Halaman

Minggu, 14 Agustus 2011

POWER of LOVE (chapter 09)

Pementasan pertama yang berlangsung di Tokyo itu akhirnya selesai dan sangat sukses.

Tepuk tangan dari penonton terus membahana seolah tiada henti.

Dibelakang panggung, Maya sedang berusaha keluar dari kerumunan orang yang mengelilinginya.

“Permisi…permisi…biarkan saya lewat” pinta Maya berulang-ulang.

Tapi orang-orang itu terus mengerumuni dan menyalami Maya.

Tiba-tiba ada satu tangan yang menariknya keluar dari kerumunan itu.

“Satomi…”ucapnya ketika ia melihat siapa yang melakukannya.

“Selamat, Maya. Pementasanmu sangat mengagumkan” katanya sambil memberikan buket mawar merah yang besar.

“Terima kasih, Satomi. Untuk bunganya dan karena kamu bersedia datang dan menonton pementasanku. Kamu memang temanku yang baik” ucap Maya tulus

“Teman? Jadi benar-benar sudah tidak ada lagi tempat untukku. Maya?” Tanya Satomi kecewa



“Maafkan aku, Satomi. Aku sudah berulang kali mengatakannya padamu bahwa aku hanya bisa menganggapmu sebagai salah satu teman terbaikku, tidak lebih” sahut Maya dengan nada menyesal “Satomi, aku permisi dulu, aku lelah” lanjutnya sambil pergi meninggalkan Satomi.

Satomi hanya memandang kepergian Maya dengan tatapan sendu.

*****

Maya kembali menuju ke ruang ganti. Ia benar-benar lelah dan ingin istirahat. Ia tahu bahwa pementsannya belum selesai. Masih ada 6 kota lagi yang menunggu pementasannya karena itu ia ingin cepat-cepat pulang dan beristirahat.

Saat Maya membuka pintu ruang gantinya, ia terkejut….sangat terkejut…..

Di meja riasnya, ia melihat sebuah buket Mawar ungu tergeletak di sana.

“Apa…apa ini hanya khayalanku saja?” ucapnya tidak percaya.

Maya mengejap-ngejapkan matanya. Tapi buket itu tetap di sana.

Perlahan, Maya berjalan mendekati mejanya. Dan terus menatap buket itu, tidak berani berkedip karena takut buket itu tiba-tiba menghilang.

Dengan tangan gemetar, ia meraih buket itu dan ternyata……buket itu nyata bukan khayalannya.

Sebuah kartu nama terselip di sana.
‘Bidadari merahmu sangat luar biasa’

Mata maya mulai berkaca-kaca.

“Masumi…apakah kamu yang memberikan ini?, Masumi... apakah kamu ingat padaku?”gumamnya sambil memeluk buket itu dan menciumi bunga-bunganya.

Tanpa Maya sadari, ada sepasang mata yang mengawasinya. Lalu muncul sebuah senyuman di wajahnya.

*****

Hari berikutnya, Maya melanjutkan pentasnya di kota lain.

Saat Maya sedang menuju Yokohama untuk melakukan pementasan selanjutnya, di tempat berbeda yaitu gedung Daito akan diadakan rapat pemegang saham. Waktu rapat untuk memutuskan apakah Masumi tetap akan dipertahankan atau tidak akhirnya tiba.

Sejak pagi, para pemegang saham telah berkumpul dan tepat jam 10, Eisuke Hayami datang ke Daito dan dengan segera rapat di mulai.

Perdebatan seru terjadi di antara pemegang saham. Eisuke hanya diam mengamati.

“Jadi, bagaimana keputusan kalian? Apakah kalian akan tetap mengganti Masumi ? Dan apakah kalian telah mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Masumi?” Tanya Eisuke akhirnya.

Semua pemegang saham saling melihat satu sama lain.

“Apakah dalam 2 minggu ini kinerja Masumi mengecewakan? Dan membuat daito mengalami kerugian?” Tanya Eisuke lagi

Semua yang hadir menggelengkan kepalanya.

“Jadi..bagaimana keputusan kalian?”

‘Kami..kami akan tetap mempertahankan pak Masumi sebagai direktur Daito” ucap salah seorang dari mereka akhirnya diikuti anggukan kepala yang lain.

Eisuke pun tersenyum puas.

*****

Pementasan Maya di Yokohama kembali mendapat sambutan yang luar biasa.

Begitu juga di kota-kota lainnya. Semua yang menonton memuji acting Maya sebagai bidadari merah yang luar biasa.

Dan buket mawar ungu selalu Maya dapatkan tergeletak di meja riasnya setiap akhir pementasan.

*****

Hari terakhir pementasan bidadari merah

Seperti biasa seusai pementasan, Maya kembali ke ruang gantinya. Dengan harap-harap cemas, ia melihat meja riasnya. Sama seperti pentas-pentas sebelumnya, ia selalu mendapatkan mawar ungu di sana usai pementasannya.

Tapi…hari ini…di hari terakhir pementasannya, ternyata mawar ungu yang selalu tergeletak di meja riasnya tidak ada.

Maya menghela napas kecewa.

Dengan lesu, ia duduk menundukkan kepalanya didepan meja riasnya.

“Mengapa? Mengapa di hari terakhir…kamu malah tidak memberiku mawar ungu, Masumi? Mengapa? Padahal aku begitu senang setiap melihat mawar ungu itu tergeletak di sini setiap aku selesai pentas” gumam Maya kecewa.

Tok…Tok…Tok…..

Maya memalingkan wajahnya dan ia sangat terkejut ketika melihat orang yang berdiri di depan pintunya.

Seorang pria tampan sedang memegang buket mawar ungu tersenyum padanya.

“Halo..Maya” sapanya “Boleh aku masuk?”tanyanya tapi tanpa menunggu jawaban dari Maya, ia menghampiri Maya yang masih terkejut memandangnya.

“Selamat atas pementasanmu…aku benar-benar kagum dengan bidadari merahmu” ucap pria itu sambil menyerahkan mawar ungu pada Maya.

Maya masih menatapnya tidak percaya.

“Ka..kamu….kamu…..” ucap Maya

Pria itu menatap lembut Maya dan tersenyum.

“Apa kamu tidak ingat aku, Maya?” tanyanya

Maya menggeleng. “Aku ingat….kamu…kamu adalah teman Satomi….Kazuya Matsumoto” jawab Maya

Pria itu, yang benar adalah Kazuya,mengangguk.

“Aku senang…ternyata kamu masih mengingat namaku” sahutnya

“Jadi..jadi kamu yang selama ini meninggalkan mawar ungu di meja riasku?”Tanya Maya ingin memastikan “Jadi bukan Masumi yang melakukannya” sambung Maya dalam hatinya, kecewa.

Kazuya sekali lagi mengangguk.

“Tentu saja aku..memangnya kamu kira siapa?”

“Aku kira…eh tidak…bukan..maksudku….aku sama sekali tidak menyangka---“

“Tidak menyangka?” Tanya Kazuya mengangkat alisnya

Maya mengangguk.

“Bukankah….bukankah dulu kamu pernah mengatakan bahwa kamu tidak menyukai pementasan? Karena buatmu menontonnya hanya membuang waktu percuma dan sama sekali tidak berguna….” Jawab Maya memberi alasan

Kazuya tertawa mendengar perkataan Maya.

“Aku benar-benar sangat senang karena ternyata kamu mengingat apa yang pernah aku katakan” ucap Kazuya “Hari ini, aku tarik kata-kataku itu, Maya…Jujur saja, pada mulanya aku menonton pementasanmu hanya penasaran apa benar yang dikatakan Satomi dan orang-orang bahwa bidadari merahmu luar biasa….. tapi setelah menontonnya, aku akui bahwa bidadari merahmu sangat menakjubkan, membuat aku tidak berani berpaling juga berkedip..aku benar-benar terbawa dalam pesona bidadari merah………dalam pesonamu….Kamu berhasil membuat orang seperti aku…orang yang tidak menyukai pementasan menjadi begitu terkagum-kagum. Kamu memang sangat luar biasa…” puji Kazuya

“Terima kasih, Kazuya. Aku senang karena kamu menyukai bidadari merahku” sahut Maya “Tapi…mengapa----“

“Mengapa apa?”

“Mengapa kamu mengirimiku mawar ungu?” Tanya Maya penasaran

“Apa aku tidak boleh mengirimi bunga pada gadis yang berhasil membuat aku terpesona?” Kazuya balik bertanya

“Emmm…itu….tentu saja boleh, Kazuya….tapi…tapi mengapa kamu memilih Mawar ungu?”

“Memangnya kenapa dengan mawar ungu?Apa kamu tidak menyukai mawar ungu?”

“Bukan…bukan begitu, Kazuya…hanya…hanya saja tidak biasanya seseorang memberi bunga mawar ungu..biasanya kan yang dipilih mawar merah atau putih” kata Maya beralasan.

“Mengapa aku harus memilih pilihan yang sama dengan orang lain?aku tidak ingin sama dengan orang lain” sahut Kazuya

“Apa kamu mempunyai alasan mengapa memilihnya, Kazuya?” Tanya Maya lagi.

Ia benar-benar penasaran

“Hmmm…mengapa kamu harus mempersoalkannya? Aku baru tahu…kalau memberi bunga padamu harus disertai alasan mengapa memilih bunga itu” sahut Kazuya lagi

“Maaf…maafkan aku Kazuya….aku tidak bermaksud mempersoalkannya…aku hanya…hanya ingin tahu saja. Bila kamu tidak mau menjawabnya tidak apa-apa” ucap Maya akhirnya.

Kazuya tersenyum sambil menatap Maya

“Baiklah…baiklah Maya…aku akan memberitahukannya padamu mengapa aku memberikan mawar ungu padamu” kata Kazuya “Sebenarnya pada saat aku berada di toko bunga, aku kebingungan memilih bunga apa yang cocok untukmu. Mawar apa yang tepat untuk menggambarkan perasaanku padamu” jelas Kazuya

“Menggambarkan perasaanmu?” Tanya Maya tidak mengerti

“Benar. Untungnya penjual bunga berbaik hati membantuku menjelaskan makna dari setiap warna mawar sehingga aku bisa menjatuhkan pilihanku” jawab Kazuya

“Makna dari warna mawar?” Tanya Maya lagi yang masih belum mengerti maksud Kazuya

“apa kamu tidak tahu, Maya bahwa setiap warna dari bunga mawar memiliki makna?seperti mawar merah yang memiliki makna cinta dan romantisme, atau mawar putih yang memiliki makna cinta yang murni----“

“Lalu…lalu mengapa kamu memilih mawar ungu? Apa makna dari mawar ungu?’

“Mawar ungu memiliki makna…… cinta pada pandangan pertama” jawab Kazuya

“Cin…ta…cinta pada pandangan pertama?”

“benar…cinta pada pandangan pertama. Itu yang aku rasakan padamu….aku jatuh cinta padamu sejak aku melihat bidadari merahmu” jawab Kazuya “Tidak…mungkin sebelum itu…saat aku pertama kali melihatmu hampir tertabrak Satomi dan tiba-tiba menangis dipelukannya”ralat Kazuya

Kata-kata Kazuya yang begitu terus terang membuat Maya terperangah.

“Tapi…tapi bagaimana mungkin……”

“Mengapa tidak mungkin? Buatku kamu gadis yang berbeda dari gadis kebanyakan…..dan setelah menonton pementasanmu, dugaanku benar..kalau kamu memang gadis yang berbeda…kamu mampu membuat aku terpesona” ucap Kazuya

“Kazuya----“

“Jadi…Maya…maukah kamu menjadi kekasihku?” Tanya Kazuya mengungkapkan isi hatinya.

Sekali lagi Maya terkejut dengan perkataan Kazuya. Tapi kemudian Maya menggeleng.

“Kazuya…maaf…aku…”

“Aku tahu, Maya. Mungkin penyataan cintaku ini terlalu cepat. Sehingga membuatmu terkejut. Aku bisa memberimu waktu untuk memikirkannya” ucap Kazuya memotong kata-kata Maya

“Kazuya…aku---“

“aku mengerti Maya. Tidak mungkin buatmu untuk cepat menyukaiku. Tapi bila kita bersama dan mengenal aku, lambat laun kamu pasti dapat membalas perasaanku” ucap Kazuya sekali lagi berusaha meyakinkan Maya

Maya menghembuskan napasnya dalam.

“Kazuya, dengarkan aku dulu” ucap Maya tegas

Kazuya diam dan menatap Maya

“Aku minta maaf, Kazuya. Aku…aku tidak bisa membalas perasaanmu..Maaf” kata Maya menolak Kazuya

“Tidak bisa? Mengapa?mengapa kamu tidak mau memberi aku kesempatan?”

Maya menggeleng.

“Aku tidak bisa. Karena di hatiku sudah ada seseorang yang sangat aku cintai” sahut Maya

“Apa dia adalah Satomi?” Tanya Kazuya

Maya menggeleng

“Atau laki-laki yang dulu membuatmu menangis sampai hampir tertabrak oleh Satomi?” tebak Kazuya

“Darimana kamu----“

“Siapapun bisa menduganya, Maya…kamu telah dikecewakan laki-laki itu sehingga kamu menangis dan hampir tertabrak” ucap Kazuya

Maya terdiam menatap Kazuya.

“Dugaanku benar kan,Maya?” tanyanya “Jadi mengapa kamu terus mempertahankan laki-laki itu dihatimu? Lebih baik kamu singkirkan dia dari hatimu”

“Tidak…aku tidak mau melakukannya” sahut Maya bersikeras

“Mengapa?”

“Kazuya, dia laki-laki yang paling aku cintai. Apapun yang dia lakukan padaku tidak akan bisa mengubah rasa cintaku untuknya. Dia sangat berarti bagiku. Dan posisi dia dihatiku tidak akan bisa digantikan oleh siapapun” jawab Maya yakin “Karena itu, maafkan aku Kazuya. Aku tidak bisa menerimamu”

“Hmmm…begitu…..kamu benar-benar tidak mau memikirkannya dulu, Maya?”

Maya menggeleng. “Tidak…Maafkan aku Kazuya”

“Jadi…perasaanku harus segera berakhir” ucap Kazuya “Mengapa kamu tidak memberi aku kesempatan malah langsung mengecewakan aku seperti ini?”

“Kazuya…maaf..sekali lagi maaf…aku tidak mau memberi harapan yang memang tidak bisa aku berikan. Aku ingin kamu mengerti” sahut Maya

Kazuya menghela napas panjang.

“Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksamu lagi. Hari ini kamu telah mengecewakan hatiku. Jadi kamu berdoa saja kita tidak akan bertemu lagi. Karena bila kita bertemu lagi, aku tidak akan melepaskanmu” ucap Kazuya tenang dengan ekspresi yang tidak terbaca

“Apa..apa maksudmu, Kazuya?” Tanya Maya

Kazuya hanya tersenyum misterius lalu ia pergi meninggalkan Maya.

Sepeninggalan Kazuya, Maya kembali termenung.

“Jadi, selama ini yang memberiku mawar ungu bukan Masumi? Masumi, mengapa bukan kamu? Mengapa?” ucap Maya perlahan

*****

Setelah pementasan terakhirnya di Kyoto berakhir, Maya kembali ke Tokyo. Saat itu sudah hampir sebulan, Maya tidak bertemu Masumi. Kerinduannya sudah memuncak. Ia benar-benar ingin melihat Masumi.

Sore hari ini, Maya benar-benar tidak dapat menahan dirinya. Ia sangat ingin melihat Masumi. Karena itu, dia sengaja datang ke Daito. Hanya untuk melihat Masumi dari kejauhan.

Maya menuju parkiran gedung Daito. Disana, ia mencari mobil Masumi.

“Ah..mobilnya masih ada. Berarti Masumi belum pulang” ucap Maya ketika melihat mobil Masumi masih ada di tempatnya “Aku menunggu di sini saja”lanjutnya sambil matanya mengawasi lift.

Dan ternyata tak lama menunggu, lift menunjukkan ada orang yang sedang memakai lift menuju ke parkiran.

“Semoga Masumi yang turun…semoga….” harap Maya

Maya bergegas bersembunyi di belakang tembok.

Ting…..

Pintu lift itu terbuka.

Dan orang yang ditunggu Maya keluar dari lift itu.

“Masumi…benar..itu Masumi…..” bisik Maya sambil melihat Masumi dengan kerinduan dari kejauhan.

Masumi berjalan perlahan menuju mobilnya.

Ia tidak meyadari bahwa Maya sedang memandanginya dari kejauhan.

Dan selain Maya, sebenarnya ada orang lain yang juga sedang mengawasinya.

Saat Masumi tiba di depan mobilnya dan mengeluarkan kunci mobil, beberapa orang pria bertopeng keluar dari tempat persembunyiannya dan mengepung Masumi.

“Ka..kalian….” ucap Masumi terkejut

“BRUK”

Salah seorang dari mereka dengan cepat memukul tengkuk Masumi dan menyebabkan Masumi pingsan.

Maya yang tidak menduga akan terjadi hal seperti itu, tidak berpikir panjang, Ia keluar dari persembunyiannya.

“Apa yang kalian lakukan?” teriaknya sambil menghampiri orang-orang itu.

“Lepaskan Masumi..lepaskan” teriaknya sambil memukuli orang yang membawa Masumi

“Bagaimana ini?” Tanya salah seorang dari mereka

“Sudah bawa saja dia. Bos kan sudah memerintahkan agar tidak diketahui siapapun” sahut seorang yang lain.

Akhirnya, Maya pun ikut ditangkap dan dibawa masuk dalam mobil.

“Lepaskan aku…lepaskan…”teriak Maya sambil memberontak

“Ah..berisik banget sih”ucap salah seorang dari mereka dan……..

“Bruk”

Ia pun memukul Maya dan menyebabkan Maya juga pingsan.

bersambung ke PoL 10....

7 komentar:

  1. Aih sis fenny jadi tambah penasaran siapa yg trh bunganya...anastasia

    BalasHapus
  2. Ahhhh...dlm sejarah POL ini chapter yg paling singkat tapi bikin penasaran! Sengaja ya?!? Yg kasi mawar ungu siapa? Hijiri ?! Atau emang Masumi?! *flo*

    BalasHapus
  3. Jangan2 yg taruh bunganua hijiri,hiks

    BalasHapus
  4. yaaaaah, kok dikit amaaaaat. kuraaaaaaang......

    BalasHapus
  5. asik bentar lagi masumi sembuh deh dai amnesianya...... ayo cepet sista gak sabar nunggu part itu hehehehehe

    BalasHapus
  6. Biasanya kalo abis dipukul gt, bisa balik tuh ingatan.. Hahaha *sok tau...

    BalasHapus
  7. hihihi, bener. mudah2n masumi dipukul tp ingatannya bs balik lagi.

    ayo lanjutkaaaan hehe....

    BalasHapus