Rabu, 15 Agustus 2012
1001 Mawar Ungu part 07
Langit semakin gelap dan bintang-bintang mulai bermunculan. Maya dan Masumi pindah ke teras villa dan duduk di sebuah sofa panjang yang ada di sana.
Maya kembali menyandarkan kepalanya pada bahu masumi. Kepalanya mendongak ke atas, menatap langit penuh bintang.
"Ah...aku tidak pernah menyangka kalau aku akan dapat melihat bintang lagi bersama anda, pak Masumi"
"Benar" angguk Masumi membenarkan "aku pun tidak pernah menyangka dapat melihatnya lagi bersamamu, mungil"
"Pak Masumi…"
Lalu keduanya terdiam menikmati bintang di angkasa.
"Bintang di sini, sama indahnya dengan bintang yang kita lihat di lembah plum, pak Masumi" ucap maya senang.
Masumi menganggukkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya.
"Waaa...aku kembali melihat 7 bintang utara " seru Maya sambil menunjukkan gugusan bintang "lalu yang itu--hmm..bintang vega dan sebelah sana bintang deneb. Benar kan pak Masumi?" tanya Maya mengangkat kepalanya dan menatap Masumi.
"Benar" angguk Masumi "ternyata kamu masih mengingatnya".
"Tentu saja" sahut Maya senang sambil kembali menyandarkan kepalanya dan menatap bintang "lalu...bintang yang terang itu bintang apa, pak Masumi?" tanyanya sambil menunjuk sebuah bintang yang berada tak jauh dari vega dan deneb.
Itu altair, mungil" jawab Masumi "bintang paling terang dari rasi aquila"
"Altair?"
"Ya" angguk Masumi "Kamu tahu Hikoboshi yang ada dalam legenda Tanabata kan? Nah altair adalah Hikoboshi”
"Oh jadi bintang itu adalah Hikoboshi" angguk Maya mengerti lalu Orihime-nya yang mana?"
"Orihime itu bintang vega"
“Oh jadi yang itu..Hikoboshi dan yang sebelah sana Orihime..” ucap Maya sambil menunjuk kedua bintang tersebut. Kemudian ia menatap Masumi “Pak Masumi, ceritakan padaku legenda mereka..”
“Eh?” tanya Masumi sambil mengerutkan keningnya “Memangnya kamu tidak tahu legenda itu?”
“Tahu..” jawab Maya “Tapi aku ingin mendengarkannya lagi dari anda”
Masumi menghela napasnya. “Baiklah akan aku ceritakan padamu” ucapnya kemudian “Dahulu kala, ada seorang putri raja langit yang pandai menenun. Dia bernama Orihime….” Masumi memulai ceritanya “Setiap hari ia sibuk menenun pakaian raja langit sehingga membuatnya tidak mempunyai teman. Lalu suatu hari, raja langit mengenalkan Orihime pada seorang pengembala sapi yang rajin bernama Hikoboshi”
“Lalu…”
“Lalu....setelah beberapa kali bertemu, mereka pun saling mencintai. Karena Hikoboshi rajin bekerja, raja langit pun mengijinkan mereka menikah. Dan mereka hidup bahagia. Tapi ternyata setelah menikah, karena dimabuk asmara, mereka menelantarkan pekerjaan mereka sehingga membuat raja langit marah dan memisahkan mereka”
“Ah mereka dipisahkan oleh sungai Amanogawa”
“Benar. Sungai Amanogawa atau galaksi bima sakti” ucap Masumi sambil menunjukkan gugusan bintang yang ada di antara Rasi Aquira dan Rasi Lyra.
“Hmm..lalu bagaimana kelanjutannya, pak Masumi?”
“Orihime yang merasa sedih dipisahkan dengan suaminya memohon sambil menangis pada raja langit untuk mempertemukan mereka. Dan akhirnya raja langit pun luluh dan mengijinkan mereka bertemu. Tapi hanya sekali dalam setahun”
“Mereka bertemu setiap tanggal 7 bulan 7” celetuk Maya.
“Benar” angguk Masumi. “Raja langit hanya mengijinkan mereka bertemu saat itu. Tapi, ketika hari itu tiba, Orihime kembali menangis karena sungai Amanogawa tidak ada jembatannya sehingga tidak dapat dilalui” ucap Masumi menyambung ceritanya “Kebetulan tangisan Orihime ini terdengar oleh sekawanan burung Kasasagi yang kebetulan lewat di sana. Burung itu bertanya pada Orihime 'mengapa ia menangis'. Dan Orihime pun menceritakan semuanya pada burung-burung Kasasagi tersebut. Setelah mendengar cerita Orihime, burung-burung Kasasagi merasa kasihan pada Orihime yang ingin bertemu suaminya, maka mereka pun berinisiatif untuk membantu jembatan dengan membentangkan sayap-sayap mereka agar suami-istri itu dapat bertemu”
“Oh, jadi setiap tanggal 7 bulan 7 itu burung kasasagi akan terbang ke langit dan membangun jembatan untuk mereka?” tanya Maya.
“Benar” angguk Masumi “Tapi hari itu harus cerah. Karena bila hujan turun, sungai amanogawa meluap sehingga mengakibatkan burung-burung kasasagi tidak dapat membangun jembatan.”
“Ah kasihan mereka ya, pak Masumi. Sudah bertemunya setahun sekali, kalau hujan tetap saja tidak dapat bertemu, harus menunggu sampai tahun depannya lagi. Karena itu aku selalu berdoa agar hari itu tidak hujan..”
“Supaya mereka dapat bertemu?”
“Bukan” geleng Maya “supaya permohonanku yang tertulis di tanzaku dapat terkabul” lanjutnya sambil terkikik.
“Ah, dasar kamu ini…” ucap Masumi gemas.
“Hmm..pak Masumi, kalau bintang deneb, jadi apa dalam legenda itu?” tanya Maya lagi sambil menunjuk pada bintang Deneb.
“Eh?”
“Bintang itu kan tidak berada jauh Vega. Masa tidak ada perannya apa-apa?”
“Deneb? Hmm…ada legenda yang menyebutkan kalau deneb itu adalah peri yang menunjukkan arah pada burung-burung kasasagi ketika mereka membentuk jembatan” jawab Masumi.
“Oh jadi deneb itu sebagai perinya…” sahut Maya mengangguk-anggukkan kepalanya “karena itu jembatannya dapat nyambung ya, pak masumi…” lanjutnya sambil kembali terkikik.
Masumi tersenyum mendengar perkataan Maya. “Tapi mungil, terlepas dari legenda Tanabata, Deneb, altair dan vega dapat disebut sebagai summer triangle”
“Summer triangle?”
“Benar. Kamu lihat. Deneb di rasi Cygus, Altair di rasi Aquila dan Vega di rasi Lyra. Ketiga bintang itu bintang yang paling terang di masing-masing rasinya dan mereka membentuk segitiga” jelas Masumi sambil membentuk garis imaginer pada ketiga bintang itu “ dan karena ketiganya terlihat pada saat musim panas seperti sekarang ini makanya disebut summer triangle”
“Oh begitu”
“Dalam mitologi yunani, ketiga bintang ini juga ada ceritanya, mungil…”
“Ada ceritanya juga?” tanya Maya antusias sambil menatap Masumi “Seperti cerita Hikoboshi dan Orihime?”
Masumi mengangguk. “Deneb digambarkan sebagai sosok angsa putih yang cantik, lembut dan menarik, lalu Vega adalah seorang yang cerdas. Sedangkan Altair digambarkan sebagai elang,sosok yang paling kuat di antara mereka sehingga Altair dapat dikatakan pelindung bagi mereka berdua”
“Ah pasti mereka terlibat cinta segitiga?” celetuk Maya sok tahu “Deneb dan Vega memperebutkan Altair. Benar kan, pak Masumi?”
“Tidak” geleng Masumi “Tidak ada kisah cinta di antara mereka. Mereka bertiga hanya bersahabat”
“Ya..aku kira terlibat cinta segitiga” ucap Maya “Lebih seru legenda Tanabata kalau begitu” lanjutnya sambil kembali memandang ketiga bintang itu lagi.
“Deneb…angsa yang cantik dan lembut..hmmm itu pasti nona Shiori” pikirnya membuat cerita sendiri mencampuradukkan mitologi yunani dengan legenda tanabata (:P) “altair itu pak Masumi. Sedang aku adalah Vega, seseorang yang cerdas(??)” Maya mengerutkan keningnya sendiri. “Bila galaksi bimasakti adalah sungai amanogawa yang memisahkan aku, pak Masumi dan nona Shiori, maka sungai yang memisahkan aku dengan pak Masumi selalu meluap atau tidak ada sekawanan burung Kasasagi yang lewat karena itu aku tidak bisa bersama pak Masumi. Hanya nona Shiori yang selalu dapat bersamanya karena burung kasasagi selalu lewat di sana dan membangun jembatan untuk mereka. Tapi.hari ini….sungai yang memisahkan jarak antara aku dan pak Masumi tidak meluap dan burung-burung itu mungkin merubah rutenya , sehingga aku dapat bersama pak Masumi..” Tanpa sadar Maya tersenyum kecil “Hari yang benar-benar harus aku nikmati karena mungkin tidak akan ada lagi hari seperti ini….”
“Apa yang kamu pikirkan, mungil?” tanya Masumi ketika melihat Maya tersenyum kecil.
“Ah..eh tidak, pak Masumi..Bukan apa-apa..”
Masumi mengangkat kedua alisnya. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya.
“Be— Ah, pak Masumi..ada bintang jatuh…” seru Maya “Ayo, cepat pak Masumi membuat permohonan” ucapnya kemudian menutup matanya.
Beberapa saat kemudian Maya membuka matanya kembali dan melihat Masumi sedang menatapnya.
“Mengapa anda menatapku, pak Masumi?”
“Apa kamu berhasil membuat permohonan, mungil?”
“eh?”
“Bukankah dulu kamu mengatakan kamu belum sempat memikirkan permohonanmu tapi bintangnya sudah terlanjur hilang?” tanya Masumi menahan tawa.
“Huh…pak Masumi meledekku” seru Maya pura-pura kesal “Tentu saja kali ini aku berhasil mengucapkannya. Karena setiap bintang jatuh, permohonanku sama, jadi aku sudah menghafalnya”
“Oh ya? Memangnya apa permohonanmu, mungil?”
“I..itu rahasia…aku tidak mau mengatakannya pada anda” sahut Maya “Kalau anda, apa permohonan anda, pak Masumi?”
“Hmm..rahasia juga” sahut Masumi sambil tersenyum.
“Pak Masumii….Beritahu aku, apa permohonan anda”
“Eh?”
“Pak Masumi…ayo beritahu aku…”
Masumi menjawil hidung Maya. “Kamu itu curang ya…permohonanmu tidak boleh aku tahu, tapi kamu ingin tahu permohonanku”
Maya terkikik. “ Ayo dong, pak Masumi…beritahu aku…” bujuk Maya lagi.
“Permohonanku---“ ucap Masumi sambil menatap Maya.
“Apa?” tanya Maya penasaran.
Masumi tersenyum. “Tidak ada. Aku tidak meminta permohonan apa-apa”
“Eh? Mengapa? Memangnya anda tidak punya permohonan?”
“Permohonanku sudah terkabul, mungil. Jadi aku tidak perlu memintanya lagi”
“Memangnya a—“
“Mungil, lihat….hujan meteor..” potong Masumi sambil menunjuk ke angkasa.
Maya pun mendongakkan kepalanya ke angkasa. “Waa…cantiknya….” seru Maya senang.
“Secantik ini kan?” tanya Masumi tiba-tiba sambil memperlihatkan sebuah gelang yang rantainya berbentuk bintang-bintang kecil dikombinasikan dengan Kristal berwarna ungu di depan mata Maya.
“Pak Masumi…”
“Aku pakai kan ya, mungil..” ucap Masumi sambil memasangkan gelang itu di tangan Maya.
Maya menatap gelang yang melingkar di tangannya. “i..ini untukku?” tanyanya kemudian tatapannya beralih pada mata Masumi “Benarkah ini untukku?”
Masumi tersenyum. “Tentu saja. Bukankah gelang itu sudah ada di tanganmu?”
“Ta..tapi…tapi—“
Cup
Dengan cepat Masumi melayangkan kecupannya ke bibir Maya.
“Pak Masu—“
Dan lagi-lagi, sebelum Maya berhasil memanggil namanya, Masumi kembali mencium Maya. Mula-mula dengan lembut, tapi kemudian….bibirnya mulai melumat, mendesak Maya untuk membalas ciumannya. Mereka pun saling mengecup, melumat dan lidah mereka saling bertaut.
Tubuh mereka semakin rapat. Ciuman mereka semakin bergelora dan tak terpisahkan seolah ciuman itu adalah udara yang mereka butuhkan.
Tiba-tiba…Masumi mengangkat tubuh Maya dan menggendongnya. Ia membawa Maya ke dalam kamarnya.
“Pak..pak Masumi…” bisik Maya ketika ia telah terbaring telentang di ranjang Masumi.
Masumi berbaring di samping Maya dan menatapnya. Ia kembali mendekatkan wajahnya. Bibirnya hanya berjarak satu senti dari bibir Maya. “Aku menginginkanmu, mungil…sangat menginginkanmu..” bisiknya parau.
Maya membalas tatapan Masumi. “Ya..pak Masumi….ya….”
Masumi pun kembali melumat bibir Maya. Tangannya mulai bergerak membuka kancing pakaian Maya satu persatu. Lalu ketika kancing terakhir berhasil dibukanya dan hampir menyibak pakaian Maya. Tapi tiba-tiba Maya terhenyak dan menutupi tubuhnya dengan tangannya.
“Mungil?” tanya Masumi menatap Maya.
“Pak..Masumi…ma..matikan lampunya” bisik Maya “A..aku tak ingin an..anda melihat—“
Masumi mengangkat kedua alisnya dan menunggu kalimat Maya selanjutnya tapi Maya hanya memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya.
“Mungil..”
“Tidak…aku tidak ingin melihat…melihat bekas lukaku…” bisik Maya.
Masumi membeku. “Tubuhmu pun pernah terluka?dan luka itu pun---”
Maya menganggukkan kepalanya. “Jadi, matikan lampunya, pak Masumi…”
“Tidak”
“Pak Masumi…”
“Mungil, bekas lukamu pasti sama cantiknya dengan bekas luka yang ada di sini” bisik Masumi sambil kembali menciumi bekas luka di pipi Maya.
“Pak Masumi”
Masumi kembali menyusuri bekas luka itu sampai ke ujung dan mengakhirinya di bibir Maya. “Aku mohon..jangan menutupinya…” bisik Masumi diantara ciumannya. Dan perlahan ia pun menyingkirkan tangan Maya, memindahkannya ke samping tubuh Maya dan menyibak pakaian Maya.
Tanpa melepaskan ciumannya, tangan Masumi bergerak menyusuri kulit telanjang Maya. Lalu kepalanya turun, mencium dagu, leher dan terus sampai ke bawah.
Maya hanya bisa pasrah dan membiarkan Masumi. Matanya terpejam.
Dan ketika melewati tulang dibawah leher Maya, saat itulah Masumi melihat bekas luka panjang melintang dari bawah ketiak sampai mendekati pusar. Tanpa ragu, Masumi menyusuri bekas luka itu dengan bibirnya sampai ujung sehingga membuat tubuh Maya bergetar.
Ciuman Masumi terus turun ke bawah sambil melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh Maya.
Setelah semuanya terlepas, Masumi mengangkat tubuhnya dan sambil memandangi tubuh telanjang Maya., ia pun melepaskan pakaiannya sendiri.
“Buka matamu dan lihat aku, mungil..” bisik Masumi parau.
Ragu, Maya membuka matanya dan melihat Masumi yang sedang melucuti pakaiannya. Wajah Maya langsung merona, tapi ia tidak dapat mengalihkan pandangannya. Ia hanya bisa menatap Masumi dan gemetar di bawah tatapan Masumi.
Setelah tubuh Masumi, sama telanjangnya dengan tubuh Maya, Masumi kembali mencumbu Maya kemudian mempersatukan tubuh mereka.
@@@@@
Keesokan harinya….
Masumi terbangun karena merasa lengannya berat. Ia pun lalu menoleh dan tersenyum ketika melihat Maya yang masih tertidur lelap dengan posisi miring menghadapnya.
Berusaha untuk tidak menggerakkan lengannya yang dijadikan bantal oleh Maya, perlahan-lahan Masumi memiringkan tubuhnya dan memandangi Maya. Dengan lembut, Masumi membelai pipi Maya.
“Emm…” gumam Maya ketika merasa ada tangan yang membelai pipinya. Ia pun membuka matanya dan mengejap-ngejapkannya.
“Selamat pagi, sayang” bisik Masumi.
“hmm…selamat pagi, pak Masumi”sahut Maya malu-malu.
“Tidurmu nyenyak semalam?”
“I..ya, pak Masumi”
“Baguslah kalau begitu” ucap Masumi sambil tersenyum.
Lalu keduanya terdiam dan saling bertatapan.
Dan….
”Kyaa….” seru Maya kaget karena tiba-tiba saja, Masumi membalikkan badannya dan menindihnya. Kulit telanjang mereka saling menempel dengan erat. Maya dapat merasakan hawa panas dari tubuh Masumi.
Masumi menatap Maya dalam dan tersenyum lembut, membuat pipi Maya merona.
“Pa..pak Masu---“
Belum selesai, Maya mengucapkan nama Masumi, Masumi sudah mendaratkan bibirnya di bibir Maya. Mengecupnya perlahan. Kemudian ia mengangkat wajahnya dan kembali menatap Maya.
Maya merasa pipinya menghangat dan hanya dapat menatap Masumi.
Sekali lagi, Masumi mendaratkan bibirnya di bibir Maya. Mengecupnya. Dan perlahan kecupan itu berubah menjadi lumatan dan hisapan. Bibir Masumi mendesak bibir Maya membuka dan lidahnya pun masuk menyelinap, menjelajah.
Maya mengerang perlahan. Ia melingkarkan tangannya pada leher Masumi dan membalas ciuman Masumi.
Ciuman mereka semakin dalam dan menggelora.
Dan pagi itu.....mereka kembali mengulang kejadian semalam.
@@@@@
Kriiing…..
Ponsel Masumi langsung berbunyi begitu ia mengaktifkan kembali. Ketika melihat di layar ponselnya, panggilan itu dari Mizuki, Masumi pun mengangkatnya.
“Ya, Mizuki..”
“Pak Masumi, anda di mana? Dari tadi saya menelpon anda tetapi saya tidak bisa menghubungi anda terus”
“Hmm..memangnya kenapa, Mizuki?”
“Saya hanya ingin mengingatkan hari ini anda ada pertemuan penting dengan Mr. William untuk menandatangani kontrak---”
“Jam berapa pertemuan itu?” potong Masumi.
“Jam 10, pak Masumi”
Masumi melirik arlojinya. Sekarang waktu menunjukkan pukul 9. Ia tidak akan sempat mengejar pertemuan itu. “Tolong kamu undur pertemuan itu, Mizuki. Beritahu padanya untuk datang setelah jam makan siang saja”
“Baiklah kalau begitu, pak Masumi”
Dan karena sudah tidak ada hal yang ingin mereka bicarakan, Masumi pun menutup telponnya. Sebelum meletakkan telponnya, Masumi melihat banyak miss called dan pesan suara yang masuk dalam ponselnya. Ia pun membuka daftar panggilan, dan panggilan itu dari Shiori.
“Pa..pak Masumi…?” panggil Maya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Masumi mendongak dan tersenyum menatap Maya. “Kamu sudah selesai mandinya?”
Maya mengangguk.
“Kalau begitu, ayo kita sarapan bersama” ajak Masumi sambil meletakkan ponselnya di atas meja dan menghampiri Maya.
Mereka sarapan pagi di teras villa.
“Kita harus kembali ke Tokyo, mungil” ucap Masumi “aku ada pertemuan penting”
Maya menatap Masumi dan mengangguk. “Ya…memang sudah saatnya kita kembali, pak Masumi” ucap Maya “waktu untuk kita bersama memang sudah berakhir”
“Tidak…jangan berkata seperti itu, mungil” sahut Masumi “Waktu kita bersama masih panjang. Tapi untuk saat ini—“
“Untuk saat ini, kita harus mengakhirinya. Aku mengerti” sambung Maya.
“Ini hanya untuk sementara, mungil. Aku akan berusaha semampuku agar kita dapat bersama lagi. Beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya”
Maya mengangguk, tapi pandangannya terlihat sedih.
“Mungkin lebih baik aku membatalkan pertemuan itu dan kita semalam lagi di sini” ucap Masumi yang melihat tatapan Maya.
“Tidak…” seru Maya “Lebih baik kita pulang saja, pak Masumi. Aku tidak mau mengganggu waktu anda lebih lama lagi”
“Mungil…” panggil Masumi sambil meraih Maya dan memeluknya.
“Terima kasih, terima kasih atas waktu yang anda berikan padaku, pak Masumi. Aku sudah puas bisa bersama dengan anda walau hanya sebentar” bisik Maya.
Masumi melepaskan pelukannya dan menatap Maya. “Mungil, aku janji—“
Dengan cepat, Maya meletakkan jarinya di bibir Masumi dan menggelengkan kepalanya. “Jangan berjanji apa-apa. Peluk saja aku, peluk saja aku…pak Masumi….”
Masumi pun kembali memeluk Maya dengan erat.
.
@@@@@
Masumi membawa kembali ke Tokyo. Sesampainya di depan rumah Ryu, ia menghentikan mobilnya dan menatap Maya. Tangannya terulur menggenggam erat tangan Maya.
“Mungil, tunggu aku” bisik Masumi “Aku akan menceraikan Shiori dan menjemputmu”
“Pak..pak Masumi…aku---“
“Percayalah padaku, mungil. Aku pasti kembali” ucap Masumi “Hanya beri aku sedikit waktu untuk menyelesaikan semuanya”
Maya hanya bisa mengangguk dan menatap Masumi.
Perlahan wajah Masumi mendekat dan kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Maya. Mereka pun kembali berciuman.
“A..aku harus masuk, pak Masumi” bisik Maya.
Masumi mengangguk.
Maya menjauhkan wajahnya dari Masumi dan membuka pintu mobil. Dan dengan enggan, Masumi melepaskan genggaman tangannya.
Maya menatap Masumi untuk terakhir kalinya kemudian ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, tanpa menolehkan kepalanya kembali. “Selamat tinggal, pak Masumi. Mulai hari ini, sungai yang terbentang di antara kita sudah meluap lagi jadi kita sudah tidak mungkin untuk bersama. Sekarang anda harus kembali pada nona Shiori. Dia adalah istri anda yang sah. Aku sudah merasa senang bisa berduaan dengan anda semalam. Itu adalah kenangan berharga yang tidak mungkin dapat aku lupakan. Terima kasih, pak Masumi…..”
@@@@@
“Mayaa….” seru Kaoru yang langsung bangun dari sofa ketika melihat kedatangan Maya.
Maya mengerutkan keningnya. “Ka..kaoru, mengapa kamu tidak berangkat kerja?” tanyanya pada Kaoru “Kak Ryu juga?” tanyanya lagi ketika melihat Ryu.
“Kamu dari mana saja?” tanya Kaoru “Kamu tahu kamu membuat kami khawatir”
Maya terperangah. Ia lupa memberitahu kepergiannya. Lalu ia memandang Kaoru dan Ryu bergantian. “Maaf, maafkan aku….aku….aku lupa mengabarkan pada kalian—“
“Memangnya kamu dari mana, Maya? Sampai baru sekarang kamu pulang?” tanya Ryu.
“Aku..aku pergi bersama dengan temanku”
Kaoru dan Ryu saling berpandangan kemudian menatap Maya penuh tanya..
“Teman? Teman yang mana?” tanya Kaoru.
“Emm..itu teman lama” sahut Maya “dia mengajakku pergi dan kami keasyikan mengobrol, sehingga tidak ingat waktu dan membuatku lupa memberi kabar pada kalian berdua” sambung Maya berbohong. “Maaf..maafkan aku, Kaoru, Kak Ryu. Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya”
Baik Kaoru maupun Ryu menatap Maya dengan pandangan tidak percaya.
@@@@@
Setelah melihat Maya masuk ke dalam rumah dan tidak terlihat lagi, Masumi pun menjalankan mobilnya menuju Daito. Dan beberapa saat kemudian, ia pun sampai di sana.
Setelah memarkirkan mobilnya, Masumi pun masuk ke dalam gedung dan menuju ruangannya.
"Mizuki..." panggil Masumi ketika ia melewati meja sekretarisnya "kamu sudah mengatur--"
"Pak Masumi..." sela Mizuki sambil menatap Masumi cemas "apakah anda terlibat masalah?"
"Eh?" Masumi mengerutkan dahinya "masalah? masalah apa? Setahuku tidak"
"Lalu mengapa ada polisi yang mencari anda?"
"Apa? ada polisi yang mencariku?"
"Ya, pak Masumi" sahut Mizuki "ada dua orang polisi yang menunggu anda sejak tadi. mereka ada di ruangan anda".
"Hmm..begitu? Baiklah kalau begitu aku akan menemui mereka dan menanyakan permasalahannya. Terima kasih, Mizuki" ucap Masumi kemudian masuk ke dalam ruangannya.
Ceklek...
Dua orang polisi yang menunggu Masumi langsung menoleh ke arah pintu ketika mendengar pintu terbuka.
"Selamat siang, bapak- bapak" sapa Masumi sambil mendekati mereka.
"Selamat siang" jawab salah seorang dari mereka "apa anda pak Masumi Hayami?"
"Benar" angguk Masumi "apa ada yang dapat saya bantu?"
Kedua polisi itu berpandangan dan menganggukkan kepalanya kemudian kembali menatap Masumi. "Pak Masumi, silahkan anda ikut kami ke kantor polisi"ucap salah seorang polisi itu.
"Eh? mengapa saya harus---"
"Anda kami tahan atas tuduhan penculikan seorang gadis" lanjut polisi itu.
"Apaaa..." seru Masumi terkejut.
"Ini surat perintah penahanan anda" ucap polisi yang satu lagi sambil memperlihatkan selembar surat pada Masumi.
"Tapi,saya tidak--"
"Anda dapat menjelaskannya di kantor polisi. Sekarang anda ikut saja dulu dengan kami"
"Tapi--"
"Pak Masumi, silahkan..." Polisi itu mengulurkan tangannya, tanda agar Masumi ikut dengan mereka.
Masumi hanya diam mematung.
"Pak Masumi, silahkan anda ikut dengan kami” ulang polisi tersebut “Bekerja samalah dengan kami, pak Masumi. Atau kami akan membawa anda secara paksa”.
"Apaa?” seru Masumi “Kalian...kalian berani melakukan itu padaku" lanjutnya menatap marah kedua polisi tersebut.
"Maafkan kami, pak Masumi. Kami hanya melaksanakan perintah".
Masumi menghela napasnya. "Baiklah, saya akan ikut dengan kalian" ucap Masumi akhirnya karena ia tahu percuma bersikeras menjelaskannya sekarang.
Diikuti kedua polisi itu, Masumi pun keluar dari ruangannya.
"Mizuki..." ucap Masumi berhenti sejenak di depan meja Mizuki " tolong cancel semua jadwalku hari ini."Lalu hubungi pak Kobayashi" Masumi menyebut nama pengacaranya "minta beliau untuk segera datang ke kantor polisi menemuiku"
"Pak Masumi, memangnya apa---"
"Lakukan saja perintahku" potong Masumi.
"Ba..baik,pak Ma---" Belum sempat Mizuki menyelesaikan kalimatnya, Masumi sudah berlalu darinya. Mizuki menatap bingung kepergian Masumi bersama kedua polisi itu. “Pak Masumi, sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa anda harus berurusan dengan polisi?”
@@@@@
Sementara itu di apartemen Masumi dan Shiori…
Berulang kali Shiori mencoba menelpon Masumi. Terdengar nada sambung tetapi tidak ada yang mengangkat. "Di mana sebenarnya kamu, Masumi? Mengapa tidak mengangkat telponku?"
Suami anda sedang berduaan dengan seorang gadis....
Suara laki-laki yang kemarin menelponnya, terngiang-ngiang di kepalanya.
"Tidak..." geleng Shiori "itu tidak mungkin..." gumamnya mencoba meyakinkan dirinya. Ia pun lalu kembali mencoba menelpon Masumi.
Ting...tong...ting...tong
"Masumi...itu pasti Masumi yang pulang" gumam Shiori ketika mendengar suara bel "Masumi pulang akhirnya ia pulang ke rumah..." . Ia pun bergegas berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Ceklek
Shiori membuka pintu. "Masu--"
Ucapan Shiori terhenti karena tidak ada seorang pun di luar. Ia mengedarkan pandangannya, lorong apartemen itu kosong. "Masumi….”panggil Shiori “Kamu di mana, Masumi? bukankah kamu sudah menekan bel? Mengapa kamu menghilang?”
Tidak ada yang menjawab, tidak ada yang menampakkan diri.
Dengan wajah kecewa, Shiori pun kembali menutup pintu, tapi saat itu tanpa sengaja ia melihat sebuah amplop coklat tergeletak di bawah dekat kakinya.
Perlahan-lahan ia pun membungkuk dan mengambilnya. Sebuah kalimat bertulisan tangan tertera amplop itu 'Kepada : Nyonya Hayami'. Hanya itu tulisan yang tertera di sana. Tidak ada nama pengirimnya.
Shiori kembali mengedarkan pandangannya ke lorong dan tetap saja, ia tidak melihat siapapun. Lalu sambil membawa amplop coklat itu, ia masuk ke dalam dan menutup pintu.
Shiori duduk di sofa sambil memandangi amplop itu, hatinya bertanya-tanya siapa pengirimnya dan apa isinya. Perlahan-lahan ia pun merobek amplop itu. Dan merogoh isinya. Ternyata… isi amplop itu adalah setumpukan foto.
Mata Shiori membelalak terkejut ketika melihat lembar teratas foto itu. Foto Masumi menarik tangan seorang gadis. "Maya?" gumamnya tidak percaya ketika mengenali gadis itu "Maya Kitajima masih hidup?".
Dengan cepat dan gemetar, Shiori membalikkan foto itu dan melihat foto-foto yang lainnya. Wajahnya menjadi pucat ketika melihat foto-foto itu. Masumi dan Maya sedang berpelukan, bergandengan tangan, memancing, makan ikan bakar. Dan wajahnya semakin pucat ketika melihat foto terakhir...Masumi dan Maya sedang berciuman!!!
Grusak...
Foto-foto itu terlepas dari tangan Shiori. Air mata pun menggenang dan membasahi pipinya."Tidaak...itu pasti tidak benar.....pasti tidak benar...." gumamnya berulang kali.
"Kriiiing....."
Ponsel Shiori yang tergeletak di atas meja berdering.
"Ha...lo?" jawab Shiori lemah.
"Nyonya Hayami...bagaimana dengan foto yang saya kirimkan, anda sudah melihatnya bukan? Sekarang anda percaya kalau suami anda---"
"Apa maksudmu mengirimiku foto-foto itu?"
"Saya hanya ingin menyadarkan anda kalau suami anda itu--"
"Tidak...Masumi tidak mungkin begitu. Itu pasti hanya foto-foto lama.” Seru Shiori “Ya, pasti begitu. Karena sekarang…itu benar-benar tidak mungkin—“
"Nyonya…..foto-foto itu baru saya ambil kemarin”
"Tidaaaak...itu tidak mungkin….. "
“Nyonya?”
“Pembohong……kamu pasti mau menipu aku…..”
Klik….
Shiori menutup ponselnya dan melemparnya ke sofa.
Ia kembali memandangi foto-foto itu dan meraupnya kemudian meremasnya kencang "Ini pasti hanya foto-foto lama. Orang itu ingin menipuku. Maya Kitajima tidak mungkin masih hidup….”
Kriing....
Ponsel Shiori kembali berdering. . Tapi Shiori membiarkannya.
@@@@
Mizuki menekan nomor ponsel Shiori, terdengar nada sambung tapi tidak ada yang mengangkat.
"Nyonya Shiori...anda sebenarnya ke mana? Mengapa tidak mengangkat telpon? Apakah anda tidak tahu kalau pak Masumi tertibat masalah dan berada di kantor polisi sekarang?"
Sambil menghela napasnya, Mizuki meletakkan gagang telpon. "Jadi sekarang aku harus menghubungi siapa? Pak Kobayashi sedang pergi liburan. Mau minta bantuan nyonya Shiori, beliau malah tidak mengangkat telponnya" gumamnya kemudian ia kembali mencoba menghubungi Shiori.
@@@@
"Jadi...kamu tidak diculik?"tanya Kaoru.
Maya mengerutkan keningnya "Diculik? Siapa yang akan menculik aku, Kaoru?" tanyanya sambil tersenyum "Aku ini bukan anak kecil. Mana mungkin ada yang menculik aku".
"Tapi kami...menduganya seperti itu"
"Apa?"
"Karena semalam kamu tidak pulang dan tidak ada kabarnya, jadi kami beranggapan kalau kamu--"
Maya menggeleng-gelengkan kepalanya."Kamu itu mengada-ada, Kaoru. Kalau aku diculik, mana mungkin sekarang pulang ke rumah?”.
"Benar juga sih” angguk Kaoru “sekarang kamu sudah pulang, tapi kemarin—“
“Kaoru, maaf” potong Maya penuh penyesalan. “Kemarin, aku benar-benar lupa mengabarkan padamu juga kak Ryu. Tapi tidak perlu sampai berpikiran kalau aku di culik kan?Siapa tahu saja---“
“Kami mungkin tidak akan berpikiran seperti itu, seandainya tidak ada saksi mata—
“Eh? Sak..saksi mata?Saksi mata apa?" tanya Maya tidak mengerti.
“Saksi mata yang melihat kamu ditarik secara paksa dan dibawa pergi oleh seorang pria”
Maya ternganga karena terkejut. “A..ada yang melihat kejadian itu?”
Kaoru mengangguk. “Kamu tahu nenek Sakura? Tetangga seberang rumah kita?” tanya Kaoru “Kemarin pagi, beliau sedang mencoba handy cam baru, hadiah dari cucunya. Dan beliau tanpa sengaja merekam kejadian itu”
“A..paaa…”
“Dalam rekaman itu terlihat kalau…kalau pria itu---“ Kaoru terdiam sejenak dan terus menatap Maya “Pria itu yang adalah Masumi hayami---“
“Ka..kamu mengenalinya, Kaoru?”
“Tentu saja. Aku kan pernah melihatnya di televisi saat pernikahannya dengan cucu grup Takamiya, nona Shiori Takamiya”
“Ka..kalau begitu, mengapa kamu menuduhnya dia telah menculikku?”
“Karena dia menarik tanganmu secara paksa, menyeretmu pergi, mendorongmu ke dalam mobilnya dan membawamu pergi” sahut Kaoru mengatakan apa yang dilihatnya dalam rekaman itu.
“Tapi..tapi itu tidak berarti kalau aku diculik olehnya kan?”
“Mulanya sih memang tidak, Maya” jawab Kaoru lagi “Tapi, kamu tidak kunjung mengabari kami dan ketika aku mendatangi kantornya---“
“Kamu mendatangi kantornya?”
“Iya” angguk Kaoru “Tapi resepsionisnya mengatakan kalau Masumi Hayami sedang tidak ada di tempat. Lalu aku meminta nomor telponnya dan beberapa kali menelpon ke kantor itu, tapi resepsionis itu selalu menjawab kalau bosnya belum kembali juga…”
Maya terdiam mendengar penjelasan Kaoru.
“Semalaman kami menunggumu, Maya. Tapi tidak ada kabar juga tanda-tanda kepulanganmu. Kami tetap bersabar sampaitadi pagi, tapi tetap saja kamu menghilang tanpa jejak setelah di bawa pergi olehnya. Tadi pagi, sekali lagi, aku mencoba menghubungi kantornya, dan lagi-lagi resepsionis itu mengatakan kalau bosnya belum datang ke kantor” sambung Kaoru “Karena itulah kami berpikiran kalau kamu diculik olehnya karena kalian berdua sama-sama menghilang---“
“A..aku---“
“Lalu karena kami cemas dengan keadaanmu yang tidak jelas, jadi kami---“Kaoru menatap Ryu yang balas menatapnya namun tidak mengatakan apapun kemudian kembali menatap Maya “Kami---“
“Kalian apa?”
“Kami---“
Kriiing...
Telepon yang terletak di atas meja, tiba-tiba berdering. Ryu yang duduk dekat dengan meja telepon pun mengangkatnya.
"Ya..halo?" ucap Ryu Lalu, ia tampak terdiam beberapa saat, mendengarkan lawan bicaranya dan tak lama kemudian ia pun meletakkan gagang telponnya.
"Telpon dari siapa, kak Ryu ?" tanya Kaoru ketika ia melihat Ryu meletakkan telponnya.
.
Ryu menatap Kaoru "Itu..dari Kepolisian..." Jawabnya.
Maya mengerutkan keningnya. "Eh? polisi?” tanya Maya bingung “Mengapa polisi menelpon ke rumah, kak Ryu?"
"Mereka menelpon ke rumah karena---“Ryu terdiam sejenak menatap Maya "mereka ingin memberitahukan kalau….kalau Masumi Hayami telah ditangkap” lanjut Ryu perlahan.
"Apaaa…." seru Maya terkejut "pak..pak Masumi di tangkap polisi? Mengapa---" Maya menatap Ryu dan Kaoru, akhirnya ia menyadari sesuatu "kalian...kalian melaporkan pak Masumi ke polisi?"
"Eh...itu..." sahut Kaoru. Lalu ia menghela napasnya "Itulah yang tadi ingin aku katakan padamu, Maya.."
"Kaoru..."
“Kami benar-benar cemas, Maya. Jadi satu-satu pemikiran yang ada dalam benak kami untuk menyelamatkanmu…ya itu…”
“Kaoruu…”
“Tapi, benar kan selama kamu menghilang itu, kamu bersamanya?”
Perlahan, Maya menganggukkan kepalanya.
“Jadi, sebenarnya tuduhan kami tidak salah” sahut Kaoru “Dia membawa pergi seorang gadis lalu gadis itu tidak pulang-pulang dan tidak ada kabarnya, apakah itu bukan menculik namanya?”
“Kaoru, aku tidak diculik olehnya” bela Maya.
“Kalau begitu, mengapa kamu tidak memberi kabar? Dengan begitu aku juga kak Ryu kan tidak perlu cemas dan berpikiran seperti itu” ucap Kaoru tidak mau kalah “Apa susahnya menelpon kami sebentar?”
"Eh…I..itu...itu..."
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan, Maya sampai kamu tidak sempat menelpon kami?”
“A..aku….aku---- “
“Dia tidak memaksamu melakukan ‘itu’ kan?”
“I..itu? itu apa, Kaoru?” tanya Maya polos.
Kaoru menatap Maya gemas. “Mayaa…aku tahu kamu mengerti apa yang aku maksud”
“Ah..” wajah Maya seketika memerah “Tidak…” serunya “Tidak, Kaoru…”
“Benarkah?” tanya Kaoru tidak pecaya.
Maya menganggukkan kepalanya. “Dia tidak memaksaku” jawabnya perlahan.
“Heh…tidak memaksamu ya?Jadi kalian---“
“Aaaaa….” teriak Maya tiba-tiba “Ka..Kaoru, kita ke kantor polisi ya…kita harus mengeluarkan pak Masumi dari sana…”
“Maya…”
“Kak Ryu…” panggil Maya menatap Ryu “Kita pergi ke kantor polisi ya? Kita tidak bisa membiarkan pak Masumi---”
“Bisa saja” celetuk Kaoru.
“Ka..Kaoru…”
"Tidak perlu buru-buru, Maya" ucap Kaoru santai “Biarkan saja, dia…Masumi hayami itu tertahan sebentar di sana”
“Kaoruuu….”
“Aku ingin dia merasakan kecemasan karena dituduh menculik seorang gadis—“
“Kaoru…”
“Cukup, Kaoru” sela Ryu karena melihat Maya tampak gelisah “Kamu jangan mempermainkannya”
“Ah, kak Ryu…” seru Kaoru kesal “Mengapa kakak merusak kesenanganku? Aku ingin melihat wajah Maya yang panik” lanjutnya kemudian tertawa.
“Aaa….jahat kamu, Kaoru….” ucap Maya sambil mengangkat tangannya, hendak memukul Kaoru.
“Stop…” seru Kaoru “kalau memukulku….aku tidak akan mencabut tuntutannya lho…”
“Kaoru….”
“Baiklah..baiklah….” ucap Kaoru akhirnya “Ayo, kita pergi ke kantor polisi”
@@@@@
Akhirnya Shiori mengangkat telpon Mizuki sehingga sekarang ia berada di depan kantor polisi. Dengan anggun, ia masuk ke dalam dan melihat Masumi yang sedang duduk berhadapan dengan seorang polisi yang sedang menerima telepon. ia pun melangkah menghampiri Masumi.
"Masumi?"
Mendengar panggilan itu, Masumi menoleh. "Shi...Shiori? Mengapa kamu ada di sini?”
“Ternyata benar apa yang dikatakan Mizuki” ucap Shiori mengabaikan pertanyaan Masumi “Kamu memang berada di sini” lanjutnya sambil duduk di sebuah kursi kosong di sebelah Masumi.
Masumi mengerutkan keningnya. “Kamu mengatakan Mizuki? MIzuki yang memberitahukan kalau---“
Shiori mengangguk. “Masumi, sebenarnya ada---“
“Pinjami aku ponselmu” potong Masumi sambil menengadahkan tangannya di depan Shiori.
“Eh?”
“Karena tadi aku buru-buru pergi, ponselku ketinggalan. Jadi pinjamkan ponselmu” jelas Masumi “aku harus menghubungi Mizuki dan meminta---“
"Masumi, jangan menyalahkan Mizuki"
"Jelas saja aku harus menyalahkannya. Aku memintanya menelpon pengacaraku, bukannya---"
"Masumi, Mizuki mengatakan kalau pak Kobayashi sedang tidak ada di tempat--"
"Apaa?"
"Pak Kobayashi sedang pergi berlibur, Masumi. Jadi dia menghubungi aku"
“Jadi, pak Kobayashi sedang berlibur?” tanya Masumi. Masumi menghela napas. “Saat aku membutuhkannya, beliau malah tidak ada” gumamnya.
“Masumi, sebenarnya ada masalah apa? Mengapa kamu harus berurusan dengan polisi?”
“Aku---“
“Maaf, menunggu lama” sela polisi yang telah selesai menelpon. Lalu ia menatap Shiori dan mengerutkan keningnya. “Anda siapa? Pengacaranya?” tanya polisi itu ragu.
“Bukan” geleng Shiori “Saya istrinya”.
“Istrinya?”
“Benar” angguk Shiori.
Polisi itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap masumi "Istri anda begitu cantik. Apa yang kurang darinya sehingga anda menculik seorang gadis muda?”
Shiori yang mendengar pertanyaan polisi itu membelalakkan matanya karena terkejut. “Apa kata polisi itu? Masumi menculik? Menculik seorang gadis muda?” Ia pun menatap Masumi. “Itu tidak benar kan, Masumi? Kamu tidak menculik—“
“Tidak…” sahut Masumi “Tentu saja tidak”.
“Pak polisi, anda pasti salah. Suami saya bukan…..bukan seorang penculik gadis muda”
“Nyonya, ada kakak beradik yang melaporkan kehilangan saudarinya. Dan mereka menuduh suami anda yang melakukan”
“Apaaaa…..Mereka menuduh suami saya yang melakukannya” seru Shiori “Berani-beraninya mereka menuduh seperti itu. Siapa mereka? Biar saya tuntut balik mereka karena mencemarkan nama baik suami saya..”
“Shiori, tenanglah….”
Shiori menatap Masumi. “Bagaimana aku dapat tenang bila ada seseorang yang sembarangan menuduh kamu sebagai penculik, Masumi”
“Mereka tidak sembarangan menuduh, nyonya” ucap polisi itu “Mereka mempunyai bukti kalau suami anda yang melakukannya”
“Tidak..itu pasti tidak benar. Mereka pasti memperlihatkan bukti palsu---”
“Nyonya, benar atau tidaknya akan kita ketahui. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan pada suami anda” ucap polisi itu lalu ia menatap Masumi “Pak Masumi, saya minta anda menjawab beberapa pertanyaan saya”
Masumi mengangguk.
“Apa anda ingin didampingi pengacara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya? Bila iya, silahkan anda segera menghubungi pengacara anda”
“Masumi, apa kamu ingin memakai pengacaraku?” tanya Shiori “Aku akan menghubungi beliau kalau kamu—“
“Tidak perlu, Shiori”
“Eh?”
“Silahkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu sekarang, pak polisi. Saya siap menjawabnya”
“Anda tidak membutuhkan pengacara?”
“Tidak” geleng Masumi dengan yakin.
“Baiklah kalau begitu” sahut polisi itu “Tapi saya minta, anda menjawab pertanyaan saya secara jujur”
Masumi mengangguk.
“Pak Masumi, anda berada di mana kemarin pagi sekitar jam 8-an?”Polisi itu mengajukan pertanyaannya yang pertama.
“Saya—“
“Tentu saja, suami saya berada di kantornya” sela Shiori “Jam segitu, suami saya sudah berada di sana. Benar kan, Masumi?”
Polisi itu menatap Shiori “Maaf, nyonya. Tolong biarkan suami anda yang menjawabnya sendiri. Anda tidak perlu membantu menjawabkannya” Lalu polisi itu kembali menatap Masumi “Anda berada di mana saat itu, pak Masumi?”
“Saat itu saya berada di---“
Shiori menatap Masumi. “Masumi, mengapa kamu tampak ragu menjawab pertanyaan itu? Bukankah kamu berada di kantor? Benar kan kamu berada di sana?”
“Di mana, pak Masumi?”
“Di pinggir jalan”
Shiori mengerutkan keningnya. “Pinggir jalan?Sedang apa Masumi di pinggir jalan?”
“Saat itu, anda berada di pinggir jalan?”
“Benar”
“Apa yang anda lakukan di sana?”
“Saya….saya sedang bertemu seseorang”
“Seseorang???Masumi bertemu seseorang? Siapa yang masumi temui?”
“Apa anda dapat memberikan penjelasan secara spesifik, siapa yang anda maksud dengan seseorang ini?”
“Di..dia adalah klien saya”
Shiori menghela napas lega. "Ternyata, Masumi hanya bertemu dengan kliennya..."
Polisi itu mengganggukkan kepalanya “Jadi, klien anda adalah seorang gadis muda?”
“Eh…”
“Apaa..gadis muda?" jerit hati Shiori terkejut "Ah..tapi..tapi itu pasti hanya salah seorang artis Daito" Shiori menenangkan dirinya sendiri "Ya, pasti hanya seorang artis Daito.."
“Pak Masumi, saya ulangi sekali lagi apa klien anda seorang gadis muda?” ulang polisi itu.
Perlahan, Masumi menganggukkan kepalanya.
Melihat anggukan kepala Masumi. Polisi itu bertanya lagi “Kalau benar gadis muda ini adalah klien anda. Mengapa anda memperlakukannya secara kasar?”
Masumi terperangah dengan pertanyaan polisi tersebut. “A..apa maksud anda?”
“Pak Masumi, dalam rekaman yang ada pada saya. Anda terlihat---“
“Tunggu” seru Masumi “Apa yang anda maksud dengan rekaman?”
Polisi itu tersenyum. “Ada seorang tetangga dari kakak-beradik itu yang tanpa sengaja merekam kejadian kemarin pagi, pak Masumi”
“A..apa?” seru Masumi terkejut.
“Dalam rekaman itu jelas terlihat” sambung polisi itu “Anda menarik tangan seorang gadis muda secara kasar”
Masumi ternganga. Ia sama sekali tidak menyangka ada yang merekam apa yang dilakukannya, secara tidak sengaja pula.
Sementara itu di sebelahnya, Shiori tampak pucat mendengar perkataan polisi itu. Ia langsung teringat dengan foto pertama yang tadi dilihatnya. Foto Masumi yang sedang menarik tangan Maya. “Tidaaak…ini pasti tidak benar….”
“Mengapa anda menculik gadis muda itu, pak Masumi?”
“Saya tidak menculiknya” seru Masumi.
“Tapi, dalam rekaman itu juga terlihat anda mendorong gadis muda itu ke dalam mobil anda dan membawanya pergi, pak Masumi”
“Tapi saya tidak menculiknya” seru Masumi bersikukuh.
“Membawa pergi seorang gadis muda secara paksa , itu bukan menculik kah namanya?”
“Itu…”
“Pak Masumi, kedua saudara gadis itu melaporkan kalau gadis itu tidak juga pulang semalam. Di mana anda menyembunyikan gadis itu?”
Masumi menghela napasnya lelah. “Saya tidak menculiknya dan menyembunyikannya”
Polisi itu mengangkat kedua alisnya.
“Sekarang, dia sudah berada di rumahnya---“
“Gadis itu berada di rumahnya?” tanya polisi itu tidak percaya “Dari mana anda mengetahuinya?”
“Karena saya yang mengantarnya tadi” jawab Masumi perlahan.
“Apa…” jerit hati Shiori yang mendengar jawaban Masumi “Apa? Apa katanya? Ma..Masumi mengantarnya pulang?Jadi..jadi semua foto-foto itu memang benar baru diambil kemarin?” Foto-foto yang tadi dilihat Shiori berkelebatan di kepalanya “Tidak….aku tidak percaya ini….” Shiori menggeleng-gelengkan kepalanya “Bagaimana mungkin ini dapat terjadi….Bukankah…bukankah dia…dia sudah---.”
“Pak Masumiii….”
Jerit hati Shiori terputus ketika mendengar suara yang memanggil nama Masumi. “Su..suara itu….” Perlahan, ia menolehkan kepalanya ke belakang dan seketika itu juga wajahnya tampak sangat pucat ketika ia melihat orang yang sedang berjalan menghampiri mereka “Ma..Maya? Dia benar-benar Maya Kitajima???”
Bersambung ke part 08
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

uhuk uhuk * batuk batuk duluk *
BalasHapuskyaaaaaaaaaaaa ..... * blushing2 duluk *
ehmmm ehmmm * pasang muka serius *
waduh apa yg terjadi tuh ?
ada kasus apa ampe ada polisi gitu ?
kayaknya sih sidangka nyulik maya
BalasHapussalah tulis maksudnya disangka nyulik maya
Hapuswkwkwkwkwkwkwkwkww
BalasHapusAkhirnyaaaaa, ada yg nangkep om om penculik anak gadis orang, klo oerlu dipenjara aja sekalian tuh berlama lama(≧∇≦)/
BalasHapussiapa ya yg ngelaporin masumi ke polisi, klo kluarga ryu g mungkin krn mreka g nyangka klo maya ma masumi (pendpt q), kira2 siapa ya
BalasHapusjgn lama apdetnya
akhirnya mereka bertiga bertemu juga
BalasHapusPak masumi... ntar lagi kayaknya shiori pingsan deh
BalasHapusAah! Tanggung bgt sih! Update segera yaaa..
BalasHapuslanjuttttttt dunkkkk... *sambil ngasih makan hamster dibawah :)
BalasHapuskurang apdetny.......
BalasHapusLanjutt....!!!!!
BalasHapusmasumi culik akuuuu.... *hadeeeeehhh...
BalasHapusbagaimana bagaimana bagaimana ya..????
BalasHapuslanjutanya bikin penasaran.
Kapan updatenya sis?
Aq kira kmr ga bs dibuka, mw update sis :), hehehehe ditunggu apdetnya yaaa
BalasHapusAq kira kmr ga bs dibuka, mw update sis :), hehehehe ditunggu apdetnya yaaa
BalasHapuskoq blm ada lanjutannya ya,,, gimana nasib masumi di kantor polisi??
BalasHapusMutia na rival