Halaman

Senin, 22 Agustus 2011

POWER of LOVE (chapter 10-End)

Maya tersadar dari pingsannya. Ia memandang sekelilingnya. Ia berada di sebuah ruangan berukuran kecil. Tidak ada apa-apa di sana.

Ceklek…

Seseorang masuk dalam ruangan itu.

“Apa kamu sudah sadar, Maya?” tanyanya

“Ka..kazuya….” ucap Maya saat mengenali orang yang menyapanya.

“Halo..Maya…kita bertemu lagi” ucap Kazuya

Kazu---“

“Tapi sayangnya kali ini kamu sial. Sesuai dengan ucapanku waktu itu..aku tidak akan melepaskanmu…kamu harus membayar apa yang telah kamu lakukan padaku” lanjut Kazuya lagi

“a..apa maksudmu?”Tanya Maya tidak mengerti



Kazuya tersenyum

“Kamu….kamu telah menyakiti hatiku dengan penolakanmu itu, Maya. Bahkan kamu tidak memberi aku kesempatan sedikitpun….kamu benar-benar tidak berperasaan. Aku sangat benci orang yang tidak berperasaan” jelasnya dengan ekspresi dingin

“A…apa yang akan kamu lakukan padaku?”

“Apa? Apa yang pantas diterima oleh orang yang tidak berperasaan?” Tanya
Kazuya seolah berpikir tapi kemudian ia tersenyum lagi pada Maya

“Kamu tenang saja. Maya. Aku tidak akan melakukan apapun padamu sekarang karena sekarang aku punya pertunjukan menarik…jadi aku mengundangmu untuk menontonnya”kata Kazuya sambil mendekati Maya lalu menarik Maya berdiri dan membawa Maya keluar dari ruangan kecil itu.

Ternyata ruangan itu ruangan yang sangat besar, penuh dengan besi-besi kapal tua dan kerangka kapal hancur. Banyak kotak-kotak kayu yang berjejer di sisi ruangan itu.

Ditengah ruangan tampak seseorang yang terikat di kursi dan dijaga oleh 5 pria memakai topeng.

“Masumi’ ucap Maya perlahan saat mengenali orang yang terikat itu.

“Masumi?” Tanya Kazuya yang mendengar ucapan Maya

“Apa kamu mengenalinya, Maya? Ah…aku lupa tentu saja kamu mengenalinya, dia kan direkturmu”lanjut Kazuya mengangguk.

“Kazuya..lepaskan dia..lepaskan dia….”pinta Maya

“Melepaskannya? Hmmmm..tentu saja aku akan melepaskannya tapi sebelum itu---“ Kazuya berpaling pada anak buahnya “Siram dia dengan air agar dia tersadar” perintahnya

BYUR….

Masumi mengejap-ngejapkan Matanya dan terkejut. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Tapi tubuhnya terikat dengan kencang dikursi.

“Halo, Pak Masumi Hayami” sapa Kazuya

Masumi melihat ke arah Kazuya.

“Kamu…kamu…….”

“apa anda masih mengenali saya, Pak Masumi?”

“Bukankah anda adalah wakil Mr Smith----“

“Benar sekali, ternyata ingatan anda sangat bagus” sahut Kazuya

“Apa yang sedang anda lakukan? Dan mengapa saya diikat seperti ini?”Tanya Masumi

“Pertanyaan bagus, Pak Masumi” jawab Kazuya “Saya akan menjawabnya “Disini, saya bukan mewakili Mr. Smith….urusan saya sebagai wakil Mr Smith telah selesai. “

“Lalu----“

“Sekarang, saya mau menyelesaikan urusan saya dengan anda yang belum selesai” potong Kazuya

“Urusan apa?”

“Hutang yang harus anda bayar.” Jawab Kazuya

“Hutang? Apa saya mempunyai hutang denganmu? Hutang apa?” Tanya Masumi bingung

Kazuya tersenyum kecil

“Hutang…nyawa”

Masumi terperangah.

“Hu..hutang nyawa?” tanyanya

“Benar sekali. Pendengaran anda tidak salah. saya menagih hutang nyawa pada anda”

“Apa maksud anda? saya sama sekali tidak mengerti”

“Tidak mengerti? Baiklah akan saya jelaskan. Anda harus membayar apa yang pernah anda lakukan pada keluargaku”

“Memangnya apa---

“Oh…anda tidak ingat…..benar juga mana mungkin anda bisa mengingat satu persatu korban atas perbuatan anda. Entah sudah banyak perusahaan yang pernah anda hancurkan demi kelangsungan Daito” ucap Kazuya enteng

“Perusahaan ayahku adalah salah satunya. Anda menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan anda tanpa memikirkan orang lain. Perusahaan ayahku hanyalah perusahaan kecil, penopang kehidupan keluarga. Tanpa perasaan,anda menghancurkannya. Apa anda tidak tahu akibat dari perbuatan anda?’

Kazuya memandang dingin Masumi dan menghela napasnya.

“.Akibat perbuatan anda yang menyebabkan perusahaan ayahku bangkrut, Ayahku bunuh diri dengan menyuntikkan banyak insulin ke tubuhnya sedang Ibuku masuk rumah sakit jiwa”

Masumi menggeleng.

‘Anda tidak mengingatnya? Mana mungkin anda bisa mengingatnya. Dan anda juga tidak perlu mengingatnya lagi. Kejadian itu sudah lama berlalu. Kejadian itu tidak perlu diingat tapi hutang tetap harus dibayar”tegas Kazuya

“Lalu apa yang akan anda lakukan?”

“Saya hanya ingin membuat permainan” jawab Kazuya pendek

“Permainan? Permainan apa?”

“Permainannya seperti ini, Pak Masumi. Saya akan melepaskan ikatan anda….anda boleh mencari cara untuk meloloskan diri dari kepungan anak buahku. Anda boleh memakai cara apapun untuk mempertahankan diri anda” jelas Kazuya seolah memberitahu hal yang biasa.

“TAPI……” tegasnya

“Bila anda membalas pukulan dari anak buahku-----“ Kazuya menarik tangan Maya “Gadis ini akan terluka”

Masumi menatap Maya.

Siing……

Sekelebat bayangan samar muncul di benaknya.

“Lepaskan ikatannya” perintah Kazuya “Dan kepung dia”

Salah seorang anak buah Kazuya membuka ikatannya dan 4 orang lainnya mengepung Masumi.

“Kazuya…lepaskan dia..lepaskan….” teriak Maya sambil memberontak dari pegangan Kazuya

“Lebih baik kamu tenang Maya dan nikmatilah pertunjukannya” ucap Kazuya dingin pada Maya

“Lakukan” perintahnya kemudian.

“Bruk….”

Salah seorang anak buah Kazuya memukul Masumi.

Tanpa sadar, Masumi mengepalkan tangannya dan hendak melawan…..

“Saya tidak akan melarang anda untuk melawannya, Pak Masumi….. tapi anda tahu resikonya. Pilihan ada di tangan anda” ucap Kazuya tenang

Sekali lagi, mata Masumi bertatapan dengan mata Maya, dan entah mengapa setiap melihat Maya, jauh di lubuk hatinya ada sesuatu yang tidak ia mengerti. Sebuah perasaan muncul. Dia merasa harus melindungi gadis itu dan tidak bisa membiarkan gadis itu terluka sedikitpun.

“Lawan saja mereka, Masumi…tidak usah khawatirkan aku…..” ucap Maya

Tapi Masumi melepaskan kepalan tangannya dan membiarkan tubuhnya terus dipukuli mereka tanpa perlawanan sedikitpun.

“Bruk…..”

Sebuah pukulan kembali melayang menghantam tubuh Masumi. Disusul pukulan-pukulan berikutnya.

“Ck..ck..ck…saya sama sekali tidak menyangka Pak Masumi, anda demi seorang gadis….seorang artis Daito, rela menerima pukulan demi pukulan tanpa melawannya sekalipun. Mengapa Pak Masumi? Apakah anda kini memiliki perasaan? Apa sekarang anda memperdulikan orang lain? Mengapa anda tidak membela diri anda?Kemana perginya anda yang dulu kejam dan hanya mementingkan diri sendiri?” Kata Kazuya terdengar di antara pukulan-pukulan yang diterima Masumi.

“Kamu….” Masumi menatap tajam Kazuya yang balas menatapnya dingin.

“Bruk….” Pukulan kembali melayang membuat Masumi terhuyung.

Masumi bertahan dan mencoba berdiri tegak sambil mengusap darah yang mengalir dari bibirnya.

Tapi pukulan kembali menghujaninya tanpa henti.

Maya yang menyaksikan semua itu, menyaksikan pria yang sangat dicintainya terus dipukuli tidak dapat menahan air matanya, air matanya terus mengalir di kedua matanya. Mulutnya terus memanggil nama Masumi.

“Masumi….” Teriak Maya ketika akhirnya Masumi jatuh tersungkur “ Hentikan…Kazuya….kumohon…hentikan……jangan pukuli Masumi lagi” pinta Maya memohon sambil terisak.

“Bos…dia pingsan” lapor salah seorang dari mereka.

Kazuya mengangguk dan memberi tanda pada anak buahnya.

“Sekarang…giliran kamu, Maya” ucap Kazuya sambil menyeret Maya.

Kazuya membawa Maya ke sebuah kapal kecil.

“Masuk” katanya sambil mendorong Maya ke satu-satunya ruangan yang ada di kapal itu.

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Untuk kamu……bagaimana kalau aku membiarkan kamu menikmati terombang-ambing dalam badai, Maya?” Tanya Kazuya “menyenangkan bukan?”

“Kazuya..ternyata…ternyata…….Kamu kejam…dan juga tidak berperasaan…” ucap Maya

“Bukankah kamu yang melakukannya duluan, Maya? Aku hanya membalasnya”sahut Kazuya tenang

“Kamu….kamu…..sakit ……kamu benar-benar mengerikan” ucap Maya lagi

Kazuya tersenyum mendengar kata-kata Maya.

“Kamu baru tahu? Sayang sekali baru sekarang kamu mengetahuinya” sahut Kazuya lagi dengan nada yang sama. Tanpa emosi.

“Kamu……gilaaa” seru Maya lagi

Kazuya memandang Maya dengan tatapan dingin yang membuat Maya beringsut mundur, tapi kemudian tatapan itu dalam sekejap hilang dan dia kembali tersenyum.

“Kamu sudah puas dengan apa yang kamu katakan?” tanyanya datar “Kalau begitu, saatnya kamu pergi, Maya.” Lanjutnya

“Oh ya sebelum itu, karena kamu begitu perhatian pada direkturmu itu, aku akan berbaik hati membiarkan direkturmu itu menemani perjalananmu” lanjut Kazuya.

Tak lama, 2 orang anak buah Kazuya menyeret Masumi masuk dalam ruangan itu.

“Angin sudah semakin kencang, Bos. Mungkin badai akan sebentar lagi datang” lapornya

“Kazuya mengangguk.

“Kamu sudah melakukan apa yang aku perintahkan?” tanyanya pada anak buahnya.

Orang itu mengangguk.

“Kalau begitu lakukan sesuai perintahku” ucap Kazuya lagi.

Ia lalu menatap Maya. “Selamat tinggal, Maya dan selamat menikmati perjalananmu. Semoga menyenangkan” katanya pada Maya dan pergi meninggalkan Maya dan mengunci pintu ruangan itu.

Tak lama terdengar suara mesin kapal dijalankan. setelah beberapa lama dalam perjalanan, kapal itu berhenti. Lalu, terdengar mesin kapal lain yang suaranya semakin jauh terdengar kemudian menghilang. Hanya suara ombak dan angin yang terdengar.

Maya bergeser mendekati Masumi yang masih pingsan.

Melihat Masumi yang penuh luka pukulan membuat air mata Maya berlinang kembali.

“Masumi…masumi….” Panggilnya sambil mengusap-usap lembut rambut Masumi

Dalam pingsannya, Masumi melihat kilasan-kilasan kejadian. Ingatannya di masa lalu bermunculan seperti slide film.

(Gadis itu 11 tahun lebih muda…..)

(Mawar ungu di hatiku tidak pernah layu)

(Mungiil….)

(Aku akan menjadi bidadari merah yang membuatmu bangga, Pak Masumi)

(Terima kasih telah menemaniku ke tempat kenangan)

(Akulah mawar ungu, Maya)

(Aku akan membatalkan pertunanganku dengan Shiori)

(Tunggu kepulangan aku, Maya)

(Aku akan selalu menunggumu, Masumi)

(Maya, aku pulang….)

(Awaaaas……)

Maya terus memanggil Masumi, panggilan Maya memasuki alam bawah sadar Masumi.

“Maya…” gumamnya sambil membuka matanya.

“Masumi…kamu sudah sadar” ucap Maya yang melihat Masumi membuka matanya.

Masumi mengalihkan pandangannya kearah suara Maya.

Pandangan buram. Ia mencoba mengejap-ngejapkan matanya.

Akhirnya ia dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang berada di sampingnya.

“Maya…” ucapnya perlahan saat mengenali gadis itu.

“Masumi…syukurlah kamu sadar…..” ucap Maya sedikit lega.

“Akh” seru Masumi yang mencoba bangun tapi kepalanya terasa sakit.

“Jangan bangun dulu, kamu terluka” ucapnya.

Beberapa saat masumi tetap berbaring tapi kemudian ia mencoba mengangkat badannya lagi.

“Masumi….” Seru Maya sambil memegangi Masumi

“Aku tidak apa-apa, Maya. Tolong bantu aku duduk” pintanya.

“Tapi..tapi….” Maya mencoba protes

“Tolong, Maya” pinta Masumi sekali lagi

Akhirnya dengan terpaksa, maya membantu Masumi duduk dan menyandarkannya di dinding kapal.

“Tunggu sebentar, Masumi. Siapa tahu di sini ada obat” ucap Maya yang kemudian memeriksa setiap laci yang ada di ruangan itu.

“Kosong” ucapnya kecewa saat membuka salah satu laci “Yang ini juga kosong…”

“Tidak ada obat,,,,,tidak ada obat sama sekali” katanya lagi dengan kecewa “Bagaimana ini…bagaimana…..”

“Sudahlah, Maya. Tidak perlu mencari lagi. Aku tidak apa-apa” kata Masumi yang melihat Maya masih terus mencari.

“Apanya yang tidak----Aaaaaaa” teriak Maya tiba-tiba. Ia terhuyung karena kapal bergoyang kencang.

GELEGAAAR…..

Suara Guntur mulai tedengar, kilat menyambar…air laut memercik mengenai kaca….

“Badai….Masumi badai datang” seru Maya sambil terus berpegangan dinding kapal mendekati Masumi.

Masumi meraih tangan Maya dan membawanya dalam pelukannya.

“Masumi..bagaimana ini..bagaimana…..badai..masumi….badai….” ucap Maya berulang-ulang, panik.

“Tenang, Maya. Tenang , ada aku. Jangan takut” sahut Masumi berusaha menenangkan Maya.

Maya menatap Masumi dan tersenyum.

“Aku tidak takut” ucapnya “bersamamu aku tidak takut apapun”

Mereka saling bertatapan.

“Akh…” kata Masumi tiba-tiba

“Sakit? Yang mana yang sakit Masumi?” Tanya Maya khawatir.

Masumi menggelengkan kepalanya.

“Masumi?”

“Aku sungguh tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir” ucap Masumi “Ah, tapi mengapa kamu bisa ada di sini?” Tanya Masumi mengalihkan pikiran Maya yang mengkhawatirkannya.

“Aku..aku tidak sengaja melihatmu dikepung di tempat parkir. Jadi aku..aku mencoba menolongmu, tapi----“

“Gadis bodoh…untuk apa kamu menolongku. Jadinya kamu seperti ini” sahut Masumi

Maya menggelengkan kepalanya.

“Maafkan aku, Maya” kata Masumi lagi

“Maaf? Maaf untuk apa?” Tanya Maya tidak mengerti

“Gara-gara aku---“

Maya meletakkan jarinya dibibir Masumi dan kembali menggelengkan kepalanya.
“Bukan..bukan gara-gara kamu” sahutnya “Sebenarnya…sebenarnya aku juga ada masalah dengan Kazuya” lanjutnya

“Ada masalah dengan Kazuya?”Tanya Masumi tidak mengerti

“Kazuya…dia..dia pernah meminta aku jadi kekasihnya. Tapi aku menolaknya. Jadi Kazuya marah dan melakukan ini padaku” jelas Maya

“Gara-gara di tolak olehmu? Orang itu…orang itu benar-benar sakit” ucap Masumi.

Maya mengangguk. “Aku langsung menolaknya. Karena di hatiku hanya ada kamu, Masumi” sahut Maya dengan yakin.

“Maya……”

Masumi menghela napasnya panjang.

“Jadi benar, gara-gara aku. Aku membuatmu celaka. Seharusnya kamu tidak mengenal aku.” ucap Masumi lagi.

Maya menggeleng.

“Secara tidak langsung, memang gara-gara----“

Ucapan Masumi terputus karena tiba-tiba Maya mengecup bibirnya untuk menghentikan kata-kata Masumi.

Maya lalu melepaskan kecupannya.

“Bukan, bukan karena kamu. Dan jangan katakan kalau kamu yang membuatku celaka, Masumi. Jangan berkata seperti itu. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Seandainya waktu kembali ke masa lalu dan aku diberi pilihan, aku akan tetap memilih mengenalmu….mencintaimu” sahut Maya yakin.

“Maya…”

Mereka kembali saling bertatapan. Lalu wajah keduanya mendekat. Maya melingkarkan tangannya di leher Masumi kemudian bibir Masumi menyentuh bibir Maya dengan lembut. Mereka berciuman, melepaskan semua kerinduan yang terpendam selama ini, tidak memperdulikan kapal yang terguncang-guncang di ombang-ambing ombak.

GELEGAAR…..

Suara Guntur kembali terdengar kencang, dan sebuah ombak besar menghantam kapal menyebabkan kapal terguncang semakin keras.

Masumi melepas ciuman dan membawa Maya kembali dalam pelukannya.

“Maya, mungkin….mungkin dalam badai ini, kita….mungkin kita----“ Masumi tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

“Aku tidak takut, Masumi. Apapun yang terjadi aku tidak peduli bila bersamamu” sahut Maya

“Maya…” kata Masumi sambil mengencangkan pelukannya.

“Tetaplah seperti ini, Masumi. Tetaplah memelukku seperti ini…apapun yang terjadi, jangan lepaskan pelukanmu. Aku ingin tetap dekat denganmu” pinta Maya

“Jangan khawatir, Maya. Aku janji…apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan tetap memelukmu” sahut Masumi.

Diluar, badai semakin kencang, ombak besar terus mengguncang kapal itu. Masumi terus memeluk maya. Mereka berdua pasrah dengan apa yang akan terjadi.

*****

-Meminjam dan merubah sedikit dialog terakhir Maya sewaktu pentas solo Bianca-
‘Bagaimana nasib Maya dan Masumi?
Apakah mereka selamat atau hilang dalam badai?
Sayangnya laut Jepang tidak menjawabnya…’
(maksudnya penulis yang belum mau menjawabnya^^)

The end


*Spesial ending PoL : Your Love Make Me Strong

5 komentar:

  1. fenny lanjutkaaaaaaaannnnn nyebelin nih.............aaaaaaaaaarrrrrrggggghhhhh

    BalasHapus
  2. iki maksuteeee opoooooo???? kwoookkk ngguaaannntttuuuunnnggg giniii to mbak fennyyyy?????
    ayo mbak fenny!!! teruskanlaaahhh...teruskanlaahhh....kau...menulisssss......

    BalasHapus
  3. ah knapa di gantungin ginii?
    gmna perasaan pembaca..

    BalasHapus
  4. crita ini kan ada sekuelnya..judulnya 'your love make me strong' ^^

    BalasHapus