Halaman

Sabtu, 22 Oktober 2011

Sebuah Peran untuk Masumi (4 of 4-end)

Keesokan harinya…..

“Masumi, ayo saatnya kita latihan” ucap Maya sambil masuk ke dalam ruangan Masumi.

Masumi yang sedang membaca dokumen, mengangkat kepalanya dan memandang Maya.

“Aku tidak mau” sahutnya sambil kembali membaca dokumennya.

“Ayolah Masumi….bukankah kamu sudah setuju?”

“Tidak….”

“Masumi….”


Jumat, 14 Oktober 2011

1001 Mawar Ungu part 01



Masumi membuka salah satu laci mejanya, ia lalu mengeluarkan sebuah foto. Ditatapnya foto itu dengan penuh kerinduan. Setiap memandang foto itu, ingatannya kembali pada hari-hari di masa lalu. Hari-hari di mana ia masih bisa melihat gadis itu dan menggodanya.

Tok…tok…tok…..

Mizuki menunggu beberapa saat tetap tidak juga ada jawaban jadi sekali lagi ia mengetuk pintu.

Tok..tok..tok….

Masih tetap tidak ada jawaban.

Akhirnya Mizuki meraih handle pintu dan perlahan membukanya. Ia melihat pemandangan yang sudah tidak lagi mengejutkannya.

Atasannya sedang memandangi foto dengan sendu dan larut dalam pikirannya.


Kamis, 13 Oktober 2011

Sebuah Peran untuk Masumi (3 of 4)

Maya berjalan cepat-cepat menuju halte bis. Sambil menunggu bisnya datang, Maya menelpon pak Kuronuma.

“Pak Kuronuma, ini Maya. Saya---“ucap Maya saat mendengar telpon di angkat.

“Maya….” Seru pak Kuronuma memotong perkataan Maya “Kamu ke mana saja? Bukannya latihan, kamu dan Pak Masumi malah pergi dan tidak kembali lagi”

“Ma..maaf, pak. Hmm…itu pak…itu karena….” Sahut Maya gelagapan.

“Jadi…kamu menelponku hanya untuk minta maaf?” tanya pak Kuronuma.

“Ti..tidak, pak. Bisa saya bertemu dengan bapak? Ada yang ingin saya diskusikan”

“Diskusikan? Apa yang mau kamu diskusikan denganku?” tanya Pak Kuronuma terdengar bingung.

Senin, 10 Oktober 2011

Kencan

Disalah satu bangku taman, Maya sedang duduk menunggu. Sesekali matanya menatap ke arah pintu masuk. Ia lalu melirik arlojinya.

“Lagi-lagi terlambat” keluhnya.

Matanya lalu beralih pada seorang bocah laki-laki yang sedang asyik berlari ke sana kemari mengejar burung-burung jinak yang banyak di taman itu.

“Wusss…telbang…” seru bocah laki-laki itu merentangkan tangannya sambil tertawa gembira.

“Hati-hati, Yuki-chan. Jangan lari-lari nanti kamu jatuh” seru Maya sambil menghampiri bocah itu dan menggendongnya.

“Tuyun…tuyunin…Yuki gak mau digendong” seru Yuki berontak