Halaman

Rabu, 03 Agustus 2011

POWER of LOVE (chapter 07)

‘Ckiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttt………..’

Mobil itu hampir saja menabrak Maya.

Tinggal beberapa inci lagi…

Tapi untung saja, pengemudinya sigap, mobilnya bisa berhenti tepat pada waktunya.

Dua orang pria bergegas keluar dari mobil itu.

“Anda tidak apa-apa, no---“ ucap salah seorang dari mereka

“Mayaaa” ucapnya lagi ketika ia mengenali siapa yang hampir ditabraknya.

“Maya…apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?” tanyanya yang melihat Maya jatuh terduduk.

“Maya..jawab aku..”katanya lalu ia berjongkok dan mengguncang-guncang lembut tubuh Maya, mencoba menyadarkan gadis itu.

Dengan berlinangan air mata, Maya memandangi pria yang mengguncang-guncang tubuhnya.

“Sa..satomi?” ucap Maya perlahan ketika ia mengenali pria itu.

“Satomiiii” kata Maya lagi, kemudian secara tiba-tiba ia memeluk Satomi erat dan menangis di dadanya “Huaaaaa……”



“Ma…yaaa” Kata Satomi yang terkejut, ia sama sekali tidak menduga kalau Maya akan memeluknya.

Tapi kemudian, Satomi pun membalas memeluk Maya dan mencoba menenangkan gadis itu.

Pria yang satunya lagi hanya bisa memandang tidak mengerti pada mereka berdua.

Tiiiiiiiiiiiiinnnnnnnn…………..

Suara klakson mobil menyadarkan Satomi. Ia pun segera melepaskan pelukannya.

“Kamu bisa berdiri, Maya?” tanyanya.

Maya mengangguk

Dengan dibantu Satomi, Maya berdiri dan Satomi membawa Maya masuk ke dalam mobilnya.

Satomi menghentikan mobilnya di sebuah café.

“Bagaimana kabarmu, Maya?” Tanya Satomi pada Maya yang sudah mulai tenang.

“Aku baik-baik saja, Satomi” sahut Maya memandangi Satomi.

Sangat lama tidak bertemu, Satomi terlihat semakin gagah dan dewasa.

“Baik-baik saja?” Tanya Satomi tidak percaya. “Lalu mengapa kamu tadi malah melamun?”

“Itu…aku…eh….itu…”Maya gelagapan berusaha mencari alasan.

Satomi tersenyum melihat tingkah Maya.

“Kamu tetap saja masih ceroboh,Maya” ucapnya

Maya hanya bisa menunduk malu.

Suasana tiba-tiba hening.

Satomi terus memandangi Maya sehingga membuat Maya salah tingkah. Ia hanya bisa terus menunduk, tidak berani memandang Satomi.

Satomi menatap rindu pada gadis yang dulu dengan berat hati ditinggalkannya. Ada setitik penyesalan di hatinya. Seandainya saja dulu, ia tetap mempertahankan cintanya, mungkin ceritanya akan lain.

“Ehem” ucap seseorang

Satomi tersadar dari lamunan

“Ah, ya. Aku belum mengenalkan kalian”

“Maya, ini temanku, Kazuya Matsumoto” ucap Satomi mengenalkan pria yang dari tadi mengikutinya dan sempat dilupakan.

“Kazu, ini Maya Kitajima. Dia…dia adalah----“ Satomi sedikit sulit menjelaskan.

Kazuya mengangguk mengerti.

“Hai” ucapnya pada Maya sambil tersenyum lembut.

“Ha..hai juga” sahut Maya gugup, yang kemudian memberanikan diri menatap pria itu.

Pria itu seumuran dengan Satomi. Ia memiliki wajah yang tampan, memiliki sinar mata yang ramah, dan berpakaian modis.

“Maya, aku dengar kamu akan melakukan pementasan bidadari merah?” Tanya Satomi tiba-tiba.

Maya mengangguk.

“Aku belum mengucapkan selamat padamu, aku dengar kamu telah berhasil mendapatkan hak pementasan itu” kata Satomi lagi sambil mengulurkan tangannya. “Selamat,Maya”

“Terima kasih, Satomi” Maya membalas uluran tangan Satomi

“Bidadari merah?apa yang istimewa dari bidadari merah sampai untuk memerankannya saja harus mempunyai hak pementasan?” Tanya Kazuya bingung

“Makanya kamu jangan hanya sibuk mengurusi bisnis saja. Sampai karya agung yang terkenal seperti itu saja kamu tidak tahu” sindir Satomi

“Ah, maaf. Aku memang tidak menyukai drama dan sejenisnya. jadi aku tidak tahu soal bidadari merah yang sedang ramai dibicarakan itu. Bagiku hal-hal seperti itu hanya cerita yang terlalu dibuat-buat dan hanya menghabiskan waktu saja untuk menontonnya. Sama sekali tidak bermanfaat. Kita hanya dibuai oleh sesuatu yang tidak nyata” ucap Kazuya blak-blakan.

“Kamu----“Satomi menatap kesal temannya kemudian mengalihkan pandangannya ke Maya “Maya, maaf, dia…dia----“

“Tidak apa-apa Satomi, Setiap orang mempunyai pendapat dan pandangan yang berbeda” ucap Maya sambil mengangguk mengerti.

Kring..kring….

“Ah, permisi sebentar” ucap Kazuya yang mendengar handphonenya berdering.

Ia lalu berdiri dan menjauh untuk menerima telpon.

Tak lama kemudian, Kazuya kembali.

“Maaf, aku harus pergi. Ada urusan yang harus segera aku selesaikan” ucapnya.

“Aku antar” sahut Satomi hendak bangkit dari tempat duduknya. “Maya, maaf---“

“Tidak perlu, Satomi. Kamu tenang-tenang saja temani gadis itu”sahut Kazuya sambil tersenyum pada Maya “Aku bisa naik taksi” lanjutnya.

“Aku permisi dulu, Maya. Sampai jumpa lagi” pamitnya pada Maya kemudian ia pergi meninggalkan mereka berdua.

Maya menatap punggung Kazuya sampai Kazuya tidak terlihat lagi.

“Maya….hei…Maya” panggil Satomi”Kamu kenapa menatap dia terus? Kamu suka dengan temanku itu?” canda Satomi

“Bukan, Satomi. Aku hanya tidak menyangka kalau temanmu adalah pebisnis. Ia lebih cocok sebagai model atau aktor sepertimu” sahut Maya

Satomi tertawa mendengar kata-kata Maya

“Dulu, aku berpikir seperti itu ketika pertama kali mengenalnya.”

“Memangnya kamu mengenalnya di mana, Satomi?” Tanya Maya penasaran

“Aku kenal dia di Amerika. Dia satu apartemen denganku. Dan kebetulan kamar kami bersebelahan. Jadi aku sangat sering bertemu dengannya. Pada mulanya hanya saling tegur sapa, tiba-tiba tanpa disadari menjadi teman” jelas Satomi

“Oh begitu. “ ucap Maya mengangguk “Walaupun masih ada yang tidak aku mengerti”

“Apa?” Tanya Satomi

“Kamu dan dia ada di dua jalan yang berbeda. Dia tidak menyukai drama sedangkan kamu…….kamu kan sehari-hari tidak jauh dari dunia hiburan. Bagaimana kalian bisa jadi teman?” Tanya Maya

“Aku juga tidak tahu, Maya. Tapi dia memang orang yang menyenangkan. Lagipula banyak topik yang bisa dibicarakan kan. Asal jangan soal acara hiburan atau drama. Kalau bicara dengan dia pasti tidak nyambung” jelas Satomi.

Maya mengangguk-angguk mengerti

“Kenapa sekarang kamu banyak bertanya tentang dia? Kamu tertarik dengannya?” Tanya Satomi pada Maya tapi sebenarnya ia sangat cemburu karena Maya bertanya tentang temannya “Dia memang idola wanita. Banyak wanita yang tergila-gila dengannya. Yang beneran jadi model dan aktor saja kalah” keluh Satomi

Maya tertawa mendengar kata-kata Satomi.

“Bukan..bukan seperti itu, Satomi, Aku hanya iseng menanyakannya. Karena aku tidak tahu harus bicara apa padamu” ucap Maya jujur.

“Aku senang bisa membuatmu tertawa, Maya. Kamu sudah bisa melupakan kesedihanmu?”

Maya langsung teringat kejadian tadi. Saat Ia menangis dan memeluk Satomi.

Wajahnya langsung merah padam.

“Satomi, tadi..tadi maaf…kalau aku..aku eh aku tiba-tiba memelukmu,,aku itu eh…” kata Maya gelagapan.

“Tidak apa-apa, Maya. sahutnya “Aku senang karena kamu masih mau menangis di pelukanku”

Ucapan Satomi membuat wajah Maya semakin merah dan ia semakin menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap Satomi

Satomi sekali lagi hanya tersenyum melihat tingkah Maya.

*****

Taxi yang ditumpangi Kazuya berhenti di taman kota.

Bergegas Kazuya masuk ke dalam taman itu dan menuju ke air mancur yang berada tepat di tengah taman.

Disana ada seorang lelaki paruh baya yang sedang berdiri mengamati air mancur itu.

“Paman” sapa Kazuya

Laki-laki yang disebut paman oleh Kazuya membalikkan badannya. Ia adalah salah satu pemegang saham yang beberapa waktu yang lalu ikut menemui Eisuke.

“Paman, bagaimana?” Tanya Kazuya.

Orang itu menggeleng.

“Aku tidak berhasil mendesak tua bangka itu untuk mempercepat rapat dan segera mengganti posisi Direktur Daito dengan orang lain. Dia masih ingin menunggu dan melihat kemampuan putranya sampai rapat yang akan dilakukan kurang dari 2 minggu lagi. Jadi kami, pemegang saham minoritas tidak dapat berbuat apa-apa. Kami hanya bisa ikutan menunggu”lapor lelaki itu.

“Hmmm…jadi ayahnya sekarang mencoba melindunginya. Aku pikir akan mudah untuk menyingkirnya sekarang tapi rupanya aku harus turun tangan dengan caraku sendiri” sahut Kazuya “Dia benar-benar sial harus berhadapan langsung denganku” lanjutnya dingin.

“Memangnya cara apa yang akan kamu lakukan?” Tanya lelaki itu penasaran

Kazuya hanya tersenyum.

“Caraku….tidak akan menyenangkan, paman” jawab penuh misteri.

“Kazuya….”

“Aku sedang tidak ingin mengungkitnya sekarang. Ada lagi yang ingin paman sampaikan?” Tanya Kazuya

“Ini….” Kata lelaki itu sambil menyodorkan sebuah amplop coklat pada Kazuya “Ini adalah dokumen yang berisikan proyek-proyek yang sedang ditanganinya. Mungkin saja berguna buatmu”

Kazuya menerima amplop coklat itu.

“Terima kasih, paman untuk isi yang ada di amplop ini dan karena paman mau membantu aku”

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, keduanya pergi meninggalkan taman itu .

*****

Tanpa terasa seminggu berlalu sejak Masumi memimpin Daito.

Satu minggu yang sangat sibuk bagi Masumi. Karena ia harus memulai dari awal untuk mempelajari dokumen-dokumen yang ada. Untung saja, Mizuki banyak membantunya memberi penjelasan secara detail mengenai proyek-proyek yang sedang ditangani Daito, sehingga ia tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Seperti biasa, Masumi sedang mempelajari dokumen yang ada di meja kerjanya saat terdengar pintu diketuk.

Tok..tok…tok….

“Masuk” ujar Masumi

“Pak Masumi, ini dokumen yang baru saja di fax oleh Mr. Smith dari New York. Lalu Mr. Smith mengatakan bahwa beliau juga telah mengutus wakilnya untuk menemui anda agar dapat membicarakan proyek kerja sama tersebut. Dan ini dokumen tentang tour pementasan bidadari merah yang sebentar lagi akan dilakukan” kata Mizuki sambil menyerahkan 2 dokumen.

“Tour bidadari merah?’ Tanya Masumi sambil membuka dokumen itu

“Betul, Pak Masumi. Tour Bidadari merah adalah salah satu proyek penting Daito. Sebelum anda pergi ke Amerika, anda telah merencanakan proyek ini dan meminta semua pihak untuk melakukan yang terbaik untuk proyek ini. Iklannya telah beredar di masyarakat dan di terima dengan baik. Tiket pertunjukannya telah habis terjual. Bahkan mereka sudah tidak sabar menunggu pementasan yang luar biasa itu” jelas Mizuki

“Apa gadis ini pemerannya?” Tanya Masumi sambil memperlihatkan sebuah foto yang ada di dokumen itu.

“Benar, Pak. Gadis itu adalah pewaris sekaligus pemeran bidadari merah. Namanya---“

“Mungil” gumam Masumi tiba-tiba tanpa sadar. Satu kata itu sekelebat muncul di benaknya.

“Anda mengatakan apa, Pak?’ Tanya Mizuki “Apa anda mengingat gadis yang ada di foto itu?”Tanyanya lagi penuh harap.

“Tidak..Mizuki. Hanya saja ketika aku memandangi foto ini, sepertinya aku sangat mengenal gadis ini” ujarnya

“Apa dulu aku begitu dekat dengannya?” Tanya Masumi penasaran.

“Pak Masumi, anda dan gadis ini…anda dan ma----“

“Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengannya, Masumi” sela seseorang tiba-tiba.

“Shiori…”ujar Masumi saat melihat siapa yang berbicara.

“Gadis itu HANYA salah satu artis yang bekerja sama dengan Daito” kata Shiori lagi menegaskan kalimatnya sambil mendekati Masumi.

“Shiori, kapan kamu datang?”Tanya Masumi terkejut

“Aku baru saja datang, Masumi” jawab Shiori lembut dan memberikan tatapan ‘enyah dari sini’ pada Mizuki

“Kalau begitu saya permisi dulu, pak Masumi”pamit Mizuki “Mari, Nona Shiori” lanjutnya sambil mengangguk hormat pada shiori dan berlalu dari ruangan Masumi.

“Awas kalau kamu berani bicara soal gadis itu” desis Shiori mengancam saat Mizuki melewatinya,

“Mengapa datang tidak memberitahuku dulu?” Tanya Masumi ketika mereka tinggal berdua.

“Memangnya kenapa?’ kamu tidak suka dengan kedatanganku, Masumi?” Shiori balik bertanya, pura-pura kecewa.

“Bukan begitu, hanya saja kalau kamu datang tidak memberitahu dulu, takutnya aku sedang sibuk, sedang rapat atau sedang keluar, Jadi mungkin saja kamu harus menunggu” jawab Masumi memberi alasan.

“aku tidak keberatan untuk menunggumu, Masumi” sahut Shiori lalu tersenyum “aku sangat senang bisa menunggumu”

“Apa kamu sedang sibuk sehingga aku menganggumu?’ Tanya Shiori kemudian,

“Tidak..aku tidak sibuk. Ada apa kamu tiba-tiba datang kemari?” Masumi balik bertanya

“Kakekku mengundangmu makan siang. Jadi aku menjemputmu” kata Shiori

“Ka-kekmu?’

“Iya, sudah lama kamu tidak mengunjungi beliau. Beliau ingin berjumpa denganmu”jawab Shiori

“Oh…maaf Shiori. Aku tidak tahu kalau aku sudah lama tidak mengunjunginya. Aku tidak ingat” sahut Masumi menyesal.

“Aku mengerti, Masumi. Tidak apa-apa. Jadi kamu mau kan memenuhi undangan kakekku?”

Masumi menggangguk.

“Tentu saja” sahutnya.

*****

Ditempat lain.

Satomi hampir setiap hari mengunjungi Maya dan mengajak Maya jalan-jalan bila Maya sedang ada waktu luang. Dia bahkan tidak keberatan untuk mengantar-jemput Maya.

“Jangan seperti ini, Satomi. Kamu tidak perlu menjemputku terus. Aku bisa pulang sendiri” ucap Maya ketika ia melihat Satomi sedang menunggunya di depan Studio Kids, tempat ia biasa latihan.

“Tidak apa-apa, Maya. Aku sedang banyak waktu luang. Aku masih belum menerima tawaran apapun karena aku masih ingin beristirahat dan menikmati hari-hariku yang santai” jawab Satomi.

“Tapi…..” Maya mencoba protes.

“Memangnya kenapa?” Tanya Satomi “kamu tidak suka melihatku?”

“Bukan begitu Satomi..hanya…hanya saja….tidak enak kalau kita kepergok wartawan dan mereka menulis yang tidak-tidak?” Ucap Maya beralasan

“Menulis yang tidak-tidak? Memang apa yang bisa ditulis Wartawan?” Tanya Satomi pura-pura tidak mengerti

“Ya..mungkin saja wartawan akan menjadi salah paham dan mengira kalau kita….” Maya menggantung kalimatnya

“Kalau kita apa?”

“Kalau kita….kita menjalin hubungan kembali” jawab Maya

“Memangnya kenapa kalau wartawan menulis seperti itu?”Tanya Satomi lagi “aku tidak menganggapnya sebagai hal yang tidak-tidak”

“Satomi, aku kan berulang kali mengatakan padamu bahwa hubungan kita tidak mungkin seperti dulu. Jadi..jadi…”

“Jadi apa masalahnya?” Tanya Satomi Aku hanya ingin mengantarmu pulang. Itu saja”

Maya terdiam. Dia tidak tahu harus bicara apa. Dia kalah bicara dengan Satomi

“Ah..memang susah bicara denganmu. Pokoknya Satomi, mulai besok kamu tidak usah menjemputku lagi” Kata Maya dengan tegas

“Kita lihat saja besok” sahut Satomi enteng

“Satomiiii” seru Maya kesal

Satomi hanya mengangkat bahu.

“Tapi, sekarang karena aku sudah terlanjur datang, jadi kamu mau kan aku antar pulang” ucap Satomi sambil membukakan pintu mobilnya.

Mau tidak mau, Maya hanya bisa masuk mobilnya Satomi dengan pasrah.

*****

Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka.

Orang itu tersenyum pahit.

“Maya, apakah kamu kembali lagi padanya?” tanyanya perlahan.

bersambung ke PoL 8....

3 komentar:

  1. ooooi oooooi siapa dia.....bolehkah aku melihat sari wajahnya ooooi, ooooi siapa dia...hehehehehe.....
    Aku berharap itu Masumi tapi kyknya gak mungkin secara dia lagi amnesia, so kyknya itu koji deh.....cemburu nihnyeeeeee :P

    Fenn....lanjutannya gpl ya...seperti biasa :D

    BalasHapus
  2. Pasti Koji, tuh! Gak mungkin masumi :) *sotoy*

    BalasHapus
  3. wah ada musuh baru juga rupanya...
    Masumi cepat sembuh ya.

    BalasHapus