Halaman

Kamis, 22 Desember 2011

A Christmas Gift For You (1 of 2)

Pagi terasa dingin saat Maya terbangun dari tidurnya. Ia pun lalu membuka tirai jendela kamarnya dan melihat keluar.

“Wah…putih semua….” Seru Maya ketika melihat pemandangan putih diluar akibat salju yang turun semalam.

Bergegas ia memakai syalnya dan membuka pintu kamar serta berlari keluar.

Sesampainya di luar, Maya berjalan ke sana kemari, meninggalkan jejak kakinya di mana-mana sambil menikmati pemandangan putih di sekelilingnya. Ia lalu membungkukkan badannya dan mengambil segenggam salju dan membentuknya menjadi bola-bola.

Tiba-tiba, senyum jahil menghias wajah Maya ketika ia melihat Rei yang baru keluar dari pondok peristirahatan dan sedang merentangkan tangannya dan menguap.

“Bruk…”




Sebuah bola salju melesat dan mengenai tubuh Rei.

Rei mengedarkan pandangannya dan mencari orang yang telah melemparinya dengan bola salju.

“Bruk…”

Bola salju kedua kembali mengenai tubuhnya.

“Awas…kamu Maya…..” teriak Rei ketika dilihatnya Maya yang bersembunyi di balik pohon cemara, yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri, mencoba melempar bola salju lain ke arahnya.

Maya terkikik tapi kemudian ia berlari menjauhi Rei yang mengejarnya.

Sambil mengejar Maya, sesekali Rei membungkuk, meraup salju, membentuk bola dan melemparkannya pada Maya. Begitu juga sebaliknya. Terdengar tawa dari keduanya. Mereka semakin asyik bermain lempar bola salju.

Tak lama, teman-teman Maya dari teater Mayuko dan Ikkakuju keluar dari rumah peristirahatan dan bergabung bermain bersama dengan mereka berdua, membuat suasana semakin ramai.

@@@@@

Setelah puas main lempar bola salju, Maya dan teman-temannya berkumpul di sebuah jalan beraspal yang saljunya telah dibersihkan.

Mereka berencana untuk bersepeda mengelilingi area tempat peristirahatan itu.

“Kita akan mulai dari sini dan berkeliling sampai---“ ucap Hotta menjelaskan rute bersepeda mereka.

“Eh..itu kan pak Masumi” kata Rei memotong kata-kata Hotta ketika dilihatnya Masumi dan beberapa bawahannya sedang berjalan ea rah mereka. Sesekali terlihat Masumi sedang memberi arahan pada bawahannya.

“…Jadi aku ingin pohon-pohon ini…” kata Masumi sambil menunjuk ke pohon-pohon cemara yang berderet rapi di sepanjang jalan itu.

“Selamat pagi, pak Masumi…” sapa Rei diikuti teman-temannya yang lain.

Masumi menoleh ke arah orang-orang yang menyapanya.

“Oh kalian….” Katanya “Kebetulan sekali bisa bertemu kalian di sini”

“Kebetulan atau…” gumam Maya.

“Atau apa, mungil?” tanya Masumi yang mendengar gumaman Maya.

“Mengapa anda berada di sini, pak Masumi?” tanya Maya mengacuhkan pertanyaan Masumi.

“Memangnya mengapa? Tidak suka aku berada di sini?”

“Bukan…bukan begitu…hanya saja..hanya saja aku---“

“Kamu apa?”

“Aku heran….Jepang begitu luas, mengapa tetap saja bisa bertemu anda”jawab Maya.

“Itu Bagus kan?…itu artinya kita berjodoh, mungil…” sahut Masumi enteng lalu tertawa.

“Pak Masumi tidak lucu…..jangan-jangan anda mengikutiku agar bisa menggangguku…”

“Mengikutimu? Menganggumu? Untuk apa aku mengikutimu dan menganggumu, mungil. Aku ini orang sibuk. Mungkin yang benar itu kamu yang mengikuti aku…” kata Masumi.

“Mengapa..mengapa anda mengatakan kalau aku mengikuti anda?”

“Karena….karena tempat ini adalah milikku” jawab Masumi “Jadi, wajar kan kalau aku berada di sini dan mengherankan karena kamu berada di sini.”

“Eh? Tempat ini---“

“Tempat perisitirahatan ini milik anda, Pak Masumi?” tanya Hotta menyela perkataan Maya.

“Benar” jawab Masumi mengganggukkan kepalanya.

“Jadi..jadi pak Kawaguchi itu….”

“Pak kawaguchi? Beliau adalah orang yang bertanggung jawab dalam bagian hiburan” jawab Masumi “Kamu mengenal pak Kawaguchi?” tanyanya kemudian pada Hotta.

“Iya, pak” jawab Hotta “Pak Kawaguchi mengundang kami untuk mengisi pertunjukan sandiwara yang akan dilakukan disini untuk menghibur para tamu selama natal dan tahun baru”

“Oh, begitu. Sekarang aku mengerti mengapa kalian ada di sini” sahut Masumi mengangguk kepalanya.

“Lalu sekarang kalian mau ke mana?” tanya Masumi yang melihat Maya dan teman-temannya sedang memegang sepeda masing-masing.

“Kami akan berkeliling dulu di sekitar sini kemudian menemui pak Kawaguchi untuk memintanya menunjukkan kepada kami, tempat yang akan kami gunakan untuk pertunjukan, pak Masumi” sahut Hotta lagi “Dan kami tidak akan mengganggu anda lagi, pak Masumi. Kami permisi” lanjut Hotta.

“Baiklah…semoga kalian bersenang-senang selama berada di sini” kata Masumi “Dan kamu juga, Mungil…..semoga kamu tidak terganggu kalau mungkin kita akan sering bertemu” goda Masumi pada Maya.

“Anda…anda……” kata Maya.

“Ayo, Maya kita jalan” potong Rei.

“Saya permisi, pak Masumi dan sebisa mungkin saya akan menghindari anda” pamit Maya pada Masumi.

“Tunggu, mungil…” seru Masumi ketika Maya akan menaiki sepedanya.

Maya tidak jadi menaiki sepedanya dan memandang Masumi dengan tatapan kesal.

“Ada apa lagi, pak Masumi?” tanyanya.

Masumi tidak menjawab pertanyaan Maya, ia malah berjalan mendekati Maya.

“Dasar bodoh…” ucapnya saat ia telah sampai di hadapan Maya.
“Apa?....apa maksud-----“ tanya Maya dengan nada marah tapi ia tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba Masumi menurunkan badannya dan berlutut di hadapannya.

“Eh…pak Masumi…apa….yang anda…anda lakukan?” tanya Maya terkejut.

Masumi menengadahkan wajahnya dan menatap Maya sambil tersenyum kecil.

“Pak…Masu…mi?”

Masumi menghiraukan tatapan heran Maya, dia malah menundukkan kepalanya dan mengulurkan tangannya.

“Kamu ini….mengikat tali sepatu saja tidak becus” ucapnya “Bahkan tali sepatumu lepas saja tidak menyadarinya” lanjutnya sambil mengikatkan tali sepatu Maya.

“Eh…?”

Maya hanya bisa diam terpaku memandangi apa yang dilakukan Masumi.

Dan bukan hanya Maya saja yang diam terpaku, tapi teman-teman Maya dan juga bawahan Masumi yang ada di sana.

Mereka seolah tersihir, tidak dapat bergerak bahkan berkedip dari tempat mereka berdiri. Mereka hanya bisa menatap tidak percaya dan ternganga dengan apa yang sedang dilakukan Masumi.

Masumi Hayami…..seorang direktur Daito yang terkenal gila kerja dan dingin berlutut di depan gadis mungil dan sedang mengikatkan tali sepatunya….benar-benar hal yang tidak dapat mereka percaya……

“Nah…begini ikatan yang benar, mungil….” Ucap Masumi setelah selesai mengikat tali sepatu Maya. Ia pun kemudian berdiri lalu menepuk-nepuk celananya dan menatap Maya.

‘Aku akan menonton pertunjukanmu, nanti. Jadi kamu harus bermain bagus, mungil” ucap Masumi “Dan selamat bersenang-senang di sini” lanjutnya sambil membetulkan posisi syal Maya dan menepuk bahu Maya perlahan kemudian ia pun berlalu dari hadapan Maya.

“Mari kita pergi” lanjut Masumi sambil menoleh ke arah bawahannya dengan tatapan datar seolah tidak ada apa-apa yang terjadi tadi dan tidak memperdulikan tatapan bingung para bawahannya.

“Ba..baik, pak Masumi” sahut bawahannya serempak sambil bergegas mengikuti Masumi.

Sementara Masumi berjalan semakin menjauh, Maya masih belum mampu bergerak dari tempatnya berdiri. Ia hanya bisa memandangi punggung Masumi yang semakin jauh dan menghilang dari pandangan matanya.

Akhirnya, perlahan-lahan teman-teman Maya mulai tersadar dari rasa terkejutnya. Mereka saling berpandangan, menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi barusan. Benarkah apa yang dilihat mereka tadi atau…mereka hanya berkhayal?

“A..apa yang aku lihat tidak salah?”tanya Rei memecah keheningan di antara mereka.

“A..aku juga tidak percaya dengan apa yang aku lihat barusan” ucap Sayaka “pak Masumi berlutut di depan Maya dan mengikatkan tali sepatunya….ini rasanya…rasanya benar-benar hal yang----“lanjutnya tanpa bisa melanjutkan kata-katanya. Jadi ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pak Masumi yang terkenal dingin, gila kerja dan tanpa perasaan melakukan hal seperti tadi…..”timpal Hotta yang juga menggeleng-gelengkan kepalanya “aku jadi membayangkan reaksi bawahannya pak Masumi….mereka pasti bertanya-tanya seperti kita…itu bosnya kesambet apa hahahahaha…..”lanjutnya sambil terbahak-bahak dan membuat teman-temannya tertawa kecuali….Maya.

Rei yang tanpa sengaja melirik kearah Maya yang masih berdiri mematung menatap kepergian Masumi menghentikan tawanya dan menghampiri Maya serta menepuk bahunya perlahan.

“Maya…” panggil Rei.

Maya masih diam tidak bergeming.

“Hei…Maya…..”panggil Rei sekali lagi dengan lebih keras.

Maya menoleh dan menatap Rei dengan linglung.

“Eh…Rei..eu..itu…..”kata Maya.

Rei tersenyum melihat Maya yang masih terlihat syok.

“Tenangkan dirimu dulu, Maya. Tarik napas yang dalam lalu lepaskan, baru bicara” ucap Rei.

Maya mengikuti saran Rei. Ia menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan berulang-ulang kali.

“Eu…Rei….apa…apa aku sedang bermimpi?Pak Masumi tadi dia..dia…..”ucap Maya dengan pipi bersemburat merah.

“Menurutmu itu mimpi atau bukan, Maya?”kata Rei balik bertanya.

“A..aku tidak tahu…..” jawab Maya polos.

Tangan Rei terulur dan mencubit pipi Maya.

“Aaaw…”teriak Maya “apa-apaan sih Rei. Mengapa kamu mencubit pipiku?”

“Sakit tidak?”tanya Rei

“Yang jelas saja sakit”

“Ini artinya kamu sedang bermimpi” sahut Rei enteng.

“Dasar Rei. Kan tidak perlu dengan cara seperti itu. Kamu kan bisa langsung mengatakannya padaku. Tidak usah mencubit-cubit pipiku segala. Kan sakit” dumel Maya.

“Tapi Maya aku ingin tahu, apa sih sebenarnya yang kamu sembunyikan dari kita-kita?jangan-jangan kamu ada sesuatu dengan pak Masumi ya sampai pak Masumi mau-maunya melakukan hal seperti tadi….” ucap Rei penasaran.

“Iya, Maya kamu dan pak Masumi pasti ada hubungan khusus yang kamu tutup-tutupi dari kita-kita ya?”timpal Taiko.

“Iya nih, Maya. Koq tidak cerita-cerita sih. Jangan-jangan…putusnya pertunangan pak Masumi dengan nona Shiori beberapa waktu yang lalu gara-gara kamu” sambung Sayaka.

“Ah..tidak…..aku tidak tahu. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan pak Masumi”sahut Maya.

“Yang benar? Kamu sudah ketahuan…hayo mengaku saja. Kita mendukung koq” ucap Rei lagi.

“Tidak Rei….tidak ada apa-apa. Mengapa kalian menuduhku seperti itu?”

“Tapi kan jelas-jelas yang dilakukan pak Masumi. Pasti ada sesuatunya tuh” kata Sayaka yang terus menggoda Maya.

“Aku tidak tahu. Jangan bertanya padaku. Kalian bertanya saja sana dengan pak Masumi. Dia yang melakukannya bukan aku” ucap Maya “Ah sudah..kita pergi saja yuk….apa kalian masih akan tetap di sini?”

Teman-teman Maya hanya memandangi Maya dengan tersenyum-senyum.

“Kalian mau pergi tidak? Kalau tidak aku pergi sendiri saja” ucap Maya sambil menaiki sepedanya dan melajukannya meninggalkan teman-temannya.

“Hei…Maya…jangan ngambek…..Tunggu kami” seru Hotta sambil menyusul Maya diikuti yang lain.

@@@@@

Mereka bersepeda mengelilingi area peristirahatan yang sangat luas itu. Sesekali mereka saling susul menyusul. Lalu mereka berhenti ketika melihat sebuah goa, yang letaknya tak jauh dari jalan beraspal. Mereka pun turun dari sepedanya masing-masing dan berjalan mendekati goa tersebut.

Di dalam goa yang tidak dalam itu, terlihat beberapa pekerja yang sedang menghias dan mengatur patung-patung berbentuk domba, malaikat, dan para gembala. Ada juga palungan bayi Yesus juga patung Maria dan Joseph. Patung-patung itu berukuran sama seperti ukuran aslinya dan terlihat begitu ‘nyata’.

Mereka mengatur posisi patung-patung tersebut sedemikin rupa dan menjadikan goa itu sebagai goa kelahiran Yesus.

Selama beberapa saat, Maya dan teman-temannya berdiri di luar goa, memperhatikan kesibukan mereka. Setelah itu mereka kembali menaiki sepedanya masing-masing dan melanjutkan perjalanan mereka.

Maya dan teman-temannya akhirnya sampai ke tempat pak Kawaguchi. Pak Kawaguchi mengajak mereka ke sebuah gedung serba guna yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat mereka melakukan pertunjukan saat malam natal.

Setelah mendapat beberapa penjelasan dari pak Kawaguchi, Maya dan teman-temannya kembali ke pondok peristirahatan dan memulai latihan untuk pertunjukan besok malam.

@@@@@

Maya sedang duduk-duduk di teras pondoknya sambil mendengarkan mp3 ketika dilihatnya pintu pondok di seberang tempatnya terbuka.

Matanya membelalak saat melihat siapa yang keluar dari sana.

“I..itu kan pak Masumi….” Gumamnya terkejut “mengapa dia bisa tinggal di sana?”

Tanpa sengaja, ingatannya menjadi kembali ke kejadian tadi siang, Saat Masumi mengikatkan tali sepatunya. Tak ayal, wajahnya memerah. Maya menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghilangkan bayangan itu di benaknya.

Masumi yang kemudian melihat Maya sedang menggeleng-gelengkan kepala, tersenyum.

“Hallo..mungil….” ucap Masumi sambil melambaikan tangannya “Kita bertemu lagi….” lanjutnya sambil menghampiri Maya.
“Mengapa kamu menggeleng-gelengkan kepalanya?” tanyanya pada Maya “Tidak menyangka ya kalau kita akan bertemu lagi secepat ini?”

“Mengapa? Mengapa anda bisa tinggal di sana?” tanya Maya sambil melepas earphonenya dan menunjuk ke arah pondok Masumi tadi keluar.

“Memangnya mengapa?” kata Masumi balik bertanya.

“Anda…anda sengaja ya? Mengambil tempat berseberangan dengan pondokku?”

“Eh? Sengaja?” kata Masumi sambil mengerutkan keningnya “Aku sudah dari kemarin tinggal di sana, Mungil. Jangan-jangan kamu yang minta pada pengurus di sini untuk mengambil tempat di seberangku agar dapat melihatku” goda Masumi.

“Pak…Masumiii…..” kata Maya kesal “Kalau saja aku tahu, di seberang itu, pondok anda, aku malah akan meminta agar pindah” gerutu Maya.

“Tapi sayang sekali, pondok-pondok di sini sekarang sudah penuh, mungil, jadi walaupun kamu sekarang masih ingin pindah, sudah tidak ada tempat kosong. Jadi kamu terima nasib saja akan bertemu denganku terus” kata Masumi sambil tertawa.

Maya hanya mengerucutkan mulutnya mendengarkan perkataan Masumi.

Dan tawa Masumi semakin keras.

“Pak Masumi…jangan tertawa terus. Tidak ada yang lucu” kata Maya “Anda suka sekali menggoda aku ya…menyebalkan…”

“maaf..maaf…aku memang suka sekali melihat wajahmu yang sedang marah. Wajahmu lucu sekali…”

“Pak Masumiiii….” Seru Maya kesal.

“Ah ya mungil, mengapa kamu duduk sendirian di situ? Ke mana teman-temanmu?”

“Teman-temanku sudah tidur” jawab Maya singkat.

“Lalu mengapa kamu tidak ikut tidur? Hari sudah malam, mungil. Anak kecil seperti kamu seharusnya sudah masuk kamar dan tidur, jangan diam saja di luar, nanti kalau ada yang menculik, bagaimana?”

“Pak Masumi…aku bukan anak kecil, jadi jangan mengatakan anak kecil terus padaku…” seru maya.

“Oh ya? Tapi bukankah kamu---“

“Pak Masumiii…..”

Masumi kembali tertawa.

“Huh, pak Masumi benar-benar mengesalkan. Sudah pak Masumi pergi saja, jangan menggangguku terus” usir Maya.

“Kamu…berani mengusirku, mungil…”

“Habis pak Masumi benar-benar mengesalkan” sahut Maya dengan berani.

“Tapi aku tidak mau pergi. Aku ingin tetap disini..” kata Masumi enteng sambil tetap berdiri dan menatap Maya.

“Kalau anda tidak mau pergi, ya sudah. Kalau begitu aku saja---“

“Apa kamu mau melihat bintang, mungil?’ tanya Masumi tiba-tiba.

“Eh?”

“Apa kamu mau melihat bintang?” ulang Masumi.

Maya menatap Masumi kemudian menatap langit.

Langit tanpa begitu gelap, tidak ada satu bintang pun yang menampakkan diri.

“Pak Masumi, langit sangat gelap, tidak ada bintang yang tam---“

“Mau tidak, mungil?” tanya Masumi lagi mengacuhkan perkataan Maya.

“memangnya kita bisa melihat bointang di mana?” kata Maya balik bertanya “anda jangan membohongiku. Di langit tidak ada bintang sama sekali”

“Aku tidak bohong, mungil” sahut Masumi sambil menggeleng “aku punya tempat istimewa untuk melihat bintang. Dan bintang di tempatku itu juga bintang yang istimewa. Karena bintang itu bukan hanya bisa di lihat tapi juga bisa di sentuh”

“Bisa di sentuh?” tanya Maya tidak percaya “Mana ada bintang---“

“Ada. Kamu mau melihatnya tidak?”

Maya diam sejenak, menimbang-nimbang pergi ajakan Masumi.

“Mungil, mau tidak?” tanya Masumi untuk kesekian kalinya.

Karena Maya sungguh penasaran dengan bintang yang dikatakan Masumi, akhirnya dia mengangguk kepalanya.

“Di mana kita bisa melihatnya?”

“Ikuti saja aku” sahut Masumi “Nanti kamu juga akan tahu” lanjutnya sambil berjalan.

Maya segera mengikuti langkah Masumi menyusuri jalan di sepanjang tempat peristirahatan itu.

@@@@@

15 menit kemudian…

“Pak Masumi, anda membohongi aku ya? Kita sudah jauh berjalan, tapi koq masih belum sampai juga?”tanya Maya.

“Kita sudah sampai” jawab Masumi.

Maya mengedarkan pandangannya.

“Di mana? Di mana kita dapat melihat bintang itu?”

“Di sana” tunjuk Masumi.

“Eh di sana?” tanya Maya “Tapi itu kan hanya sebuah goa yang tidak dalam. Mana ada bintang di dalam di sana” protes Maya.

“Kamu tahu goa itu?”

Maya mengangguk.

“Tadi waktu bersepeda, aku dan teman-temanku melewatinya dan melihat beberapa orang sedang menghias dalam goa itu dengan patung-patung dan lampu-lampu” sahut Maya.

“Tapi kamu tidak tahu, kalau di dalam goa itu ada tempat rahasia kan?” tanya Masumi sambil masuk ke dalam goa tersebut.

“Tempat rahasia? Tempat rahasia apa pak Masumi?” tanya Maya sambil mengikuti Masumi.

“Bahwa goa ini sebenarnya bukan goa yang tidak dalam” katanya sambil menggeser patung domba besar yang terletak di sini kiri goa. Ia lalu menyibak kain hitam yang menutupi dinding goa tersebut. Dan dibaliknya terlihat sebuah celah yang cukup lebar untuk dimasuki orang dewasa.

“Di dalam goa ini sebenarnya ada goa lain” jelas Masumi “Apa kamu mau melihat goa yang ada dalam goa ini, Mungil?”

“Eh?” kata Maya “Tapi..di dalam kan gelap, pak Masumi” lanjutnya setelah ia melongokkan kepalanya ke dalam celah itu.

Masumi mengambil korek gas di sakunya dan menyalakannya kemudian ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam celah itu.

“Kamu mau ikut tidak?” ajak Masumi “Katanya mau melihat bintang”

“Hmmm…baiklah kalau begitu. Tapi kita tidak perlu masuk terlalu dalam kan?”

Masumi menggeleng.

“Sini, ulurkan tanganmu…”

Maya mengulurkan tangannya dan Masumi menggandeng Maya menyusuri lorong di dalam goa itu.

Tak jauh berjalan, Masumi membelok dan melewati celah yang lain.

Dan sebuah pemandangan menakjubkan terpampang di depan mata Maya.

Memang benar apa yang dikatakan Masumi, bahwa di dalam goa itu terdapat goa lain. Goa itu berbentuk lingkaran, dengan tanah yang datar dan langit-langit sangat tinggi sehingga tidak terlihat oleh Mata. Ratusan cahaya kecil berkerlap-kerlip memenuhi tempat tersebut.

Masumi membawa Maya ke tengah-tengah goa tersebut. Seketika itu juga, mereka seolah dikelilingi cahaya .

“Bagaimana, mungil…?”

“Pak Ma..masumi…i..ini…..” Maya tidak mampu menyelesaikan kalimatnya, ia hanya bisa memandang takjub sekelilingnya.

“Seperti di dalam planetarium kan, mungil?” tanya Masumi “Tapi ‘bintang’ yang berada di sini, bisa di sentuh” lanjutnya sambil menangkap sebuah cahaya yang terbang rendah di dekatnya, dan memperlihatkannya pada Maya.

“Ih…apa itu, pak Masumi?” tanya Maya ketika melihat binatang kecil yang mengeluarkan cahaya.

“Ini namanya kunang-kunang” jawab Masumi.

“Ah, kalau begitu mengapa anda tidak mengatakan dari tadi kalau akan melihat kunang-kunang saja?”

“Mungil, kamu lihat sekelilingmu” kata Masumi “Cahaya yang dikeluarkan kunang-kunang kan sama seperti bintang yang berkerlap-kerlip di langit”

“Hmm….benar juga kata pak Masumi…..aku memang seperti melihat bintang” kata Maya sambil menengadahkan kepalanya ke atas “Wah..indah sekali, aku seperti terbang ke angkasa dan berada di antara banyak bintang”

“Tapi, pak Masumi…mengapa kunang-kunang itu tubuhnya bisa mengeluarkan cahaya?” tanya Maya ingin tahu.

“Karena di dalam tubuh kunang-kunang terdapat zat yang disebut Luciferin, mungil. Nah, saat zat luciferin itu bergabung dengan oksigen maka keluarlah cahaya itu. Tapi tidak seperti cahaya yang dihasilkan oleh alat listrik yang panas, cahaya yang dikeluarkan oleh kunang-kunang ini dingin, yang disebut Luminescence. Jadi kamu bisa menyentuhnya tanpa merasakan kepanasan.” jelas Masumi.

“Oh begitu” sahut Maya sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

@@@@@

Setelah puas menikmati cahaya bintang eh kunang-kunang, Masumi mengajak Maya kembali ke pondok peristirahatan mereka. Tapi ketika mereka akan keluar dan kembali ke goa yang pertama.

Suara angin kencang dan gemuruh terdengar.

“A…apa itu pak Masumi?”tanya Maya.

“Mungil, sepertinya terjadi badai salju” jawab Masumi “Kamu tunggu sebentar disini, aku akan mengeceknya” lanjut Masumi sambil berjalan menuju mulut goa.

Tak lama kemudian, Masumi kembali.

“Benar, mungil. Badai salju. Kita sepertinya tidak dapat keluar sekarang. Angin bertiup sangat kencang” kata Masumi “Jadi lebih baik kita kembali saja ke dalam”

Mau tidak mau, Maya hanya bisa menyetujui perkataan Masumi dan mereka pun kembali ke dalam goa kunang-kunang.

“Pak Masumi..bagaimana ini? Apa kita benar-benar tidak bisa kembali?” tanya Maya panik.

“Kita hanya bisa menunggu sampai badai reda, mungil. Bahaya bila kita nekad keluar dalam keadaan angin kencang seperti itu” sahut Masumi.

“Ta..tapi---“

“Maaf, mungil. Tapi kita memang harus menunggu sampai badai reda” ulang Masumi sambil mengambil tempat di salah satu sisi goa dan duduk di sana “Apa kamu masih mau tetap berdiri saja di situ?” tanya Masumi pada Maya.

“Eh..?”

“Sini..duduklah di sini” ajak Masumi sambil menunjuk tempat di sampingnya.

Dan akhirnya Maya pun duduk tak jauh di samping Masumi.

“Maafkan aku, mungil. Gara-gara aku mengajakmu kemari, kamu malah terjebak bersamaku” ucap Masumi.

“Bukan salah anda, pak Masumi. Anda juga tidak tahu kan kalau akan datang badai salju” sahut Maya sambil menekuk lututnya dan melingkarkan tangannya di lutut.

Maya menatap lurus ke depan, tapi walaupun begitu dari sudut matanya, ia tahu kalau Masumi terus memandanginya.

Keduanya sama-sama terdiam. Tidak ada satupun di antara mereka yang berbicara. Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

“Pak Masumi mengapa anda terus menatapku seperti itu? Aku sama sekali tidak mengerti anda….juga dengan semua yang anda lakukan hari ini…..dan mengapa aku bisa terjebak di tempat ini bersama anda?” tanya Maya dalam hatinya.

Sementara masumi yang memandang Maya, berkata dalam hatinya.

“Mungil, entah mengapa aku begitu merasa senang terjebak denganmu di sini. Aku bahkan berharap badai itu tidak segera berlalu, agar kita dapat terus berduaan seperti ini. Apakah ini adalah kesempatan? Kesempatan yang diberikan padaku untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya padamu?”

@@@@@

5 menit….10 menit….15 menit…..waktu terus berlalu…….

“Maya apa kamu kedinginan?” tanya Masumi yang melihat Maya menggigil.

“Ehem…iya…sedikit…..” sahut Maya.

“Sini, bergeserlah” kata Masumi “Mungkin bila berdekatan, kamu akan merasa lebih hangat”

Maya menoleh dan menatap Masumi. Lalu ia menggeser duduknya dan merapat ke Masumi.

Masumi memberanikan diri merangkul Maya.

Dalam hatinya deg-degan, takut Maya menghempas tangannya dan marah dengan apa yang dilakukannya. Tapi maya membiarkannya dan malah menyandarkan kepalanya ke bahu Masumi.

Masumi pun menjadi semakin berani, ia menarik Maya dalam pelukannya.

Mereka kembali diam dan tidak berbicara apa-apa.

“Hmm…mungil…” ucap Masumi memecah keheningan di antara mereka.

“A..apa pak Masumi?”

“Apa kamu merasa takut berduaan denganku?”

Perlahan kepala Maya menggeleng.

“Benarkah?” tanya Masumi tidak percaya.

“Aku percaya pada anda, pak Masumi. Anda tidak mungkin----“

“Tapi aku laki-laki, mungil. Mungkin saja aku berbuat kurang ajar”

Maya terkikik mendengar perkataan Masumi.

“Mengapa kamu tertawa?” tanya Masumi heran.

“Tidak..aku hanya teringat ketika kita terjebak di lembah plum. Anda juga mengatakan hal yang sama” jawab Maya.

“Benarkah?”

Maya mengangguk.

“Tapi peringatanku itu sungguh-sungguh, mungil”

Maya mengangguk.

“Aku tahu” kata Maya lalu mengangkat wajahnya dan menatap Masumi “Tapi aku percaya pada anda”.

“Mu..mungil….” ucap Masumi sambil balas menatap Maya.

Dan entah mengapa, tatapan mata mereka menjadi terkunci, tidak ada satu pun yang mampu memalingkan wajahnya.

Logika Masumi seakan ‘mati’, dia tidak bisa berpikir apapun. Dan tanpa dapat dikendalikannya, wajah Masumi mendekat ke wajah Maya.

Bibir Masumi perlahan menyentuh bibir Maya. Hanya seperti itu….hanya menyentuhkan bibirnya ke bibir Maya. Masumi menunggu reaksi dari Maya.

Maya hanya bisa terdiam merasakan sentuhan Masumi di bibirnya.

Masumi menjauhkan sedikit bibirnya dan menatap Maya. Matanya seolah bertanya.

Perlahan Maya menutup matanya.

Seolah telah mendapat jawaban, Masumi kembali menyentuh bibir Maya dan mengecupnya lembut. Kemudian melumatnya perlahan. Perlahan tapi pasti ciuman itu semakin lama menjadi ciuman yang dalam.

Tanpa melepas ciumannya, dengan sangat berhati-hati dan perlahan-pelan, Masumi mendorong tubuh Maya sehingga menyentuh tanah, sementara sebelah tangannya menyangga kepala Maya.

Ciuman Masumi semakin dalam dan intens.

Sebelah tangan Masumi yang bebas bergerak, mulai naik dan menyentuh kepala restleting jaket Maya dan menurunkannya kemudian ia menyibak jaket Maya.

Setelah jaket Maya terbuka, tangan Masumi kembali naik ke atas dan mulai melepaskan kancing dari kemeja yang di pakai Maya.

Satu persatu kancing itu dilepaskan sampai kancing yang terakhir. Setelah semua kancing terbuka, dari bawah, Masumi mulai menyusuri kulit telanjang Maya dan bergerak naik ke atas.

Maya menggeliat atas sentuhan Masumi.

“Aaa…, pak..pak Masumi…..” desah Maya ketika Masumi hampir menyentuh dadanya.

Desahan Maya menimbulkan gairah dalam diri Masumi tapi juga membunyikan alarm di otaknya bahwa ia harus segera menghentikan perbuatannya.

Masumi pun segera menurunkan tangannya, dan merapikan pakaian Maya sehingga tubuh Maya tidak terlalu tersingkap, lalu ia menatap Maya. Ia hanya diam menatap maya.

Perlahan-lahan, Maya membuka matanya dan menatap masumi dengan tatapan bertanya.

“Pa..pak….Masumi?”

Masumi hanya tersenyum lalu mengangkat tubuhnya dan menarik Maya sehingga kembali terduduk. Kemudian ia kembali mengancingi kemeja Maya dan membetulkan posisi jaket Maya.

Masumi lalu memeluk Maya seperti pada posisi yang sebelumnya.

“Tidurlah, mungil…” ucapnya sambil mengecup ringan ubun-ubun Maya.

“Pak Masumi..mengapa---“ ucap Maya sambil mengangkat wajahnya dan menatap Masumi.

“Pejamkan matamu dan tidurlah” ucap Masumi sambil mendekatkan kepala Maya lagi pada dadanya.

Maya meringkuk di pelukan Masumi.

1 menit….2 menit….5 menit berlalu.....

Suasana kembali hening.

Tapi 10 menit kemudian….

“Pak Masumi…” panggil Maya.

“hmm….”

“Anda belum tidur?” tanya Maya.

“Aku yang seharusnya bertanya padamu. Mengapa kamu belum tidur juga? Ternyata kamu benar-benar bandel ya, di suruh tidur malah---“

Maya terkikik mendengar perkataan Masumi.

“Jangan cekikikan. Ayo tidur…” kata Masumi sambil mengeratkan pelukannya.

“pak Masumi….”

“Apa lagi?”

“Aku punya pertanyaan yang mengangguku sehingga membuatku tidak dapat tidur”

“Pertanyaan apa?”

“Hmm….apa pak Masumi juga akan melakukan hal seperti tadi kalau terjebak dengan gadis lain?” tanya Maya.

“Hal…seperti tadi?”

“Ah, pak Masumi…yang tadi itu masa pak Masumi sudah lupa…” jawab Maya dengan wajah memerah “Pak Masumi, apa anda akan melakukannya pada---“ ulang Maya.

“Tidak” jawab Masumi pendek.

“Benarkah? Tapi anda mengatakan bahwa anda laki-laki---“

“Itu peringatan untukmu, mungil bukan untuk gadis lain. Aku tidak tertarik pada gadis lain, aku---“kata Masumi menggantung kalimatnya “hanya tertarik padamu” sambungnya. Tapi kalimat itu tidak diucapkan keluar oleh Masumi.

“Anda apa?”

“Tidak..tidak apa-apa” jawab Masumi “Aku sudah menjawabnya. Sekarang---“

“Tapi jawaban anda membuat aku bingung…”

“Tidak perlu dipikirkan kalau itu membuatmu bingung”

“pak Masumi…”

“Sudahlah, mungil. Kumohon jangan mengungkitnya lagi”

Tapi….”ucap Maya sambil mengangkat kepalanya dan menatap Masumi.

“Aku sudah katakan jangan menatapku, mungil” ucap Masumi sambil mendekatkan kepala Maya ke dadanya lagi.

“Pak Masumi, mengapa aku tidak boleh menatap anda?”

“Karena tatapanmu bisa membuat aku lupa segalanya, mungil” kata Masumi “aku bisa kehilangan kendali atas diriku seperti tadi”

“Eh? Mengapa bisa seperti itu?”

“Bisakah kamu berhenti bertanya dan tidur?” pinta Masumi.

“pak Masumi…mengapa bisa begitu?”

“mungil…”

“pak Masumi…aku ingin tahu mengapa bisa begitu?” tanya Maya lagi memaksa.

“Karena aku sudah memberimu peringatan bahwa aku mungkin saja berbuat kurang ajar. Dan peringatanku benar kan, hampir saja, aku----“

“mengapa bisa begitu?’ tanya Maya lagi.

“Mungil, mengapa dari tadi kamu terus bertanya ‘mengapa bisa begitu’? sudah jangan bertanya terus”

“Habis, pak Masumi tidak menjawab dengan jelas”sahut Maya.

“Mungil ,haruskah aku menjelaskannya padamu?”

“Harus......aku ingin tahu mengapa anda bisa melakukan itu padaku tapi tidak pada gadis lain. Padahal kan aku sama sekali tidak menarik apabila dibandingkan dengan wanita-wanita cantik di sekeliling pak Masumi”kata Maya “juga…dengan apa yang anda lakukan tadi siang….”lanjut Maya yang tiba-tiba teringat dengan apa yang dilakukan masumi tadi siang.

“Yang aku lakukan tadi siang?”

“Pak Masumi…anda benar-benar pelupa…apa yang anda lakukan tadi siang membuat semua orang bertanya-tanya dan membuat aku..aku…..”ucap Maya dengan wajah terasa panas.

“kamu apa?”

“Aku digoda teman-temanku”

“Benarkah?”tanya Masumi “mereka menggodamu apa?”

“Aku tidak akan memberitahukannya pada Anda” kata Maya.

“Oh ya?”

“Ah, pak Masumi. Sudahlah jangan mengalihkan pertanyaan. Yang sedang bertanya itu aku, jadi pak Masumi jawab saja pertanyaanku. Mengapa anda bersikap “aneh” seharian ini?” tanya Maya “Anda membuat aku---“

“Membuat kamu apa?”

Membuat aku----“ Maya tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang semakin terasa panas.

“Mungil, membuatmu apa?”

“Tidak tahu…” kata Maya.

“Koq tidak tahu?”

“Pokoknya pak masumi, jawab dulu pertanyaanku. Kan aku yang bertanya duluan” elak Maya “Mengapa….?”

“Mengapa aku melakukan semua itu? Mengikatkan tali sepatumu juga tidak berdaya dengan tatapanmu dan hampir saja kehilangan kendaliku?”

Maya mengangguk.

“Kamu benar-benar ingin tahu mengapa, mungil?”

“pak Masumiii…..”

Masumi menghela napasnya.

“Karena…aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku……mencintaimu, mungil” kata Masumi perlahan.

“Eh? An..anda mengatakan apa?”

“Aku…mencintaimu, Maya Kitajima” ulang Masumi.

“A…ap----“

“Sudah puas dengan jawabanku, mungil?”

“Pak ma---“

Aku tahu, mungil. Kamu sangat membenciku. Jadi kamu tidak perlu memperdulikan kata-kataku. Kamu boleh marah padaku, pukuli saja aku, karena aku---“

“Tidak…tidak pak Masumi….” Kata Maya sambil memeluk erat Masumi “Aku senang..mendengarnya…sangat senang” lanjutnya.

“Jadi bisakah anda mengatakannya sekali lagi?” tanya Maya lagi.

“Eh?”

“Pak Masumi..tolong katakan sekali lagi….”

“mungil…”

“Pak Masumi, katakan sekali lagi…..”

Masumi menghembuskan napasnya perlahan.

“Aku…mencintaimu, Maya Kitajima” kata Masumi akhirnya.

“Aku juga mencintai anda, pak Masumi” jawab Maya cepat.

“Eh…?”

“Kamu..kamu mengatakan apa?” tanya Masumi yang tidak mempercayai pendengarannya.

Tapi Maya tidak menjawab.

“Mungil, tadi kamu mengatakan apa?”

Maya tetap tidak menjawab.

Masumi memandangi Maya dan dilihatnya gadis itu telah memejamkan matanya. Gadis itu sudah tertidur.

Masumi hanya bisa tersenyum melihatnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

@@@@@

Masumi terbangun karena merasa punggungnya pegal. Dengan berhati-hati, ia menggerakkan badannya, tidak mau mengganggu gadis mungil yang tertidur di pelukannya terbangun.

Ia melirik arlojinya. Sudah jam 6 pagi.

Kemudian Masumi hanya duduk diam sambil memandangi Maya yang masih tertidur pulas.

Tiba-tiba tubuh Maya menggeliat dan ia membuka matanya.

“Selamat pagi, mungil….” sapa Masumi sambil mengecup ringan bibir Maya.

“Eh..i..iya…..pak Ma.. Masumi….se…selamat pagi ” sahut Maya tergagap dengan pipi memerah.

“Kelihatannya tidurmu sangat pulas semalam, mungil”katanya kemudian.

“hmm….kalau pak Masumi?”

“Aku….punggungku terasa pegal dan---“

“Ah…maaf pak Masumi….pasti gara-gara aku….” ucap Maya sambil bergeser dan bersandar di sebelah Masumi.

“Tidak apa-apa. Aku suka koq kamu tidur di pelukanku”sahut Masumi sambil menatap Maya.

“Ah…pak Masumi….” Kata Maya ,wajah kembali memerah.

Masumi tertawa melihat wajah Maya yang seperti tomat matang.

“Pak Masumi….sudah….jangan menertawakanku terus”

“Maaf…maaf, Maya…..habis kamu menggemaskan” jawab Masumi.

“Apa sekarang sudah pagi?” tanya Maya.

“Sudah jam 6” jawab Masumi.

“Oh…” kata Maya sambil bangun dari duduk.

“Mau kemana?” tanya Masumi yang juga ikut bangun.

“Keluar….” Jawab Maya sambil terus melangkah keluar dari gua “Wah….pagi yang cerah…..” seru Maya ketika melihat keadaan di luar “Tidak menyangka kalau semalam terjadi badai salju”

“Tidak menyangka?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya “Kamu tidak melihat salju yang menumpuk itu?”

“Ah, pak Masumi payah….yang diingat badai saljunya bukannya pagi yang cerah seperti sekarang”lanjut Maya sambil menyusuri jalan kembali ke pondok peristirahatannya.

“kamu mau ke mana?” tanya Masumi sambil mengikuti Maya.

“Pulang….” Sahut Maya sambil terus berjalan.

“Oh..bagus ya…langsung pergi begitu saja”

Maya terkikik sambil terus berjalan, diikuti oleh Masumi dari belakang.

Mereka terus berjalan seperti itu. Maya berjalan lebih dulu dengan diekori oleh Masumi.

“Ah..itu Rei” ucap Maya ketika hampir sampai di pondoknya dan melihat Rei sedang menutup pintu “mau ke mana dia pagi-pagi begini?”gumamnya.

“Rei….” Seru Maya sambil menghampiri temannya.

Rei membalik dan terkejut melihat Maya. Ia pun segera mendekati Maya.

“Kamu dari mana? Aku sangat khawatir apalagi semalam terjadi badai salju. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu padamu. Aku baru saja akan melapor ke petugas di sini kalau kamu menghilang” cerocos Rei.

“Rei..aku---“

“Kamu tidak apa-apa kan, Maya?” tanya Rei yang masih Khawatir.

“Tidak…tidak apa-apa. Semalam aku..aku bersama pak Masumi” jawab Maya.

“Eh…?” kata Rei terkejut “Bersama pak masumi..? mengapa kamu bisa bersama…beli…au?” tanya Rei dan akhirnya ia melihat pria yang berdiri di belakang Maya.

“Eh…pak Masumi” sapa Rei “Se..selamat pagi, pak”

“Pagi Rei” sahut Masumi “Mungil, karena aku sudah mengantarmu, sekarang aku pergi dulu ya. Sampai jumpa lagi” lanjut Masumi pada Maya lalu meninggalkan mereka berdua.

“Eh..pak Masumi..mengapa anda---“ tanya Maya tapi Masumi sudah pergi menuju pondoknya.

“Maya, kamu harus menjelaskan padaku, apa yang kalian lakukan semalam dengan pak Masumi dan mengapa kamu bisa bersama-sama dia” ucap Rei.

“Emm….itu…aku dan pak Masumi…itu karena----“ kata Maya gelagapan dan wajahnya memerah.

“Mayaa….ayo katakan” paksa Rei.

“Ah..Rei. Aku mau mandi dan ganti baju dulu” elak Maya sambil berlari masuk ke dalam pondok.

“Hei…Maya. Kamu tidak boleh melarikan diri. Kamu harus menjelaskannya padaku…” kata Rei sambil menyusul Maya masuk ke dalam pondok mereka.


bersambung ke part 2....

11 komentar:

  1. Haaiiyyaaa....
    masih menggantung tuh ceritanya,kejadian didalam goa diceritain juga lah

    BalasHapus
  2. jiahhhh...oneshoot yang belom tamat >.<
    hayu di lanjutken atuhhhh sisat ^^

    masumi udah ga tahan ingin menyatakan cintanya ke maya ituh XD

    BalasHapus
  3. ini belum selesai kan... ayo cepet di lanjut... cepet ditamatin... cepet di hepi ending in ^^

    BalasHapus
  4. Akhirnya diteruskan juga ;)
    Ayooo teruuus sampe tamat,, dtunggu <3

    BalasHapus
  5. gaaaaah, kenapa bersambung, ayo tanggung jawab, cepet apdet, kyaaaa, badai oh badai

    BalasHapus
  6. haddoooohhh ,,,*ngelus dada*

    tahan nafas lagi dah,,,qiqiqi
    mau donggg kena badai salju trus bs be2an sama akang masumi,,, *ngayal*

    buru atuh di update lg

    BalasHapus
  7. mengapa bisa begitu ????? mengapa bisa begituuu ??? harus segera ditambah nih .... hahaha

    BalasHapus