Halaman

Sabtu, 10 November 2012

1001 Mawar Ungu part 08


Setelah Ryu menghentikan mobilnya di depan kantor polisi, Maya bergegas keluar diikuti Kaoru. Dengan setengah berlari, ia masuk ke dalam dan mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Masumi. Dan ia pun melihat Masumi yang sedang duduk membelakanginya dan berbicara dengan seorang polisi.


"Pak Masumiiii...." panggil  Maya sambil menghampiri Masumi.

Masumi yang mendengar panggilan Maya perlahan membalikkan badannya. "Mu...mungil...." ucapnya sambil berdiri dari duduknya

Maya mendekati Masumi dan memegang lengannya. "Maaf...maafkan aku, pak Masumi" ucap maya sambil menatap lekat Masumi.

"Eh?maaf?"Kening Masumi berkerut. "Mengapa kamu minta maaf padaku?”

"Karena.....semua ini gara-gara aku" jawab Maya "gara-gara aku, anda jadi harus berurusan dengan polisi"

"Tidak mungil. Ini bukan--"

"Iya, pak Masumi" potong Maya "ini gara-gara aku. Kalau saja kemarin aku tidak lupa menelpon Kaoru atau kak Ryu, mereka pasti tidak akan melaporkan anda ke polisi"

Wajah Masumi tampak terkejut. "Jadi mereka...mereka yang---"

"Benar, pak Masumi" jawab Ryu yang telah menyusul masuk ke dalam kantor polisi dan bergabung bersama mereka "kami yang telah melaporkan anda"

"Ka..kalian--" Masumi menatap tajam Ryu dan Kaoru bergantian.

"Kami benar-benar minta maaf, pak Masumi" ucap Ryu "Kami melakukan ini karena kami terlalu khawatir dan takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Maya"

Masumi belum melepaskan tatapan tajamnya pada mereka berdua.

"Pak Masumi---" panggil Maya sehingga mengalihkan pandangan Masumi dan menatap Maya "Jangan salahkan mereka. Ini gara-gara aku. Kalau saja kemarin aku menghubungi Kaoru. Tentu kejadian ini tidak akan terjadi..."

"Mu...mungil....”

"Maafkan aku, pak Masumi. Sungguh maafkan aku"

"Tidak...ini bukan salahmu...." Sahut Masumi sambil menarik Maya ke dalam pelukannya "Kamu tidak usah minta maaf padaku. Ini benar-benar bukan salahmu"

Di tempat lain, Shiori yang masih belum percaya bahwa  Maya masih hidup tampak sangat syok dan semakin syok  ketika melihat Masumi memeluk Maya tepat di hadapannya. Wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya gemetar. Ia meremas kencang saputangan yang dipegangnya.

"Nyonya...." panggil polisi yang melihat keadaan Shiori.

Shiori  tak bergeming. Tatapan matanya tidak lepas dari Masumi dan Maya yang masih berpelukan.

Akhirnya polisi itu hanya bisa menghela napasnya. Ia menatap Shiori dengan tatapan kasihan dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pasangan di depannya yang masih berpelukan erat.

"Ehem...." dehem polisi itu keras "maaf, pak Masumi.." ucapnya tenang "apa anda bisa duduk kembali di sini dan melanjutkan tanya jawab kita?"

Mendengar perkataan polisi, membuat Masumi juga Maya melonjak kaget. Mereka pun segera melepaskan pelukannya.

Wajah Maya tampak merah karena malu. Ia benar-benar lupa sedang berada di kantor polisi. Cepat-cepat ia menundukkan kepalanya.Tidak berani melihat sekelilingnya.

Berbeda dengan Maya, Masumi tampak tidak terpengaruh. Wajahnya tetap datar. "Tunggu sebentar di sini ya mungil" bisiknya kemudian ia pun berbalik dan kembali duduk berhadapan dengan polisi.

"Sekarang sudah jelas kan pak polisi" ucap Masumi "saya tidak menculiknya..."

"Benar pak polisi" Ryu ikut bicara "Ini hanya salah paham saja"

Polisi itu mengangkat kedua alisnya.

"'Kedatangan kami ke sini untuk mencabut tuntutan kami terhadap pak Masumi" lanjut ryu lagi.

"Anda sudah mendengarnya kan, pak polisi?" ucap Masumi "Mereka sudah mencabut tuntutan mereka, jadi apa saya sudah boleh pergi dari sini sekarang?"

Polisi menatap Ryu dan Kaoru "kalian benar-benar akan mencabut tuntutan kalian?"

"Iya, pak" angguk keduanya "Kami sudah mengetahui kalau pak Masumi ternyata tidak menculik Maya" jelas Ryu.

"Baiklah kalau begitu" ucap polisi itu "Karena kalian sudah mencabut tuntutannya maka kasus ini selesai" lanjutnya "Kalau begitu anda dapat per--" polisi itu tidak menyelesaikan kalimatnya ketika tampak sengaja melihat Shiori yang masih diam membisu.

"Nyonya..."panggil polisi itu tiba-tiba pada Shiori "Apa anda mau menuntut suami anda?"

"Eh...ap...Apa....?" seru Shiori terkejut dengan pertanyaan polisi itu. Di sebelahnya Masumi pun tidak kalah terkejut.

"Apa anda mau menuntut suami anda?" ulang polisi itu dengan tenang "ehm…mungkin atas perselingkuhan yang dilakukannya di depan mata anda sendiri"

Shiori membelalakkan matanya tidak percaya. Polisi itu menyarankannya menuntut masumi karena berselingkuh. "Haruskah...haruskah aku menuntutnya?" tanya Shiori dalam hati. Perlahan ia pun menoleh menatap Masumi yang sedang balas menatapnya. Tatapan yang tidak dapat diartikan olehnya.

"Bagaimana, nyonya?" tanya polisi itu lagi.

Masumi menatap polisi itu dengan raut wajah tidak senang. "Apa yang sebenarnya anda lakukan?" tanyanya "Mengapa anda terus mendesaknya?"

Polisi itu hanya membalas tatapan Masumi dengan tenang "Saya hanya ingin membantu istri anda, pak Masumi. Istri anda tampak sangat tertekan dengan apa yang anda lakukan tadi di hadapannya" Lalu ia pun kembali menatap Shiori. "Bagaimana nyonya? Apa anda mau menuntutnya?"

"I....itu---"

"Anda tidak usah takut, nyonya" ucap polisi itu menenangkan "Katakan saja apa keinginan anda. Kami akan melindungi anda"

Shiori menatap polisi itu yang tersenyum menenangkan padanya kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Masumi.

"Pak polisi....." ucap shiori akhirnya sambil kembali menatap polisi itu "sa...saya---"

"Nona---" 

Dengan cepat Kaoru menahan tangan Maya yang akan memanggil Shiori dan mendekatinya.  "Jangan" geleng Kaoru.


Maya menatap Kaoru. "Tapi Kaoru....aku tidak bisa membiarkan---"

"Maya, bila sekarang kamu ikut campur,  kamu akan membuat masalah semakin--"

"Tapi, Kaoru---"

"Maya, di depan matanya kalian berpelukan. Belum lagi ia juga tahu kalau semalaman kalian bersama. Coba kamu pikir bagaimana perasaannya?"

"A...aku---"

"Jadi sebaiknya sekarang kamu diam dan jangan ikut campur urusan mereka.”

"Kaoru......Aku tidak bisa membuat pak Masumi di--" Maya tidak sempat  menyelesaikan kalimatnya karena Shiori melanjutkan kalimatnya " Saya....tidak akan menuntutnya, pak polisi"

"Benarkah?" tanya polisi itu tidak percaya "apa anda takut pada---"

"Pak polisi" bentak Masumi menjadi emosi karena polisi itu terus mendesaknya "apa anda tidak mendengar perkataannya?"

Polisi itu menatap Masumi kemudian kembali menatap Shiori dan menghela napasnya. "Baiklah kalau itu keputusan anda, saya tidak akan memaksa. Tapi bila anda berubah pikiran---"

"Ya...saya tahu, pak polisi tapi untuk saat ini, saya tidak ingin menuntutnya"

"Anda benar-benar yakin?"

"Pak polisi...." Masumi benar-benar kesal "Anda sudah mendengar perkataannya kan? Jadi anda tidak perlu mendesaknya lagi"

"Saya yakin, pak. Sangat yakin" jawab Shiori.

Polisi itu menatap Shiori, meminta kepastian dan ketika dilihatnya Shiori menganggukkan kepalanya, ia pun berkata "Baiklah kalau begitu--"

"Jadi kami boleh pergi?" sela masumi tidak sabar.

"Ya....” angguk polisi itu “Karena semua permasalahannya telah selesai, anda boleh pergi"

"Terima kasih" ucap Masumi kemudian ia beranjak dari kursinya. Ia menatap shiori "kamu datang dengan sopirmu?"

Shiori mengangguk.

"Kalau begitu kamu pulanglah dulu---"

"Ma...masumi....kamu tidak bisa ikut pulang denganku?"

Masumi menggeleng. "Maaf, Shiori. Ada urusan yang harus aku selesaikan". Masumi pun melangkahkan kakinya menjauhi Shiori kemudian menggandeng tangan Maya dan menariknya keluar dari kantor polisi.

Hati shiori terasa sakit melihat itu. Masumi...lebih memilih pergi bersama Maya daripada dengannya.... Ia meremas kencang sapu tangannya.

"Nyonya...lebih baik anda tuntut saja suami anda yang tidak tahu berterima kasih itu" ucap polisi yang juga melihat kejadian itu.

Harusnya...ya seharusnya aku menuntutnya karena ia mengkhianatiku tapi.....aku tidak mampu melakukannya. Aku terlalu mencintainya.......

"Tidak...saya tidak akan melakukannya..."

"Nyonya?"

"Saya permisi dulu, pak polisi" Shiori pun bangun dari duduknya dan keluar dari kantor polisi.

@@@@@

Di dalam mobil yang akan membawanya kembali ke apartemen, Shiori tidak mampu lagi membendung perasaannya. Air mata membasahi pipi mulusnya. Sedih, sakit, benci dan kecewa bercampur aduk menjadi satu.

"Berhenti....berhenti di sini, pak" seru Shiori tiba-tiba.

Sopir Shiori pun meminggirkan mobilnya dan menoleh pada Shiori. Ia menatap majikannya itu dengan tatapan tidak mengerti "Nyonya, mengapa---"

"Aku mau jalan-jalan  sebentar" potong Shiori kemudian ia membuka pintu "Kamu pulang saja dulu" lanjutnya kemudian ia keluar dari mobil.

@@@@@

Shiori berjalan tanpa tujuan. Ketika dilihatnya sebuah cafe, ia pun masuk ke dalam. Keadaan cafe itu sepi sehingga setelah memesan secangkir teh, ia mengambil tempat di salah satu sudut. "Berakhir....kini semuanya sudah berakhir" gumam Shiori sambil mengaduk-aduk tehnya " Mulai sekarang....aku akan benar-benar kehilangan Masumi..." Air mata menitik di sudut matanya "Masumiii...."

"Nona Shiori..."panggil seseorang "Ah salah...seharusnya saya memanggil anda Nyonya Hayami...."

Mendengar panggilan itu, Shiori mengangkat wajahnya dan langsung terkejut ketika melihat pria yang berdiri di hadapannya.

"Ka..kamu---"

Pria itu tersenyum melihat keterkejutan Shiori  "Anda masih mengenali saya, Nyonya?"

"Kamu---"

"Bagaimana kabar anda sekarang, Nyonya?" tanya pria itu "Ah....tidak perlu dijawab, saya lihat anda tidak tampak baik. Boleh saya duduk di sini?" tanyanya lagi sambil menunjuk kursi kosong yang berhadapan dengan Shiori dan tanpa menunggu jawaban, ia pun duduk di sana.

Shiori belum dapat berkata apapun, ia hanya diam menatap pria yang duduk berhadapan dengannya.

Pria itu membalas tatapan Shiori "Lama tidak bertemu, anda masih saja terlihat cantik, Nyonya" ucapnya "Tapi sayang....kecantikan anda itu sekarang tertutup oleh air mata yang membasahi wajah anda" ia menghembuskan napasnya "Saya menduga air mata itu pasti disebabkan oleh suami anda. Benar kan?"

"Dari mana kamu---"

Pria itu tersenyum kecil.  "Nyonya, bukankah saya telah memberitahukan pada anda kalau suami anda itu---"

"Memberitahu?" seru Shiori "Jadi....jadi kamu orang yang menelponku dan mengirimiku foto---"

"Benar" angguk pria itu “Aku yang melakukannya”

"Mengapa? Mengapa kamu melakukan hal itu padaku?"

"Nyonya.....saya hanya ingin anda membuka mata anda" ucap pria itu "Masumi.....suami anda itu bukanlah pria yang baik. Jadi untuk apa anda---"

"Aku mencintainya" bisik Shiori "aku sangat mencintainya..."

Pria itu menghela napasnya "Sudah 3 tahun berlalu, Nyonya. Tapi perasaan suami anda tetap saja tidak berubah. Dia mencintai gadis mungil itu---"

"Tidak......itu tidak benar"

"Tidak benar?" Pria itu mengangkat kedua alisnya " \Bukankah suami anda lebih memilih pergi dengan gadis mungil itu daripada dengan anda?"

Shiori menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Nyonya, sadarlah. Jangan menyiksa diri anda seperti itu. Raihlah kebahagiaan anda sendiri. Jangan mengharapkan suami anda---"

"Tidak....aku tidak mau kehilangan dia. Aku tidak rela---"

"Nyonya---"

Shiori menatap pria di depannya lekat, "Jin...." ucapnya  memanggil nama pria itu "Kumohon....bantu aku. Bantu aku mendapatkan dia kembali"

"Nyonya...."

"Bukankah dulu.....kamu selalu melindungi dan membantuku? Jadi tolong.....bantu aku. Bantu aku untuk mendapatkannya kembali"

Jin menghela napasnya dan menatap lekat mantan majikannya. Ya....dulu ia bekerja sebagai bodyguard di keluarga Takamiya. Tugas utamanya saat itu adalah melindungi Shiori. Tak lama, setelah Shiori menikah dengan Masumi, ia mengundurkan diri dan pergi ke Amerika.

"Jin, kumohon......"

"Nyonya, dulu saya pernah membantu anda. Menjebak Masumi agar dapat menjadi suami anda, tapi ternyata itu hanya membuat anda menderita. Jadi---"

"Tidak" geleng Shiori "aku tidak menderita"

"Nyo--nya..."

"Bila aku kehilangannya, baru aku menderita"

Jin  kembali menghela napasnya melihat keteguhan hati Shiori.

"Kumohon, bantulah aku. Aku tidak mau kehilangan Masumi " Shiori menatap Jin  penuh permohonan "aku benar-benar tidak mau kehilangan dia"

Jin terdiam. Berpikir dan mempertimbangkan sesuatu. "Baiklah" angguk Jin  akhirnya "saya akan membantu anda. Tapi---"

"Tapi apa?"

"Anda harus bisa membuat suami anda pulang ke apartemen anda terlebih dahulu” ucap Jin “Lalu setelah itu, kita akan memikirkan cara untuk memisahkan suami anda dari gadis mungil itu dan mendapatkan suami anda kembali”.

@@@@@

Masumi membawa Maya ke Daito.  Tidak mempedulikan tatapan terkejut Mizuki yang melihat Maya masih hidup,  ia menggandeng Maya masuk ke dalam ruangannya. "Mizuki, aku tidak mau diganggu siapa pun" tegasnya.  Dan tanpa menunggu jawaban Mizuki, Masumi menutup pintu ruangannya.

"Kita duduk saja di sana, mungil" ucap Masumi sambil berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya.

Maya mengangguk dan mengikuti Masumi kemudian duduk di samping Masumi.

"Kamu mau minum sesuatu?"

Maya menggeleng. "Ehm....pak Masumi?" tanyanya kemudian.

"Apa?"

"Memangnya tidak apa-apa?"

Masumi mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Maya. "Apa yang memangnya tidak apa-apa itu, mungil?"

"Anda.....meninggalkan nona...eh nyonya Shiori begitu saja di kantor polisi. Harusnya anda pergi dengannya bukan denganku"

"Hmm...tidak apa-apa" jawab Masumi "Mungkin dengan begini, Shiori akan mengerti kalau aku memang lebih ingin bersamamu daripada bersamanya--"

"Pak Masumi---"  Mau tidak mau ucapan Masumi membuat wajah Maya memerah. Dan membuat Masumi tersenyum.

"Aku benar-benar berharap Shiori mau segera menandatangani surat perceraian kami dan--"

Maya menatap tidak percaya Masumi. "An--anda akan benar-benar bercerai--"

"Ya..." angguk Masumi membalas tatapan Maya "Semakin cepat semakin baik agar kita dapat segera bersama"

"Pak Masumi......"

Perlahan, tangan Masumi terangkat dan menyentuh pipi Maya dan dengan ibu jari mengusapnya lembut "Aku ingin segera dapat bersama denganmu, mungil. Aku tidak mau menundanya lagi...."

"Tapi.....nona Shio---"

"Sssh....." Masumi meletakkan jarinya di bibir Maya. "Jangan menyebut namanya, mungil. Jangan merusak kebersamaan kita"  Lalu wajahnya bergerak mendekati wajah maya. Dan dengan lembut bibirnya menyapu bibir Maya. "Aku mencintaimu, mungil.....sangat mencintaimu....." bisik Masumi. "Kamu mau kan hidup bersama denganku?" tanyanya sambil menatap lekat mata Maya.

Maya membalas tatapan Masumi. Sebersit keraguan terlihat di matanya. "Pak Masumi, a...aku---" Tidak sadar, tangannya menyentuh bekas luka di pipinya "pantaskah aku.....yang cacat ini bersama dengan pak Masumi yang---"

"Mungil..." Masumi menumpukkan tangannya di atas tangan Maya yang masih berada di pipinya "Bukankah aku mengatakan kalau bekas luka ini cantik?"

"Bohong....pak Masumi pembohong"

Masumi tersenyum "Aku tidak bohong, mungil. Bagiku, bekas luka ini memang cantik"

Maya terdiam. Tapi dari sorot matanya terlihat ia tidak mempercayai ucapan masumi.

Masumi menghela napasnya. "Baiklah. bagaimana kalau kamu menggores pipi kiriku---“

"A..apa..” Maya membelalakkan matanya karena terkejut dengan perkataan Masumi.

"Mungil, aku rela kamu melukai pipiku---“

“Pak..pak Masumi---“

“Bagaimana kalau kamu membuat tanda silang di pipiku ini?” Masumi membawa tangan maya yang masih dipegangnya ke pipinya sendiri  "Supaya aku jadi seperti Rurouni Kenshin, si samurai X---"

"Hah…”

"Jadi kita sama-sama memiliki bekas luka. Apa dengan begitu kamu mau menerimaku?"

"Pak Masumi---"

"Bagaimana, mungil? Aku cocok kan kalau berubah menjadi Samurai X...hahahaha......."

Maya  langsung terkikik karena melihat Masumi yang  merentangkan tangan kanannya ke samping dan tangan kirinya di dada. "pak Masumi.....itu bukan gaya Samurai X..."

"Oh...salah ya?" Masumi mengerutkan dahinya.

Maya mengangguk. "Itu gaya pahlawan bertopeng...." sahut Maya. Ia pun meniru gaya itu "Akulah pahlawan bertopeng...hahahaha...."

Masumi tersenyum melihatnya. "Jadi...bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana?"

"Kamu mau menerimaku kalau aku berubah jadi pahlawan bertopeng---"

"Eh?"

"Atau Samurai X?"

"Pak Masumiii---"

"Bagaimana, mungil?" desak Masumi "Kamu sudah membuatku mempermalukan diriku sendiri dengan bergaya seperti itu. Kalau saja Mizuki atau bawahanku melihat. Aku---"

"Direktur daito…." sambung Maya "….yang dingin dan gila kerja---"ia menutup mulutnya dan kembali terkikik.

"Nah kan..kamu sendiri tahu kalau imej aku seperti itu. Kamu bisa bayangkan bagaimana reaksi mereka kalau mereka melihat aku seperti---“

“Lucu, pak Masumi…..pasti lucu…” Tawa Maya berderai.

Masumi menatap Maya yang sedang tertawa. Hatinya merasa senang melihat Maya tertawa seperti itu. Sudah lama…..sangat lama ia tidak melihatnya.  “Mungil—“

“Pak Masumi…” Maya menyela ucapan masumi. .

“Hmm…”

“Boleh aku meminta anda melakukannya lagi?”

“Apa?” Kedua alis tebal Masumi terangkat.
.
"Anda mau meniru gaya pahlawan bertopeng lagi?"

"Mu…mungil...."

"Ulang dong, pak Masumi" pinta Maya "aku kan belum merekamnya di ponselku" ia pun mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.

"Mungil, kamu---"

"Ayo, pak masumi.....mulai"

Masumi menggelengkan kepalanya. "Tidak ada siaran ulang”

“Pak Masumi---“

“Kamu jawab dulu pertanyaanku”

Maya menatap polos wajah Masumi dan mengerutkan dahinya. “Pertanyaan? Pertanyaan yang mana?”

“Mungiiil…” seru Masumi gemas.

“Aku lupa, pak Masumi” Maya membela diri “Gara-gara anda sih. Ingin menjadi samurai X tapi bergaya pahlawan bertopeng” Dan Maya kembali terkikik mengingat apa yang Masumi lakukan.

Masumi menghela napasnya. “Mungil, aku serius---“ Ia menatap lekat mata Maya “Aku benar-benar rela---“

Ucapan Masumi terputus karena tangan Maya menutup bibirnya. “Tidak….aku tidak mau---“Maya menggelengkan kepalanya.  “Aku benar-benar tidak mau anda menjadi Samurai X atau siapapun….”

Masumi memegang tangan Maya yang berada di bibirnya dan menggenggamnya. “Mu..mungil---“

“Pak Masumi….. Aku….aku hanya ingin anda menjadi mawar ungu…..” Maya terdiam sejenak tapi tidak melepaskan tatapannya “Mawar ungu yang sangat aku cintai”

Masumi terperangah mendengar ucapan Maya. Ia benar-benar tidak mempercayainya. “Ka..kamu mengatakan apa?”

Tangan Maya yang bebas, terulur dan menyentuh pipi Masumi. “Aku tidak mau melukai pipi ini. Aku tidak mau---“

"Mungil...."

 “Pak Masumi….aku adalah milik anda” ucap Maya perlahan. Matanya menatap penuh kesungguhan pada mata Masumi  “Sudah sejak dulu….hati dan cintaku adalah milik anda”

Cup

Dengan tiba-tiba, Maya mengecup bibir Masumi. "Aku....mencintai anda, pak Masumi" bisik Maya "Sangat mencintai anda"

Apa yang dilakukan Maya membuat Masumi terperangah. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Maya akan menyatakan perasaannya dan berinisiatif mengecup bibirnya terlebih dulu. Ia benar-benar tidak percaya itu.  "Mu….mungil...."

"Aku ingin selalu bersama dengan anda dan tidak ingin berpisah dari anda—“ lanjut Maya dan wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedih. Mata maya tampak berkaca-kaca. “Ta…tapi---"

Cup

Kali ini, giliran Masumi mengecup bibir Maya agar gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya "Tidak ada kata tapi, mungil..." bisiknya kemudian ia menarik Maya ke dalam pelukannya dan memeluknya erat.  "Kita akan selalu bersama, mungil. Kita tidak akan berpisah" bisiknya lagi "Tidak akan ada yang dapat memisahkan kita lagi"

"Pak Masumi...."

Masumi menatap Maya. Lalu ia kembali  mendekatkan wajahnya ke wajah Maya dan mencium lembut bibir gadis mungil itu.

Maya membalas ciuman masumi dan melingkarkan tangannya ke leher Masumi. Mereka pun saling berciuman. ciuman panjang sampai keduanya kehabisan napas.

Masumi melepas ciumannya dan menatap Maya. Mereka saling bertatapan tanpa saling berbicara, lalu perlahan Masumi membaringkan tubuh Maya ke sofa dan menindihnya.

Masumi menunduk dan kembali akan  mencium bibir Maya, tapi gerakannya itu terhenti karena tangan Maya menahan dadanya sehingga membuat Masumi menatap Maya dengan tatapan bertanya.

"Pak Masumi...." bisik Maya "Jangan---" Ia menggelengkan kepalanya "Bagaimana kalau nona Mizuki tiba-tiba masuk---"

"Dia tidak akan berani masuk dan mengganggu kita" jawab Masumi "jadi----" Masumi kembali menundukkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya ke bibir Maya.

Kriiiiing.....

"Pak Masumiii---" Maya mendorong tubuh Masumi "Ponsel anda---"

Masumi menghela napasnya kemudian  bangun lalu berjalan menuju meja kerjanya dan meraih ponselnya.

Dalam layar ponselnya, terlihat satu nama, Shiori........

 

11 komentar:

  1. haiiih...berpelukan didepan shiori n didepan umum???

    masumi kebablasn ya :)
    #tepok jidat

    lanjut sista


    yenni

    BalasHapus
  2. masih kurang banyaaakkkk updatenya,,,
    Apa shiory akan menuntut masumi krn selingkuh dgn maya yg ternyata masih hidup??
    Lanjuuutttt,,,, lagi ya cute
    Mutia na rival

    BalasHapus
  3. cupiiid cupiiiid.... bener2 berhasil bikin org penasaran.. bageeeeeuuuusss *gelenggeleng

    BalasHapus
  4. Apuaaa!! After all this time apdetnya cuma seginiiih?! Dan itu pak polisi kurang ajar sekali pake ngasih ide nuntut masumi segala.

    BalasHapus
  5. haduuuhhh shiori nyerah aja deh ngga usah nuntut segala abiz tenaga, waktu dan jg uang

    BalasHapus
  6. jgn lama2 updatenya y cupid sayaang...

    nida

    BalasHapus
  7. setuju...tuntut aja, biar sluruh jepang bahkn dunia tau klo masumi g cinta shiori malahn selingkuh ma maya, skalian aja tuntut cerai biar MM bsatu
    *lanjut lagi

    BalasHapus
  8. belum ada tambahan updatenya ya,,, lanjut duuunkk ;(
    Mutia na rival

    BalasHapus
  9. Cupid cuantik
    ...kapan nih cerita di lanjut...ditunggu lho

    BalasHapus
  10. aduuuhhh,,,,telepon ganggu aja nh kan lagi asyikk. Hehehe makasih cupid,,,jangan lama2 lanjutannya ya,,,
    Lie to me udah ada lanjutannya blum??
    Mutia na Rival

    BalasHapus
  11. waduh apa yg ini juga dilanjutinnya tahun depan yaa??? ;(
    Cuuuuttteeeeee,,,, mana updatetannyaaaa
    Mutia na Rival

    BalasHapus