(sekuel dari cerita 'Saat Kau Jauh dari Sisiku')
Bandara Narita, Tokyo ; tengah malam
Di terminal 1 pintu kedatangan terlihat sesosok pria jangkung mendorong troli yang berisi setumpukan koper berjalan menuju pintu keluar bandara dan berhenti di tempat antrian taksi.
Sopir taksi segera mengangkat koper-koper itu ke dalam bagasi.
Setelah pria itu masuk dan duduk di kursi penumpang, taksi itupun mulai meninggalkan bandara.
“Mau ke mana, Pak?” Tanya sopir taksi itu.
“Semenanjung Izu” kata pria jangkung itu yang tak lain adalah Masumi Hayami.
Masumi menyandarkan punggungnya,
“Maya, aku pulang” katanya perlahan. Diwajahnya yang masih tergurat sisa-sisa keletihan muncul sebuah senyuman lembut…
Sebenarnya saat di bandara, masumi ingin segera ke apartemen maya untuk menemui gadis itu, dia sudah sangat merindukan gadis itu. Tapi setelah dia pertimbangkan lagi bahwa waktu saat ini yang sudah lewat tengah malam, dipastikan Maya sudah tidur nyenyak dan dia tak ingin mengganggu waktu tidur gadis mungil tercintanya itu.
Kepulangannya yang mendadak ini -4 hari lebih cepat dari rencana semula-tidak diketahui oleh siapapun, tidak oleh maya yang saat terakhir kali dia meneleponnya, dia tidak memberitahukan bahwa kepulangannya akan dipercepat, juga tidak oleh ayahnya, atau siapapun.
Sekarang ini, dia sedang tidak ingin pulang ke kediaman Hayami dengan alasan bahwa tidak mau membuat terkejut orang-orang di rumah dengan kedatangannya yang tanpa pemberitahuan di saat hari masih gelap, jadi dia memutuskan ke villanya di Izu.
Lagipula ia ingin menyendiri dulu, menenangkan diri dan tidur beberapa jam untuk memulihkan tenaganya, karena dia tidak ingin gadis mungilnya melihat gurat-gurat keletihan di wajahnya, dia ingin terlihat segar di mata Maya.
Setelah itu dia baru akan menghubungi Hijiri untuk menjemputnya di Villa serta mengantarnya menemui Maya.
Masumi memejamkan matanya, membayangkan apa yang terjadi ketika dia berada di depan apartemen Maya.
Saat itu mungkin dia akan menelepon Maya, memintanya keluar dari apartemennya, sedang dia sendiri akan berdiri di dekat mobil. Ketika Maya melihatnya mungkin dia akan membelalakkan matanya, lalu berlari ke pelukannya. Memukuli dadanya denga mesra dan mengatakan “Kapan pulang? Mengapa tidak memberitahu aku?”
Lalu Masumi akan melepaskan pelukannya dan melepaskan kerinduannya pada gadis itu dengan memberinya ciuman…
Sambil berkhayal hal seperti itu, Senyum Masumi semakin lebar….
“Tunggu aku, Maya…” ucapnya pelan sekali lagi.
Jalanan menuju semenanjung Izu yang berbelok-belok tampak sepi. Sopir taksi mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sementara itu dari arah yang berlawanan,tanpa diketahui siapapun ada sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Sopir truk itu mungkin mengantuk sehingga dia tidak menyadari bahwa dia berada di jalur yang salah.
Saat taksi yang ditumpangi Masumi melewati tikungan tajam di daerah Izu, Masumi membuka matanya dan melihat jalan didepannya, lalu tiba-tiba…………..
“AWAAAASSS” teriak Masumi
Sopir taksi kaget melihat truk muncul dari tikungan dan melaju dengan cepat mengarah ke taksinya, secara refleks dia mencoba membanting setir menghindari truk tersebut, tapi……..
TERLAMBAT......
Truk itu sempat mengenai badan taksi, dan menyebabkan taksi itu oleng sehingga tidak bisa dikendalikan oleh si sopir taksi.
BRAAAAAAAAAK!!!!!!!
Dengan kencang, taksi itu menabrak pagar pembatas jalan.
Masumi terbentur sesuatu yang keras, darah mengalir dari kepalanya, pecahan kaca mengenai tubuhnya.
“Mayaaa…..” desisnya pelan.
Pandangan matanya menjadi gelap dan kesadarannya perlahan hilang.
Suara klakson panjang terdengar memecah keheningan malam.
*****
Bersamaan dengan kejadian itu, di kamar apartemen Maya…
“MASUMIIIII…….”teriak Maya sangat keras, dia mendadak terbangun dari tidurnya.Napasnya terengah-engah seperti orang yang kecapaian dan keringat membasahi seluruh tubuhnya.
Rei yang mendengar teriakan sahabatnya, langsung berlari menuju kamar Maya.
“BRAK”
Dia membuka pintu itu keras-keras dan mendekati Maya.
“Maya….kamu kenapa?” ucapnya panik.
Maya memandang Rei…
“Rei….Masumi….masumi…..dia…..” Maya tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Air mata membasahi pipinya.
Rei membawa Maya ke pelukannya.
Dalam pelukan Rei, Maya sambil terisak-isak mulai berkata
“Rei…(hiksss….)Masumi..(hiks) dia tadi….. datang ke sini (hiksss…)ia berdiri di sana (hikss…) hanya….(hiks..) memandangiku (hikss…)saat aku (hikss…) memanggilnya (hikss…)ia diam saja……(hiksss…)lalu aku berusaha (hiks..)mendekatinya sambil (hiks) terus memanggilnya tapi…….ia (hikss….) membalikkan badannya (hiksss…) lalu menghilang…(hikssss…) bagaimana ini Rei….(hiks..) aku takut ia benar-benar…..(hiks..)meninggalkan aku….”
Rei membelai-belai punggung Maya berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Kamu hanya mimpi maya…Masumi tidak mungkin meninggalkanmu….Masumi sekarang sedang berada di Amerika mana mungkin dia bisa ada di sini….” Kata Rei.
“Tapi….mimpi itu seperti nyata, Rei….aku takut…” sahut Maya bersikeras.
“Mimpi tetap mimpi Maya, bukan kenyataan…sebentar lagi Masumi pasti akan datang menemuimu..kamu tenang saja..” ujar Rei mencoba meyakinkan Maya.
“Benar kah itu Rei?” Tanya Maya
Rei menganggukkan kepalanya dengan yakin.
“Berapa hari lagi Masumi pulang, Maya?”
“4 hari lagi, Rei..”
“Tinggal 4 hari….kalau begitu kamu bersabarlah sedikit lagi….”
“Tapi…kalau saat Masumi pulang dan ternyata dia sudah berubah pikirannya bagaimana, Rei…..”Maya mendadak takut.
“Kalau itu terjadi, kamu jangan takut karena aku akan membantumu menyeret Masumi….aku tidak mau lebih lama dipusingkan olehmu…tiap hari hanya mengucapkan nama Masumi dan selalu berkata ‘Mengapa masumi belum pulang juga ya Rei…..mengapa lama sekali hari itu berlalu ya Rei….’, aku bisa mati bosan mendengarnya” kata Rei panjang lebar.
Mendengar ucapan Rei, Maya hanya bisa tersenyum kecil.
“Hari masih gelap, ayo kamu tidur lagi..”kata Rei lagi.
“Tapi…kamu temani aku…” rajuk Maya.
Rei menggangguk, dan mengambil tempat di sebelah Maya.
Mereka berdua melanjutkan tidurnya.
*****
Kediaman Hayami, dini hari…
Kring…kring….kring….
Terdengar suara telepon di ruang tamu memecah keheningan rumah besar itu.
Asa segera mengangkat telepon itu karena takut Tuannya yang sedang tidur nyenyak terganggu.
“Hallo….” Ucapnya.
“Selamat pagi…..” sapa suara di ujung sana.
“Pagi…”Sahut Asa
“Apakah benar di sini adalah rumah kediaman Tuan Masumi Hayami?” kata suara diujung sana lagi.
“Benar…ini dari mana dan ada keperluan apa?” Tanya Asa
“Kami dari kepolisian daerah Izu hendak memberitahukan-------------“
Asa menyimak perkataan lawan bicaranya di telepon, perlahan raut wajah cemas muncul di wajahnya.
Ketika lawan bicaranya selesai bicara, Asa mengatakan “Baik, Pak…terima kasih”.
Dengan langkah perlahan, Asa menuju kamar Tuan Eisuke, mengetuknya perlahan, tetapi karena tidak medapat jawaban, Asa perlahan memberanikan diri membuka pintu kamar Tuannya. Dia melihat Tuannya sedang tertidur lelap.
Perlahan Asa mendekati Tuannya dan mengguncang tubuh Tuannya itu.
“Tuan…Tuan Eisuke…bangun Tuan” katanya sedikit takut. Dia benar-benar terpaksa melakukan hal ini.
Eisuke yang merasa terganggu, menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya.
“Kamu…Asa…ada apa? Apa hari sudah pagi?”
Eisuke melihat jam di samping tempat tidurnya, waktu masih menunjukkan jam 3 pagi.
“Ada apa kamu membangunkan aku pagi-pagi buta begini” omelnya.
“Maaf, Tuan…saya terpaksa mengganggu waktu tidur Tuan, karena tadi saya menerima telepon…” kata Asa yang segera dipotong oleh Eisuke.
“Telepon siapa? Siapa yang berani menelepon pagi-pagi buta begini?”
“Telepon dari kepolisian, Tuan…”
“Untuk apa mereka telepon pagi-pagi buta?” kata Eisuke dengan nada kesal
“Untuk..untuk memberitahukan bahwa Tuan. Masumi mengalami kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit umum Izu dengan keadaan koma” jawab Asa cepat.
Eisuke memandang Asa dengan pandangan tidak percaya
“Mana mungkin dia bisa berada di rumah sakit Izu, dia kan masih berada di Amerika, baru 4 hari lagi dia baru balik lagi ke Tokyo…Siapa yang menelepon dan mengabarkan hal yang tidak-tidak seperti itu…” Ucap Eisuke dengan nada marah.
“Tapi..Tuan…tapi…”
Eisuke memandang tajam Asa, Asa menundukkan kepalanya.
Eisuke menghembuskan napasnya…lalu berkata lagi..
“Kamu hubungi Hijiri, perintahkan dia untuk pergi ke rumah sakit Izu untuk mengecek kebenaran berita ini. Bila berita ini tidak benar, cari informasi siapa yang begitu berani memberikan berita bohong dan mengganggu orang” Perintah Eisuke.
“Baik, Tuan..saya akan segera melakukannya.” Kata Asa sambil pamit pergi, keluar dari kamar Eisuke.
*****
Sambil menunggu berita dari Hijiri, Eisuke menyalakan televisi. Televisi itu sedang menyiarkan berita. Dalam layar, Eisuke membaca sebuah tulisan yang mengejutkannya.
'DIREKTUR UTAMA DAITO KECELAKAAN'
Dengan cepat, Eisuke mengencangkan volume televisi.
“…permirsa, kami baru saja mendapatkan berita, bahwa pada dini hari tadi Direktur utama Daito Bapak Masumi Hayami, mengalami kecelakaan.
Kecelakaan itu terjadi di sebuah tikungan tajam di daerah Izu. Menurut saksi mata, taksi yang membawa Bapak Masumi sedang menuju ke arah semenanjung Izu, sedangkan dari arah sebaliknya, tanpa diketahui oleh sopir taksi datang sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Truk tersebut berada di jalur yang salah. Tepat di tikungan tajam itu, sopir taksi yang baru menyadari ada truk yang melaju kencang ke arahnya mencoba membanting setir untuk menghindari tabrakan. Tapi, sopir taksi kehilangan kendali karena taksi menjadi oleng dan akhirnya menabrak pagar pembatas jalan. >Layar televisi menayangkan gambar di tempat kecelakaan. Tampak sebuah taksi naas yang sedang ‘mencium’ pagar pembatas jalan. Taksi itu tampak penyok disana sini, Kap depan taksi terbuka lebar dan kaca berserakan di mana-mana<
Saat ini, kedua korban telah berada di rumah sakit terdekat.
Menurut informasi yang kami terima, seorang korban yaitu sopir taksi telah meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Sedangkan korban lain, yaitu Bapak Masumi masih dalam perawatan intensif dokter dan dalam keadaan kritis.
Untuk sementara, hanya itu yang dapat kami sampaikan, kami akan terus mencari informasi tentang kondisi Bapak Masumi dan menyampaikannya untuk anda-------“
Bip------------
Eisuke mematikan televisi. Wajahnya tampak mengeras dan kedua tangannya memegang erat-erat pegangan kursi rodanya.
Asa, dengan wajah yang semakin pucat telah mendapatkan kabar dari Hijiri dan mendekati Tuannya.
“Tuan Eisuke, Pak Hijiri telah memberi kabar bahwa benar bila ----------“
“Aku sudah tahu” kata Eisuke memotong kata-kata Asa. “Televisi telah menyiarkan berita kecelakaan Masumi.” Lanjutnya dingin.
“Anak itu….mungkin rencananya ia pulang lebih awal dengan tidak memberi tahu siapapun untuk memberi kejutan..dan ia berhasil melakukannya, ia benar-benar memberi kejutan yang sangat besar” ucap Eisuke lagi.
“Kamu beritahu Hijiri untuk menyelesaikan semua urusan di sana dan segera melaporkan kabar terbaru kepadaku” Perintah Eisuke kepada Asa.
Setelah memberi perintah pada Asa, Eisuke menuju kamarnya dan menutup pintu.
Bersambung ke PoL 2....
sperti biasa LANJOOOTTKAAAANNNNNNNNNNNNNN
BalasHapuswengggg T.T
BalasHapustulung lanjutkeuuunnn T.T
BalasHapus