Halaman

Senin, 27 Mei 2013

1001 Mawar Ungu part 09





"Mau apa dia menelponku" gumam Masumi sambil menatap layar ponselnya.

"Anda....anda bicara apa, pak Masumi?" tanya Maya yang tidak jelas mendengar gumaman Masumi.

"Tidak, mungil" sahut Masumi "Bukan apa-apa..."

"Lalu....lalu mengapa telponnya tidak anda angkat?" tanya Maya lagi heran karena melihat Masumi hanya memegangi ponselnya dan ponsel itu masih saja terus berdering "Memangnya siapa yang menelpon anda?"

Masumi menghembuskan napasnya. "Shiori."

"Eh..no..nona Shiori menelpon anda?"

Masumi mengangguk.

"Kalau begitu, mengapa anda tidak mengangkatnya?"

"Aku malas bicara dengannya"

"Pak...pak Masumi...anda tidak boleh begitu. Siapa tahu saja ada hal penting sehingga nona Shiori menelpon anda"

"Mungil"

"Pak Masumi.....bicaralah dengan nona Shiori"bujuk Maya "Ti..tidak baik bila anda bersikap seperti itu padanya"

"Mu...ngil"

Sesaat....keduanya saling bertatapan.

"Jawablah telponnya, pak Masumi...."

Masumi menghela napasnya. "Hmm...baiklah" angguknya lalu ia pun menerima telpon dari Shiori.

@@@@@

"Shiori, ada apa?" tanya Masumi begitu telpon diterimanya.

"Dia...dia masih mau menerima telponku"pikir Shiori senang ketika mendengar suara Masumi.

"Shiori???"

"Ah..eh iya, Masumi...."

"Ada apa kamu menelpon?" ulang Masumi.

"Aku---"

"Katakan cepat" suara Masumi terdengar tidak sabar.

"Ma...masumi, nanti malam kamu...kamu akan pulang ke apartemen kita kan?”

"Eh?"

"Kamu akan pulang kan, Masumi?"

Terdengar helaan napas. "Shiori, maaf aku---"

"Kalau begitu, kamu bisa menemuiku sebentar.....Sebentar saja di apartemen kita"

"Apa???"

"Aku ingin bertemu denganmu, Masumi. Karena ada yang ingin aku---"

"Shiori, aku tidak bisa. Aku tidak---"

"Masumi, kamu harus menemuiku karena a....aku....aku  ingin kita menandatangani surat permohonan perceraian kita"

"Apaa....." Suara Masumi terdengar terkejut.

"Aku....aku bersedia cerai denganmu--"

"Benarkah itu?"

"I..iya karena itu---"

"Kalau begitu aku akan meminta pengacaraku---"

"Tidak" potong Shiori cepat.

"Eh? Tidak?"

"A...aku setuju bercerai denganmu bila kamu bersedia datang menemuiku di apartemen kita  malam ini"

Hening....

"Masumi???" tanya Shiori ketika ia tidak juga mendengar jawaban apapun dari Masumi.

"Mengapa?"

"Eh?"

"Ini pasti hanya akal-akalanmu saja kan, Shiori? Supaya aku mau menemuimu lagi"

"Masumi...." Shiori membuat suaranya terdengar sedih "Tega-teganya kamu menuduhku seperti itu"

"Lalu mengapa tiba-tiba kamu setuju untuk bercerai denganku?Bukankah kamu selalu menolak bila aku ingin bercerai denganmu?"

"Karena....karena akhirnya aku sadar. Saat melihatmu memeluk gadis mungil itu di kantor polisi, aku tahu kalau....kalau kamu benar-benar mencintainya. Jadi aku.....aku menyerah, Masumi. Aku....akan melepaskanmu agar kamu dapat meraih kebahagiaanmu bersamanya"

Masumi kembali tidak berkata apapun.

"Ma....masumi...???"

"Hmm....baiklah" ucap  Masumi akhirnya "Nanti malam aku akan menemuimu. Tapi hanya sebentar, Shiori" tegasnya "Setelah surat itu kita tandatangani. Aku pergi"

Shiori mengangguk.  "Terima kasih, Masumi. Aku...aku tunggu kedatanganmu"

Klik....pembicaraan pun berakhir.

Setelah telpon ditutup, Shiori menatap Jin. "Nanti malam, dia akan datang ke apartemen kami"

"Bagus" sahut Jin menganggukkan kepalanya.

@@@@@

Masumi masih berdiri mematung begitu telpon ditutup. Ia sama sekali tidak mempercayai pendengarannya. Shiori.....Shiori akan menandatangani surat permohonan perceraian mereka? Jadi akhirnya Shiori menyerah dan mau bercerai darinya???

"Pak Masumi?" panggil Maya karena melihat Masumi hanya berdiri mematung setelah menerima telpon "Ada apa? Mengapa anda diam saja di sana? No...nona Shiori mengatakan apa pada anda?"

Masumi menghela napas kemudian berjalan mendekati Maya. "Dia--" ucapnya sambil duduk disamping Maya "Dia setuju untuk bercerai denganku"

"Eh? Be..benarkah itu?" Maya menatap Masumi tidak percaya.

"Apa kamu percaya dengan ucapannya itu, mungil?" Bukannya menjawab pertanyaan Maya, Masumi malah balik bertanya.

"A...aku---" Maya menatap Masumi kemudian perlahan menganggukkan kepalanya.

"Mungil, kamu benar-benar percaya--"

Sekali lagi Maya mengangguk. "Memangnya anda tidak mempercayainya, pak Masumi?"

“A..aku---"

"Pak Masumi,  mungkin...mungkin akhirnya nona Shiori mengerti kalau..kalau an--anda--"wajah Maya memerah dan ia pun menunduk "Ehm..mencintaiku" ucapnya dengan perlahan dan malu-malu sehingga mau tidak mau membuat Masumi tersenyum geli "Karena itu--" lanjutnya "No..nona Shiori melepaskan anda"

"Mungil, tapi--"

Maya menatap lekat Masumi "A..aku..aku sangat berterima kasih pada nona Shiori. Nona Shiori benar-benar penuh pengertian. Aku berharap suatu saat nona Shiori akan menemukan kebahagiaan yang sama dengan yang kita rasakan"

"Mungil---" Masumi menatap lekat Maya. Gadis mungil yang berpikiran polos dan tidak pernah berprasangka buruk pada siapa pun. Dan ia sangat..sangat  mencintai gadis mungil itu.

Maya membalas tatapan Masumi. Mereka saling bertatapan. Perlahan tangan Masumi menyentuh pipi Maya. Lalu wajahnya mendekat pada wajah Maya dan mengecup ringan bibir gadis mungilnya itu.

@@@@@

Masumi mengajak Maya makan siang kemudian berjalan-jalan di taman.

"Ta..taman ini---" ucap Maya ketika mengenali taman tersebut.

"Kamu ingat, mungil. Dulu di taman ini, aku pernah berperahu denganmu. Sekarang, aku ingin melakukannya lagi"

"Eh?"

Masumi menggandeng tangan Maya dan membawanya ke penyewaan perahu.

"Nah sekarang... Kamu mau naik perahu sendiri atau aku harus membopongmu seperti dulu?"

"Eh?"

Masumi menatap Maya dengan tawa tertahan. "Pilih yang mana, mungil?"

"A..aku..tentu saja aku---kyaaa....." teriak Maya terkejut karena tubuh mungilnya tiba-tiba terangkat ke atas. "Pak..pak Masumi--"

"Jangan banyak bergerak" ucap Masumi sambil naik ke dalam perahu "Nanti kita bisa kecebur" Lalu ia pun mendudukkan Maya di depannya.

Trukk.....rrrt.......

Perahu melaju mulus ke tengah danau.

Masumi membuka jasnya dan menggulung kemejanya. "Waktu cepat sekali berlalu" ucap Masumi sambil mendayung.

"Benar" angguk Maya "Dulu anda memaksaku untuk naik perahu ini"

Kening masumi berkerut. "Eh? Benarkah? Bukankah kamu yang mengikutiku ke pangkalan perahu--"

"Pak Masumi---" Maya hendak memukul lengan Masumi.

"Kalau tidak mau diam, nanti kita kecebur lho..."

"Biarin" Maya mengerucutkan bibirnya.

Masumi tertawa melihatnya.

"Anda masih saja menyebalkan" ucap Maya pura-pura kesal.

"Tapi kamu suka kan?"

"Tidak" Maya memalingkan wajahnya.

Masumi tersenyum geli lalu—

Cup...

Dengan cepat ia mengecup pipi Maya.

Maya sangat terkejut dan sama sekali tidak menduganya. Ia memegang pipinya yang baru saja dikecup Masumi dan menatap Masumi. "Pak..Ma..Masumi--"ucapnya dengan wajah merah "An...anda--"

"Apa?" Masumi mengangkat kedua alisnya.

"Malu kan, pak Masumi. Ma..masa anda men..mencium pipiku di si--"

"Kalau kamu bisa memegangkan dayungnya. Aku bisa mencium bibirmu di sini"

Heh... Wajah Maya semakin merah.

Masumi tersenyum geli melihatnya.

"Pak Ma..Masumi..an...anda suka sekali mempermainkanku"

"Aku tidak mempermainkanmu. Aku serius" ucap Masumi sambil menatap lekat Maya.

"Pak..Ma..Masumi--"

"Jadi, kamu mau memegang dayungnya?"

Maya menatap Masumi. "Ti...tidak..." serunya.

"Benar...tidak mau" goda Masumi "Nanti merasa menyesal lho"

"Tidak...aku tidak mau"seru Maya bersikeras.

"Baiklah" Masumi menghela napas pasrah dan kembali mendayung.

Sesaat keadaan hening. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Fans ku yang paling penting" ucap Maya tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka "Biar semua orang pergi tapi beliau tidak. Selalu memberiku semangat--"

"Eh?" Kening Masumi berkerut.

Maya tersenyum. "Anda ingat, pak Masumi? Aku pernah mengatakan itu di sini"

"Mungil--"

"Dia misterius tapi sekarang--" lanjut Maya sambil menatap Masumi "Tidak lagi. Aku tahu. Aku sudah tahu siapa dia dan aku tidak membencinya. Tidak bisa. Karena aku sangat mencintainya"

"Mu..mungil---"

Maya menghela napas. "Dulu...aku pernah berkata kalau aku bisa pentas di gedung mahal, aku ingin memberikan kursi terbaik untuknya. Untuk  mawar unguku. Untuk anda" Maya diam sesaat " Tapi---" Wajahnya berubah menjadi sendu "Aku...aku sudah tidak bisa melakukannya. Aku sudah--"Maya memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Masumi melihatnya meneteskan air mata.

"Mu..mungil---"

Cepat-cepat Maya menghapus air matanya dan kembali menatap Masumi. "Ma..maafkan aku, pak Masumi. Aku...aku benar-benar telah mengecewakan anda"

"Kalau begitu..kembalilah ke dunia itu. Duniamu yang  penuh pelangi itu. Aku yakin kamu belum melupakan aktingmu. Kamu masih bisa---"

"Tidak" Maya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.  "A..aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa, pak Masumi"

"Mungil...."

"Ja..jangan memaksaku untuk melakukannya, pak Masumi. A..aku--"

Masumi menghela napasnya. "Baiklah..baiklah. Aku tidak akan memaksamu" ucap Masumi. Ia tidak mau melihat wajah kekasihnya sedih " Tapi saat kamu benar-benar akan kembali ke dunia itu. Beritahu aku. Aku pasti akan membantumu"

Perlahan Maya menganggukkan kepalanya. "Te..terima kasih pak Masumi"

"Hmm...sebagai ucapan terima kasih, bagaimana kalau kamu mencium pipiku?" Masumi mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan pipinya pada Maya.

Heh... Wajah Maya kembali memerah. "Pak masumii......dasar mesum" Ia pun memukuli lengan Masumi.

"Mungil, hentikan" teriak Masumi "Nanti kita--"

Byur....

Mereka pun masuk ke dalam danau.

@@@@@

"Pa..pak Masumi....to....tolong....." teriak Maya panik.  Tangannya menggapai-gapai di dalam air. Ia tidak bisa berenang dan sepertinya akan tenggelam.

Masumi segera meraih pinggang Maya dan menariknya dalam pelukannya.

"Pak..pak  Masumi...." Maya langsung melingkarkan kedua tangannya erat-erat ke leher Masumi.

"Kamu ini...panik sekali" bisik Masumi dengan nada geli.

"Pak..pak Masumi. Anda malah meledekku. Aku kan tidak bisa berenang dan hampir saja tenggelam"

"Tenggelam?" Kening Masumi berkerut "Coba kamu lihat, mungil. Danaunya tidak dalam. Hanya mencapai dada--"

"Iya. Dada anda" sahut Maya  cepat. Ia mengerucutkan mulutnya  "Tapi aku tidak bisa menyentuh  dasarnya dengan kakiku"

Masumi tertawa geli.

"Jahat...anda benar-benar--" Maya memukuli Masumi. Tapi cepat-cepat ia melingkarkan lengannya lagi pada  Masumi karena tanpa sadar ia melepaskan pegangannya sehingga  hampir tenggelam kembali.

Masumi terus saja tertawa geli.

"Jangan menertawakanku terus" gerutu Maya dari balik bahu masumi "Anda ini benar-benar menyebalkan. Sukanya menertawakan--" Maya tidak melanjutkan kalimatnya karena akhirnya menyadari kalau beberapa pasang mata orang-orang yang sedang berperahu menatap pada mereka  "Pak..pak masumi---" bisiknya "Ba..bagaimana ini? Kita menjadi tontonan orang-orang" Ia pun menyembunyikan wajahnya di bahu Masumi.

"Ya...mau bagaimana lagi" sahut Masumi dengan nada pasrah bercampur geli "Siapa suruh kamu tidak bisa diam dan membuat kita berdua kecebur"

"Pak..pak Masumi--"

"Untung saja kita sudah dekat dengan dermaga" lanjut Masumi "Kalau tidak, bagaimana aku bisa membawamu keluar dari danau ini dengan kamu memelukku erat-erat seperti ini?"

"Pak Masumiii....." seru Maya gemas.

Dan Masumi pun terbahak.

@@@@@

Sambil mengeringkan kepalanya dengan handuk yang diberi oleh penjaga perahu, -sepertinya banyak juga penyewa perahu yang jatuh tercebur ke  danau itu, sehingga begitu sampai di darat, penjaga perahu dengan sigap langsung memberikan mereka masing-masing satu handuk kering-  Maya terkikik geli. "Pak Masumi...maaf ya. Gara-gara aku, anda jadi seperti tikus kecebur got--"

"Mungil"

"Dan jas mahal anda itu menjadi basah dan kotor"

Masumi menunduk dan menatap jasnya sendiri. Benar apa yang dikatakan Maya. Jasnya itu telah basah juga kotor oleh lumpur.

"Membungkuk, pak Masumi...membungkuk" ucap Maya tiba-tiba.

Masumi mengerutkan keningnya. "Heh?"

"Ayo membungkuk" ucap Maya lagi. Ia pun menarik belahan jas Masumi sehingga Masumi pun membungkuk. Lalu, Maya mengulurkan tangan yang sedang memegang handuk ke kepala Masumi dan mengusap-ngusapkannya. "Rambut anda masih basah, pak Masumi" ucapnya sambil mengusap-ngusapkan handuknya ke kepala Masumi.

Masumi tersenyum kecil dan membiarkan Maya mengeringkan rambutnya. Lalu, ia pun mengulurkan tangannya yang memegang handuk ke kepala Maya.

"Eh?"

"Rambumu juga masih basah, mungil" ucap Masumi enteng "Jadi biarkan aku mengeringkan rambutmu"

"Pak...pak Masumi...."

Mereka pun saling mengeringkan rambut.

"Kita pulang saja ya?" ucap Masumi tiba-tiba "Tidak mungkin kan kita terus melanjutkan jalan-jalan seperti ini. Seperti kamu bilang tadi, kita ini seperti tikus kecebur got. Hari begitu cerah tapi kita malah basah kuyub, kotor dan bau lumpur lagi" Ia mengeryit mencium bau tubuhnya sendiri.

Maya mengangguk setuju. "Iya, pak Masumi. Lebih baik kita pulang--"

"Dan mandi berendam" sambung Masumi cepat sambil menatap Maya penuh arti.

Wajah Maya memerah. "Pak Masumii...." serunya. Ia pun mencubit lengan Masumi.

"Aduh" seru  Masumi kesakitan "Kamu ini mengapa mencubitku--"

"Habis anda..anda--"

"Aku apa?" Masumi menatap lekat Maya "Memangnya perkataanku salah? Kita memang perlu berendam untuk menghilangkan bau lumpur ini kan?"

"Eh I..itu--"

Masumi tersenyum geli melihat Maya yang menjadi salah tingkah. "Ayolah...sekarang kita pergi saja dari sini" Ia pun meraih tangan maya dan menariknya.

Baru beberapa langkah berjalan, Maya menghentikan langkahnya. Ia berdiri diam dan menatap sesuatu yang berada tidak jauh di  depannya.

"Mu..mungil?" Masumi menoleh menatap gadis mungil itu dan mengikuti pandangannya. Dan ia melihat sebuah panggung terbuka, tempat dulu Maya memerankan pack dalam drama A midsummer night's dream.

"Mungil..." panggil Masumi lagi.

Maya menoleh pada Masumi kemudian menatap panggung terbuka itu lagi "Panggung itu tidak berubah ya, pak Masumi" ucapnya "Walau bertahun-tahun sudah berlalu"

"Mungil?"

Maya menatap terpaku pada panggung terbuka itu. Mengingat kembali bahwa ia pernah berdiri di sana. Memainkan perannya sebagai pack, peri bandel utusan raja Obron yang ditugaskan mencari rumput serong.
Rindu....rasa rindu menyergap hatinya. Ia ingin sekali berdiri di atas panggung lagi.Memerankan sesuatu, menghidupkan sebuah karakter dan membuat penonton hanyut melihat aktingnya.

Tiba-tiba, mata Maya membelalak ketika melihat beberapa orang naik ke atas panggung terbuka itu. Ia mengenali mereka.  Mereka adalah sahabat-sahabatnya. Rei, Sayaka, Nina dan Taiko. Dan juga beberapa anggota teater ikkakuju.  Ia pun menoleh pada Masumi. "Pak Masumi, mereka---"

Masumi yang juga sudah melihatnya, mengangguk. "Apa kamu mau menyapa mereka,mungil?"

"Aku---"

"Ayo kita hampiri mereka" Masumi yang masih memegang tangan Maya, membawanya mendekati panggung terbuka "Mereka pasti akan sangat terkejut dan merasa senang melihatmu masih hidup"

"Pak Masumi...."

"Panggil mereka, mungil"

Maya mengangguk. "Reii....Sayakaaa, Taikooo---" Ia berteriak memanggil teman-temannya.

Beberapa orang yang sedang latihan berakting di atas panggung, menoleh dan mereka terkejut. Mata mereka mengerjap tidak percaya.

"Ma..Maya?" ucap Rei.  Ia pun bergegas menghampiri Maya diikuti teman-temannya. "Maya?" ucapnya lagi tidak percaya ketika ia berdiri di hadapan Maya "Ka..kamu....kamu masih hidup?"

"Iya, Rei" sahut Maya "Ini aku. Aku masih hidup. Kalian...bagaimana kabar---"

"Aku benar-benar tidak percaya" sela Rei "kamu benar-benar-- tapi kenapa kamu basah kuyub seperti ini dan--" ia menatap Masumi kemudian berbisik pada Maya "Bisa bersama dengan pak Masumi yang juga sama basah kuyubnya denganmu?"

Maya tersenyum kecil. "Ceritanya panjang, Rei"

"Panjang?"

Maya mengangguk.

"Kalau begitu kamu harus segera menceritakannya pada kami" ucap Rei "setuju kan teman-teman?"

"Setuju....setuju sekali" sahut semua teman-teman Maya yang ada di sana.

@@@@@

Masumi meninggalkan Maya dengan teman-temannya dan ia pun kembali ke kantor.

Mizuki tampak sangat terkejut ketika melihat atasannya datang dengan basah kuyub dan baju penuh lumpur.
"Pak Masumi, anda--"

"Mizuki" sela Masumi "Tolong carikan pakaian ganti untukku" Dan tanpa menunggu jawaban Mizuki, ia pun masuk ke dalam ruangannya.

Mizuki menganggukkan kepalanya  kemudian menelpon butik langganan Masumi dan meminta segera dikirimkan satu stel pakaian untuk Masumi.

Beberapa saat kemudian, dengan baju yang baru saja dikirim dari butik, Mizuki mengetuk ruangan Masumi.

Tok..tok...tok.....

"Masuk" sahut Masumi dari dalam.

Mizuki membuka pintu. "Permisi, pak Masumi. Ini pakaian yang anda minta"

Masumi menerima pakaian itu "Oke. Terima kasih, Mizuki" Ia pun masuk ke dalam kamar mandi pribadinya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.

Tak lama kemudian, Masumi keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru yang kering.

"Ini kopinya, pak Masumi" ucap Mizuki.

"Terima kasih, Mizuki" masumi pun menghampiri mejanya. Duduk di kursinya dan mengambil kopi kemudian meminumnya.

"An..anda....mengapa anda bisa basah kuyub seperti itu?" Mizuki memberanikan diri untuk bertanya.

Masumi mengangkat wajahnya dan menatap Mizuki "Oh itu...aku kecebur masuk danau"

"Heh?" Mizuki menatap atasannya dengan tidak percaya.

"Tidak usah menatapku seperti itu, Mizuki" ucap Masumi tenang "Aku juga hanya manusia biasa yang bisa kecebur seperti yang lainnya"

"Pak Masumi...."

Masumi tersenyum kecil sehingga membuat Mizuki terperangah. Sudah lama....sangat lama ia tidak melihat Masumi tersenyum seperti itu. Apa itu karena Maya? Kening Mizuki berkerut Eh, Maya? Benarkah gadis yang aku lihat itu bersama pak Masumi itu adalah Maya? Dia sangat mirip dengan Maya tapi---

"Mizuki" panggil Masumi "Mengapa kamu masih berdiri di sana?"

"Eh--ehm...pak Masumi, boleh saya bertanya sesuatu pada anda?"

Kedua alis  masumi terangkat. "Bertanya apa?"

"Gadis yang tadi bersama anda itu--"

"Dia adalah Maya" sahut Masumi cepat "Memangnya  kamu tidak mengenalinya?"

"Bukan begitu, pak Masumi. Tapi...tapi bukankah Maya sudah---" Mizuki tidak menyelesaikan kalimatnya karena ia tahu Masumi pasti mengerti.

Masumi tersenyum kecil. "Kalau Maya sudah meninggal lalu gadis itu siapa? Apa hantunya Maya yang tadi terlihat bersamaku?"

"Pak Masumi---"

"Maya belum meninggal, Mizuki. Yang kamu lihat benar-benar Maya. Dia selamat dari tsunami yang terjadi 3 tahun lalu. Tapi ia sengaja menghilang--"

"Menghilang? Mengapa Maya harus menghilang?" tanya Mizuki tidak mengerti.

"Dia memiliki beberapa alasan. Alasan untuk tidak menampakkan dirinya lagi. Dan salah satu alasan itu--" wajah Masumi berubah sendu "Karena aku"

"Pak Masumi...."

Masumi menghela napasnya. "Tapi sekarang, dia sudah aku temukan dan aku tidak akan membiarkannya pergi dari sisiku lagi. Tidak akan...."ucapnya penuh tekad.

@@@@@

Menjelang malam, Masumi datang ke apartemennya...bukan mungkin lebih tepat disebut bekas apartemennya karena ia tidak akan tinggal di sana lagi.

Sesampai di depan pintu apartemen, ia pun menekan bel. Tidak perlu menunggu lama, Shiori membukakan pintu untuknya.

"Masumi--"

"Mana surat yang harus kita tanda tangani, Shiori?" tanya Masumi tanpa basa basi.

"Masumi, mengapa harus cepat-cepat. Masuklah dulu" Shiori melebarkan pintu dan memberi jalan pada Masumi.

"Jangan main-main, Shiori. Cepat--"

"Masumi" sela Shiori tenang "Aku tidak main-main. Aku pasti akan memberikan surat itu. Tapi tidak di depan pintu---"

"Shiori..."

"Aku tidak membawanya sekarang, Masumi" Ia memperlihatkan tangannya yang kosong "Jadi kamu masuklah dulu" ajak Shiori lagi "Kamu duduk dulu di sana" Ia menunjuk pada sofa "Dan aku akan mengambilkan suratnya"

Masumi menghela napasnya. Ia tidak punya pilihan. Jadi ia pun masuk ke dalam dan menuju salah satu sofa.
Shiori menutup pintu dan mengikuti Masumi.

"Mana suratnya?" tanya Masumi ketika ia sudah duduk di sofa "Lebih baik segera kita tanda tangani. Tidak perlu membuang-buang waktu lagi"

Shiori mengangguk. "Akan aku ambilkan suratnya" Ia pun menghilang ke kamarnya. Tak lama kemudian ia keluar dari kamarnya sambil memegang map berwarna coklat. "Ini suratnya, Masumi" Ia menyerahkan map coklat itu pada Masumi.

Dengan tidak sabar Masumi membukanya dan membacanya. Shiori sudah mengisi surat permohonan perceraian itu. Lalu ia pun mengambil bolpen dari saku kemejanya dan menandatangani surat itu. Kemudian ia menggesernya, memberikannya pada Shiori "giliranmu menandatanganinya"

Shiori menggeleng.

"Shiori...."

"Aku akan menanda tanganinya setelah kamu menemaniku makan malam"

Masumi menatap kesal Shiori. "Kamu jangan membuang-buang waktu. Lebih baik---"

"Masumi...apakah aku salah? Salahkah aku memintamu menemaniku makan malam?" tanyanya. Ia menatap masumi dengan sedih "Selama 3 tahun ini kita tidak pernah makan malam bersama. Jadi tidak bisakah untuk terakhir kalinya, sebelum kita berpisah kamu menemaniku--"

"Shiori, aku--"

"Kumohon. Masumi. Anggap saja ini sebagai permintaanku yang terakhir"

Masumi diam dan menatap Shiori.

"Masumi, please" ucap Shiori penuh permohonan "Aku tidak minta apapun. Aku hanya ingin menemani makan malam. Hanya itu. Setelah itu...aku janji...aku benar-benar berjanji padamu akan menandatangani surat itu"

Masumi menghela napas panjang kemudian ia pun mengangguk.

"Terima kasih, Masumi" ucap Shiori "Terima kasih banyak"

@@@@@

Masumi mengikuti Shiori menuju balkon samping apartemen mereka. Saat Shiori membuka pintu kaca, ia dapat melihat sebuah meja dan sepasang kursi ada di sana disinari cahaya remang-remang lilin yang ada di tengah meja.

"Ka..kamu duduk sana dulu di sana, Masumi" ucap Shiori "Aku ambilkan makanannya dulu"

Masumi mengangguk dan dengan terpaksa,ia pun melangkah kakinya ke sana dan duduk di salah satu kursi.
Setelah Shiori melihat Masumi duduk, ia segera ke dapur dan tidak berlama-lama, ia membawa sebuah baki dan menuju ke tempat Masumi duduk.

Shiori meletakkan sepiring steak di hadapan Masumi. "Ini buatanku sendiri, Masumi" ucapnya "Kamu cobalah". Setelah itu ia meletakkan piring lain untuknya sendiri.

Mereka pun makan tanpa banyak berkata.

@@@@@

Selesai makan, Masumi kembali duduk di ruang tamu. Shiori yang datang belakangan meletakkan segelas red wine di atas meja, di dekat Masumi kemudian segelas lain di dekatnya.

"Aku sudah mengabulkan permintaanmu untuk makan malam bersama " ucap Masumi "Sekarang cepat tanda tangani surat itu"

Shiori mengangguk. Ia pun mengambil bolpen yang tergeletak di atas meja dan meraih surat permohonan perceraian itu dan menandatanganinya.

"Berikan padaku" ucap Masumi meminta surat itu karena Shiori tidak menyerahkan padanya "Aku akan mengurusnya"

Tapi Shiori malah menjauhkannya.

"Shiori...."

"Aku tidak akan menyerahkannya sekarang. Karena bila surat itu ada ditanganmu, kamu pasti akan segera pergi"

"Shiori. Jangan main-main. Cepat berikan padaku"

"Kenapa harus terburu-buru?" tanya Shiori "Kamu sudah melihat aku menandatanganinya kan?"

"Shiori"

"Kita bersulang dulu" Shiori mengambil gelas di depan masumi dan memberikannya pada Masumi.

Tapi Masumi tidak mau menerimanya.

"Masumi....untuk perceraian kita. Untuk kebahagiaanmu bersama Maya. Biarkan aku bersulang untukmu" Ia menyodorkan gelas yang dipegangnya itu. Tapi...masumi masih tidak mau menerimanya.

"Masumi...aku janji. Setelah kamu meminumnya aku akan membiarkanmu pergi" Shiori terus menyodorkan wine itu kepada Masumi.

Masumi menatap Shiori. Lalu ia mengambil gelas wine yang berada di atas meja, didepan Shiori. "Yang itu untuk kamu saja. Aku minum yang ini"

Shiori menghela napasnya "Kamu mencurigaiku, Masumi?" tanyanya sedih "Tapi tidak apa-apa. Aku akan minum yang ini. Aku akan buktikan padamu bahwa aku tidak punya maksud jahat apapun padamu" Ia pun mendekatkan gelasnya pada gelas masumi "Kita bersulang?"

Masumi membenturkan gelasnya pada gelas Shiori.

Tring...

Shiori pun meneguk winenya kemudian menatap Masumi. "Masumi?"

Perlahan, Masumi mendekatkan gelas berisi wine ke mulutnya dan meneguknya kemudian ia meletakkan gelas itu di atas meja. "Aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan. Jadi mana suratnya?"

Shiori mengambil surat yang tadi dijauhkannya kemudian memberikannya pada Masumi.

"Terima kasih" ucap Masumi pendek. Ia pun bangkit berdiri. Tapi tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan ia terduduk kembali ke sofa. "Ka..kamu---" Ia menatap marah Shiori yang hanya tersenyum melihatnya kemudian ia pun tak sadarkan diri.

Ceklek....

Mendengar suara pintu, Shiori pun menoleh kemudian tersenyum penuh kemenangan pada mantan pengawal pribadinya yang keluar dari kamar "Jin, apa yang kamu rencana sempurna.  Benar-benar sempurna. Kamu memang  hebat"

@@@@@

Kepalanya sakit, itu yang Masumi rasakan ketika terbangun dari tidurnya.

"Mengapa kepalaku berat?" Masumi memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali. Semalam Shiori memberinya wine. Apa wine itu.... Shiori...dia...dia memperdayaku. Wine itu dibubuhi obat tidur.  Masumi benar-benar marah pada dirinya sendiri. Dia ceroboh dan tidak waspada.  Rupanya wine yang semula untuk Shiori  yang dibubuhi obat bukan wine yang disodorkan Shiori. Shiori tahu ia tidak akan meminum wine yang diberikannya karena curiga akan diberi obat tapi ternyata..... Masumi menghela napas kesal  Bodoh...aku benar-benar bodoh. Aku benar-benar terperdaya  olehnya. Aku harus mencarinya dan meminta penjelasan mengapa dia melakukan ini padaku.

Masumi pun mengangkat tubuhnya. Tapi ia tidak bisa melakukannya. Kedua tangannya tertahan. Ia mencoba menariknya dan merasakan sesuatu melingkari kedua pergelangan tangannya sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.

"Eh....?" Masumi pun menolehkan kepalanya ke atas dan mendapati dirinya kedua tangannya dipasangi borgol yang terkunci pada besi kepala tempat tidur.

Masumi berusaha keras  melepaskan tangannya dari borgol itu. Ia menarik-nariknya dengan keras. Berharap borgol itu dapat dilepaskan dari tangannya atau setidaknya dari kepala tempat tidur.  Tapi usahanya sia-sia dan hanya membuat pergelangan tangannya terasa sakit.

Ceklek

Perhatian Masumi teralih ketika mendengar pintu di buka. Ia pun mengangkat kepalanya dan  menatap pintu. "Shiori....."serunya ketika melihat siapa yang datang "Apa-apaan ini? Lepaskan aku......."

Shiori tidak mempedulikan seruan  Masumi. Dengan tenang, ia menghampiri Masumi dan duduk di sisi ranjang, di samping Masumi.

"Shiori...lepaskan aku"

Shiori hanya tersenyum menatap Masumi.

"Shiori....kamu---"

Tangan Shiori terulur menyentuh pipi Masumi dan membelainya dengan lembut. Masumi kembali menarik-narik borgolnya, berusaha melepaskan tangannya.  Ia sangat ingin menepis tangan Shiori di pipinya tapi, borgolnya tetap tidak berhasil ia lepaskan.  Jadi ia hanya menggerak-gerakkan kepalanya. Berusaha untuk menjauh. "Shiori....hentikan---"

Shiori menatap lembut Masumi. "Mengapa aku harus menghentikannya, Masumi? Apa kamu tahu? Sudah lama aku ingin melakukan ini. Membelai pipimu lalu---" Tangannya yang berada di pipi Masumi, bergerak ke bawah. Menyusuri leher dan dada bidang Masumi.

"Shiori...hentikan" seru Masumi lagi. Ia berusaha untuk bangun, tapi lagi-lagi gerakannya tertahan. "Kamu tidak boleh melakukan ini. Kita...bukankah kamu sudah setuju untuk bercerai"

"Bercerai?" Kening Shiori berkerut.

"Shiori...jangan main-main. Kemarin malam kita sudah menanda tangani surat permohonan perceraian--"

"Surat---Oh itu..." Shiori membuka laci yang ada di samping tempat tidur lalu mengambil map berwarna coklat dan membukanya. "Ini maksudmu?" tanyanya  sambil memperlihatkan selembar kertas pada Masumi. Kertas yang tertera tanda tangan mereka berdua. Kemudian dengan santai dia merobeknya menjadi serpihan kecil.

"Shiori....kamu---"

"Kertas ini sudah tidak berguna dan tidak ada artinya lagi" Shiori pun membuangnya ke lantai.

Masumi menatap marah Shiori. "Ka..kamu---"

"Sudah tidak ada lagi surat permohonan perceraian itu, Masumi" ucap Shiori pelan "Jadi kamu---" Ia membuat lingkaran-lingkaran kecil di sekitar dada bidang Masumi "adalah milikku. Selamanya milikku"

"Shiori...hentikan....." Masumi terus memberontak "Lepaskan aku...."

Shiori tidak mempedulikan Masumi. Tangannya malah bermain-main di kancing paling atas kemeja Masumi.
Masumi mulai merasa panik. "A..apa? Apa  yang akan kamu lakukan?"

Shiori kembali menatap Masumi dan tersenyum. "Menurutmu apa?" tanyanya. Dan ia pun membuka kancing kemeja Masumi yang paling atas.


Bersambung….


4 komentar:

  1. Ternyata si aki msh sj dirantai...
    Mana lanjutanny cupid...?
    Nida




    BalasHapus
  2. aa... biar aq aja yg teriak.. sebel.....
    sista... jgn biarin nenek lampir itu brbuat itu.. aduh.... hijiri kemana sih.. saat d butuhin g ada lg tuh org... :'-(
    lanjut.. lg sista...lanjut.. panas nih. pengen gantung shiori d tengah gunung.. ^^

    BalasHapus
  3. sista..hiks..hiks.. g rela masumi d pegang pegang sama nenek sihir itu.. huhuhu.. bs nangis darah maya tuh.
    ayolah persatukan MM sist. udah terlalu byk ksedihan mereka... :'-(

    BalasHapus
  4. Sistaaaaa....lanjutan nya mana...plisssss....plisss...kasihan masumi udah berbulan2 di rantai ama shiomay smbil di kiss..
    Aduuuhh...sistaa..... selamatin masumi dong.....
    Tetty

    BalasHapus