Maya berjalan cepat-cepat menuju halte bis. Sambil menunggu bisnya datang, Maya menelpon pak Kuronuma.
“Pak Kuronuma, ini Maya. Saya---“ucap Maya saat mendengar telpon di angkat.
“Maya….” Seru pak Kuronuma memotong perkataan Maya “Kamu ke mana saja? Bukannya latihan, kamu dan Pak Masumi malah pergi dan tidak kembali lagi”
“Ma..maaf, pak. Hmm…itu pak…itu karena….” Sahut Maya gelagapan.
“Jadi…kamu menelponku hanya untuk minta maaf?” tanya pak Kuronuma.
“Ti..tidak, pak. Bisa saya bertemu dengan bapak? Ada yang ingin saya diskusikan”
“Diskusikan? Apa yang mau kamu diskusikan denganku?” tanya Pak Kuronuma terdengar bingung.
“Nanti akan saya jelaskan saat kita bertemu, pak. Bapak masih ada di studio Daito? Saya akan segera ke sana” sahut Maya.
“Tidak…sekarang aku berada di studio kids. Aku harus melatih beberapa artis untuk pertunjukan mendatang”
“Kalau begitu, saya segera ke sana, pak. Mohon bapak menunggu saya” ucap Maya kemudian menutup teleponnya dan naik ke dalam bis yang telah datang.
@@@@@
Beberapa menit kemudian, Maya sampai di studio kids.
“Permisi, apa pak Kuronuma ada?” tanya Maya pada salah seorang staf yang lewat.
“Pak kuronuma? Oh…beliau ada di ruang latihan” jawab staff tersebut.
“Oh, begitu. Terima kasih” sahut Maya kemudian berjalan ke ruang latihan.
Di ruang latihan, terlihat pak Kuronuma sedang mengarahkan beberapa artis. Maya menunggu sampai pak Kuronuma selesai.
“Pak Kuronuma” panggil Maya ketika melihat pak Kuronuma membubarkan para artis itu. Maya pun bergegas menghampiri pak Kuronuma.
“Oh kamu Maya. Apa yang tadi ingin kamu diskusikan denganku?”
“Hmm…itu pak. Mengenai naskah kisah putri salju” jawab Maya.
“Naskah kisah putri salju?memangnya ada apa dengan naskah tersebut?”
“Apa boleh, kalau…kalau naskah itu sedikit diubah?” tanya Maya.
“Diubah? Mengapa harus di ubah?” ucap Pak Kuronuma balik bertanya sambil mengerutkan keningnya karena ia tidak mengerti mengapa naskah itu harus diubah.
“Karena…ada adegan yang tidak Masumi sukai, jadi---“
“Adegan yang tidak disukai pak Masumi? Adegan apa?” tanya pak Kuronuma cepat.
“Adegan…adegan pangeran mencium putri salju, pak” jawab Maya perlahan.
“Adegan itu tidak disukai pak Masumi?Dan karena pak Masumi tidak meyukainya maka adegan itu harus diubah? Apa ini perintah dari pak Masumi?mana bisa seperti itu? Seenaknya mengubah naskah karena tidak menyukai sebuah adegan”
Maya menggeleng.
“Bukan…bukan karena perintah Masumi, pak. Tapi, saya yang berkeinginan merubahnya karena pak Masumi tidak menyukai adegan itu” jawab Maya sambil menunduk, tidak berani menatap pak Kuronuma.
“Kamu? Kamu mau merubahnya Karena pak Masumi tidak menyukainya? Mengapa bisa begitu?”
“Karena kalau adegan itu tidak diubah, pak Masumi akan membatalkan pertunjukan itu, pak. Tidak akan ada pertunjukan apapun saat ulang tahun Daito. Masumi sudah memerintahkan nona Mizuki untuk membuat surat pembatalan---“ jelas Maya.
“Mana bisa seperti itu? Bukankah dulu pak Masumi sudah menyetujuinya lalu sekarang membatalkannya?Lalu untuk apa latihan-latihan yang telah dilakukan selama ini?”kata Pak Kuronuma sedikit emosi.
“saya juga sudah mengatakannya, pak. Tapi…Masumi mengatakan keputusannya sudah bulat. Ia akan membatalkannya dan ia memiliki hak untuk melakukannya”
Pak Kuronuma terdiam, keningnya mengerut seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Jadi..bila adegan itu diubah, pak Masumi tidak akan membatalkan pertunjukan itu dan mau ikut latihan?” tanyanya kemudian.
Maya mengangguk tapi kemudian menggeleng.
“Apa maksud dari anggukan dan gelenganmu itu Maya?”
“Saya…saya tidak tahu, pak” sahut Maya pelan.
“Tidak tahu bagaimana? Bukankah kamu mengatakan kalau adegan itu diubah pak Masumi akan menyetujuinya”
“Saya…saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membujuk Masumi dengan adegan yang telah diubah, pak Kuronuma. Tapi---“
“Tapi kamu sendiri tidak yakin apa pak Masumi akan merubah keputusannya?”
Maya mengangguk.
Pak Kuronuma menghela napas.
“Ah, dasar direktur Daito. Maunya seenaknya saja. Masa gara-gara adegan sepele, mau menghancurkan semuanya…” ucapnya.
“Jadi,pak…sebaiknya bagaimana?” ucap Maya memberanikan diri bertanya pada Pak Kuronuma.
“Bagaimana apanya?”
“Apa bapak menyetujui naskah itu sedikit diubah?mungkin dengan begitu ada harapan Masumi tidak jadi membatalkan dan menyetujui memerankan perannya”
Pak Kuronuma menatap Maya.
“Apa kalau aku menyetujui perubahan adegan dalam naskah itu, kamu bisa menjamin pak Masumi tidak membatalkan pertunjukan dan akan hadir di setiap latihan, Maya? Karena sudah beberapa kali kita latihan, tapi pak Masumi tidak pernah datang. Itu membuatku kesal”
“Saya akan berusaha membujuknya, pak” tekad Maya.
“Hmmm..baiklah kalau begitu. Aku akan memasukkan adegan baru dan menghapus adegan itu. Besok pagi, kamu temui aku lagi untuk mengambil naskah yang baru” ucap Pak Kuronuma akhirnya.
“Terima kasih, pak…terima kasih banyak” sahut maya.
@@@@@
Setelah pertemuannya dengan pak Kuronuma selesai, Maya menelpon Mizuki.
”Nona Mizuki, apa surat pembatalan pertunjukan sudah dibuat dan telah ditanda tangani oleh Masumi?”tanya Maya dengan hati sedikit tidak tenang, karena bila Masumi sudah menandatanganinya maka sia-sialah usahanya meminta pak Kuronuma merubah naskahnya.
“Belum, Maya. Pak Masumi setelah mengajak tuan Tanaka keluar tidak kembali lagi ke kantor. Jadi beliau belum menandatanganinya” jawab Mizuki.
“Lalu…surat itu---“
“Surat itu sudah ada di mejanya. Aku sudah membuatkannya. Aku tidak bisa melawan perintahnya, Maya. Maaf” jawab Mizuki menyesal.
“Nona Mizuki, bisakah surat itu diambil kembali? kan Masumi belum menandatanganinya. Aku akan membujuk Masumi untuk tidak melakukannya”
“Tapi, Maya. Kamu sendiri kan sudah dengar kalau keputusannya sudah bulat. Walaupun sejujurnya aku pun berharap, pak Masumi dapat merubah keputusannya itu”
“Besok pagi, aku akan menemuinya lagi, nona Mizuki, Aku akan membujuknya lagi” kata Maya.
“Apa kamu belum menyerah juga, Maya? Keputusan pak Masumi---“
“Selama masih ada harapan walaupun hanya 1 %, kita kan tidak boleh menyerah, nona Mizuki” sahut Maya enteng.
“Maya, apa kamu sudah menemukan cara---?”
“Iya, nona Mizuki. Cara terakhir dan semoga membuat pak Masumi mau merubah keputusannya”
“Boleh aku tahu, cara apa itu Maya?” tanya Mizuki penasaran.
“Aku sudah mendiskusikannya dengan pak Kuronuma agar adegan itu dihilangkan dan diganti dengan adegan baru, nona Mizuki. Jadi aku harap, kali ini pak Masumi mau menyetujuinya. Dan aku akan terus membujuknya sampai dia mau merubah keputusannya dan memerankan perannya” tekad Maya.
“Maya, aku sangat mendukungmu. Baiklah kalau begitu aku akan mengambil kembali surat itu, Maya. Dan kamu harus berhasil membujuknya, Maya. Karena sejujurnya aku benar-benar ingin melihat pertunjukan itu”
“Aku akan berusaha, nona Mizuki”sahut Maya.
@@@@@
Keesokan harinya, dengan naskah baru di tangannya, Maya menunggu kedatangan Masumi. Dan ketika melihat mobil Masumi, Maya berlari menghampirinya.
“Masumi…ada yang ingin aku bicarakan denganmu”ucap Maya ketika melihat Masumi keluar dari mobilnya.
“Kalau yang mau kamu bicarakan soal pertunjukan itu, sebaiknya tidak usah kamu lakukan, Maya. karena aku tidak mau mendengarnya” ucap Masumi sambil mendorong Maya ke pinggir dan bergegas masuk Daito.
“Masumi..dengarkan aku dulu” kata Maya sambil mengejar Masumi.
Tapi Masumi mengacuhkan Maya, dan dengan cepat masuk ke dalam lift dan menutupnya sebelum Maya sampai ke lift tersebut.
“Aku tidak ingin diganggu dan SIAPAPUN tidak boleh masuk ruanganku. Apa kamu mengerti, Mizuki?” tegasnya pada Mizuki sebelum ia memasuki ruangannya.
Mizuki hanya bisa mengangguk mendengar perintah Masumi.
Tak lama kemudian, Maya keluar dari lift dan menuju ruangan Masumi.
“Nona Mizuki, apa Masumi sudah ada di ruangannya?” tanya Maya.
Mizuki mengangguk.
“Kalau begitu aku akan masuk” sahut Maya
“Jangan, Maya” cegah Mizuki.
“Mengapa?”
“Pak Masumi memerintahkan bahwa beliau tidak ingin diganggu dan beliau tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam ruangannya”
“Tapi…”
“Aku mengerti, Maya. Tapi mungkin lebih baik kamu mencari saat yang tepat untuk menemui pak Masumi. Karena kalaupun sekarang kamu memaksa masuk, kan percuma saja. Pak Masumi tidak akan mendengarkanmu”kata Mizuki.
“Hmmm…baiklah kalau begitu, nona Mizuki. Aku akan menunggu Masumi di sini saja” sahut Maya.
Kring….kring…kring…..
Telepon di meja Mizuki berbunyi, dan Mizuki segera mengangkatnya.
“Iya, pak Masumi”
“Mizuki, mana surat pembatalan yang kemarin aku minta?” tanya Masumi.
“mm..itu, pak…” sahut Mizuki sambil melirik Maya “Pak Masumi meminta surat pembatalan itu. Bagaimana ini Maya?” tanya Mizuki tanpa suara pada Maya.
“Jangan..jangan diberikan, nona Mizuki. Ulur waktu saja” sahut Maya perlahan.
“Su…suratnya masih saya buat, pak” jawab Mizuki akhirnya.
“Baru kamu buat? Bukankah kemarin aku menginginkan surat itu sudah ada di mejaku setelah aku selesai rapat dengan tuan Tanaka?”
“Ma…maaf, pak. Saya akan segera membuatnya sekarang”
“Jangan mengulur-ngulur waktu, Mizuki. Cepat buat suratnya dan berikan padaku segera” kata Masumi kemudian menutup teleponnya.
@@@@@
Beberapa saat kemudian, Masumi keluar dari ruangannya, Masumi sebenarnya melihat Maya tetapi ia tidak memperdulikan kehadiran Maya. Ia kemudian menghampiri Mizuki.
“Mizuki, aku keluar sebentar. Saat aku kembali, aku ingin surat itu sudah ada di mejaku. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi. Apa kamu mengerti?”
“Ba..baik, pak. Saya mengerti” sahut Mizuki.
“Bagus” ucap Masumi kemudian ia berjalan menuju lift.
“Masumi….” Panggil Maya sambil mengikuti Masumi yang pura-pura tidak mendengar panggilannya.
Saat Masumi masuk ke dalam lift, Maya juga mengikutinya masuk ke dalam lift.
“Jangan mengikuti aku dan keluar kamu dari sini” desis Masumi sambil mendorong Maya keluar dari lift kemudian ia menutup lift tersebut.
Maya kemudian menatap angka lift itu yang menuju ke bawah. Ia pun berlari menuju ke bawah memakai tangga darurat.
Dengan napas terengah-engah, Maya melihat Masumi menuju parkiran. Ia pun memutuskan menunggu sampai mobil Masumi lewat.
Saat dilihatnya, mobil Masumi akan lewat, dengan cepat, ia berlari menghalangi mobil Masumi.
Masumi yang tidak menduga Maya akan menerobos menghalangi jalannya, terkejut dan segera menginjak rem.
Ckiiiitttttttt……………
Tapi….
Duk….
Masumi sedikit terlambat menginjak rem sehingga Mobil itu sempat mengenai tubuh Maya.
“Aaaaaa…..” teriak Maya lalu terjatuh.
Melihat Maya yang terjatuh, Masumi pun segera membuka pintu mobilnya.
“Maya……” serunya panik sambil menghampiri Maya.
“Mayaaa……” seru Masumi lagi “ kamu tidak apa-apa?” lanjutnya hendak menolong Maya yang jatuh terduduk.
“Jangan dekati aku” teriak Maya.
“Maya….”
Maya mencoba berdiri, tetapi entah mengapa kakinya terasa tidak bertenaga sehingga ia terjatuh kembali.
Masumi yang melihatnya segera membopong Maya dan membawanya kembali masuk ke gedung Daito.
“Lepaskan….” Seru Maya sambil berontak di pelukan Masumi “Lepaskan aku…aku tidak mau dibopong olehmu…..kamu jahat…kamu sungguh jahat, Masumi. Tadi kamu mengacuhkan aku dan selalu menganggap aku tidak ada. Aku benci kamu….jadi turunkan akuuu……”
“Maya, bisakah kamu tenang? Jangan bergerak-gerak seperti itu” ucap Masumi tidak memperdulikan ucapan Maya.
“Cepat…turunkan aku…aku tidak mau dibopong olehmu” seru Maya lagi sambil memukuli dada Masumi.
Tapi, Masumi mengacuhkannya dan tetap membopong Maya dan membawanya ke dalam ruangan kerjanya.
Sesampainya di ruangannya, Masumi memdudukkan Maya pada sebuah sofa.
“Coba sini aku lihat, mana yang terluka?” tanya Masumi sambil hendak memeriksa kaki Maya.
“Tidak mauu…..” seru Maya sambil mendorong Masumi.
“Mayaa…..”
“Jangan sentuh aku……aku tidak mau disentuh olehmu”
“Maya, jangan keras kepala. Biar aku melihatnya”
“Tidaaaaak…….” Teriak Maya “Aku mau pergi” lanjutnya sambil berusaha untuk bangun. Tapi, saat ia mau bangun, ia meringis kesakitan sehingga kembali terduduk.
“Maya, katakan padaku..mana yang sakit?” tanya Masumi panik.
“Tidak usah pedulikan aku. Tadi juga kamu tidak pedulikan aku” sahut Maya sambil membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya.
“Aku mau telpon Rei. Biar ia menjemputku. Kamu pergi saja sana. Urusi bisnismu, bukankah kamu juga tadi begitu?” ucap Maya keras kepala.
Masumi menghela napasnya panjang.
“Maya, maafkan aku ya…aku tahu aku salah karena tadi mengacuhkanmu. Jadi tolong kamu maafkan aku ya….” Bujuk Masumi.
“Terlambat” sahut Maya sambil mengerucutkan bibirnya “Aku sudah tidak mau memaafkanmu, berbicara denganmu dan melihatmu lagi. bukankah tadi kamu mau pergi karena ada urusan, jadi urusi saja urusanmu”lanjutnya marah.
“Maya, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku menyesal telah mengacuhkanmu. Aku mohon, maafkan aku ya Maya” ucap Masumi lagi.
Tapi, Maya memalingkan wajahnya dan cemberut.
Sekali lagi, Masumi menghela napasnya dan menatap Maya.
“Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku?” tanyanya.
“Tidak perlu melakukan apapun. Karena aku tahu kamu tidak akan mau melakukannya” sahut Maya.
“Aku janji, Maya. Kali ini aku akan melakukan apapun keinginanmu, jadi---“
“Bohoooong…Masumi pembohong. Aku tidak percaya” kata Maya memotong kata-kata Masumi.
“Aku tidak bohong, Maya. Aku janji. Aku tidak akan ingkar”
“Termasuk….kalau aku memintamu untuk tidak membuat surat pembatalan itu dan mau memerankan peranmu dalam pertunjukan itu?” tanya Maya.
“Mayaa….”
“Aku sudah minta pak Kuronuma untuk mengubah adegan itu. Sekarang adegan pangeran mencium putri salju sudah diganti dengan adegan lain” ucap Maya sambil mengeluarkan buku naskah yang telah diubah dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.
Masumi menatap Maya dengan tatapan sedikit kesal karena ternyata Maya masih saja membahas masalah itu.
Maya membalas tatapan Masumi.
“Kalau kamu tidak mau, ya sudah, Masumi. Aku tidak akan memaksa” ucap Maya kemudian.
Ia lalu menekan sebuah tombol di ponsel yang dari tadi telah di pegangnya dan menelpon seseorang.
“Rei, tolong jemput aku di Daito” ucapnya kemudian.
“Aku menunggu di luar saja” lanjutnya pada Masumi lalu perlahan-lahan ia bangun sambil meringis, setitik air mata jatuh membasahi pipinya karena menahan sakit.
“Oke..oke….aku setuju. Aku turuti keinginanmu” ucap Masumi mengalah dan begitu tidak tega melihat gadis mungilnya yang kesakitan “Tapi, biarkan aku memeriksa lukamu dulu” lanjutnya sambil mendekati Maya.
"STOP” seru Maya cepat yang membuat langkah Masumi terhenti. “Jangan dekati aku dan tidak perlu pura-pura peduli denganku. Aku sudah tidak percaya denganmu, kamu pasti hanya membohongiku”
“Aku tidak bohong, Maya” sahut Masumi “katakan padaku, bagaimana caranya supaya kamu percaya kalau aku tidak akan bohong?”
“Aku ingin kamu menandatangani surat pernyataan hitam di atas putih dan bersegel kalau kamu tidak akan pernah membatalkan pertunjukan itu dan akan mengikuti setiap latihannya” sahut Maya.
“Pernyataan hitam di atas putih dan…bersegel?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya “Yang benar saja, Maya. Masa untuk hal seperti ini saja harus memakai segel segala?”
“Kalau tidak setuju, ya sudah. Aku kan tadi sudah mengatakan aku tidak akan memaksa” ucap Maya “Aku pergi” lanjutnya sambil berjalan terpincang-pincang dan meringis.
“Dasar gadis keras kepala” gumam Masumi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap Maya yang tertatih-tatih.
Maya terus berjalan perlahan sambil terpincang-pincang, sesekali ia berhenti dan memegangi kakinya yang sakit dan mengaduh.
“Ayo, dong, Masumi. Mengalahlah….please….” ucap Maya dalam hati. Sambil kembali melangkah menuju pintu, ia mulai menghitung dalam hati “1….2….3…Masumi, cegahlah kepergianku.. 4…5….6…..Masumi, kumohon setujulah….7…8….”
“Baiklah, Maya. Baik”kata Masumi akhirnya.
Perkataan Masumi membuat Maya kembali menghentikan langkahnya, menunggu lanjutan kalimat Masumi.
“Aku akan meminta Mizuki untuk membuatkan surat pernyataan itu dan menandatanganinya. Jadi, aku mohon kamu duduklah kembali dan biarkan aku merawat lukamu” lanjut Masumi
Seulas senyum samar muncul dibibir Maya sebelum ia membalikkan badannya, menghadap Masumi dengan wajah kesakitan.
“Be..benarkah kamu akan melakukannya, Masumi?” tanya Maya.
Masumi mengangguk. Lalu dengan cepat Masumi menghampiri Maya dan mengangkat tubuh gadis itu.
“Ma..masumi….” seru Maya, yang tidak menduga, Masumi akan kembali membopongnya.
Masumi membawa Maya kembali ke sofa dan mendudukkan maya kembali. Kemudian ia berlutut di depan Maya.
“Sini kakimu. Coba aku lihat” ucap Masumi hendak memeriksa luka di kaki Maya.
“Tunggu” seru Maya menahan tangan Masumi yang hendak menyentuh kakinya.
“Apa lagi?”
“Aku mau diobati setelah kamu menandatangani surat itu, Masumi”
“Mayaa….”
“Masumiii….”
Masumi hanya bisa menghela napasnya.
“Baiklah..baiklah” ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya dan berdiri kemudian meraih telepon untuk menghubungi Mizuki.
“Mizuki…tolong buatkan aku surat pernyataan---“ ucap Masumi pada Mizuki dari telepon, memberitahukan pada sekretarisnya surat seperti apa yang ia inginkan.
Tak sampai 10 menit, terdengar Mizuki mengetuk pintu ruangan Masumi.
“Permisi, pak. Ini surat pernyataan yang anda minta” ucap Mizuki sambil menyerahkan selembar kertas pada Masumi.
“Kamu…kalau disuruh buat surat pernyataan seperti ini cepat juga ya. Kalau surat pembatalan yang aku pinta kemarin malah berlama-lama” gerutu Masumi sambil mengambil kertas itu.
Mizuki hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Masumi.
“Ehem…ada lagi yang bisa saya bantu, pak?” tanyanya.
“Tidak ada. Terima kasih, Mizuki” jawab Masumi.
“Kalau begitu saya permisi, pak” sahut Mizuki sambil diam-diam mengedipkan matanya pada maya.
Sepeninggalan Mizuki, Masumi menghampiri Maya dan menyerahkan kertas itu padanya.
“Apa pernyataan seperti ini yang kamu mau?”tanyanya.
Maya membaca tulisan yang tertera di sana kemudian mengangguk dan kembali menyerahkannya pada Masumi.
Masumi meletakkan kertas itu di atas meja di dekatnya lalu menatap Maya.
Maya mengangguk kepalanya.
Dengan sangat...sangat berat hati, Masumi akhirnya meraih pulpen yang ada di saku jasnya.
Dan dengan perlahan, Masumi pun menandatanganinya.
Selesai, Masumi menandatanganinya, Maya pun segera meraih kertas itu dan tersenyum puas memandanginya.
“Aku sudah menuruti keinginanmu, Maya. Sekarang biarkan aku mengobati luka di kakimu” ucap Masumi.
“Luka? Siapa yang terluka, Masumi? Kakiku tidak luka koq” jawab Maya cepat sambil berdiri dan menjauhi Masumi. “Terima kasih untuk surat pernyataannya, Masumi dan aku menunggumu di studio latihan besok” sahut Maya sambil tersenyum menang dan berlari keluar ruangan Masumi.
Masumi yang tersadar bahwa Maya hanya mengerjainya dengan pura-pura terluka agar ia mau menuruti keinginannya, mendengus kesal.
“Awas kamu, Maya Kitajima…..” teriaknya geram.
bersambung ke SPuM 4....
ayoo maya gantian kerjain masumi...XDD
BalasHapusgud maya
BalasHapusakting ketabrak yah ^^
Aaaa, kenapaaaaaa gag ada lanhutannnya, motongnya pas nih, qiqiq
BalasHapuswakakakakkakaka hidup maya...
BalasHapusWah maya bener2 deh, ternyata hanya akting toh
BalasHapusWkkkkkk.... Lucu habis critanyaaa.... Lanjudinn . Thx jeng >_<
BalasHapuscant wait to see masumi playing his role
BalasHapushahahhaa,,,,
BalasHapusbagus maya,,,kalah deh direktur daito kl sama maya