Halaman

Kamis, 11 Agustus 2011

POWER of LOVE (chapter 08)

Malam hari di kamar Masumi.

Masumi sedang termenung sendiri.

Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang saat kakek Shiori memintanya untuk secepatnya menikahi shiori..

“Menikah?” tanyanya “Mengapa ketika aku diminta untuk cepat menikahi Shiori, ada keraguan di hatiku. Bukankah dia adalah tunanganku? Selama ini,aku selalu berusaha menjadi tunangan yang baik baginya. Tapi mengapa sepertinya ada yang salah. Apa yang sebenarnya yang terjadi antara aku dan Shiori dulu? Atau perasaanku padanya juga ikut hilang?” Tanya Masumi pada dirinya “Apa yang harus aku lakukan sebenarnya?”

Masumi menghembuskan napasnya dalam.

“Keputusan apa yang sebaiknya aku ambil?Apakah aku memang harus menikahi Shiori karena ia adalah tunanganku?Ah…aku benar-benar tidak tahu..mengapa tidak ada setitik ingatan pun yang aku ingat tentang hubunganku dengan dia…jawaban apa yang harus aku berikan pada kakek Shiori bila beliau menanyakannya lagi?apa?”



Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak Masumi membuatnya bingung.

Lalu tanpa sengaja matanya memandang jendela, tampak bintang berkerlap-kerlip dengan indahnya.

Masumi terpana melihatnya dan membuatnya lupa akan pertanyaan yang tadi muncul dan sangat membingungkannya, “bintang” gumamnya “Aku ingin melihat bintang. Mungkin dengan begitu, aku bisa menenangkan pikiranku”

Masumi keluar dari kamarnya. Saat menuju akan keluar rumah, ia bertemu dengan Pak Asa.

“Malam, Pak Masumi. Apa anda mau keluar malam-malam begini?” sapanya

“Pak Asa..apa anda tahu di mana kita dapat melihat bintang dengan jelas?” tanyanya

“Melihat bintang?”Tanya Pak Asa bingung

Masumi mengangguk.

“Setahu saya sih di Planetarium, Pak Masumi”

“Planetarium? Terima kasih, Pak Asa” sahut Masumi sambil keluar rumah

Pak Asa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

*****

Akhirnya, Masumi sampai juga di planetarium.

“Sudah lama kamu tidak datang kemari, Masumi. Apa kamu sibuk?” sapa seseorang

“Anda…….” Ucap Masumi mengerutkan keningnya

“Kamu sudah lupa lagi dengan aku? Aku adalah paman yang menjaga planetarium ini.

“Maaf, paman ” ucap Masumi menyesal

“Ah..sekarang kamu datang sendiri. Tidak bersama dengan wanita yang waktu itu?” ucap paman itu lagi saat menyadari bahwa Masumi datang sendiri

“Seorang wanita?” tanyanya bingung “Maaf, paman. Tolong paman jelaskan siapa wanita yang paman maksud. Saya….saya tidak dapat mengingatnya”

“Aku tidak tahu nama wanita yang saat itu kamu ajak. Aku pikir wanita itu adik atau keponakanmu. Tapi wanita itu mengatakan bukan. Hanya sekali itu kamu datang kemari dan membawa seorang wanita, Masumi. Jadi pasti wanita itu adalah wanita yang spesial buatmu”

Masumi diam dan dia berpikir.

“Satu-satunya wanita yang pernah aku bawa kemari? Apa benar wanita itu spesial bagiku? Siapa dia? Apa Shiori? Shiori yang pernah aku bawa ke sini?Tapi paman ini mengatakan bahwa ia menduga bahwa wanita yang aku bawa adalah adik dan keponakanku, berarti wanita itu bukan Shiori…lalu siapa wanita yang pernah aku bawa itu dan apa hubungan aku dengan dia?”

Melihat Masumi yang hanya berdiri diam, paman itu berkata lagi “Apa kamu mau melihat pertunjukan Masumi. Kebetulan di lantai 5 masih ada pertunjukan”

Masumi mengangguk “Terima kasih, paman. Aku memang ingin melihatnya”

Lalu Masumi menuju tempat pertunjukan sejuta bintang itu.

Ruangan itu gelap saat Masumi memasukinya.

“Lihatlah rasi anjing di sebelah kanan anda…..”

Deg

Sekelebat bayangan muncul di benak Masumi.

Dia sedang memegang bahu seseorang menyaksikan sejuta bintang.

‘…Terima kasih karena kamu telah menemaniku ke tempat kenangan….’

Kalimat itu terngiang-ngiang di benak Masumi

“Pada siapa aku mengucapkannya pada siapa aku mengucapkan kalimat itu? Dan siapa wanita yang aku pegang bahunya saat menyaksikan sejuta bintang?” tanya Masumi dalam hatinya.

*****

Keesokan harinya.

“Selamat siang, nona” sapa seorang pria pada Mizuki yang sedang sibuk menyusun dokumen di mejanya.

“Siang” jawab Mizuki sambil mengangkat wajahnya “Ada yang bisa saya Bantu?”
“Apa benar ini----“

“Oh…anda pasti mau ikutan casting bintang iklan ya?” tebak Mizuki (Sok tahu ^^) “Ruang audisi berada tepat di bawah ini” lanjutnya ketika ia melihat pria tampan dan modis didepannya.

Pria itu, yang tak lain adalah Kazuya tersenyum

“Maaf, nona. Keperluan saya datang ke sini bukan untuk ikut audisi. Saya ingin bertemu dengan bapak Masumi Hayami”Ucapnya

“Maaf…kalau begitu. Saya kira….anda calon bintang….”sahut Mizuki tersipu malu.

“Apa saya cocok untuk menjadi bintang iklan?” Tanya Kazuya iseng

“Tentu saja. Coba saja anda ikutan. Anda pasti akan terpilih”

“Begitu…tapi sayangnya saya tidak tertarik” jawabnya “Jadi..bagaimana nona, apa pak Masumi ada?”

“Anda sudah buat janji?” Tanya Mizuki

“Tadi saya sudah menelpon. Dan saya rasa tadi anda yang mengangkatnya. Dan seingat saya, anda yang mengatakan bahwa saya bisa datang siang ini” sahut Kazuya

“Oh..jadi anda….”

“Saya Kazuya Matsumoto. Wakil Mr. Smith” jawab Kazuya

“Maaf, pak. Saya sungguh tidak mengira kalau anda---“ kata Mizuki merasa tidak enak “Sebentar, saya hubungi Pak Masumi dulu” lanjutnya sambil mengangkat telepon dan menekan sebuah tombol.

Tak lama kemudian, Mizuki meletakkan teleponnya dan berdiri dari tempat duduknya. “Mari ikut saya, Pak”

Tok..tok…tok…

“Masuk” sahut Masumi yang berada di dalam.

“Silahkan, Pak”

Kazuya masuk ke dalam ruangan Masumi.

“Selamat siang, Pak Masumi. Saya Kazuya Matsumoto. Kedatangan saya ke sini untuk mewakili Mr. Smith” sapa Kazuya

Masumi berdiri dari tempat duduknya dan menyambut Kazuya

“Senang bertemu anda” ucapnya ramah sambil menyalami tamunya kemudian mempersilahkannya duduk.

“Saya tidak menyangka kalau wakil Mr. Smith adalah orang jepang dan berusia muda seperti anda” kata Masumi kagum

Kazuya tersenyum.

“saya juga tidak menyangka kalau orang yang akan bekerja sama dengan Mr. Smith juga seorang pengusaha muda” sahutnya enteng,

Keduanya lalu tertawa.

Tak lama kemudian keduanya mulai berbicara serius mengenai masalah proyek kerja sama mereka.

*****

Sore hari di kantor Daito

Maya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor Daito dan mencari ruang meeting. Ia akan mengikuti rapat dengan panitia dan kru untuk membicarakan pementasan bidadari merah.

Maya datang kepagian. Ruang rapat itu masih kosong, jadi dia duduk menunggu sambil membuka-buka majalah yang entah siapa yang menggeletakkannya di meja.

“Apa kamu bersamanya lagi?” Tanya Koji yang tiba-tiba menghampirinya

“Apa maksudmu?” Tanya Maya sambil menatap Koji

“Beberapa hari ini aku sering melihat dia selalu menjemputmu. Maya” jawab Koji

“Oh, yang kamu -----“

Saat Maya akan menjawab, kru dan panitia berdatangan sehingga ruangan menjadi ramai. Akhirnya Maya tidak melanjutkan kalimatnya dan Koji pun yang masih penasaran dengan hubungan Maya dan Satomi tidak dapat mendesak Maya, jadi dia hanya bisa duduk di samping Maya dan mengikuti rapat yang langsung dimulai.

*****

Selesai rapat hari sudah gelap.

Tiba-tiba terbesit keinginan Maya untuk melihat Masumi.

“Aku ingin sekali melihatnya, Walau dia tidak menganggapku apa-apa. Tapi aku sangat merindukannya” pikir Maya

Lalu tanpa pikir panjang, Maya menuju lift dan menekan lantai tempat ruangan Masumi.

Maya berjalan perlahan-lahan mendekati kantor Masumi.

Di meja sekretaris kosong, rupanya Mizuki sudah pulang. Dan pintu ruangan Masumi terbuka.

“Ah, Masumi sudah pulang” pikirnya kecewa

Dia mengintip ke dalam.

Dan ternyata sosok yang dirindukannya itu, masih ada di sana.

Masumi sedang tertidur di sofa, ada sebuah dokumen di dadanya. Mungkin, tadinya Masumi sedang membaca dokumen itu tapi kemudian dia tertidur.

Perlahan-lahan Maya mendekati Masumi.

Dia menatap Masumi dengan kerinduan.

“Masumi, aku sangat rindu padamu” bisiknya lalu dia memberanikan diri mengusap rambut Masumi dengan lembut.

Masumi menggerakkan kepalanya.

Maya hendak lari bersembunyi, tapi ternyata masumi masih tertidur.

Maya berlutut di dekat Masumi dan memandangi wajah Masumi. Maya terus memandangi wajah Masumi sampai puas. Lalu ia berdiri dan mengambil jas Masumi yang tersampir di kursi. Ia menyelimuti Masumi dengan jas itu.

Dengan memberanikan dirinya, Maya membungkukkan badannya dan dengan cepat mencium bibir Masumi.

“Masumi, aku mencintaimu” bisiknya.

Lalu ia pun segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan menahan air matanya yang hendak keluar.

Tak lama setelah Maya pergi, Masumi terbangun.

“Ah, rupanya aku tertidur” ucapnya.

Dia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangannya “Tidak ada siapa-siapa. Tapi tadi aku merasa ada seseorang di dekatku. Apa aku hanya bermimpi? Tanyanya sambil bangun.

“Bruk”

Jasnya terjatuh saat dia berdiri dari sofa.

Masumi mengambil jas itu dengan bingung.

“Mengapa jas ini ada di sini? Bukankah tadi aku menyampirkannya di kursi?” tanyanya kebingungan. “Apakah benar tadi ada yang datang?”

*****


Hari pertama pementasan bidadari merah.

Gedung kesenian Daito, Tokyo

Beberapa jam sebelum waktu pertunjukan para penonton sudah membludak.

Ratusan karangan bungapun telah memenuhi lobi.

Maya sedang bersiap di ruang ganti. Dalam hatinya selalu berharap, ada yang mengabarinya bahwa ia mendapat kiriman sebuah karangan bunga dari pengagum yang sangat dicintainya.

Sama seperti dulu saat ia double cast sebagai hellen keller ataupun pada percobaan pementasan bidadari merah, Masumi, mawar ungunya selalu memberinya karangan bunga yang besar dan mencolok di lobi.

Masumi pernah berjanji bahwa ia akan selalu memberinya karangan mawar ungu di setiap pementasannya.

Tapi, hari ini, semakin mendekati jam pementasan, tidak ada karangan mawar ungu yang datang.

“Masumi, apa kamu benar-benar lupa dengan janjimu? Kamu tahu bahwa mawar ungu darimu adalah sesuatu yang paling aku inginkan. Karena itu aku anggap sebagai penyemangatku…aku tidak meminta karangan bunga yang besar, sebuket kecil cukup bagiku, bahkan walau hanya satu tangkai…satu tangkai saja mawar ungu…aku sudah sangat senang karena itu membuktikan bahwa kamu peduli padaku. Tapi hari ini….satu tangkaipun tidak aku terima….apa aku benar-benar telah kehilangan dirimu, Masumi..apakah aku telah kehilangan pengagum rahasiaku, Mawar ungu?’gumam Maya.

Hatinya sangat sedih.

Tanpa terasa, air maya berlinang membasahi kedua pipinya.

Tok…tok…tok…..

Maya segera mengusap air mata yang membasahi pipinya dan menolehkan kepalanya ke arah pintu.

Ia tersenyum ketika melihat siapa yang datang.

“nona Mizuki…”

Mizuki masuk, menghampiri Maya.

“Maya, akhirnya hari pertama pementasanmu tiba juga. Semoga sukses” ucap

Mizuki sambil menyerahkan sebuah karangan bunga pada Maya.

Maya menerimanya.

“Terima kasih nona Mizuki buat karangan bunganya dan karena anda mau datang untuk melihat pertunjukanku.” Kata Maya

“Nona mizuki…itu-----“

“Ada apa Maya?” Tanya Mizuki

“Apa Pak Masumi juga akan datang melihat pementasanku?” Tanya Maya berharap

Mizuki mengangguk.

“Tentu saja beliau datang. Ini kan termasuk proyek Daito..ups” Mizuki menutup mulutnya, ia menyadari kalau ia baru saja salah bicara. “Maaf, Maya, tak seharusnya aku mengatakan itu padamu. Ah…dasar mulutku ini” lanjutnya dengan nada menyesal

“Aku mengerti, nona Mizuki. Tidak apa-apa. Asalkan dia datang. Asalkan dia melihat pementasanku..aku sangat senang. Itu sudah cukup bagiku. Aku tidak berharap banyak. Aku hanya ingin dia datang meluhat pertunjukanku” ucap Maya dan ia mencoba tersenyum pada Mizuki tapi tetap saja ia tidak dapat menutupi kesedihannya.


Waktu pementasan akhirnya tiba juga.

Kursi-kursi telah dipenuhi penonton.

Dikursi VIP tampak Masumi dan Shiori yang sedang bercakap-cakap. Sesekali terlihat senyuman dan tawa dari mereka berdua.

Maya yang sudah berpakaian sebagai bidadari merah melihat kemesraan mereka dari pinggir panggung,

Hatinya sangat sedih melihatnya,

Air matanya hampir jatuh membasahi pipinya. Tapi dengan cepat digeleng-gelengkan kepalanya. Berulang kali maya menarik dan menghembuskan napasnya, mencoba menenangkan perasaannya.

“Aku tidak boleh menangis, sekarang aku bukan Maya Kitajima tapi aku adalah bidadari merah…aku adalah biddari merah” begitu gumamnya berulang-ulang.

“Maya”

Maya membalikkan badannya dan melihat Koji yang juga sudah siap menjadi Isshin.

Koji tersenyum melihat Maya.

“Kamu sudah siap,Akoya?” Tanya Koji

“Tentu saja Isshin” sahut Maya

Lampu dalam ruang pertunjukan itu di matikan bersamaan dengan dibukanya tirai. Dan Disana..di atas panggung berdirilah pohon plum ribuan tahun yang kemudian berubah menjadi seorang bidadari.

Maya memulai aktingnya.

Semua penonton yang hadir terkesima bahkan seakan berhenti bernapas menyaksikan bidadari merah Maya yang begitu mempesona.

Mereka terbawa suasana magis yang tercipta dari bidadari merah tersebut. Mereka benar-benar menyatu dan merasakan kehadiran bidadari merah yang dirasa begitu nyata.

Itu pula yang dirasakan oleh Masumi. Masumi begitu terpesona dengan bidadari merah Maya.Dia terpaku, tidak bisa bergerak dari tempat duduknya dan matanya terus menatap panggung.

Dia merasa ini bukan pertama kalinya dia melihat pertunjukan ini.

Akhirnya sampailah adegan di mana Akoya menyatakan perasaannya pada Isshin.

“…Hari itu saat pertama kali melihatmu di lembah plum, Akoya langsung menyadari bahwa kamu adalan belahan jiwaku yang terpisah. Waktu keadaan bumi masih kacau, dewa melahirkan putra dan menurunkannya ke bumi. Saat itu jiwanya terpisah menjadi dua yaitu gelap dan terang. Lalu bersemayan di raga yang berlainan.Hingga satu saat gelap dan terang bersatu memberi damai…nenek mengatakan bahwa orang itu akan mempunyai kekuatan ajaib. Kekuatan untuk menarik jiwa yang lain. Waktu, bentuk dan kedudukan tak ada hubungannya. Yang ada hanya saling tertarik untuk mempersatukan jiwa yang terpisah. Serasa gila hanya ingin cepat menarik jiwa yang lain untuk bersatu. Tak peduli nama atau waktu, bertemu untuk hidup bersatu. Hanya itu yang dituju.Buanglah nama dan masa lalumu.Buatlah Akoya hanya jadi milikmu…..”

Deg…..

“Dialog itu….rasanya aku pernah mendengarnya. Seseorang pernah mengucapkannya padaku. Dimana aku pernah mendengarnya…di mana?” Tanya Masumi dalam hatinya

Masumi menutup matanya mencoba mengingat di mana ia pernah mendengar dialog itu. Perlahan bayangan samar muncul di pikirannya. Sebuah tempat….sekeliling tempat itu berwarna merah…lalu ia melihat seseorang… seorang gadis yang memakai baju bidadari…ada sungai yang membatasi mereka…..gadis itu…..Masumi mencoba melihat dengan jelas….

“Masumi” panggil Shiori sambil menyentuh lengan Masumi.

Sentuhan tangan Shiori mengagetkannya dan membuat dia membuka matanya.

Bayangan itu seketika menghilang.

“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Shiori perlahan.

Masumi menggeleng.

“Aku tidak apa-apa. Shiori…” jawabnya lalu Masumi kembali menatap panggung,

“Siapa gadis itu? Gadis yang bayangannya selalu muncul di pikiranku?Apakah dia adalah orang sama yang sedang berperan sebagai bidadari merah atau orang lain? Dan Apa sebenarnya hubunganku dengannya? Apaaa?”

bersambung ke PoL 9....

3 komentar:

  1. waaa tidaaak! dikit sih? tambaaah.! ahahaha *minta ditampol* Ayolah masumi,remember me..eh,maya. waaa tidaaak! dikit sih? tambaaah.! ahahaha *minta ditampol* Ayolah masumi,remember me..eh,maya.

    BalasHapus
  2. ihh shiori nge ganggu aj... padahal dikit lg masumi ingat... grrr... thx.... kerenn euy.. lanjuddd :D

    BalasHapus
  3. waaaah, ga sabar pengen baca lanjutannya.
    cepetan apdet yaaaa....

    BalasHapus