Halaman

Kamis, 07 Juli 2011

POWER of LOVE (chapter 04)

Dua minggu sudah berlalu sejak peristiwa kecelakaan yang dialami Masumi.

Kondisi Masumi semakin membaik bahkan luka-luka di tubuh Masumi mulai menghilang tetapi Masumi masih belum terbangun dari komanya.

Tim dokter yang menangani Masumi tidak dapat memastikan kapan Masumi dapat tersadar kembali.

Kondisi tentang belum sadarnya Masumi dari komanya dan tidak adanya kepastian kapan Masumi dapat sadar kembali mulai membuat para pemegang saham Daito resah.

Karena tidak mungkin sebuah perusahaan apalagi perusahaan sebesar Daito tidak ada yang memimpin.

Mereka mulai kasak-kusuk mengenai bagaimana nasib perusahaan Daito.

Akhirnya rapat pemegang saham dilakukan untuk membahas persoalan itu..

Terjadi perdebatan seru dalam rapat tersebut.

Para pemegang saham terbagi menjadi 2 kubu. Satu kubu menginginkan agar kedudukan Masumi sebagai Daito segera dicabut dan digantikan dengan orang lain. Kubu yang lain tidak setuju karena belum ada orang yang dianggap cocok sebagai direktur utama yang sekompeten Masumi.



Melihat perdebatan yang semakin memanas, Akhirnya Eisuke Hayami, pemegang saham terbesar yang mempunyai hak istimewa untuk mengeluarkan keputusan, memutuskan mengambil jalan tengah yaitu memberi waktu tenggang selama 1 bulan untuk melihat kondisi perkembangan Masumi.

Bila dalam 1 bulan,Masumi masih tidak sadarkan diri, maka rapat pemegang saham akan dilakukan lagi untuk memilih Direktur Daito yang baru.

Dan selama 1 bulan itu, para pemegang saham dapat mencari dam memikirkan siapa calon yang cocok untuk menggantikan Masumi, yang nantinya dapat diusulkan dalam rapat mendatang.

*****

Di tempat lain, Maya menyibukkan diri dengan latihan acting dan menerima wawancara TV untuk mempromosikan pementasan bidadari merah akhir bulan depan.

Sekuat tenaga, ia memfokuskan diri pada pekerjaan yang harus dilakukannya. Ia berusaha menyingkirkan pikirannya mengenai kondisi Masumi.

Bila saat siang, Maya bisa melakukannya, ia bisa melupakan perasaan sedihnya karena ia sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukannya.. Tapi, bila malam tiba, perasaan khawatir, perasaan ingin melihat Masumi itu datang lagi.

Jadi setiap malam, seusai syuting, Maya menyempatkan diri ke rumah sakit walau pada akhirnya kepergiannya kesana sia-sia. Ia tetap tidak diijinkan masuk.

Dan sepertinya dirinya telah masuk “black list” petugas jaga atas perintah Shiori. Sehingga siapapun petugas kepolisian yang berjaga, tak ada satupun yang memperbolehkannya masuk ke ruang perawatan Masumi.

Lalu Maya dengan hati sedih akan meninggalkan rumah sakit dan menuju gereja. Hanya di gereja, Maya melepaskan kesedihannya dan mengucapkan permohonan yang sama setiap harinya.

Kemudian barulah ia pulang ke apartemennya dan masuk ke kamarnya.

Dalam kamarnya, Maya akan berbaring dan menangis. Menangis sampai ia tertidur. Tapi keesokan harinya saat matahari terbit, ia kembali menyembunyikan perasaan sedihnya dan bersikap biasa.

Hal itu yang dilakukan Maya setiap harinya. Ia seperti sebuah robot yang diprogram. Pagi sampai matahari terbenam, ia akan bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa, tapi bila malam tiba, semua perasaan yang dengan baik telah ia sembunyikan, keluar dengan sendirinya.

Malam ini pun sama seperti Malam sebelumnya. Maya baru tiba di Apartemen, lalu masuk ke kamarnya.

Sambil berbaring, ia memikirkan Masumi. Memikirkan betapa rindunya ia pada masumi.

“Ah, andai aku bisa melihat Masumi, 1 kali…1 kali saja.” Harap Maya.

Lalu terbesit pertanyaan dalam pikirannya,”Siapa ya orang yang bisa membantuku menemui Masumi?…membantuku menemui Mawar ungu?…orang yang dapat menjadi penghubung…….penghubungku dengan mawar ungu….”

Tiba-tiba dalam pikiran Maya muncul nama seseorang .

“Orang yang biasanya menjadi penghubungku dengan mawar ungu adalah…..HIJIRI….yah PAK HIJIRI….ia pasti bisa membantuku menemui Masumi, menemui Mawar ungu” ucap Mata semangat.

“Bodohnya aku…BODOH….mengapa aku tidak mengingat nama itu dari dulu…mengapa aku tidak ingat Pak Hijiri…aku benar-benar bodooooh” kata Maya sambil memukul-mukul kepalanya.

“Aku harus minta tolong padanya untuk membantuku menemui Masumi…aku akan terus memohon sampai ia mau membantuku menemui mawar ungu..sekarang hanya ia harapan satu-satunya.”

“Handphoneku…mana handphoneku…aku mau telpon Pak Hijiri” Maya bangun mencari-cari handphonenya.

“Ah…ini dia…” Maya mengambil handphonenya yang tergeletak di atas meja.

Maya menekan nomor Pak Hijiri.

Terdengar nada sambung….

“Halo”

“Pak Hijiri, ini Maya. Pak Hijiri tolong aku..tolong aku…biarkan aku melihat Masumi…aku ingin melihat Mawar ungu..” ucap Maya saat mendengar suara Hijiri.

HIjiri diam, tidak menjawab.

“Halo..halo Pak Hijiri…haloo…Aku mohon Pak Hijiri..sebentar saja..sebentaaaar..biarkan aku melihat masumi sebentar…aku mohon”

Diujung telepon, Hijiri tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.

Kemudian Hijiri menjawab “ Baiklah, aku akan membantumu menemui Pak Masumi. Besok temui aku di depan rumah sakit jam 9 malam”

“Betul, Pak..Bapak mau membantu aku…aku akan datang Pak, besok..tunggu aku ya Pak Hijiri…Terima kasih Pak, terima kasih banyak….”kata Maya sebelum menutup telepon.

Kini dalam wajah Maya yang masih penuh air mata, terlihat senyuman.

Akhirnya ia dapat melihat Masumi, mawar ungu-nya.

*****

Keesokan harinya.

Maya dengan tidak sabar menunggu malam datang.

“Cepatlah waktu berlalu…….cepatlah malam datang….ujarnya berulang-ulang.

Rei sampai kebingungan mendengar kata-kata Maya.

“Mengapa kamu berulang-ulang mengucapkan kalimat itu? Seperti membaca mantera saja”Tanya rei

“Aku tidak sabar menunggu malam tiba, Rei. Nanti malam aku mau ke rumah sakit. Akhirnya, nanti malam aku bisa melihat Masumi, Rei” jawab Maya dengan nada senang.

“Bukannya tiap malam, kamu juga ke Rumah sakit? Tapi sepulang dari rumah sakit, kamu memasang wajah sedih, dan mengatakan bahwa kamu tidak dapat melihatnya, Kemudian kamu akan mengurung dirimu di dalam kamar sampai keesokan paginya” kata Rei

“Sekarang lain, Rei..nanti malam aku pasti bisa melihat Masumi.”Kata Maya dengan yakin.

“Benarkah?” Tanya Rei tidak percaya.

“Iya, Rei…nanti malam Pak Hijiri akan membantuku. Aku bodoh baru mengingat namanya kemarin malam. Andai, aku ingat dia dari dulu tentu aku tidak akan menderita begini” jawab Maya lagi sedikit menyesal.

“Pak Hijiri?”

“Iya..semalam aku menelponnya dan ia berjanji akan membantuku menemui Masumi nanti malam” jelas Maya

“Aku sudah tidak sabar Rei…sungguh tidak sabar menunggu malam datang”lanjutnya.

*****

Malam akhirnya datang juga, sebelum jam 9 Maya sudah ada di sana. Ia menunggu di lobby rumah sakit. Matanya menatap pintu masuk tanpa kedip.

“Maya”panggil seseorang dibelakangnya.

Maya terlonjak kaget dan ia menoleh ke belakang.

“Pak Hijiri, kapan datang? Aku tidak melihat..” Tanya Maya heran

“Aku datang dari pintu belakang” jawab Hijiri.

“Ooh…aku tidak tahu kalau rumah sakit ini punya banyak pintu masuk” ujar Maya polos.

Hijiri tersenyum mendengar jawaban Maya,

Ayo, katanya kamu mau ketemu Masumi” ajak Hijiri kemudian.

Maya mengangguk lalu mengikuti Hijiri.

Tiba di depan lorong menuju ruang perawatan Masumi, seorang petugas kepolisian mengangguk hormat dan memberi jalan pada Hijiri, tapi ia menghalangi jalan Maya.

“Biarkan gadis itu masuk” kata Hijiri “dia bersamaku” lanjutnya tegas.

“Tapi…perintah nona Shiori…”kata petugas itu dengan ragu

“Aku yang akan bertanggng jawab” sahut Hijiri lagi.

Akhirnya dengan terpaksa, petugas itu menyingkir dari depan Maya dan membiarkan Maya lewat.

Maya menghembuskan napas lega.

“Terima kasih, Pak Hijiri” ucapnya pelan sambil terus mengukuti langkah Hijiri.

*****

Di salah satu kamar, Hijiri berhenti.

“Pak Masumi ada di dalam” ucapnya.

Maya mengangguk dan ketika akan membuka pintu kamar itu “sebentar, Maya” terdengar suara Hijiri,

Maya menoleh, melihat Hijiri.

“Hanya 15 menit, Maya..aku hanya bisa memberimu waktu 15 menit untuk melihat Pak Masumi” kata Hijiri.

Maya mengangguk lagi kemudian ia masuk dalam kamar itu.

*****

Maya melangkahkan kakinya mendekati ranjang,

Di sana, di atas ranjang itu, terbaring Masumi, orang yang sangat dirindukannya.
Maya memandangi Masumi.

Di kepala Masumi, masih terlihat lilitan perban, matanya tertutup rapat. Masker oksigen masih terpakai dihidungnya. Pada salah satu tangannya juga menempel selang infus.

Di dalam kamar yang hening itu terdengar suara “Tik…tik…tik…” yang berasal dari mesin pengukur detak jantung yang berada disamping ranjang Masumi.

Dalam monitornya terlihat grafik naik turun .

Masumi tampak tertidur dengan tenang.

Maya berdiri di samping ranjang Masumi.

Ia mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Masumi.

Dengan air mata yang mulai menetes, ia terus memandangi Masumi dan berkata
“Masumi, aku Maya..aku datang melihatmu…..Akhirnya aku dapat melihatmu, Masumi akhirnya…..

Apa kamu tahu Masumi kalau aku sangat-sangat mencemaskanmu….

Mengapa kamu belum bangun juga? Bangunlah Masumi,..bangun….aku mohon…
Kamu sudah tidur selama 2 minggu, Masumi….apakah tidurmu masih belum cukup?

Bangunlah..buka matamu…aku ingin kamu melihatku…aku ingin mendengar suaramu…aku ingin mendengar tawamu…jadi bangunlah Masumi, jangan tidur terlalu lama lagi…aku mohon…..”

Maya lalu membungkukkan badannya dan mengecup kening Masumi dengan lembut.

Lama..maya baru melepaskan kecupannya.

Kemudian Maya berbisik di telinga Masumi.
“Cepatlah bangun, Masumi…cepatlah sadar, Mawar ungu-ku…aku mencintaimu dan selalu mencintaimu…”

Maya kembali menegakkan tubuhnya.

Satu tangannya masih menggenggam tangan Masumi dengan lembut seolah memberi kekuatan pada Masumi, sedang tangan lainnya membelai rambut Masumi dengan perlahan.

Tiba-tiba…..

Samar…sangat samar…Maya merasakan gerakan jari Masumi yang ada dalam genggaman tangannya.

Maya diam tidak berani bergerak…ia mencoba merasakannya lagi….

Kali ini gerakan itu terasa lebih nyata..

“Jarinya bergerak…aku merasakan jarinya bergerak” ucap Maya penuh haru

Perlahan, Maya melepaskan genggaman tangannya dan dapat melihat jari-jari Masumi mulai bergerak…

“Pak..Hijiri…” Panggil Maya

“Pak Hijiri….”panggil Maya sekali lagi dengan suara yang lebih keras.

Hijiri yang sedang menunggu di luar kamar mendengar panggilan Maya.

Ia bergegas masuk “Maya, menga------“

“Jarinya bergerak, Pak Hijiri…jari Masumi mulai bergerak….ucap Maya memotong kata-kata Hijiri.

Hijiri yang sudah ada di samping Maya melihat ke arah jari-jari Masumi dan benar jari-jari itu mulai bergerak walau sangat perlahan.

Hijiri bergegas keluar kamar. Setengah berlari, ia mencari dokter.

“DOKTER…DOKTER….” Panggilnya.

*****

Maya yang masih ada di samping Masumi kini dapat melihat mata Masumi yang tertutup mulai bergerak-gerak akan membuka.

Suster yang telah tiba bersama dokter di kamar Masumi meminta Maya untuk keluar sebentar karena dokter akan memeriksa Masumi.

“Tidak…aku tidak mau keluar…biarkan aku disampingnya” tolak Maya.

“Maaf, nona…tolong anda menunggu di luar agar dokter dapat memeriksa pasien dengan teliti” ucap suster sekali lagi.

“Tapi…tapi…..”

“Ayo, Maya. Kita keluar dulu. Jangan menganggu dokter yang sedang memeriksa Pak Masumi” Kata Hijiri sambil membimbing Maya keluar.

Di depan pintu, mereka bertemu Shiori….

Shiori yang baru datang hendak membesuk Masumi.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya dingin ketika melihat Maya.

“Nona Shiori..aku…aku…”Maya terbata-bata mencoba menjawab pertanyaan Shiori.

Shiori tanpa sengaja melihat dokter yang sedang sibuk di dalam kamar Masumi.

“Apa yang kamu lakukan…apa yang kamu lakukan pada Masumi?”ucap Shiori marah karena dikiranya dengan adanya dokter yang sedang memeriksa Masumi, keadaan Masumi pada saat itu memburuk gara-gara Maya.

Shiori hendak menerobos masuk ke dalam kamar, tapi HIjiri menghalangi jalannya.
“Nona Shiori jangan masuk dulu, kita menunggu di luar saja karena dokter sedang memeriksa pak Masumi” Kata Hijiri sambil menutup pintu kamar.

Mereka berdiri diam, menunggu di depan kamar Masumi.

Tiba-tiba tanpa di duga, Shiori mendekati Maya.

“PLAK!”

Tangannya melayang menampar pipi Maya dengan keras.

Tampak bekas kemerahan di pipi Maya.

Maya meringis memegangi pipinya yang di tampar Shiori.

“Nona Shiori, apa yang anda lakukan?” Tanya Hijiri terkejut, karena ia sama sekali tidak menduga Shiori akan menampar Maya.

Shiori menatap Hijiri dengan dingin.

“Kamu…kamu tidak perlu ikut campur” katanya.

Kemudian Shiori mengalihkan pandangannya pada Maya dan menatapnya penuh kebencian.

“Mengapa kamu ada di sini? Berani-beraninya kamu datang ke sini…”Dan apa yang kamu telah lakukan pada Masumi?” tanyanya “PERGI….PERGI KAMU DARI SINI” Teriak Shiori dengan keras pada Maya.

“Nona Shiori, Masumi..dia----.” Maya mencoba menjelaskan pada Shiori

Tapi Shiori tidak mau mendengar kata-kata Maya.

“PERGI..PERGIIII KAMU JAUH-JAUH!”Teriak Shiori histeris.

“PERGIIII”usirnya sekali lagi.

Tapi karena melihat Maya yang tidak bergerak di tempatnya berdiri, tangannya kembali terangkat, hendak menampar Maya untuk kedua kalinya.

Tapi, kali ini Hijiri berhasil menangkap tangannya.

“Jangan coba-coba melakukannya lagi, nona Shiori..atau saya tidak akan segan-segan lagi pada anda” Kata Hijiri sambil menatap mata Shiori dengan tajam.

Lalu Hijiri melepaskan tangan Shiori dengan kasar.

Ia kemudian menarik tangan Maya dan membawanya pergi menjauhi Shiori.

“Pak Hijiri…aku mau menunggui Masumi” kata Maya sambil berusaha melepaskan tangannya.

“Maya, lebih baik kita pergi dulu dari sini…” sahut Hijiri sambil terus menyeret Maya.

“Tapi..tapi..”Maya mencoba protes.

Hijiri menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Maya.

“Tolong, Maya…jangan mempersulit keadaan. Kamu lihat sendiri bagaimana tadi nona Shiori teriak-teriak. Ia tidak akan berhenti berteriak sebelum kamu menjauh. Aku takut nona Shiori akan semakin kalap dan melukaimu. Aku tidak mau kamu terluka. Sudah sejak dulu, aku telah berjanji pada Pak Masumi untuk menjagamu, mewakili beliau. Kalau sekarang kamu terluka, bagaimana aku mempertanggungjawabkannya pada Pak Masumi? Dan lagi, ini di rumah sakit, kita tidak boleh ribut-ribut di sini. Jadi, tolong kamu mengerti.
Aku antar kamu pulang dulu. Aku janji. aku akan segera mengabarimu mengenai keadaan Pak Masumi secepatnya” kata Hijiri panjang lebar.

Dengan sangat terpaksa, Maya menyetujui kata-kata Hijiri.

“Baiklah kalau begitu, tapi pak Hijiri harus menepati janji..untuk segera memberitahu aku kabar Masumi secepatnya.” Sahut Maya.

Hijiri mengangguk.

Maya dengan berat hati melangkah pergi keluar rumah sakit diikuti oleh Hijiri.

Bersambung ke PoL 5....

1 komentar:

  1. emang cuma Maya yng bisa buat Masumi sadar, sama kyk aku yg baru sadar klo aku masih mau baca lagi.......Kurang.........Lanjooootttt :)

    Anyway Thanx ya sist, senangnya ada update an ....

    BalasHapus