(note:maya dan masumi sudah berpacaran 3 bulan )
“Kapan kamu akan mengatakan bahwa kamu mencintaiku, maya?” Tanya Masumi tiba-tiba ketika mereka sedang menikmati sunset.
Maya memandang Masumi yang duduk di sampingnya.
“Haruskah aku mengatakannya, Pak Masumi?” Tanya Maya polos
Masumi menghembuskan napas panjang.
“Bukankah sudah berkali-kali aku mengatakan padamu, jangan panggil aku Bapak. Apakah aku lebih cocok jadi ayahmu daripada pacarmu?” Tanya Masumi kesal
Maya tertawa mendengar kata-kata Masumi
“Maafkan aku-------“ Maya menggantung kalimatnya.
Masumi memandang Maya, menunggu kelanjutan kalimat Maya.
“Pak masumi” lanjut Maya sambil tersenyum jahil
“Kamu benar-benar membuat aku kesal, Maya…”keluh Masumi sambil memasang wajah sedih
“Jangan bersedih seperti itu, pak Masumi… bila anda memasang wajah sedih seperti itu, wajah anda akan terlihat semakin tua” canda Maya
Wajah Masumi menjadi semakin murung.
“Jadi….aku benar-benar tidak cocok sebagai pacarmu ya?” Tanya Masumi sedih pada Maya
“Aku kan hanya becanda, pak masumi..anda jangan bersedih seperti itu donk…” bujuk Maya
“Tapi benar kan…..kalau orang lain melihat kita berduaan seperti ini, mereka pasti beranggapan kalau aku seperti seorang paman yang sedang bersama keponakannya bukannya sepasang kekasih?” ucap Masumi lagi
“Mungkin juga…”sahut Maya membenarkan kata-kata Masumi yang membuat Masumi semakin murung.
“Tapi….walaupun orang lain mengatakan hal seperti itu, anda jangan memperdulikannya pak Masumi….yang terpenting kan perasaanku pada anda…”lanjut Maya kemudian.
“Memangnya apa perasaanmu padaku?”pancing Masumi sambil menatap Maya
Maya balas menatap Masumi.
Mereka saling bertatapan lama……
“Aku……….”Jawab Maya berlama-lama
“Apa?” desak Masumi
“Aku……” Maya masih menggantung kalimatnya.
“Mayaaa…” Masumi mulai gemas
“Ada deh….pak Masumi mauu tauu aja….” Kata Maya akhirnya sambil tertawa jahil dan memalingkan wajahnya menatap laut
“Begitu sulitkah buatmu mengatakan bahwa kamu mencintaiku, maya?”Tanya Masumi lagi
Maya mengangguk.
“Maafkan aku pak Masumi..aku….belum bisa mengatakannya. Kata-kata itu belum sampai pada ujung lidahku, sudah keburu hilang ” jawab Maya perlahan “Padahal waktu aku berlatih di kamarku, kata-kata itu begitu mudah keluar dari mulutku, mengapa di hadapan anda, aku jadi sangat sulit mengucapkannya ya?lanjutnya lagi
Masumi yang mendengar kata-kata Maya tersenyum kecil.
“Jadi aku harus menunggu lagi, Maya……sampai kapan aku harus menunggumu mengatakan kata-kata itu?” Tanya Masumi “Apa harus 7 tahun lagi kamu baru mengatakannya?”
Maya terkikik mendengar ucapan Masumi
“Tidak selama itu mungkin pak Masumi” jawab Maya menenangkan “aku janji” lanjutnya sambil mengangkat tangannya.
*****
Masumi mengantar Maya pulang ke apartemennya.
“Terima kasih, Pak Masumi telah mengantarkan aku….selamat malam” ucap Maya hendak membuka pintu mobil
Masumi memegang tangan Maya tiba-tiba
“Ada apa pak Masumi?” Tanya Maya
“Ada yang ketinggalan” sahut Masumi
“Ketinggalan? Aku hanya membawa tas ini…apa lagi yang tertinggal?” Tanya Maya bingung
“Kamu belum memberikan ciuman selamat malam padaku” jawab Masumi sambil menunjuk ke bibirnya.
Maya hanya terdiam di tempatnya duduk dan menatap Masumi
Perlahan….Masumi mendekatkan wajahnya
Semakin dekat..dan dekat…..
TApi, gerak Masumi tertahan…
Maya mendorong dada Masumi perlahan
“Jangan, Pak Masumi….aku belum siap anda cium” kata Maya perlahan sambil menundukkan kepalanya
“ayolah Maya, sekali saja” bujuk Masumi
“Gak mau…” sahut Maya cepat sambil menutup mulutnya
Masumi kembali duduk bersandar di kursinya.
“Kenapa nasibku begini malang…untuk mencium pacarku saja begitu sulit” desahnya.
“Maaf pak Masumi, aku------“
“Belum siap…aku mengerti….”Potong Masumi
“Kamu benar-benar sedang menguji kesabaranku, Maya” lanjutnya
“Pak Masumiiiii……..”
“Oke…oke..aku akan menunggu sampai kamu siap” ucap Masumi menyerah
“Terima kasih, Pak Masumi…anda benar-benar baiiiik deeeh” ucap Maya
Dengan cepat Maya mencium pipi Masumi dan segera keluar dari mobil dan berlari menuju apartemennya.
Masumi masih terdiam di dalam mobilnya dan memegang pipinya yang tadi dicium Maya.
*****
Beberapa minggu kemudian
Masumi menjemput Maya dari lokasi syutingnya.
“Maya, apa kamu ingat besok hari apa?” Tanya Masumi tiba-tiba ketika sedang menyetir mobilnya.
“Memangnya besok hari apa Pak Masumi?” Maya balik bertanya
“Coba kamu ingat-ingat” sahut Masumi
Maya mencoba mengingat-ngingat. Dahinya berkerut ketika berpikir dan mulutnya yang mungil mengerucut.
Masumi yang sedang sibuk menyetir melirik sekilas pada Maya, dia tersenyum kecil ketika Maya terlihat sedang berpikir keras
“AHA…..” tiba-tiba Maya berseru keras sambil menjentikkan jarinya.
“Aku ingat sekarang pak Masumi, besok hari apa…” ucap Maya pada Masumi
“Hari apa?” Tanya Masumi
“Besok…..aku ada janji dengan Koji untuk pemotretan iklan, Pak Masumi” kata Maya.
Jawaban Maya membuat mata Masumi yang tadi berbinar, menjadi redup kembali. Ia merasa sedih dengan jawaban maya
“Jadi kamu benar-benar tidak ingat besok hari apa, Maya” ucapnya perlahan.
Kemudian Masumi menghembuskan napas panjang.
“Anda mengatakan apa tadi, Pak masumi…memang aku salah ya?” Tanya Maya polos
“Ah, tidak…tidak apa-apa Maya Lupakankah…” sahut Masumi menutupi kekecewaan di hatinya.
Maya memandangi Masumi yang sedang konsentrasi menyetir.
Kemudian ia menolehkan kepalanya menatap kaca disampingnya sambil tersenyum misterius.
*****
Keesokan harinya
Seharian Masumi menunggu telepon dari Maya. Tapi sampai malam tiba, Maya belum juga meneleponnya.
Masumi benar-benar merasa kecewa.
“Bahkan sekedar mengucapkan selamat pun tidak kamu lakukan Maya…..kamu benar-benar tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunku” ucap Masumi sendu sambil menatap handphonenya yang tidak juga berdering.
Tapi tiba-tiba, handphone Masumi berdering.
Tertera nama ‘Maya’ di layar handphone
Dengan hati senang, Masumi segera mengangkatnya.
“Maya…”ucapnya
Tidak terdengar jawaban apa-apa di ujung sana
“Halo? Maya..”” ucap Masumi sekali lagi
“Pak masumi…..: “terdengar suara Maya perlahan
“Maya….Kamu-----“
“Pak Masumi…tolong….tolong aku” seru Maya tiba-tiba
Lalu terdengar jeritan Maya “aaaaaaaaaaah………………..”
Tut…tuuuuuuuuuuuuuuut……………………….
Telepon tiba-tiba terputus
Masumi mencoba menghubungi Maya kembali, tapi Handphone Maya tidak ada yang mengangkat.
Masumi benar-benar panik.
Berulang kali ia menelpon Maya, tapi belakangan sambungan telpon itu masuk ke pesan suara.
Masumi mondar-mandir di kantornya. Wajahnya menampakkan kecemasan.
Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Maya yang tiba-tiba minta tolong padanya dan menjerit.
“Apa sesuatu yang buruk terjadi pada Maya?”tanyanya cemas
“aku harus segera menemukannya…tapi di mana ia berada?” tanyanya lagi.
Dengan cepat, Masumi menekan sebuah Nama.
Terdengar nada sambung
“Rei….” Ucapnya ketika orang yang ditelepon Masumi mengangkat teleponnya.
“Pak masumi ada----------“
“Rei, apa kamu tahu Maya ada di mana?” Tanya Masumi memotong kata-kata rei
“Pak Masumi, kenapa-------“
“Cepat katakan padaku, Rei, Maya di mana? Ucapnya dengan tidak sabar
“Maya tadi ada di apartemen------“
Sebelum selesai Rei berbicara, Masumi menutup teleponnya dan berlari menuju parkiran mobil.
Dengan kecepatan tinggi Masumi mengendarai mobilnya menuju apartemen Maya.
*****
Ting…tong……ting…..tong…..tiiing…tooong….
Berulang kali,Masumi menekan tombol bel apartemen Maya.
Tapi tidak ada seorangpun yang membukakan pintu apartemen tersebut.
Masumi meraih gagang pintu…
Ia mencoba membuka pintu apartemen tersebut
'Ceklek…..’
Ternyata pintu tidak terkunci.
Masumi melangkahkan kakinya ke dalam.
Ruangan Apartemen itu gelap gulita.
“MAYA….”panggil Masumi
“MAYA…APA KAMU DI DALAM?” serunya sekali lagi
Tapi suasana hening tidak ada jawaban.
Masumi meraba-raba dinding, mencoba mencari saklar lampu.
Byar,,,,ruangan seketika menyala
Bertepatan dengan lampu menyala….
”SURPRISE…..” teriak Maya yang berada tak jauh dari tempat Masumi berdiri sambil melemparkan kertas warna-warni ke arah Masumi.
Masumi terkejut menatap Maya.
“Happy birthday, Pak Masumi” seru Maya sambil mengambil kue tart yang ada di meja dan membawanya mendekati Masumi.
“Apa-apaan ini Maya, kamu tahu kamu membuat aku ketakutan setengah mati?” Tanya Masumi marah setelah ia tersadar dari terkejutnya.
“Anda marah, Pak Masumi?” Tanya Maya perlahan.
Maya menghentikan langkahnya. Tidak berani mendekati Masumi
“Maaf, aku hanya ingin membuat kejutan untuk anda” lanjutnya perlahan sambil menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap Masumi jadi ia hanya menatap kue yang masih di pegangnya.
“Maaf, pak Masumi…maaf…..”ucap Maya lagi perlahan, air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
Maya tidak menyadari kalau Masumi mendekatinya.
Masumi mengambil kue tart itu dari tangan Maya dan meletakkannya di meja yang dekat dengannya, kemudian dia membawa Maya dalam pelukannya.
“Jangan menangis, maya..maaf..aku yang salah, seharusnya aku tidak marah padamu, maaf” ucap Masumi lalu dengan lembut ia mengecup rambut maya.
Masumi melepaskan pelukannya dan membungkuk menatap Maya yang masih menunduk.
Tangannya terulur menghapus air mata Maya.
“Jangan menangis lagi, Maya…aku minta maaf, aku tidak bermaksud marah padaku, tadi aku begitu khawatir, aku takut terjadi apa-apa denganmu…sudah ya jangan menangis lagi” bujuk Masumi
Perlahan-lahan Maya mengangkat wajahnya. Ia menatap Masumi.
“Anda tidak marah padaku?” tanyanya perlahan
Masumi menggeleng lalu tersenyum
“Mana mungkin aku marah padamu Maya…’ ucapnya lembut
“Apalagi kamu memberi aku kejutan seperti ini….aku pikir kamu melupakan hari ulang tahunku. Aku sudah sangat sedih tadi” lanjutnya
“Benarkah anda tidak marah, pak Masumi?” Tanya Maya sekali lagi
“Aku benar-benar tidak marah maya” tegas Masumi “Sekarang boleh aku meniup lilinnya?” Tanya Masumi
Maya mengangguk.
“Tapi lilinnya belum aku nyalakan pak Masumi” kata Maya “sebentar aku ambil korek apinya dulu.”lanjutnya sambil membalikkan badannya menuju dapur
“Tidak usah..”ucap Masumi memegang tangan Maya, mencegah gadis itu pergi
“Aku punya korek api di saku jasku” sambungnya sambil mengeluarkan korek api gas tersebut.
Mereka duduk berdua di dekat meja tersebut,
Masumi menyalakan lilin.
“Tunggu dulu” cegah maya saat Masumi akan meniup lilin
“Apa lagi?” Tanya Masumi
“Anda harus mengucapkan permintaan dulu di dalam hati, baru meniup lilinnya” jawab Maya
“Mengucapkan permintaan?” Tanya Masumi
Maya mengangguk
“Baiklah….permintaanku…………..”
Lalu Masumi meniup lilinnya.
“Pak masumi…..”panggil Maya
“Hmmm….”
“Apa permintaan anda tadi?” Tanya Maya penasaran
“Haruskah aku mengatakannya Maya? Apakah kalau aku memberitahumu permintaanku akan terkabul?” Tanya Masumi
“Aku tidak tahu, Pak masumi…”jawab Maya polos
“Jadi aku harus memberitahukannya padamu atau tidak ya?” goda Masumi
“Pak masumi….”
“Baiklah aku beritahukan padamu” putus Maumi akhirnya “Permintaanku…..”
“Nanti dulu Pak masumi, aku ingin memberikan anda kado dulu” ucap Maya memotong kata-kata Masumi
“Kamu masih ada kado untukku?” Tanya Masumi
Maya mengangguk
“Tapi anda harus menutup mata anda dulu” sahut Maya
“Ayo, anda tutup mata dulu”perintah Maya
Kado apa yang akan kamu berikan padaku dan menyuruhku menutup mata lagi, jangan-jangan kamu akan memberi aku kecoa lagi” kata Masumi menggoda Maya.
“Pak Masumiii…..aku tidak seperti itu…” sahut Maya kesal
Masumi tertawa melihat Maya yang kesal.
“Jadi anda tidak mau kadonya? Tanya Maya“Kalau gak mau, ya sudah..aku tidak memaksa” lanjut Maya
“Apa sih kadonya?” Tanya Masumi penasaran
“tutup mata dulu, baru anda tahu” sahut Maya lagi
“Baiklah” kata Masumi akhirnya menyerah.
Masumi pun menutup matanya.
“Pak Masumi tidak boleh mengintip ya…..” kata Maya
“Sudah belum koq la-------
Ucapan Masumi terputus karena Maya dengan cepat mengecup bibir Masumi.
Masumi yang terkejut membuka matanya dan melihat Maya yang wajahnya merah
“Itu……”
“Itu kadoku buat anda pak Masumi…..ciuman pertamaku untuk anda” kata Maya perlahan sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Masumi,malu.
Masumi tersenyum.
Masumi mengangkat dagu maya dengan lembut, mereka kembali bertatapan.
Kali ini, Masumi yang mendekatkan wajahnya ke wajah Maya.
Maya menutup matanya dan membiarkan Masumi mencium bibirnya sekali lagi.
Lamaaa……Masumi baru melepaskan bibirnya dari bibir Maya.
Lalu Masumi memeluk Maya dengan erat
“I love you, Masumi” bisik Maya di telinga Masumi
Masumi yang mendengar kata-kata Maya tersenyum bahagia.
“I love you too..Maya” sahut Masumi
“Terima kasih karena kamu sudah mengabulkan permintaanku Maya” lanjut Masumi.
“Permintaan anda?” Tanya Maya bingung sambil melepaskan pelukannya dan menatap Masumi
Masumi mengangguk.
“Ya Maya. Permintaan yang tadi aku ucapkan”kata masumi
“Karena kamu sudah mengabulkan permintaanku, aku akan memberitahumu sebuah rahasia”ucap Masumi lagi
“Apa itu?” Tanya Maya penasaran
“Tadi itu bukan ciuman pertama kita, Maya” jawab Masumi
“Apa maksud anda?” Tanya Maya bingung
“Ada deh……..” jawab Masumi meniru kata-kata Maya dulu sambil tersenyum misterius dan kembali membawa Maya yang masih bingung ke dalam pelukannya.
the end
wahhhh semuanya serba pas....pas waktunya pas juga ciumannya wuiiiih sooo sweeet.....
BalasHapusHari ini bertabur khayalan MH ciumansama MM terus neh sedapppp xixixixixi ty sista
kyaaaaaa sweeett sukaaaa Maya nya nakal ah...sangat menghibur
BalasHapusheuheuheuuu...goooddd.....
BalasHapusmaya ihh jail...
uwaa sooo sweettt kok dikiitt amat kuraang heheheh
BalasHapusanita f4evermania
kumat lagi,,fever MM mania,,
BalasHapussenyum2 sendiri,,cekikikan sendiri jg,,
maya kok bisa jail gitu ya,,n polosnya itu looohh,,ga ilang ilang,,,sukaaaaaa
waaahhh... suka!!!
BalasHapus-penggemar berat TK yang baru ngeliat blog keren banget seperti ini-