"Mau apa
dia menelponku" gumam Masumi sambil menatap layar ponselnya.
"Anda....anda
bicara apa, pak Masumi?" tanya Maya yang tidak jelas mendengar gumaman
Masumi.
"Tidak,
mungil" sahut Masumi "Bukan apa-apa..."
"Lalu....lalu
mengapa telponnya tidak anda angkat?" tanya Maya lagi heran karena melihat
Masumi hanya memegangi ponselnya dan ponsel itu masih saja terus berdering
"Memangnya siapa yang menelpon anda?"
Masumi
menghembuskan napasnya. "Shiori."
"Eh..no..nona
Shiori menelpon anda?"
"Kalau
begitu, mengapa anda tidak mengangkatnya?"
"Aku malas
bicara dengannya"
"Pak...pak
Masumi...anda tidak boleh begitu. Siapa tahu saja ada hal penting sehingga nona
Shiori menelpon anda"
"Mungil"
"Pak
Masumi.....bicaralah dengan nona Shiori"bujuk Maya "Ti..tidak baik
bila anda bersikap seperti itu padanya"
"Mu...ngil"
Sesaat....keduanya
saling bertatapan.
"Jawablah
telponnya, pak Masumi...."
Masumi menghela
napasnya. "Hmm...baiklah" angguknya lalu ia pun menerima telpon dari
Shiori.
@@@@@
"Shiori, ada apa?" tanya Masumi begitu telpon diterimanya.
"Dia...dia
masih mau menerima telponku"pikir Shiori senang ketika mendengar suara
Masumi.
"Shiori???"
"Ah..eh
iya, Masumi...."
"Ada apa kamu
menelpon?" ulang Masumi.
"Aku---"
"Katakan
cepat" suara Masumi terdengar tidak sabar.
"Ma...masumi,
nanti malam kamu...kamu akan pulang ke apartemen kita kan?”
"Eh?"
"Kamu akan
pulang kan,
Masumi?"
Terdengar helaan
napas. "Shiori, maaf aku---"
"Kalau
begitu, kamu bisa menemuiku sebentar.....Sebentar saja di apartemen kita"
"Apa???"
"Aku ingin
bertemu denganmu, Masumi. Karena ada yang ingin aku---"
"Shiori,
aku tidak bisa. Aku tidak---"
"Masumi,
kamu harus menemuiku karena a....aku....aku ingin kita menandatangani surat permohonan
perceraian kita"
"Apaa....."
Suara Masumi terdengar terkejut.
"Aku....aku
bersedia cerai denganmu--"
"Benarkah
itu?"
"I..iya
karena itu---"
"Kalau
begitu aku akan meminta pengacaraku---"
"Tidak"
potong Shiori cepat.
"Eh?
Tidak?"
"A...aku
setuju bercerai denganmu bila kamu bersedia datang menemuiku di apartemen kita
malam ini"
Hening....
"Masumi???"
tanya Shiori ketika ia tidak juga mendengar jawaban apapun dari Masumi.
"Mengapa?"
"Eh?"
"Ini pasti
hanya akal-akalanmu saja kan,
Shiori? Supaya aku mau menemuimu lagi"
"Masumi...."
Shiori membuat suaranya terdengar sedih "Tega-teganya kamu menuduhku
seperti itu"
"Lalu
mengapa tiba-tiba kamu setuju untuk bercerai denganku?Bukankah kamu selalu
menolak bila aku ingin bercerai denganmu?"
"Karena....karena
akhirnya aku sadar. Saat melihatmu memeluk gadis mungil itu di kantor polisi,
aku tahu kalau....kalau kamu benar-benar mencintainya. Jadi aku.....aku
menyerah, Masumi. Aku....akan melepaskanmu agar kamu dapat meraih kebahagiaanmu
bersamanya"
Masumi kembali
tidak berkata apapun.
"Ma....masumi...???"
"Hmm....baiklah"
ucap Masumi akhirnya "Nanti malam aku akan menemuimu. Tapi hanya
sebentar, Shiori" tegasnya "Setelah surat itu kita tandatangani. Aku pergi"
Shiori
mengangguk. "Terima kasih, Masumi. Aku...aku tunggu
kedatanganmu"
Klik....pembicaraan
pun berakhir.
Setelah telpon
ditutup, Shiori menatap Jin. "Nanti malam, dia akan datang ke apartemen
kami"
"Bagus"
sahut Jin menganggukkan kepalanya.
@@@@@
Masumi masih berdiri mematung begitu telpon ditutup. Ia sama sekali tidak mempercayai pendengarannya. Shiori.....Shiori akan menandatangani surat permohonan perceraian mereka? Jadi akhirnya Shiori menyerah dan mau bercerai darinya???
"Pak
Masumi?" panggil Maya karena melihat Masumi hanya berdiri mematung setelah
menerima telpon "Ada
apa? Mengapa anda diam saja di sana?
No...nona Shiori mengatakan apa pada anda?"
Masumi menghela
napas kemudian berjalan mendekati Maya. "Dia--" ucapnya sambil duduk
disamping Maya "Dia setuju untuk bercerai denganku"
"Eh?
Be..benarkah itu?" Maya menatap Masumi tidak percaya.
"Apa kamu percaya
dengan ucapannya itu, mungil?" Bukannya menjawab pertanyaan Maya, Masumi
malah balik bertanya.
"A...aku---"
Maya menatap Masumi kemudian perlahan menganggukkan kepalanya.
"Mungil,
kamu benar-benar percaya--"
Sekali lagi Maya
mengangguk. "Memangnya anda tidak mempercayainya, pak Masumi?"
“A..aku---"
"Pak
Masumi, mungkin...mungkin akhirnya nona Shiori mengerti kalau..kalau
an--anda--"wajah Maya memerah dan ia pun menunduk
"Ehm..mencintaiku" ucapnya dengan perlahan dan malu-malu sehingga mau
tidak mau membuat Masumi tersenyum geli "Karena itu--" lanjutnya
"No..nona Shiori melepaskan anda"
"Mungil,
tapi--"
Maya menatap
lekat Masumi "A..aku..aku sangat berterima kasih pada nona Shiori. Nona
Shiori benar-benar penuh pengertian. Aku berharap suatu saat nona Shiori akan
menemukan kebahagiaan yang sama dengan yang kita rasakan"
"Mungil---"
Masumi menatap lekat Maya. Gadis mungil yang berpikiran polos dan tidak pernah
berprasangka buruk pada siapa pun. Dan ia sangat..sangat mencintai gadis
mungil itu.
Maya membalas
tatapan Masumi. Mereka saling bertatapan. Perlahan tangan Masumi menyentuh pipi
Maya. Lalu wajahnya mendekat pada wajah Maya dan mengecup ringan bibir gadis
mungilnya itu.
@@@@@
Masumi mengajak Maya makan siang kemudian berjalan-jalan di taman.
"Ta..taman ini---" ucap Maya ketika mengenali taman tersebut.
"Kamu
ingat, mungil. Dulu di taman ini, aku pernah berperahu denganmu. Sekarang, aku
ingin melakukannya lagi"
"Eh?"
Masumi
menggandeng tangan Maya dan membawanya ke penyewaan perahu.
"Nah sekarang... Kamu mau naik perahu sendiri atau aku harus membopongmu seperti dulu?"
"Eh?"
Masumi menatap
Maya dengan tawa tertahan. "Pilih yang mana, mungil?"
"A..aku..tentu
saja aku---kyaaa....." teriak Maya terkejut karena tubuh mungilnya
tiba-tiba terangkat ke atas. "Pak..pak Masumi--"
"Jangan
banyak bergerak" ucap Masumi sambil naik ke dalam perahu "Nanti kita
bisa kecebur" Lalu ia pun mendudukkan Maya di depannya.
Trukk.....rrrt.......
Perahu melaju
mulus ke tengah danau.
Masumi membuka
jasnya dan menggulung kemejanya. "Waktu cepat sekali berlalu" ucap
Masumi sambil mendayung.
"Benar"
angguk Maya "Dulu anda memaksaku untuk naik perahu ini"
Kening masumi
berkerut. "Eh? Benarkah? Bukankah kamu yang mengikutiku ke pangkalan
perahu--"
"Pak
Masumi---" Maya hendak memukul lengan Masumi.
"Kalau
tidak mau diam, nanti kita kecebur lho..."
"Biarin"
Maya mengerucutkan bibirnya.
Masumi tertawa
melihatnya.
"Anda masih
saja menyebalkan" ucap Maya pura-pura kesal.
"Tapi kamu
suka kan?"
"Tidak"
Maya memalingkan wajahnya.
Masumi tersenyum
geli lalu—
Cup...
Dengan cepat ia
mengecup pipi Maya.
Maya sangat
terkejut dan sama sekali tidak menduganya. Ia memegang pipinya yang baru saja
dikecup Masumi dan menatap Masumi. "Pak..Ma..Masumi--"ucapnya dengan
wajah merah "An...anda--"
"Apa?"
Masumi mengangkat kedua alisnya.
"Malu kan, pak Masumi.
Ma..masa anda men..mencium pipiku di si--"
"Kalau kamu
bisa memegangkan dayungnya. Aku bisa mencium bibirmu di sini"
Heh... Wajah
Maya semakin merah.
Masumi tersenyum
geli melihatnya.
"Pak
Ma..Masumi..an...anda suka sekali mempermainkanku"
"Aku tidak
mempermainkanmu. Aku serius" ucap Masumi sambil menatap lekat Maya.
"Pak..Ma..Masumi--"
"Jadi, kamu
mau memegang dayungnya?"
Maya menatap
Masumi. "Ti...tidak..." serunya.
"Benar...tidak
mau" goda Masumi "Nanti merasa menyesal lho"
"Tidak...aku
tidak mau"seru Maya bersikeras.
"Baiklah"
Masumi menghela napas pasrah dan kembali mendayung.
Sesaat keadaan
hening. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Fans ku
yang paling penting" ucap Maya tiba-tiba memecah keheningan di antara
mereka "Biar semua orang pergi tapi beliau tidak. Selalu memberiku
semangat--"
"Eh?"
Kening Masumi berkerut.
Maya tersenyum.
"Anda ingat, pak Masumi? Aku pernah mengatakan itu di sini"
"Mungil--"
"Dia
misterius tapi sekarang--" lanjut Maya sambil menatap Masumi "Tidak
lagi. Aku tahu. Aku sudah tahu siapa dia dan aku tidak membencinya. Tidak bisa.
Karena aku sangat mencintainya"
"Mu..mungil---"
Maya menghela
napas. "Dulu...aku pernah berkata kalau aku bisa pentas di gedung mahal,
aku ingin memberikan kursi terbaik untuknya. Untuk mawar unguku. Untuk
anda" Maya diam sesaat " Tapi---" Wajahnya berubah menjadi sendu
"Aku...aku sudah tidak bisa melakukannya. Aku sudah--"Maya
memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Masumi melihatnya meneteskan air mata.
"Mu..mungil---"
Cepat-cepat Maya
menghapus air matanya dan kembali menatap Masumi. "Ma..maafkan aku, pak
Masumi. Aku...aku benar-benar telah mengecewakan anda"
"Kalau
begitu..kembalilah ke dunia itu. Duniamu yang penuh pelangi itu. Aku
yakin kamu belum melupakan aktingmu. Kamu masih bisa---"
"Tidak"
Maya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "A..aku tidak bisa. Aku
benar-benar tidak bisa, pak Masumi"
"Mungil...."
"Ja..jangan
memaksaku untuk melakukannya, pak Masumi. A..aku--"
Masumi menghela
napasnya. "Baiklah..baiklah. Aku tidak akan memaksamu" ucap Masumi.
Ia tidak mau melihat wajah kekasihnya sedih " Tapi saat kamu benar-benar
akan kembali ke dunia itu. Beritahu aku. Aku pasti akan membantumu"
Perlahan Maya
menganggukkan kepalanya. "Te..terima kasih pak Masumi"
"Hmm...sebagai
ucapan terima kasih, bagaimana kalau kamu mencium pipiku?" Masumi
mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan pipinya pada Maya.
Heh... Wajah
Maya kembali memerah. "Pak masumii......dasar mesum" Ia pun memukuli
lengan Masumi.
"Mungil,
hentikan" teriak Masumi "Nanti kita--"
Byur....
Mereka pun masuk
ke dalam danau.
@@@@@
"Pa..pak
Masumi....to....tolong....." teriak Maya panik. Tangannya
menggapai-gapai di dalam air. Ia tidak bisa berenang dan sepertinya akan
tenggelam.
Masumi segera
meraih pinggang Maya dan menariknya dalam pelukannya.
"Pak..pak
Masumi...." Maya langsung melingkarkan kedua tangannya erat-erat ke
leher Masumi.
"Kamu
ini...panik sekali" bisik Masumi dengan nada geli.
"Pak..pak
Masumi. Anda malah meledekku. Aku kan
tidak bisa berenang dan hampir saja tenggelam"
"Tenggelam?"
Kening Masumi berkerut "Coba kamu lihat, mungil. Danaunya tidak dalam.
Hanya mencapai dada--"
"Iya. Dada
anda" sahut Maya cepat. Ia mengerucutkan mulutnya "Tapi
aku tidak bisa menyentuh dasarnya dengan kakiku"
Masumi tertawa
geli.
"Jahat...anda
benar-benar--" Maya memukuli Masumi. Tapi cepat-cepat ia melingkarkan
lengannya lagi pada Masumi karena tanpa sadar ia melepaskan pegangannya
sehingga hampir tenggelam kembali.
Masumi terus
saja tertawa geli.
"Jangan
menertawakanku terus" gerutu Maya dari balik bahu masumi "Anda ini
benar-benar menyebalkan. Sukanya menertawakan--" Maya tidak melanjutkan
kalimatnya karena akhirnya menyadari kalau beberapa pasang mata orang-orang
yang sedang berperahu menatap pada mereka "Pak..pak masumi---"
bisiknya "Ba..bagaimana ini? Kita menjadi tontonan orang-orang" Ia
pun menyembunyikan wajahnya di bahu Masumi.
"Ya...mau
bagaimana lagi" sahut Masumi dengan nada pasrah bercampur geli "Siapa
suruh kamu tidak bisa diam dan membuat kita berdua kecebur"
"Pak..pak
Masumi--"
"Untung
saja kita sudah dekat dengan dermaga" lanjut Masumi "Kalau tidak,
bagaimana aku bisa membawamu keluar dari danau ini dengan kamu memelukku
erat-erat seperti ini?"
"Pak
Masumiii....." seru Maya gemas.
Dan Masumi pun
terbahak.
@@@@@
Sambil mengeringkan kepalanya dengan handuk yang diberi oleh penjaga perahu, -sepertinya banyak juga penyewa perahu yang jatuh tercebur ke danau itu, sehingga begitu sampai di darat, penjaga perahu dengan sigap langsung memberikan mereka masing-masing satu handuk kering- Maya terkikik geli. "Pak Masumi...maaf ya. Gara-gara aku, anda jadi seperti tikus kecebur got--"
"Mungil"
"Dan jas
mahal anda itu menjadi basah dan kotor"
Masumi menunduk
dan menatap jasnya sendiri. Benar apa yang dikatakan Maya. Jasnya itu telah
basah juga kotor oleh lumpur.
"Membungkuk,
pak Masumi...membungkuk" ucap Maya tiba-tiba.
Masumi
mengerutkan keningnya. "Heh?"
"Ayo
membungkuk" ucap Maya lagi. Ia pun menarik belahan jas Masumi sehingga
Masumi pun membungkuk. Lalu, Maya mengulurkan tangan yang sedang memegang
handuk ke kepala Masumi dan mengusap-ngusapkannya. "Rambut anda masih
basah, pak Masumi" ucapnya sambil mengusap-ngusapkan handuknya ke kepala
Masumi.
Masumi tersenyum
kecil dan membiarkan Maya mengeringkan rambutnya. Lalu, ia pun mengulurkan
tangannya yang memegang handuk ke kepala Maya.
"Eh?"
"Rambumu
juga masih basah, mungil" ucap Masumi enteng "Jadi biarkan aku
mengeringkan rambutmu"
"Pak...pak
Masumi...."
Mereka pun
saling mengeringkan rambut.
"Kita
pulang saja ya?" ucap Masumi tiba-tiba "Tidak mungkin kan kita terus
melanjutkan jalan-jalan seperti ini. Seperti kamu bilang tadi, kita ini seperti
tikus kecebur got. Hari begitu cerah tapi kita malah basah kuyub, kotor dan bau
lumpur lagi" Ia mengeryit mencium bau tubuhnya sendiri.
Maya mengangguk
setuju. "Iya, pak Masumi. Lebih baik kita pulang--"
"Dan mandi
berendam" sambung Masumi cepat sambil menatap Maya penuh arti.
Wajah Maya
memerah. "Pak Masumii...." serunya. Ia pun mencubit lengan Masumi.
"Aduh"
seru Masumi kesakitan "Kamu ini mengapa mencubitku--"
"Habis
anda..anda--"
"Aku
apa?" Masumi menatap lekat Maya "Memangnya perkataanku salah? Kita
memang perlu berendam untuk menghilangkan bau lumpur ini kan?"
"Eh
I..itu--"
Masumi tersenyum
geli melihat Maya yang menjadi salah tingkah. "Ayolah...sekarang kita
pergi saja dari sini" Ia pun meraih tangan maya dan menariknya.
Baru beberapa
langkah berjalan, Maya menghentikan langkahnya. Ia berdiri diam dan menatap
sesuatu yang berada tidak jauh di depannya.
"Mu..mungil?"
Masumi menoleh menatap gadis mungil itu dan mengikuti pandangannya. Dan ia
melihat sebuah panggung terbuka, tempat dulu Maya memerankan pack dalam drama A
midsummer night's dream.
"Mungil..."
panggil Masumi lagi.
Maya menoleh pada
Masumi kemudian menatap panggung terbuka itu lagi "Panggung itu tidak
berubah ya, pak Masumi" ucapnya "Walau bertahun-tahun sudah
berlalu"
"Mungil?"
Maya menatap
terpaku pada panggung terbuka itu. Mengingat kembali bahwa ia pernah berdiri di
sana. Memainkan
perannya sebagai pack, peri bandel utusan raja Obron yang ditugaskan mencari
rumput serong.
Rindu....rasa
rindu menyergap hatinya. Ia ingin sekali berdiri di atas panggung lagi.Memerankan
sesuatu, menghidupkan sebuah karakter dan membuat penonton hanyut melihat
aktingnya.
Tiba-tiba, mata
Maya membelalak ketika melihat beberapa orang naik ke atas panggung terbuka
itu. Ia mengenali mereka. Mereka adalah sahabat-sahabatnya. Rei, Sayaka,
Nina dan Taiko. Dan juga beberapa anggota teater ikkakuju. Ia pun menoleh
pada Masumi. "Pak Masumi, mereka---"
Masumi yang juga
sudah melihatnya, mengangguk. "Apa kamu mau menyapa mereka,mungil?"
"Aku---"
"Ayo kita
hampiri mereka" Masumi yang masih memegang tangan Maya, membawanya
mendekati panggung terbuka "Mereka pasti akan sangat terkejut dan merasa
senang melihatmu masih hidup"
"Pak
Masumi...."
"Panggil
mereka, mungil"
Maya mengangguk.
"Reii....Sayakaaa, Taikooo---" Ia berteriak memanggil teman-temannya.
Beberapa orang
yang sedang latihan berakting di atas panggung, menoleh dan mereka terkejut.
Mata mereka mengerjap tidak percaya.
"Ma..Maya?"
ucap Rei. Ia pun bergegas menghampiri Maya diikuti teman-temannya.
"Maya?" ucapnya lagi tidak percaya ketika ia berdiri di hadapan Maya
"Ka..kamu....kamu masih hidup?"
"Iya, Rei"
sahut Maya "Ini aku. Aku masih hidup. Kalian...bagaimana kabar---"
"Aku
benar-benar tidak percaya" sela Rei "kamu benar-benar-- tapi kenapa
kamu basah kuyub seperti ini dan--" ia menatap Masumi kemudian berbisik
pada Maya "Bisa bersama dengan pak Masumi yang juga sama basah kuyubnya
denganmu?"
Maya tersenyum
kecil. "Ceritanya panjang, Rei"
"Panjang?"
Maya mengangguk.
"Kalau
begitu kamu harus segera menceritakannya pada kami" ucap Rei "setuju kan teman-teman?"
"Setuju....setuju
sekali" sahut semua teman-teman Maya yang ada di sana.
@@@@@
Masumi
meninggalkan Maya dengan teman-temannya dan ia pun kembali ke kantor.
Mizuki tampak
sangat terkejut ketika melihat atasannya datang dengan basah kuyub dan baju
penuh lumpur.
"Pak
Masumi, anda--"
"Mizuki"
sela Masumi "Tolong carikan pakaian ganti untukku" Dan tanpa menunggu
jawaban Mizuki, ia pun masuk ke dalam ruangannya.
Mizuki
menganggukkan kepalanya kemudian menelpon butik langganan Masumi dan
meminta segera dikirimkan satu stel pakaian untuk Masumi.
Beberapa saat
kemudian, dengan baju yang baru saja dikirim dari butik, Mizuki mengetuk
ruangan Masumi.
Tok..tok...tok.....
"Masuk"
sahut Masumi dari dalam.
Mizuki membuka
pintu. "Permisi, pak Masumi. Ini pakaian yang anda minta"
Masumi menerima
pakaian itu "Oke. Terima kasih, Mizuki" Ia pun masuk ke dalam kamar
mandi pribadinya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Tak lama
kemudian, Masumi keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru yang kering.
"Ini
kopinya, pak Masumi" ucap Mizuki.
"Terima
kasih, Mizuki" masumi pun menghampiri mejanya. Duduk di kursinya dan
mengambil kopi kemudian meminumnya.
"An..anda....mengapa
anda bisa basah kuyub seperti itu?" Mizuki memberanikan diri untuk
bertanya.
Masumi
mengangkat wajahnya dan menatap Mizuki "Oh itu...aku kecebur masuk
danau"
"Heh?"
Mizuki menatap atasannya dengan tidak percaya.
"Tidak usah menatapku seperti itu, Mizuki" ucap Masumi tenang "Aku juga hanya manusia biasa yang bisa kecebur seperti yang lainnya"
"Pak
Masumi...."
Masumi tersenyum
kecil sehingga membuat Mizuki terperangah. Sudah lama....sangat lama ia tidak
melihat Masumi tersenyum seperti itu. Apa
itu karena Maya? Kening Mizuki berkerut Eh,
Maya? Benarkah gadis yang aku lihat itu bersama pak Masumi itu adalah Maya? Dia
sangat mirip dengan Maya tapi---
"Mizuki"
panggil Masumi "Mengapa kamu masih berdiri di sana?"
"Eh--ehm...pak
Masumi, boleh saya bertanya sesuatu pada anda?"
Kedua alis
masumi terangkat. "Bertanya apa?"
"Gadis yang
tadi bersama anda itu--"
"Dia adalah
Maya" sahut Masumi cepat "Memangnya kamu tidak
mengenalinya?"
"Bukan
begitu, pak Masumi. Tapi...tapi bukankah Maya sudah---" Mizuki tidak
menyelesaikan kalimatnya karena ia tahu Masumi pasti mengerti.
Masumi tersenyum
kecil. "Kalau Maya sudah meninggal lalu gadis itu siapa? Apa hantunya Maya
yang tadi terlihat bersamaku?"
"Pak
Masumi---"
"Maya belum
meninggal, Mizuki. Yang kamu lihat benar-benar Maya. Dia selamat dari tsunami
yang terjadi 3 tahun lalu. Tapi ia sengaja menghilang--"
"Menghilang?
Mengapa Maya harus menghilang?" tanya Mizuki tidak mengerti.
"Dia
memiliki beberapa alasan. Alasan untuk tidak menampakkan dirinya lagi. Dan
salah satu alasan itu--" wajah Masumi berubah sendu "Karena aku"
"Pak
Masumi...."
Masumi menghela
napasnya. "Tapi sekarang, dia sudah aku temukan dan aku tidak akan
membiarkannya pergi dari sisiku lagi. Tidak akan...."ucapnya penuh tekad.
@@@@@
Menjelang malam, Masumi datang ke apartemennya...bukan mungkin lebih tepat disebut bekas apartemennya karena ia tidak akan tinggal di sana lagi.
Sesampai di
depan pintu apartemen, ia pun menekan bel. Tidak perlu menunggu lama, Shiori
membukakan pintu untuknya.
"Masumi--"
"Mana surat yang harus kita
tanda tangani, Shiori?" tanya Masumi tanpa basa basi.
"Masumi,
mengapa harus cepat-cepat. Masuklah dulu" Shiori melebarkan pintu dan
memberi jalan pada Masumi.
"Jangan
main-main, Shiori. Cepat--"
"Masumi"
sela Shiori tenang "Aku tidak main-main. Aku pasti akan memberikan surat itu. Tapi tidak di
depan pintu---"
"Shiori..."
"Aku tidak
membawanya sekarang, Masumi" Ia memperlihatkan tangannya yang kosong
"Jadi kamu masuklah dulu" ajak Shiori lagi "Kamu duduk dulu di sana" Ia menunjuk
pada sofa "Dan aku akan mengambilkan suratnya"
Masumi menghela
napasnya. Ia tidak punya pilihan. Jadi ia pun masuk ke dalam dan menuju salah
satu sofa.
Shiori menutup
pintu dan mengikuti Masumi.
"Mana
suratnya?" tanya Masumi ketika ia sudah duduk di sofa "Lebih baik
segera kita tanda tangani. Tidak perlu membuang-buang waktu lagi"
Shiori
mengangguk. "Akan aku ambilkan suratnya" Ia pun menghilang ke kamarnya.
Tak lama kemudian ia keluar dari kamarnya sambil memegang map berwarna coklat.
"Ini suratnya, Masumi" Ia menyerahkan map coklat itu pada Masumi.
Dengan tidak
sabar Masumi membukanya dan membacanya. Shiori sudah mengisi surat permohonan perceraian itu. Lalu ia pun
mengambil bolpen dari saku kemejanya dan menandatangani surat itu. Kemudian ia menggesernya, memberikannya
pada Shiori "giliranmu menandatanganinya"
Shiori
menggeleng.
"Shiori...."
"Aku akan
menanda tanganinya setelah kamu menemaniku makan malam"
Masumi menatap
kesal Shiori. "Kamu jangan membuang-buang waktu. Lebih baik---"
"Masumi...apakah
aku salah? Salahkah aku memintamu menemaniku makan malam?" tanyanya. Ia
menatap masumi dengan sedih "Selama 3 tahun ini kita tidak pernah makan
malam bersama. Jadi tidak bisakah untuk terakhir kalinya, sebelum kita berpisah
kamu menemaniku--"
"Shiori,
aku--"
"Kumohon.
Masumi. Anggap saja ini sebagai permintaanku yang terakhir"
Masumi diam dan
menatap Shiori.
"Masumi,
please" ucap Shiori penuh permohonan "Aku tidak minta apapun. Aku
hanya ingin menemani makan malam. Hanya itu. Setelah itu...aku janji...aku
benar-benar berjanji padamu akan menandatangani surat itu"
Masumi menghela
napas panjang kemudian ia pun mengangguk.
"Terima
kasih, Masumi" ucap Shiori "Terima kasih banyak"
@@@@@
Masumi mengikuti Shiori menuju balkon samping apartemen mereka. Saat Shiori membuka pintu kaca, ia dapat melihat sebuah meja dan sepasang kursi ada di sana disinari cahaya remang-remang lilin yang ada di tengah meja.
"Ka..kamu duduk sana dulu di sana, Masumi" ucap Shiori "Aku ambilkan makanannya dulu"
Masumi
mengangguk dan dengan terpaksa,ia pun melangkah kakinya ke sana dan duduk di salah satu kursi.
Setelah Shiori
melihat Masumi duduk, ia segera ke dapur dan tidak berlama-lama, ia membawa sebuah
baki dan menuju ke tempat Masumi duduk.
Shiori meletakkan
sepiring steak di hadapan Masumi. "Ini buatanku sendiri, Masumi" ucapnya
"Kamu cobalah". Setelah itu ia meletakkan piring lain untuknya
sendiri.
Mereka pun makan
tanpa banyak berkata.
@@@@@
Selesai makan, Masumi
kembali duduk di ruang tamu. Shiori yang datang belakangan meletakkan segelas red
wine di atas meja, di dekat Masumi kemudian segelas lain di dekatnya.
"Aku sudah
mengabulkan permintaanmu untuk makan malam bersama " ucap Masumi "Sekarang
cepat tanda tangani surat
itu"
Shiori
mengangguk. Ia pun mengambil bolpen yang tergeletak di atas meja dan meraih surat permohonan
perceraian itu dan menandatanganinya.
"Berikan
padaku" ucap Masumi meminta surat
itu karena Shiori tidak menyerahkan padanya "Aku akan mengurusnya"
Tapi Shiori
malah menjauhkannya.
"Shiori...."
"Aku tidak
akan menyerahkannya sekarang. Karena bila surat
itu ada ditanganmu, kamu pasti akan segera pergi"
"Shiori.
Jangan main-main. Cepat berikan padaku"
"Kenapa
harus terburu-buru?" tanya Shiori "Kamu sudah melihat aku
menandatanganinya kan?"
"Shiori"
"Kita
bersulang dulu" Shiori mengambil gelas di depan masumi dan memberikannya
pada Masumi.
Tapi Masumi
tidak mau menerimanya.
"Masumi....untuk
perceraian kita. Untuk kebahagiaanmu bersama Maya. Biarkan aku bersulang
untukmu" Ia menyodorkan gelas yang dipegangnya itu. Tapi...masumi masih
tidak mau menerimanya.
"Masumi...aku
janji. Setelah kamu meminumnya aku akan membiarkanmu pergi" Shiori terus
menyodorkan wine itu kepada Masumi.
Masumi menatap Shiori.
Lalu ia mengambil gelas wine yang berada di atas meja, didepan Shiori.
"Yang itu untuk kamu saja. Aku minum yang ini"
Shiori menghela
napasnya "Kamu mencurigaiku, Masumi?" tanyanya sedih "Tapi tidak
apa-apa. Aku akan minum yang ini. Aku akan buktikan padamu bahwa aku tidak punya
maksud jahat apapun padamu" Ia pun mendekatkan gelasnya pada gelas masumi
"Kita bersulang?"
Masumi membenturkan
gelasnya pada gelas Shiori.
Tring...
Shiori pun meneguk
winenya kemudian menatap Masumi. "Masumi?"
Perlahan, Masumi
mendekatkan gelas berisi wine ke mulutnya dan meneguknya kemudian ia meletakkan
gelas itu di atas meja. "Aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan. Jadi
mana suratnya?"
Shiori mengambil
surat yang tadi
dijauhkannya kemudian memberikannya pada Masumi.
"Terima
kasih" ucap Masumi pendek. Ia pun bangkit berdiri. Tapi tiba-tiba
kepalanya terasa pusing dan ia terduduk kembali ke sofa. "Ka..kamu---"
Ia menatap marah Shiori yang hanya tersenyum melihatnya kemudian ia pun tak
sadarkan diri.
Ceklek....
Mendengar suara
pintu, Shiori pun menoleh kemudian tersenyum penuh kemenangan pada mantan
pengawal pribadinya yang keluar dari kamar "Jin, apa yang kamu rencana
sempurna. Benar-benar sempurna. Kamu memang hebat"
@@@@@
Kepalanya sakit,
itu yang Masumi rasakan ketika terbangun dari tidurnya.
"Mengapa kepalaku berat?" Masumi memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali. Semalam Shiori memberinya wine. Apa wine itu.... Shiori...dia...dia memperdayaku. Wine itu dibubuhi obat tidur. Masumi benar-benar marah pada dirinya sendiri. Dia ceroboh dan tidak waspada. Rupanya wine yang semula untuk Shiori yang dibubuhi obat bukan wine yang disodorkan Shiori. Shiori tahu ia tidak akan meminum wine yang diberikannya karena curiga akan diberi obat tapi ternyata..... Masumi menghela napas kesal Bodoh...aku benar-benar bodoh. Aku benar-benar terperdaya olehnya. Aku harus mencarinya dan meminta penjelasan mengapa dia melakukan ini padaku.
Masumi pun
mengangkat tubuhnya. Tapi ia tidak bisa melakukannya. Kedua tangannya tertahan.
Ia mencoba menariknya dan merasakan sesuatu melingkari kedua pergelangan
tangannya sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.
"Eh....?"
Masumi pun menolehkan kepalanya ke atas dan mendapati dirinya kedua tangannya
dipasangi borgol yang terkunci pada besi kepala tempat tidur.
Masumi berusaha
keras melepaskan tangannya dari borgol itu. Ia menarik-nariknya dengan
keras. Berharap borgol itu dapat dilepaskan dari tangannya atau setidaknya dari
kepala tempat tidur. Tapi usahanya sia-sia dan hanya membuat pergelangan
tangannya terasa sakit.
Ceklek
Perhatian Masumi
teralih ketika mendengar pintu di buka. Ia pun mengangkat kepalanya dan
menatap pintu. "Shiori....."serunya ketika melihat siapa yang
datang "Apa-apaan ini? Lepaskan aku......."
Shiori tidak
mempedulikan seruan Masumi. Dengan tenang, ia menghampiri Masumi dan
duduk di sisi ranjang, di samping Masumi.
"Shiori...lepaskan
aku"
Shiori hanya
tersenyum menatap Masumi.
"Shiori....kamu---"
Tangan Shiori
terulur menyentuh pipi Masumi dan membelainya dengan lembut. Masumi kembali
menarik-narik borgolnya, berusaha melepaskan tangannya. Ia sangat ingin
menepis tangan Shiori di pipinya tapi, borgolnya tetap tidak berhasil ia
lepaskan. Jadi ia hanya menggerak-gerakkan kepalanya. Berusaha untuk menjauh.
"Shiori....hentikan---"
Shiori menatap
lembut Masumi. "Mengapa aku harus menghentikannya, Masumi? Apa kamu tahu?
Sudah lama aku ingin melakukan ini. Membelai pipimu lalu---" Tangannya
yang berada di pipi Masumi, bergerak ke bawah. Menyusuri leher dan dada bidang
Masumi.
"Shiori...hentikan"
seru Masumi lagi. Ia berusaha untuk bangun, tapi lagi-lagi gerakannya tertahan.
"Kamu tidak boleh melakukan ini. Kita...bukankah kamu sudah setuju untuk
bercerai"
"Bercerai?"
Kening Shiori berkerut.
"Shiori...jangan
main-main. Kemarin malam kita sudah menanda tangani surat permohonan perceraian--"
"Surat---Oh itu..."
Shiori membuka laci yang ada di samping tempat tidur lalu mengambil map
berwarna coklat dan membukanya. "Ini maksudmu?" tanyanya sambil
memperlihatkan selembar kertas pada Masumi. Kertas yang tertera tanda tangan
mereka berdua. Kemudian dengan santai dia merobeknya menjadi serpihan kecil.
"Shiori....kamu---"
"Kertas ini
sudah tidak berguna dan tidak ada artinya lagi" Shiori pun membuangnya ke
lantai.
Masumi menatap
marah Shiori. "Ka..kamu---"
"Sudah
tidak ada lagi surat permohonan perceraian itu, Masumi" ucap Shiori pelan
"Jadi kamu---" Ia membuat lingkaran-lingkaran kecil di sekitar dada
bidang Masumi "adalah milikku. Selamanya milikku"
"Shiori...hentikan....."
Masumi terus memberontak "Lepaskan aku...."
Shiori tidak
mempedulikan Masumi. Tangannya malah bermain-main di kancing paling atas kemeja
Masumi.
Masumi mulai
merasa panik. "A..apa? Apa yang akan kamu lakukan?"
Shiori kembali
menatap Masumi dan tersenyum. "Menurutmu apa?" tanyanya. Dan ia pun
membuka kancing kemeja Masumi yang paling atas.
Bersambung….

Ternyata si aki msh sj dirantai...
BalasHapusMana lanjutanny cupid...?
Nida
aa... biar aq aja yg teriak.. sebel.....
BalasHapussista... jgn biarin nenek lampir itu brbuat itu.. aduh.... hijiri kemana sih.. saat d butuhin g ada lg tuh org... :'-(
lanjut.. lg sista...lanjut.. panas nih. pengen gantung shiori d tengah gunung.. ^^
sista..hiks..hiks.. g rela masumi d pegang pegang sama nenek sihir itu.. huhuhu.. bs nangis darah maya tuh.
BalasHapusayolah persatukan MM sist. udah terlalu byk ksedihan mereka... :'-(
Sistaaaaa....lanjutan nya mana...plisssss....plisss...kasihan masumi udah berbulan2 di rantai ama shiomay smbil di kiss..
BalasHapusAduuuhh...sistaa..... selamatin masumi dong.....
Tetty