“Pak Masumi…silahkan dokumen yang ini anda tanda tangani” ucap Mizuki sambil menyerahkan sebuah dokumen ke hadapan Masumi. Dan tanpa banyak bicara, Masumi pun meraih bolpen yang menandatanganinya.
“Ada lagi yang lain?” tanya Masumi sambil menyerahkan kembali dokumen yang telah ditanda tanganinya pada Mizuki.
“Tidak ada, pak Masumi. Hanya itu” sahut Mizuki sambil mengambil kembali dokumen tersebut “Dan ini…” lanjutnya sambil meletakkan beberapa dokumen lain di atas meja Masumi “Dokumen yang harus anda pelajari”
“Hmm…taruh saja di sana, Mizuki. Nanti aku akan membacanya” ucap Masumi.
“Eh?” tanya Mizuki menatap Masumi heran.
Masumi mengangkat wajahnya dan menatap Mizuki “apa ada yang salah, Mizuki?”
“Ah, tidak, pak Masumi. Saya hanya sedikit heran” sahut Mizuki.
“Heran? Apa yang membuatmu heran?”
Mizuki mengangguk “Biasanya anda menggerutu dan mengatai saya sekretaris yang menyiksa bosnya bila saya memberi banyak dokumen yang harus anda baca. Tapi hari ini mengapa anda begitu pasrah?”
“Hmm…anggap saya hatiku sedang senang, jadi tidak mengomelimu” jawab Masumi enteng sambil tertawa.
“Ah benar juga” sahut Mizuki setelah ia mengamati bosnya dengan seksama “Sepertinya anda ceria sekali hari ini. Apa ini dampak dari hari valentine kemarin? Tampaknya anda habis bersenang-senang” tebak Mizuki kemudian.
“EH…” kata Masumi terkejut “Dari mana kamu tahu?”
“Hah…” sekarang gantian Mizuki terkejut, tidak menyangka asal tebaknya benar.
“Mengapa kamu ikutan terkejut seperti itu?”
“Tidak, pak Masumi” jawab Mizuki “Saya hanya tidak menyangka kalau tebakan saya benar. Saya hanya asal tebak tadi” lanjutnya mengakui.
“Tebakanmu memang tepat, Mizuki” kata Masumi membenarkan sambil menganggukkan kepalanya “Kemarin hari valentine…tepatnya malam valentine yang sangat menyenangkan”
“Pasti karena anda menghabiskan malam itu dengan nona Shiori. Hmmm dengan makan malam yang romantis?”
“TIdak” geleng Masumi “Bukan Shiori”
“Bukan dengan nona Shiori?”
Bukan” tegas Masumi.
“Lalu dengan siapa?” tanya Mizuki penasaran.
“hmm..itu rahasia, Mizuki” jawab Masumi dengan senyum misterius. Lalu terbayang olehnya kembali malam valentinenya bersama Maya, yang kemudian menyebabkan wajahnya sedikit memerah dan senyumnya semakin lebar.
Mizuki yang melihat perubahan raut wajah bosnya menatapnya heran. Hatinya bertanya-tanya siapa yang membuat bosnya seperti itu. Lalu sebersit pemikiran muncul di benaknya “Apa mungkin pak Masumi melewati malam valentine dengan---“ tanyanya kemudian tapi kemudian ia menghentikan kalimatnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya “Tidak…tidak mungkin” lanjutnya tidak percaya.
“Apa yang tidak mungkin?” tanya Masumi yang mendengar perkataan Mizuki.
“Anda tidak mungkin melewatkan malam valentine dengan dia kan, Pak Masumi?” tanya Mizuki.
“Dia? Dia siapa?” tanya Masumi sambil berpikir kalau ternyata sekretarisnya ternyata hebat juga, bisa tahu kalau ia melewatkan malam valentinenya bersama Maya. Ia lalu menatap Mizuki penuh selidik dan bertanya-tanya dalam hatinya apakah gadis di depannya ini benar sekretarisnya atau seorang mata-mata, koq bisa tahu kalau ia sudah punya hubungan istimewa dengan Maya.
Dia itu---“ ucap Mizuki yang kembali menghentikan kalimatnya dan menghela napasnya “Semoga saja tebakan saya salah pak Masumi”
“Memangnya siapa dengan ‘dia’ yang kamu maksud?” tanya Masumi penasaran.
“Hmm…sebelumnya maafkan saya kalau tebakan saya salah ya, pak Masumi” ucap Mizuki “Karena sebenarnya menurut saya ini tidak mungkin, tapi…ya mungkin saja” lanjutnya sambil mengangkat kedua bahunya.
“Apa maksudmu dengan tidak mungkin dan mungkin saja?” tanya Masumi “Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan”
“Hmm…anda tidak mungkin melewatkan malam valentine dengan orang itu kan?”
“O-rang itu?” tanya Masumi mengerutkan keningnya.
“Iya, orang yang kemarin datang menemui anda “ sahut Mizuki “hmm…Tu..tuan Karato Hijiri..”
Doeeng….
Masumi langsung ternganga menatap Mizuki dan tidak percaya dengan pendengarannya dengan nama yang disebutkan oleh Mizuki. Ia mengira yang dimaksud dengan ‘orang itu’ adalah Maya, tetapi yang dimaksud dengan orang itu oleh Mizuki ternyata Hijiri.
“Pak Masumi, anda tidak melewatkan malam valentine dengan Tuan Karato Hijiri kan?” ulang Mizuki ketika melihat bosnya hanya diam dan menatapnya tidak percaya. Hatinya menduga-duga apa maksud tatapan Masumi itu.
“waduh..apa jangan-jangan tebakanku benar lagi sehingga pak Masumi terlihat sangat shock seperti itu? Wah, benar-benar gawat, ternyata pak Masumi yang berwajah tampan dan disukai banyak wanita ini ‘bermasalah’. Pantas saja selama ini ia selalu dingin pada wanita. Tidak…sebenarnya hanya ada satu gadis yang disukai pak Masumi, gadis yang umurnya 11 tahun lebih muda darinya, Maya Kitajima. Tapi ia selalu memendam perasaannya. Apa jangan-jangan karena terlalu lama memendam perasaannya dan merasa tidak mungkin dengan gadis yang umurnya jauh dibawahnya sehingga ia ber’pindah haluan’? Aduh pak Masumi, anda memang aneh-aneh saja. Kasihan nona Shiori yang mau menjadi tunangan anda” Sambil berpikiran seperti itu, tanpa sadar, Mizuki menggeleng-gelengkan kepalanya.
BRAK…
Gebrakan meja yang dilakukan Masumi membuat Mizuki tersadar dari pemikiran ‘aneh’nya dan terloncat.
“SEMBARANGAN” bentak Masumi sambil menatap dingin Mizuki.
Mizuki menundukkan kepalanya, tidak berani beradu pandang dengan bosnya “Sa..saya kan sudah minta maaf sebelumnya kalau mungkin saja tebakan saya salah”
“Apa maksudmu, Mizuki?” tanya Masumi geram “Apa kamu pikir aku…aku ini---“
“Maaf, pak Masumi” jawab Mizuki cepat “Saya tidak bermaksud demikian. Karena anda mengatakan bahwa anda tidak melewatkan malam valentine dengan nona Shiori dan setahu saya tidak ada lagi wanita yang dekat dengan anda, jadi saya pikir anda---“
“Ka..kamu—“
“Maafkan saya, pak Masumi” ucap Mizuki lagi "saya hanya asal tebak”
“Asal tebak? Heh..”
Mizuki mengangguk.
“Gajimu aku potong 3 bulan”
“A..apa?” kata Mizuki tidak percaya sambil mengangkat kepalanya dan menatap Masumi “An..anda becanda kan, pak Masumi?”
“Aku tidak becanda” sahut Masumi “Itu pelajaran untukmu karena asal menebak”
“Pak Masumiii….”
“Silahkan kamu keluar dari ruanganku”
“Pak Masumi”
Tapi Masumi mengacuhkan Mizuki, ia mengambil sebuah dokumen dan membacanya.
Mizuki menghela napasnya dan membungkukkan kepalanya “Kalau begitu saya permisi, pak Masumi” ucapnya sambil memutar tubuhnya membelakangi Masumi dan berjalan perlahan keluar ruangan Masumi.
“Ah, iya, Mizuki”
Mendengar panggilan Masumi, Mizuki segera menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menatap Masumi penuh harap “Anda meralat ucapan anda kan, pak Masumi?” tanyanya.
“Tidak” sahut Masumi “Aku hanya ingin kamu mengosongkan jadwalku nanti siang, Aku mau keluar dan mungkin tidak akan kembali lagi ke kantor”
“Pak Masumi..”
“Silahkan kamu melanjutkan pekerjaanmu, Mizuki” ucap Masumi menutup pembicaraan mereka dan kembali serius membaca dokumen di tangannya.
@@@@@
Beberapa saat kemudian..
Kriing…
Telpon di meja Masumi berbunyi dan Masumi pun segera mengangkatnya. “Halo..”
“Pak Masumi, nona Shiori ingin menemui anda” jawab Mizuki.
“Katakan padanya kalau aku sedang sibuk sehingga tidak dapa menemuinya”sahut Masumi.
“Ehm..maaf, pak” ucap Mizuki “saya sudah mengatakan kalau anda ada di dalam dan dapat menemuinya..”
“Ka..kamu…” seru Masumi kesal sambil menutup telponnya.
Di luar, Mizuki tersenyum puas. “Rasakan itu, pak Masumi. Siapa suruh anda memotong gajiku” gumamnya.
@@@@@
Tok..tok..tok…
“Masuk…”
“Masumi…” panggil Shiori sambil membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan Masumi.
Masumi yang sedang membaca dokumen mengangkat kepalanya dan menatap Shiori “Oh kamu, Shiori” ucap Masumi “Ada perlu apa kamu datang kemari?”
“Aku..aku hanya ingin memberikan ini” sahut Shiori sambil meletakkan coklat valentine yang kemarin malam ditinggalkan begitu saja oleh Masumi.
Masumi melihat sekilas coklat itu. “Terima kasih, Shiori” ucapnya kemudian dan ia kembali melanjutkan membaca dokumennya.
“Ma..Masumi..kamu marah padaku?” tanya Shiori yang melihat sikap Masumi yang acuh padanya.
Masumi kembali mengangkat wajahnya dan menatap Shiori “Tidak. Aku hanya sedang sibuk”
“Benarkah karena itu?” tanya Shiori tidak percaya “Tapi sepertinya kamu sedang marah padaku. Apa karena karena semalam aku mengganggumu? Aku minta maaf, Masumi. Aku tidak tahu kalau kamu—“
“Eit…cut..cut…cut…..” teriak si cupid yang tiba-tiba muncul mengganggu jalan cerita (wkakakakakaka…) “ada apa ini? mengapa Masumi marah pada shiori? Memangnya semalam apa yang dilakukan Shiori?”
Untuk itu, marilah sejenak kita lihat kejadian malam itu…..
Si cupid yang sudah teriak kegirangan dan lari-lari keliling kampung, balik lagi ke apartemen Masumi karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan Masumi pada Maya. Siapa tahu ada tontonan menarik
Ia membawa lampu petromaks sebagai pengganti senter supaya dapat melihat dengan jelas apa yang Masumi lakukan pada Maya dan menggelar tikar serta membawa bekal dua potong sandwich dan setermos susu (Memangnya mau piknik? xixixixixi…) Dan inilah yang akan didapat si cupid dari te…ka…pe…..“Kyaa…..pak Masumi..” teriak Maya “Lampunya kembali lagi”
“Biarkan saja” sahut Masumi.
“Tapi..tapi pak Masumi…kan ge…” ucapan Maya mendadak terputus karena Masumi membungkam mulut Maya dengan mulutnya. Jadi Maya hanya dapat pasrah membiarkan Masumi menciumnya dan kemudian ia pun membalas ciuman Masumi.
Sambil menciumi Maya, sasaran bibir Masumi beralih, ia mengecup dagu Maya sambil membuka kancing pertama piyama yang dipakai Maya. Lalu bibirnya berpindah ke leher dan tangannya pun membuka kancing ke dua….ke tiga dan seterusnya. Dan pada saat ia akan menyibakkan piyama maya dan menenggelamkan kepalanya pada kelembutan dada Maya, tiba-tiba---
Kriiing……..
Ponsel Masumi berbunyi dengan kerasnya.
“Pak..pak Masumi…..ponsel anda—“
“Biarkan saja” gumam Masumi sambil medekatkan wajahnya dengan dada Maya tapi dengan cepat Maya mendorongnya dengan keras.
“Pak Masumi…angkat,,,” seru Maya “Dari tadi berbunyi terus. Mungkin itu telpon penting”
Akhirnya dengan berat hati, Masumi pun mengangkat tubuhnya dan meraih ponselnya.
“Makanya, pak….ponselnya di matikan dulu supaya tidak ada yang ganggu” celetuk si cupid yang langsung mendapat tatapan kesal dari Masumi.
“Haloo..” ucap Masumi dengan nada kesal pada orang yang menelponnya sambil melihat Maya yang sedang duduk dan mengancingkan kembali piyamanya.
“Ma..Masumi…kamu baik-baik saja?” tanya suara seorang wanita yang terdengar cemas di ujung sana “Aku sangat cemas, Masumi karena kamu pergi begitu saja meninggalkan--“
“Maaf, Shiori.Aku sedang sibuk” potong Masumi dan tanpa menunggu perkataan Shiori, Masumi pun menutup telponnya dan sebelum meletakkan ke atas meja, ia mematikan ponselnya.
“Pak Masumi, sia—“
Byaaar……
“Ah..akhirnya” ucap Maya menarik napas lega “Lampunya menyala kembali”
“Aku lebih senang kalau lampunya tidak menyala” gumam Masumi.
“A..apa?” tanya Maya yang tidak mendengar dengan jelas gumaman Masumi.
“Tidak” geleng Masumi “Aku tidak berkata apa-apa” lanjutnya sambil duduk di samping Maya.
“Siapa yang menelpon anda, pak Masumi?” tanya Maya penasaran “Apakah telpon penting?”
“Bukan telpon penting” sahut Masumi “Dia itu….” Sejenak Masumi menggantung kalimatnya “Shiori”
“Oh..nona Shiori…” ulang Maya dan wajahnya mendadak sedih.
“Mungil….”
“An..anda tentunya ada janji dengan nona Shiori, kalau begitu aku..aku…”
“Mungil, dengarkan aku” ucap Masumi memaksa Maya menatapnya “Aku tidak ada janji dengan Shiori—“
“Lalu mengapa nona Shiori menelpon anda?” tanya Maya yang kemudian menyesali pertanyaannya. Memangnya nona Shiori tidak boleh menelpon pak Masumi, dia kan tunangannya….
“Dia menelponku karena tadi aku meninggalkannya di restoran”
“A..apa? an..anda meninggalkannya?” tanya Maya tidak percaya “mengapa anda meninggalkan nona Shiori?”
“Karena…..aku datang menemuimu”
“pak Masumi….” ucap Maya dengan mata berkaca. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Masumi akan meninggalkan Shiori, tunangannya demi dirinya.
Masumi menarik Maya ke dalam pelukannya dan memeluk Maya dengan erat. Dan mereka pun berpelukan erat.
“Kyaaa…..” teriak Maya tiba-tiba mengagetkan Masumi dan melepas pelukannya.
“Ada apa, mungil?”
“Jam berapa ini, pak Masumi..?” tanya Maya.
Masumi melirik arlojinya “Jam 10 lewat 15 menit “ jawab Masumi.
“Aku harus pulang, pak Masumi” ucap Maya “Rei pasti menunggu-nunggu aku dan khawatir bila aku belum pulang juga”
“kamu telpon saja, Rei” ucap Masumi enteng “Katakan padanya kalau kamu tidak akan pulang malam ini”
“eh?” ucapan Masumi membuat wajah Maya memerah. Pak Masumi mengajakku menginap di sini…di apartemennya.
Masumi mengambil ponselnya dan menyalakannya kembali kemudian menyerahkannya pada Maya “Ini…” ucapnya “Telpon Rei”
Maya menatap Masumi kemudian ponsel yang disodorkan Masumi dan kembali menatap Masumi lalu ia menggeleng.
“Mengapa?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya.
“A..aku pulang saja, pak Masumi” jawab Maya perlahan.
“Mengapa?” tanya Masumi lagi “Kamu tidak suka menginap di sini bersamaku?’
“Bu..bukan begitu, pak Masumi” jawab Maya cepat “Tapi karena---“
“Karena apa?”
“A..aku takut-“
“Takut?” tanya Masumi mengerutkan keningnya “Takut pada…ku?”
Maya menggeleng dan menundukkan kepalanya. “Aku takut kalau menginap di sini, a..aku tidak dapat bangun pagi” ucapnya kemudian dengan wajah memerah “Ja..jadi lebih baik aku pulang saja” lanjut Maya “Besok pagi aku harus datang ke studio kids, pak Masumi”
“Tapi, pakaianmu kan belum kering, mungil” ucap Masumi mencari alasan agar Maya mau menginap di apartemennya.
“A..aku pinjam piyama anda saja, ya?”
“Apa?” kata Masumi terkejut.
“Tidak apa-apa kan kalau aku membawa pulang piyama ini?”tanya Maya “besok..eh tidak setelah aku mencucinya dengan bersih, aku kembalikan lagi pada anda” lanjutnya sambil menatap Masumi dengan tatapan memohon agar Masumi mengijinkan.
“Tapi kamu tidak apa-apa pulang hanya dengan mengenakan piyama itu saja?”
“Tidak apa-apa, pak Masumi” jawab Maya “Hari kan sudah malam dan pasti sudah sepi. Tidak akan ada orang yang memperhatikan. Tapi---“
“Tapi apa?”
“Anda antarkan aku pulang sampai depan apartemenku ya, pak Masumi”
“itu…”
“Pak Masumi…antarkan aku pulang. Masa anda tega membiarkan aku pulang sendirian hanya dengan memakai piyama ini” pinta Maya “Ya..pak Masumi…antarkan aku…”
Masumi menghela napasnya. “Kalau boleh jujur, aku lebih suka kamu menginap di sini daripada harus mengantarkanmu pulang”
“Pak Masumii…”
“Iya…iya…aku antarkan”
Maya tersenyum senang mendengar perkataan Masumi. Dan ia pun dengan cepat mencondongkan badannya dan mengecup pipi Masumi “Terima kasih, pak Masumi. Anda memang baik”
“mungil, kamu…”
“Ayo, pak Masumi. Kita pergi sekarang” ucap Maya sambil berdiri kemudian menarik tangan Masumi.
“Tunggu dulu” seru Masumi menarik tangan Maya sehingga maya terduduk di pangkuannya.
“A..apa?” tanya Maya sambil menatap Masumi.
“Sebelum aku mengantarkanmu pulang, aku mau---“ ucap Masumi perlahan dan tanpa menyelesaikan kalimatnya ia mendekatkan wajahnya ke wajah Maya dan mencium bibir Maya.
Lalu Maya pun melingkarkan tangannya ke leher Masumi dan membalas ciuman Masumi. Mereka pun terus berciuman sampai kehabisan napas.
Sambil terengah, mereka saling terdiam dan bertatapan. Dan Masumi kembali mendekatkan bibirnya---
“Ah..tidak, pak Masumi…” seru Maya sambil mendorong Masumi “Kalau begini kapan aku pulangnya?” tanyanya sambil berdiri “Ayo, pak Masumi…kita pergi sekarang sebelum Rei menelpon polisi karena aku tidak pulang-pulang”
Masumi menghela napasnya kecewa.
“Pak Masumi….ayooo….” seru Maya sambil menarik tangan Masumi membuatnya berdiri. Dan akhirnya Masumi pun dengan pasrah mengikuti Maya yang berjalan di depannya dan terus menarik tangannya keluar dari apartemen Masumi.
Nah…kejadian itulah yang terjadi pada malam valentine yang menyebabkan Masumi marah pada Shiori karena mengganggunya di saat yang tidak tepat. Poor Masumi xixixixixi…..
Demikian laporan cupid langsung dari te..ka…pe…..
Dan lanjutan ceritanya ada di part 2. Ditunggu aja dengan sabar yee….
wkwkwk.... gak kebayang deh klo sampai kejadian masumi valentinan ma hijiri... lanjut cupid, gpl lo ;-)
BalasHapusWakakakakakakakakakakakakakakak... Efek baca krn di kantor maka cuma bs nyengir...ngakaknya lewat komen...ndak kebayang masumi ada kelainan kyk gt....lanjuuuutttt sis...
BalasHapuswkwkwkwk...mizuki koq bisa berpikiuran masumi punya kelianan haduuuuh
BalasHapuswkwkwkwkwkwkwk........
BalasHapuslucu.....
cupidx tiap kali slalu bikin diri q ketawa ngakak....
apdet lagi dong.....jgn lama-lama
hahahahah....... aneh2 waeee dahhh..... kok nanggung ceee.... itu udah tamat beyummmm...:0
BalasHapusbeyuum...crita ini masih puaaanjaaang xixixixi... :p
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuswkwkwkwk...ternyata begitu,shiori emang penganggu >.<
BalasHapusdodollllll , gw malah jd ngebayangin gaya si rose di silet .wakakakakakaak
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusLanjutin don tpi request jdi serial pendek jdi variasi....lucu n kpcak gara2 ini gue dianggap gila ama staff gue..ngikik terua dr tdi..
BalasHapus