Halaman

Jumat, 20 Januari 2012

1001 Mawar Ungu part 03


Maya masih menatap arah kepergian mobil Masumi, walaupun mobilnya sudah tidak terlihat lagi.

“Pak…Masumi….maafkan….maafkanlah aku……dan semoga anda selalu berbahagia…..” ucapnya dalam hati.

Tanpa Maya menyadari, Ryu mendekati Maya dan menepuk bahunya perlahan.

“Maya…..” panggilnya pelan.

Cepat-cepat, Maya mengusap air mata yang menggenang di kedua matanya kemudian berbalik menatap Ryu.

“Kak Ryu----“

“Maya, boleh aku menanyakan sesuatu?”

Maya mengangguk.

“Siapa dia?” tanya Ryu dengan hati-hati.

“Eh..?”

“Pria itu….” Ucap Ryu “Kamu sebenarnya mengenalnya kan?”

Maya diam dan menundukkan kepalanya. Perlahan, ia menganggukkan kepalanya.

“Lalu…mengapa kamu pura-pura tidak mengenalnya?” tanya Ryu lagi.




Maya tetap diam dan menunduk. Air mata kembali menggenangi matanya dan mulai turun membasahi pipinya.

“Ma..Maya…..”ucap Ryu yang merasa terkejut karena dilihatnya gadis itu menangis “Maafkan aku….tidak seharusnya aku---“

“Bukan…..bukan salah kak Ryu” ucap Maya cepat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya “Hanya saja aku…..aku-----“

“Maya, sebenarnya a---“

“Tante Maya…..” teriak Momo sambil berlari dan mendekati Maya “Jeluk Mom---eh kenapa jeluknya belantakan cemua di jalan?” tanya Momo ketika matanya melihat jeruk-jeruk yang berserakan di jalan.

Momo pun membungkuk dan memungut jeruk-jeruk itu dengan tangan mungilnya.

“Tante Maya, mengapa---“ ucapnya kemudian sambil mendongakkan wajahnya dan menatap Maya yang sedang mengusap air matanya “Tante Maya…..tante menangis?”lanjutnya sambil menghampiri Maya.

“Tante Maya, mengapa tante Maya menangis?” tanya Momo sambil memegang tangan Maya.

Maya menatap Momo lalu ia berlutut di depan Momo.

“Tidak…..tante tidak menangis….” Ucap Maya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bohong” sahut Momo sambil menatap lekat wajah Maya “Itu….matanya basah….” Lanjutnya lalu ia mengalihkan pandangan matanya dan menatap ayahnya.

“Papa…..mengapa tante Maya menangis?” tanya Momo pada Ryu “Papa yang malahin tante Maya ya?” tuduhnya kemudian.

“Eh…”

“Tidak, sayang….Tante Maya tidak menangis….”

“Jelas-jelas tante menangis” ucap Momo sambil kembali menatap Maya “Tante tidak ucah bohong. Momo tahu, kalau tante habis menangis….”

“Momo-chan, benar tante tidak----“

“Lalu mengapa mata tante basah?” tanya Momo “Tante bilang saja, papa kan yang buat tante menangis?”

“Tidak, Momo…..” ucap Maya sambil menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, mengapa tante menangis?”

“Tante sudah mengatakan kalau tante tidak menangis”

“Tapi---“

“Sudah..hentikan Momo-chan” ucap Ryu “Tante Maya kan sudah mengatakan kalau ia tidak menangis. Mengapa kamu terus mendesaknya?”

“Habisnya…habisnya…..”

“Tante benar-benar tidak menangis, sayang” ucap Maya mencoba meyakinkan Momo kemudian ia tersenyum “Ah, jeruk pesananmu jadi berantakan. Tadi tanpa sengaja Tante menjatuhkan kantungnya. Maaf ya, Momo chan” lanjut Maya sambil memungut jeruk-jeruk yang berserakan.

“Momo bantu-in ya Tante” ucap Momo dan dengan sigap ia memunguti jeruk-jeruk yang masih berserakan dan menyerahkannya pada Maya.

“Momo Chan” panggil Ryu.

“Iyaa~ papa….” Sahut Momo sambil menatap Ryu.

“Ajak tante Maya masuk ke dalam ya…”

Momo mengangguk lalu mendekati Maya.

“Tante Maya, kita masuk yuk “ ajaknya sambil menggandeng tangan Maya.

Maya menatap ryu dan dilihatnya Ryu mengangguk.

“Cini, Momo bantu bawa-in jeluknya” ucap Momo sambil mengambil beberapa jeruk di tangan Maya. “Papa…Momo macuk duyu, ya….” Ucapnya pada Ryu. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah.

Ryu mengikuti langkah mereka berdua dari belakang, tetapi ia tidak masuk ke dalam melainkan duduk di salah satu kursi yang ada dalam teras rumahnya.

“Pria itu…rasanya aku pernah melihatnya…” gumam Ryu sambil berusaha mengingat-ngingat di mana dia pernah melihatnya “Apa sebenarnya hubungan pria itu dengan Maya? Apa pria itu yang menyebabkan Maya kadang terlihat sedih? Tapi….mengapa tadi Maya pura-pura tidak mengenalnya? Ada apa ini sebenarnya? Aku benar-benar tidak mengerti…..”

@@@@@

Masumi melajukan mobilnya dengan kencang. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran.

“Mengapa? Mengapa Mungil? Apakah kamu benar-benar tidak mengenal aku? Tapi bila kamu benar hilang ingatan, mengapa namamu masih Maya? Bukankah kalau seseorang itu hilang ingatan, ia melupakan juga namanya? Tidak mungkin, itu hanya sebuah kebetulan, kalau orang yang menolongmu memanggilmu Maya. Atau….kamu sebenarnya hanya berpura-pura karena kamu begitu membenci aku sehingga kamu tidak mau lagi mengenal aku?”

Begitu larutnya, Masumi dalam alam pikirannya, membuatnya tidak memperhatikan kalau lampu lalu lintas berwarna merah. Masumi terus saja melajukan mobilnya.

Tiba-tiba……

Tiin…tiiin….tiiiiiiiin……….

Sebuah mobil yang muncul di depan Masumi membunyikan klaksonnya sehingga membuat Masumi tersadar. Dan dengan cepat, Masumi membalikkan setir untuk menghindari tubrukan.

Ckiiiii……..ttt………..

BRAAAK……

@@@@@

Maya masuk dalam kamarnya kemudian ia duduk di lantai dan menarik laci yang berada di bawah lemarinya. Di dalam laci itu penuh dengan origami mawar ungu, yang selalu di buatnya.

Perlahan, tangan Maya terulur dan menyentuh satu persatu origami mawar ungu yang ada di dalam laci tersebut. Origami mawar ungu itu dibuatnya dengan segenap perasaannya. Perasaannya yang selama ini dipendamnya pada mawar ungu….pada pak Masumi.

“Pak Masumi…..maafkan aku….maafkan kalau aku pura-pura tidak mengenalimu…..” gumam Maya “kalau aku mau jujur, sebenarnya ketika melihatmu aku sangat ingin memelukmu….aku sangat rindu padamu….tapi aku tidak dapat melakukannya…aku tidak dapat mengatakannya……aku benar-benar tidak dapat----jadi maafkanlah aku dan lupakanlah aku……itu yang terbaik….hanya itu…..”

Sambil bergumam seperti itu, air mata Maya kembali menetes dan membasahi origami mawar ungu yang berada di bawahnya.

@@@@@

“Cepat, pak…cepaaat” ucap Shiori pada sopir akan mengantarnya ke rumah sakit.

Pikirannya sudah benar-benar tidak menentu. Ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Masumi. Tadi, ia baru saja menerima telepon dari pihat rumah sakit yang memberitahukan bahwa Masumi mengalami kecelakaan.

“pak…tolong lebih cepat….” Ucap Shiori lagi dengan tidak sabar. Ia benar-benar sudah tidak bisa menunggu. Ia ingin segera melihat Masumi.

“Baik, Nona” sahut Sopir itu sambil menambah kecepatan mobilnya.

Beberapa menit kemudian, Sopir itu memberhentikan mobilnya di depan rumah sakit.

Dengan setengah berlari, Shiori memasuki rumah sakit dan bergegas menuju meja informasi.

“Permisi…..” ucap Shiori pada seorang perawat yang ada di sana.

“Ya, bu. Ada yang bisa kamu bantu?” tanya perawat itu dengan ramah.

“Korban kecelakaan yang tadi di bawa ke sini…Bapak Masumi hayami….”

“Sebentar, bu. Saya cek dulu” ucap perawat itu sambil membaca buku yang berisi daftar-daftar orang yang masuk ke rumah sakit itu. “Beliau ada di Emergency room, bu” lanjutnya tak lama kemudian pada Shiori.

“Terima kasih” ucap Shiori sambil menganggukkan kepalanya. Ia pun bergegas melangkahkan kakinya menuju emergency room.

“Semoga kamu baik-baik saja, Masumi…semoga kamu tidak apa-apa” ucap Shiori berulang-ulang.

“Maaf… biarkan kami lewat dulu, bu” ucap seorang petugas pada Shiori ketika ia sudah berada di depan Emergency Room dan hendak masuk ke dalam.

Shiori pun menyingkir dan memberi jalan pada beberapa petugas yang sedang mendorong ranjang keluar dari ruangan itu.

Setelah petugas itu lewat, Shiori melanjutkan langkahnya masuk ke dalam Emergency Room, tapi di depan pintu, ia kembali menghentikan langkahnya karena ia melihat di dalam ruang emergency, tidak ada siapapun. Bahkan ketiga ranjang yang berada di sana kosong.

“Di mana? Di mana Masumi?” gumamnya dengan pikiran yang mulai tidak menentu. Sebersit pemikiran muncul di benaknya “apa jangan-jangan---“

Lalu dengan cepat ia mengarahkan pandangannya ke arah beberapa petugas yang tadi melewatinya sambil mendorong ranjang pasien….Ia tadi sempat melihat bahwa di atas ranjang itu ada seorang pasien yang sudah ditutupi kain putih.

Deg…..

Wajah cantik Shiori seketika itu juga pucat pasi, Jantungnya serasa berhenti dan kakinya terasa lemas, cepat-cepat ia berpegangan pada pintu di dekatnya. Tatapan matanya terus tertuju pada ranjang pasien yang masih di dorong oleh beberapa petugas itu, yang semakin menjauh.

“Ja..jadi yang terbaring di sana itu a..adalah…Ma..Masumi?” tanyanya perlahan “Ma..Masumi sudah---- i..ia su…sudah----“ lanjutnya dengan gemetar. Air mata berlinang membasahi pipinya yang mulus

“Ti...Tidaak.....Ma...Masumi tidak mungkin---” ucapnya lagi kemudian ia merasa pandangan matanya menjadi gelap.

@@@@@

“Tante Maya….” teriak Momo sambil membuka pintu kamar Maya dan menghampiri Maya.

Maya segera menghapus air matanya dan berbalik menatap Momo.

“Momo chan…..ada apa?” tanyanya sambil menutup laci.

“Tante Maya lagi apa di citu?” kata Momo balik bertanya ketika melihat Maya sedang duduk di lantai.

“Ah tidak..tidak apa-apa” jawab Maya cepat sambil bergegas berdiri.

“Benalkah?” tanya Momo lagi menatap Maya tidak percaya.

“Benar” sahut Maya “Tadi tante sedang merapikan barang-barang yang ada di laci”

Momo mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengerti.

“Oh ya….Momo chan, mengapa mencari tante?” tanya Maya kemudian.

“Momo di suluh papa mengajak tante makan” jawab Momo “Ayo, tante. Kita makan, Momo cudah lapal…”

“Hmm…baiklah” sahut Maya dan dengan segera Momo pun menggandeng tangan Maya dan mengajaknya keluar kamar.

Momo terus menarik tangan Maya melewati ruang tamu menuju ruang makan. Saat itulah, tanpa sengaja, Maya mendengar berita dari televisi yang memang dinyalakan oleh Ryu.

“Pemirsa….tadi telah terjadi kecelakaan lalu lintas di lampu merah X. sebuah mobil sedan berwarna hitam mencoba menghindari sebuah truk. Sedan itu berhasil menghindari truk tapi naas, mobil itu malah menubruk trotoar. Diketahui dalam mobil itu hanya ada satu korban, yaitu pengemudi mobil tersebut. Korban adalah seorang pria yang menurut informasi bernama Masumi Hayami, yang merupakan---“

Deg….

Langkah Maya langsung terhenti ketika mendengar nama Masumi. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke layar televisi.

“Tante Maya…..” kata Momo sambil menoleh dan menatap Maya “Ayo…jalan….”

Tapi Maya hanya diam saja dan terpaku menatap layar.

“…Saat ini korban telah dibawa ke rumah sakit umum Tokyo. Menurut informasi yang kami terima, korban----“

Tiba-tiba saja, Maya menarik tangannya yang di pegang oleh Momo dan membalikkan badannya dan berlari keluar rumah.

“Tante Maya…..” seru Momo yang terkejut “Tante mau ke mana?” lanjutnya sambil mengejar Maya. Tapi langkah kakinya yang kecil tidak berhasil mengejar Maya, jadi ia hanya terus berteriak memanggil Maya.

Ryu yang mendengar Momo terus berteriak memanggil Maya keluar dari dapur dan segera menghampiri Momo.

“Momo chan, ada apa?” tanya Ryu sambil berjongkok di depan Momo. Dan Momo pun langsung memeluk Ryu.

“Momo chan, ada apa?” ulang Ryu.

“Papa….tante Maya…tante Maya…..”jawab Momo dengan mata berlinang dan tangan kecilnya menunjuk ke arah perginya Maya..

“Tante Maya kenapa, sayang?”

“Tante Maya tiba-tiba pelgi ninggalin momo” jawabnya.

“Eh?”

“Tante Maya lali, papa” kata Momo lagi “Momo cudah panggil-panggil, tapi tante Maya telus caja lali. Tante Maya tidak mau peduli-in Momo lagi” lanjutnya sambil menangis keras.

“Cup..cup..cup….” ucap Ryu mengusap-ngusap rambut Momo “Jangan menangis, sayang. Mana mungkin tante Maya tidak peduli dengan kamu---“

Momo mengangkat kepalanya dan dengan wajah yang basah menatap Ryu.

“Tapi…tapi tante Maya tiba-tiba lali…..”

“Momo chan tahu mengapa tante Maya tiba-tiba lari?” tanya Ryu penasaran.

“Tante Maya tadi nonton tv, telus langsung lali…”

“TV?”

Momo mengangguk.

Ryu mengalihkan pandangannya pada televisi yang tidak jauh di depannya, tapi tayangan televisi itu telah menayangkan acara kuis. Jadi ia kembali menatap Momo.

“Apa yang tadi ditonton tante Maya, Momo-chan?”

“Hmm…tadi…” ucap Momo sambil mengerucutkan bibirnya mencoba mengingat “Tante Maya menonton belita---“

“Berita? Berita apa?”

“olang yang ada di tv bilang ada mobil tublukan, papa” sahut Momo.

“Mobil tubrukan?”gumam Ryu “kecelakaan?siapa yang kecelakaan?apa Maya mengenal orang yang kecelakaan itu sehingga ia---“

“Papa….”

Panggilan Momo membuat Ryu tersadar dan pemikirannya terputus.

“Ya sayang?”

“Tante Maya---?”

“Hmm…tante Maya, mungkin mendadak teringat kalau ia ada urusan penting---“

“Ulusan penting?”tanya Momo “Ah…kaya papa yang cuka ada lapat mendadak ya?”

“Benar” angguk Ryu “Nanti tante Maya juga akan pulang lagi ke sini”

“Benalkah?”

“Tentu saja” sahut Ryu “Sekarang lebih baik kita makan, kamu bukannya sudah lapar?”

Momo mengangguk.

“Kalau begitu, ayo kita makan” ucap Ryu sambil membopong Momo.

Sambil berjalan menuju ruang makan, Ryu bertanya-tanya dalam hatinya “Mengapa Maya tiba-tiba lari keluar? Apakah ada kaitannya dengan berita kecelakaan yang menurut Momo disiarkan di televisi? Siapa orang yang kecelakaan itu dan apa hubungan orang itu dengan Maya?”

Ryu hanya bisa menghela napasnya perlahan. Ia tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu.

@@@@@

Maya terus berlari keluar dari rumah Ryu. Saat ia melihat taksi yang lewat, ia segera menyetop taksi tersebut.

“Rumah sakit Tokyo, pak” ucapnya ketika sudah berada di dalam taksi dan taksi pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.

Di dalam taksi, pikiran Maya benar-benar tidak menentu.

“Pak Masumi…apa anda kecelakaan gara-gara aku? apa semua ini karena aku?” gumam Maya berulang kali dan tanpa sadar ia menitikkan air mata “Aku harap anda baik-baik saja, pak Masumi. Kalau terjadi hal yang buruk pada anda, aku tidak akan dapat memaafkan diriku…..”

@@@@@

Rumah sakit Tokyo….

“Nona…nona……”

“Shiori….”

Perlahan Shiori membuka matanya. Samar…ia melihat sekelilingnya tampak samar, jadi ia pun mengejap-ngejapkan matanya.

“Shiori….kamu sudah sadar?”

Shiori menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Ia melihat seorang pria sedang menatapnya dan terus memanggil-manggil namanya. Tapi ia tidak dapat melihat jelas siapa pria itu.

“Shiori….” Panggil pria itu.

Shiori menutup matanya kemudian membuka matanya lagi. Lalu wajah pria itu mulai terlihat jelas olehnya.

“Ma..masumi?” ucapnya perlahan saat ia mengenali pria itu.

“Shiori..akhirnya…akhirnya kamu sadar” ucap pria itu yang memang adalah Masumi terdengar lega.

“Ukh…” kata Shiori yang mencoba bangun.

“Shiori, jangan bangun dulu. Tubuhmu masih lemah”

“Aku..aku tidak apa-apa, Masumi. Tolong bantu aku duduk” ucap Shiori sambil berusaha untuk bangun.

“Shiori…”

“Masumi, please…”

Akhirnya, dengan terpaksa Masumi pun membantu Shiori duduk kemudian Shiori meminta Masumi untuk duduk di dekatnya, di tepi ranjang.

“Aku…aku tidak sedang bermimpi kan, Masumi?” tanya Shiori sambil menatap Masumi “Kamu…kamu baik-baik saja?” lanjutnya sambil perlahan mengulurkan tangannya dan memegang pipi Masumi serta membelainya dengan lembut..

“Aku baik-baik saja, Shiori. Hanya luka ringan” sahut Masumi yang kemudian meraih tangan Shiori di pipinya dan dengan perlahan melepaskannya.

“Aku benar-benar sangat khawatir, Masumi. Aku kira kamu..kamu----“ kata Shiori lagi sambil terisak kemudian tiba-tiba ia memeluk Masumi.

“Shi..shiori….” kata Masumi yang terkejut “lebih baik kamu kembali beristirahat” lanjutnya sambil mencoba melepaskan pelukan Shiori, tapi Shiori memeluk Masumi dengan erat, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Masumi.

“Tadi…aku benar-benar takut, Masumi. Aku kira aku akan kehilangan dirimu” bisiknya “Syukurlah…syukurlah kamu tidak apa-apa, Masumi….”

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian itu. Maya yang telah sampai ke rumah sakit segera menuju ruang emergency room setelah perawat memberitahukannya. Di depan emergency room, langkahnya terhenti menyaksikan pemandangan itu.

Deg…

Hatinya langsung terasa nyeri dan sakit. Tanpa dapat dicegahnya, air mata turun membasahi pipinya. Maya pun segera berbalik dan berlari menjauhi emergency room.

Bruk….

“Maaf…maaf….” ucap Maya sambil menundukkan kepalanya ketika tanpa sengaja ia menubruk seseorang, dan ia kembali berlari keluar rumah sakit.

“Maya?” gumam orang yang ditubruk Maya, yang ternyata mengenalinya. Orang itu pun segera mengejar Maya, tapi Maya keburu masuk ke dalam taksi yang berhenti di depan lobby.

“Maya…tunggu…..” teriak orang itu.

Tapi, Maya yang sudah berada dalam taksi tidak mendengar teriakan itu dan taksi itu pun melaju semakin jauh dan keluar dari halaman rumah sakit.

Orang itu pun hanya bisa menghela napasnya dan masuk kembali ke dalam rumah sakit.

Saat orang itu akan menuju emergency room, ia berpapasan dengan Masumi yang baru keluar dari sana.

“Pak Masumi….”

“Hijiri, kamu sudah datang?” tanya Masumi yang mengenali orang yang menyapanya.

Hijiri mengangguk.

“Anda baik-baik saja, pak Masumi? Maaf saya datang terlambat. Jalanan macet” ucap Hijiri.

“Aku tidak apa-apa, Hijiri. Hanya luka kecil di pelipis” sahut Masumi sambil menunjukkan pelipisnya yang diperban.

“Lalu…nona Shiori? Di telpon anda mengatakan kalau nona Shiori pingsan. Apa beliau baik-baik saja?”

“Shiori baik-baik saja. Sekarang ia sedang beristirahat” jawab Masumi lagi.

“Lalu anda…mengapa anda tidak beristirahat?”

“Aku sudah tidak apa-apa, Hijiri. Aku mau mengurus administrasi agar bisa segera keluar dari sini” sahut Masumi.

“Kalau begitu, saya antar, pak Masumi” ucap Hijiri.

Masumi mengangguk kemudian mereka berdua berjalan bersama menuju ruang administrasi.

“Hmm…pak Masumi….” Ucap Hijiri tiba-tiba.

“Ya?”

“Tadi saya melihat Maya ada di sini. Dia---“

“Maya?” tanya Masumi sambil menghentikan langkahnya dan menatap Hijiri “Tidak mungkin.Kamu pasti hanya salah lihat. Anak itu tidak mengenali aku” lanjutnya dengan nada sendu.

“Eh? Maksud bapak?”

“Tadi aku sudah menemuinya, Hijiri. Tapi dia..dia tidak mengenali aku”

“Maya tidak mengenali anda?” tanya Hijiri tidak percaya.

“Benar” angguk Masumi “Dia tidak mengenaliku”

“Itu tidak mungkin, pak Masumi” sahut Hijiri “Karena tadi saya melihat Maya di sini---“

“Hijiri, sudah aku katakan kamu mungkin salah orang”

“Saya tidak mungkin salah orang, pak Masumi. Karena dia….dia menubruk saya. Jadi saya dapat melihat wajahnya dengan jelas” ucap hijiri yakin.

“Benarkah…apa yang kamu katakan, Hijiri?” tanya Masumi tidak percaya “Tadi…tadi Maya berada di sini dan tanpa sengaja menubrukmu?”

“Benar, pak Masumi” angguk Hijiri “Bahkan saya dapat melihat kalau ia menangis---“

“Menangis? Dia menangis?”

Hijiri mengangguk. “Saya melihat air mata membasahi pipinya , pak Masumi. Saya khawatir, jadi tadi saya berusaha mengejarnya tapi Maya keburu naik ke dalam taksi dan pergi meninggalkan rumah sakit”

“Hijiri, kamu melihat Maya datang dari mana ketika berlari ke arahmu?”

“Hmm…sepertinya dari arah emergency room, pak Masumi” jawab Hijiri.

“Emergency room?” gumam Masumi “Apa jangan-jangan----tidak…tidak mungkin” lanjutnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis dugaan yang tiba-tiba muncul

“Pak Masumi, ada apa?” tanya Hijiri yang melihat Masumi menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hijiri, aku punya tugas untukmu. Aku ingin kamu menyelidiki siapa pria yang tinggal bersama Maya. Aku ingin informasi tentang dia selengkapnya termasuk hubungannya dengan Maya” kata Masumi kemudian.

“Baik, pak” sahut Hijiri “Saya akan segera mencari tahu”

“Kamu pergi saja sekarang. Aku ingin informasi secepatnya” kata Masumi lagi.

“Kalau begitu, saya permisi, pak Masumi” ucap Hijiri sambil membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan Masumi.

Sepeninggalan Hijiri, Masumi masih berdiri diam di tempatnya berdiri. Dalam benaknya kini muncul pertanyaan.

“Mungil, benarkah…..benarkah apa yang dikatakan Hijiri kalau kamu tadi ada di sini? Hanya kebetulan atau karena kamu mengkhawatirkan keadaanku?Jadi….tadi ketika aku menemuimu, kamu hanya pura-pura tidak mengenaliku?mengapa? Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, mungil?”


Bersambung ke part 4....

20 komentar:

  1. kenapa ga shiori aja yg mati...
    *sadismus maximus :P

    BalasHapus
  2. jiaaa betsu lama muncul, kentaaang.........XDDD

    BalasHapus
  3. hadeh shiodong2
    liat dulu donk tuh orang
    buka kain penutupnya
    itu bukan masumi tauk *sotoy*

    hehehhee...
    masumi kaga ade matinya

    *geplak maya*

    BalasHapus
  4. jangan sampe masumi hilang ingatan deh

    BalasHapus
  5. kemana..kemana..kemana...
    Masumi dirimu kemana.... :p

    Lanjoooot.....*awas klo ga diterusin :)

    BalasHapus
  6. Masumi kan bareng aku disini haha.
    Lanjuuuut.....

    BalasHapus
  7. Yah,perasaan dikit yak? hehehe..Dilanjut ya cupid..awas lho kalo nggak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. masa sih dikit sis muri?ngetiknya sampe pegel tuh xixixi...
      Hiii...ngancem lg...takuuut :p

      Hapus
  8. Jiahhhhh...masih muncul jg tuh siodong2...
    Kenapa bukan dia aja yg ditabrak mobil yak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. haish...gak boleh gt,sis heri. Kasian kan siodong2 wkwkwkwk...

      Hapus
  9. hadeeehhh....shiomay disingirkan aja ngeganggu aja huuuu...>.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau disingkirin kemana?biar gmn pun kan dia masih istrinya masumi qiqiqiqi...

      Hapus
  10. cupidz...emangnya orang Jepang tau ya kata tubrukan? ga bisa nahan senyum deh waktu bacanya. Tpi jadi sedih waktu baca lanjutannya. Thanks ya sdh mendengarkan suara hatiku untuk sgera apdet. He...3x. Emang paling enak jadi DC ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkakakaka...salah ya,sis desi?harusnya tabrakan XDD biarlah,anggap aja orang jepun gaul ;p

      Hapus
    2. diceraikan saja shiomay

      Hapus
  11. Siomay kenapa pingsannya ga seterusnya aja sih...
    jgn lama2 apdetnya Cupid :p

    BalasHapus
  12. saya protes....kurang banyak!!!tambah lagi ya, pliss...:)

    BalasHapus
  13. yeeee....bersambungg lagiii.... kapannn di apdet nya lagi nii.... huwaaaaaaa............... Heppy ending plisssssssssssssssss,,,,,,,,,,,,

    BalasHapus
  14. saking kelamaan updatenya, jadi lupa sama jalan ceritanya dech.terpaksa dan memang harus baca dari AWAL !!!
    lanjuuuut ga pake lama ntar mesti baca dari awal lagi

    BalasHapus