Seminggu kemudian di kediaman Hayami
Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pintu. Dengan sigap, sopir membukakan pintu penumpang. Lalu keluarlah seorang wanita anggun diikuti oleh seorang pria jangkung yang masih tampak sedikit pucat.
Pria jangkung itu berdiri diam terpaku sambil memandangi rumah besar di depannya dengan bingung.
“Shiori ini….”
“Ini rumahmu Masumi” jawab Shiori yang mengerti kebingungan Masumi
Lalu, Shiori menggandeng tangan Masumi dan mengajaknya masuk.
Dengan ragu-ragu, Masumi mengikuti Shiori.
“Shiori…benarkah...di sini tempat tinggalku?” Tanya Masumi ragu
“Ini memang rumahmu Masumi” jawab Shiori yakin.
“Kamu sudah pulang?” tanya seorang pria tua yang duduk di kursi roda
“Dia……?”
“Dia, ayahmu. Eisuke Hayami” sahut Shiori
“Ayahku?”
“Benar, aku adalah ayahmu, Masumi” sahut Eisuke “Bagaimana keadaanmu? Apa luka-lukamu sudah sembuh?” Tanya Eisuke pada Masumi
Masumi menatap Eisuke, berusaha mengingatnya. Tapi tetap saja sia-sia, ia tidak dapat mengingatnya.
“Aku baik-baik saja……..” katanya “a…yah..” sambungnya sedikit ragu
“Aku sudah mendengar apa yang menimpamu, Masumi.Shiori sudah menceritakan semuanya padaku. Dokter mengatakan bahwa mungkin itu hanya efek sementara. Kamu pasti akan segera mengingat siapa dirimu lagi”kata Eisuke “Lebih baik kamu istirahat di kamarmu agar kesehatanmu segera pulih dan kamu siap memimpin Daito kembali” lanjutnya
“Me..memimpin Daito?”
“Iya, memimpin Daito” ulang Eisuke “Semua orang di Daito sudah menunggu kedatanganmu.
Masumi masih tidak mengerti apa yang dikatakan Eisuke.
“Apa maksudnya, Shiori?” Tanya Masumi “Memimpin…apa?”
“Daito, Masumi. Kamu adalah direktur Utama Daito. Salah satu perusahaan besar di Jepang” jelas Shiori
“Aku…direktur utama daito?’ ucapnya tidak percaya
Shiori mengangguk.
“Tapi..bagaimana----“
“Sudahlah” potong Eisuke “Kamu, jangan banyak berpikir dulu, Masumi. Nanti juga kamu tahu siapa kamu sebenarnya dan apa pekerjaanmu. Lebih baik kamu istirahat di kamarmu” lanjutnya
“Kamarku?” Tanya Masumi bingung
“Ah..aku lupa kalau kamu juga lupa di mana kamarmu. Biar Asa yang mengantarmu” Kata Eisuke lagi lalu ia akan memanggil Asa
“Tidak perlu, Paman. Biar saya saja yang mengantar Masumi” ujar Shiori
“Ayo, Masumi, kita ke kamarmu” ajak Shiori sambil menggandeng tangan Masumi.
Eisuke hanya melihat kepergian mereka dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bagaimana jadinya dengan anak itu?” ucapnya sendu
*****
Hari pertama Masumi di Daito
Sopir mengantar Masumi ke sebuah gedung bertingkat yang megah.
“Kita sudah sampai Tuan” ucap sopir itu sambil membukakan pintu
Ragu-ragu, Masumi melangkahkan kakinya ke dalam gedung tersebut.
“Selamat datang kembali di sini, Pak Masumi” sambut Mizuki
“Kamu…..”
“Saya Mizuki, sekretaris anda” sahut Mizuki. Ia sudah mengetahui keadaan Masumi dan telah diperintahkan oleh Eisuke untuk membantu Masumi.
“Oh…senang berjumpa dengan kamu kembali, nona Mizuki” kata Masumi dengan ramah lalu ia tersenyum “Aku benar-benar mengharapkan bantuanmu” lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.
Mizuki melongo melihat sikap Masumi yang sangat berbeda. Walaupun ia sudah tahu dari Eisuke bahwa Masumi amnesia tapi ia benar-benar tidak menyangka amnesia Masumi juga menyebabkan Masumi berubah 180 derajat.
“Eh..i..ya…iya Pak Masumi. Tolong panggil saya Mizuki saja, tidak perlu memakai kata nona” sahutnya gelagapan.”Memang tugas saya untuk membantu anda” katanya lagi sambil membalas uluran tangan Masumi.
Masumi menjabat tangan Mizuki dengan hangat.
“Mari saya antar ke ruangan anda” ucap Mizuki lagi
Masumi pun mengikuti langkah Mizuki
Sepanjang jalan menuju ruangan Masumi, karyawan-karyawan kantor yang berpapasan dengan Masumi mengangguk hormat dan mengucapkan selamat pagi padanya.
Masumi membalas ucapan selamat pagi itu disertai senyuman ramah yang membuat karyawan-karyawan kantor itu membelalakkan matanya, melongo karena terkejut dan terdiam melihat sikap atasannya itu bahkan karyawan wanita merasa jantungnya berdebar-debar tak menentu melihat senyum Masumi yang menambah ketampanannya.
“Silahkan masuk, Pak. Ini ruangan anda” kata Mizuki sambil membukakan pintu sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan direktur utama.
“Terima kasih, Mizuki” kata Masumi sambil tersenyum pada Mizuki
“Oh..sama-sama,Pak. “ sahut Mizuki “Kalau begitu saya permisi dulu” lanjutnya.
“Tunggu” ucap Masumi, Mizuki menghentikan langkahnya.
“Ya, Pak. Ada lagi yang bisa saya kerjakan?” Tanya Mizuki
“Aku ingin bertanya…apa ada yang salah dengan aku?”
“Salah? Maksud Bapak?” Mizuki balik bertanya sambil mengerutkan dahinya,
“Maksudku…tadi sepanjang jalan ke sini, karyawan yang berpapasan denganku semuanya bersikap aneh. Mengapa?”
“Oooo…” Mizuki mengangguk tanda mengerti. “Mereka hanya terkejut dengan sikap anda pada mereka” jelas Mizuki
“Mengapa mereka terkejut?”
“Karena sikap Bapak pada mereka, saat berbeda dengan sikap Bapak dulu…dulu sebelum bapak kecelakaan dan----“
“Memangnya dulu seperti apa sikapku?” Tanya Masumi penasaran
“ Dulu sifat anda…. maaf pak, sangat----” sahut Mizuki ragu
“Apa?”
“Itu, Pak….eh…..”
“Kamu katakan saja padaku, jangan ragu”
“Tapi, Bapak tidak akan marah kan kalau saya bicara jujur?” Tanya Mizuki memastikan.
"Tidak..aku tidak akan marah" janji Masumi.
Mizuki menarik napas panjang.
“Bapak terkenal dingin, ambisius, tidak berperasaan, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, kalau hati anda tidak senang, anda akan marah-marah, siapapun bisa jadi sasaran anda tanpa pandang bulu. Semua orang tidak ada yang berani mendekati anda dalam radius 10 meter kalau anda sedang marah. Buat anda, artis hanya barang dagangan dan bawahan hanyalah alat untuk meraih kesuksesan. Anda tidak pernah memandang mereka lebih dari itu.Mana pernah anda tersenyum ramah seperti tadi pada bawahan anda” kata-kata itu meluncur dengan cepat dari mulut Mizuki tanpa bisa dicegahnya.
Masumi terperangah mendengarnya.
“Benarkah aku…..seperti itu dulu?” Tanya Masumi lagi tidak percaya
“Iya…eh..maaf pak..maaf..saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan anda”kata Mizuki yang menyadari ucapannya.
Masumi tertawa.
“Aku suka kejujuranmu.Dan kamu..pasti seorang sekretaris yang luar biasa karena kamu masih bertahan menjadi sekretarisku” kata Masumi
“Saya sudah biasa menghadapi anda,Pak” sahut Mizuki “tapi sebenarnya anda juga sudah sedikit berubah sejak bertemu dengan gadis itu” lanjutnya perlahan
“Apa katamu?”
“Ah, tidak, Pak tidak apa-apa. Ada lagi yang ingin anda tanyakan, Pak?” Tanya Mizuki mengalihkan pembicaraan
“Dan ini…” kata Masumi sambil menunjuk ke setumpukan dokumen tinggi di mejanya
“Itu, dokumen yang harus anda baca dan pelajari, Pak” sahut Mizuki
“Sebanyak ini? Kamu yakin?” Tanya Masumi
Mizuki mengangguk.
“Yakin sekali, Pak. Itu pekerjaan anda yang sempat tertunda saat anda tidak berada di sini” katanya “Kalau ada yang tidak anda mengerti, anda silahkan memanggil saya” lanjutnya.
Masumi menghela napas.
“Kamu…sekretaris yang benar-benar tahu cara menyiksa bosnya. Aku menyesal telah memujimu. Aku heran, mengapa aku yang dulu tidak memecatmu” keluh Masumi sambil mengambil sebuah dokumen dari tumpukan itu dan membukanya.
Mizuki hanya tersenyum mendengar kata-kata Masumi.
*****
Maya sedang belanja keperluannya di sebuah supermarket dekat apartemennya. Sambil mendorong troli, ia membaca catatan barang yang akan di belinya.
“Tinggal beli shampoo…..mana rak shampoo…” kata Maya dalam hati sambil mencari-cari rak tempat shampoo.
Setelah memilih shampoo, maya pun mengantri di kasir.
Tanpa sengaja, matanya melihat judul majalah yang terpajang di depan kasir.
Penasaran, maya mengambil majalah itu dan membacanya.
Dan, ia benar-benar terkejut saat membaca judulnya..
‘DIREKTUR DAITO YANG AMNESIA MEMIMPIN PERUSAHAANNYA’
Maya terpaku melihat tulisan itu, ia hanya diam sambil memandangi tulisan itu.
Tangannya yang memegangi majalah itu bergetar.
“Masumi amnesia? Masumi amnesia?” ucapnya berulang-ulang tidak percaya.
“Nona…nona…silahkan” panggil kasir
Tapi, maya tidak mendengar panggilan itu. Ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri dan matanya masih terpaku memandang majalah itu.
“Nona” panggil seorang ibu yang mengantri di belakang Maya sambil menepuk bahu Maya “kasirnya sudah kosong”
“Oh, iya..”seru Maya tersadar. Ia lalu membawa trolinya, mengeluarkan barang-barang yang ada di troli termasuk majalah itu dan membayarnya.
*****
Di apartemennya, Maya membuka plastik pembungkus majalah itu dan membuka halaman yang memuat berita itu.
‘masumi hayami telah tersadar dari komanya beberapa hari yang lalu. Kondisi fisik beliau telah pulih dengan baik. Namun beliau mengalami amnesia akibat benturan dari kecelakaan beberapa waktu lalu.Saat ini, beliau pun telah kembali bekerja di Daito untuk memimpin perusahaan tersebut. Hanya saja banyak kalangan yang meragukan kemampuan beliau saat ini.Bagaimana jadinya nasib Daito di tangan pemimpin yang amnesia---“
Maya tidak dapat melanjutkan menbaca berita itu. Matanya berkaca-kaca.
“Masumi amnesia? Dia amnesia?” ucapnya tidak percaya
“Aku harus bagaimana? Apa Masumi tidak akan mengingatku lagi? Apa aku akan kehilangan mawar unguku? Apa aku akan kehilangan masumi?” tanyanya sambil terisak-isak.
*****
Kediaman Hayami
“Tuan Eisuke, beberapa pemegang saham meminta bertemu dengan anda” ucap Asa
“Hmmm..pemegang saham? Aku tahu…Minta mereka untuk menunggu sebentar. Aku akan segera menemui mereka”sahut EIsuke
“Baik, Tuan” sahut Asa
Tak lama kemudian, Eisuke menemui tamu-tamunya.
Ketiga orang tamu yang melihat kedatangan Eisuke berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk hormat pada Eisuke.
“Duduklah kembali, tidak usah seformal itu” kata Eisuke mempersilahkan tamu-tamunya duduk.
“Ada hal yang ingin kalian bicarakan sampai kalian datang kemari?” Tanya Eisuke
“Tuan Eisuke, saya mewakili para pemegang saham meminta anda untuk mempercepat rapat yang direncanakan dulu” kata seorang pria yang bernama Kotaro Yamada.
Ucapannya itu disertai anggukan kepala dari dua orang lain yang hadir di situ.
“Untuk apa?’ Tanya Eisuke
“Untuk…untuk secepatnya memilih pengganti pak Masumi” jawab Kotaro lagi
“Mengapa?” Tanya Eisuke lagi
“Karena…karena Pak Masumi….anda mengetahui sendiri bagaimana kondisi Masumi sekarang”
“Kondisinya sangat baik” jawab Eisuke tenang “Memangnya ada masalah apa dengan Masumi?Bukankah Masumi telah kembali mengisi kekosongan kursi direktur daito?” Eisuke kembali bertanya
“Memang, Tuan Eisuke. Pak Masumi telah kembali. Tapi dengan ingatan yang hilang, kami…kami…..”
“Kalian tidak mempercayai kemampuannya karena Masumi hilang ingatan?” ucap Eisuke akhirnya
Ketiga pria itu mengangguk.
Tiba-tiba suasana hening
Eisuke memandangi satu persatu orang yang ada di hadapannya.
“Aku tidak akan mempercepat rapat “ kata Eisuke memecah keheningan.”Terserah kalian setuju atau tidak, tapi aku tetap pada keputusanku. Sebagai pemegang saham terbanyak, aku tidak akan mengubah keputusanku” lanjutnya
“Tapi..Tuan..tapi….” sela seseorang.
“Aku ingin kalian memberi kesempatan pada Masumi. Biarlah ia membuktikan kemampuannya sampai tiba waktu rapat yang telah kita setujui bersama. Bila kalian menganggap Masumi tidak layak lagi menduduki kursi direktur, aku akan menuruti keinginan kalian untuk memilih direktur yang baru. Kalian beritahu pemegang saham yang lain tentang keputusanku ini” kata Eisuke
“Asa…aku mau istirahat. Antar tamu-tamu pergi” Perintah Eisuke pada Asa sambil meninggalkan ketiga tamunya menutup pembicaraan mereka.
“Tuan, saya sudah mengantar mereka” lapor Asa tak lama kemudian
“Orang-orang itu selalu ribut dan tak sabaran” keluh Eisuke
“Tuan..apakah Tuan….”
“Apa aku meragukan kemampuan Masumi? Itu yang ingin kamu tanyakan?” kata Eisuke memotong kata-kata Asa
Eisuke menghembuskan napas panjang.
“Aku sangat menaruh harapan pada anak itu. Aku mendidik dia dari kecil untuk menjadi penerusku. Jujur saja, aku tidak rela orang lain menggantikan posisinya. Saat ini aku hanya bisa bertaruh, Asa. Aku hanya bisa bertaruh tentang kemampuan Masumi. Aku ingin tahu bagaimana kemampuan dia, naluri bisnisnya sekarang. Apakah insting bisnisnya juga ikut hilang seperti ingatannya. Dalam waktu yang singkat ini, aku ingin melihat cara kerjanya”.ucap Eisuke “Tapi, aku yakin, Masumi tidak akan mengecewakan. Aku tidak pernah salah menilai orang”
*****
Maya pergi menuju kantor Daito. Ia ingin bertemu dengan Masumi. Ia benar-benar berharap Masumi tidak melupakannya.
Saat Maya tiba di kantor Daito dan hendak mencari Masumi, tiba-tiba langkahnya terhenti.
Tanpa sengaja matanya melihat pria yang sangat dirindukannya itu sedang menunggu lift sambil merangkul mesra seorang wanita. Tampak Masumi tersenyum lembut pada wanita itu.
“Masumi…” bisiknya. Hatinya tiba-tiba menjadi sangat sakit melihat pemandangan itu.
Dengan cepat, Maya membalikkan badannya dan berlari keluar dari gedung Daito.
Tanpa bisa ditahannya, air matanya mulai menggenang.
“Masumi telah melupakan aku……ia benar-benar melupakan aku…” ucap Maya sedih..
Maya terus berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya bahkan ketika ia menyeberang jalan pun, ia tidak melihat rambu-rambu lalu lintas.
Tiba-tiba terdengar sebuah mobil mengerem mendadak.
‘Ciiiiiiiiiiiiit…………………………… ‘
bersambung ke PoL 7....
heuheu suraaaaaaaaaaaaammmmmmmmmmm.......amnesia jgkah scene terakhir ini ?
BalasHapusWuadaaaawwwwwwww!! Apa yg terjadi kemudiaaaannn?? Tidaaakkk
BalasHapuslohhhh kenapa tuh... omg... sabar mayaa.... hayoo semngaaattt....:))
BalasHapus