“Maya…kamu sedang apa?” tanya Koji sambil menepuk bahu Maya perlahan dan membuat Maya menoleh.
“Koji?” ucapmu yang melihat pria muda itu “Aish…mengapa Koji bersama Maya?”tanyamu.
Lalu kamu menoleh menatap Masumi.
“Masumi….ayo kita datangi mereka…dan jauhi Maya dari Koji” ucapmu sambil menarik tangannya.
Melihat Maya yang menoleh, Masumi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia malah menyeretmu menuju……menuju……
Langkah Masumi terhenti sejenak, matanya dengan cepat mencari tempat bersembunyi agar Maya tidak dapat melihatnya kembali di toko itu.
Akhirnya ia melanjutkan langkahnya dan menuju…..kamar pas.
Sesampainya di kamar pas, yang sempit. Sehingga kamu dan Masumi berdesakan di dalam, Masumi mengunci pintunya.
“Masumi…mau apa ke sini?” serumu “Bukannya keluar menemui Maya, kamu malah masuk kemari. Bagaimana sih? Ayo..kita datangi Maya sebelum Maya pergi dengan Koji” lanjutnya sambil meraih slot pintu dan hendak membukanya.
BRAk…
Masumi memukulkan tangannya ke dinding kaca, tepat di samping kepalamu, menghalangi gerakmu.
“Masumii….”
Masumi menurunkan wajahnya sehingga sejajar dengan wajahmu dan hanya berjarak beberapa inchi dari wajahmu.
“Masu..mi…apa…apa yang akan kamu lakukan?”
“Memangnya apa?” desis Masumi kesal “Puas…puas kamu sekarang…berkat kamu…Dia memergokiku berada di dalam toko ini…”
“Dia?” tanyamu sambil mengangkat kedua alismu.
“Jangan pura-pura bodoh”
“Oh…maksudmu, Maya Kitajima” katamu kemudian “Hihihihi…apa yang akan dipikirkan Maya saat melihatmu di sini” lanjutmu lagi sambil sambil terkikik.
“Kamuu…” ucap Masumi gemas karena kamu malah cekikikan dan sama sekali tidak terlihat bersalah.
“Apa sih yang harus kamu khawatirkan, Masumi?Kamu kan bisa menjelaskan padanya…”
“Menjelaskan? Menjelaskan apa?”
“Ya…kamu kan pintar, Masumi. Pasti kamu bisa mencari alasan yang tepat” sahutmu enteng.
“Kamu benar-benar----“
“Sudah ah, Masumi. Maya juga pasti sudah pergi” katamu lagi sambil mendorong tubuh Masumi “Disini panas, aku mau keluar” lanjutmua sambil dengan cepat membuka slot pintu dan melangkah keluar.
Diluar kamar pas, kamu berbalik dan menatap Masumi.
“Masumi…jangan lupa…bayar barang-barang yang aku pilih tadi…”
Masumi berulang kali menghembus dan menarik napasnya, berusaha sangat keras menahan amarahnya dalam menghadapi kamu.
Kemudian ia pun menyusulmu melangkahkan kakinya keluar dari kamar pas itu dan menuju pelayan toko yang berdiri melongo, tidak mengerti apa yang dilakukan customernya itu.
@@@@@
“Masumi, kita mau ke mana?” tanyamu saat Masumi mengendarai mobilnya dan memasuki sebuah gedung bertingkat mewah.
Masumi tidak menjawab pertanyaanmu, ia terus saja menyetir dan masuk ke dalam parkiran bawah tanah.
“Masumi…ini di mana?” tanyamu sekali lagi.
“Turun” ucap Masumi setelah ia memarkirkan mobilnya.
“Masumi…..”
“Aku menyuruhmu untuk turun” ucap Masumi sekali lagi, ia kemudian membuka pintu mobilnya dan keluar lalu menuju bagasi.
“Masumi…..” panggilmu lagi.
Masumi mengeluarkan barang-barang yang tadi dibelinya dan membawanya.
“Ayo, turun” kata Masumi sambil melihatmu “apa kamu mau diam di sini saja?” tanyanya kemudian melangkah.
Dengan terpaksa, kamu pun akuhirnya turun dan mengikuti Masumi.
“Masumi…ini di mana?’ tanyamu.
“Ini..pegang…” kata Masumi sambil menyerahkan barang-barang bawaannya kepadamu saat kalian sudah ada di depan sebuah pintu.
Masumi merogoh sebuah kartu dari dompetnya dan menggesekkan kartu tersebut di pintu.
Pintu pun terbuka…..
Masumi pun melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam. Kamu lagi-lagi dengan terpaksa mengikutinya.
Langkah Masumi kembali terhenti di depan lift. Ia lalu menekan tombol naik dan kembali menunggu.
“Masumi…” panggilmu sekali lagi “Dari tadi ditanya, koq tidak pernah menjawab. Mulai lagi penyakit budeknya. Pura-pura tidak mendengar pertanyaan yang aku ajukan” cerocosmu.
Ting….
Pintu lift terbuka.
Masumi diikuti kamu masuk ke dalam lift tersebut.
Pada lantai 25, lift itu kembali membuka. Masumi keluar dari lift, (juga kamu tentunya ) dan menyusuri lorong lantai itu.
Dikamar paling ujung, Masumi berhenti, memasukkan kartu dan membuka pintunya.
“Masuklah” kata Masumi Kamu masuk ke dalam dan terperangah.
Sebuah ruangan luas dengan interior mewah dan modern terlihat oleh matamu.
“I…ini…?”
“Ini kondo milikku” jawab Masumi “Mulai sekarang kamu tinggal di sini saja” lanjutnya.
“Mengapa? Mengapa aku harus tinggal di sini?” tanyamu
“Mengapa? Kamu masih bertanya mengapa?” tanya Masumi balik bertanya.
Kamu menatap Masumi.
“Ah…aku tahu…” ucapmu “Kamu ingin kita tinggal berdua tanpa diganggu siapapun kan, Masumi?” lanjutmu sambil mengedipkan matamu dengan genit.
“Siapa yang mengatakan begitu?” ucap Masumi “KAMU…..tinggal di sini…..SENDIRIAN” lanjut Masumi menekannya kata ‘kamu’ dan ‘sendirian’.
“Hah…sendirian? Aku tinggal di sini sendirian?” tanyamu
Masumi mengangguk.
“Tidaaak….aku tidak mau…..”ucapmu sambil menggeleng-gelengkan kepalamu.
“Harus mau…” kata Masumi “Aku tidak mau diikuti terus olehmu”
“Masumi….tidak mau…..aku tidak mau tinggal sendirian…”
“Harus mau” kata Masumi lagi “Kamu istirahatlah di sini. Aku pergi…” lanjut Masumi sambil melangkahkan kakinya keluar kondominiumnya.
“Tidaaaak….” Serumu histeris dan memegang erat-erat lengan Masumi.
“Lepaskan…”
“Tidak…..kamu tidak boleh pergi” ucapmu “Kalau kamu pergi…aku juga ikut….aku tidak mau ditinggal di sini sendirian. Aku takut hiii…..”
“Lepas…”
“Tidaak…jangan begini, Masumi.. aku mohon…..jangan tinggalkan aku sendirian di sini” ucapmu menatap Masumi penuh permohonan dan semakin mengeratkan peganganmu pada lengan Masumi.
Masumi menghela napasnya.
“Kamu benar-benar-----aarg…..” ucap Masumi kesal.
“Masumiii…” ucapmu dengan tatapan memelas.
“Baiklah…baiklah…..tapi hanya untuk malam ini saja” kata Masumi akhirnya menyerah “Ingat untuk malam ini saja”.
Kamu mengangguk kemudian menggeleng.
@@@@@
“Masumi…aku mau mandi….” ucapmu tiba-tiba.
“Ya..mandi saja. Memang siapa yang melarangmu?” jawab Masumi.
“Tapi---“ katamu lagi sambil menatap Masumi.
“Apa?”
“Hmm..kamu tidak akan pergi diam-diam saat aku sedang mandi kan?” tanyamu.
“Mungkin” jawab Masumi sambil mengangkat kedua bahunya.
“Masumiii…….” Serumu kesal “Kalau begitu kamu ikut aku ke kamar mandi” lanjutmu.
“A..apa? Apa katamu?” tanya Masumi dengan tidak percaya.
“Ikut aku ke kamar mandi” ulangmu “kalau mau memandikan aku juga boleh….” lanjutmu sambil mengedip genit pada Masumi.
“Tidaaak……” seru Masumi “Aku tidak mau”
“Ayolah, Masumi….memangnya kenapa? aku tidak keberatan koq kamu yang memandi----“katamu dengan semangat menarik tangan Masumi.
“Aku yang keberatan….”sahut Masumi sambil berusaha melepaskan pegangan tanganmu.
“Masumiii…”
“Sudah…kamu mandi saja sendiri. Aku janji…aku tidak akan pergi” ucap Masumi cepat sambil mendorongmu menuju ke kamar mandi.
“Beneran nih tidak mau ikut?”godamu “Tidak apa-apa koq, Masumi. Kamu juga belum mandi kan? Kita bisa saling menggosok punggung dan main busa sa---“
“Tidak…” kata masumi cepat.
Kamu pun pura-pura memasang mimik kecewa.
“Tapi kalau Maya yang memintamu untuk mandi bareng, pasti kamu langsung---“
Blam….
Pintu kamar mandi langsung ditutup dengan keras oleh Masumi yang memerah pipinya.
Kamu pun tertawa terbahak-bahak.
@@@@@
Tapi..tak lama kemudian kamu membuka kembali pintu kamar mandi.
Kamu melihat Masumi sedang duduk di sofa dengan wajah serius menatap notebooknya.
“Masumi…” panggilmu.
Masumi menoleh melihatmu dan mengerutkan dahinya.
“Mandinya sudah selesai? Cepat sekali?”
Kamu menggeleng.
“A..apa maksudmu?” tanya Masumi.
“Aku belum mandi—“
“Kalau begitu, mengapa tidak lekas mandi, katanya tadi mau mandi” kata Masumi.
“Hmm itu….”
“Apa?”
“Apa kamu bisa pergi ke supermarket dan membelikan aku---“
“Apalagi yang harus dibeli?” tanya Masumi tidak sabar “Bukankah tadi sudah banyak barang yang kamu beli?”
“Ada yang lupa aku beli, Masumi….” Jawabmu.
“Besok saja” sahut Masumi pendek sambil kembali menatap notebooknya.
“Tidak bisa menunggu besok, Masumi” katamu sambil mendekati Masumi “Harus sekarang….”
“Mengapa tidak bisa? Besok saja….” Ucap masumi sambil menatap kesal padamu.
Kamu membalas tatapan Masumi dengan tatapan memohon.
“Masumi….aku membutuhkannya sekarang….segera……urgent……” ucapmu memelas.
Masumi menghela napasnya panjang.
“Memangnya apa---“
“Belikan aku….pembalut ya, Masumi” ucapmu perlahan.
“A..apa? kamu memintaku membelikanmu apa?” tanya Masumi yang mungkin tidak mempercayai pendengarannya.
“Pembalut, Masumi…” ucapmu lebih keras “Aku membutuhkan pembalut….”.
“Pem..ba…lut?” eja Masumi.
Kamu mengangguk.
“Ka..kamu—“
“Masumi, please…..belikan aku----“
Masumi menghela napasnya dan memandangimu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu benar-benar----aaargh……”ucap masumi frustasi.
“Masumiii…..”
Masumi lalu bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
“Mau ke mana?” tanyamu.
"Masih bertanya mau ke mana?” kata Masumi kesal “Tunggu aku di sini” lanjutnya sambil membuka pintu dan pergi meninggalkanmu.
@@@@@
15 menit kemudian…
Ting…tong…ting…tong……
Kamu bergegas membukakan pintu, dan tampaklah masumi sedang berdiri sambil membawa sebuah kantong dari supermarket.
“Ini…..”Katanya sambil menyodorkan kantong itu padamu dan melangkah masuk.
Kamu mengikuti langkah Masumi dan duduk di sebuah sofa.
“Masumi….banyak sekali yang kamu beli…” ucapmu ketika melihat isi kantong yang penuh dengan pembalut beraneka merk.
“Aku tidak tahu yang mana yang kamu pakai….”ucap Masumi sambil kembali menatap layar notebooknya “Jadi..kamu pilih saja sendiri”
Kamu pun mengeluarkan satu per satu pembalut yang ada dalam kantong tersebut sambil membawa tulisan yang ada di kemasannya.
“Maxi….maxi wing….night wing……slim regular…..slim wing…..” ucapmu sampai……..
Kamu mengeluarkan pembalut yang terakhir.
“Ma…mater…nity….” katamu membacanya sambil mengerutkan keningmu.
“Eh…maternity?”ulangmu cekikikan “Masumi…apa tidak salah----“
Masumi mengacuhkanmu dan tetap menatap layar notebooknya.
“Masumi……hoi…Masumi…….” Panggilmu sambil melambai-lambaikan kemasan pembalut yang ada di tanganmu.
“Apa lagi?” tanya Masumi kesal sambil mengangkat wajahnya.
“Kamu benar-benar komplit ya membelikannya, sampai pembalut untuk wanita yang melahirkan pun kamu belikan” ucapmu “Mengapa tidak sekalian pampers juga kamu belikan” lanjutmu sambil tertawa.
“Berisik…sudah bagus aku belikan” gerutu Masumi “Kalau kamu tidak mau---“lanjut Masumi sambil dengan cepat mengambil pembalut-pembalut yang berada di atas meja dan memasukkannya kembali ke dalam kantong. Lalu ia berdiri.
“Mau dibawa ke mana ?” serumu sambil mengejar Masumi.
“Buang….”sahut Masumi pendek “Aku menyesal telah berbaik hati membelikanmu---“
“Ah…jangan…..Masumi……” ucapmu cepat sambil merebut kantong itu dari tangan Masumi “Maaf..ya…maaf Masumi…….tidak lagi deh…tidak lagi meledekmu….” Lanjutmu sambil bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Tapi sebelum menutup pintu, kamu melongokan kepalamu dan menatap Masumi.
“Terima kasih buat ini semua….ya Masumi…..” ucapmu kemudian menutup pintu dan melanjutkan mandimu.
@@@@@
Setengah jam kemudian, kamu keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama bercorak sponge bob. Dan kamu menarik napas lega ketika melihat kalau Masumi masih duduk di sofa dan sibuk dengan notebooknya.
“Masumi…” panggilmu “Coba kamu tadi membelikan aku lingerie, bukannya piyama seperti ini. Aku kan jadi bisa terlihat sexy”
Tapi Masumi, seperti biasa mengacuhkanmu dan konsentrasi menatap notebooknya.
“Masumii…” panggilmu lagi.
Lagi-lagi, Masumi tidak menatapmu dan matanya fokus pada notebook.
“Masumi, kamu serius sekali menatap notebook itu sampai tidak mau menatapku” ucapmu cemberut “Ah..aku tahu….” Lanjutmu dengan mata berbinar jahil “jangan-jangan kamu lagi nonton film “itu” ya, Masumi? Karena itu mengacuhkanku..ayo ngaku…..”
Mau tidak mau, perkataanmu membuat Masumi mengangkat kepalanya dan menatapmu kesal.
“Mengaku apa? Film apa? Aku tidak mengerti perkataanmu” ucap Masumi kemudian lalu kembali menatap layar notebooknya.
“Ah, Masumi suka pura-pura deh,masa kamu tidak tahu film itu….film itu tuh…” sahutmu sambil mengedipkan matamu.
“Aku tidak tahu”
“Halah…..ngaku saja deh. Kamu sering nonton film itu kan?” desakmu “Hayo mengaku saja, Masumi. …kamu sudah ketahuan”
“Mengaku..mengaku. Dari tadi kamu ribut menyuruhku mengaku. Mengaku apa?” tanya Masumi mulai kesal.
“Ih, masih pura-pura tidak tahu—“
“Aku memang tidak tahu” potong Masumi “Bicara saja yang jelas. Tidak usah berbelit-belit”
“Huaa…begitu saja marah” ucapmu “jangan-jangan kamu darah tinggi, Masumi…”
“Kamu yang membuatku darah tinggi” sahut Masumi kesal.
“Hihihihi…tidak usah marah-marah begitu dong, Masumi” ucapmu “Aku kasih tahu deh film yang aku maksud…hmm….film yang biasa ditonton orang dewasa…”
“A..apa? film---“ucap Masumi tidak melanjutkan kalimatnya karena ia sudah bisa menduga film yang kamu maksud “Sembarangan” bentaknya kemudian dengan wajah memerah.
“Aih, Masumi, ngaku saja deh. Tidak mungkin kamu tidak pernah menontonnya“ ucapmu “itu…wajahmu sampai merah begitu, pasti---“
“Tidak”
“Ah bohong. Hayo ketahuan” ucapmu lagi “Ow..ow…kamu ketahuan---“ lanjutmu sambil menyanyikannya dan menunjuk-nunjuk Masumi.
“Tidak” seru Masumi “aku tidak pernah—“
“Hua…kasihan sekali kamu, Masumi. Sampai seumur segitu belum pernah menontonnya,kalau begitu..ayo kita nonton, Masumi” katamu dengan antusias mendekati Masumi dan duduk di sampingnya “Ayo download filmnya. Download…”
“Tidak mau”
“Ayo dong, Masumi. Apa asyiknya melihat tulisan dan grafik seperti itu” ucapmu ketika kamu melihat apa yang ada di layar notebook Masumi “lebih baik kita menonton film---“
“Tidak..”
“Masumi..ayo dong..” bujukmu “Sudah lama aku tidak melihat film---“
“Sudah lama? Jadi kamu suka menonton—“
“Sering” jawabmu cepat “Seru lho, Masumi.….jadi ayo di download”.
“TIdak mau” ucap Masumi tegas “Dasar otak mesum”
“Eh?” katamu sambil mengangkat alismu dan menatap Masumi “Mesum? Apa yang mesum, Masumi?”
“Kamu suka menonton film begituan, bukankah itu artinya otakmu---“
“Otakmu tuh yang mesum, Masumi” sambarmu tak mau kalah “Masa nonton Doraemon, di bilang mesum?”
“eh Doraemon?” kata Masumi sambil menatapmu terkejut.
“Iya”anggukmu “Do-ra-e-mon”
“Lho, bukankah kamu mengatakan film yang biasa ditonton---“
“Yang biasa ditonton orang dewasa---“ potongmu cepat “Bersama anaknya huahahahahahaha….”
“Gila…dasar gila” ucap Masumi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali menatap layar monitornya.
“Masumi, ayo dong download” ucapmu setelah kamu puas tertawa.
“Tidak”
“Ya koq masih tidak sih” sahutmu “Ah..atau kamu lebih suka mendownload film dewasa? Kalau itu juga tidak apa-apa, aku tidak keberatan…”
“Tidak mau” seru Masumi “apa kamu tidak mendengar? Aku tidak mau mendownload film apapun dan tolong jangan menggangguku, aku mau bekerja” lanjutnya sambil melotot ke arahmu.
“Iya deh..iya kalau tidak mau” ucapmu mengalah karena takut juga melihat pelototan Masumi “Dasar Masumi payah”
Setelah berkata begitu, kamu pergi meninggalkan Masumi dan meraih kantong-kantong belanjaan yang berada di sofa lain. Kamu pun asyik membongkar kantong belanjaan itu.
Tapi tak lama kemudian….
“hmm, Masumi….” Ucapmu sambil mengeluarkan baju-baju yang tadi dibelikan Masumi.
“Apa?” tanya Masumi kesal karena kamu lagi-lagi mengganggunya.
“Aku lapar…”
“Lapar? Kamu lapar?” tanya Masumi sambil menatapmu tidak percaya “Bukankah tadi kamu sudah makan banyak sekali”
“Tapi..aku lapar lagi, Masumi” sahutmu “Tidak percaya? Apa kamu mau mendengarkan suara perutmu?” tanyamu sambil bangun dan hendak mendekati Masumi.
“STOP…teriak Masumi “Jangan mendekatiku. Diam saja di situ”
“Bukankah kamu tidak percaya?”
Masumi menghela napasnya lalu berkata “Kalau lapar yang makan saja. Sepertinya di dapur ada mie instant. Kamu masak saja sendiri”
“Ah aku tidak mau mie instant, Masumi” sahutmu “Kalau mie tek-tek ada tidak?”
“EH?”
“Mie tek-tek, Masumi” ulangmu “ Ada tukang mie tek-tek yang suka lewat sini tidak?Eh..tidak mungkin ada ya?”sambungmu sambil menepok jidatmu “ini kan di kondo bukannya rumah yang ada di gang hihihihi…”
Masumi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahmu “Bener-bener deh nih anak. Ada-ada saja. Apa pula mie tek-tek itu. Aneh-aneh saja”
“Kamu tidak tahu mie tek-tek, Masumi?” tanyamu yang mendengar gumaman Masumi “Aduh, kamu kasihan sekali, Masumi. Mie tektek saja tidak tahu”
“Ka..kamu—“
“Aku beritahu ya, Masumi. Mie tek-tek itu mie yang dimasak oleh tukang mie tek-tek. Ya iyalah dimasak tukang mie tektek, masa dimasak oleh tukang las xixixixi…”
Masumi hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ocehanmu.
“Diberi nama mie tek-tek karena tukang mienya suka memukul-mukul kualinya sehingga berbunyi tek-tek-tek…gitu, Masumi” ucapmu lagi “Koq gak ‘ooh…’ sih, Masumi. Aku kan sudah memberitahumu”lanjutmu ketika Masumi hanya memandangmu kemudian mengangkat kedua bahunya dan kembali menatap layar notebook.
“Di depan rumahku, ada tuh, tukang mie tek-tek yang biasa mangkal , Masumi. Mienya uenaak banget. Sambalnya juga…fuih… pedasnya nendang…Pokoknya yummy banget….”
“Kalau begitu, kamu pulang saja ke rumahmu jadi bisa menikmati mie itu---“sahut Masumi “Dan aku bisa bebas dari kegilaan ini” sambung perlahan.
“Benar juga ya…” ucapmu membenarkan “Tapi…ah tidak.....aku lebih suka membuatmu gila hahahahahaha….”
Lagi-lagi, Masumi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kemudian, suasana kembali hening, kamu kembali sibuk mengeluarkan barang-barang belanjaan dari kantong lain.
“Hei, Masmii….” Panggilmu kemudian.
“Apa lagi sih?” tanya Masumi kesal “Kalau kamu lapar, masak saja mie instant itu. Makan saja yang ada”
“Aku tidak mau masak” sahutmu “Aku mau minta tolong—“
“Minta tolong apa? Minta di masakkan? Tidak mau”
“Bukan, Masumi---“ sahutmu “Tapi—“
“Tapi apa?”
Kamu tidak menjawab pertanyaan Masumi. Kamu hanya bangun dari dudukmu dan menghampiri Masumi dan ketika telah berada dekat dengan Masumi, kamu berkata “Ehm, Masumi…tolong pasangkan rol ini di rambutku ya” ucapmu sambil menyodorkan rol rambut berbentuk strawberry ke hadapan Masumi.
Masumi mengalihkan pandangannya dari layar monitor ke arahmu dan menatapmu dengan kesal.
“Ya benar saja---“
“Benar koq..Masumi, benar” sahutmu sambil menganggukkan kepalamu “Tolong, pasangkan ya, supaya besok rambutku jadi kriwil-kriwil”
Masumi menghela napasnya, ia terlihat sangat jengkel. Tiba-tiba ia bangun dari duduknya dan mendorongmu sehingga terduduk di sofa.
“Hei…Masumi, mau ke mana?” tanyamu “aku kan minta tolong---“
“Aku mau mandi” jawab Masumi tanpa menoleh dan menghentikan langkahnya masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras.
Kamu pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya “Ya..ampun itu orang kenapa lagi sampai menutup pintu sekuat tenaga?” tanyamu tidak menyadari (atau pura-pura tidak tahu) kalau semua itu karena ulahmu.
@@@@@
Sambil menunggu Masumi mandi, kamu tidur-tidur di sofa kemudian tiba-tiba kamu mendengar ponsel Masumi berdering.
Kamu bangun dari sofa dan melihat ponsel Masumi tergeletak di atas meja. Kamu pun meraihnya dan melihat di layar tertulis “Shiori”
“Haish…shiodong-odong, masih saja menelpon Masumi, mau apa sih dia..” gerutumu kesal sambil meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja.
Tapi ponsel itu terus berdering.
Dengan kesal, kamu meraih ponsel itu dan mematikannya kemudian meletakkannya kembali di atas meja.
Tapi, tak lama kemudian ponsel berdering kembali.
“Ya..ampun..ini shiodong-odong---“ serumu kesal sambil mematikan ponselmu. Tiba-tiba selintas ide jahil muncul dikepalamu. Kamu membuka pesan dan mengetik sebuah pesan…
‘Jangan menelponku terus, roro jambul. BERISIK!!!!”
Lalu kamu mengirim pesan itu ke nomor Shiodong-odong eh Shiori “Pingsan..pingsan deh tuh nona gemulai hahahahaha…” ucapmu sambil meletakkan ponsel Masumi kembali di atas meja.
Beberapa saat menunggu, Masumi masih belum keluar juga dari kamarnya.
“Ya ampun tuh, Masumi. Lama sekali mandinya” gerutumu. Lalu matamu kembali melihat ponsel Masumi dan meraihnya. Penasaran, kamu mengecek daftar kontak yang ada di ponsel Masumi dan membacanya satu persatu.
Kamu terhenti pada satu nama…Maya Kitajima…
“Heh….Masumi ternyata punya nomor ponselnya Maya” ucapmu “Tapi, aku berani bertaruh dia tidak pernah bernyali menghubunginya”
Tiba-tiba, seulas senyum jahil terlihat di bibirmu. Kamu melongokkan kepalamu ke arah pintu dan Masumi belum juga keluar, jadi kamu membuka kotak pesan yang mengetikkan pesan dan mengirimkannya pada Maya kemudian meletakkan kembali ponsel Masumi.
Tak lama kemudian, telepon Masumi kembali berdering.
Kamu meloncat bangun sambil menyambar ponsel Masumi dan berlari menuju pintu kamar Masumi.
Tok..tok…tok….
“Masumiiii….” Teriakmu sambil mengetuk keras pintu kamar itu “Masumiii….ayo cepat keluar…ada telpon…”
Ceklek..
PIntu kamar dibuka Masumi.
“Masumi, nih Angkat” ucapmu sambil menyodorkan ponsel itu ke depan Masumi “Maya..Maya menelponmu”
“Eh?”
“Bukan ‘eh’” ucapmu dan dengan tidak sabar kamu menekan tombol hijau yang ada di ponsel itu dan menyodorkannya kembali ke hadapan Masumi “Ayo..bicara… …cepat bicara…”
Di ujung sana, terdengar suara Maya.
“Halo? ….”
Hening….
Halo……apa….apa benar ini Mawar ungu?.”
Bersambung ke SaYaH 6....
Yo ollooohhh..."kamu" tuh ya...
BalasHapusAbis deh masumi diisengin ma "kamu"
Pokonya comblangan"mu" hrs..kudu..musti..wajib..berhasil
update lagi dong...*kemaruk*
aduh, wkwkwk
BalasHapusbs pusing 7 keliling nie akang gara2 kamu
ingat ya masumi buat maya krn masumi cinta maya, jd jgn lupa comblangin ya
takutny ntr masumi malah jatuh cinta ma kamu
hati2 ya
lanjut lg