Halaman

Sabtu, 19 Mei 2012

1001 Mawar Ungu part 05


“Tante Mayaaa…” panggil Momo yang kembali keluar karena Maya tidak masuk-masuk juga ke dalam rumah. Dengan kakinya yang kecil, ia berlari menghampiri Maya yang masih terduduk di depan pagar dan menatap ke satu arah, arah Masumi dari pergi.

“Tante Mayaa….” panggil Momo lagi ketika ia sudah ada di dekat Maya. Wajah polosnya tampak cemas karena Maya diam saja dan tidak menyahuti panggilannya.

“Tante Mayaa…” sekali lagi Momo memanggil Maya sambil menyentuh tangan Maya “Tante…..tante kenapa?”

Sentuhan tangan Momo di tangannya menyadarkan Maya sehingga Maya menoleh dan menatap Momo yang juga sedang menatapnya dengan tatapan khawatir. “ah…Momo chan…” ucap Maya akhirnya.

“Tante…tante kenapa?” tanya Momo lagi.



Maya menjawab pertanyaan Momo dengan menggelengkan kepalanya. “Tante tidak apa-apa, Momo Chan”

Momo menatap Maya dengan pandangan tidak percaya “Bohong” ucapnya kemudian.

“Benar” sahut Maya “Tante tidak apa-apa”

“Lalu..lalu mengapa tante duduk di bawah?” tanya Momo lagi.

“Eu..itu karena---“

“Ah..itu pasti gara-gara paman laksasa yang mendolong tante” serobot Momo cepat.

“Tidak, Momo chan. Tidak ada yang—“

“Ah tante Maya bilang saja telus telang. Paman laksasa itu kan yang mendolong tante?” tanya Momo bersikeras “Bial nanti momo kacih tahu papa cupaya Paman laksasa itu di—“

“Jangan, momo chan. Jangan beritahu papa kamu” ucap Maya cepat memotong perkataan Momo.

“Eh jangan?” tanya Momo tidak mengerti “Bialin aja. Biarin paman laksasa jahat itu—“

“Momo chan. Dia bukan orang jahat”

“Masa?” tanya Momo tidak percaya “Buktinya dia mendolong tante”

“Tante tidak didorong” sahut Maya.

“Kalau begitu mengapa tante bisa terduduk di bawah?” tanya Momo terus mendesak Maya.

“Itu karena---“

“Kalena apa? Pasti kalena paman laksasa itu—“

“Bukan, Momo-chan. Bukan…”geleng Maya.

“Ah tante Maya ngaku saja” ucap Momo “Tidak ucah takut. Nanti Momo kacih tahu papa—“

“Jangan” ucap Maya.

“Kenapa, Tante?”

Maya memegang kedua tangan Momo dan menatapnya “Momo chan, berjanjilah pada tante kalau kamu tidak akan memberitahukan papa kamu”

“Tapi tante---“

“Berjanjilah, Momo chan” desak Maya “Jangan mengatakan apapun pada papa kamu tentang paman itu”

“Mengapa?”

“Karena..karena tante tidak apa-apa” sahut Maya.

“Eh?”

“Janji ya, Momo chan” ucap Maya lagi.

“Tapi…tapi paman itu kan jahat…”

“Tidak…paman itu tidak jahat” sahut Maya.

“Kalau begitu mengapa tante telduduk di bawah?” tanya Momo lagi yang masih saja bertanya “Pasti kalena—“

“Tidak, Momo chan” potong Maya “Tante kan sudah mengatakannya. Tante terduduk dibawah bukan karena paman itu. Paman itu sudah pergi ketika tante terduduk di sini”

“Eh? Koq bica begitu?” tanya Momo tidak mengerti “Mengapa tante duduk di cini? Bukannya masuk ke dalam lumah dan duduk di kulsi? Di dalam kan banyak kulsi”

“Karena….tiba-tiba saja kaki tante tidak bertenaga”

Mendengar ucapan Momo, wajah Momo tampak cemas “Tante cakit lagi?” tanyanya “Momo telpon papa ya?”

“Tidak..tidak perlu….”

“Tapi….tapi kan tante cakit”

“Tante tidak sakit” ucap maya “Hanya---“

“Hanya apa?”

“Hanya..hmmm….hanya merasa lapar” jawab Maya.

“Eh?”

“Tante baru ingat kalau tante belum makan apapun. Jadinya tante kelaparan sampai kaki tante terasa lemas” ucap maya beralasan.

“haaaah….” Ucap Momo sambil membulatkan matanya “Tante ada-ada aja deh. Maca makan caja bica lupa“ lanjutnya sambil tertawa “Jangan-jangan tante ketularan neneknya Noli-chan. Noli-chan pernah mengatakan kalau neneknya juga cuka lupa makan”

“Ah iya kali” sahut Maya kemudian tertawa mengikuti Momo “Momo chan bantu tante berdiri ya. Kita masuk ke dalam dan membuat sushi”

“IYa” angguk Momo kemudian memegangi tangan Maya “Catu…dua…tiga…hup..”

Dan Maya pun berdiri kemudian menggandeng Momo masuk ke dalam rumah.

@@@@@


Masumi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Daito. Saat mobil itu berhenti sejenak karena lampu lalu lintas berwarna merah, ingatan Masumi kembali pada apa yang dilakukan tadi pada Maya. Perlahan, ia menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya. Seulas senyum mengembang di bibirnya. “Mungil…apapun yang terjadi. Aku tidak akan melepaskanmu” gumamnya bertekad.

Beberapa saat kemudian, Masumi pun sampai di Daito. Setelah memarkirkan mobilnya, ia masuk ke dalam gedung dan langsung menuju ruangannya.

“Pak Masumi” panggil Mizuki ketika melihat Masumi melewati mejanya.

Masumi pun menghentikan langkahnya dan menatap Mizuki. “Ada apa, Mizuki?” tanyanya kemudian.

“Nyonya Hayami tengah menunggu anda sejak tadi, pak Masumi” ucap Mizuki. Sejak Masumi menikah dengan Shiori 3 tahun lalu, secara otomatis Mizuki dan semua karyawan Daito memanggil Shiori dengan sebutan nyonya hayami.

“Shiori?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya.

“Benar” angguk Mizuki “Beliau menunggu di ruangan anda”

“Baiklah kalau begitu, Mizuki” ucap Masumi “Terima kasih” lanjutnya kemudian ia berjalan menuju ruangannya.

Ceklek…

Melihat kedatangan Masumi, Shiori yang sedang duduk di sofa yang ada di sana, menoleh.

“Masumi…”

“Ah kamu Shiori” ucap Masumi sambil melihat Shiori sekilas sambil berjalan menuju mejanya dan duduk di kursinya .

“Masumi, kamu dari mana saja?” tanya Shiori “cukup lama aku menunggumu—“

“Aku ada urusan” jawab Masumi singkat. Ia lalu meraih sebuah dokumen dan membukanya.

“Urusan? Urusan apa?” tanya Shiori ingin tahu.

“Aku harus bertemu seseorang” jawab Masumi.

“Seseorang?” tanya Shiori “Siapa?”

Masumi mengangkat kepalanya dan menatap shiori dengan kesal “Apa aku harus melaporkan padamu, dengan siapa aku bertemu dan untuk urusan apa?”

Shiori terkesiap dengan jawaban Masumi yang ketus. “Bu..bukan seperti itu, Masumi. Aku hanya mengkhawatirkanmu”

“Terima kasih atas perhatianmu, Shiori” ucap Masumi “Tapi aku rasa itu tidak perlu” lanjutnya kemudian kembali menunduk dan membaca dokumen yang ada di depannya.

“Masumi..”

“Apa ada hal lain lagi, Shiori?” tanya Masumi tanpa melihat Shiori.

“Masumi, mengapa kamu harus cepat-cepat masuk kantor? Baru kemarin kamu mengalami kecelakaan, jadi seharusnya kamu istirahat di rumah, jangan—“

“Aku tidak betah” sahut Masumi.

“eh?”

Masumi kembali mengangkat wajahnya dan menatap Shiori “Aku tidak betah harus berdiam diri di rumah, Shiori. Aku sudah tidak apa-apa lagipula pekerjaanku banyak. Tidak bisa ditinggal lama-lama”

“Tapi, Masumi---“

“Sudahlah Shiori” potong Masumi “Kemarin aku hanya luka ringan. Kamu tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu”

Siing…..

Suasana di ruangan itu mendadak hening. Shiori tidak berkata apapun lagi dan Masumi berkonsentrasi penuh dengan apa yang dibacanya.

Tok..tok..tok….

“Masuk” ucap Masumi.

Ceklek.

“Maaf, pak Masumi” ucap Mizuki “Anda di tunggu di ruang rapat”

“Baik.. Aku segera ke sana” sahut Masumi kemudian ia bangun dari duduknya “Shiori” ucapnya pada Shiori “Aku akan rapat. Jadi kamu tidak perlu menungguku. Aku akan minta Mizuki memberitahu sopir untuk mengantarmu pulang”

“Tidak” geleng Shiori “Aku menunggumu di sini saja. Masumi”

“Shiori, mungkin rapatnya akan berlangsung lama. Untuk apa—“

“Tidak apa-apa” sahut Shiori “Aku tidak keberatan menunggumu”

Masumi menghela napasnya. “Lebih baik kamu pulang saja, Shiori. Jangan menungguku—“

“Mengapa? Kamu tidak suka aku menunggumu?”

“Bukan seperti itu” sahut Masumi “Tapi tadi aku kan sudah mengatakannya kalau mungkin rapatnya akan lama—“

“Tapi bukankah sebentar lagi waktunya makan siang, Masumi. Tentu rapatnya bisa berhenti sebentar untuk makan kan? Aku ingin makan siang bersamamu”

“Lain kali saja ya, Shiori” tolak Masumi “Rapatnya tidak akan dihentikan karena makan siang”

“Masumi…”

“Aku akan meminta Mizuki memberitahu sopir untuk mengantarmu pulang” ucap Masumi lagi dan tanpa menunggu bantahan Shiori, Masumi melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya dan meninggalkan Shiori sendiri.

Shiori menatap kepergian Masumi dengan hati sedih. “Mengapa? Mengapa kamu seperti ini padaku, Masumi? Mengapa kamu selalu dingin padaku? Mengapa?”

@@@@@

Waktu terus berlalu dan malam pun akhirnya datang. Ryu dan kaoru kembali pulang. Dan setelah mereka berempat selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk menonton televisi.

“Papa….” Panggil Momo.

“Apa sayang?”

“Papa tahu tidak?” tanyanya.

“Tahu apa?”

“Kalau tante Maya ternyata pelupa ceperti neneknya Nolichan” ucap Momo sambil tertawa.

“eh?” ucap Ryu tidak mengerti sambil mengerutkan keningnya “Apa maksudmu?”

“Tadi itu tante Maya—“

“Momo chan” seru Maya yang baru saja datang karena tadi ia pergi sebentar ke dapur untuk mengambil buah.

Momo menatap Maya “Kenapa, tante? Memangnya Momo tidak boleh memberitahu papa kalau—“

“Jangan”

“Jangan apa?” tanya Ryu sambil menatap Maya.

“Tidak..tidak ada apa-apa, kak Ryu” jawab Maya.

“Momo chan. Ada apa dengan tante Maya?” tanya Kaoru yang ikutan bertanya.

“”emm.. itu….” ucap Momo dengan mata melirik ke arah Maya yang menggelengkan kepalanya “Tidak…tidak ada apa-apa” lanjutnya sambil menutup mulutnya.

“Momo chan. Jangan bermain rahasia dengan tante” bujuk Kaoru “Ayo dong beritahu Tante”

Momo menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga membuat Kaoru mengalihkan tatapannya pada Maya “Ada apa sih sebenarnya, Maya?”

“Benar, Maya. Ada apa?” timpal Ryu.

“Tidak…tidak ada apa-apa, kak Ryu……Kaoru” sahut Maya “Momo chan hanya sembarangan bicara—“

“Eh enak caja” celetuk Momo “Momo tidak cembarangan bicala. Tante kan memang pelupa sepelti neneknya Noli-chan”

“Mengapa kamu mengatakan kalau tante pelupa?” tanya Ryu pada Momo.

Momo kembali menatap Maya yang menggelengkan kepalanya kemudian tatapannya beralih pada ayahnya “Kalau momo kacih tahu, papa tidak boleh malahin tante Maya ya?”

“Eh?”

“Papa janji dulu”

“Baiklah”angguk Ryu “Papa berjanji”

“Papa, tadi itu tante Maya—“

“Momo chan” seru Maya.

“Tidak apa-apa kalau papa juga tahu, tante” ucap Momo pada Maya “Papa kan cudah janji tidak akan malah. Benar kan, pa?” tanyanya kemudian pada Ryu.

Ryu mengangguk.

“Tapi Momochan—“

“Ayo..ayo…beritahu tante Kaoru juga” ucap Kaoru ikut-ikutan.

“Tadi itu tante Maya jatuh telduduk di depan pagal”

“eh…” ucap Ryu dan Kaoru bersamaan kemudian keduanya menatap Maya.

“Itu..itu….”

“Mengapa kamu bisa jatuh terduduk seperti itu?” tanya Ryu khawatir.

“Iya, Maya. Apa kamu sakit?” tanya Kaoru.

“Tante Maya jatuh telduduk karena lupa makan sehingga kakinya lemas, papa” sahut Momo sambil terkikik “Ceperti neneknya Noli chan kan, bisa lupa begitu”

Tatapan Ryu dan Kaoru kembali pada Maya.

“Benarkah ada kejadian seperti itu, Maya?” tanya Ryu kemudian sambil menatap Maya.

Mau tidak mau, Maya pun akhirnya mengangguk.

“Mengapa bisa begitu?”

“eh aku….aku keasyikan nonton drama, kak Ryu” kata Maya “Jadi aku—“

“Ah kamu memang ada-ada saja, Maya. Sebegitu asyiknya menonton drama sampai lupa segalanya” ucap Ryu “Lain kali jangan begitu. Nanti kamu sakit”

Maya hanya bisa mengangguk.

@@@@@

“Benarkah?” tanya Kaoru tiba-tiba ketika mereka telah berada di kamar mereka dan tiduran.

“Apa?”

“Kamu jatuh terduduk karena lupa makan sehingga kakimu lemas?” tanya Kaoru penasaran. Ia benar-benar tidak percaya kalau Maya bisa sampai jatuh terduduk karena alasan itu.

“Benar” angguk Maya.

“Bukan karena alasan lain?” tanya Kaoru lagi.

“eh?”

“Kamu pasti menyembunyikan sesuatu”

“Sesuatu? Sesuatu apa?” tanya Maya “Aku tidak menyembunyikan apapun” lanjutnya kemudian membalikkan badannya membelakangi Kaoru.

“Mayaa…”

“Kaoru, tidurlah” ucap Maya mengalihkan pembicaraan “Bukankah kamu besok harus kembali bekerja?”

Kaoru menatap punggung Maya “Aku yakin, benar-benar yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan”

Tapi Maya tidak menyahuti perkataan Kaoru, ia hanya diam saja dan memejamkan matanya. Sampai akhirnya ia mendengar Kaoru menghela napasnya.

Beberapa saat kemudian, Kaoru pun terlelap tetapi Maya masih belum juga dapat tidur dan tanpa dikehendakinya ingatannya kembali ke kejadian tadi dan wajahnya pun memerah.

“Pak masumi…mengapa? Mengapa anda mengecupku?”

@@@@@

Keesokan harinya….

Selesai makan pagi, Ryu dan kaoru kembali berangkat kerja sedangkan Maya mengantar Momo sekolah. Sepanjang perjalanan menuju sekolah Momo, hati Maya deg-degan tidak menentu, ia takut Masumi tiba-tiba muncul di hadapannya.

Tetapi sampai ia selesai mengantar Momo dan kembali lagi ke rumah, Masumi tetap tidak terlihat. Walaupun di sisi jalan itu banyak mobil yang terparkir tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Masumi.

Maya pun menghela napas lega. Meskipun sebenarnya jauh di dalam hatinya, bila ia ingin jujur, ada sedikit perasaan kecewa karena ternyata Masumi tidak datang. Tapi dengan cepat digelengkan kepalanya keras-keras “Tidak…apa yang kamu pikirkan Maya Kitajima” gumamnya pada dirinya sendiri “Lebih baik seperti ini….ya…ini yang terbaik “lanjutnya sambil membuka pintu pagar rumah.

“Apa maksudmu dengan ini yang terbaik itu, mungil?” tanya seseorang dengan tiba-tiba.

Deg

Jantung Maya langsung berdebar kencang mendengar suara itu…suara yang sangat dikenalnya dengan jelas. Perlahan ia pun menoleh dan melihat Masumi sedang berdiri menatapnya sambil tersenyum di dekatnya.

“Halo, Mungil…”

Mata Maya membelalak karena terkejut. “An…anda---“

“Aku kenapa?’ tanya Masumi.

“Me..mengapa anda bisa berada di sini?”

Masumi mengerutkan keningnya “Ah…rupanya kamu pelupa, Mungil. Bukankah aku mengatakan kalau kemarin aku akan datang lagi—“

“Tapi..tapi kapan anda datang?” tanya Maya “Aku tidak melihat tanda-tanda kedatangan anda, padahal---“

“Padahal..? padahal apa, mungil?” tanya Masumi karena Maya tidak melanjutkan kalimatnya.

“Tidak” geleng Maya cepat dengan wajah merah padam. Ia telah salah bicara.

“Oh ya?” tanya Masumi lagi sambil tersenyum “Ah…rupanya kamu menunggu kedatanganku sampai mencari-cari aku”

“Tidak…tidak seperti itu” sahut Maya tetapi wajahnya semakin merah.

“Sudah…akui saja, mungil. Tidak perlu malu kalau kamu—“

“Aku sudah mengatakan tidak pak Masumi” seru Maya “Lagipula untuk apa anda datang, aku tidak mau berbicara apapun dengan anda” lanjutnya dan sambil berbicara seperti itu, Maya melangkahkan kakinya masuk ke dalam halaman rumah.

Tapi dengan cepat, Masumi memegang tangan Maya, menahan langkah Maya “Kamu tidak boleh pergi, mungil” desisnya “Bukankah kemarin aku sudah mengatakannya padamu kalau kita harus bicara”

“Tapi berulang kali aku juga mengatakan pada anda kalau aku tidak mau---Kyaaa…” teriak Maya terkejut karena tiba-tiba Masumi menarik tangannya sehingga ia terseret dan terpaksa mengikuti langkah Masumi.

“An..an mau membawaku ke mana, pak Masumi?” seru Maya “Lepaskan aku…”

Masumi mengacuhkan perkataan Maya. Ia terus berjalan sambil menarik Maya menuju mobilnya. Dan sesampainya di sana, ia membuka pintu belakang dan mendorong Maya masuk ke dalam kemudian menutupnya. Kemudian dengan cepat ia pun masuk dan duduk di kursi kemudi lalu melajukan mobilnya.

“Pak Masumii…” seru Maya dari kursi belakang “sebenarnya anda mau membawaku ke mana? Lekas turunkan akuu…”

Masumi tidak menjawab pertanyaan Maya. Ia hanya diam dan terus melajukan mobilnya.

@@@@

Tanpa Masumi sadari, tak jauh di belakangnya ada sebuah mobil lain yang mengikutinya. Seseorang yang ada dalam mobil itu sudah sejak tadi mengawasi mereka. Setiap gerak-gerik Masumi dan Maya tidak luput dari bidikan kameranya.

“Tidak sia-sia aku terus menunggumu di sana, Masumi Hayami” gumam orang itu “Dugaanku tidak salah, kamu akan datang lagi menemui gadis itu” lanjutnya sambil tersenyum kemudian sekilas matanya teralih pada sebuah foto kecil yang tertempel di dasbor mobilnya “Sebentar lagi…..aku akan memberimu kejutan yang akan membuat mata indahmu itu membelalak, sayang….huahahahahahaha…..”

@@@@@

“Pak Masumiii….”seru Maya lagi “anda mau membawaku ke mana?”

Masumi masih diam tidak menjawab. Ia masih konsentrasi dengan jalan di depannya.

“Pak Masumii…..”

“Sabar, Mungil. Nanti kamu juga akan tahu” ucap Masumi kemudian.

“Aku tidak mau ikut anda. Hentikan mobil ini dan turunkan aku”

“Hmm….sayang sekali aku tidak mau melakukannya, mungil. Aku tidak mungkin menurunkanmu di tengah jalan”

“Pak Masumi, aku mohon turunkan aku. Biarkan aku pergi”

“Tidak”

“Pak Masumi….turunkan aku. Aku tidak mau duduk di mobil anda. Aku tidak mau ikut dengan anda. Aku mau pulaaang…..” teriak Maya frustasi sambil memukul-mukul punggung jok yang diduduki Masumi.

“Mungil, tenanglah” ucap Masumi “Kamu tidak mau kita mengalami kecelakaan kan?”

Ucapan Masumi menghentikan gerakan tangan Maya.

“Kalau kamu terus memukuli jok itu dan berteriak-teriak sehingga merusak konsentrasiku, jangan salahkan aku kalau kita mungkin akan menabrak…hmm…mobil di depan itu”

“Ta—“

“Aku tahu kamu tidak akan mau hal itu terjadi kan?” potong Masumi lagi “Jadi duduklah dengan tenang”

“Ta..tapi---“

“Kumohon mungil. Duduklah dengan tenang dan tunggulah sampai kita sampai”

“Sampai? Sampai ke mana?” tanya Maya “Anda mau membawaku ke mana?”

“Nanti, kamu juga akan tahu”

Maya menghela napasnya karena jengkel. “mengapa anda tidak mau mengatakannya padaku sebenarnya anda mau membawaku ke mana?mengapa jawaban anda selalu nanti aku juga tahu…”

“Lho memang benar kan? Kalau sudah sampai tujuan, kamu juga akan tahu” jawab Masumi sambil tertawa.

“Tidak lucu” seru Maya sambil mengerucutkan bibirnya “Anda tidak usah tertawa seperti itu. Apa anda tidak tahu kalau aku sedang sangat kesal pada anda?”

“Maaf…mungil..maaf” sahut Masumi menghentikan tawanya “Tapi kamu bisa kan duduk tenang sampai ke tempat tujuan kita”

“Memangnya anda mau membawaku ke mana?”

“Aku kan sudah mengatakan---“

“Hah…” potong Maya “memang susah berbicara dengan anda. Maunya anda apa sih?”

“Aku juga sudah mengatakannya, mungil. Aku mau bicara denganmu”

“Tapi aku juga sudah berulang kali mengatakan pada anda, kalau aku sudah tidak mau berbicara lagi dengan anda. Mengapa anda harus selalu ngotot seperti itu sih?”

“Karena aku memang suka melakukannya” sahut Masumi sambil mengangkat kedua bahunya.

“Pak Masumi…kumohon turunkan saja aku di sini. Aku benar-benar tidak mau bicara apapun dengan anda”

“Tapi aku mau bicara denganmu”

“Pak Masumii….”

“Apa, mungil?”

“Anda memang sangat…sangat menyebalkan” gerutu Maya.

“aku tahu” sahut Masumi sambil tertawa.

“Jangan tertawa terus. Anda mau membawaku ke mana sebenarnya?”

“Ke—“

“Kalau hanya untuk bicara saja, mengapa harus pergi jauh-jauh? Apa yang sebenarnya akan anda lakukan padaku?”

“hmm..apa ya?” jawab masumi seolah sedang menimbang-nimbang.

“Awas kalau anda berani berbuat yang macam-macam padaku. Aku akan..akan…”

“Akan apa, mungil?” tanya Masumi dengan tenang.

“Akan menjerit sekerasnya”

“Oh silahkan lakukan saja, mungil. Teriakanmu itu pasti tidak akan terdengar oleh siapapun karena aku pastikan tempat itu jauh dari keramaian”

“an..anda mau membawaku ke mana sebenarnya? Cepat katakan pak Masumi…”

Masumi tersenyum kecil. “Ke tempat yang tenang di mana kita dapat bicara—“

“Aku tidak mau bicara apapun dengan anda. Aku mau pulang” potong Maya “Pak Masumi…ijinkan aku pulang ya….” Lanjutnya dengan suara yang terisak. Ia sudah merasa benar-benar putus asa karena Masumi tidak mengijinkannya pergi dan tetap saja membawanya entah ke mana, padahal ia tidak mau pergi….ia sudah tidak mau berurusan dengan Masumi lagi.

“Kamu..kamu menangis, mungil?” Masumi terkejut ketika mendengar isakan Maya.

“Pak Masumi….tolonglah…..biarkan aku pergi saja. Aku tidak mau pergi dengan anda..aku tidak mau….”

Masumi menghela napasnya. “Aku mohon, mungil. Jangan menangis seperti itu. Aku janji, aku tidak akan berbuat yang macam-macam padamu. Aku hanya ingin bicara—“

“Tapi aku tidak mau---“

“Mungil, please—“

“Aku tidak mau” sahut Maya keras kepala.

Dengan sangat perlahan, Masumi menghembuskan napasnya. “Baiklah” ucapnya kemudian “Kita tidak akan bicara apapun”

“Kalau begitu, anda lekas turunkan aku dan biarkan aku pergi”

“Tidak”

“Tapi..tapi..bukankah anda sudah setuju—“

“Mungil, biarkan aku membayar hutangku dulu..”

“eh?” ucap Maya terkejut. Ia menatap wajah Masumi dari kaca spion dengan tatapan tidak mengerti “Hu..hutang?”

“Benar” angguk Masumi “Hutangku padamu”

“Memangnya anda berhutang apa padaku?”

Masumi hanya tersenyum menjawab pertanyaan Maya. “Nanti aku akan memberitahukannya”

“Kapan?”

“Kalau kita sudah sampai”

“Sampai di mana?”

“Di—“

“Di mana, Pak masumi?” tanya Maya dengan tidak sabar “Kalau anda tidak mengatakannya, aku akan…..akan----“

“Akan apa?”

“Pak Masumiii…” seru Maya gemas “Aku sedang tidak ingin main-main dengan anda. Anda mau mengatakannya atau tidak?” lanjutnya sambil melotot pada Masumi.

Masumi hanya tertawa mendengar ucapan Maya.

“Pak Masumii….”

“Baiklah..baiklah, mungil. Aku mengalah. Aku katakan padamu” ucap masumi akhirnya “Kita akan ke—“

“Ke mana?”

“Hmm…ke Izu”

Maya mengerutkan keningnya. “I..izu?”

“Benar” angguk Masumi “Sekarang kita sedang menuju ke villaku yang berada di sana”

“Untuk apa kita ke sana?”

“Lho bukankah tadi aku sudah mengatakannya padamu?” sahut Masumi balik bertanya “Aku akan membayar hutangku”

“Hutang apa?”

“Hutang---“ Masumi tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya tersenyum misterius.

@@@@@

Sementara itu di kediaman Takamiya.

“Shiori…” panggil Tuan Takamiya sambil memasuki ruang tamu. Ia telah diberitahu oleh seorang pelayan kalau cucunya datang dan menunggumu di sana.

“Kakek…” sahut shiori sambil bankit dari duduknya dan menghampiri kakeknya. Lalu ia menggandeng tangan kakeknya dan membawa kakeknya duduk di sampingnya.

“Mengapa kamu pagi-pagi datang kemari?”

Shiori pura-pura memberenggut. “Memangnya aku tidak boleh datang?”

“Bukan begitu. Hanya saja---” Tuan Takamiya mengangkat kedua alisnya “Apa Masumi menyakitimu?Kamu katakan pada kakek, biar kakek memberi pelajaran padanya”

“Ti..tidak, kakek. Masumi tidak menyakitiku” sahut Shiori cepat.

“Benarkah?” tanya Tuan Takamiya dengan tatapan tidak percaya.

“Benar” angguk Shiori.

Tuan Takamiya menghela napasnya. “Shiori, kamu itu cucu kesayangan kakek. Kakek tidak mau kamu menderita—“

“Aku tidak—“

“Jangan membohongi kakek. Kakek itu sangat mengenal kamu” potong Tuan Takamiya “Kamu terlihat tidak bahagia hidup dengannya”

“Siapa yang mengatakan kalau aku tidak bahagia?”

Tuan Takamiya menghela napasnya. “Shiori, apa kamu benar-benar bahagia hidup dengannya?”

Shiori menatap kakeknya kemudian perlahan mengangguk..

Tuan Takamiya menatap Shiori dengan tatapan tidak percaya. “Kamu masih merasa bahagia, walaupun dia pernah mengatakan kalau dia mencintai gadis lain dan ingin menceraikanmu?”

“Aku tidak peduli” sahut Shiori “Pokoknya aku tidak akan mau diceraikan olehnya”

“Shiori….”

“Kakek….aku sangat mencintai Masumi. A…aku tidak bisa hidup tanpanya. Tidak bisa, kakek…” ucap Shiori.

“Tapi, Shiori. Kamu harus mengerti. Masumi tidak mencintaimu”

“Suatu saat dia pasti akan mencintaiku”

“Kapan? Kapan itu akan terjadi?” tanya Tuan Takamiya “Sekarang sudah 3 tahun, Shiori. 3 tahun kamu hidup bersamanya. Tapi, Masumi----“

“Kakek, aku tidak peduli harus sampai kapan”potong Shiori “Aku akan terus menunggunya sampai itu terjadi”

Tuan Takamiya kembali menghela napasnya. “Untuk apa kamu membuat dirimu menderita seperti ini, Shiori”

“Aku rela, kakek. Karena aku benar-benar mencintainya” jawab Shiori dengan mantap.

“Shiori, kamu---”

Kriiiing………

“Maaf, kek. Ponselku berbunyi” ucap Shiori ketika mendengar bunyi ponselnya. Ia pun mengambil ponsel itu dari dalam tasnya. Saat melihat nomor yang tertera di layar, Shiori mengerutkan dahinya. Ia tidak mengenali nomor yang menghubunginya itu. Tapi ia tetap mengangkat telponnya.

“Ha..halo?”

“Nona Shiori Takamiya? Ah salah…harusnya saya memanggil anda Nyonya Shiori Hayami”

“Si..siapa ini?” tanya Shiori karena tidak mengenali suara lawan bicaranya.

“Anda tidak perlu tahu siapa saya, nyonya” sahut orang itu “saya hanya ingin memberitahu anda satu hal” Lalu sejenak orang itu terdiam “Apa anda tahu di mana suami anda berada sekarang?”

“A..apa?”

“Suami anda. Tuan Masumi Hayami”

Deg

Mendengar perkataan orang itu, perasaan Shiori menjadi tidak enak.“Eh, Masumi? “Mengapa orang itu bertanya tentang Masumi. Mengapa orang itu menanyakan di mana keberadaan Masumi?”

“Nyonya?”

“Bu…bukankah dia ada di kantornya” ucap Shiori mencoba menjawab.

“Menurut anda seperti itu?”

“A..apa maksud anda?” tanya Shiori tidak mengerti “Tentu saja dia ada di kan—“ Perkataan Shiori terhenti karena tiba-tiba pemikiran buruk muncul di benaknya “Apa jangan-jangan Masumi tidak ada di kantornya? Lalu ada di mana Masumi? Apa di rumah sakit?apa dia mengalami kecelakaan lagi?” Shiori menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak…semoga tidak”

“Shiori, ada apa?” tanya Tuan Takamiya yang melihat perubahan pada wajah cucunya. Cucunya terlihat sangat khawatir “Siapa…siapa yang menelpon itu?”

Shiori hanya menggelengkan kepalanya pada kakeknya.

“Nyonya?” tanya orang itu lagi.

“Ja..jadi dia tidak ada dikantornya?” jawab Shiori akhirnya dengan suara perlahan.

Orang itu tidak menjawab.

“Kalau begitu, dia ada di mana?” suara Shiori terdengar panik “An....anda pasti tahu dia ada di mana kan? Tolong beritahu aku. Dia ada di mana? Dan a..apakah dia baik-baik saja?”

Orang itu tertawa perlahan.

“Ha…haloo?”

“Tenang saja, nyonya. Suami anda baik-baik saja—“

Shiori menghela napas lega.

“Tapi anda jangan merasa senang dulu”

“A…apa maksud anda?”

“Karena sekarang suami tercinta anda itu sedang pergi meninggalkan kota Tokyo….” Orang itu jeda sejenak “..bersama seorang gadis” bisiknya perlahan.

“A…apa?”

“Sepertinya mereka akan bersenang-senang”

“Tidak…”seru Shiori “Itu tidak mungkin. Anda pasti bohong”

“Anda tidak percaya, nyonya?” tanya orang itu

“Siapa anda sebenarnya? Mengapa anda mengatakan hal ini padaku? Apa keinginan anda?” kata Shiori balik bertanya “Ah..pasti anda ingin memerasku dengan mengatakan hal bohong seperti itu”

“Nyo—“

“Apa anda berpikir aku akan percaya begitu saja sehingga dapat anda tipu? Anda salah…sangat salah bila berpikir seperti itu. Karena aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang anda katakan”

Dan tanpa mendengar perkataan apapun dari orang itu, Shiori pun menutup telponnya.

“Shiori…siapa…siapa yang menelponmu? Ada apa? Mengapa kamu marah-marah seperti itu?” Tuan Takamiya langsung memberondong Shiori dengan pertanyaan “Mengapa kakek mendengar nama Masumi di sebut-sebut?”

“Dia hanya orang gila yang mencoba memerasku, kek”jawab Shiori “Dia mengarang cerita bohong dengan mengatakan kalau Masumi pergi ke luar kota untuk bersenang-senang dengan seorang gadis”

“A…apa?” ucap Tuan Takamiya terkejut.

“Dia pikir aku bisa diperdaya dan percaya begitu saja. Dasar orang gila”

“Shi..shiori, bagaimana kalau itu benar?”

Shiori mengangkat kedua alisnya dan menatap kakeknya dengan tatapan tidak percaya. “Ka..kakek percaya ucapan orang itu?”

Tuan Takamiya mengangkat kedua bahunya. “Bagaimana kalau dikatakannya benar, bagaimana kalau Masumi---“

“Tidak” geleng Shiori “Itu tidak mungkin”

“Shiori…”

“Kakek, aku sangat mengenal Masumi. Dia tidak tertarik pada gadis manapun kecuali….” Mata Shiori penuh kebencian ketika menyebutkannya “…Maya Kitajima”

“Shiori…”

“Tapi Maya Kitajima telah lama mati. Jadi---“

“Tapi Shiori, sekarang mungkin saja ada gadis lain yang Masumi cintai”

“Kakek mengapa kakek mengatakan itu?”tanya Shiori kesal.

“Bukankah Masumi pernah mengatakan padamu bahwa dia mencintai gadis lain?”

“Kakek….aku yakin gadis yang dimaksud Masumi itu adalah Maya Kitajima. Gadis yang sekarang…bukan sejak 3 tahun yang lalu telah mati. Pasti dia. Bukan gadis lain”

“Tapi, Shiori. Kalau seandainya…..seandainya benar---“

“Kalau itu benar, aku tidak akan membiarkannya, kek. Sekarang aku adalah istrinya, jadi aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku” ucap Shiori penuh tekad.

Tuan Takamiya terdiam. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kebulatan tekad cucunya itu.

@@@@@

“Bodoh…dasar bodoh” gumam orang itu sambil melepaskan headsetnya dan melirik ke foto yang ada di dasbor mobilnya “Aku berbaik hati memberitahukan padamu agar kamu dapat mempersiapkan diri untuk menerima kejutan dariku, kamu malah tidak percaya dan menutup telponku begitu saja”

“Tapi tidak apa-apa. Aku pasti akan mengirimkan bukti ke depan matamu kalau apa yang aku katakan itu benar sehingga kamu…mau tidak mau mempercayainya” lanjutnya kemudian ia tersenyum dan kembali berkonsentrasi ke jalan untuk mengikuti mobil Masumi. Ia tidak mau ’buruan’nya hilang..


Bersambung ke part 6....

10 komentar:

  1. kira2 kejutan apa ya yg diberikan masumi

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. *cubit cupid*
    bikin penasaran ajaaahhh!!

    lanjutkan!

    BalasHapus
  4. kejutan apa yg diberikan masumi.....ke izu kh
    siapa yg mengikuti mobil masumi....
    smoga g terjadi skandal...

    BalasHapus
  5. pasti orang suruhannya shiori nh,,,hadeehhh,,,masumi mau bawa maya kemana ya?
    Mutia Na Rival

    BalasHapus
  6. aduh...siapa sih yg ngikutin mobil masumi...
    mg g ngikutin sampe izu....mg disana, masumi dan maya bisa baikan lagi....

    BalasHapus
  7. ternyata shiori bkn yg nyuruh ya? Apa lelaki yg di tolak cintanya sama shiori? Makin penasaran,,,siapa sih lelaki itu,,???
    Mutia na rival

    BalasHapus
  8. hey hey siapa diaaaa

    lanjut, cupid!

    BalasHapus
  9. weeeww...siapa pria misterius itu?

    BalasHapus
  10. Hadeeeuuuh siapa lagi tuh si penelpon misterius, lagian juga nenek sihir kenapa tetep kekeuh sama akang Masumi sih, dasar cewek gak tau malu heeeeeeeeh...sebelllll.

    Cupid apddetnya jgn lama2 yaaaaaaaaa

    BalasHapus