Halaman

Rabu, 06 Juli 2011

POWER of LOVE (chapter 03)

Maya keluar dari rumah sakit tersebut dengan gontai. Ia tidak dapat melihat Masumi. Ia tidak dapat menjenguknya.

Maya berjalan seperti orang linglung. Ia hanya terus berjalan perlahan-lahan dengan tidak sadar. Pikirannya kosong. Bahkan ketika ia menyeberang jalan, ia tidak mendengar teriakan pengemudi taksi yang menyuruhnya cepat menepi.

Jauh Maya berjalan, Maya melewati sebuah gereja. Ia berhenti di depan gereja tersebut dan hanya diam memandangi gereja tersebut.

Seorang pendeta yang kebetulan keluar, melihat Maya yang hanya berdiri diam memandangi gereja itu.

Pendeta itu lagi mendekatinya, ia melihat wajah Maya yang terlihat sangat sedih.

Dengan perlahan ditepuknya bahu Maya,

“Anakku,mengapa kamu hanya berdiri diam di sini? Dan mengapa wajahmu terlihat sangat sedih?” Tanya Pendeta itu.



Maya memandang wajah pendeta itu. Sebenarnya ia ingin menjawab pertanyaan pendeta itu. Tapi lidahnya terasa kelu, sulit untuk berucap. Lalu perlahan air mata menetes dari matanya.

Pendeta yang melihat Maya menangis lalu berkata “kamu sedang ada masalah? Bila kamu sedang ada masalah, masuklah ke dalam dan bicaralah dengan Tuhan. Dia pasti akan mendengarkan doa-doamu dan juga akan mengabulkannya.”

Maya masih memandang wajah pendeta itu yang penuh dengan ketenangan.
“Benarkah? Benarkah Tuhan akan mendengarkan doaku dan mengabulkan permintaanku? Tanya Maya perlahan. Sangat pelan seperti bisikan.

Tapi pendeta itu mendengar pertanyaan Maya.

“Bila kamu berdoa dengan sungguh-sungguh dan percaya atas kebesaran Tuhan. Yakinlah bahwa Ia akan mengabulkan doa-doamu.” Jawab pendeta itu.

Setelah mendengar kata-kata pendeta itu, Maya melangkahkan kakinya masuk dalam gereja tersebut.

Di dalam gereja, keadaan kosong, tidak ada seorangpun di sana.

Maya berjalan menuju altar.

Tiba di depan altar, ia berlutut, menundukkan kepalanya, menyatukan kedua tangannya, dan menutup matanya, kemudian ia pun berkata

“Tuhan, tolong jangan ambil nyawa Masumi…
Jangan Kau panggil dia sekarang, aku masih sangat membutuhkannya, aku masih belum sempat membalas semua kebaikannya.
Sadarkanlah ia dari komanya, sembuhkanlah masumi..
Aku mohon padaMu Tuhan, dengan segala kerendahan hati, aku sangat memohon padaMu.
Aku rela menukar hidupku dengan nyawanya, aku rela menyerahkan semua yang aku miliki untuk kesembuhannya, aku rela melakukan apapun demi dia..demi masumi, mawar unguku.
Tuhan dengarkanlah doaku ini dan kabulkanlah permohonanku ini, karena hanya padaMu aku meminta, hanya padaMu aku percaya bahwa semuanya berjalan sesuai dengan kehendakMu dan Engkau takkan membiarkan umatMu dalam kesusahan……”

*****

Setiap hari maya pergi ke rumah sakit walaupun ia tidak pernah diperbolehkan masuk untuk melihat masumi. Kemudian, ia pergi ke gereja, berdoa untuk kesembuhan Masumi, setelah itu barulah ia kembali pulang ke apartemennya dengan wajah sedih. Hanya itu yang dilakukan Maya setiap harinya.

Sesampainya Maya di apartemennya, ia akan mengurung diri di kamar.

Sepanjang hari ia hanya menangis dan terus menangis.

Maya tidak makan, bila Rei tidak memaksanya makan, ia juga tidak mau menemui teman-temannya dari teater Mayuko saat mereka datang ke apartemen Maya. Ia juga tidak pergi ke lokasi syuting. Maya hanya berdiam diri di kamar. Dalam pojok kamarnya, ia duduk memegang lututnya dan menangis.

Rei yang melihat Maya seperti itu mulanya hanya membiarkan Maya. Ia tidak berkata apa-apa, ia memahami kesedihan Maya, tetapi melihat Maya yang makin hari makin terpuruk dengan kesedihannya. Maya seperti kehilangan jiwanya juga melupakan tanggung jawabnya membuat Rei gemas.

Rei membuka pintu kamar Maya, ia melihat Maya sedang duduk berlutut di pojok kamar sedang menangis. Rei mendekati Maya dan duduk di sampingnya.

“Sampai kapan kamu mau terus seperti ini, Maya? Sampai kapan?” Tanya Rei.

“Aku tahu perasaaanmu, aku mengerti kesedihanmu. Beberapa hari ini aku membiarkanmu menangis. Aku tidak pernah berkata apa-apa. Karena aku berharap kamu dapat segera mengatasi kesedihanmu. Tapi, semakin hari, kamu malah semakin terpuruk dalam kesedihanmu. Kamu seperti orang yang telah kehilangan jiwanya. Jadi apakah kamu akan begini terus?” lanjut Rei

“Aku ingin melihat Masumi, aku ingin melihat dia” isak Maya

“Maya, apa kalau Pak Masumi tahu kamu seperti ini karena dia, Pak Masumi akan mengijinkanmu melihatnya? Bila Pak Masumi mengetahui kamu seperti ini, ia pasti akan sangat sedih. Ia pasti akan sangat kecewa padamu.
Maya, walaupun sekarang Pak Masumi sedang koma, yakinlah ia sekarang ini sedang berjuang..berjuang untuk hidupnya, tidak seperti kamu yang seperti kehilangan semangat untuk hidup.

Saat Pak Masumi bangun nanti, ia tentu tidak ingin melihatmu seperti ini, kamu punya tanggung jawab Maya. Kamu punya pekerjaan yang harus kamu selesaikan. Kamu harus menyelesaikan pembuatan iklanmu dan mementaskan bidadari merah di 7 kota besar di Jepang akhir bulan depan. Kalau kamu seperti ini terus, bagaimana dengan iklan itu? Bagaimana dengan pementasan itu?’ kata Rei panjang lebar.

“Aku tidak peduli rei, aku tidak peduli dengan semua itu, masa bodoh dengan iklan itu, masa bodoh dengan pementasan itu….” Sahut Maya

Rei menghela napas panjang mendengar kata-kata Maya

“Maya, seandainya ibu Mayuko mendengar kata-katamu itu, beliau pasti sangat kecewa, beliau pasti sangat menyesal telah memberikan hak pementasan bidadari merah itu padamu. Dan bukan hanya ibu Mayuko saja yang merasa kecewa, semua orang akan kecewa termasuk Pak Masumi. Ia juga pasti akan kecewa mendengar kata-katamu tadi.

Kamu jangan lupa Maya, bahwa rencana pembuatan iklan ini, rencana pementasan ini Pak Masumi berperan di dalamnya. Pak Masumi sebagai direktur Daito yang mengusulkan rencana ini. Dan kamu telah menyetujui dan menanda-tangani kontraknya dengan Daito. Sekarang mana boleh kamu mengatakan bahwa kamu tidak peduli dengan semua ini. Sebagai artis, kamu memiliki tanggung jawab Maya. Kamu tidak boleh berbuat seenaknya.

Maya, bagaimana seandainya bila pada saat pementasan bidadari merah itu, Pak Masumi telah sadar, Pak Masumi telah sembuh dan sebagai Mawar ungu, ia ingin menonton pementasan itu tapi ternyata pementasan itu dibatalkan karena pemeran utamanya telah kehilangan semangat hidupnya. Apakah ia tidak akan kecewa padamu Maya?
Kamu pikirkanlah itu baik-baik. Semua keputusan ada di tangan kamu, aku tidak ingin ikut campur lagi” ucap Rei lalu berdiri dan meninggalkan Maya.

Setelah rei meninggalkannya. Maya masih terdiam di tempatnya. Air mata masih membasahi pipinya. Tetapi sekarang ia sedang memikirkan perkataan Rei.

“Mungkin perkataan Rei benar, tidak seharusnya aku seperti ini. Bagaimana bila masumi sadar dan melihat aku seperti ini..Masumi pasti akan marah padaku…Mawar ungu pasti akan kecewa padaku.
Aku tidak mau mengecewakannya….aku tidak mau…..” ucap Maya dalam hati.

*****

Rei sedang menyiapkan makan malam ketika Maya menghampirinya.

“Rei..” panggil Maya perlahan.

“Maya, aku senang kamu sudah mau keluar dari kamarmu. Aku sudah menyiapkan makan malam, ayo kita makan” kata Rei ketika mendengar panggilan Maya.

Maya duduk berhadapan dengan Rei.

“Rei, aku akan menyelesaikan shooting iklanku. Aku juga tidak akan menggagalkan pementasan bidadari merah yang bakal di gelar bulan depan. Aku tidak mau mengecewakan ibu Mayuko juga Masumi…tidak mau Rei..”ucap Maya.

Rei tersenyum mendengar ucapan Maya.

“Ini baru sahabatku..ini baru Maya yang aku kenal” kata Rei

“Kalau ibu Mayuko mendengar, beliau pasti akan bangga, begitu juga Pak Masumi, beliau juga pasti bangga padamu, Maya” lanjutnya.

*****

Keesokan harinya Rei mengantar Maya ke lokasi shooting.

Sebelum Maya turun dari mobil, rei berkata “Tegarlah Maya, pakailah salah satu topeng kaca milikmu, sembunyikan wajah sedihmu. Orang-orang yang ada di sana tidak ada yang tahu hubunganmu dengan Pak Masumi. Saat kamu masuk ke dalam sana, ingatlah bahwa kamu bukan Maya Kitajima yang mengkhawatirkan Pak Masumi tetapi kamu Maya Kitajima, artis pemeran bidadari merah”

Maya hanya mengangguk mendengar perkataan Rei.

Maya kemudian berjalan menuju lokasi shooting.

Ketika melihat Maya datang, pak Sutradara memanggilnya.

Maya berjalan mendekati sutradara, bersiap menerima kemarahan pak Sutradara karena sudah beberapa hari ini, ia tidak datang ke lokasi syuting tanpa kabar.

“Matamu sudah sembuh? Temanmu mengatakan kalau kamu terkena sakit mata..Jadi ia mewakilimu meminta maaf kamu tidak bisa datang ke sini karena takut menularkannya pada orang-orang yang ada di sini.” Kata Pak Sutradara

Maya melongo mendengar kata-kata Pak sutradara. Tapi kemudian ia menggangguk.

“Saya sudah tidak apa-apa, Pak. Saya sudah sembuh” jawab Maya kemudian.

“Kalau begitu bisa kita lanjutkan syuting iklannya?” Tanya pak sutradara lagi.

Maya mengangguk sekali lagi.

“Kalau begitu, kamu bersiap-siaplah.” Ujar Pak Sutradara.

Di perjalanan menuju ruang ganti, Maya bertemu koji.

“Maya…” panggil Koji. “Kamu sudah tidak apa-apa?”

“Aku tidak apa-apa, Koji, trims.” Ujar Maya pendek.

“Maya, maafkan aku, hari ini aku….”

“Sudahlah Koji, aku sedang tidak ingin mengungkitnya lagi..” potong Maya sambil meninggalkan Koji menuju ruang ganti.

*****

Hari itu, sekuat tenaga, maya menahan perasaannya, perasaan sedihnya, perasaaan khawatirnya akan Masumi. Maya berusaha melakukan syuting iklannya dengan baik. Ia benar-benar berusaha dengan keras agar orang lain tidak tahu perasaannya saat ini.

bersambung ke PoL 4....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar