Halaman

Sabtu, 22 Oktober 2011

Sebuah Peran untuk Masumi (4 of 4-end)

Keesokan harinya…..

“Masumi, ayo saatnya kita latihan” ucap Maya sambil masuk ke dalam ruangan Masumi.

Masumi yang sedang membaca dokumen, mengangkat kepalanya dan memandang Maya.

“Aku tidak mau” sahutnya sambil kembali membaca dokumennya.

“Ayolah Masumi….bukankah kamu sudah setuju?”

“Tidak….”

“Masumi….”




“Kamu memaksaku untuk menyetujuinya dengan cara seperti itu? Dengan berpura-pura kesakitan dan membuat aku khawatir? Pintar ya kamu sekarang mengerjai aku” kata Masumi kesal.

“Maaf…Masumi. Aku terpaksa melakukan cara seperti itu. Habisnya kamu mengacuhkan aku terus kemarin” ucap Maya “Tapi…kemarin kan aku mengatakan kalau aku tidak memaksa, Masumi. Tapi kamu membuat surat pernyataan itu dengan keinginanmu sendiri” lanjut Maya.

“Mayaa……”seru Masumi gemas “ternyata kamu juga pintar bicara ya sekarang”.

Maya tersenyum mendengar perkataan Masumi.

“jadi….. ayo dong Masumi. Masa direktur daito melanggar pernyataannya sendiri? Apa kata duniaaa?”

Masumi berpura-pura tidak mendengarkan perkataan Maya. Ia pura-pura membaca dokumen kembali.

“Masumi…” panggil Maya sambil menghampiri Masumi kemudian…..

Cup…

Dengan tiba-tiba Maya mengecup pipi Masumi dan mengakibatkan Masumi menolehkan kepalanya dan menatap Maya.

“Ayo dong Masumi, latihan ya…ya…ya….?” Bujuknya.

“Tidak” sahut Masumi tegas.

“Ya…jangan begitu dong, Masumi. Nanti aku dimarahi pak Kuronuma” ucap Maya dengan nada sedih.

“Mengapa bisa begitu?”

“Karena aku sudah janji, kamu akan datang ke tempat latihan bila naskah sudah diubah” jawab maya.

“Mayaa….”

“Masumi, please….ya Masumi. Masa kamu tega sih aku dimarahi pak Kuronuma?“kata Maya memasang wajah memelas.

Masumi menghembuskan napas panjang, kemudian ia memutar kursinya sehingga seluruh tubuhnya menghadap Maya.

“Baiklah”ucapnya kemudian.

“Benarkah? Masumi memang paling baik deh” seru Maya girang.

“Tapi---“ Masumi menggantung kalimatnya.

“Tapi apa?”

Secara tiba-tiba, Masumi menarik tangan Maya, sehingga tubuh Maya berada dalam pelukannya.

“Aku ingin diberi semangat dulu” ucap Masumi perlahan.

Maya menengadah menatap Masumi dengan pandangan tanya.

“Semang---“

Tanpa membuang waktu, Masumi mencium bibir Maya sehingga Maya tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Masumi melumat perlahan bibir Maya dan ciuman itu semakin dalam.

Bibir mereka baru terpisah ketika keduanya kehabisan napas.

“Masumi…ehm..itu…” kata Maya tidak jelas dengan wajah memerah kemudian menjauhkan dirinya dengan Masumi. Maya berusaha mengatur debar jantungnya yang berpacu dengan cepat.

Masumi tersenyum melihatnya kemudian kembali memutar tubuhnya menghadap meja dan membaca dokumennya seolah tidak terjadi apa-apa.

‘Masumi…..” kata Maya yang akhirnya bisa meredakan debar jantungnya..

“Apa?” tanya Masumi.

“Ayo”

“Ayo ke mana?” tanya Masumi pura-pura tidak mengerti.

“Masumi…..” seru Maya kesal “jangan pura-pura deh. Ayo kita latihan” lanjutnya sambil menarik dokumen yang sedang di baca Masumi.

“Maya…’

“Ayo….…”ajak Maya “kamu tadi sudah menciumku tanpa permisi. Jadi sekarang---“

“Tapi bukankah kamu juga mencium pipiku tanpa permisi?” Masumi balik bertanya kepada Maya.

Maya terdiam mendengar perkataan Masumi.

“Hmm..itu karena…karena….” Ucapnya sambil mempermainkan tangannya dan menundukkan kepalanya, tapi kemudian dilihatnya Masumi sedang berusaha menahan tawanya.

“Ah…Masumi jahaaat….” seru Maya sambil cemberut.

“Iya deh…aku tidak tertawa. Jangan ngambek seperti itu dong. Katanya tadi mau ke tempat latihan”

“Kamu mau latihan?”

“Jangan bertanya, Maya. Kalau kamu bertanya, jawabanku adalah tidak”

“Masumi…”

“Ayo kita pergi sebelum aku berubah pikiran” ajak Masumi sambil berdiri dan menggandeng tangan Maya.

Keduanya kemudian pergi ke tempat latihan.

@@@@@

Studio latihan Daito…….

“STOP….Stoooop” teriak pak kuronuma saat melihat akting Masumi.

“Ekspresi, pak Masumi…mana ekspresiiii-nya?” tanyanya kesal.

Teriakan pak kuronuma membuat semua orang yang berada di sana menghentikan kegiatan dan memandang melongo ke arah pak Kuronuma dan Masumi yang saling berhadap-hadapan.

Tanpa ada yang mengomando, suasana tiba-tiba hening. Tidak ada yang berani bersuara maupun bergerak.

Mereka semua seperti tersihir sehingga hanya bisa diam mematung.

“Berani-beraninya pak Kuronuma membentak direktur Daito” kalimat itu yang ada dalam pikiran mereka.

“Ini sudah yang ke sekian kalinya kita latihan adegan ini, pak Masumi, tapi anda masih memerankannya seperti itu. Berulang kali saya mengatakan pada anda bahwa gepetto jr adalah pemuda yang ceria. Yang ce…ri….aaaaaa, pak Masumi bukan pemuda dingin tanpa ekspresi” ucap Pak Kuronuma memecah keheningan.

“Tapi saya----“

“Tidak ada alasan, pak Masumi” kata pak Kuronuma memotong perkataan Masumi. “Siapapun bisa memerankan perannya bila ia mau berusaha. Sebagian besar di sini juga bukan seorang artis dan mereka mau berusaha dengan keras. Yang harus anda lakukan hanyanya membuang wajah tanpa ekspresi dan dingin anda dan memakai ‘topeng’ gepetto jr yang ceria” lanjutnya.

Pak Kuronuma (yang mungkin) akhirnya menyadari suasana yang mendadak hening, memandang sekelilingnya.

“Kalian semua” katanya sambil menunjuk semua orang yang ada di sana “mengapa hanya diam mematung seperti itu? Memangnya aneh bila aku memberi pengarahan pada salah seorang pemainku yang tidak becus?”

Mendengar perkataan pak Kuronuma yang menyebut dirinya tidak becus, Masumi hanya bisa menghela napasnya.

“Kita break dulu setengah jam, baru kita lanjutkan lagi” lanjut pak Kuronuma “Dan tolong ingat dengan apa yang saya katakan tadi pak Masumi. Anda jangan melupakan EKSPRESI” ucapnya pada Masumi kemudian ia pergi keluar meninggalkan studio.

Setelah pak Kuronuma pergi, orang-orang yang ada di sana berkumpul dan berbisik-bisik membicarakan kejadian tadi.

Masumi menuju sebuah kursi dan duduk di sana.

“Kamu tidak apa-apa, Masumi?” tanya Maya sambil menyodorkan sebotol air mineral ke tangan Masumi.

Masumi mengambilnya dan meneguk isi botol itu.

“Apa kamu puas, Maya? Puas membuat aku menjadi bahan tertawaan?”

Maya memandang sekelilingnya.

“Tidak ada yang menertawakanmu, Masumi” ucapnya polos.

Masumi menghela napas.

“Mereka mungkin tidak terlihat tertawa tapi mereka pasti sedang tertawa dalam hati. Menertawakanku” kata Masumi.

Maya melongo mendengar kata-kata Masumi.

“Apa maksud---“

“Ah, sudahlah kalau tidak kamu mengerti. Aku sudah tidak mau membahasnya” ucap Masumi dan kembali meneguk sisa air yang ada di dalam botol itu kemudian berdiri dan meninggalkan Maya.

“Mau ke mana Masumi?” tanya Maya sambil mengikuti langkah Masumi.

“Keluar…aku tidak mau latihan lagi”

“Masumi, jangan begitu” kata Maya sambil memegang lengan Masumi, menahan langkah Masumi.

“Aku sungguh tidak bisa, Maya…” kata Masumi “Jadi lebih baik aku tidak latihan lagi”.

“Jangan begitu dong Masumi. Masa kamu menyerah begitu saja” sahut Maya.

“Maya, sudahlah---“

“Please…..” ucap Maya dengan wajah memelas.

“Maya, aku---“

“Kita latihan berdua saja ya? Aku akan bicara dengan pak Kuronuma agar kita latihan berdua saja. Mau ya Masumi….Mau ya?”

Masumi menatap Maya kemudian menghembuskan napas panjang.

“Masumi….”

Perlahan-lahan Masumi pun mengangguk kepalanya, pasrah.


@@@@@

Keesokan harinya, sesudah jam pulang kantor. Maya berlatih dengan Masumi di ruangannya Masumi.

“ Masumi…cobalah kamu menjadi Gepetto Jr dalam keseharianmu” ucap Maya.

“Maksudmu?”

“Untuk menjiwai sebuah peran, kamu harus mengenal kepribadian peran tersebut, Masumi. Akan lebih mudah bila kamu ‘hidup’ sebagai dia. Seperti aku, ketika pertama kali aku memerankan beth dalam Young girl, Bu Mayuko memintaku untuk melewati hari-hariku sebagai Beth. Dengan begitu, aku jadi paham dengan karakter Beth” jelas Maya.

“Yang benar saja, Maya. Tidak mungkin aku melakukan hal yang sama denganmu. Gepetto adalah seorang tukang kayu dan aku direktur Daito. Mana mungkin aku harus bekerja membelah kayu dan membuat meja ataupun kursi. Itu terlalu berlebihan” sahut Masumi.

“Kalau begitu, setidaknya sifat Gepetto saja yang kamu terapkan di kehidupan nyata, masumi”

“Sifat?”

Maya mengangguk.

“Iya, sifat Gepetto yang ceria, ramah dan mudah tersenyum pada siapa pun. Kamu lakukan itu setiap hari” jawab Maya.

“Tapi, Maya….”

“Apa lagi? Itu kan tidak begitu sulit. Kamu hanya perlu bersikap ramah pada karyawanmu dan orang-orang di sekitarmu”

“Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya, Maya. Aku tidak bisa. Dan karakterku tidak seperti itu” kata Masumi.

“Mengapa tidak? Kamu hanya perlu bersikap ramah dan mudah tersenyum saja kok. Itu bukan hal yang sulit kan?” sahut Maya sedikit ngotot.

“Buatmu tidak sulit. Tapi buatku sangat sulit. Aku bukan tipe orang yang bisa mengumbar senyum di mana-mana” keluh Masumi.

“Makanya, Masumi. Jangan suka memasang wajah dingin dan tidak berperasaan pada setiap orang” jawab Maya.

“Aku memang harus seperti itu Maya. Karena aku dididik harus seperti itu” sahut Masumi.

“Benarkah?”

Masumi mengangguk.

“Penuh curiga, tidak percaya pada seseorang, tidak berperasaan, bersikap dingin dan tidak menunjukkan ekspresi. Itu yang ayahku ajarkan selama ini. Aku sudah tidak tahu cara tertawa dari lubuk hati dan tersenyum dengan tulus” ucap Masumi sedikit getir.

Maya menghampiri Masumi yang sedang duduk dikursinya dan menatapnya.

Perlahan, ia membelai pipi Masumi.

“Itu adalah kamu yang dulu. Sekarang kamu sudah sedikit berubah koq, Masumi. Kamu tidak sedingin dulu dan kamu mulai berperasaan. Jadi aku yakin, kamu pun bisa bersikap ramah dan tersenyum dengan tulus pada setiap orang” ucap Maya.

“Maya….”

“Nah, supaya kamu semangat memerankan peranmu. Aku akan memberikanmu hadiah”kata Maya sambil tersenyum.

“Hadiah? Hadiah apa?” tanya Masumi.

“Ada deh” sahut Maya penuh misteri “Kamu tutup dulu matanya”.

“Mengapa aku harus menutup mataku?” tanya Masumi lagi.

“Hadiahnya mau tidak? Aku berikan kalau kamu sudah menutup matamu”

“Maya…Berikan saja hadiahmu sekarang. Dan aku tidak perlu menutup mataku”ucap Masumi.

“Tidak….tutup dulu matamu, baru aku berikan hadiahku” sahut Maya ngotot.

Masumi menghela napasnya.

“Berikan aku alasan, mengapa aku harus menutup mataku?”

“Karena…karena……”

“Aku sudah bisa menduga koq hadiah apa yang mau kamu berikan padaku” ucap Masumi memotong kata-kata Maya, lalu ia tersenyum.

“Kamu tahu, Masumi? Benarkah kamu sudah tahu?” tanya Maya tidak percaya.

Masumi mengangguk.

“Memangnya apa hadiah yang mau aku berikan padamu?” tanya Maya.

Masumi tidak menjawab pertanyaan Maya. Ia hanya melingkarkan tangannya di pinggang Maya dan menarik tubuh Maya mendekatinya.

“Tidak usah malu-malu” ucapnya perlahan sambil menatap Maya “Aku tahu koq hadiah yang akan kamu berikan. Dan aku sudah siap menerimanya”

“Eh…..”

Masumi mendekatkan wajahnya ke wajah Maya kemudian menutup matanya.

Beberapa saat ia menunggu, lalu kemudian membuka matanya kembali.

“Maya, koq malah menatapku seperti itu. Bukannya kamu mau memberikanku hadiah?” tanyanya “Dan aku juga sudah menutup mataku? Tapi hadiahnya tidak juga kamu berikan”

“Masumi…mesum…..” seru Maya “Bukan ‘itu’ yang mau aku berikan untukmu” lanjut Maya sambil melepaskan tangan Masumi yang masih melingkari pinggangnya dan menjauhi tubuh Masumi.

“Bukan?”

“Bukan” jawab Maya tegas “Aku kira kamu benar-benar tahu. Kalau itu sih maunya kamu”

“Memang maunya aku” sahut Masumi “Jadi…itu saja ya hadiahnya?”

“Tidak….”

“Maya…..”

“Tidak Masumi…aku tidak mau……”

“Ayolah….katanya supaya aku tambah semangat” rayu Masumi.

“Tidak….”

“Maya….”

“Baiklah…..” ucap Maya akhirnya sambil tersenyum.

“Kalau begitu, kamu ke sini…..” sahut Masumi meminta Maya mendekatinya lagi.

“Tapi….tidak sekarang, Masumi” ucap Maya lagi.

“Tidak sekarang?”

Maya mengangguk.

“Hadiah ‘itu’ aku berikan kalau kamu sudah sukses memerankan peranmu sebagai gepetto jr”

“Jadi..kalau aku berhasil memerankan peran konyol itu, kamu akan memberikan hadiah ciuman padaku, Maya?” tanya Masumi memastikan.

Maya mengangguk.

“Setiap hari…setiap kita bertemu?”

“Hah…yang benar saja, Masumi…..satu kali saja” tawar Maya.

“Aku inginnya kamu memberikan ciumanmu padaku setiap hari dan setiap kita bertemu”

“Masumi….”

“Kalau kamu setuju, aku akan berusaha keras memerankan peranku. Bagaimana?”

Maya menatap Masumi dan berpikir.

“Hmmm….baiklah. Tapi kalau peranmu sukses ya?”

Masumi mengangguk.

“Dan…jangan sering-sering mencariku” sambungnya.

“Kita lihat saja nanti” sahut Masumi sambil tertawa, tapi kemudian ia menghentikan tawanya.

“Lalu….hadiah yang akan kamu berikan sekarang mana?” tanyanya.

“Oh iya….tunggu sebentar ya, Masumi. Aku ambilkan dulu hadiahnya” ucap Maya sambil berlari keluar dari ruangan Masumi.

“Sekarang dia tidak lagi menyuruhku untuk menutup mataku” gumam Masumi sambil tersenyum geli.

Tak lama, Maya melongokkan kepalanya.

“Masumi…ini hadiahmu…..taraaa……” ucapnya.

Dua karyawan Daito membawakan masuk hadiah Maya.

“Benar, pak. Letakkan saja di situ” ucap Maya “Terima kasih banyak, pak” lanjutnya setelah barang itu selesai di letakkan.

Masumi bangun dari duduknya dan menghampiri benda itu.

“Untuk apa kamu memberikan aku cermin sebesar itu?” tanyanya pada Maya sambil menunjuk ke barang tersebut.

“Ya untuk belajar akting” sahut Maya.

“Maksudmu?”

“Melalui cermin ini, kamu bisa melatih ekspresimu, Masumi. Kamu dapat melihat ekspresimu sendiri. Jadi, berlatihlah menjadi gepetto jr di depan cermin ini sebelum kamu berhadapan dengan orang lain” jawab Maya.

“Maya….”

“Ayo, Masumi….yang pertama…..tertawa…..”

@@@@@

Dengan bimbingan Maya dan iming-iming hadiah yang dijanjikan Maya, Masumi berlatih dengan keras. Ia melatih ekspresinya di depan cermin dan mempraktekkannya pada orang-orang terutama karyawan Daito yang ditemuinya.

Mula-mula karyawan Daito kebingungan dengan sikap Masumi yang tiba-tiba berubah menjadi ramah dan ceria, tapi pada akhirnya semuanya menerima dengan senang hati.

Hari pertunjukan semakin dekat dan Masumi sudah mulai bisa memerankan perannya dengan baik. Ia sudah bergabung lagi untuk latihan dengan peran yang lain.

@@@@@

Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba……

Hari ini lain dari biasanya karena gedung Daito dihias dengan pita dan balon berwarna-warni. Studio 5, yang biasa dipakai untuk latihan sudah dipenuhi karyawan Daito yang ingin menyaksikan pertunjukan spesial itu.

Tepat jam 2 teng, pertunjukan kisah Putri salju pun dimulai.

Adegan demi adegan mulai tersaji di atas panggung.

Masumi berdiri di sisi panggung dan menatap ke depan, menunggu gilirannya muncul. Dia yang biasanya bisa mengendalikan dirinya untuk bersikap tenang. Entah mengapa hari ini sangat gugup. Tangannya berkeringat dingin dan jantung berdebar kencang.

Tiba-tiba dirasakannya, sepasang tangan memegang tangannya.

Masumi menoleh dan melihat Maya yang sedang tersenyum padanya.

“Mengapa, Masumi? Kamu gugup?”

“Maya, bagaimana kalau aku mempermalukan diriku sendiri di atas panggung itu? Aku benar-benar tidak bisa berakting” ucap Masumi.

“Jangan khawatir seperti itu, Masumi. Bukankah pak Kuronuma sudah memuji aktingmu? Jadi beraktinglah seperti saat kemarin kita latihan”

“Tapi….”

“Aku yakin kamu bisa, Masumi. Jadi kamu hanya perlu percaya pada dirimu sendiri” ucap maya.

“Maya….”

“Apa? Mengapa memandangiku seperti ini?” tanya Maya yang melihat Masumi diam menatapnya.

“Aku….”

“Aku tahu…aku tahu…..” sahut Maya kemudian “Aku akan memberikanmu kekuatan supaya kamu bisa memerankan peranmu dengan baik. Bungkukkan badanmu” lanjut Maya.

Masumi membungkukkan badannya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Maya.

Cup….

Maya mengecup sekilas bibir Masumi.

“Sudah….sekarang berjuanglah” ucap Maya.

“Koq sebentar?” protes Masumi.

“Lanjutannya nanti….sesudah kamu berhasil memerankannya Masumi” sahut Maya “Ayo…sekarang giliranmu….”

@@@@@

Adegan demi adegan berhasil diperankan Masumi dengan baik, dan sampailah pada adegan yang naskahnya diubah oleh pak Kuronuma.

Putri salju yang telah memakan apel beracun terbaring di dalam peti kaca. Lalu datanglah pangeran yang akan mencium putri salju.

“Tunggu dulu….” Seru Gepetto jr yang tidak menerima pangeran mencium putri yang di cintainya “kamu tidak berhak melakukannya. Yang berhak mencium sang putri hanya aku”

“Siapa kamu?” tanya pangeran.

“Aku hanyalah seorang anak tukang kayu yang sangat mencintai putri salju” jawab Gepetto jr.

“Jangan mimpi untuk mencintainya. Putri salju hanya pantas bersanding dengan pangeran. Bukannya dengan seorang tukang kayu” sahut pangeran tenang.

“Mengapa tidak pantas? Aku yakin bisa membahagiakan putri salju” kata Gepetto jr.

“Apa kamu juga bisa melindunginya?”

“Tentu saja…” jawab Gepetto jr.

“Baiklah…kalau begitu lebih baik kita bertarung” ucap pangeran sambil mengeluarkan pedangnya.

“STOP..” teriak Gepetto jr “Aku mau bertarung denganmu. Tapi bukan dengan pedang. Tapi dengan ini….” Lanjutnya.

“Itu…?” tanya pangeran kebingungan.

“Ini namanya pahat…pangeran bodoh….Mari kita bertarung membuat boneka…”

Gubrak…..Pangeran dengan sukses jatuh terjengkal (wkwkwkwk…..)

Singkat cerita, akhirnya Gepetto jr berhasil memenangkan pertandingan dan mencium putri salju. Putri salju yang membuka matanya karena kecupan pangeran eh maaf, Gepetto jr ternyata memang mencintai Gepetto jr yang sering dilihatnya membuat meja dan ranjang untuknya. Mereka pun hidup bahagia untuk selamanya.

(Maaf, gak penting juga sih sebenernya adegan ini di bahas. Penulisnya aja yang iseng xixixixixi….)

Pertunjukan selesai…..dan sukses besar. Tepuk tangan terdengar sangat meriah dan seolah tidak mau berhenti.

Masumi sedang melakukan penghormatan di atas panggung ketika tiba-tiba lampu mendadak mati.

Ruangan itu menjadi gelap gulita.

Dari sisi panggung, muncul seseorang membawa sesuatu dengan lilin di atasnya.

“Happy birthday to you…happy birthday to you….happy birth….day……dear Masumi….Happy birthday to……you…….”

Sambil menyanyikan lagu “happy birthday”, Maya mendekati Masumi dan menyodorkan kue yang di bawanya ke depan Masumi.

“Maya, ini…..?” tanya Masumi sambil menatap Maya yang berada di dekatnya.

“Happy birthday, Masumi” ucap Maya “Ayo ditiup dulu lilinnya”

Masumi meniup lilin yang ada di kue itu.

Begitu lilin mati, lampu kembali menyala dan di atas panggung sudah berkumpul Mizuki dan beberapa karyawan daito lainnya.

“Selamat ulang tahun, pak Masumi….” seru mereka kompak sambil melemparkan kertas berwarna-warni ke arah Masumi.

“Kalian….”

Ini surprise party yang kami rencanakan, pak Masumi” kata Mizuki akhirnya menjelaskan “Anda yang begitu serius latihan akting sampai lupa kalau hari ini ulang tahun anda”

“Tapi bukankah kamu mengatakan ini untuk merayakan ulang tahun perak Daito?”

Mizuki mengangguk.

“Benar, pak. Tapi kebetulan pula dirayakan tepat pada hari ulang tahun anda” sahut Mizuki.

Masumi menoleh pada Maya. “Kamu juga ikut-ikutan menyusun rencana ini ya?”

Maya hanya tersenyum menatap Masumi.

“Ehem….” Ucap Mizuki “Maaf menganggu. Tapi bukankah lebih baik dipotong dulu kuenya, baru dilanjutkan acara tatap-menatapnya?”

“Eh..iya….” sahut Maya, salah tingkah “Ayo Masumi di potong kuenya”

“Dan sekarang, acara utamanya…..” kata Mizuki setelah acara potong kue selesai.

“Acara utama?” tanya Masumi dan Maya berbarengan sambil menatap Mizuki.

“Eh..ralat…maksudnya acara spesialnya” sahut Mizuki sambil tersenyum.

“Ada lagi acara special?” tanya Maya kebingungan.

Mizuki mengangguk.

“Apa kawan-kawan?” tanyanya pada karyawan Daito yang ada di sana.

Serentak, seluruh karyawan Daito meneriakkan satu kata.

“CIUM…CIUM….CIUUUUM……..”

“Ci..cium?” tanya Maya pada Mizuki yang menganggukkan kemudian menoleh ke Masumi yang sedang tersenyum padanya.

“Tidak…tidak mau…” serunya lagi “Jangan di sini, Masumi. Aku malu…” lanjutnya sambil berlari ke sisi panggung.

Masumi mengejar Maya dan dengan cepat berhasil menangkapnya.

“Kamu sudah janji Maya. Kalau pertunjukan itu sukses, kamu akan memberikan hadiahmu. Aku menagihnya sekarang, apalagi setelah aku tahu kalau hari ini hari ulang tahunku” kata Masumi.

“Tapi tidak di sini, Masumi” sahut Maya “Masa sampai ditonton banyak orang. Aku tidak mau…Aku malu…”

“Jadi…”

“Di ruanganmu saja ya….aku memberikan hadiahku di ruanganmu saja ya, Masumi?” tanya Maya sambil menatap Masumi.

Masumi balas menatap Maya.

“Hmmm……baiklah kalau begitu” ucap Masumi sambil tersenyum kemudian ia menggandeng tangan Maya dan membawanya ke ruangannya

The end...

12 komentar:

  1. kasian masumiku......pasti gak enak banget deh rasanya dibentak2 didepan semua org padahal biasanya dia yg ngebentak2 hihihhihi

    BalasHapus
  2. wo hohoho hidup kuronuma kapan lagi bisa bentak2 direktur daito....XD

    BalasHapus
  3. Masumi yg malang hihi pasrah aja lah d tangan maya n kuronuma ;)

    BalasHapus
  4. Ato mungkin ini akal2annya masumi, aqaqaq

    BalasHapus
  5. dan akupun tertawa terbahak-bahak di bagian:
    mana ekspresiii-nya?

    BalasHapus
  6. ahem ahem ....latihan berdua nih ^^

    BalasHapus
  7. berharap sesuatu terjadi ketika latihan bersama, kyaaaa

    BalasHapus
  8. Kyaaaaaaaaa, romantissssssssssss *sambil gebuk2in kepala ketembok seperti masumini* maaf ya fenny bawa2 ffy nya ty, aku padamuuuuuuuh

    BalasHapus
  9. Ayo, Masumi….yang pertama…..tertawa…..


    hahahaha me like that ^^
    who's the boss here ? hahaha

    BalasHapus
  10. cup,,,cup,,,

    mau donggggg

    BalasHapus
  11. Gokil bgt cerita nya 🤣

    BalasHapus