“Mungil…bangun, mungil…”
“Hmmm….” gumam Maya sambil menggerakkan tangannya.
“Mungil….”
Mendengar panggilan itu, Maya pun membuka matanya dan mengejap-ngejapkannya. “Aku…aku di mana?” gumamnya. Dan ia pun melihat Masumi. “An..anda…”
“Ayo, keluar. Kita sudah sampai” ucap Masumi.
“Sam..sampai?” tanya Maya tidak mengerti. Kemudian ia melihat sekelilingnya. Ia melihat laut dan sebuah villa. Lalu ia mengingat semuanya. Tadi ia dipaksa Masumi untuk ikut dengannya kemudian Masumi mengatakan kalau mereka akan pergi ke Izu. Lalu dalam perjalanan, tanpa sadar ia tertidur.
“Benar..kita sudah sampai di villaku” jawab Masumi.
“Oh…”
“Bukan oh…” sahut Masumi “ayo keluar. Atau kamu harus aku gendong?”
“eh..ti…tidak usah, pak Masumi” sahut Maya cepat “A..aku keluar…” lanjutnya sambil cepat-cepat bergeser dan menurunkan kakinya.
“Ayo….” ajak Masumi saat Maya sudah berdiri di samping mobil. Kemudian Maya pun mengikuti langkah Masumi ke teras villanya.
Di depan pintu, Masumi menghentikan langkahnya dan menatap Maya. “mungil, sekarang aku akan membayar hutangku”
Ketika mendengar kata ‘hutang’, Maya kembali mengerutkan keningnya. “Hu..hutang? hutang apa?” tanyanya lagi “Aku sama sekali tidak mengerti maksud anda”
Masumi memasukkan kunci, memutarnya dan memegang handle pintu kemudian ia menoleh dan menatap Maya. “Mungil, selama ini aku memiliki hutang pengakuan padamu”
“eh…hu…hutang apa?”
“Hutang pengakuan” ulang Masumi “Aku harus mengakui sesuatu padamu”
Deg…
Jantung Maya berdebar. “Pak Masumi, apa anda mau…mau mengatakan kalau anda adalah---“
Ceklek…..
Masumi menekan handle pintu itu dan mendorongnya. Pintupun terbuka lebar. “Inilah hutangku padamu…” ucap Masumi perlahan.
Mata Maya membelalak karena terkejut saat ia melihat apa yang ada di dalam villa itu.
Mawar ungu……Mawar ungu terlihat di mana-mana.
“Pa..pak…Ma…Masumi…i…ini…..ini….”
“Mungil, aku adalah mawar ungu. Pengagum rahasiamu” ucap Masumi perlahan.
Maya mengalihkan tatapannya dari dalam villa pada Masumi. Ia hanya bisa menatap tanpa bisa berkata apapun.
“Mungil, maafkan aku…..seharusnya aku mengatakan padamu kalau aku adalah mawar ungu saat......” Masumi terdiam sejenak dan menatap Maya “…saat pertunjukan percobaan bidadari merah” lanjutnya. “Tapi saat aku akan mengatakannya….kamu tahu saat itu harus pergi karena---“ Masumi merasa bimbang, haruskah ia mengatakan mengapa saat itu ia harus pergi. Tapi kemudian, Masumi tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menghela napasnya penuh penyesalan.
Maya hanya terdiam dan tidak berkata apapun.
“Mungil, seharusnya setelah malam itu..aku berusaha mencari kesempatan untuk mengakuinya padamu” lanjut Masumi “Tapi aku….aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya….”
Maya masih terdiam dan menundukkan kepalanya.
“Mungil, apa kamu tidak senang mendengar pengakuanku ini?” tanya Masumi karena merasa Maya sama sekali tidak merespon “Aku tahu mungkin sekarang sudah terlambat---“
“Benar” potong Maya sambil mengangkat wajahnya dan menatap Masumi dengan mata berkaca “Sekarang semuanya sudah terlambat, pak Masumi. Anda sudah sangat terlambat untuk mengatakannya” lanjutnya dengan suara getir.
“Mungil…”
“Mengapa? Mengapa anda tidak mengatakannya sejak dulu? Mengapa anda tidak mengakuinya sejak dulu?Mengapa, pak Masumi? Mengapa?”
“Mungil, maafkan aku” ucap Masumi penuh penyesalan “Dulu aku begitu pengecut, aku begitu takut---“
“Lalu untuk apa anda mengatakannya sekarang?”
“Saat terjadi tsunami…..saat kamu dinyatakan hilang…..Aku sangat…sangat menyesal. Aku menyalahkan diriku sendiri. Seandainya…” Masumi tersenyum getir “Aku selalu berandai-andai…..andai waktu bila diputar kembali….andai sekali lagi aku diberi kesempatan….” Masumi kembali menghela napasnya “Dan ternyata Tuhan masih memberiku kesempatan. Jadi aku---“
“Tapi semuanya sudah terlambat, pak Masumi……..sudah….sangat….. terlambat….”
“Mungil…”
“Aku bukan Maya Kitajima yang dulu” ucap Maya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya dan Maya berusaha keras menahannya agar tidak bergulir ke pipinya “Maya Kitajima yang dulu telah mati tersapu tsunami”
Setelah berkata seperti itu, Maya yang sudah tidak sanggup menahan air matanya membalikkan badannya, membelakangi Masumi. Ia tidak mau Masumi melihat air matanya. “Tolong antar aku pulang, pak Masumi” ucapnya kemudian.
“Mu..mungil….”
“Terima kasih. Hari ini anda mau mengakuinya. Tapi semua itu…..” Maya menggigit bibirnya menahan isak tangisnya “sudah tidak ada artinya lagi untukku”
“Mu…mungil..mengapa?”
“Kumohon, pak Masumi. Tolong antar aku pulang”
“Mungil” ucap Masumi sekali lagi kemudian ia meraih lengan Maya dan membalikkan badannya. Dan saat itulah ia melihat air mata Maya “mungil, ka..kamu---“
Maya tidak mau menatap Masumi. Ia menolehkan kepalanya ke samping.
“Mungil, tatap aku---“
Maya tetap bersikeras tidak mau menatap Masumi.
Dengan tangannya yang lain, Masumi meraih dagu Maya dan memaksanya untuk menatapnya dan kemudian dengan perlahan ia bertanya “Bila benar, semuanya sudah terlambat, lalu mengapa kamu harus menangis?”
“A..aku---“ Maya menatap Masumi dengan tatapan terluka. Kemudian dengan sebelah tangannya, yang tidak dipegangi Masumi. Ia mengentakkan tangan Masumi yang memegang dagunya. “I..itu bukan urusan anda”
“Mungil, tentu saja itu menjadi urusanku. Beritahu aku alasannya. Mengapa?”
Maya menggelengkan kepalanya. “Lepaskan tangan anda, pak Masumi” ucapnya sambil kembali mengentakkan tangan yang satunya lagi, tangan yang masih dipegangi Masumi, dengan keras. Kemudian ia membalikkan badannya dan berlari. Ia tahu….ia tidak bisa ke mana-mana. Ia baru pertama kali ke tempat ini. Tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin berada jauh dari Masumi.
Tapi, baru beberapa langkah Maya berlari, Masumi sudah kembali menyambar tangannya. Menariknya dan membawa tubuh Maya dalam pelukannya.
“Le..lepaskan…lepaskan aku….” seru Maya sambil memukul-mukul Masumi.
Masumi menghiraukan perbuatan Maya. Ia mempererat pelukannya dan berulang kali berbisik “Maafkan aku….maafkan aku, mungil”
“Anda jahat…mengapa anda melakukan ini padaku? Untuk apa? Untuk apa melakukan semua ini?”
“Maaf, mungil….maaf….”
Tangisan Maya semakin menjadi dalam pelukan Masumi. Dan Masumi membiarkannya selama beberapa saat. Setelah tangisan Maya berubah menjadi isakan, Masumi membawa Maya masuk dalam villanya dan mendudukkan Maya pada salah satu sofa yang ada di ruang tamu villanya kemudian duduk di sampingnya.
Masumi tidak berkata apapun. Ia hanya merangkul Maya yang masih terus saja terisak dan memeluknya dengan erat.
@@@@@
Sementara itu di Tokyo….
Ryu mengendarai mobilnya dengan kencang menuju sekolah Momo. Gurunya Momo menelponnya dan memberitahukan padanya kalau Momo belum juga di jemput. Setelah memasang handset, ia pun menelpon rumahnya.
“Ke mana? Kamu ke mana, Maya?” tanyanya ketika tidak ada yang mengangkat telponnya.
Berulang kali, Ryu menelpon rumahnya, tapi hasilnya nihil. Maya tidak juga mengangkat telponnya.
Sesampainya di sekolah Momo yang sudah terlihat sepi, Ryu pun segera memarkirkan mobilnya dan mencari Momo.
“Papa~” teriak Momo ketika melihat kedatangan Ryu dan setelah berpamitan dengan gurunya, ia pun berlari menghampiri Ryu “Papa….tante Maya ke mana? Kenapa tante Maya tidak menjemput Momo?”
“Hmm…tante Maya…..tante Maya mungkin masih di rumah”
Momo mengerucutkan bibirnya. “Macih di lumah? Biasanya Tante Maya cudah datang menjemput Momo”
“Mungkin tante Maya lupa kamu pulang jam berapa” jawab Ryu.
“Tapi—“
“Momo chan, kita pulang saja dulu ya. Nanti kamu bisa tanyakan langsung pada tante Maya”
Momo menatap ayahnya kemudian ia menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, merka pun sampai di rumah.
Momo segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam mencari Maya.
“Tante Mayaaa…..” teriaknya.
Tapi rumah dalam keadaan sepi. Sama sekali tidak terlihat keberadaan Maya.
Momo mencari-cari ke sekeliling rumah, membuka kamar, menuju dapur bahkan memeriksa kamar mandi tetapi Maya tidak ditemukannya sehingga ia pun kembali menemui ayahnya dengan wajah cemas.
“Tante Maya tidak ada, papa….tante Maya tidak ada di mana-mana”
“Momo chan”
“Momo cudah mencalinya ke mana-mana. Tapi tante Maya tidak ada”
Mendengar perkataan Momo, Ryu pun tak kalah cemasnya. Ia kembali bertanya-tanya dalam hatinya ke mana Maya pergi.
“Papaa……tante Maya sebenarnya ke mana?”
“Momo chan, itu—“
Momo menatap Ryu “Apa jangan-jangan—“
“Jangan-jangan apa?”
Mata Momo mulai berkaca-kaca. “Tante Maya pasti diculik paman laksasa, papa….”
“A..apa? paman raksasa?”
Momo mengangguk. “Kita halus mencali tante Maya, papa”. Dan setelah berkata seperti itu, Momo berlari ke luar rumah.
“Momo chan…kamu mau ke mana?” seru Ryu. Ia pun segera mengejar Momo. Dan ketika sampai di luar rumah, ia melihat Momo sedang celingak-celinguk mencari sesuatu.
Ryu pun menghampiri Momo. “Apa yang kamu cari?”
Momo menoleh dan menatap Ryu. “Momo mencali pohon kacang”
“A..pa?”
“Pohon kacang, papa. Momo cali pohon kacang…”
Ryu mengerutkan keningnya, kebingungan. Ia tidak mengerti maksud Momo.
“Ih, papa tidak tahu ya? Kata ibu gulu, laksasa itu tulunnya dali pohon kacang. Jadi kita halus mencali pohon kacang supaya bica nolongin tante Maya”
“A..ap….”
“Papa jangan bengong saja. Ayo bantu Momo cali” ucap Momo lagi kemudian matanya kembali mencari-cari.
Ryu mendekati Momo dan meraih lengannya kemudian membalikkan badannya. Ia lalu berlutut di depan Momo. “Momo chan, di sini tidak ada raksasa—“
“Tapi---“
“Itu hanya ada dalam dongeng, Momo chan”
Momo menggeleng. “Ada, papa. Kemarin Momo melihatnya”
“Melihat apa?”
“Melihat paman laksasa—“
“Momo chan, kamu mengada-ngada”
Momo menggeleng. “Momo tidak mengada-ngada. Tante Maya juga melihatnya”
“Di mana kamu melihatnya?”
“Di depan sekolah Momo. Paman laksasa itu mengikuti Momo dan Tante Maya pulang”
“A..apa?”
“Tapi, tante Maya mengatakan kalau paman laksasa itu adalah temannya. Padahal Momo tahu kalau paman laksasa itu jahat. Kemalin saja, Momo melihat tante Maya terduduk di depan pagal, pasti karena di---“ Momo segera menutup mulutnya. Ia baru teringat kalau ia sudah berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada ayahnya.
Kening Ryu berkerut. “Tante Maya terduduk di depan pagar? Mengapa tante Maya terduduk di sana?”
Momo menggelengkan kepalanya keras-keras dan tetap menutup mulutnya.
“Momo chan…”
Momo terus saja menggelengkan kepalanya. “Momo tidak boleh mengatakannya. Momo cudah janji pada tante Maya”
“Momo chan—“
“Papa, paman laksasa itu pasti datang lagi dan menculik tante Maya. Jadi papa halus menolongnya…”
Ryu menghela napasnya. “Bagaimana papa bisa menolongnya, kalau kamu tidak mau mengatakan apa yang terjadi kemarin?”
“Kemalin---aaah pokoknya papa halus mencali paman laksasa itu. Tante Maya pasti ada belsamanya”
“Paman raksasa? Siapa yang dimaksud Momo dengan paman raksasa?” tanya Ryu dalam hatinya sambil menatap Momo “Apa jangan-jangan laki-laki itu? Laki-laki yang pernah mencari Maya. Ya..pasti dia. Laki-laki itu sangat tinggi. Oleh karena itu Momo menyebutnya paman raksasa”
“Papa~”
“Jadi sekarang Maya bersamanya? Bersama laki-laki itu? Siapa sebenarnya laki-laki itu dan apa hubungannya dengan Maya?
“Papaaa….”
“Tapi benarkah Maya bersamanya?” Ryu menggeleng-gelengkan kepalanya “Bagaimana kalau bukan? Bagaimana kalau Maya sebenarnya tidak bersamanya? Jadi ke mana—“.
“PAPAAAA…..” teriak Momo keras karena Ryu hanya diam dan mengacuhkan panggilannya.
“E..eh iya, sayang” jawab Ryu yang terkejut dengan teriakan Momo.
“Jadi bagaimana, papa? Mengapa papa diam saja? Ayo kita cali paman laksasa itu”
Ryu menggelengkan kepala.
“Mengapa papa menggelengkan kepala? Papa tidak mau mencali tante Maya? Papa mau membiarkan paman laksasa itu me—“ Mata Momo berlinang air mata. Ia tidak menyangka kalau papanya tega membiarkan Maya dengan paman raksasa yang jahat itu.
“Bukan..bukan begitu, sayang” ucap Ryu sambil memeluk Momo “tapi mungkin saja kamu salah—“
“Eh?”
“Kita kan tidak melihat kalau raksasa itu membawanya” jelas Ryu “Jadi mungkin saja, tante Maya sedang pergi berjalan-jalan atau berbelanja karena ada sesuatu yang harus dibeli”
“Benalkah sepelti itu?”
Ryu mengangguk. “Jadi lebih baik, kita tunggu saja dulu sebentar. Mungkin sebentar lagi, tante Maya pulang”
“Baiklah kalau begitu” angguk Momo “Tapi, papa tidak akan pelgi kan? Papa akan menemani Momo sampai tante Maya pulang kan?”
Ryu kembali mengangguk. “Iya, papa akan menemanimu. Sekarang ayo kita ganti seragammu itu”
“Iya..”
Ryu pun menggandeng Momo masuk ke dalam kamarnya. Dalam perjalanan menuju ke sana, Ryu kembali bertanya dalam hatinya “Kamu sebenarnya ke mana, Maya? Apa kamu memang bersama laki-laki itu? Apa kamu dengan sukarela pergi dengannya atau dia memaksamu?” Ryu menghela napasnya perlahan “Kalau dia memaksamu pergi, ke mana dia membawamu?”
Ryu kembali menghela napasnya. “Sekarang, yang dapat aku lakukan hanyalah menunggu. Lekaslah pulang, Maya. Atau telponlah aku. Beritahu padaku kalau kamu baik-baik saja. Kalau kamu seperti ini, aku jadi khawatir. Aku takut terjadi hal yang buruk padamu….”
“Papa, aku mau pakai baju yang ini…”
Ryu mengangguk. “…bila kamu tidak pulang dan memberi kabar juga, mungkin aku harus menelpon polisi…”
@@@@@
(Balik lagi ke Izu…)
“Apa sekarang kamu sudah tenang, Mungil?” tanya Masumi pada Maya yang berada dalam pelukannya.
Perlahan, Maya menganggukkan kepalanya.
“Maaf….aku sungguh..sungguh minta maaf” bisik Masumi.
Maya menggelengkan kepalanya.
“Mungil….”
Maya mengangkat wajahnya dan menatap Masumi. “An..anda tidak perlu meminta maaf padaku. Anda tidak salah apa-apa padaku”
“Mungil, seandainya saja dulu---“
Maya meletakkan tangannya di bibir Masumi. “Jangan mengungkit yang telah lalu, pak Masumi”
“Tapi---“ Pandangan memohon Maya mengurungkan perkataan Masumi sehingga ia tidak melanjutkan kelimatnya dan kembali memeluk maya.
Suasana kembali hening beberapa saat.
“Boleh aku bertanya padamu?” tanya Masumi perlahan.
“Apa yang ingin anda tanyakan?”
“Mungil, mengapa kamu menghilang?”
Maya diam saja.
“Aku tahu, kamu tidak suka kalau aku mengungkit masa lalu. Tapi aku benar-benar ingin tahu, mungil” ucap Masumi “Aku benar-benar ingin tahu mengapa kamu menghilang. Apa kamu tahu kalau aku benar-benar sangat khawatir. Aku nyaris gila ketika aku tidak juga mendengar kabar tentangmu”
Dalam pelukan Masumi, Maya terkejut dengan perkataan Masumi. “Pak Masumi, khawatir padaku? Pak Masumi---“
“Jadi katakan padaku, mungil. Mengapa kamu menghilang?Mengapa kamu membuat semua orang…..membuatku khawatir dengan keadaanmu? Membuatku berpikir kalau kamu…kalau kamu sudah---“ Masumi menggelengkan kepalanya.
“Karena aku memang sudah mati, pak Masumi” jawab Maya lirih “Maya Kitajima yang anda kagumi aktingnya sudah tidak ada. Tsunami telah membawanya pergi …”
“Aku tidak percaya” sahut Masumi “aku tidak percaya kalau tsunami bisa merenggut bakatmu, kecintaanmu terhadap akting”
“Tsunami memang tidak merenggut semua itu dariku , pak Masumi. Tapi aku sudah tidak bisa berdiri di atas panggung” ucap Maya getir “Sebagai seorang artis, aku sudah tidak sempurna,aku…aku---“ air mata Maya kembali bergulir.
“Kamu apa? mengapa kamu mengatakan kalau kamu sudah sudah tidak sempurna?”
“A..aku—aku…” Maya tidak mampu mengatakannya dan hanya menggelengkan kepalanya.
“Mungil, tatap aku” ucap Masumi lembut sambil memegangi pundak Maya “katakan padaku…apa sebenarnya masalahmu sehingga kamu lebih memilih untuk menghilang dan melepaskan semuanya…melepaskan kecintaanmu terhadap akting”
Maya menatap tatapan Masumi dengan air mata yang berlinang.
“Mungil….”
“Pak Masumi…” ucap Maya yang akhirnya mencoba berbicara “ ibu Mayuko pernah mengatakan padaku kalau modal utama seorang artis adalah wajah.Karena itu—“
“Memangnya kenapa dengan wajahmu?”tanya Masumi sambil menatap Maya cemas “Aku tidak---" tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di kepalanya "luka?" tanya Masumi lagi "apa tsunami membuat wajahmu terluka, mungil?”
Maya menundukkan kepalanya. Air mata semakin mengalir deras.
“Mungil, di mana bekas luka itu? Aku tidak melihatnya”
Maya menggeleng, tapi tangannya dengan refleks menutupi bekas luka yang berada di tulang pipi kirinya.
“Jadi di sini bekas luka itu berada?” gumam Masumi sambil menimpakan tangannya di atas tangan Maya. Masumi baru mengetahuinya karena Maya selalu menutupinya rambutnya “Boleh aku melihatnya?”
Maya menggeleng.
“Mungil…biarkan aku melihatnya ya?” bujuk Masumi sambil dengan perlahan melepaskan tangan Maya.
Maya memejamkan matanya ketika Masumi melihat bekas luka yang tampak samar itu.
“Apa..apa yang dipikirkannya saat ia melihatnya? Ia pasti tidak akan menyukainya? Ah dasar bodoh….untuk apa aku mengatakannya?”
Tanpa Maya sadari, Masumi mendekatkan wajahnya dan mengecup bekas luka itu.
“Eh…Pak..pak Masumi…” ucap Maya terkejut sambil mengangkat wajahnya.
Masumi tersenyum menatap Maya. “Bekas lukamu cantik koq, mungil” bisiknya “Tidak menyeramkan seperti bekas luka gurumu..”
“Eh?”
"Benar, mungil" ucap Masumi lagi dengan yakin "bekas lukamu cantik"
Maya diam dan menatap Masumi. "mungkin anda berkata begitu karena hanya melihat bekas lukaku yang ini,anda tidak tahu kalau masih ada bekas luka lain ditubuhku yang lebih mengerikan.."
“Mungil, seharusnya kamu tidak perlu menghilang karena bekas luka ini. Bekas luka ini hanya tampak samar, kupikir dengan make-up pun masih bisa ditutupi” ucap Masumi lagi lalu kembali mengecup bekas luka itu. Menyusurinya sampai ujung.
“Se..sekarang mungkin memang tidak kelihatan, pak Masumi" ucap Maya mencoba menjawab "Tapi dulu---“
“Dulu?dulu pasti terasa sangat sakit kan?” tanya Masumi penuh penyesalan sambil membawa Maya kembali ke pelukannya.
Maya hanya diam dalam pelukan Masumi. “Sakit...tentu saja sakit....tapi masih lebih sakit hatiku ketika melihat pernikahan anda dengan nona Shiori di televisi…..ya..pak Masumi sudah menikah dengan nona shiori, jadi..aku…aku….”
Terusik dengan pikirannya, Maya mendorong tubuh Masumi.
“Mu..mungil?”
“Ki..kita tidak boleh seperti ini, pak Masumi. ..”
“Mungil, kenapa--?”
“A..aku…aku tidak mau menyakiti nona Shiori. Kalau nona Shiori tahu anda…..anda berduaan denganku. Dia pasti—“
“Aku tidak peduli”
“Pa..pak Masumi?”
“Aku sungguh tidak peduli,mungil.”
“Ta..tapi pak Ma—“
“Kumohon, mungil. Jangan menyebut namanya” pinta Masumi “Aku benar-benar tidak suka mendengar namanya”
“Eh?” Maya menatap Masumi dengan tatapan tidak percaya “Mengapa? Mengapa anda tidak suka mendengar nama nona Shiori? Bukankah dia adalah istri anda?”
“Kamu tentunya bertanya-tanya mengapa aku tidak suka kamu menyebut namanya kan?” tanya Masumi seolah dapat membaca pikiran Maya.
Perlahan, Maya menganggukkan kepalanya.
“Itu karena aku…..” Masumi menghela napasnya “Aku tidak pernah mencintainya, mungil”
“Anda tidak mencintai nona Shiori? Lalu..lalu mengapa anda menikahinya?”
“Aku terpaksa, mungil. Aku terpaksa melakukannya” ucap Masumi seolah (lagi-lagi) dapat mendengar pertanyaan Maya “Dan aku menyesalinya”.
“Pak..Masumi?” panggil Maya sambil memberanikan diri memegang pipi Masumi.
Masumi kembali mengangkat wajahnya dan mereka saling bertatapan. Selama beberapa saat, hanya ada keheningan di antara mereka. Hanya mata mereka yang saling berbicara….
Perlahan, wajah Masumi mendekat “Mungil, aku mencintaimu” bisiknya kemudian ia pun mengecup bibir Maya.
Mata Maya membelalak , kaget dengan ucapan Masumi juga kecupannya.
Masumi kembali menatap lembut Maya. “Aku..benar-benar mencintaimu, mungil..” bisiknya dan bibirnya pun kembali mendekat.
Maya tidak bergerak. Ia membiarkan bibir Masumi kembali menyentuh bibirnya. Perlahan ia menutup matanya dan dengan malu-malu membalas ciuman Masumi. “Aku juga mencintai anda, pak Masumi…….sangat mencintai anda”
Ciuman mereka baru berakhir setelah keduanya kehabisan napas. Mereka saling bertatapan dan berpelukan. “nona Shiori, maafkan aku…..sungguh maafkan aku. Biarkanlah aku merasakan pelukan pak Masumi. Biarkanlah pak Masumi menjadi milikku…. hari ini, Hanya untuk hari ini saja…”
@@@@@
Menjelang sore, Masumi mengajak Maya berjalan-jalan di pantai. Sambil menyusuri tepian pantai, Masumi menggenggam erat tangan Maya. Sesekali air laut menyapu kaki mereka.
“Apa kamu mau memancing, Mungil?” tanya Masumi tiba-tiba.
Maya menoleh dan menatap Masumi. “A..apa? memancing?”
“Iya” angguk Masumi. “Memancing. Bagaimana kalau kita memancing ikan lalu membakarnya? Rasanya pasti sangat enak..”
“Hmm..baiklah. Terserah anda saja” jawab Maya.
“Kalau begitu aku akan mengambil alat pancingnya. Kamu tunggu di sini” ucap Masumi kemudian membalikkan badannya, tapi sebelum ia pergi ia memalingkan wajahnya “Tetap di sini dan jangan ke mana-mana”
Maya mengangguk.
Setelah melihat anggukkan Maya, Masumi pun berlari menuju villanya dan tak lama kemudian kembali lagi dengan membawa alat pancing dan ember di tangannya.
“Kita akan memancing di mana, pak Masumi?” tanya Maya ketika Masumi telah berada di sampingnya “Di sini?”
Masumi menggeleng. “Untuk mendapattkan ikan yang cukup besar agar dapat dibakar, kita harus ke tengah laut” ucap Masumi.
“Eh? Tengah laut?”tanya Maya “Jadi kita harus naik perahu?”
Masumi kembali menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu”
Maya menatap Masumi heran. “Lalu bagaimana caranya kita ke sana?”
Masumi tersenyum kecil mendengar pertanyaan Maya. “Ayo, ikut aku” lanjutnya sambil berjalan.
“I..ikut ke mana?”
Masumi menghentikan langkahnya dan menoleh. “Ayo..ikuti saja aku” ucapnya dan ia pun kembali berjalan.
Maya pun mengikuti langkah Masumi.
Masumi membawa Maya ke sebuah jembatan panjang yang menjorok ke tengah laut. “Nah, kita akan memancing di sana” ucap Masumi sambil menunjuk ke ujung jembatan.
“Oh..ke sana?”
“benar” angguk Masumi “Ayo kita berjalan ke sana”
Lalu mereka pun meniti jembatan tersebut. Sesampainya di ujung jembatan, yang berada di tengah laut. Masumi meletakkan embernya di lantai jembatan dan menyerahkan alat pancingnya pada Maya. “Tolong kamu pegangi ini sebentar”. Kemudian ia pun menggulungkan lengan kemejanya, setelah itu mengambil kembali alat pancingnya dan memasang umpan dan melemparkannya ke air.
Beberapa saat mereka menunggu umpan dimakan ikan. Sore itu ternyata adalah sore keberuntungan untuk mereka (Atau Masumi??), karena tidak berapa lama kemudian umpan langsung di sambar ikan.
“Wah…dapat….kita dapat ikannya, pak Masumi..” seru Maya girang. Ia menyodorkan ember pada Masumi yang sedang melepaskan ikannya dari mata pancing dan memasukkannya pada ember kemudian setelah memasang umpannya lagi, ia kembali melemparnya ke air.
Setelah mendapatkan cukup ikan untuk di bakar, Masumi pun mengajak Maya kembali ke pantai dan membawanya menuju sebuah pohon tumbang yang ada di sana.
Masumi meletakkan embernya dan mencari ranting-ranting pohon yang banyak terdapat di pantai itu dan menyusunnya.
“Eh?” tanya Maya yang duduk di pohon tumbang itu keheranan memperhatikan Masumi “Apa yang anda lakukan?”
“Membuat api” jawab Masumi pendek sambil mengambil koreknya dari saku celananya dan menyalakannya pada ranting.
Setelah api menyala, Masumi duduk di samping Maya dan mengambil ranting lain yang panjang kemudian menusukkan ikan pada ranting tersebut dan menyerahkannya pada Maya. “Ini..” ucapnya “pegang dan letakkan di atas api. Jangan lupa ikannya dibolak-balik agar ikannya tidak gosong”
Maya mengangguk dan membakar ikannya sementara Masumi mengambil ranting lainnya dan menusukkan ikannya kembali lalu membakarnya.
Tak lama kemudian, bau harum ikan bakar memenuhi udara.
“Wuaa..ikanku sudah matang” seru Maya “Sepertinya enak” lanjutnya sambil mengendus ikan itu kemudian mencuilnya sedikit. “Wah..memang enak, pak Masumi”
“Tentu saja, mungil” ucap Masumi mengiyakan “Ikan yang baru di ambil dari laut memang paling enak”
Dan mereka berdua pun memakan ikan mereka masing-masing.
Selesai makan, Maya menyandarkan kepalanya di bahu Masumi dan memandang lurus ke arah laut. Cakrawala tampak berwarna jingga, dan sebuah bulatan merah besar tampak terlihat di sana. Matahari sebentar lagi akan tenggelam.
“Hmm..pak Masumi?”
“Apa?”
“Bolehkah aku meminta sesuatu pada anda?”
Masumi mengerutkan keningnya. “Apa yang kamu mau?”
“Aku ingin….ingin—“
“Ingin apa, mungil?”
Maya mengangkat kepalanya dan menatap Masumi. “Aku ingin mendengar anda bernyanyi..”
“Eh? Apaa?” tanya Masumi terkejut.
“Menyanyi, pak Masumi” ucap Maya “Bernyanyilah untukku, pak Masumi”
“Mungil,aku tidak bisa bernyanyi”
“Bohong..” seru Maya tidak percaya.
Masumi menghela napasnya. “Aku memang benar-benar tidak bisa bernyanyi”
“Pak Masumii….please….ayolah bernyanyilah sedikit untukku” pinta Maya.
“Mungil, aku—“:
Maya mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya. “Pak Masumi pelit. Masa aku tidak boleh mendengar pak Masumi bernyanyi”
Masumi kembali menghela napasnya. “Baiklah..baiklah” ucapnya menyerah.
Maya kembali menatap Masumi dengan wajah gembira. “Benarkah anda mau bernyanyi untukku?”
Dengan enggan, Masumi pun mengangguk. “Tapi, jangan menertawakan aku ya..”
“Tidak..tidak akan..” janji Maya kemudian kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Masumi.
Masumi menghembuskan napasnya dan mendehem lalu dengan suara lembut ia pun mulai menyanyi….
suatu hari di kala kita duduk di tepi pantai
dan memandang ombak di lautan yang kian menepi
burung camar terbang bermain di derunya air
suara alam ini hangatkan jiwa kita
Maya mengangkat kepalanya dan menatap Masumi.
Masumi hanya tersenyum dan melanjutkan nyanyiannya dengan suara perlahan sambil membalas tatapan Maya.
sementara….sinar surya perlahan mulai tenggelam
suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta
ada hati membara erat bersatu
getar seluruh jiwa tercurah saat itu
kemesraan ini janganlah cepat berlalu
kemesraan ini ingin ku ulang selalu
hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu
hatiku damai, jiwaku tentram bersamamu…..
(*maap ye, kalo Masumi nyanyi-nya lagu Indonesia, jadul lagi soalnya saia suka banget ama lagunya om Iwan Fals *eh?* wkekekekekeke… :p)
Masumi mengakhiri nyanyiannya dan terus menatap Maya. Tatapan mereka terkunci dan selama beberapa saat mereka saling bertatapan.
Lalu perlahan, wajah Masumi mendekati wajah Maya. Mendekat dan semakin mendekat….Bibir mereka saling bersentuhan. Dan mereka pun berciuman. Bertepatan dengan itu, matahari memberikan sinar terakhirnya kemudian menghilang di batas cakrawala.
Bersambung ke part 07

bwakakakakakak kebayang klo Ryu telpon polisi .
BalasHapustrus Maya di bilang ilang .
trus Masumi ditangkap dgn tuduhan menculik Maya .
rame dahhhh
* gw bakar menyan dulu dah biar cepet diupdate *
semoga cepet update pas dpotong di bagian seruuuuuuuuuuuuuuuuuu haduhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh membuat penasarrrrrannnnnnnnnnnnnnnnnn
BalasHapusg sabar nunggu lanjutny
BalasHapusseruuuuuu tabir terbukalah wkwkwkwkwwk Ryu harus tau siapa Masumi terlebih lagi si nenek sihir, dia musti tau klo Maya ternyata masih hidup.......
BalasHapusayo sist Betty bakar yg banyak menyannya biar apdetannya tambah banyak n gak lama2..... :DDDD
busetttttttttt lagunyaaaaaaaaaaaaaaa
BalasHapuswakakakakakakakakak
ngomong2 ikan gurame bakar cobek gw belon kesentuh nih
makan dulu dah ah
wkakakaka juga :p
Hapusbagi dunk guramenyah om bet, jangan makan sendiri ajah...
gara2 nyanyi , image masumi yg cool langsung lumer .wakakakakakak
Hapusmarih marih sinih ...lagi bukber nih .
udh bbrp hr bukber mulu .perut buncit dah
hahaha
wkwwwkwk...demi maya apa pun dilakukan masumi sampai nayanyi pun dituruti
BalasHapusiya dunk demi saia eh maya, apapun harus diturutin :)
Hapusya ampunnnnn okeeeeee izu dan lagu kemesraan okeeeeee wkwkwk pusingg sayaaaaaaaaa.....busetttttt asliiii kreatifffff abissss
BalasHapuskenapah jadi pusing, mom linda? Ati-ati jatoh wkwkwkwk :p
Hapuslanjutttt kalo dia bener2 nyanyi wewww kerennn abissss
Hapuspan ditopang oleh masumi kalo jatuh wkwkwkwk #ngarep3...hihih kabur sebelum disabet ama suamiii ahhhh
cupidzzzz....kangen nih ma cipud ehhh...cupid. So sweeeeettttttt. Mau dong dinyanyiin ma Masumi.
BalasHapussaia juga kangeeen *hug* <3<3<3
HapusKata masumi, kalo mo dinyanyiin harus bayar xixixixi...
kemesraan iniiii.... janganlah cepat berlaluu...
BalasHapus*untung masumi ga sembari megang kecrekan