(cerita ini dilanjutkan oleh saia si cupid ^^ dan berhasil ditamatkan oleh saia xixixixi...)
“Pak Masumi..i..itu…itu…” ucap Maya terbata sambil membaca kembali rangkaian kalimat di bawah sana lalu ia menatap Masumi dengan tatapan tidak percaya “A..aku tidak salah membacanya kan?”
Masumi tersenyum mendengar pertanyaan Maya “Memangnya kamu membacanya bagaimana?”
“hmm….bersediakah kau menikah denganku, Maya kitajima” jawab Maya perlahan dengan wajah merona.
“Eh? Begitukah bunyi kalimat yang tertera di bawah itu?” tanya Masumi pura-pura kaget “Kamu yakin tidak salah membacanya, Maya?”
“Pak Masumiii…” seru Maya kesal “Anda tidak serius rupanya” lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya.
“Jangan marah” bujuk Masumi “Aku kan hanya becanda”
“Huh”
Masumi tersenyum kecil melihat kekasihnya yang merajuk “Sudah jangan marah terus” bujuknya sambil merangkul pundak Maya dan menariknya mendekat..
“Tidak lucu, tahu…”
“Iya..iya tidak lucu” ucap Masumi “jadi…hmmm apa jawabanmu, Maya?”
“EH?”
“Aku ingin tahu jawabanmu atas pertanyaanku itu, Maya…” ucap Masumi sambil menatap Maya “Kamu bersedia kan menikah denganku?”
“A..aku---pak Masumi aku---“
“Ah…aku tahu kamu pasti akan berkata ‘tidak’ “ ucap Masumi lagi karena Maya tetap tidak meneruskan kalimatnya dan menunduk dengan wajah memerah.
“EH?” kata Maya sambil mengangkat wajahnya dan menatap Masumi.
“Tidak…..menolak kan, Maya?”lanjut Masumi perlahan sambil membalas tatapan Maya “Ucapanku benar kan?kamu pasti akan menjawab ‘tidak menolak’” lanjutnya dengan yakin.
“GR” sahut Maya “siapa yang mau menjawab seperti itu”
“Ya kamu…memangnya siapa lagi?” kata Masumi “aku kan bertanya padamu”
“Tapi itu bukan jawabanku” sahut Maya.
“Bukan?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya. “Jadi apa jawabanmu, Maya?”
“Aku---pak Masumi, aku---“ ucap Maya yang tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menghela napasnya dan menolehkan kepalanya menatap langit malam.
Deg
Hati Masumi berdebar melihatnya. Apakah? Apakah kamu akan menolak lamaranku? Padahal tadi aku melihat binar bahagia di matamu saat kau membaca rangkaian kalimat di bawah sana. Tapi sekarang mengapa wajahmu berubah? Mengapa? Mengapa, Maya?”
Maya kembali menoleh dan menatap Masumi. “Pak Masumi, tolong maafkan aku kalau jawabanku mungkin akan membuat anda kecewa, tapi ini keputusanku jadi aku harap anda-----“
“Maya, ka…kamu---“
Maya mengangguk. “Pak Masumi, maafkan aku” ucap Maya “Aku tidak bisa….aku sungguh tidak bisa me--”
“Maya, menga---“
“…lepaskan anda, pak Masumi” lanjut Maya sambil tersenyum.
“Eh?”
“Aku bersedia menikah dengan anda, pak Masumi” lanjut Maya perlahan namun setiap kata itu terdengar jelas di telinga Masumi “sangat bersedia”
“Ma..Maya…ka…kamu mengatakan apa?” tanya Masumi yang tidak yakin dengan pendengarannya.
“anda sudah mendengarnya” sahut Maya dengan wajah kembali memerah.
“Ulangi, Maya. Ulangi sekali lagi” pinta Masumi.
“Tidak” geleng Maya “aku tidak mau mengulangnya. Aku yakin anda sudah mendengarnya”
“Mayaa…”
“Tidak mau, Pak Masumi…”
“Baiklah kalau kamu tidak mau mengulangnya” ucap Masumi “Kalau begitu aku yang bertanya, apa pendengaranku tidak salah?”
“Memangnya apa yang anda dengar tadi, pak Masumi?” kata Maya balik bertanya, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Masumi tadi ketika ia bertanya apa ia tidak salah baca.
“Mayaaa….” Ucap masumi gemas.
“Pak Masumi…aku kan tidak tahu apa yang anda dengar” ucap Maya memasang mimik polos.
“Ka..kamu…”
“Apa?”
“Tidak..tidak apa-apa” ucap Masumi sambil menghela napasnya “Hijiri….kita langsung ke tempat berikutnya” lanjutnya pada Hijiri.
“Baik, tuan Masumi” sahut Hijiri.
“Eh, tempat berikutnya? Memangnya kita mau ke mana lagi, pak Masumi?” tanya Maya penasaran
“Nanti kamu juga tahu” jawab Masumi pendek.
“Pak Masumi….”
“Sabar, Maya” sahut Masumi sambil tersenyum misterius “Nanti juga kamu tahu” ulangnya sekali lagi.
Maya hanya bisa menatap Masumi kemudian menghela napasnya “Ya..terserah andalah kalau begitu”
Sesaat, keduanya terdiam.
“hmm..pak Masumi…” ucap Maya memecah keheningan di antara mereka.
“Apa?”
“A..apa tadi pak Hijiri mendengar apa yang aku katakan?” tanya Maya penasaran.
“Hmm..kamu tanya saja pada Hijiri, apa dia mendengar yang kamu katakan atau tidak”
“Anda saja yang bertanya, pak Masumi…” sahut Maya.
“Mengapa aku yang harus bertanya? Kan kamu yang ingin tahu” jawab Masumi.
“Kan tadi anda bertanya apa pendengaran anda salah” ucap Maya “Jadi, kalau pak Hijiri tadi juga mendengar yang aku katakan, kan anda bisa mencocokkannya dengan pak Hijiri” lanjutnya sambil terkikik.
Masumi tersenyum mendengar perkataan Maya kemudian ia menggeleng “Tidak perlu, Maya. Aku sudah mendengar jawabanmu dengan jelas—“
“Tapi tadi mengapa anda---“ ucap Maya mencoba protes.
“Aku hanya tidak yakin karena kamu mengatakan bahwa jawabanmu bukan ‘tidak menolak’ dan meminta maaf membuatku kecewa. Tapi ternyata kamu hanya mengisengi aku dan membuat perasaanku tidak karuan” ucap Masumi “Kamu benar-benar mulai nakal sekarang ya, berani mempermainkan aku”
Maya tertawa “Anda duluan yang mempermainkan aku, jadi aku hanya membalasnya. Aktingku meyakinkan kan pak Masumi?”
Masumi mengangguk “bisa menjadi pemeran bidadari merah, mana mungkin aktingmu tidak meyakinkan. Kamu benar-benar membuatku takut dan beranggapan kalau kamu tidak mau—“
“Aku bisa melihatnya, pak Masumi” sela maya “Wajah anda tadi sungguh menyedihkan sekali” lanjutnya sambil menahan tawa.
“Maya, kamu benar-benar---“
“Apa?”
“Jahil”
Maya terkikik “Habis, anda sok tahu sih” ucap Maya kemudian “Dan anda sok yakin dengan mengatakan kalau jawabanku ‘tidak menolak’ ”
“Tapi kan memang benar kalau kamu tidak---“
“Salah” potong Maya “aku kan tidak menjawab tidak menolak”
“Tapi kan kamu bersedia. Itu sama saja” sahut Masumi.
“Berbeda, pak Masumi” sahut Maya bersikeras “Jawabanku kan berbeda dengan jawaban sok tahu anda”
Masumi menghela napasnya panjang “Ya ampun, Maya. Tidak bisa kah kamu membenarkan jawabanku saja. Itu kan sama saja. Bahkan saat aku melamarmu pun kita harus berdebat seperti ini”
“Anda yang harus mengaku salah”
Sekali lagi Masumi menghela napasnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Baiklah..baiklah. aku mengaku salah. Jawaban kita berbeda dan aku yang sok tahu”
Maya kembali terkikik mendengar perkataan Masumi.
“Senang kamu ya sekarang?” kata Masumi pura-pura kesal.
Maya mengangguk “Kapan lagi aku bisa membuat direktur daito mengaku salah”ucapnya “ dan itu baru calon suamiku yang baik”
“hmm…jadi aku adalah calon suami yang baik” ucap Masumi “Kalau begitu kamu harus memberikan hadiah pada calon suamimu yang baik ini, Maya”
“Eh? Hadiah?” tanya Maya mengerutkan keningnya “Hadiah apa?”
“Hmm….bagaimana kamu menempelkan bibirmu di sini” ucap Masumi perlahan sambil meletakkan jarinya ke bibirnya sendiri.
“Ah tidak mau” geleng Maya cepat.
“Mayaa…”
“Aku malu, pak Masumi” bisik Maya “Ada pak Hijiri”
“Hijiri tidak melihat”
“Ah, pokoknya tidak mau” ucap Maya bersikeras “nanti saja ya, pak Masumi. Nanti kalau kita sudah berduaan “
“Eh?”
“Ya, pak Masumi ya? Nanti saja ya?”
“Baiklah” ucap Masumi “Tapi kamu tidak boleh mengingkarinya”
“Kita lihat saja nanti” sahut Maya cepat.
“Mayaa….”
“Iya deh..iya” ucap Maya “Aku janji” lanjutnya sambil mengacungkan kelingkingnya ke depan Masumi dan Masumi pun mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Maya.
“Hmm…pak Masumi….”
“Apa?”
“Pak Hijiri mendengar perkataan kita tidak?” tanya Maya lagi penasaran.
Masumi mengangkat kedua bahunya “Kamu tanya saja sendiri padanya” jawab Masumi kemudian.
“Pak Masumii…..”
@@@@@
Tak berapa lama kemudian, helicopter mendarat di sebuah tempat yang luas. Masumi membantu Maya melepaskan headsetnya.
“Pak Masumi…kita ada di mana?” tanya Maya.
“Di sebuah tempat yang istimewa” jawab Masumi misterius sambil membantu Maya turun dari helicopter.
Setelah Maya menginjak tanah, ia melihat sekelilingnya. Tempat itu gelap dan ia hanya melihat sebuah jalan setapak yang gelap dan di sepanjang jalan setapak itu setiap (kurang lebih) setengah meter terlihat lampu di sisi kanan kirinya, namun lampu itu tidak ada yang menyala.
“Kita ke sana” ucap Masumi sambil menunjuk ke jalan setapak dan tanpa menunggu jawaban Maya, ia pun menggandeng Maya menuju jalan itu.
Mereka berjalan perlahan meyusuri jalan setapak dan secara ajaib, setiap lampu jalan yang ada di jalan setapak itu menyala secara berurutan setiap mereka melewatinya.
“Eh..koq bisa begitu?” tanya Maya terheran-heran sambil memandangi lampu jalan yang kembali menyala ketika ia melewati lampu itu “Pak Masumi, mengapa setiap kita melewatinya lampu itu menjadi menyala?”
“Oh itu..” jawab Masumi “Karena di dalam jalan ini, ada sebuah sensor dan bila kita melewatinya, lampu itu otomatis akan menyala” jelas Masumi.
Maya mengangguk tanda mengerti dan ia pun membalikkan badannya ke belakang. Jalan setapak yang gelap, kini di terangi lampu-lampu yang menyala karena telah dilewati olehnya.
“Wow…sekarang jalan di belakang kita terang, pak Masumi” serunya kagum.
“Ayo, kita berjalan lagi” ajak Masumi kemudian mereka kembali berjalan menyusuri jalan setapak dan berbelok mengikuti jalur jalan itu. Dan tiba-tiba langkah Maya terhenti.
Di sana…di depan sana, ia melihat sebuah gazebo berpilar 6 yang diterangi lampu dan untuk berjalan menuju gazebo itu, telah terbentang kain putih bertabur bunga.
“Pak Masumi..itu---“
“Itu tempat kita akan menikah,Maya” sahut Masumi “Kita akan menikah di sana….. sekarang”
“eh?” ucap Maya terkejut “Se..sekarang?”lanjutnya sambil menatap Masumi tidak percaya.
“Benar” angguk Masumi “Aku akan menikah denganmu sekarang”
“Ta..tapi, pak Masumi---“
“Mayaa……” seru seseorang sambil berlari-lari menghampiri Maya sehingga Maya tidak menyelesaikan kalimatnya dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
“Re..rei?” ucap Maya tidak percaya ketika orang itu sudah dekat.
“Akhirnya kamu datang juga, Maya” ucap Rei sambil terengah-engah “Aku sudah menunggumu di sini lama sekali”
“Me..mengapa kamu ada di sini?” tanya Maya heran.
“Pak Masumi mengundangku untuk menjadi saksi pernikahanmu” jawab Rei “Beliau akan menikah denganmu, Maya…..Kamu akan menikah dengannya sekarang, Maya..” lanjutnya dengan takjub.
“Pak Masumi…” ucap Maya sambil menatap Masumi “apa maksudnya dengan semua ini?” tanyanya tidak mengerti.
“Maya, aku sudah mengatakan---“
“Maaf, pak Masumi” ucap Mizuki yang tiba-tiba muncul “Semuanya sudah siap dan pendetanya juga sudah menunggu anda”
“Eh?” ucap Maya. Ia semakin kaget dan bingung “A..apa yang sudah siap, nona Mizuki? Dan pendeta? Pendeta untuk apa?”
“Maya, pak Masumi sudah mengatakan padamu kan? Kalau beliau akan menikah denganmu? Beliau sudah menyiapkan semuanya. Kamu dan pak Masumi akan menikah sekarang” jelas Mizuki.
“Se..sekarang? aku dan pak Masumi menikah sekarang?” tanya Maya tidak percaya “Di sini?”
“Benar” angguk Mizuki.
“Pak Masumi, anda tidak sedang becanda kan? Kita akan menikah di sini? Sekarang?” tanya Maya lagi, mencari kepastian atas jawaban Mizuki pada Masumi.
“Benar” angguk Masumi.
“Ta..tapi..aku..aku---” ucap Maya “pakaianku---“
“Kamu cantik memakai gaun itu, Maya” sahut Masumi cepat “Dan kamu hanya tinggal mengatakan ‘ya’. Itu saja”
“Pak Masumi---“
“Katakan saja, kamu bersedia menikah denganku di sini dan sekarang, Maya” ucap Masumi lagi “Aku mohon, jangan menolaknya”
“Maya….sudah iya-kan saja” ucap Rei “Pak Masumi sudah menyiapkan semuanya”
“Re..rei..”
“Dia benar-benar mencintaimu, Maya” bisik Rei tiba-tiba di telinga Maya “kamu sungguh beruntung”
“Maya, kamu bersedia kan menikah denganku di sini, sekarang?” ulang Masumi.
Maya menatap rei dan dilihatnya sahabatnya itu mengangguk lalu ia menatap Masumi dan menganggukkan kepalanya.
“Mizuki”
“Iya, pak” sahut Mizuki cepat “Aku akan menyiapkan semuanya dalam beberapa detik” lanjutnya kemudian bergegas pergi.
“nona Maya, ini bunganya” ucap Hijiri yang juga muncul tiba-tiba dan menyerahkan sebuket mawar ungu ke tangan Maya.
“Dan ini..” ucap Rei yang masih berdiri di samping Maya sambil memasangkan mahkota bunga ke atas kepala Maya “sekarang, kamu sudah terlihat seperti pengantin wanita, Maya”
“Rei”
“Kamu cantik memakainya, Maya” ucap Rei “Dan sekarang kalian sudah siap untuk melangkah ke sana” lanjutnya sambil menunjuk ke arah gazebo yang sekarang telah berdiri seorang pendeta. “Pak Masumi” ucap Rei lagi “Silahkan”
Masumi mengangguk “Terima kasih, Rei” ucapnya pada Rei kemudian ia menatap Maya “Saatnya sudah tiba, Maya. Sekarang kita menikah”
Maya mengangguk dan mengandeng tangan Masumi. Kemudian Masumi membawa Maya ke ujung jalan menuju gazebo yang telah dibentangi kain putih tersebut. Lalu, lagu pernikahan pun terdengar. Keduanya melangkah dengan pasti menuju pendeta yang telah menunggu di depan gazebo.
Lagu berhenti ketika pendeta mengangkat tangannya untuk memberkati kedua calon pengantin itu dan pernikahan yang sederhana namun khusyuk itu berlangsung.
“Bersediakah anda, Masumi Hayami menerima Maya kitajima menjadi istri anda? Menemaninya dalam suka dan duka, senang dan sedih sampai maut memisahkan kalian?” tanya pendeta itu pada Masumi.
Masumi menatap Maya dan menjawab dengan mantap “saya bersedia”
Lalu pendeta itu beralih pada Maya…
“Bersediakah anda, Maya Kitajima menerima Masumi hayami sebagai suami anda? Menemaninya dalam suka dan duka, senang dan sedih sampai maut memisahkan kalian?”
Maya menatap Masumi yang sedang menatapnya kemudian ia mengangguk “Ya, saya bersedia”
“Bila begitu, saya nyatakan kalian menjadi suami-istri” ucap pendeta itu “Silahkan memasangkan cincin pada istri anda, tuan Masumi Hayami”
“Cincin?” bisik Maya “memangnya anda juga sudah menyiapkan cincin untukku, pak Masumi?”
Masumi tersenyum mendengar pertanyaan Maya. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya. Sepasang cincin tampak berkilau diterpa cahaya lampu.
“Pak..pak Masumi…”
Masumi meraih sebuah cincin yang lebih kecil “hmm..maaf, pak pendeta, bisa anda membantu saja memegangkan kotaknya, agar saya bisa memasangkan cincin ini pada istri saya?”
“Eh?” ucap pendeta kaget tapi kemudian ia memegang kotak cincin itu.
Masumi pun meraih tangan Maya dan memakaikannya di jari manis Maya. Setelah cincin itu terpasang di jari manis Maya, pendeta mengulurkan kotak cincin itu ke hadapan Maya “Silahkan anda memasangkan cincin ini ke jari suami anda”
Maya pun mengambil cincin itu dan meraih tangan Masumi serta memasangkannya di jari manis Masumi.
“Sekarang anda boleh mencium istri anda, tuan Masumi” ucap pendeta itu.
Masumi mengangguk dan membungkukkan badannya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Maya tapi Maya menahannya “Nanti saja, pak Masumi” bisiknya.
“Maya, pendetanya kan menyuruhku mencium istriku, jadi aku boleh melakukannya” bisik Masumi sambil semakin mendekati wajahnya ke wajah Maya.
“Tapi---“
Ziiing….Duar…….
Cahaya kembang api langsung mewarnai langit malam yang gelap.
Dengan perlahan, Maya mendorong Masumi “Kita lihat kembang api saja, pak Masumi” bisiknya sambil menjauhkan bibirnya dari bibir Masumi kemudian Maya memalingkan wajahnya dan mendongak menatap langit yang penuh dengan kembang api “Pak Masumi, lihat kembang api bagus sekali” seru Maya tanpa rasa bersalah dan mengacuhkan Masumi yang cemberut padanya karena lagi-lagi Maya menolak berciuman dengannya (wkwkwkwk…:P)
@@@@@@
“Maaf…” ucap Masumi ketika mereka sudah berada kembali di dalam helicopter yang akan membawa mereka kembali ke apartemen mereka.
“Maaf untuk apa. Pak Masumi?” tanya Maya.
“Karena pernikahan ini…mungkin bukan pernikahan yang pernah kamu bayangkan” ucap Masumi “Pernikahan ini juga terlalu mendadak untukmu dan hanya Rei, Hijiri dan Mizuki yang menjadi saksi dari pernikahan kita”
“Pak Masumi..”
“Sebenarnya, aku ingin merancang sebuah pernikahan mewah dan dihadiri banyak tamu, tapi kamu tahu itu tidak mungkin, Shiori baru saja meninggal dan aku harus juga harus memberi penjelasan pada ayahku. Itu akan membutuhkan waktu yang lama tapi aku sudah tidak sabar menikah denganmu jadi aku---“
“Tidak apa-apa, pak Masumi” sahut Maya “Pernikahan itu sudah cukup untukku..”
“Maya….”
“Aku sangat senang menikah denganmu, pak Masumi” ucap Maya meyakinkan “Aku bahagia sekali”
“Maya….”
“Aku benar-benar bahagia, pak Masumi”
Masumi menghembuskan napasnya dan kembali menatap Maya “Dan maafkan aku, Maya karena mungkin untuk sementara pernikahan ini harus dirahasiakan dulu---“
“Aku mengerti, pak Masumi” angguk Maya “Tidak apa-apa”
“Benar kah tidak apa-apa?”
“Benar” angguk Maya lagi “karena yang terpenting untukku adalah aku bisa selalu bersama dengan anda, pak Masumi. Itu sudah cukup untukku”
“Maya….”
“Jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan aku, pak Masumi”
“Maya, terima kasih atas pengertianmu” ucap Masumi “Aku janji setelah semua permasalahan ini selesai, kita akan menikah ulang dan aku akan mengumumkan pernikahan kita ini ke seluruh dunia”
“Eh seluruh dunia?” tanya Maya kaget.
“Benar” angguk Masumi “Aku akan mengumumkannya ke seluruh dunia, kalau aku adalah laki-laki yang paling beruntung karena telah memiliki istri sepertimu”
“Pak masumi” ucap Maya dengan wajah memerah “tidak perlu seperti itu. Aku kan jadi malu, lagipula….”
“Lagipula apa?”
“Lagipula mungkin aku hanya akan menjadi istri yang menyusahkan anda---“
“hmm begitu ya?” ucap Masumi “Kamu istri yang akan menyusahkan aku ya?Kalau begitu aku—“
“Jangan berpikir anda sekarang merasa menyesal dan akan menceraikan aku” serobot Maya “Aku tidak akan mau---“
“Tapi sepertinya aku harus---“
“Pak Masumi”
“Pak?” tanya Masumi “Kamu masih memanggilku’pak’? Maya, sepertinya aku memang harus benar-benar men---“
“Pak Masumi, jadi aku harus memanggil anda apa?” tanya Maya memotong perkataan Masumi.
“Pak? Anda?” ucap Masumi sambil mengerutkan keningnya “Mulai sekarang kamu harus merubah panggilanmu, Maya. Masa dengan suamimu kamu memanggil ‘pak’ dan ‘anda’. Formal sekali”
“Lalu sebaiknya aku memanggil an—“ ucap Maya yang tidak menyelesaikan kalimatnya karena dilihatnya Masumi mengangkat kedua alisnya “eh, maksud aku, hmm…ka—mu apa?”
“Masih bertanya? ya panggil saja namaku, Maya. Tidak mungkin kan kamu jadi memanggilku paman atau kakek“ sahut Masumi sedikit kesal.
Maya terkikik. “Jangan marah begitu dong, pak eh maksudku Ma…em..Ma---” ucap Maya “Ah..aku tidak terbiasa, pak Masumi kalau langsung memanggil nama anda tanpa embel-embel ‘pak’”
“Ya harus kamu biasakan, Maya”
“Susah, pak Masumi. Aku kan sudah terbiasa memanggil an… eh kamu seperti itu” sahut Maya tidak mau kalah.
“Kalau begitu panggil aku dengan sebutan sayang…”
“Eh sayang?”
“Benar” ucap Masumi sambil menganggukkan kepalanya.
“Ah tidak mau” ucap Maya “Kan an—eh kamu sudah memakainya untuk memanggilku. Jadi aku tidak mau memakainya”
“Maya…” seru Masumi.
“Yang lain saja ya…” kata Maya sambil menatap Masumi.
“hmmm kalau begitu, bagaimana dengan darling atau honey?”
Maya menggeleng “Aku tidak suka dengan kata berbahasa asing”.
Masumi menghela napasnya “Bagaimana kalau suamiku?”
“Suamiku?” ulang Maya sambil mengerutkan keningnya “Ah tidak”
“Tidak juga?”
“Kan an—eh kamu sudah mengatakan kalau pernikahan kita untuk sementara waktu dirahasiakan. Kalau aku memanggil an---ehem kamu sambil berteriak di dalam mal dengan sebutan suamiku, bukankah orang-orang akan mengetahui kalau kamu adalah suamiku? Jadi tidak rahasia lagi dong” ucap Maya beralasan.
“Mayaa…” ucap Masumi gemas “Jadi maumu apa? Ini tidak mau itu tidak mau. Jangan bersikeras memanggilku ‘pak’, aku tidak suka”.
“Hmm…” ucap Maya seolah berpikir sambil mengerucutkan mulutnya “Kalau begitu…hmm…bagaimana kalau aku memanggil kamu---“
“Apa?”
“Hmm….Karena aku tidak bisa menghilangkan embel-embel pak, bagaimana kalau aku memanggil kamu hmm…. pipi?”
“Eh? Pipi?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya.
“Iya” angguk Maya “Pipi. Mirip kan dengan panggilan ‘pak’”
“Mirip dari mana?”
“Ya…anggap saja mirip” sahut Maya enteng sambil tertawa.
“Maya…kamu diajak serius malah becanda” ucap Masumi kesal.
“Aku tidak becanda, pipi Masumi” sahut Maya “Tuh kan, aku langsung terbiasa memanggilnya. Sudah pipi saja ya pipi Masumi?” tanya Maya sambil menatap Masumi.
“Panggilan yang aneh” gerutu Masumi.
“Tidak aneh koq” sahut Maya “Lucu dan imut menurutku. Daripada aku memanggilmu dengan sebutan papa atau papi…hayo…”
“Maya, kamu---”
“Apa? Tidak suka ya kalau aku memanggilmu dengan pipi?” tanya Maya “Ya sudah kalau tidak boleh. Aku kembali memanggil pak Masumi saja kalau begitu”
Masumi menghela napasnya panjang “Terserah kamu sajalah” ucapnya sambil melihat ke luar jendela helicopter.
“Jadi tidak apa-apa kan kalau aku memanggil kamu dengan ….pipi…..” ucap Maya “pipi….pipi Masumi” lanjutnya sambil terkikik.
“Mayaa…”
“Apa, pipi Masumi?”tanya Maya dengan wajah serius .
Masumi menghembuskan napasnya panjang kemudian menggelengkan kepalanya “tidak…tidak apa-apa”
“Jadi kamu setuju kan kalau aku memanggilmu dengan sebutan pipi?”
“Terserah kamu saja”
“Jangan terserah dong” ucap Maya “Setuju atau tidak?”
Masumi menatap Maya lalu perlahan Masumi menganggukkan kepalanya.
Maya tertawa senang melihat anggukan Masumi.“Nah, begitu dong, pipi Masumi. Itu baru suamiku yang baik” pujinya
“Kamu selalu menyebutku suami yang baik, tapi masih tidak memberiku cium—“
“Kan aku sudah mengatakan nanti, pipi Masumi” sahut Maya “Nanti. Masa di sini sih kan ada pak Hijiri, aku malu”
“Kalau begitu di mana?”
“hmm…kalau sudah sampai apartemen ya, pipi Masumi ” jawab Maya.
“Karena aku masih harus menunggu dan kamu masih berhutang 2 ciuman jadi aku ingin---“
“Ingin apa?”
“Ingin lebih dari sekedar ciuman” jawab Masumi sambil tersenyum.
“Lebih?” tanya Maya “Apa maksudnya dengan ‘lebih’?”
“Itu…kamu akan tahu sendiri, sayang” ucap Masumi “Dan kita juga akan segera mendarat, jadi kamu bersiap-siaplah”
“Eh?” kata Maya sambil mengerutkan keningnya “pipi Masumi…katakan padaku, apa yang sebenarnya kamu rencanakan padaku?”
Dan bertepatan dengan pertanyaan Maya, helicopter mendarat di atas atap gedung apartemen mereka.
Masumi menatap Maya sambil tersenyum misterius “Kamu akan segera tahu, sayang” ucapnya kemudian ia membantu Maya turun dari helicopter dan menggandengnya menuju apartemen mereka.
The end.

wkwkwkwk
BalasHapusjwbn q sama sprti masumi jg salah nie
hehehe
bisa2ny maya jahil
“Aku tidak bisa….aku sungguh tidak bisa me--”
“…lepaskan anda, pak Masumi”
xixixixi
#jgn lama2 ya apdetny
ha...ha.... bener deh yang baca jd ikutan gemes... gemes nunggun lanjutanya... sip deh okay..
BalasHapuscupid cupid melati, ali baba...
BalasHapus*gatau ini maksudnya apa hihihii
makasih buat apdetnyaaa <3 <3 <3
untung dirimu yang melanjutkan, hampir saja saya buat tragedi,, dan membuat semua orang bilang 'terlalu' ^0^
bwakakakakakakakak cupidnya gawat neh
BalasHapusmasumi di panggil pipi
pipi mimi
bwakakakakakakak
maya panggil ''pipi masumi''
BalasHapusapa g malah curiga nie smua orang
wkwkwk
eh cuman gt ending ny, lanjut lg dong
pengen tau nie bagaimana saat MP masumi dan maya dg pake bhs ny si cupid, bisa2 ga bakalan romantis tp jd komedi
*bayangin aja aq udh senyum2 sendiri
wkwkwk
gak ah gak usah dilanjut. Saia malu buat adegan MP-nya wkwkwkwk....
Hapuswwkwkwkwk....
BalasHapusJiah pipi ..... saingan ama anang hahahahahh
BalasHapusPipi mimi jangan sampe aja akhirnya harus berpisah kayak mimi pipi yg lain wkwkwkwkwkw
BalasHapusWkwkw kocakkkkk
BalasHapushahahahha...pipi, aiish :D
BalasHapusblushing dengan cara MM akhirnya nikah, mesti bilang WOOOOOOW :)
Thank u, nice story...*berharap dilanjutkan*
-Hadua-
memang benar kalo seorang masumi bisa membuat imajinasi tambah liar.... heheheh i love masumi
BalasHapus