Jumat, 14 Oktober 2011
1001 Mawar Ungu part 01
Masumi membuka salah satu laci mejanya, ia lalu mengeluarkan sebuah foto. Ditatapnya foto itu dengan penuh kerinduan. Setiap memandang foto itu, ingatannya kembali pada hari-hari di masa lalu. Hari-hari di mana ia masih bisa melihat gadis itu dan menggodanya.
Tok…tok…tok…..
Mizuki menunggu beberapa saat tetap tidak juga ada jawaban jadi sekali lagi ia mengetuk pintu.
Tok..tok..tok….
Masih tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya Mizuki meraih handle pintu dan perlahan membukanya. Ia melihat pemandangan yang sudah tidak lagi mengejutkannya.
Atasannya sedang memandangi foto dengan sendu dan larut dalam pikirannya.
Mizuki menghembuskan napasnya panjang dan berjalan mendekati meja atasannya itu.
“Permisi, Pak” ucapnya sopan
Tapi Masumi masih tenggelam dalam pikirannya dan tidak mendengar perkataan Mizuki.
“PAK MASUMIII” teriak Mizuki dengan keras
Teriakan itu membuat Masumi kaget dan tersadar dari lamunannya.
“Kamu---“ ucapnya sambil menatap tajam Mizuki
“Maaf, Pak. Saya telah mengejutkan anda. Berulang kali saya mengetuk dan memanggil anda tetapi anda tidak menjawab” jelasnya.
“ada apa?”
“Bukankah tadi bapak meminta saya untuk memberitahukan para semua manajer untuk berkumpul di ruang meeting? Mereka semua sudah menunggu anda, pak” jawab Mizuki
“Baiklah. Saya akan segera ke sana” sahut Masumi sambil kembali meletakkan foto itu ke dalam lacinya dan menutup rapat. Kemudian ia berdiri dan keluar menuju ruang meeting.
@@@@@
Sore menjelang saat mobil yang dikendarai Masumi sampai dipesisir pantai. Ia lalu melepaskan jasnya dan mengambil setangkai mawar ungu yang tergeletak di kursi mobilnya. Kemudian iapun turun dari mobilnya.
Masumi menggulung celananya dan berjalan mendekati pantai. Ia berjalan menyusuri bibir pantai, membiarkan air laut menyapu kakinya.
Setelah beberapa langkah berjalan, Masumi berhenti dan berdiri diam menatap batas cakrawala lalu ia mengalihkan pandangannya pada setangkai mawar ungu yang dari tadi dipegangnya. Ia memandang lekat mawar ungu itu. Entah apa yang dipikirkannya saat memandangi mawar ungu tersebut.
Lalu ia membungkuk dan meletakkan mawar ungu itu di atas pasir dan membiarkan ombak menyapunya serta membawanya ke laut lepas.
Masumi terus memandang mawar ungu itu sampai hilang ditelan ombak.
Hampir 3 tahun, di setiap sorenya ia melakukan hal yang sama. Hampir tiga tahun juga penyesalan di hatinya belum juga hilang.
@@@@@
“Kamu sudah pulang, Masumi?” tanya Shiori sambil bangun dari tempat duduknya ketika melihat Masumi masuk ke dalam rumah.
Masumi hanya melihat sekilas ke arah Shiori, lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
“Masumi….” Panggil Shiori “ada yang ingin aku bicarakan denganmu” lanjutnya cepat sebelum Masumi menghilang di balik pintu.
Masumi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Shiori.
“Aku lelah. Nanti saja” ucap Masumi pendek kemudian ia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
Blam…
“Masu---“
Shiori menatap sendu pintu kamar Masumi yang telah tertutup. Ia lalu kembali duduk. Air mata menggenang dan jatuh membasahi pipinya yang mulus.
“Nanti? Kapankah nanti itu Masumi? Mengapa kamu selalu menghindariku?” ucapnya pilu.
“Kita berada dalam satu atap yang sama, tetapi bagaikan 2 orang asing yang tidak pernah berbicara. Mengapa Masumi? Mengapa kamu lakukan ini padaku?”
“Sudah hampir 3 tahun berlalu, selama itu juga aku selalu bersabar menunggumu…menunggumu membuka hatimu padaku. Tapi mengapa? Mengapa kamu tetap dingin padaku?”
@@@@@
Di dalam kamarnya, Masumi membuka pintu menuju balkon.
Ia menatap pemandangan malam kota Tokyo yang disinari cahaya lampu. Lalu kepalanya menengadah ke langit, dan mencari bintang yang paling terang. Bintang yang sama sejak 3 tahun yang lalu.
Hanya pada bintang itu, dia mencurahkan isi hatinya tentang kerinduannya dan juga penyesalannya. Sebuah harapan pun selalu terucap dari lubuk hatinya. Semoga keajaiban terjadi, sehingga dia masih diberi kesempatan agar dapat melihat kembali gadis mungil yang selalu mengisi hatinya.
Masumi menghela napasnya panjang.
Seandainya saja, ada sebuah mesin waktu yang bisa membawanya kembali ke masa lalu, ke hari-hari di mana gadis mungilnya itu masih ada dan terlihat olehnya. Ia ingin mengakui sesuatu, sesuatu yang tidak pernah berani dilakukannya karena takut mendengar kata-kata penolakan dari gadis itu.
Bila kesempatan itu diberikan lagi padanya, ia tidak akan ragu lagi untuk mengatakan pada gadis itu bahwa selama ini, ialah pengagum rahasianya, dan orang yang berada di balik bayang-bayang mawar ungu. Dan satu hal lagi yang ingin dikatakannya adalah bahwa ia sangat…sangat mencintai gadis itu.
Walaupun ia tahu perasaannya mungkin tidak akan berbalas dan gadis itu tambah membencinya serta menjauhinya, tapi ia tidak akan peduli. Karena setidaknya tidak akan ada penyesalan seperti yang dirasakannya saat ini.
Sekali lagi, Masumi menghela napas panjang.
“Hidupku benar-benar hampa tanpamu, Maya. Aku tidak bisa menghapus bayanganmu dari benakku walaupun 3 tahun sudah berlalu. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana, Maya? Perasaan rindu dan ingin bertemu denganmu semakin kuat dalam hatiku. Aku benar-benar sangat menginginkanmu ada dalam hidupku lagi…..”
@@@@@
Keesokan harinya.
Selesai mandi dan berpakaian, Masumi keluar dari kamarnya.
“Masumi…”panggil Shiori “ayo kita sarapan bersama”.
“Maaf, Shiori, aku---“
“Please, Masumi. Apa permintaanku begitu sulit untuk kamu penuhi? Aku hanya ingin kita sarapan bersama” ucap Shiori memotong perkataan Masumi.
Masumi menatap Shiori dengan ekspresi yang tidak terbaca, tapi kemudian ia melangkahkan kakinya ke meja makan dan duduk di salah satu kursi.
Melihat Masumi duduk, Shiori segera menuangkan secangkir kopi dan meletakkannya di meja dekat Masumi.
“Kamu mau selai apa Masumi?” tanya Shiori sambil mengambil roti dan akan mengoleskan selai. Tapi Masumi mengambil roti lain dan mengoleskan selainya sendiri.
Shiori menghela napas perlahan dan tidak berkata apa-apa lagi.
Mereka sarapan dalam diam, tidak ada yang berkata apapun.
“Aku sudah selesai” ucap Masumi tak lama kemudian sambil berdiri dan berjalan menuju pintu.
“Masumi, kamu mau ke mana?”
Tapi Masumi tidak menjawab pertanyaan Shiori, ia terus saja melangkah dan menghilang di balik pintu.
“Bukankah sekarang hari minggu? Tidak bisakah kamu berdiam diri di rumah saat hari libur dan menghabiskan waktu denganku?Mengapa kamu selalu menghindariku dan sepertinya tidak ingin melihatku? Mengapa Masumi? Mengapa?” tanyanya sendu.
@@@@@
Masumi mengendarai mobilnya menuju Daito.
Sesampainya di sana, ia langsung menuju ruangannya dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Siang hampir menjelang ketika Masumi keluar dari ruangannya dan meninggalkan Daito. Ia lalu mengendarai mobilnya menuju ke sebuah tempat yang baginya sangat istimewa, karena di tempat itu, dia pernah melihat bidadari.
Tempat yang dituju Masumi adalah sebuah stasiun kereta baru yang baru saja selesai dibangun dan sebentar lagi akan dibuka untuk umum. Bangunan yang ada di sana berinterior modern, sangat berbeda dengan keadaan dulu. Masumi berjalan menuju sebuah bangku tunggu yang ada di sana. Matanya menatap lurus ke depan. Yang terlihat di sana sekarang adalah rel-rel yang tertata dengan sangat rapi.
Tapi dalam pandangan Masumi, bukan itu yang terlihat olehnya tapi sebuah panggung diantara puing-puing bangunan dan sisa-sisa rel yang berserakan. Panggung tempat pementasan percobaan bidadari merah dilakukan. Dan ia melihat Maya sedang berakting menjadi bidadari merah di sana.
@@@@@
(Flashback)
Hari pertama pementasan bidadari merah….
Di lahan proyek pembangunan stasiun Shiotomi yang belum selesai, hari ini ramai dipenuhi orang. Bukan dipenuhi oleh orang-orang yang mau berdemo tapi oleh orang-orang yang mau menonton pementasan. Ya di tempat itu, yang belakangan dikenal sebagai gedung X akan dilakukan pentas percobaan bidadari merah (lihat Bidadari merah 9 ^^).
Hari mulai beranjak malam ketika pementasan itu dilakukan.
Para penonton yang sudah memiliki tiket mulai menempati tempat-tempat duduk yang telah disediakan panitia.
Dan akhirnya waktu pementasan percobaan bidadari merah pun dimulai.
Lampu-lampu yang menerangi tempat itu tiba-tiba mati. Suasana menjadi gelap gulita. Menyebabkan terdengarnya gumaman-gumaman tidak jelas dari para penonton yang ada di sana.
Lalu tiba-tiba sebuah lampu sorot diarahkan ke panggung dan di sana tampaklah sebuah pohon plum ribuan tahun yang bergoyang lembut diterpa angin. Pohon itu lama-lama berubah menjadi bidadari. Dan kisah bidadari merah pun di mulai…….
@@@@@
Maya memerankan bidadari merahnya dengan sangat luar biasa, membuat yang menonton merasa berada di lembah plum yang indah dan bukan di tempat yang penuh puing dan berantakan.
Bidadari merah Maya pun begitu nyata dan natural, membuat mereka percaya bahwa mereka sedang melihat seorang bidadari yang turun ke dunia dan mempunyai misi menyelamatkan umat manusia.
Percintaan Akoya dan Isshin yang begitu kuat berhasil menyentuh perasaan mereka, bahkan klimaksnya adalah ketika Isshin harus menebang pohon plum yang berisi jiwa Akoya sebagai bidadari merah dan pengorbanan Akoya demi kedamaian dunia, membawa penonton dalam suasana haru dan tidak sedikit yang menitikkan air mata.
Sampai akhirnya pementasan selesai dengan diturunkannya tirai panggung, gemuruh tepuk tangan penonton langsung membahana di tempat itu.
Tepuk tangan semakin meriah ketika panggung dibuka kembali untuk melakukan penghormatan dari pemain. Sebagian penonton berhamburan ke atas panggung untuk menyalami Maya dan memberikannya buket bunga.
Masumi memandangi Maya dari kejauhan yang sedang sibuk menyalami penonton.
“Kamu benar-benar hebat, Maya. Kamu mampu membuat penonton terpesona hanya dengan melihat aktingmu” gumamnya sambil terus menatap gadis mungil itu.
Saat orang terakhir yang menyalami Maya pergi, maya pun beranjak akan menuju belakang panggung.
Tapi, tanpa sengaja, Matanya menangkap sosok Masumi yang sedang memutar tubuhnya kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.
“Pak…Masumi…..tunggu…..”panggilnya sambil berlari mendekati Masumi.
Masumi menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya serta berdiri diam menunggu Maya .
“Terima kasih, pak Masumi. Aku senang anda mau melihat pementasanku sampai akhir” ucap Maya saat jaraknya telah dekat dengan Masumi “Dan….apa anda menyukainya, pak Masumi?”
“Eh….”
“Mungil, mengapa kamu harus menanyakan pertanyaan itu padaku? Apakah jawabanku begitu penting buatmu?”
“Hmm…itu….itu karena aku pernah berjanji pada anda. Bahwa aku akan memerankan bidadari merah yang bisa membuat anda bangga padaku, pak Masumi…” jawab Maya.
“Mengapa?” tanya Masumi.
“Mengapa….apa,pak Masumi?”
“Mengapa kamu mengatakan hal seperti itu padaku?mengapa kamu ingin aku bangga padamu?”
“Karena…….semua yang aku lakukan hanyalah untuk anda, pak Masumi…” jawab Maya “Mawar unguku…..” sambung dalam hati sambil menatap mata Masumi.
“Untuk…ku?” tanyanya tidak yakin sambil membalas tatapan Maya.
Tatapan keduanya tiba-tiba menjadi terkunci. Tidak ada satupun dari mereka yang bisa memalingkan wajahnya. Mata mereka seperti saling berbicara, mencoba memahami satu sama lain.
“Maya, apa maksudmu dengan semua ini? Dan apa arti dari tatapan matamu itu? Mengapa kamu memandangiku dengan sedemikian rupa sehingga aku tidak mampu berpaling dan berkata apapun?” tanya Masumi dalam hatinya.
“Pak Masumi…katakanlah.. kumohon katakan padaku bahwa andalah orang yang selama ini berada di balik bayang-bayang mawar ungu. Bahwa andalah yang selama ini melindungiku. Katakanlah padaku, pak Masumi. Aku mohon…dan aku akan langsung memelukmu…” jerit Maya dari dalam hatinya.
“Mungil….” ucap Masumi perlahan memecah keheningan di antara mereka, lalu mengikuti kata hatinya, perlahan tangannya terulur dan menyentuh pipi Maya.
Masumi membelai lembut pipi Maya.
“Mungil, aku---“
Kriiiiing………Kring,,,,,,,,,,
Suara ponsel di sakunya, mengagetkan Masumi dan membuat kesadarannya kembali.
Cepat-cepat, Masumi mengambil ponselnya dan berjalan menjauhi Maya.
“Ya, halo..?” tanyanya
Tampak raut wajahnya berubah menjadi kaget ketika mendengarkan orang yang menelponnya berbicara.
“Apa?” tanyanya tidak percaya “Baiklah aku akan segera ke sana”.
Masumi segera menutup teleponnya dan berpaling menatap Maya.
“Maaf, mungil. Aku harus pergi” pamitnya sambil pergi meninggalkan Maya.
“Pak Masumi…”
Setelah beberapa langkah berjalan, Masumi membalikkan badannya dan kembali menatap Maya.
“Bidadari merahmu sungguh luar biasa, Mungil. Aku benar-benar terpesona melihatnya” ucap Masumi kemudian ia kembali berjalan tergesa-gesa keluar dari tempat itu, meninggalkan Maya yang masih berdiri di sana memandangi punggung Masumi yang semakin menjauh.
@@@@@
Masumi menghela napasnya saat mengingat kejadian itu.
Malam itu, saat dirinya terpaku menatap Maya, ia tidak bisa berpikir apapun. Yang ada dalam pikirannya adalah ia ingin mengungkapkan perasaan yang sejujurnya pada gadis mungil itu, dan mengakui apa yang disembunyikannya selama ini bahwa dialah mawar ungu.
Kalimat itu sudah sampai di ujung lidahnya dan nyaris saja terucap bila saja ponselnya tidak berbunyi.
Suara ponsel membuatnya tersadar dan membatalkan ucapannya.
Yang meneleponnya malam itu adalah seseorang dari kediaman Takamiya. Dia adalah tangan kanan dari kakeknya Shiori. Ia diperintahkan kakeknya Shiori untuk memberitahukannya bahwa Shiori masuk rumah sakit dan dalam keadaan kritis akibat percobaan bunuh diri yang dilakukannya.
Mendengar kabar yang mengejutkan itu, ia bergegas ke rumah sakit dan terpaksa meninggalkan Maya yang saat itu memandanginya dengan penuh tanya.
Sekali lagi, Masumi menghela napasnya.
Malam itu adalah hari terakhirnya, ia bisa berdekatan dengan Maya. Setelah itu, ia hanya bisa memandanginya dari kejauhan dan meminta Hijiri untuk membantunya melindungi Maya.
Ia sudah tidak punya keberanian lagi untuk mengakui perasaannya walaupun keinginannya itu selalu ada. Tapi, ketakutan akan penolakan dari gadis itu menguasai pikirannya, belum lagi, Shiori yang tidak bisa ditinggalkannya karena kondisinya saat itu masih sangat labil.
Keadaan terus seperti itu, sama seperti sebelumnya, ia hanya bisa bersembunyi di balik bayang-bayang mawar ungu dan melindungi gadis itu secara diam-diam.
Sampai peristiwa itu terjadi…….
Waktu itu, Maya yang baru beberapa minggu mendapatkan hak pementasan bidadari merah, sedang ada pemotretan di salah satu pesisir pantai pulau Hokkaido. Sedang dirinya baru saja menutup rapat ketika sebuah guncangan besar yang menggetarkan gedung Daito terasa. Lampu-lampu gantung bergoyang keras juga gelas-gelas yang ada di atas meja. Dan kaca-kaca yang ada di ruangan itu pun ikut bergetar. Rupanya gempa berskala besar mengguncang Tokyo.
Gempa itu menimbulkan sedikit kepanikan. Beberapa karyawan berlarian keluar dan sebagian lagi berlindung di bawah meja. Suasana mulai tenang, ketika getaran gempa berhenti. Karyawan pun kembali meneruskan pekerjaannya dan ia pun kembali ke ruangannya.
Tapi 30 menit kemudian, ketika ia sedang memeriksa sebuah dokumen. Ponselnya berdering. Sebuah kabar mengejutkan didengarnya dari Hijiri.
Kata demi kata dari Hijiri saat itu, masih jelas diingatnya sampai sekarang.
“Pak Masumi….” Kata Hijiri kala itu,terdengar cemas, dilatari suara yang ramai di belakang.
“Ya..Hijiri, ada apa dan mengapa di sana ramai sekali?”
“Pak Masumi….apa anda tidak menonton televisi sehingga tidak tahu apa yang baru saja terjadi?” tanya Hijiri
“Memang apa yang baru saja terjadi?” tanyanya sambil menyalakan televisi yang ada di ruangannya.
Matanya menatap tak percaya, berita yang sedang ditayangkan itu. Dalam tayangan itu terlihat sebuah peristiwa yang terjadi setelah gempa besar beberapa saat yang lalu.
Sebuah gelombang besar dari laut tampak menghantam daratan dan menyapu semua yang dilewatinya.
“Pak Masumi…anda masih mendengar saya?”
“Ya..Hijiri. Lalu---“
“Tsunami itu juga terjadi di sini, pak Masumi. Di pantai tempat Maya melakukan pemotretan”.
DEG…..
Jantungnya serasa berhenti mendengar perkataan Hijiri.
“Lalu…Maya? Bagaimana dengannya?” tanyanya yang mulai panik.
“Pak Masumi, Maya---“ jawab Hijiri tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
“Ada apa dengannya?” desaknya.
“Saya…saya belum bisa mengetahui keberadaannya, pak Masumi” jawab Hijiri kemudian dengan suara perlahan.
“A..apaa?”
“Maafkan saya, Pak Masumi. Tapi saya belum bisa mencarinya. Keadaan di sini masih kacau dan----”
“Tuuuuttttttttttt…………………….”
Kata-kata Hijiri terputus.
Berulang kali ia mencoba menelpon Hijiri kembali, tapi usahanya gagal. Baru beberapa jam kemudian, ia baru bisa menghubungi Hijiri kembali.
Berita yang disampaikan Hijiri padanya membuatnya serasa berhenti bernapas.
Hijiri tidak berhasil menemukan Maya !!!!!
Berhari-hari kemudian, ia selalu memantau keadaan di sana, berharap korban selamat yang berhasil ditemukan tim SAR, salah satunya adalah Maya.
Bahkan sampai saat terakhir, tim SAR melakukan pencarian korban gempa, ia masih terus berharap Maya dapat ditemukan. Namun pada akhirnya Maya masuk dalam korban hilang yang tidak berhasil ditemukan.
Tak patah harapan, ia meminta Hijiri terus mencari. Hari demi hari, minggu demi minggu, ia menunggu saat-saat ditemukannya Maya, tapi ternyata harapannya hanyalah tinggal harapan. Maya tidak pernah dapat ditemukan.
Walaupun begitu selalu saja ada setitik harapan di hatinya, berharap suatu hari nanti, ia dapat melihat Maya muncul di hadapannya. Tapi kini sudah hampir 3 tahun dari peristiwa itu, tapi Maya tetap tidak diketahui keberadaannya. Jadi, ia harus menerima kenyataan pahit, bahwa Maya mungkin hilang terseret ombak besar yang menghantam daratan saat itu.
Mengingat semua kejadian itu, tanpa sadar, air mata menetes membasahi pipinya.
“Maya….” Gumamnya sendu.
Tiba-tiba dirasakannya sebuah tangan menyentuh bahunya dan membuat ia tersentak dan tersadar dari lamunannya.
“Maaf, pak…anda tidak apa-apa?” tanya seseorang.
Masumi menoleh ke arah suara orang yang bertanya padanya.
Seorang laki-laki tua sedang menatapnya dengan pandangan heran.
“Oh…tidak. Saya tidak apa-apa” ucap Masumi sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya kemudian ia bangun dari duduknya “saya permisi dulu, pak” lanjutnya lalu meninggalkan laki-laki tua itu yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memandangi kepergiannya.
@@@@@
Masumi mengendarai mobilnya tanpa tujuan. Sore baru saja menjelang dan ia merasa enggan untuk pulang. Rumah baginya kini hanya tempat untuk tidur. Bila hari berganti dan matahari sudah memancarkan sinarnya, ia akan bergegas pergi dan kembali pulang menjelang malam.
Sebenarnya ada setitik rasa bersalah pada Shiori, karena ia selalu ditinggal sendiri tapi rasa segan untuk berduaan dengannya selalu saja muncul dalam benaknya. Hidup satu rumah dengan wanita yang tidak dicintainya, membuatnya tidak pernah betah diam di rumah.
Lalu, mengapa ia menikahinya?
Masumi menghela napasnya ketika mengingat hal itu.
Keterpaksaan dan rasa tanggung jawablah yang membuatnya menikahi Shiori.
Semuanya berawal dari malam itu.
Beberapa hari setelah Maya tidak berhasil ditemukan, pikirannya tidak menentu sehingga ia menghabiskan malamnya di sebuah pub dengan meneguk bergelas-gelas wine.
Ia tidak pernah tahu dan tidak dapat mengingat kembali apa yang terjadi malam itu. Hanya keesokan harinya ketika ia tersadar, ia sudah berada di sebuah kamar hotel dengan pakaian berserakan di lantai dan Shiori sedang menangis di pinggir ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut.
Setelah kejadian itu, Shiori mengurung dirinya di kamar. Hal tersebut membuat kakek Takamiya khawatir sehingga menanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi karena sejak ia mengantar Shiori pulang, Shiori bersikap seperti itu.
Ditambah ikut campur ayahnya yang juga menanyakan hal yang sama, membuat ia tidak dapat menutupinya peristiwa malam itu walaupun ia sendiri tidak yakin dengan apa yang telah terjadi. Dan akhirnya dengan terpaksa, ia pun menikahi Shiori.
Masumi menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba melupakan hal tersebut dan berkonsentrasi dengan jalanan di depannya.
Saat, ia akan berbelok, ia melihat poster besar yang terpampang jelas di sebuah gedung pertunjukan.
“Anna Karenina” gumam Masumi membaca tulisan besar di poster tersebut. Ia pun memarkirkan mobilnya di depan gedung pertunjukan itu.
Gedung pertunjukan itu tampak ramai karena sebentar lagi akan dimulai pertunjukan sore.
“Pak Masumi?” tanya seseorang ketika Masumi hendak menuju loket.
Masumi menoleh dan melihat seorang pria setengah baya sedang tersenyum menatapnya.
“Anda?”
“Saya pemilik gedung ini. Apa anda ingin menonton pertunjukan ini, pak Masumi?” tanyanya.
Masumi mengangguk.
“Tapi kelihatannya, saya tidak akan kebagian tiket, kalau melihat antrian panjang di sana” sahut Masumi.
“Oh…kalau hanya untuk satu tiket, bisa saya usahakan” kata pria itu “Anda tunggu sebentar di sini dan saya akan segera mengurusnya” lanjutnya sambil pergi meninggalkan Masumi.
Tak lama kemudian, pria itu kembali lagi dan menyerahkan sebuah tiket.
“Ini, pak Masumi” ucapnya “silahkan anda menikmati pertunjukannya”
Masumi menerima tiket itu, setelah ia mengucapkan terima kasih, iapun masuk untuk melihat pertunjukan itu.
@@@@@
“Anna Karenina…..” gumam Masumi usai menonton pertunjukan itu “Rasanya baru kemarin aku menonton pertunjukan itu bersamamu,mungil. Tapi sekarang aku hanya bisa menontonnya sendiri” lanjutnya sendu.
Selesai pertunjukan, Masumi meninggalkan mobilnya di gedung pertunjukan dan menyusuri jalan di sekitar situ.
Langkahnya tanpa sadar menuju ke planetarium.
Masumi berdiri diam di depan planetarium.
“Apa yang sebenarnya aku lakukan hari ini?” gumamnya sambil memandangi planetarium di depannya “Mengapa aku mengunjungi tempat-tempat yang pernah aku kunjungi bersamanya?Masumi..masumi…ada apa denganmu hari ini?” tanyanya pada dirinya sendiri kemudian ia menggelengkan kepalanya.
Masumi hendak melangkahkan kakinya masuk dalam planetarium ketika dilihatnya dua orang gadis muda memakai yukata melewatinya.
Rupanya tak jauh dari sana, sedang diadakan festival kembang api. Masumi pun membatalkan niatnya untuk menuju planetarium dan pergi ke tempat festival itu berlangsung.
Masumi berjalan menuju ke tepi danau yang cukup luas, tempat banyak orang sudah berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan kembang api yang akan segera di mulai.
Tak lama kemudian, ratusan kembang api menghiasi langit malam dengan cahayanya yang berwarna-warni.
Seusai pertunjukan kembang api selesai, Masumi membalikkan badannya hendak meninggalkan tempat itu, ketika tanpa sengaja, matanya melihat ke arah seorang gadis memakai yukata berwarna biru yang sedang berbicara sesuatu dengan pria muda tak jauh di belakangnya. Gadis itu kemudian menggandeng lengan pria itu dan mengajaknya pergi.
Mendadak ia menghentikan langkahnya dan terkesiap ketika melihat wajah gadis itu.
“Mu..mungil….?” ucapnya tidak percaya.
Bersambung ke part 2....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


kurang...
BalasHapus- Gizuka Rizarudi -
hahhhhhhhh dah nikah sm shi ori ? hadeeehhhhhhhh
BalasHapus*geplak masumi*...XDD
kiki said:
BalasHapuskerrren..masumi yg menderita,tiada tara..*lho?
Lanjut sist!
sini aku tambahin sis tina *geplak geplak geplak masumi pake bibir* ^^
BalasHapusSeperti nya sebuah cerita yg sedih...but i like it..^_^
BalasHapusLanjutkannnn.....
poor masumi, lanjooot sista...
BalasHapusKenapa bw mawar ungu dipantai? Mayanya mate tenggelam ya?
BalasHapusduuuuuhhh....poor masumi....
BalasHapuslanjoooottt....but, jgn SE dong....HE aja gituuuu ..... *ngarepsangat*
*theresia*
cowok klu suka ke pantai tuh pasti orang nya romantis yah .....
BalasHapuswhat happen innih sm MM sis fenny..?
BalasHapushayu dilanjutkennnn...!!!
halaaaaah, cuma sampe tenggorokan ini apdetnya, mau kemana masumi buru2, ninggalin maya dah
BalasHapusKuraaaaannggg...Itu kenapa Mayanya ditinggal gtu ajah. Kasian kan Sis Fenny....
BalasHapus*Heri
T___T tsunami ya elah mdh2an selamet dah maya
BalasHapustidaaaaaaaaaaaaak, kenapa maya hilang, haaaaaaaaaaaa, tidk relaaaa
BalasHapuskok sediiihhhhhh... ga relaaaaaa,,, ga relaaa...huwaaaaaaaaaaaaaaaaa
BalasHapusMaya-nya gak beneran ilang krn tsunami kan?!? *ngarep.com*
BalasHapussediiiiiih, mdh2n Maya masih hidup, lanjuuuut...
BalasHapuswahhhh kasiannnnn ..... moga2 maya masih idup ya :(
BalasHapusapakah maya hilang ingatan? ato maya sengaja? ayo lanjoooot
BalasHapus