Sabtu, 19 Mei 2012
Story About You and Him #6
“Masumii….ayo dong ngomong” serumu “Jangan diam saja”
Tapi Masumi hanya diam membisu Dan menatap kesal padamu.
“Mawar ungu? Halooo…..Mawar ungu?” terdengar lagi suara Maya di sana “Apa anda bisa mendengarku?”
“Bisa…bisa…..” teriakmu keras sambil memandang Masumi dengan mimik kesal “Mawar ungu ada di sini koq tapi medadak gagu, kayaknya ada yang memotong lidahnya jadi tidak bisa bicara deh xixixixixi…”lanjutmu mengoceh sendiri walaupun kamu tahu kalau Maya tidak mungkin dapat mendengar ocehanmu kemudian kamu kembali berkata kepada Masumi “Masumiii….ayoo….orang bertanya koq tidak di jawab sih—“
Masumi masih saja diam, tidak berkata apapun. Ia terus saja memandang kesal padamu lalu dengan tiba-tiba ia merebut ponsel dari tanganmu dan mematikannya.
“Lho…lho…lho…koq dimatikan sih, Masumi” protesmu “Kamu tuh ya, bukannya dijawab malah langsung dimatikan, dasar tidak punya sopan santun. Harusnya kan—“
“Tutup mulutmu” desis Masumi sambil melotot padamu.
“Tapi Masumi…tapi kan---“
“Kamu tuh ya..benar-benar hhhhhhhgh…..”ucap Masumi cepat “Menguji kesabaranku” lanjutnya geram.
“Kamu menatap Masumi dengan wajah tidak berdosa “Koq kamu bisa berkata begitu sih, Masumi? Aku kan menolongmu—“
“Menolong? Menolong apa?” seru Masumi marah “Kamu bukannya menolong malah memperkeruh—“
“Aku tidak memperkeruh, Masumi” sahutmu tidak mau kalah “Karena aku tahu kamu tidak berani menghubungi Maya, maka aku menolongmu—“
Bruk…
Tiba-tiba saja, Masumi mendorong tubuhmu dan melangkah panjang menuju pintu.
“Ma..Masumi…..kamu mau ke mana?” tanyamu sambil bergegas mengejarnya dan memegang erat lengan Masumi.
“Lepas” ucap Masumi dengan nada dingin.
“Masumii….”
“Lepaskan tanganku”
“Tidak” ucapmu bersikeras “Aku tidak akan melepaskannya”
“Ka..kamuu—“
“Kamu mau ke mana?”tanyamu mengacuhkan kemarahan Masumi.
“Pergi” jawab Masumi pendek.
“Eh? Pergi…?” tanyamu lagi sambil mengerutkan keningmu “Pergi ke mana?”
“Ke mana saja” jawab Masumi lagi kemudian menatap tajam padamu “Yang penting jauh darimu” lanjutnya sambil berusaha melepaskan tangannya.
“Tidak….tidak boleh” serumu sambil mengencangkan peganganmu “Kamu tidak boleh jauh-jauh dari aku….Masumii….tidak boleh”
“Lepaskan tanganku dan biarkan aku pergi”
“Tidaak…..” ucapmu bersikeras “Masumii….jangan…..jangan pergi. Kalaupun kamu mau pergi, aku ikut. Aku tidak mau ditinggal sendiri”
“Kamuu…..”
“Masumi…ya Masumi ya….Aku ikut….” Bujukmu “jangan tinggalkan aku sendiri. Ya…Masumii…..ya…..”lanjutmu sambil memasang mimik memelas.
Masumi memejamkan matanya dan menghela napasnya.
“Kamu tinggal saja dulu di sini. Besok aku datang lagi” ucap Masumi bersikeras tapi dengan nada membujuk.
“Huaa…tidak mau” gelengmu cepat “Aku tidak mau tinggal di sini sendirian. Aku takut…”
“Hmm..kalau begitu bagaimana kalau aku minta Hijiri yang menemanimu?”
“Hijiri?” tanyamu balik bertanya sambil membelalakkan matamu “Hijiri akan menemaniku?”
“Benar” angguk Masumi “Aku akan minta Hijiri menemanimu” lanjutnya.
Kamu menatap Masumi dengan pandangan tidak percaya dan kemudian kamu menggeleng “Ah…tidak….”
“TIdak?”
“Tidak, Masumi. Aku lebih suka ditemani olehmu” ucapmu sambil mengedipkan matamu sehingga membuat Masumi memalingkan wajahnya.
@@@@@
Akhirnya setelah kamu mengeluarkan seribu satu macam bujuk rayu, Masumi tidak jadi pergi meninggalkanmu. Walaupun tentu saja, ia menemanimu bukan dengan senang hati tetapi dengan setengah hati. Ia juga mau menemanimu bukan karena termakan bujuk rayumu tapi pusing dengan rengekanmu yang tiada henti itu.
Kalian, maksudnya kamu dan Masumi tidur dalam kamar yang biasa ditempati Masumi. Tapi tentu saja tidak satu ranjang. Walaupun kamu berharap dengan amat teramat sangat, tetapi Masumi menolaknya. Ia berbaring pada sofa yang berada di sudut kamar dan membiarkanmu tidur di ranjangnya.
“ah..kamu memang benar-benar baik, Masumi” ucapmu sambil memandang Masuni yang sedang berbaring di sofa “Kamu benar-benar pria sejati dan aaaaah empuknya kasur ini”
“Berisik”
“Apa kamu tidak mau tidur di sini saja, Masumi? Kasur ini cukup luas—“
“Tidaak” seru Masumi “Sudah lekas tidur, jangan bicara terus”
“Idih Masumi..aku kan berbaik hati menawari tempat yang nyaman. Koq malah marah-marah sih”
“Memangnya itu tempatnya siapa?” gerutu Masumi sambil membalikkan badannya sehingga memunggungimu.
Kamu cekikikan mendengar perkataan Masumi dan kemudian karena Masumi sudah tidak mau meladenimu berbicara kamupun tertidur.
Tapi tengah malam tiba-tiba kamu terbangun…
“Aduuh…” ringismu sambil memegangi perutmu.
Mendengar ringisanmu, Masumipun terbangun dan menatapmu “Ada apa denganmu?”
“Perutku sakit, Masumi”
“eh?”
“Biasa. Karena—“
Masumi bangun dari tidurnya dan berjalan menuju ke arahmu kemudian membuka laci meja yang ada di sisi ranjang “ini” katanya sambil menyodorkan obat padamu.
“Apa ini?” tanyamu sambil mengambil obat yang disodorkan Masumi.
“Ini obat untuk meredakan rasa sakitmu” jawabnya.
“eh?” ucapmu heran “Koq kamu bisa menyediakannya dan tahu kalau perutku sakit gara-gara---“
“Tentu saja” serobot Masumi “aku kan bertanya pada penjaga apotik---“
“Apotik? Bukankah kamu membeli pembalut itu di supermarket?”
“Iya sih” jawab Masumi “Tapi karena kebetulan supermarket itu dekat dengan apotik jadi aku masuk ke sana juga”
“Untuk apa? Untuk membeli obat ini untukku?” tanyamu “Oh..kamu memang sungguh perhatian”
“Tidak” seru Masumi “niat awalku bukan untuk membeli obat itu. Itu karena tidak sengaja penjaga apotik melihatku membawa…ehem..membawa sekantong---“ ucap Masumi yang tidak melanjutkan kalimatnya dan rona merah menghias wajahnya “uhm… dan penjaga itu dengan senang hati menjelaskan segala hal padaku”
“Eh menjelaskan apa?”
“Menjelaskan---” jawab Masumi “Kamu tidak perlu tahu” lanjutnya dan ia pun kembali melangkah ke sofa “Kalau sudah makan obatnya, tidurlah kembali”
“Hei..Masumi…”
“Apa lagi sih?” tanya Masumi yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa.
“Terima kasih ya” ucapmu “Kamu memang pria siaga…siap antar jaga…hahahahaha eh salah ding bukan itu namanya” lanjutmu sambil terus tertawa “Apa ya tepatnya sebutan yang cocok..”
Masumi hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehanmu yang tidak karuan itu.
“Ah iya, Masumi” ucapmu tiba-tiba.
“Apa lagi sih? Lekaslah tidur”
“Aku penasaran”
“Penasaran apa?”
“Kamu tadi mengatakan kalau kamu buat niat awal saat masuk ke dalam apotik itu. Apa niat awalmu itu? Mau membelikan aku obat perangsang ya ?” tanyamu ngawur kemudian kamu kembali tertawa “Itu tidak perlu, Masumi hahahahaha..tanpa dirangsang pun aku—huahahahahaha…”
“Gila….kamu benar-benar gila” ucap Masumi “Aku bukan mau beli obat itu, aku mau membelikanmu obat tidur”
“eh?” ucapmu langsung terdiam “Apa…apa kamu bilang”
“Niat awalku aku mau membelikanmu obat tidur” ulang Masumi “supaya kamu berhenti mengoleh tidak jelas seperti itu. Ocehanmu membuatku sakit kepala”
“Aduh..Masumi..teganya…..teganya….dirimu padaku. Masa aku mau dikasih obat tidur. Kalau keterusan tidurnya bagaimana?”
“Itu urusanmu bukan urusanku” jawab Masumi cuek.
“Huh kejaaam….”
“Sudah tidur sana. Atau aku benar-benar mencekokimu dengan obat tidur” ucap Masumi lagi.
“Iya deh..iya…aku tidur”
Tanpa kamu ketahui, Masumi pun tersenyum penuh kemenangan.
@@@@@@
Keesokan harinya..
“Bangun….ayo lekas bangun…”
“Huoeem…nanti ah sebentar lagi” gumammu sambil bergelung.
“Jadi benar nih tidak mau bangun? Ya sudah aku tinggal”
“Kamu pun segera membuka matamu dan memandang sekelilingmu. Mula-mula kamu tidak tahu di mana kamu berada kemudian kamu teringat semuanya.
“Kyaaaa…Masumiii….jangan tinggalkan akuuuuu…..” teriakmu sambil melompat dari ranjang dan berlari mencari Masumi.
Ketika kamu melihat Masumi sedang duduk di sofa sambil meminum kopinya, kamu menarik napas lega “Aku mandi dulu sebentar ya, Masumi” ucapmu “Awas lho…kalau aku keluar kamunya tidak ada” lanjutmu sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah makan sarapan pagi yang telah disiapkan Masumi berupa roti dan segelas susu. uhuy…Masumi memang baik ya…jadi terharu kan? Wkakakakaka…..Kamu dan Masumi pun pergi ke kantor Daito.
Masumi kembali bekerja dan kamu……melongo…..
“Masumi…ketemu maya yuk” ajakmu
“Tidak bisa. Aku sibuk”
“Memangnya kamu tidak kangen ama Maya?” tanyamu “Ayo dong Masumi. Kita ketemu Maya”
“Heu…kamu berisik sekali”
“Masumiiii….”
Masumi menatapmu kesal kemudian meraih ponselnya “Hijiri, segera temui aku”
“eh Hijiri?” tanyamu yang mendengar perkataan Masumi “Untuk apa kamu memanggil hijiri?”
Masumi hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali membaca dokumen.
“Masumii….untuk apa kamu memanggil Hijiri?” tanyamu.
Tapi, Masumi tidak menjawab.
“Ah kumat lagi deh” gerutumu “Di tanya tidak menyahut” lanjutmu kemudian kamu berjalan menuju jendela besar yang ada di ruangan Masumi. Matamu menatap jauh ke depan “huu…menara Tokyo….kapan Masumi mau mengajakku pergi ke sana?”
Tok..tok..tok…
“Masuk”
Ceklek
“Aih…Hijiriii…..” serupun senang ketika melihat siapa yang membuka pintu”lo..ha….”sambungmu sambil melambaikan tangan pada hijiri.
Hijiri melihatmu sekilas kemudian mengalihkan pandangannya pada Masumi.
“Selamat pagi, pak Masumi” ucap Hijiri.
“Hijiri, tolong kamu bawa dia “ ucap Masumi sambil menunjuk padamu “Pergi”
“eh?”
“Bawa dia pergi, Hijiri. Dia membuatku sakit kepala”
Hijiri tampak kebingungan tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya “Baik, pak Masumi. Tapi saya harus membawanya ke mana?”
“Ketemu Maya…” sahutmu.
“Eh?:”
“Ketemu Maya, ya Masumi” ucapmu pada Masumi “Boleh ya, Masumi…”
Masumi menatapmu “Terserah”
“Horee…..ketemu Maya” serumu senang sambil meloncat-loncat seperti kelinci “Ayo kita pergi, Hijiri” ajakmu kemudian pada Hijiri “Tapi sebelum itu kita beli mawar ungu dulu ya?”
“eh?” kedua pria itu tampak terkejut mendengar ucapanmu.
“Kamu..kamu mengatakan apa?” tanya Masumi.
“Mawar ungu, Masumi” ulangmu “Masa Hijiri ke sana tidak bawa apa-apa. Nanti kalau di tanya Maya, mau apa datang menemuinya, jawabannya apa hayooo…?”
“Ah iya..benar juga ucapanmu” kata Masumi akhirnya membenarkan “tolong aku berikan mawar ungu untuknya, Hijiri”
“Baik, pak Masumi” angguk hijiri.
“ehem…mister Mawar ungu-nya tidak mau ikut, Masumi?” tanyamu kemudian sambil mengedipkan mata “Ayo..ikut saja. Ah tidak “ gelengmu kemudian “Supaya Maya terkejut kamu harusnya dimasukkan ke dalam dus kemudian di bungkus dan diberi pita yang besaaaar. Lalu sampai di sana, Hijiri berkata pada Maya begini nona maya, ini bunga Mawar ungu dan bingkisan istimewa dari pengagum anda. Kemudian Maya akan membuka bungkusan itu dan pasti terkejut melihat isi bungkusannya—“
“Ka..kamuu…” seru Masumi kesal.
“Aha…ideku bagus kan, Masumi?” tanyamu tidak memperdulikan Masumi yang kesal dan Hijiri yang menahan tawa “Bagaimana, Masumi. Mau tidak? Kamu pasti langsung di cup..cup..muach.. oleh Maya…”
Masumi menatapmu dengan tatapan yang semakin kesal. “Cukup..aku tidak mau lagi mendengar ocehan gilamu—“
”Eh koq ocehan gila sih. Itu kan usul yang bagus” potongmu “Benar kan Hijiri?” tanyamu kemudian sambil menatap hijiri.
“Ehem itu---“
“Hijiri, lekas bawa dia pergi jauh” perintah Masumi.
“Ba..baik, pak Masumi” ucap Hijiri kemudian ia mengalihkaj pandangannya padamu “Ayo kita pergi”
“Pergi ya pergi” sahutmu kalem “Tidak perlu marah-marah seperti itu, Masumi” lanjutmu kemudian mengikuti Hijiri.
@@@@@
Setelah membeli bunga, Hijiri membawamu ke studio kids tempat biasa Maya latihan drama.
“Kiriman untuk Maya kitajima” ucap Hijiri.
Dan tak lama kemudian seorang gadis mungil keluar dari salah satu pintu.
“Ah itu Maya…” serumu “Halo Maya”
Maya berjalan mendekati Hijiri dan sama sekali tidak menatapmu. Tentu saja ia tidak menatapmu karena ia tidak dapat melihatmu.
“Ini kiriman untuk anda” ucap Hijiri sambil menyerahkan buket bunga mawar ungu.
“Ah, terima kasih, pak Hijiri” sahut Maya dengan wajah senang.
“Maya..cepat…” ucap seorang gadis lain yang melongokan kepalanya di pintu yang sama saat Maya keluar “Pak Kuronuma memanggilmu”
“Ah iya” sahut Maya “Maaf, pak Hijiri. Aku harus kembali latihan” lanjutnya sambil melangkah pergi.
“Aku ikut ya..Hijiri. Aku ikuti Maya ya..” ucapmu sambil mengejar Maya “Kamu jangan ke mana-mana ya. Tunggu akuuu….” sambungmu setengah berteriak.
Tanpa mendengarkan jawaban Hijiri, kamu masuk ke dalam tempat latihan Maya dan melihatnya berakting. Akting Maya memang sungguh luar biasa. Walau itu hanya sebuah latihan, tapi kamu terkagum-kagum melihatnya.
15 menit kemudian, pak Kuronuma memberikan break dan kamu mengikuti Maya menuju lokernya. Dia meraih ponselnya.
“Ah..ada panggilan tidak terjawab dari Rei”gumamnya. Kemudian ia pun menekan-nekan tombol yang ada di ponsel itu dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
“Iya, rei. Ada apa?” tanya Maya.
“Oh..oke” ucapnya lagi “Jadi kita jadi pergi ke pemandian air panas itu?”
“Baik..aku akan meminta ijin pada pak Kuronuma untuk libur di hari itu”
“Sampai nanti” ucapnya kemudian menutup telponnya dan kembali meletakkan kembali ke dalam loker.
Kamu yang mendengarkan semua percakapan itu tersenyum senang dan dengan cepat muncul sebuah ide di kepalamu. Hmmm….pemandian air panas???
@@@@@
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

pasti masumi akan diajak ke pemandian air panas nih
BalasHapusmenurut q..... aq g sebawel itu deh
BalasHapustp klo untuk masumi dan maya
apapun akan aq lakukan
kyknya yang bawel dan ngomong terus g pake brenti itu si cupidz deh....
wkwkwkwkwkwk
lanjut lg ya
kira2 jailnya cupid keluar lagi gak yaa??
BalasHapuscupiddd....kelarin cepettt////
BalasHapus