Kekasih… Jadi… aku ini sudah resmi jadi kekasihnya Pak Masumi yaa? Pasti bohong kan?
Kemudian Maya mencubit pipinya, “aaaawwww! Sakiit!” jeritnya sambil mengusap-usap pipi kanannya.
Berarti benar. Aku jadi kekasihnya Pak Masumi…Hihi… Pak Masumi… pipi Maya merona dadu. Lalu dia mengingat Pak Masumi yang tadi mendatanginya di taman. Dia tidak jadi menikah dengan Nona Shiori… tadi dia bilang, karena aku berteriak di gereja, malah menyadarkannya… Horeee… aku berhasiill…
Sejak sampai di rumah, Maya tidak bisa berhenti memikirkan Masumi. Berikut fakta kalau Masumi sudah menobatkannya sebagai ‘kekasih’.
Dan Pak Masumi juga berjanji akan menghubungiku lagi, mau mengajakku kencan. KYAAA!!! Maya kembali menjerit kesenangan dalam hati.
Ketika Maya datang ke gereja tadi, dia sama sekali tidak menyangka kalau teriakan putus asanya itu akan menghasilkan efek sedemikian besar. Terlebih saat orang-orang yang berpakaian serba hitam itu melemparkan Maya keluar gereja, rasanya dia sudah ingin mati saja.
“Maya…”
Tapi kalau Pak Masumi yang tiba-tiba membatalkan pernikahannya seperti itu, apakah tidak apa-apa? Aku malah jadi khawatir.
“Maya!!”
Lalu Nona Shiori…Aku teringat wajahnya yang tadi memandangku… begitu… bengis? Aku tidak percaya kalau dia bisa memiliki ekspresi seperti itu. Begitu berbeda. Padahal selama ini dia selalu baik dan lembut.
“MAYAAA!!!”
PLOK
Rei menepukkan tangannya di depan wajah Maya.
“Oh… Rei?” Maya mengalihkan wajahnya dari jendela kamar.
“Dari tadi bengong mulu. Apa kau tidak merasa dingin?”
“Eh… dingin?” Maya celingukan sambil memegang kedua pipinya. Dingin. “Ya ampun, sudah berapa lama aku duduk di dekat jendela ini? Aku tidak sadar kalau hari sudah gelap.”
“Dasar kebiasaan!” Hardik Rei. “Sekarang sudah musim gugur, apa kau tidak tahu kalau malam lebih cepat datang, dan suhu udara sering kali menurun drastis? Kalau kau masuk angin bagaimana?”
Maya mengusap-usap lengannya, dia baru benar-benar menyadari kalau saat itu cuaca sudah benar-benar dingin. Mungkin sudah di bawah 10 derajat Celcius. Padahal siang tadi suhunya lumayan hangat.
Aku ini benar-benar bodoh. Bagaimana mungkin aku yang bodoh ini bisa bersanding dengan Pak Masumi…
“MAYA! Bukannya buru-buru tutup jendelanya, malah bengong lagi! Kau ini benar-benar deh!” Rei bergegas menutup jendela. “Kau ini kenapa sih? Ada masalah apa?”
“Eh? Masalah?”
“Iya, maksudku, apa kamu terlibat kesulitan...”
“Rasanya tidak.”
“Lalu bagaimana dengan Bidadari Merah? Apakah sudah diputuskan biro mana yang akan mementaskannya?”
“Belum. Aku masih harus mendiskusikannya dengan Pak Kuronuma dan Ketua Persatuan Drama Nasional. Banyak sekali biro yang menginginkan untuk terlibat pementasan Bidadari Merah. Benar-benar membuat pusing. Aku tidak mengerti bagaimana dulu bu guru bisa terus bertahan untuk tidak menyerahkan hak pementasannya.”
Rei tersenyum, “guru kita itu luar biasa, Maya. Dan kau pun harus kuat juga.”
“Iya, Rei.” Aku mengangguk sekuat tenaga. Tiba-tiba perutku bergemuruh. “Ah… maaf.” Wajahku memerah.
Rei tersenyum. “Ayo kita masak makan malam.”
***
Sementara itu di kediaman Hayami.
Eisuke masih termenung di dalam kamarnya. Lelaki tua itu masih tidak percaya dengan seluruh peristiwa yang terjadi hari itu. Semua rencananya gagal. Dia pun tidak percaya kalau Takatsu Group yang terkenal sangat kuat itu, tiba-tiba mengalami kerugian besar.
Begitu dia meninggalkan gereja siang tadi, dengan bantuan informannya, dia meminta seluruh informasi keuangan Takatsu Group. Hasil laporannya itu begitu mengejutkan. Beberapa anak perusahaannya benar-benar tidak dapat bertahan akibat krisis moneter yang melanda dunia belum lama ini. Ada beberapa anak perusahaan mereka yang berbasis di Eropa, yang paling buruk terkena dampaknya. Sehingga memaksa mereka untuk menutup beberapa kantor cabangnya.
Yang terburuk adalah, jatuhnya armada pesawat terbang milik perusahaan mereka sekitar dua tahun lalu. Setelah satu tahun penyelidikan yang dilakukan oleh Biro Keamanan Transportasi Negara, akhirnya berhasil diketahui penyebabnya; human error, kesalahan salah satu teknisi mereka yang lengah menempatkan salah satu baut pada bagian sistem hidrolik pesawat, dengan perbedaan hanya satu millimeter saja, namun efeknya sangat mematikan.
Biro tersebut juga memaksa Takatsu melakukan pemeriksaan dan perbaikan besar-besaran dalam armada mereka. Untuk mencegah terjadinya kesalahan yang sama. Dan semua itu terpaksa harus dilakukan, termasuk menghentikan sementara seluruh penerbangan selama beberapa lama. Hal ini juga berpengaruh terhadap citra perusahaan; mereka sebelumnya terkenal sebagai salah satu yang terbaik di seluruh dunia. Namun, karena peristiwa ini, banyak juga penumpang yang mulai meragukan. Ditambah lagi mereka harus membayar denda, karena penyebab kecelakaan itu bukan disebabkan natural disaster. Kesemuanya ini lumayan menyebabkan goyahnya keuangan dalam perusahaan penerbangan milik mereka.
Yang terakhir, kerugian akibat gempa dan tsunami yang belum lama terjadi. Pabrik Petrokimia milik mereka yang terletak di area Sendai terkena dampaknya; meledak saat gempa terjadi. Karena itu pula, mereka terpaksa berhenti untuk beroperasi selama beberapa waktu. Sampai saat laporan diturunkan, mereka masih belum bisa beroperasi 100%. Selain itu ada juga perusahaan transportasi dan ekspedisi yang tersebar di sepanjang garis pantai timur laut Jepang, yang juga terkena dampak langsung dari bencana alam itu.
Setelah membaca seluruh laporan itu, Eisuke menghela napasnya. Seolah semua gempuran terhadap Takatsu Group itu datang bertubi-tubi. Eisuke sudah pernah mendengar desas-desus kalau calon keluarga besannya itu sedang dilanda masalah. Namun dia tidak menyangka kalau keadaannya cukup serius. Sebenarnya, bila serius ditangani, masalah ini bisa saja ditanggulangi. Dan musti dipegang oleh orang yang benar-benar memiliki kemampuan yang sangat brilian. Tidak heran Tenno Takamiya sangat menginginkan Masumi menjadi anggota keluarga mereka. Eisuke yakin Takamiya telah memperhatikan sepak terjang Masumi selama beberapa lama. Dan baik Eisuke maupun Takamiya bisa membantu Takatsu untuk keluar dari keadaan krisisnya. Tidak pernah ada keraguan akan kemampuan Masumi dalam hati Eisuke.
Eisuke yang pernah berhutang budi pada mereka, merasa harus berbuat sesuatu. Yah, itu pun bila mereka masih mau menerima kedatanganku. Batin Eisuke. Biarlah aku beri waktu biar mereka mendinginkan diri dulu, sambil menentukan langkah terbaik untuk mereka.
Mengenai Masumi... Eisuke memutuskan untuk tidak akan turut campur kehidupan cintanya. Biarlah dia yang memutuskan sendiri. Setelah kejadian hari ini, tidak mungkin baginya untuk terus memaksa Masumi. Eisuke juga sudah membaca laporan mengenai gerak-gerik anak angkatnya itu dalam usahanya mementaskan Bidadari Merah. Masih ada beberapa poin yang masih meragukan Eisuke. Seberapa jauh Masumi telah memiliki Bidadari Merah, apakah memang telah memiliki seutuhnya seperti yang diakuinya sore tadi, atau memang itu hanyalah gertakkannya saja?
Tidak disangkal lagi, mementaskan Bidadari Merah adalah impiannya. Memang dia telah menghancurkan banyak orang dalam memenuhi ambisinya itu, termasuk Chigusa. Kalau mau jujur, memang banyak hal yang dia sesali, terutama hal-hal yang menyangkut Chigusa. Eisuke menjadi ragu, apakah memang lebih baik Masumi jadi pelindung Bidadari Merah saja, dengan tujuan akhir dapat memperoleh seluruhnya? Termasuk si Bidadari Merah itu sendiri dalam genggaman mereka? Dan… kalau melihat kemungkinan hubungan Masumi dengan Maya Kitajima… Pikiran Eisuke terhenti.
Maya Kitajima… sebuah senyuman lembut terbayang di wajahnya. Dia itu benar-benar anak ajaib. Berhasil menyihir dirinya dengan kekuatan eskrim. Bisa-bisanya aku berpikir kalau Masumi yang telah mengurusnya selama ini tidak terpengaruh.
“Hahahahaaa…” tiba-tiba suara tawanya menggema di dalam ruangannya.
Sebenarnya Eisuke agak menyukai ide bersatunya Masumi dengan Maya.
Lelaki tua itu kembali tersenyum. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan akan memiliki menantu seperti Maya. Gadis polos penyuka eskrim. Mungkin... Para dewa di atas sana telah mengutuk para lelaki Hayami untuk mencintai Bidadari Merah. Hanya saja yang satu diberi kesempatan untuk membahagiakan si Bidadari, tidak seperti dirinya yang begitu dibutakan oleh nafsu.
Mungkin memang lebih bagus begini. Masumi akan punya kesempatan memiliki kesempatan lebih besar untuk mementaskan Bidadari Merah. Terbayang di kepala Eisuke puluhan juta yen yang akan mengalir ke dalam rekening Daito. Belum lagi keuntungan yang akan mereka dapatkan bila Maya benar-benar menikah dengan Masumi. Pasti anak angkatnya itu tidak akan mengijinkan siapapun menangani Maya. Kecuali dia, dan itu artinya DAI-TO.
"Hahahaa..." Kembali Eisuke tertawa puas. Si anak singa ternyata tidak sebegitu menakutkannya, tetap masih bisa dikendalikan putusnya.
Tak akan kubiarkan kau lolos dari tanganku, Masumi…
***
Tanpa menyadari maksud licik Eisuke, di kamarnya Masumi sedang bimbang untuk menelepon Maya.
Hari ini memang sungguh luar biasa. Kemarin di jam yang sama, Masumi merasa begitu nelangsa. Begitu ingin menggagalkan semuanya, namun dia terlalu takut. Benar-benar pengecut bodoh, lelaki berumur 31 tahun, tapi tidak berani mengambil tindakan tegas. Begitulah dia berpikir tentang dirinya sendiri. Tapi dia berjanji kalau mulai saat ini semuanya akan berubah. Demi Maya, dia tidak akan menjadi lelaki seperti itu lagi.
Saat itu sudah hampir jam 10. Masumi ingin mengajak gadis itu kencan. Tapi lelaki itu ragu, bila dia langsung muncul di depan umum bersama, pasti mereka berdua akan menjadi santapan para wartawan gosip, bagaikan burung nazar, mereka akan melahapku dan Maya... Terutama Maya. Mereka pasti akan menjadikannya pihak yang jahat dan Shiori sebagai korbannya.
”Aaarrggghhh... Aku sungguh tak rela!”
Kembali Masumi melihat jam, menimbang-nimbang, dan akhirnya memberanikan diri menekan nomor telepon Maya.
Terdengar nada sambung.
Masumi berdebar-debar.
Tidak ada jawaban.
Masumi melengos.
Matanya kembali mengarah ke jam yang ada di nakas. Jarum jam menunjukkan pukul 10.12 malam. Masumi kembali ragu, apa memang benar Maya sudah tidur, atau belum. Lelaki itu menggerak-gerakkan kakinya, gelisah.
Akhirnya setelah menimbang beberapa lama, Masumi memberanikan diri menelepon Maya. Nada sambung kembali terdengar, setelah nada yang ketiga,
“Moshi moshi, Maya desu.” Terdengar suara Maya menjawab telepon.
“Maya.”
“Pak, Masumi?”
“Ya, sayang.”
“Pak Masumi!”
“Ya Sayang. Ini aku.”
“Pak Masumii… Jangan menggodaku.”
“Menggodamu?” Masumi mengelak. “Aku tidak menggodamu, Sayang.”
“Iya saja. Dasar menyebalkan!”
“Tidak kok. Coba kau katakan, menggodamu bagaimana?”
Maya tidak menjawab.
“Maya?”
“Anda… me…me…memanggilku…sa-sa-sayang…”
Masumi yakin kalau wajah gadis itu memerah. Sebuah senyuman lembut terbayang di wajah lelaki tampan itu.
“Jadi aku tidak boleh memanggilmu sayang? Bukankah kita ini sekarang sudah menjadi kekasih?”
“I-iya…” suaranya malu-malu.
“Oh… Maya… andaikan aku bisa melihat wajahmu.”
“Pak Masumi…”
“Ya, Sayang…”
“Pak Masumiii…”
“Ada apa, Sayang?”
“Aaang… sudah ah. Mengganggu terus.”
Di seberang sana Masumi mendengar bunyi bel dan suara orang berkata, “irrashaimase, dozoo…”
“Maya, apakah kau sedang berada di luar?”
“Ya, aku sedang di kombini.”
“Ngapain malam-malam begini?”
“Waktu pertama Pak Masumi menelepon tadi Rei sedang ada di apartemen.”
Oh, jadi itu alasan dia tidak mengangkat teleponku, Masumi membatin.
“Jadi aku bilang padanya kalau aku ingin pergi ke kombini, beli oden. Maksudnya sih, biar bisa mengangkat telepon dari Anda.”
Mata Masumi melotot. “Ya ampun, Maya. Sekarang sudah hampir jam setengah sebelas. Jangan bilang kau pergi ke sana sendirian!”
“Ya, tapi kan dekat. Tidak sampai lima menit.”
“Kau ini, selalu membuat orang khawatir.”
“Maaf… kupikir lebih baik… tidak bicara di depan Rei…”
Masumi terdiam. Gadis itu benar. Masumi menghela napasnya. Letak kombini itu sebenarnya memang sangat dekat dari apartemen Maya, tetap saja Masumi khawatir, “hati-hati ya, aku tidak mau kekasihku terluka.” Katanya lembut.
“Ya, tentu saja.” suara Maya tak kalah lembut.
“Maya, apa kau besok ada waktu?”
“Besok? Ya aku bebas. Kenapa?”
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
“EH?” wajah Maya kembali merona.
***
Keesokkan paginya, Masumi turun ke bawah untuk sarapan. Di sana dia bertemu dengan ayahnya yang sedang menunggunya.
“Selamat pagi, Ayah.”
“Pagi Masumi. Sudah kuputuskan, kau tidak akan kupecat, baik sebagai penerus Hayami ataupun dari Daito.” Kata Eisuke tanpa tedeng aling-aling.
Masumi tercenung, “kupikir karena kejadian kemarin, Ayah sudah muak padaku dan ingin memecatku,” jawabnya seraya duduk, lalu menuangkan kopi untuk dirinya.
“Memang. Aku bisa saja melemparkanmu ke jalan dan menahan semua asetmu. Bagaimanapun juga, kekuasaanku lebih besar darimu, anak muda. Camkan itu.”
“Maksud Ayah, Ayah sebenarnya takut untuk melawanku.” Jawab Masumi tenang. “Aku yakin Ayah pasti sudah melihat laporan tentang gerak-gerikku. Dan aku yakin Ayah pasti takut melihat seberapa banyak dukungan yang bisa kuperoleh.” Masumi menyeruput kopinya, “belum lagi benar atau tidaknya perkataanku kemarin mengenai Bidadari Merah yang haknya sudah kuperoleh.” Masumi meletakkan cangkir kopinya, lalu memandang ayahnya puas.
Meski keduanya tetap bersikap santun, hawa ingin saling membunuh menguar dari kedua tubuh mereka, dan memenuhi di ruang makan itu begitu kuat. Begitulah yang dirasakan oleh Pak Asa yang hendak masuk untuk membantu Eisuke, namun urung dilakukannya. Pak Asa sudah begitu lama berada di dekat keduanya untuk bisa tahu apa yang ada di balik wajah dingin namun santun keduanya; bagaikan samurai yang sedang bersiap untuk saling membunuh dalam usahanya memperebutkan daerah kekuasaan.
***
Maya duduk di atas ayunan, menunggu Masumi. Semalam mereka sepakat untuk bertemu di taman itu, taman tempat biasanya Maya merenung. Maya tiba 10 menit lebih cepat. Gadis itu terlalu gugup untuk menunggu di rumah, sekaligus menghindari Rei, yang mungkin akan bertanya-tanya padanya.
Maya kembali termenung, pikirannya melayang pada kekasihnya.
Kekasih.
Kata itu masih terasa aneh di lidahnya. Begitu cepat keadaan berubah. Sesaat kemarin, rasanya dunia Maya hampir runtuh melihat Masumi hampir menikahi Nona Shiori. Maya pergi ke gereja dengan perasaan nelangsa. Tidak ingin melihat orang yang dicintainya menikahi wanita lain, tapi dia merasa harus melihatnya sendiri supaya bisa percaya semua itu terjadi.
Namun, semuanya langsung berbalik. Pak Masumi menyusulnya ke taman, menciumnya, dan mereka resmi sebagai sepasang kekasih. Malam tadi Maya berulang kali mencubit pipinya untuk meyakinkan semua itu bukanlah mimpi semata. Bahkan, Masumi juga meneleponnya semalam, sampa-sampai Maya terpaksa pergi ke kombini membeli oden, hanya demi menghindari Rei. Walau akhirnya oden itu terpaksa dia buang.
Dan pagi ini mereka janjian untuk bertemu.
“Aku mau mengajakmu ke suatu tempat.” Kekasihnya berkata.
Maya begitu bahagia. Saking bahagianya sampai-sampai terasa menakutkan. Bagaimana kalau nanti malah berakhir buruk. Keluarga Takamiya adalah keluarga kaya yang berpengaruh, bagaimana bila akhirnya mereka menggunakan pengaruh itu untuk menekan Pak Masumi? Tak urung Maya terus berpikir seperti itu. Bahagia sekaligus khawatir.
“Halo, Maya.” Tiba-tiba Maya mendengar suara maskulin yang sering mengisi mimpinya akhir-akhir ini.
Maya langsung menegakkan kepala dan melihat wajah tampan kekasihnya.
Kekasihnya.
Sekali lagi gadis itu merasa sesak. Jantungnya bergemuruh di dadanya.
Kekasihnya, Masumi Hayami, berdiri di depannya. Begitu kokoh menjulang tinggi. Di bibirnya terulas senyum lembut. Seulas rona merah membayangi kedua pipi Maya.
“Pak Masumi…” Gadis itu tersenyum malu-malu.
“Sudah lama menunggu?”
Maya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membuat rambut tebalnya ikut terayun-ayun. “tidak, belum lama.”
Keduanya kembali terdiam. Masing-masing saling memandang, saling ingin menyerap kehadiran pasangannya, saling ingin mempercayai diri-sendiri, bahwa semua ini benar-benar terjadi.
Seolah waktu terhenti, keduanya terus saling memandang. Seolah keduanya tidak berani untuk berkedip. Takut, bila-bila pasangannya akan menghilang.
Lalu Masumi mengulurkan tangannya, “ayo, kita pergi sekarang.”
Maya memperhatikan tangan Masumi yang terulur, tanpa sadar tangan gadis itu terangkat, menyambut kekasihnya. Senyum manis merekah di wajah Maya. “Ya.”
Alih-alih berjalan menuju mobil, Masumi malah menarik Maya ke dalam pelukannya yang kokoh.
“Pak Masumi?” Maya begitu terkejut, jantungnya semakin berdentam-dentam tidak beraturan.
“Boleh kan kalau aku memelukmu begini? Sebentar saja?” lelaki itu semakin menarik Maya ke dalam pelukannya, erat.
Maya mengganggukkan kepalanya. Matanya terpejam. Begitu tersedot dalam momen ini. Aroma tubuh kekasihnya memenuhi kepala Maya; aroma tembakau dan harum minyak wangi, paduan yang gadis itu ingat saat dia memeluk mawar ungu di Nagano dulu.
Maya membalas pelukan Masumi. Mulutnya mendesahkan nama kekasihnya itu. “Pak Masumi.”
Entah gerakannya itu disadari oleh Maya atau tidak, namun kesemuanya itu membuat Masumi bahagia. Di mulutnya kembali terulas senyuman lembut, lalu mencium puncak kepala gadis itu.
“Maya?”
“Hmm…” jawab gadis itu di dada Masumi.
“Aku sungguh sangat ingin terus berdiri di sini, berpelukan denganmu seharian, bahkan sampai kiamatpun.” Kata Masumi, “tapi kita sekarang ini sedang di taman umum, dan sudah mulai banyak para ibu beserta anak-anak mereka yang memperhatikan kita.”
“EEEEHHH??” Buru-buru Maya melepaskan pelukannya dari Masumi seraya melongok panik ke kiri dan kanan. Memang benar saat itu mereka di taman umum. Dan kekasihnya itu benar juga benar, ternyata sudah ada beberapa ibu beserta anak-anak mereka yang sedang bermain di taman. Sepertinya para ibu itu pura-pura tidak memperhatikan Maya dan Masumi.
Maya kembali memandang Masumi, malu. “maafkan aku.”
Masumi tersenyum lebar “Ayo, sudah saatnya kita pergi.” Katanya sambil melepaskan pelukannya.
Dengan bergandengan tangan, mereka keluar dari taman itu, dan berjalan menuju mobil Masumi.
“Kita akan pergi ke mana, Pak Masumi?” Tanya Maya, saat Masumi mulai menjalankan mobilnya.
“Mencari apartemen.” Jawab Masumi singkat.
“Apartemen?” Maya memandang Masumi lekat-lekat.
“Ya.”
“Apartemen untuk siapa?”
“Untukku.” Kata Masumi seraya menghentikan mobilnya di persimpangan. Lampu lalu lintas berganti merah. Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke Maya. “Iya Maya, apartemen itu untukku.”
“Eh?”
“Kau mau membantuku untuk memilihkan apartemen untukku?”
“Pak Masumi, tidak tinggal di rumah Hayami lagi?”
“Untuk sementara ini, tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin kau tinggal bersamaku di apartemen itu.”
@@@@@
Lanjutan cerita ini dibuat oleh saia, Cupid imut yang gokil (Wkakakakaka), jadi mohon dimaapkeun kalo ceritanya ngawur ;p
“Eh..?”
Maya menatap Masumi dengan tatapan terkejut. Ia tidak mempercayai pendengarannya.
:An…anda tadi mengatakan apa, pak Masumi?”
“Aku ingin kita tinggal bersama” ucap Masumi.
“Ki..kita tinggal bersama?” tanya Maya mengulang ucapan Masumi.
“Benar” angguk Masumi “aku ingin kita tinggal bersama. Kamu mau kan tinggal bersama denganku?”
Maya diam dan hanya menatap Masumi.
“Maya..?”
“Tidak” jawab Maya kemudian.
“Tidak?” tanya Masumi dengan nada kecewa “Jadi…kamu tidak mau tinggal bersama denganku?”
“Tidak…” jawab Maya lagi.
“Maya….. kamu benar benar ti---?”
Tin…tin….tiiiiiin…………….
“Pak Masumi, ayo jalan. Lampunya sudah hijau” ucap Maya tidak menjawab pertanyaan Masumi “Mobil di belakang anda membunyikan klakson terus” lanjutnya.
Tapi, Masumi hanya diam dan terus menatap Maya.
“Pak Masumiii……”
“Maya, benarkah kamu tidak mau tinggal bersama denganku?” tanya Masumi lagi, mengacuhkan panggilan Maya dan juga klakson mobil yang terus saja berbunyi di belakang mobilnya.
“Tidak….” Ucap Maya sekali lagi sambil menggelengkan kepalanya.
Masumi hanya bisa menghela napasnya karena kecewa dengan ucapan Maya, kemudian ia memalingkan wajahnya ke depan dan mulai melajukan kembali mobilnya.
“Pak Masumi…” panggil Maya.
Masumi tidak menjawab panggilan Maya, ia terus menatap lurus ke depan dan fokus menyetir.
“Pak Masumiii….” Panggil Maya lagi.
“Hmmm….”
“Anda marah ya karena aku mengatakan tidak…”
Masumi menggelengkan kepalanya.
“Benarkah anda tidak marah?” tanya Maya lagi.
“Tidak” jawab Masumi “Aku tidak marah...” lanjutnya sambil memutar-balikkan arah mobilnya kembali ke tempat semula.
“Pak Masumi….Kita mau ke mana? Mengapa anda memutar balik mobil anda?“
“Aku akan mengantarmu pulang”jawab Masumi.
“eh…? Anda tidak jadi mencari apartemen?” tanya Maya.
“Untuk apa aku mencarinya, kalau kamu tidak mau…”
“Anda marah ya, pak Masumi?’ tanya Maya “Akui saja…”
Masumi menghembuskan napasnya.
“aku sudah katakan padamu, Maya…aku tidak marah…aku hanya---“
“Hanya apa?”
“Kecewa” jawab Masumi pendek.
“Anda kecewa karena aku mengatakan tidak…?” tanya Maya “ tidak….menolak” sambung Maya kemudian.
Ckiiiiit………
“Aaww…” seru Maya yang hampir saja ‘terlempar’, untung saja ia memakai sabuk pengaman “Mengapa anda mengerem mendadak, pak Masumi?” tanyanya.
“Kamu….tadi mengatakan apa?” tanya Masumi sambil menatap lekat Maya dan mengacuhkan pertanyaannya.
“Memangnya aku tadi mengatakan apa?” tanya Maya balik bertanya dengan mimik polos.
“Mayaa……” ucap Masumi gemas.
“Aah..pak Masumi kan sudah mendengarnya. Jadi aku tidak perlu mengulangnya” sahut Maya.
“Jadi..kamu mau tinggal di apartemen bersamaku?”
“Tidak…aku tidak mau….” Jawab Maya.
“Tapi kamu tadi mengatakan kalau kamu tidak menolak….”
“Aku memang mengatakan tidak menolak ---“
“Tidak menolak itu sama artinya dengan mau, Maya” ucap Masumi.
“Tidak…tidak mau….”sahut Maya bersikeras.
“Mayaa……” ucap Masumi dengan frustasi “Kamu---“
“Apa?”
“Ah sudahlah…terserah kamu saja” ucap Masumi lagi sambil kembali menjalankan mobilnya dan memutar kembali arah mobilnya.
“Pak Masumi, koq ‘mutar lagi? Bukankah tadi anda mengatakan akan mengantarkan aku pulang?”
“Tidak jadi. Aku berubah pikiran” sahut Masumi.
“Jadi kita mau ke mana?”
“Mencari apartemen”
Maya pun tertawa mendengar jawaban Masumi.
@@@@@
“Jadi…yang mana yang kamu suka, Maya?”
“Hmm…yang mana ya, pak Masumi?” kata Maya balik bertanya.
“Maya, kita sudah melihat-lihat tujuh apartemen yang ada. Kamu suka yang mana?”
“Kalau pak Masumi suka yang mana?”
“Kamu….setiap di tanya selalu balik bertanya…”jawab Masumi sedikit kesal.
Maya terkikik mendengar ucapan Masumi. “Habisnya aku bingung, pak Masumi. Menurut pak Masumi, mending kita pilih yang mana?”
“Hmm..kalau begitu, bagaimana kalau yang tadi terakhir kita lihat?” tanya Masumi.
“Yang tadi?” tanya Maya “Ah tidak mau….”
“Kalau begitu, yang sebelumnya….”
“Tidak mau juga” sahut Maya.
“Jadi kamu mau-nya yang mana?” tanya Masumi gemas “Dari tujuh apartemen yang kita lihat, belum juga ada yang kamu suka? Ya sudah kita cari lagi…”
“Hah…cari lagi?”
Masumi mengangguk.
“Tidak mau, pak Masumi. Masa dari tadi mencari apartemen terus” ucap Maya “aku lapar…..”
Masumi melihat arlojinya dan waktu memang sudah menunjukkan jam 12 siang, waktunya makan siang.
“Baiklah kalau begitu. Sekarang kita makan dulu. Baru nanti kita lanjutkan lagi” ucap Masumi “Kamu mau makan apa?”
“Kalau pak Masumi, maunya makan apa?”
“Mayaa…..jangan suka membalikkan pertanyaanku” ucap Masumi gemas.
“Habisnya aku takut pak Masumi tidak mau” sahut Maya.
“Memangnya kamu mau makan apa?”
“Hamburger” jawab Maya pendek “Yang besaaar…”
“Baiklah kita beli hamburger” ucap Masumi sambil melajukan mobilnya ke sebuah restoran siap saji.
Agar tidak diketahui oleh banyak orang, Masumi masuk sendirian untuk membeli hamburger dan Maya menunggunya di dalam mobil. Tak lama kemudian, Masumi keluar dari restoran siap saji itu sambil membawa sebuah bungkusan.
“Pak Masumi…” ucap Maya yang telah selesai memakan hamburgernya dan menoleh menatap Masumi..
“Hmm….”
“Sebenarnya aku sudah----“
CUP….
Dengan cepat Masumi mencium sudut bibir Maya sehingga perkataan Maya terhenti.
“Pak Masumi…apa-apaan sih?” tanya Maya sambil mendorong tubuh Masumi.
“Di sudut bibirmu ada saos mayones, aku hanya membantu membersihkannya” ucap Masumi enteng.
“alasan…”
“Benar. Kamu sih makan saja belepotan”
“Tapi, pak Masumi kan tinggal mengatakannya padaku. Aku bisa membersihkannya sendiri” sahut Maya.
“Aku lebih suka kalau aku yang langsung membersihkannya, tidak perlu mengatakannya dulu padamu” kata Masumi sambil tersenyum.
“Pak Masumiii…..” seru Maya dengan wajah memerah.
Masumi terbahak melihat perubahan warna wajah Maya tapi kemudian ia menghentikan tawanya dan menatap Maya.
“Oh ya…tadi kamu mengatakan sebenarnya kamu apa?”
“Euh..itu…..Sebenarnya ada apartemen yang aku suka tapi---“
“Tapi apa?”
“Tapi….sepertinya harganya mahal. Karena interiornya bagus”
“Tidak ada yang mahal untukku kalau buatmu, Maya” ucap Masumi “Jadi…yang mana yang kamu suka?”
“Apartemen ketiga yang kita lihat” jawab Maya.
“Yang ketiga?” tanya Masumi sambil mengingat-ngingat apartemen yang Maya maksud.
“Iya” angguk Maya “Apartemen itu sudah lengkap dengan perabotnya, jadi kita tidak usah susah mengisinya lagi…..”
Masumi mengerutkan keningnya.
“Maya, apartemen yang ketiga itu bukannya dalamnya masih kosong? Belum ada perabotannya?” tanya Masumi.
“Eh? Benarkah?”
Masumi mengangguk.
“Jadi yang tembok kamarnya berwarna ungu muda itu, yang mana, pak Masumi? Aku suka yang itu…aku suka warna ungu….”
“Itu yang ke empat, Maya……”
“Ya…yang itu, pak Masumi” angguk Maya “Lagipula apartemen itu dekat dengan stasiun kereta api bawah tanah kan? Jadi kalau aku mau ke mana-mana mudah”
“Baiklah kalau kamu suka yang itu. Kita ambil yang itu saja” putus Masumi..
“Tapi, pak Masumi…sepertinya harga apartemen itu---“
“Aku kan sudah mengatakan padamu, Maya. Harga…bukan masalah untukku” kata Masumi memotong kata-kata Maya “Yang penting kamu menyukainya. Jadi kita ambil yang itu saja”
@@@@@
Selesai makan siang, Masumi kembali mengarahkan mobilnya menuju apartemen pilihan Maya. Setelah selesai mengurusi surat-surat pembelian dan menerima kunci apartemen tersebut, Masumi mengajak Maya untuk masuk ke dalam apartemen tersebut.
“Kalau ada perabot yang tidak kamu suka, kamu katakan saja, Maya. Kita bisa menggantinya….” Ucap Masumi saat berada dalam apartemen itu.
“Ah tidak usah, pak Masumi” sahut Maya “Aku suka dengan semua interiornya” lanjutnya sambil kembali melihat-lihat apartemen itu.
“Tapi, pak Masumi….” Lanjut Maya sambil menatap Masumi yang sedang duduk di sofa.
“Apa?”
“Ada satu masalah….”
“Masalah? Masalah apa?” tanya Masumi sambil mengerutkan dahinya.
“Kalau aku tinggal di sini bersama anda, alasan apa yang harus aku katakan pada Rei?”
“Eh..?”
“Pak Masumi…aku harus mengatakan apa pada Rei?” ulang Maya “Rei pasti bertanya-tanya mengapa aku pindah dan pindah ke mana…aku harus jawab apa, pak Masumi?”
“Hmm…nanti saja, kita memikirkannya, Maya” sahut Masumi “Sekarang---“
“Sekarang apa?”
“Kemarilah….” Ucap Masumi meminta Maya mendekatinya.
Maya berjalan mendekati Masumi lalu Masumi menarik tangan Maya dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Aku ingin melakukan ini….” Bisik Masumi “Aku ingin melanjutkan pelukan kita di taman tadi. Kali ini, aku bisa pastikan tidak akan ada yang mengganggu kita….”
“eh….Pak…pak Masumi…..” sahut Maya kemudian ia menengadahkan kepalanya dan menatap Masumi.
Mereka saling bertatapan.
Perlahan, tanpa melepaskan tatapannya, wajah Masumi mendekat ke wajah Maya. Dengan lembut, Masumi menyapukan bibirnya ke bibir Maya kemudian mengecupnya.
Maya memejamkan matanya. Dan masumi pun semakin memperdalam ciumannya. Semakin dalam…..dan dalam…….
Beberapa saat kemudian, keduanya memisahkan bibir mereka dan kembali saling bertatapan.
Tsukurimasho…….tsukurimasho…….
Sate sate nani ga dekiru ka na
Hai, dekimashita.
Mendengar ringtone itu, Maya mendorong tubuh Masumi.
“Pak Masumi…masa bunyi ringtone ponsel anda seperti itu?” tanya Maya sambil terkikik.
Masumi bergegas mengambil ponselnya.
“Ya?”
“Pak Masumi, semuanya sudah siap”
“Oke…aku segera ke sana” jawab Masumi pendek kemudian menutup ponselnya.
“Pak Masumi….” panggil Maya “Mengapa anda memasang ringtone seperti itu? Aku benar-benar tidak menyangka kalau anda menyukai lagu seperti itu” lanjutnya sambil tertawa.
“Bukan…bukan aku yang memasangnya” jawab Masumi dengan wajah memerah karena malu.
“Bukan anda? Lantas siapa yang berani menyentuh ponsel anda dan memasang ringtone seperti itu?”
“Aku tidak tahu…”
“Masa tidak tahu….” ucap Maya “Hahahaha…direktur daito koq ringtonenya tsukurimasho…..”Lanjutnya sambil terus tertawa.
“Cukup, Maya….” ucap Masumi sambil menarik tangan Maya “Ayo ikut aku….”
“Ma..mau ke mana?” tanya Maya.
“Nanti kamu juga tahu” jawab Masumi sambil terus menarik tangan Maya dan membawanya keluar dari apartemen itu.
@@@@@
Masumi membawa maya naik ke tingkat paling tinggi apartemen tersebut.
“Pak Masumi..mau apa kita ke sini?” tanya Maya heran.
Tapi Masumi tidak menjawab pertanyaan Maya, ia membuka sebuah pintu yang menuju atap apartemen tersebut.
Wuuuuuus……..
Angin kencang menderu begitu pintu di buka.
Di atas atap apartemen yang datar, ternyata terdapat helipad dan sebuah helicopter sudah menunggu di sana.
“Pak Masumi, mengapa ada helicopter di atas atap apartemen?” tanya Maya sambil mencoba mengalahkan suara deru angin.
Lagi-lagi, Masumi tidak menjawab pertanyaan Maya, sambil melindungi Maya dari angin, Masumi membawa Maya mendekati helicopter itu dan memintanya untuk masuk.
“Pak Masumi, kita mau ke mana?” tanya Maya ketika mereka sudah berada di dalam helicopter dan helicopter itu mulai terbang menjauhi atap apartemen.
“Nanti, kamu juga akan tahu” jawab Masumi sambil tersenyum penuh rahasia pada Maya.
@@@@@
Satu jam kemudian….
“Pak Masumi….” Panggil Maya.
“hmm….”
“sebenarnya kita mau ke mana sih? Masa dari tadi tidak sampai-sampai…”
“Sebentar lagi, Maya…”
“Dari tadi, pak Masumi juga mengatakan kalau sebentar lagi sampai” sahut Maya sambil mengerucutkan bibirnya “tapi ternyata tidak sampai juga”
Masumi tersenyum mendengar perkataan Maya kemudian menarik Maya dalam pelukannya.
“Sabar, sayang….kali ini aku berkata benar. Sebentar lagi kita sampai” ucap Masumi kemudian ia mengecup kepala Maya.
“Iiih……pak Masumiiii…..” ucap Maya sambil menjauhkan tubuhnya dari tubuh Masumi, tapi Masumi menahannya “Kenapa? tidak suka aku peluk?”
“Bukan….”geleng Maya “tapi…..aku malu” lanjutnya sambil berbisik dan melirik ke arah pilot di depannya.
“Ah tidak usah memperdulikannya. Dia ‘tuli’ tidak mendengar apapun” sahut Masumi enteng.
“eh?”
“Semua bawahanku harus ‘tuli, bisu dan buta’…” lanjut Masumi.
Maya menatap masumi dengan pandangan tidak mengerti.
“’tuli’…..tidak mendengar apapun yang aku ucapkan, terutama padamu, ‘bisu’….tidak mengatakan apapun pada siapapun tanpa seijinku, ‘buta’…..tidak melihat apapun yang aku perbuat. Singkatnya mereka harus menutup mata, telinga dan mulut mereka kalau mereka mau selamat” jelas Masumi “bila mereka berani melanggarnya, artinya----kreeek” lanjut Masumi sambil menggerakkan tangannya di depan lehernya.
“Aih..pak Masumi….ternyata anda menakutkan” ucap Maya memasang mimik (pura-pura) ketakutan.
“Memangnya kamu baru tahu kalau aku---“
“Tidak” geleng Maya “Aku tahu kalau anda itu dingin, tidak berperasaan, dan juga menyebalkan…..”
“Lalu mengapa kamu mau bersama dengan si dingin, tidak berperasaan dan menyebalkan itu?”
“Itu karena…..walaupun anda seperti itu…aku…aku---“
“kamu apa?” tanya Masumi menatap lekat mata Maya.
“Ah tidak….” Jawab Maya dengan wajah memerah kemudian ia memalingkan pandangannya.
“Maya, kamu apa?” desak Masumi.
“Tidak, pak Masumi…tidak apa-apa….Sudah anda jangan mendesakku terus” sahut Maya dengan wajah masih merah “Kyaaa…….berbelok….” seru Maya tiba-tiba “helicopternya berbelok, pak Masumi. Sepertinya akan mendarat..Kita hampir sampai ya, pak Masumi?”
“Benar” angguk Masumi “Kita akan mendarat di sana” lanjutnya sambil menunjuk sebuah pulau kecil tidak berpenghuni.
“Di sana?” tanya Maya sambil mengerutkan keningnya.
@@@@@
Dan tak lama kemudian, helicopter itu mendarat di pulau kecil tersebut.
“Selamat datang di pulau pribadiku, Maya” ucap Masumi sambil membantu Maya turun dari helicopter.
“Eh..ini pulau pribadi anda?”
“Benar…” angguk Masumi “Pulau ini milikku. Aku sengaja membelinya. Rencananya, aku akan mendirikan villa di sini sebagai tempat persembuyianku kalau aku sedang tidak mau di ganggu siapapun. Dan kamu….kamu adalah gadis yang beruntung, Maya. Karena kamu orang pertama dan satu-satunya yang aku bawa kemari….”
“Pak Masumi….”
“Jadi kamu jaga rahasia ini ya, jangan mengatakan pada siapapun. Ayahku juga tidak tahu kalau aku memiliki pulau ini”
“Eh?”
“Janji?” ucap Masumi sambil mengulurkan kelingkingnya.
“Aku janji” sahut Maya sambil mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Masumi.
“Nah…karena masalah janji sudah selesai. Sekarang aku akan membawamu keliling pulau ini” kata Masumi sambil menggandeng tangan Maya kemudian mengajaknya menyusuri pantai di sekeliling pulau itu.
Setelah beberapa saat berjalan, menyusuri pantai. Masumi mengajak maya duduk di sebuah tikar yang dinaungi payung pantai. Di atas tikar itu juga terdapat keranjang piknik.
“wah…ternyata anda sudah menyiapkan semuanya, pak Masumi” ucap maya sambil duduk di atas tikar, disamping Masumi.
“Bukan aku yang menyiapkannya koq, Maya. Kapan aku punya waktu menyiapkannya. Dari tadi aku kan bersama denganmu”
“Bukan anda…. Tapi pasti bawahan anda atas perintah anda” sahut Maya.
“eh…kamu koq tahu?” tanya Masumi sambil menatap Maya “Kamu sekarang pintar ya, Maya” lanjutnya sambil menepuk-nepuk kepala Maya.
“Pak Masumiii…….anda memang menyebalkan” seru Maya sambil menyingkirkan tangan Masumi dari kepalanya dan menggeser duduknya.
Masumi tertawa melihat Maya yang menatapnya dengan pandangan kesal, kemudian ia melingkarkan tangannya dan memeluk Maya.
“Jangan ngambek seperti itu. Kita kan sedang kencan. Jadi kamu tidak boleh marah-marah”
“Habisnya anda….”
“Iya..iya..aku yang salah. Aku minta maaf ya…:”
“Awas…kalau anda mengulanginya lagi…”
“Tidak…..aku tidak janji” ucap Masumi sambil tertawa.
“Tuh kan…pak Masumiii…..” kata Maya sambil berusaha melepaskan pelukan Masumi, tapi Masumi tetap menahannya sampai akhirnya Maya menyerah dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Masumi.
Beberapa saat kemudian, keduanya terdiam dan asyik dengan pikirannya masing-masing sambil menikmati pertunjukan ombak yang saling berkejaran di pantai.
“Pak Masumi…..:
“hmmm….”
“Mengapa anda membawaku ke mari?”
“Kenapa? kamu tidak suka?” kata Masumi balik bertanya.
“Bukan begitu” sahut Maya “aku ingin tahu”
“Karena aku tidak menemukan tempat lain, Maya. Di mana kita bisa tenang berdua tanpa di ganggu siapapun” sahut Masumi “Aku kan belum bisa membawamu ke tempat umum. Jadi aku memutuskan membawamu ke sini”
“Oh…begitu. Aku mengerti, pak Masumi” angguk Maya “Aku suka berada di sini. Duduk-duduk di tepi pantai sambil melihat ombak berkejaran dan makan bekal pikinik. Menyenangkan juga….”
“Ada hal lain lagi yang lebih menyenangkan….”
“Apa?”
“Melihat sunset…..”
“Sunset?”
“Benar. Sunset” ulang Masumi “apa kamu mau melihatnya?”
Maya mengangguk.
“Kita tunggu sampai hari sore ya, Maya” ucap Masumi “Sambil menunggu, ayo di makan bekalnya. Biasanya kamu kan rakus. Tidak usah malu-malu….”
“Pak Masumiiii……lagi-lagi anda----“
Masumi hanya tertawa mendengar ucapan Maya.
@@@@@
Saat hari mulai sore dan matahari akan terbenam, Masumi mengajak Maya ke sisi lain pulau kecil itu.
“Pak…Ma…masumi i…itu…..” ucap Maya sambil membelalakkan matanya ketika melihat benda besar tak jauh di depannya.
Masumi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Karena cuaca sore ini bagus, kita akan menikmati sunset sambil naik itu, Maya” ucap Masumi “Kamu belum pernah mencobanya kan?”
Maya pun menggelengkan kepalanya.
Seorang bawahan Masumi, yang melihat kedatangan bos-nya, segera menghampiri.
“Semua sudah siap. Pak” lapornya.
Masumi mengangguk, tanda mengerti lalu kembali menggandeng tangan Maya dan masuk ke dalam sebuah benda besar, yang tak lain adalah balon udara berwarna pelangi.
Kemudian…..
Perlahan tapi pasti, balon udara yang ditumpangi oleh Masumi dan Maya naik ke angkasa dan berhenti di ketinggian (kurang lebih) 50 meter.
“Waah….indah sekali” seru Maya. Dari atas sana, ia dapat melihat air laut berwarna biru toska dengan bayangan batu karang berpadu kontras dengan pasir di pesisir pantai dan pohon-pohon berdaun coklat, yang tumbuh di pulau tersebut. Dan jauh di batas cakrawala, matahari yang akan terbenam tampak bulat penuh berwarna orange serta mengeluarkan sinar jingga yang mewarnai langit senja itu.
“Pak Masumi…ini indah sekali….” Seru maya dengan binar senang.
“kamu suka, Maya?” tanya Masumi sambil menatap Maya. Maya pun membalas tatapan Masumi kemudian menganggukkan kepalanya.
Tatapan mereka kembali terkunci.
Perlahan, Masumi membungkukkan badannya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Maya kemudian mendekatkan bibirnya dengan bibir Maya.
Dan…di sana……di dalam balon udara, dilatari langit berwarna jingga mereka berciuman panjang dan lamaa……sampai sinar jingga itu memudar dan bola besar yang mengeluarkan sinar tersebut menghilang di batas cakrawala.
@@@@@
Hari telah malam, ketika helicopter yang membawa Maya dan Masumi kembali mendarat di atas atap apartemen yang baru saja Masumi beli.
“Pak Masumi, aku pulang ya. Terima kasih untuk hari ini. Aku senaaang sekali” ucap Maya ketika mereka sudah sampai di depan pintu apartemen “Tidak perlu mengantarku, pak Masumi. Aku naik kereta saja. Stasiun kereta kan dekat tinggal turun ke bawah” lanjutnya sambil membungkukkan badannya.
“eh? Pulang?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya dan dengan cepat memegang tangan Maya, menahannya agar tidak pergi “Bukankah kamu mau tinggal bersamaku di sini?”
“Aku tidak mengatakan mau---“
“Maya…..jawab mulai lagi” ucap Masumi “oke…aku ralat. Bukankah kamu tidak menolak untuk tinggal bersama aku di sini?”
Maya terkikik mendengar ucapan Masumi.
“Mayaaa…..”
“Ups…maaf, pak Masumi” ucap Maya sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya kemudian wajahnya berubah serius “Tapi…tidak malam ini….”
“Tidak?”
“Tidak” geleng Maya.
“Mengapa?”
“Aku tidak bawa baju ganti, pak Masumi juga--- kyaaa…..pak Masumiii…..” seru Maya kaget sehingga tidak menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba saja, Masumi menarik tangannya dan membawanya menuju lift.
“Pak Masumiii…mau ke mana?” tanya Maya sambil berlari kecil mengikuti langkah Masumi.
“Ke apartemenmu” sahut Masumi pendek.
“Untuk apa? Aku kan sudah mengatakan kalau anda tidak perlu mengantarku”
“Memangnya siapa yang mau mengantarmu?” kata Masumi balik bertanya.
“La..lalu anda mau apa?”
“Menemanimu mengambil bajumu”
“eh?”
“Kamu tinggal membereskan bajumu kemudian bisa langsung tinggal di sini kan, Maya?” tanya Masumi.
“Ta..tapi…tapi…..”
“Tidak ada alasan apapun, Maya. Apartemennya sudah siap di tinggali jadi tunggu apa lagi?”
“Pak Masumi…tapi----“
Masumi mengacuhkan protes Maya dan terus membawa Maya menuju parkiran. Di sana, ia mendorong Maya masuk ke dalam mobilnya kemudian ia sendiri pun masuk ke dalam mobilnya. Lalu mobil itu pun melesat keluar menuju apartemen Maya.
@@@@@
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Masumi sampai di depan apartemen Maya. Maya keluar dari mobil itu diikuti Masumi.
“Pak Masumi…anda tunggu aku saja di sini” ucap Maya.
“Tidak mau…nanti kalau kamu masuk ke dalam apartemenmu, kamu tidak keluar lagi. Jadi aku akan mengikutimu” sahut Masumi.
“Ta..tapi…..”
“Sudahlah, Maya. Tidak usah berdebat denganku” ucap Masumi “Ayo lekas masuk ke dalam apartemenmu dan bereskan baju-bajumu”
“Pak Masumi….”
“Apa perlu aku menyeretmu?”
“Aaargh, pak Masumi…” seru Maya setengah frustasi tapi kemudian ia kembali berjalan menuju apartemennya.
Ceklek…
Di depan pintu apartemennya, Maya membuka pintu perlahan-lahan dan melongokkan kepalanya. Tapi kemudian dengan cepat, pintu itu ditutupnya kembali.
“Maya, mengapa kamu tidak masuk, ayo le---“
“Ssst….” Ucap Maya sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya “Di dalam ada Rei, pak Masumi” bisiknya.
“Memangnya kenapa kalau ada Rei?” tanya Masumi.
“Ssst..pak Masumi sudah aku bilang--- KYAAA….” Seru Maya terkejut ketika ia melihat Rei membuka pintu dan melongokkan kepalanya “Mayaa? Mengapa kamu tidak masuk dan malah berdiri di depan saj----Pak Masumi?”tanyanya heran ketika ia melihat Masumi berdiri di belakang Maya “Sedang apa anda di sini? Dan mengapa anda bisa bersama maya?”
bersambung ke part 3....
horeeeeeeeeeeeeeeeeeeee ^^
BalasHapuswhatttt????????? tinggal barengggg? wah wah, bisa2 saingan ma konso legèñdaris nih klo tnggal bareng>:)))))))
BalasHapusasiiiikkk....lanjuutt...
BalasHapusheh...maksudnya Masumi apa?ngelamar Maya-nya kok gitu....hehehe geer nih...lanjuuuutttt :)))
BalasHapushaissss....
BalasHapusmasumi...
melangkah lebih maju nih kayaknya
kemajuan malah
wakakaka...!!!
"aku mau tinggal bersamamu pak masumi" ucap maya dengan malu-malu
ah.... mau juga donk diajak tinggal di apartemennya... ^^
BalasHapusmasumi mulai beraksi.....
BalasHapuslanjoooot.....
Ayo akang. Jangan mau kalah sma kondo legendaris....XDDD
BalasHapusnaaaaaaaaah, gitu doooong Masumiiiii.
BalasHapusAnak pintaaaar ......
awwww........ co cweettt.... uhuk2,,, lanjott,.... sukaa sukaa sukaaaaa,,,,,
BalasHapusayo masumi maju terus...jangan lama2 lanjutannya...
BalasHapusjiahhhh, masumi pamer kekayaan nih
BalasHapusgitu donk
buwat apa coba kerja pagi siang malem
kalo duitnya ga di pake buwat senang2 sm maya
*saya maw juga 1 apartemennya yah masumi-sama*
Maya nakal ya....udah berani godain pak masumi... *sambil nyubit maya
BalasHapusbagus Cupiiiddd.....lanjut dooooong....
soalnya yg buat critanya jg 'nakal' sis komalasari wkakakakaka... :p
BalasHapusAduuh! Masumi emang dodol banget deh!
BalasHapuswaaaaa, mau dooong liat sunset dr balon udara. Romantis pisan euy.
BalasHapusmau naik baloooonnn!!!! ToT
BalasHapus