.

Maya pun mengangkat badannya dan meraih weker itu dan mematikannya.

“Kaoru…bangun” ucap Maya yang telah duduk di tempat tidur sambil mengguncang-guncang tubuh Kaoru.

“Sebentar lagi, Maya” gumam Kaoru tetap meringkuk “aku masih mengantuk”

“Kaoru…ayolah bangun” seru Maya tidak mempedulikan gumaman Kaoru dan terus mengguncang-guncang tubuh Kaoru “Nanti kamu terlambat”.

Akhirnya dengan terpaksa, Kaoru pun membuka matanya dan bangun “Huooem….rasanya aku baru tidur sebentar. Masa sekarang sudah harus bangun lagi” keluhnya.

“Maaf..” gumam Maya.

Ucapan Maya membuat Kaoru menoleh dan menatap Maya “Maaf?” tanya Kaoru “Maaf untuk apa?”

“Gara-gara aku waktu tidurmu jadi terganggu” ucap Maya “gara-gara semalam kamu harus mendengarkan keluh kesahku sehingga---“

“Tidak perlu minta maaf padaku, Maya” sela Kaoru “Sekarang katakan saja, bagaimana perasaanmu setelah semalam kamu mengeluarkan unek-unekmu itu, apa sekarang perasaanmu lebih baik?”

Maya mengangguk.

“Bagus” ucap Kaoru sambil tersenyum “Kalau begitu aku tidak sia-sia mengorbankan waktu tidurku” lanjutnya sambil bangun dari tempat tidur.

“Kaoru…”

Kaoru yang akan membuka pintu kamar membalikkan badannya dan menatap Maya.

“Terima kasih” ucap Maya.

Kaoru mengangguk “Ayo semangat, Maya. Hari kemarin sudah lewat. Saatnya kita memulai hari yang baru” ucapnya lalu ia melangkahkan keluar dari kamarnya.

@@@@@

Tak lama Kaoru keluar dari kamarnya, Maya pun menyusul keluar dari kamar mereka.

“Tante Maya cudah cembuh?” tanya Momo yang akan menyuapkan sesendok sereal ke mulut mungilnya ketika melihat Maya yang berjalan menuju ke arahnya sehingga membuat Ryu yang duduk membelakanginya menoleh.

Maya mengangguk dan tersenyum pada Momo kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Ryu yang sedang menatapnya.

“Kak Ryu, maaf kalau aku kemarin membuat kakak khawatir” ucapnya “Kemarin aku…aku----“

“Sekarang perasaanmu lebih baik?” tanya Ryu yang melihat Maya tidak dapat melanjutkan kalimatnya.

Maya mengangguk.

“Baguslah kalau begitu” ucap Ryu sambil tersenyum.

“Kak Ryu, aku---“

“Tidak perlu mengatakan apapun kalau kamu sulit untuk mengatakannya, Maya” ucap Ryu “Yang penting sekarang kamu baik-baik saja”

“Kak Ryu—“

“Duduklah. Kita sarapan sama-sama”

Maya mengangguk dan duduk di samping Momo.

“Tante Maya” ucap Momo.

“hmm…”

“Nanti tante Maya ya yang antal-in Momo ke cekolah” ucapnya sambil menyuap serealnya.

“Momo chan, nanti papa saja yang antar kamu” ucap Ryu.

“Tidak mau” seru Momo “Momo mau di antal tante Maya”

“Momo chan~”

“Papaa…Momo maunya diantal tante Maya” sahut Momo “Tante Maya, mau kan mengantal Momo?” tanyanya kemudian sambil menatap Maya.

“Momo---“

“Iya, Momo chan” angguk Maya “Nanti tante yang mengantar kamu”

“Maya kamu---“

Maya menoleh menatap Ryu “aku kan sudah mengatakan pada kakak kalau aku sudah tidak apa-apa. Jadi nanti biar aku saja yang mengantar Momo chan, kak Ryu”

‘Tapi—“

“Kak Ryu tidak usah khawatir” ucap Maya sambil tersenyum “Aku benar-benar tidak apa-apa”

“Maya—“

“Papa…tante Maya kan cudah mau mengantal aku” celetuk Momo “Jadi papa jangan lalang-lalang telus”

“Momo-chan”seru Ryu “Kamu---“

“Sudah, Ryu…” celetuk Kaoru tiba-tiba yang baru saja keluar dari kamar mandi “Biarkan saja Maya yang mengantar Momo chan”

“Tuh kan, kata tante Koalu juga boleh” ucap Momo senang karena ada yang mendukungnya “Jadi, tante Maya boleh mengantal Momo kan, papa?” tanyanya lagi pada ayahnya.

Ryu menatap Maya yang kemudian menganggukkan kepalanya lalu ia mengalihkan pandangannya menatap Momo.

“Papa…boleh ya? Boleh?”

“Iya…..iya” angguk Ryu akhirnya “kamu akan diantar tante Maya…”

“Holee…” teriak Momo girang.

“Sudah, Momo chan” ucap Maya “Ayo kamu habiskan dulu serealmu”

Momo pun mengangguk dan menyelesaikan sarapannya.

@@@@@

Setelah mengantar Momo ke sebuah taman kanak-kanak yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka, Maya pun kembali pulang. Saat tiba di rumah, rumah tersebut sudah sepi karena Ryu dan Kaoru telah berangkat kerja.

Setibanya di dalam rumah, maya langsung melangkahkan kakinya menuju dapur lalu mengambil sapu dan kain pel. Tak lama kemudian, Maya pun sibuk membersihkan rumah. Selesai membersihkan rumah, ia lalu mengambil cucian kotor dan mencucinya. Sebenarnya, Ryu berulang kali melarangnya melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut tetapi Maya memaksa dan bersikeras melakukannya. Ia beralasan kalau ia jenuh bila diam saja tanpa melakukan kegiatan apapun. Akhirnya Ryu pun tidak bisa berkata apapun dan hanya bisa membiarkannya. Jadi, begitulah kegiatan Maya sehari-hari setelah Ryu, Kaoru dan Momo ketika tidak ada di rumah.

Setelah selesai dengan semua pekerjaannya, Maya duduk di sofa ruang tamu dan menonton drama favoritnya. Saat menonton drama, Maya langsung hanyut dalam cerita drama tersebut. Ia melupakan semuanya. Pikirannya hanya tertuju pada drama yang sedang ditayangkan itu. Tak ada bedanya dengan dirinya yang dulu dan yang sekarang. Kecintaannya pada drama tidak ada yang berubah sedikit pun. Ia tetap dapat menghafal dialog demi dialog, adegan demi adegan dalam drama tersebut tanpa ada yang terlupakan.

Kehidupannya sama seperti dulu, seperti saat ia belum bertemu dengan bu Mayuko, seperti saat ia belum mengenal akting dan hanya menyukai drama saja. Tiga tahun…..tiga tahun sudah Maya menjalani kehidupan seperti itu. Kehidupan sebagai gadis biasa dan hanya sebagai penonton. Kadang rasa sedih dan rindu untuk kembali berakting selalu ada dalam benaknya. Jauh di dalam dirinya, di dalam jiwanya, ia selalu ingin menghidupkan sebuah peran, ingin berdiri di sebuah panggung dan menyihir setiap penonton dengan aktingnya. Tapi, ia harus menepis semua itu. Itu sudah tidak mungkin dilakukannya.

Maya sudah tidak mungkin melakukannya bukan karena ia kehilangan kemampuannya berakting, bukan karena itu. Tapi, tsunami 3 tahun yang lalu telah merenggut ‘nyawa’ keartisannya. Ia selalu ingat perkataan bu Mayuko pada ibunya ketika ibunya akan menyiramnya dengan air panas. Bu Mayuko mengatakan bahwa wajah adalah nyawa seorang artis. Bila wajah itu rusak maka hidupnya hancur. Dan apa yang dikatakan ibu Mayuko benar, saat mengetahui wajahnya terluka akibat tergores benda-benda yang mengenainya saat tsunami dan ternyata luka itu meninggalkan bekas, ia tahu dunianya telah hancur.

Ia selalu bertanya mengapa….mengapa semua ini harus terjadi padanya. Berulang kali ia bertanya, berulang kali juga ia tidak mendapatkan jawaban. Ia hanya bisa menerima kenyataan pahit bahwa ini terjadi padanya jadi mau tidak mau, ia harus menerimanya. Meninggalkan keartisannya dan kembali menjalani kehidupan gadis biasa bukanlah hal yang mudah untuknya. Untung saja, Ryu dan Kaoru juga Momo selalu bersamanya. Mereka selalu mendukungnya dan menyemangatinya. Ketegaran mereka menular padanya. Ryu, Kaoru dan Momo…. Mereka juga harus menerima kenyataan yang tidak kalah pahitnya. Mereka harus kehilangan keluarga mereka. Tsunami telah menewaskan orang tua Ryu dan Kaoru yang juga adalah kakek dan nenek Momo juga istri Ryu atau ibu Momo. Walaupun begitu, mereka tidak putus asa dan tetap tegar bahkan dapat menyemangatinya untuk tetap bertahan dan tidak boleh menyerah.

Sejak saat itulah, Maya memulai hidup barunya bersama Ryu dan Kaoru serta Momo. Ia memutuskan menghilang dari kehidupan teman-temannya. Keputusan itu diambilnya saat melihat tayangan televisi yang menayangkan pernikahan pak masumi, Mawar ungunya dan nona Shiori. Saat itu hatinya yang sudah hancur bertambah hancur. Ia telah kehilangan segalanya. Jadi saat itu, ia merasa sudah tidak ada gunanya lagi menampakkan diri pada mereka dan membiarkan mereka beranggapan kalau ia telah meninggal tersapu tsunami. Sebuah keputusan yang ia tahu sangat egois karena teman-temannya akan merasa sedih karenanya. Tapi ia juga membutuhkan tempat dan suasana baru untuk menyembuhkan luka dalam dirinya.

Tiga tahun sudah ia melakukannya. Menata hidupnya. Menerima kenyataan kalau ia hanya gadis biasa. Dan sekarang ia pun sudah mulai terbiasa. Hanya kadang, bila perasaan rindunya pada Mawar ungunya tidak dapat dicegahnya, ia hanya bisa melampiaskannya dengan membuat origami mawar ungu sambil mendoakan kebahagiaan untuk mawar ungu-nya dan itu sudah cukup baginya.

Sekarang kehidupannya mulai tenang bersama Ryu, Kaoru dan Momo sampai…..pak Masumi kembali hadir di kehidupannya….

Maya mengejap-ngejapkan matanya. Tanpa disadarinya air mata turun membasahi wajahnya. Drama yang ditontonnya kali ini terlewatkan olehnya. Ia larut dalam pemikirannya sendiri.

Teng..teng…teng…..

Suara dentang bel dari jam dinding menyadarkan Maya dan membuatnya cepat-cepat menghapus air matanya. Ia pun lalu mematikan televisi dan bangun dari duduknya dan bergegas menuju ke kamar untuk merapikan diri. Sudah saatnya kembali menjemput Momo.

@@@@@

Maya berjalan perlahan menyusuri trotoar menuju taman kanak-kanak, tempat Momo bersekolah. Saat ia akan berbelok, ia tersentak kaget karena tiba-tiba merasa seseorang memegang lengannya. Refleks, Maya pun membalikkan badannya.

Matanya langsung membelalak kaget ketika melihat siapa melakukannya.

“Ikut aku” desis orang itu sambil menyeret Maya.

“Lepaskan….lepaskan aku…” seru Maya sambil memberontak dan berusaha melepaskan diri.

“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu” ucap orang itu “Aku ingin bicara denganmu”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan” seru Maya “Siapa anda sebenarnya? Mengapa anda selalu menggangguku?”

Langkah orang itu terhenti dan menatap Maya “Benarkah?benarkah kamu tidak mengenalku?”

“Tidak…aku tidak mengenal anda” seru Maya “Jadi tolong lepaskan aku”

“Jangan membohongi aku, Mungil. Aku tahu kamu mengenali aku”

“Aku tidak---“

“Mungil, tolong jangan membohongi aku”

“Aku benar-benar---“

“Lalu untuk apa kemarin kamu mencariku ke rumah sakit? Bukankah kamu mengkhawatirkanku setelah kamu mendengar kalau aku kecelakaan?”

“eh?” ucap Maya terkejut “I..itu….”

Tanpa menghiraukan Maya yang terbata-bata, orang itu kembali menyeret Maya.

“Pak Masumii…..lepaskan aku” seru Maya marah sambil memberontak.

Masumi kembali menoleh dan tersenyum pada Maya “Katanya tadi kamu tidak mengenaliku, mungil”

“Pak Masumi…kumohon lepaskan aku” ucap Maya sambil menatap penuh permohonan pada Masumi “Aku harus menjemput Momo chan. Kalau terlambat kasihan bila Momo chan harus menungguku”

“Jangan membohongiku dan membuat-buat alasan---“

“aku tidak membohongi anda” ucap Maya cepat “tolong lepaskan aku. Aku harus segera menjemputnya”

Tapi Masumi hanya diam menatap maya tanpa melepaskan pegangannya.

“Pak Masumiii…..”

“Baiklah..baiklah aku lepaskan” ucap Masumi akhirnya “Tapi aku ikut denganmu”

“Eh?” ucap Maya terkejut “Untuk apa anda ikut denganku? Lebih baik anda pulang saja”

“Tidak” ucap Masumi tegas “Kamu memperbolehkan aku ikut denganmu atau kamu ikut denganku”

“Pak Masumi, anda---“

“Jadi apa keputusanmu, mungil?” tanya Masumi tenang.

Maya menatap Masumi dengan kesal. “Terserah anda saja. Tapi sekarang lepaskan tanganku!”

Perlahan, Masumi pun melepaskan pegangannya pada lengan Maya dan Maya pun membalikkan badannya dan berjalan cepat-cepat menuju sekolah Momo. Tidak memperdulikan Masumi yang mengikutinya dari belakang.

@@@@@

“Tante Maya….” Teriak Momo girang ketika melihat kedatangan Maya lalu ia menoleh pada gurunya “Ibu gulu, tante Maya cudah datang. Jadi cekarang Momo sudah boleh pulang kan?” tanyanya pada gurunya. Gurunya Momo mengangguk dan membiarkan Momo menghampiri Maya. Sekolah itu memang cukup ketat, murid-murid di sana tidak diijinkan keluar dari halaman sekolah bila belum ada yang menjemputnya.

“Tante Maya, koq lama cekali balu datang?” tanya Momo ketika sudah berada di dekat Maya “Momo lama menunggunya sampai ditinggal teman-teman Momo” lanjutnya.

“Maaf, Momo chan. Tante---“

“eh…” ucap Momo sambil mengerutkan keningnya “Itu ciapa?” tunjuknya pada Masumi yang berdiri di belakang Maya..

Maya membalikkan badannya kemudian kembali menatap Momo “Hmm..itu…itu---“

“Ah…laksasa jahat yang mengikuti tante Maya ya?” tanya Momo sambil menarik tangan Maya menjauh dari Masumi “Pantas tante Maya tellambat menjemput Momo, Lupanya Tante di kejal-kejal oleh laksasa jahat—“

“Momo chan, itu bukan---“

“Tante Maya mengapa bisa ada laksasa yang mengikuti tante?” tanya Momo lagi memotong perkataan Maya “Apa di halaman lumah kita tumbuh pohon kacang?”

“Eh?”

“Kata ibu gulu, laksasa itu tulunnya dari atas pohon kacang yang tinggi ke atas langit” jelas Momo sambil menunjukkan tangannya ke langit.

“Momo chan” ucap Maya “Orang itu bukan raksasa”

“Bukan?” tanya Momo tidak percaya “Tapi olang itu tinggi sepelti laksasa”

“Momo chan…”

“Ehem…” dehem Masumi sambil mendekati mereka sehingga membuat percakapan keduanya terputus.

“Laksasanya mendekat, tante Maya. Ayo kita lali…” ucap Momo sambil menarik tangan Maya. Tapi dengan sigap, Masumi mendahului dan menghalangi jalan mereka “Kalian tidak bisa lari”

“Huaaa…tante Maya….” ucap Momo ketakutan dan bersembunyi di belakang tubuh Maya.

“Pak Masumi, jangan menakutinya” tegur Maya.

Masumi tersenyum menatap Maya kemudian ia berlutut dan menatap Momo “Gadis kecil namamu Momo chan?”

“Tante Mayaaa….toloong… laksasa itu mau menangkap Momo” Seru Momo sambil mengeratkan pegangannya pada Maya.

“Kamu tidak usah takut, Momo chan. Paman bukan raksasa jahat dan paman tidak akan menyakitimu. Paman hanya-----”

Momo menengadah menatap Maya “Puyang….Momo mau puyang….”

“Pak Masumi, anda menakuti Momo chan. Jadi lebih baik anda pergi dan jangan menganggu kami” ucap Maya “kumohon pergilah”

“Tidak” ucap Masumi bersikeras sambil kembali berdiri dan menatap tegas Maya “aku harus bicara denganmu”

“Pak Masumi, berulang kali aku mengatakan pada anda..tidak ada yang perlu kita bicarakan. Jadi anda pergilah”

“Huaa…Momo mau puyang tante Maya….” ucap Momo disela tangisnya.

“Pak Masumi…kumohon” ucap Maya sambil menatap Masumi penuh permohonan. Dan ketika melihat Masumi hanya diam menatapnya, Maya pun mengalihkan pandangannya pada Momo “Ayo ..kita pulang, Momochan” ucapnya kemudian ia menggandeng tangan Momo “Kita pulang sekarang” lanjutnya dan tanpa melihat Masumi lagi Maya membalikkan badannya dan berjalan menuju arah pulang.

Masumi tidak berkata apapun. Ia hanya mengikuti mereka berdua dari belakang. entah apa yang ada di benaknya saat itu.

Tetapi saat Maya akan masuk ke dalam rumah, dengan cepat Masumi memegang tangannya.

“Pak Masumi..” seru Maya tersentak kaget dan menatap Masumi.

“Aku sudah membiarkanmu mengantarkan Momo chan pulang jadi sekarang—“

“Tante Mayaaa…” seru Momo ketakutan dan mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Maya “Macuk…ayo kita macuk….”

Mendengar perkataan Momo, Maya pun menatap Momo “Momo chan masuk dulu ke dalam ya. Tante akan bicara sebentar dengan---“

“Tapi---“

“Tidak apa-apa Momo chan” ucap Maya mencoba menenangkan Momo “Kamu masuk dulu, sebentar lagi tante menyusul”

Momo menatap Maya ragu kemudian menatap Masumi dan kembali menatap Maya. Saat dilihatnya Maya mengangguk, Momo pun melepaskan pegangannya tangannya pada Maya dan berlari masuk ke dalam rumah.

Baik Maya maupun Masumi hanya diam sampai Momo tidak terlihat lagi.

“Lepaskan tanganku, pak Masumi…” seru Maya sambil menyentakkan tangannya.

“Tidak” tegas Masumi “Kamu ikut aku sekarang. Aku mau berbicara denganmu”

“Pak Masumi…” ucap Maya “kumohon mengertilah. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Lebih baik anda pergi dan jangan menggangguku”

“Aku tidak mau pergi” ucap Masumi bersikeras.

“pak Masumi…”

“Ikut aku, Mungil…”

“TIdak…” seru Maya “aku tidak dapat meninggalkan Momo chan sendirian di rumah”

“Mungiil….”

“Kumohon, pak Masumi” ucap Maya lagi sambil menatap Masumi “Anda pergilah….tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi”

Masumi menarik napasnya panjang kemudian menghembuskannya perlahan. “Baik…” katanya kemudian “Aku akan pergi---“

Maya menghela napas lega.

“Tapi besok aku akan menemuimu lagi”

“Pak Masumii…”

“Besok aku akan datang lebih pagi. Saat gadis kecil itu masih sekolah. Jadi kamu tidak punya alasan lagi untuk menghindariku”

“Pak Masumi berulang kali aku mengatakan---“

Cup

Ucapan Maya terputus karena tiba-tiba dan tanpa diduganya, Masumi membungkukkan badannya dan dengan cepat mengecup bibir Maya sehingga membuat Maya terkejut dan membelalakkan matanya.

“Besok aku akan datang menemuimu lagi, mungil dan kamu tidak kuijinkan menghindar dariku lagi. ” desis Masumi di dekat bibir Maya kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Maya yang masih berdiri terpaku dan mata membelalak.

Sepeninggalan Masumi, dengan gerak perlahan tangan Maya terangkat ke atas, menyentuh bibirnya yang dikecup Masumi. Kehangatan dan tekanan bibir Masumi di bibirnya masih terasa olehnya walaupun Masumi hanya mengecupnya sesaat.

“Pak Ma….sumi menciumku? Di…dia men…menciumku?” gumam Maya dengan suara bergetar dan nada tidak percaya. Tubuhnya gemetar dan kakinya terasa lemas kemudian ia pun merosot sehingga terduduk di depan pagar.


Bersambung ke part 5....

10 komentar:

  1. masumi ayo bercerai ama shiori dan nikahi maya sebelum diambil ryu

    BalasHapus
  2. udah nikah 3 th ya masumi n shiori tp blm pernah tdr 1 kamar, xixixi, apa g malu tu shiori
    lanjt lagi dong penasaran bngt ma endingny

    BalasHapus
  3. wekekekekekek akhirnya terungkap juga alasan maya menghilang . berarti selama 3 tahun itu dia ga main drama ya . kasian juga .

    BalasHapus
  4. aissshh...masih penasaran, shiori beneran ya keras kepala kaya lg adu kekuatan sama masumi....siapa yg paling kuat bertahan dlm pernikahan dg kondisi spt gitu....

    makasih apdetannya n ditunggu lanjutannya

    BalasHapus
  5. Shiori,shiori sadar dong! Lo tuh cuma menang status doang: nyonya hayami. Tp tiga tahun gak pernah disentuh,diperlakukan dan dicintai selayaknya istri,masa masih gak malu juga?! Masih nanya pula kenapa masumi gak pernah peduliin lo?!
    Feny apdetnya dlm tempo yg sesingkat-singkatnya dong!

    BalasHapus
  6. jiaah bsk2 pasti dah kabur mayanya XDDD

    BalasHapus
  7. akhirny apdet lg
    wah gerak cepat dr masumi g pernah bkurang ya, emang cocok deh dg julukn SI PENCURI CIUMAN saat maya sadar ataupn g sadar
    #jgn lama2 ya apdet ny

    BalasHapus
  8. akhirnya update lagi.ayo truskan cerita ini dong,jgn membuat org penasaran.

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus