Halaman

Rabu, 10 Agustus 2011

TRAGEDY

Masumi sedang mengendarai mobilnya menuju bandara Tokyo. Sesekali matanya melirik ke kursi di sampingnya. Di kursi itu tergeletak sebuah buket besar yang berisikan 100 tangkai mawar ungu.
Hari ini, gadis mungilnya akan kembali ke Tokyo setelah hampir sebulan maya meninggalkan Jepang dan melakukan pementasan bidadari merah di beberapa Negara Asia.
“Maya…akhirnya tour keliling asiamu usai juga. Aku sudah sangat rindu padamu. Aku benar-benar tidak sabar bertemu denganmu” gumam Masumi sambil tersenyum senang.
Pada salah satu pintu kedatangan di bandara Tokyo, suasana tampak ramai. Bukan ramai oleh penumpang tetapi di penuhi wartawan yang akan meliput kedatangan pemeran bidadari merah itu dan juga petugas kepolisian yang sedang berjaga-jaga.
Tak lama menunggu, seorang gadis mungil berpakaian modis dan memakai kaca mata hitam disertai rombongannya tampak keluar dari pintu itu. Wartawan yang sedari tadi sudah menunggu langsung mendekati rombongan itu. Untung saja, pihak bandara telah menyiapkan petugas kepolisian untuk mengawal rombongan itu sehingga keadaan tetap dapat dikendalikan.
Maya tidak memperdulikan keadaan di sekelilingnya, matanya mencari-cari seseorang. Orang itu berjanji akan menjemputnya saat ia tiba di bandara.
Akhirnya orang yang dicarinya berhasil ditemukannya. Tak jauh tepat di depannya, seorang pria tampan memegang biket besar mawar ungu berdiri sambil tersenyum menatapnya.
“Masumi…” ucap Maya sambil menatap rindu pria itu.
Maya segera berlari menuju arah pria itu dan segera memeluknya.


Mereka saling berpelukan, tak peduli dengan kamera wartawan yang tak henti-hentinya mengambil gambar mereka.
Hubungan mereka memang telah lama diketahui wartawan. Bahkan secara terbuka Masumi telah mengumumkan hubungannya dengan Maya.
Hubungan mereka pada mulanya memang banyak menemukan rintangan. Salah satunya adalah ketika Masumi membatalkan pertunangannya dengan Shiori Takamiya dengan alasan ketidakcocokan di antara mereka sehingga menyebabkan Shiori depresi dan masuk rumah sakit jiwa.
Keluarga Takamiya yang tidak dapat menerima kenyataan itu memutuskan hubungan kerja samanya dengan Daito.
Eisuke mencoba membujuk, memaksa bahkan sampai mengancam agar Masumi kembali pada Shiori, tapi pendirian Masumi sudah teguh. Ia sanggup kehilangan apapun asal bersama dengan gadis yang dicintainya.
Akhirnya Eisuke pun menyerah dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi kecuali menuruti keinginan Masumi dan merestui hubungan mereka.
Dan tak lama sebelum Maya melakukan tour keliling ke Asia, mereka secara resmi telah bertunangan.

*****

Hari ini, Masumi menjemput Maya untuk berkencan. Sudah hampir 1 bulan ia tidak bertemu gadis mungilnya membuat Masumi sangat rindu dan meminta Maya meluangkan 1 harinya untuk mereka berdua.
Pagi-pagi sekali Masumi sudah berada di apartemen Maya. Dengan sabar, ia menunggu gadis mungil itu keluar.
‘ceklek’
Terdengar suara pintu di buka. Dengan memakai blouse warna pink dan celana panjang jins hitam, Maya tampak casual. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil ia keluar dari apartemennya.
“Maya….”panggil Masumi
“Masumi…” seru Maya sambil mendekati Masumi “Mengapa kamu tidak menelponku?” tanyanya.
“Aku baru saja sampai” ucap Masumi “Sudah siap berangkat?”
Maya mengangguk.
Masumi membukakan pintu mobilnya, dan Maya segera masuk ke dalam.
Mereka pun meninggalkan apartemen Maya.
Masumi membawa Maya ke villanya di semenanjung Izu.
“Wah….indah sekali…” seru Maya ketika melihat pemandangan dari villa Masumi. Tampak pasir yang putih berpadu dengan laut berwarna hijau tosca.
Mereka pun lalu bermain-main di pantai. Maya berlari menantang ombak, tapi ketika ombak datang menghampirinya, Maya berlari menghindarinya sambil menjerit-jerit senang. Kemudian, Masumi memperlihatkan kepiting-kepiting yang banyak di pantai itu sesuai dengan apa yang di janjikannya.
“Apa kamu mau, Maya? untuk makan siang kita?” Tanya Masumi sambil menunjuk kepiting-kepiting kecil itu.
“Kepiting sekecil itu di masak?” Tanya Maya
Masumi mengangguk
“Jangan ah Masumi. Kasihan. Lagipula mereka begitu kecil, mana ada dagingnya” sahut Maya
Masumi hanya tertawa mendengar jawaban Maya “Jadi kamu tidak mau?”
“Tidak”
“Ya sudah kalau tidak mau. Aku juga hanya becanda koq menawarkannya pada kamu” sahut Masumi “Aku kira kamu rakus sampai tidak mungkin menolak kepiting yang kecil ini”
“Masumiii…awas kamu ya” seru Maya sambil mengejar masumi yang telah berlari menjauhinya.
Setelah puas bermain-main di pantai. Mereka kembali ke villa untuk beristirahat.
Saat sore menjelang, Maya sedang asyik mengamati burung camar yang terbang di atas laut dan ombak-ombak yang berkejaran.
“Apa kamu mau ikut, Maya?” Tanya Masumi yang baru keluar sambil membawa alat pancing.
“Mau ke mana?”
“Ke tengah laut. Aku ingin memancing ikan untuk makan malam kita” jawab masumi
“Mau….aku mau ikut” seru Maya “Tapi….apa benar kamu bisa memancing, masumi?” Tanya Maya ragu
“Jangan salah, Maya. Aku ini paling jago memancing. Terakhir aku memancing aku mendapat ikan sepanjang ini” sahut Masumi menyombongkan diri sambil merentangkan tangannya.
“Benarkah?” Tanya Maya “Aku tidak percaya. Kamu pasti sedang membohongi aku”
“Kamu lihat saja nanti” sahut Masumi enteng sambil pergi menuju tempat penyimpanan kapal kecil miliknya.
Maya pun mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kapal kecil itu, Masumi membantu Maya naik ke atas kapal. Kapal itu berlantaikan kaca sehingga dari atas dapat melihat pemandangan bawah laut.
“Kita berangkat” seru Masumi sambil menjalankan mesin kapalnya
Tak lama, kapal itu sampai di tengah laut. Masumi mematikan mesin kapalnya dan membiarkan kapal terombang-ambing perlahan di terjang ombak.
Masumi mengambil tempat di salah satu sisi kapal, ia lalu menyiapkan alat pancing.
Kemudian ia melempar alat pancingnya itu dan menunggu ikan menyambar umpannya.
Maya duduk di sebelah Masumi dan ikut menunggu dengan sabar.
Lalu di lihatnya tali pancing itu bergerak-gerak.
“Bergerak…masumi….talinya bergerak” seru Maya senang.
Dengan segera, Masumi menarik tali pancing itu.
“Ya…yang di dapat hanya ikan kecil “ ucap Maya kecewa ketika dilihatnya ikan yang ditangkap hanya sepanjang jari telunjuknya.
“Tenang, Maya. Ini baru pemanasan. Nanti kita pasti dapat yang sangat besar” sahut Masumi membesarkan hati.
Beberapa kali, tali pancing itu bergerak. Maya sangat antusias setiap melihatnya tapi setelah itu ia kecewa karena ternyata yang di dapat hanya ikan-ikan kecil.
“Ah..Masumi payah…katanya bisa mendapat ikan yang serentangan tangan, tapi dari tadi hanya ikan-ikan kecil saja yang tertangkap” kata Maya yang mulai bosan sambil berdiri meninggalkan Masumi dan berdiri menatap batas cakrawala yang mulai memerah. Matahari mulai akan terbenam.
Masumi hanya tersenyum mendengar perkataaan Maya.
“Maya” panggil Masumi tiba-tiba “Kali ini aku benar-benar mendapat tangkapan bagus” ucapnya
“Mana?” Tanya Maya sambil membalikkan badannya.
Masumi memperlihatkan “Hasil tangkapannya”.
Di mata kail itu terikat sebuah kotak kecil berwarna silver.
“Apa itu?” Tanya Maya penasaran.
Masumi mengangkat bahunya.
“Aku juga tidak tahu. Coba saja kamu buka, Maya” katanya sambil melepas ikatan kotak itu dan memberikannya pada Maya.
Perlahan, Maya membuka kotak silver itu.
“Masumi..ini…ini….” ucap Maya yang terkejut melihat isi kotak itu. Sebuah cincin bermata safir yang tampak berkilauan di terpa matahari senja.
Sambil tersenyum, Masumi mengambil cincin itu.
“Maya, maukah kamu menikah denganku?” ucapnya sambil menatap lembut Maya.
“A..ku…a…ku….” Maya tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia terlalu bahagia. Akhirnya Maya hanya menganggukkan kepalanya.
“Ulurkan tanganmu” pinta Masumi
Maya mengulurkan tangannya dan dengan lembut Masumi memasukkan cincin itu ke jari manis Maya.
Maya memandangi cincin yang kini ada di jarinya
“Masumi…terima kasih..aku senang sekali” seru Maya sambil akan memeluk Masumi. Tapi ia tidak melihat bahwa ada ember ikan di antara mereka. Kaki Maya menyandung ember itu sehingga ia terjatuh dan menubruk Masumi.
Bersamaan dengan Maya yang menubruk masumi, sebuah ombak besar menghantam kapal itu sehingga menyebabkan kapal terguncang kencang.
Masumi tidak dapat menjaga keseimbangannya.
‘BYUUUR…..’
Akibatnya dengan sukses keduanya jatuh ke laut.

*****

Mereka kembali ke villa dengan basah kuyub.
Masumi meminjami Maya mantel kamarnya karena mereka mulanya memang tidak ada rencana menginap sehingga maya tidak membawa baju ganti.
Maya sedang duduk di dekat perapian sambil memasukkan kayu-kayu ke dalam perapian itu.
“Maya…” panggil Masumi
Maya menoleh.
“Maaf, Maya. Makan malam kita hanya ini” ucapnya sambil memperlihatkan 2 cup mie instant “Tapi kalau kamu tidak keberatan aku tinggal sebentar karena tidak mungkin kamu ikut denganku dengan berpakaian seperti itu, aku akan pergi ke pasar ikan untuk membeli ikan yang besar” lanjutnya.
“Aku tidak mau ditinggal, Masumi. TIdak apa-apa. Lebih baik kita makan mie instant saja. Aku tidak mau ditinggal sendiri..” jawab Maya cepat
“Kamu yakin?” Tanya Masumi
Maya mengangguk.
“Maya, malam ini kita terpaksa menginap. Karena bajumu belum kering dan tidak mungkin kamu pulang memakai mantel kamarku yang kebesaran seperti itu. Kamu…tidak keberatan kan, Maya?” Tanya Masumi ketika mereka telah selesai dengan makan malam mereka.
Maya menggeleng.
“Karena di villaku ini kamarnya hanya satu. Jadi, kamu tidur saja di kamarku. Biar aku tidur di sofa” kata Masumi
“Aku tidak mau…”ucap maya
“Tidak mau?”
“Aku tidak mau tidur di kamarmu, masumi” sahut Maya “aku…aku ingin di sini saja bersamamu”
Di sini?”
Maya mengangguk,
“Dan…dan aku…aku ingin tidur di pelukanmu sama seperti dulu, waktu kita terjebak hujan di lembah plum” lanjut Maya perlahan.
Masumi memandang Maya dengan ekspresi yang tidak terbaca.
“Baiklah kalau begitu..Kemarilah, Maya” kata Masumi sambil mengulurkan tangannya.
Maya menyambut uluran tangan Masumi, dan Masumipun menarik Maya dalam pelukannya.
“Dulu, aku pernah mengatakannya padamu, Maya. Bahwa aku ini laki-laki jadi mungkin saja aku berbuat kurang ajar”
Dengan berani, Maya menatap masumi.
“Aku mempercayaimu, Masumi” ucapnya “Tapi….bila malam ini kamu menginginkan aku….aku….aku rela memberikannya padamu” sambung Maya perlahan dengan wajah memerah.
Masumi terkejut mendengar perkataan, Maya.
Ia lalu tersenyum. “Terima kasih, Maya. Perkataanmu membuatku senang. Tapi aku rasa malam ini aku masih bisa mengendalikan diriku. Aku masih bisa menunggu. Menunggu sampai waktunya kamu menjadi milikku. Toh hanya tinggal sebentar lagi” sahut Masumi lalu mengecup kening Maya.
Maya tersenyum menatap Masumi.
Deg..
Jantung Masumi langsung berdetak kencang.
“Cepat pejamkan matamu dan tidurlah sebelum aku menyesali apa yang aku katakan barusan” perintahnya.
Maya tertawa mendengar ucapan Masumi tapi kemudian ia menurutinya dan memejamkan matanya.
Masumi terbangun karena merasa punggungnya terasa pegal, ia menatap Maya yang tertidur lelap di pelukannya.
“Dulu, aku berpikir bahwa aku akan bermimpi sedih tapi ternyata aku salah. Aku juga mengira bahwa saat kamu bangun, kamu akan pergi dari sisiku dan terbang menjauh dariku…tapi ternyata kamu tidak menjauh tetapi malah membalas perasaanku. Terima kasih, Maya atas semua kebahagiaan yang kamu berikan padaku” ucap Masumi sambil mengecup lembut bibir Maya.
Maya menggerakkan badannya dan membuka matanya.
“Kamu sudah bangun,Maya?” bisik Masumi
“Ma..masumi….” seru Maya sambil mengangkat badannya “Maaf, semalaman aku jadi betulan tidur di pelukanmu. Kamu pasti pegal. Padahal kamu bisa memindahkanku ke sofa”
“Aku tidak keberatan. Semalam aku benar-benar merasa kita mengulang kejadian di lembah plum. Tapi sayang, kurang sesuatu” kata Masumi.
“Sesuatu? Sesuatu apa?” Tanya Maya bingung
“Sebelum kamu berlari meninggalkan aku, kamu memberikan aku satu dahan bunga plum untuk melambangkan perasaanmu” ucap masumi sambil menatap Maya yang langsung memerah mengingat kejadian itu “Sekarang apa yang kamu berikan sebagai lambang perasaanmu?” Tanya Masumi
“Heemmm..lambang perasaanku?”
Masumi mengangguk
“apa ya? Di sini kan cuma ada pasir, kerang, dan kepiting….apa yang kamu inginkan Masumi biar aku mengambilkannya untukmu” sahut Maya polos
Masumi menggeleng “Aku tidak mau semua itu”
“Jadi, apa yang kamu inginkan?”
“Apa yang mau kamu berikan sebagai lambang perasaanmu?” Masumi balik bertanya.
Maya tampak berpikir sambil menatap Masumi yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum.
“Ah..aku tahu.” Serunya tiba-tiba “Sekarang ini lambang perasaanku, Masumi” ucap Maya sambil dengan cepat mendekatkan bibirnya dengan pipi Masumi dan mengecupnya.
“Sudah……Aku sudah memberikannya” ucap Maya sambil tersenyum puas “Sekarang aku ingin sarapan, aku lapar”
“Tapi aku belum puas, Maya. Yang aku inginkan kamu menciumnya di sini” sahut Masumi sambil menarik wajah Maya ke dekat Wajahnya dan mulai mencium bibir Maya dengan lembut.
Maya terperangah tapi kemudian dia menutup matanya dan membalas ciuman Masumi.

*****


Beberapa hari kemudian, Masumi meminta Eisuke secara resmi melamar Maya dan menentukan tanggal pernikahan mereka secepatnya.
Akhirnya disepakati bahwa pernikahan akan dilakukan 3 bulan mendatang.
Dalam 3 bulan itu Maya dan Masumi benar-benar disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka. Dengan dibantu oleh salah satu Wedding Organizer terkemuka, mereka merancang sebuah pesta pernikahan elegan bernuansa ungu, memilih gaun pengantin dan kartu undangan bahkan Masumi telah mempersiapkan rencana bulan madu mereka yaitu keliling eropa.
Hari demi hari berlalu dengan cepatnya dan akhirnya hari yang dinantikan tiba juga. Besok mereka akan mengikat janji setia mereka dalam ikatan pernikahan.

*****

Maya baru saja pulang ke apartemennya setelah ia berkumpul dengan teman-teman teater Mayuko-nya. Teman-teman teaternya mengajaknya makan-makan untuk merayakan malam terakhirnya sebagai seorang gadis sebelum keesokan harinya menyandang gelar nyonya Hayami.
Maya akan masuk ke dalam apartemennya ketika dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggilnya.
“Halo, Maya” sapa seorang wanita yang mengejutkan Maya. Maya langsung membalikkan badannya dan melihat seorang wanita sedang tersenyum padanya, tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Nona Shiori….”seru Maya terkejut “Mengapa anda ada di sini? Bukankah anda berada di--- di----“
“Di rumah sakit jiwa? Itu maksudmu?” sambung Shiori sambil berjalan mendekati Maya “Aku tidak gila, Maya. Mengapa mereka menyangka aku gila….aku sama sekali tidak gila” lanjutnya dengan ekspresi sedih.
Maya yang merasa ketakutan, mundur menjauhi Shiori.
“Anda---anda mau apa kemari, nona Shiori?” tanyannya.
“Ku mohon Maya. Jangan menjauhiku. Aku tidak akan menyakitimu. Kedatanganku kemari hanya ingin mengucapkan selamat padamu. Aku dengar kamu akan menikah dengan Masumi besok” jelas Shiori “Selamat atas pernikahanmu, Maya. Semoga kamu berbahagia dengan Masumi” lanjutnya. Ucapan Shiori terdengar tulus.
“Te..terima kasih, nona Shiori” sahut Maya
“Maya…boleh aku meminta sesuatu padamu?” Tanya Shiori tiba-tiba
“A..apa itu..nona Shiori?”
“Boleh aku memelukmu? Anggap saja sebagai restu dariku atas pernikahan kalian. Aku merelakan Masumi untukmu. Aku tahu Masumi tidak mungkin bahagia denganku. Hanya kamu yang bisa membahagiakannya”pinta Shiori
“Me..meluk?”
Shiori mengangguk.
“sebentar saja, Maya. Setelah itu aku akan pergi. Aku janji aku akan menghilang dari kehidupan kalian. Boleh ya, Maya?”
Maya tampak terdiam tapi kemudian ia mengangguk dan berjalan mendekati Shiori.
Shiori memeluk Maya dan akhirnya Maya pun membalas pelukan Shiori.
Kedua wanita itu saling berpelukan.
Tanpa Maya sadari, sebelah tangan Shiori mengambil sesuatu yang tampak berkilau diterpa lampu jalan.
“Maya…ini hadiah dariku untuk pernikahan kalian” bisiknya lalu dengan cepat Shiori menghunuskan benda tajam itu tepat di sisi perut Maya.
“Aaarg…”pekik Maya
Shiori melepaskan pelukannya dan mencabut belati yang tadi ditusukkannya itu.
Seketika itu juga darah mengalir deras dari bagian yang tadi terkena tusukan.
Shiori memandang Maya yang kesakitan tanpa ekspresi lalu terdengar suara keras.
“HAHAHAHAHA……Rasakan….kamu benar-benar bodoh, Maya…apa kamu pikir aku benar-benar rela membiarkanmu bersama Masumi? Aku SANGAT tidak rela…..Aku tidak bisa mendapatkannya…kamu pun tidak boleh bersamanya…HAHAHAHAHA…..”
“No…no..na….Shi..o…ri….” ucap Maya sambil meringis sebelum akhirnya ia tersungkur ke tanah.
“Mayaaaaa” seru Masumi yang sedang berlari diikuti Hijiri ketika melihat Maya tersungkur.
Tadi sebenarnya Masumi baru saja mendapat kabar bahwa Shiori kabur dari rumah sakit jiwa. Seorang perawat menemukan sebuah kata “MAYA” tertulis dengan darah di cermin. Firasat buruk langsung melintas di benak Masumi karena itu dengan cepat ia segera menuju apartemen Maya. Tapi ternyata ia datang terlambat.
Masumi segera berlutut mendekati tubuh Maya yang terkulai sedang Hijiri menahan Shiori dan segera menghubungi rumah sakit.
“Maya….”Panggil Masumi sambil memeluk tubuh Maya yang sudah dibanjiri darah “Maya…buka matamu…ku mohon Maya….jawab Aku” ucapnya sambil mengguncang-guncang tubuh Maya.
Ngiung---ngiung-----ngiung…..
Suara ambulance terdengar dari kejauhan.

*****

“Dokter….bagaimana keadaan calon istri saya? Bagaimana keadaannya, Dok?” Tanya Masumi panik.
Dokter itu memandang Masumi dengan tatapan menyesal.
“Pak Masumi, kami telah berusaha menolongnya. Tapi…calon istri anda telah kehilangan banyak darah. Jadi nyawa calon istri anda….tidak dapat kami selamatkan”ucap dokter itu dengan nada menyesal.
“Tidak….dokter…..anda pasti sedang becanda kan? Maya baik-baik saja kan? Besok kami akan menikah..jadi ia pasti tidak kenapa-napa. Benar kan, Dokter? Benar kan?” kata Masumi sambil mengguncang-guncang tubuh dokter itu.
“Pak Masumi..harap----“
Tapi Masumi tidak mendengarkan kata-kata dokter itu dan terus mengguncang-guncang tubuh dokter tersebut.
“Katakan..dokter…katakan bahwa Maya baik-baik saja” serunya
“Pak Masumi, sadarlah” seru Pak Kuronuma yang setelah mendapat kabar bahwa Maya terluka langsung pergi ke rumah sakit, sambil melepaskan pegangan Masumi pada tangan dokter itu.
“Maafkan beliau, dok” ucap Pak Kuronuma yang di jawab dengan anggukan mengerti oleh dokter tersebut kemudian ia pun berlalu.
“Pak Masumi….”panggil Pak Kuronuma sambil memegang tangan Masumi.
“Lepaskan aku!” ucap Masumi sambil mendekati ranjang tempat Maya berbaring.
Masumi menatap lembut Maya. Tanpa disadarinya air mata mengalir membasahi pipinya.
Satu tangan Masumi menggenggam erat tangan Maya sedang tangannya yang lain membelai rambut Maya.
“Maya..sekarang kamu pasti lelah karena mempersiapkan acara pernikahan kita karena itu kamu tertidur lelap seperti ini tapi besok kamu pasti akan membuka matamu kembali kan, Maya…besok kamu akan menjadi pengantinku yang cantik…..benar kan kataku, Maya…benar kan?” ucap Masumi sendu

*****

Keesokan harinya.
Sejak pagi langit mendung dan hujan rintik-rintik terus turun.
Di sebuah rumah duka, tamu-tamu tampak berdatangan.
Teman-teman Maya dari teater Mayuko dan ikkakuju, Ibu Mayuko dan Genzo, Ayumi Himekawa dan ibunya, Satomi, Koji dan semua kerabat dan teman-teman Maya yang lain memenuhi ruangan itu.
Wajah-wajah sedih tergambar di wajah mereka semua. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau hari ini yang seharusnya menjadi hari pernikahan Maya dan Masumi malah menjadi hari pemakaman Maya.
Ditengah ruangan, Maya tampak sedang tertidur tenang dalam peti kaca. Maya terlihat cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna ungu muda.
Lalu, semua mata tiba-tiba tertuju pada satu arah. Dari pintu depan, seorang pria tinggi berwajah tampan berjalan mendekati peti kaca itu. Gurat-gurat kesedihan tampak di wajahnya.
Ia lalu meletakkan buket mawar ungu yang di bawanya ke tangan Maya dan mencium bibir beku gadis mungil itu.
“Maya..bangun….buka matamu……Hari ini hari pernikahan kita. Semua tamu sudah datang. Mereka telah menunggu untuk menjadi saksi pernikahan kita.
Maya…ayo bangun, sayang….kamu sudah tertidur cukup lama….kini saatnya kamu bangun..bukalah matamu dan tataplah aku…..”Ucap Masumi tapi Maya tetap tidak bergeming. Matanya tetap terpejam.
“Maya…ku mohon….jangan begini….bangunlah….buka matamu……ku mohon, Maya..bukalah matamu……Maya..kumohon padamu bangunlah…” ucap Masumi lagi
Ucapan Masumi membuat semua orang yang ada di ruangan itu menitikkan air mata.
“Masumi” panggil seseorang sambil menyentuh bahunya.
“Ayah…maya tidak mau bangun, ayah. Mengapa ia tidak mau membuka matanya? Apakah dia tidak tahu kalau hari ini adalah hari pernikahannya? Ayah…mengapa Maya diam saja…..bagaimana cara membangunkannya, Ayah?” seru Masumi ketika melihat siapa yang ada disampingnya.
“Masumi…sadarlah…Maya sudah tidak ada….ia telah pergi” sahut Eisuke
“Tidak, Ayah….tidak……Maya tidak pergi…..ia tidak mungkin meninggalkanku….ia berjanji akan menikah denganku…..ia hanya tertidur…ia terlalu pulas tertidur…ia pasti akan membuka matanya” ucap Masumi lalu ia kembali mengalihkan pandangannya pada Maya “Benar kan, sayang…..Kamu hanya terlalu pulas, iya kan sayang…..sebentar lagi kamu akan membuka matamu kan?” tanyanya pada Maya
Eisuke hanya menghela napas panjang melihat tingkah Masumi.
“Hijiri” panggilnya
Hijiri mendekat dan mengangguk mengerti.
“Maafkan saya, pak Masumi” ucapnya lalu dengan paksa, Hijiri menarik Masumi menjauhi tubuh kaku Maya..
“Lepaskan aku…apa yang kamu lakukan Hijiri…lepaskan aku…aku ingin di sampingnya…aku ingin menunggu sampai maya terbangun”seru Masumi sambil memberontak sampai Hijiri kewalahan.
Akhirnya Pak kuronuma yang berdiri tak jauh dari situ ikut membantu memegangi Masumi dan menyeretnya menjauh.
“Apa-apaan ini..lepaskan aku…..cepat lepaskan aku…biarkan aku di sampingnya” ucap Masumi “Dan apa yang sedang kalian lakukan pada Maya? Ia sebentar lagi akan bangun, jangan kalian tutup petinya, nanti Maya tidak bisa bernapas” lanjutnya saat melihat beberapa orang mengangkat penutup peti dan meletakkannya diatas peti kaca itu.
“Jangan kalian lakukan itu…jangaaaan…..” teriak Masumi histeris

*****

Di sebuah bangsal rumah sakit
Tampak seorang pria yang berantakan sedang duduk termangu. Ia tidak memperdulikan keadaan sekelilingnya. Matanya menatap kosong, entah apa yang dipandangnya. Sesekali terlihat senyum di bibirnya, tapi dengan cepat wajah itu berubah menjadi sedih.
Kebahagiaan yang baru sebentar dirasakannya tanpa diduga sirna begitu saja…..
Impiannya untuk hidup bersama belahan jiwanya yang hampir saja terwujud, terenggut dengan cara yang menyakitkan….
Begitu berat di terima…..
Begitu sulit dipercaya…..
Semua itu menyebabkan ia hidup dalam dunianya sendiri….dunia yang penuh kenangan dengan kekasih hatinya itu…..
Hanya ada satu nama yang terucap dari bibirnya…
Hanya nama itu yang memenuhi benaknya….
Berharap pemilik nama itu dapat kembali ke sisinya……
Hanya sebuah kata….Maya…….

Tak jauh dari situ….
Seorang pria tua yang duduk di kursi roda ditemani pembantu setianya menatapnya pilu. Ia sama sekali tidak menyangka putranya……putra yang dididiknya dengan keras sejak kecil akan menjadi seperti itu hanya karena seorang gadis……
“Masumi…mengapa kamu jadi begini?” ucapnya sendu.
Ia lalu memalingkan wajahnya. “Bawa aku pergi, Asa. Aku tidak ingin melihatnya lagi” perintahnya pada Asa.
Lalu keduanya pun pergi meninggalkan Masumi yang masih seperti itu….sama seperti saat mereka datang…..

The end

3 komentar:

  1. waahhh.. masumi jadi gilaa.... OMG.... *harus tahan ni ntr batal puasa.. hikzzz.....**
    lanjud mbak fennyyyy.... makaci ;)

    BalasHapus
  2. Apa yang mau dilanjut sista? critanya kan udah tamat xixixixi....^^

    BalasHapus
  3. Hhhhuuuaaaaaaa😭😭😭😭😭

    BalasHapus