Halaman

Senin, 10 Oktober 2011

Kencan

Disalah satu bangku taman, Maya sedang duduk menunggu. Sesekali matanya menatap ke arah pintu masuk. Ia lalu melirik arlojinya.

“Lagi-lagi terlambat” keluhnya.

Matanya lalu beralih pada seorang bocah laki-laki yang sedang asyik berlari ke sana kemari mengejar burung-burung jinak yang banyak di taman itu.

“Wusss…telbang…” seru bocah laki-laki itu merentangkan tangannya sambil tertawa gembira.

“Hati-hati, Yuki-chan. Jangan lari-lari nanti kamu jatuh” seru Maya sambil menghampiri bocah itu dan menggendongnya.

“Tuyun…tuyunin…Yuki gak mau digendong” seru Yuki berontak



“Tapi, janji, kamu tidak lari-lari lagi dan jangan main jauh-jauh” ucap Maya

Sepasang mata bening Yuki menatap Maya.

“Yuki janji” katanya sambil mengangkat tangannya.

Akhirnya Maya menurunkan Yuki dan membiarkannya kembali bermain di dekatnya.

Tak lama bermain, mata Yuki memandang sesuatu yang menarik perhatiannya.

Ia kembali menghampiri Maya.

“Yuki mau itu” ucapnya sambil menunjuk.

“Itu?” Tanya Maya

Yuki mengangguk.

“Kalau begitu, ayo kita beli. Kamu mau yang warna apa?” Tanya Maya sambil bangun dari duduknya.

Tapi, Yuki menahan tubuh Maya dan menggeleng.

“Yuki bica beli cendiri. Tidak ucah diantal.Yuki kan cudah becal” ucapnya cadel

Maya tersenyum mendengar kata-kata Yuki.

“Baiklah…baiklah kalau kamu mau beli sendiri. Ini uangnya” kata Maya sambil menyodorkan selembar uang pada Yuki “Cepat kembali ya” lanjutnya.

Yuki mengangguk dan mengambil uang itu. Kemudian ia berlari kecil mendekati penjual balon

Maya sedang mengawasi Yuki yang sedang menunjuk salah satu balon yang diinginkannya ketika seseorang memanggilnya.

“Maya, maaf—“

Maya menolehkan kepalanya dan melihat orang yang ditunggunya datang mendekatinya. Tapi kemudian Maya memalingkan kembali kepalanya dan bersikap tidak peduli.

“Maya, maafkan aku” ucap Masumi ketika ia sudah berada didekat Maya dan duduk di sampingnya.

Tapi Maya mengacuhkannya dan seolah tidak melihat dan mendengar apa-apa.

“Maya, maaf..maafkan aku karena aku terlambat” kata masumi lagi sambil memeluk Maya dari belakang. “Jangan marah ya”

“Lepaskan!” ucap Maya

“Maya…jangan marah, please”

“Aku bilang lepaskan” ucap Maya sekali lagi tapi Masumi tidak melepaskan pelukannya tetapi malah memeluk Maya erat.

Tiba-tiba dirasakannya sebuah tangan mungil menarik lengannya.

Masumi menoleh dan melihat bocah laki-laki yang sedang memegangi tangannya dengan sebelah tangan mungilnya karena tangan yang satunya sedang memegang tali balon.

Dengan berani, ia memandang Masumi.

“Lepaskan…apa paman tidak mendengal” serunya sambil menarik-narik lengan Masumi

Masumi memandang bocah itu dengan bingung.

“Siapa dia?” tanyanya pada Maya

“Dia---“

“Aku ultlaman, paman montel”sahut bocah kecil itu mendahului kata-kata Maya.

“Ultlaman?Paman montel?” ulang Masumi bingung.”Mengapa dia memanggilku paman montel?”Tanya Masumi pada Maya.

“Ayo..lepaskaan” seru bocah itu sekali lagi, dan tanpa disadarinya, ia melepaskan tali balon yang dipegangnya dan menarik lengan Masumi dengan kedua tangan mungilnya.

Balon itu terbang tinggi.

TIba-tiba mata bocah itu berkaca-kaca ketika ia menyadari balon yang baru dibelinya terbang.

“Hua…balon Yuki jadi telbang…..gala-gala paman montel” kata yuki diantara tangisannya.

Masumi hanya bisa memandang bingung bocah itu.

Maya melepaskan tangan Masumi yang memeluknya dan meraih Yuki.

“Cup..cup..cup…jangan menangis ya yuki-chan. Kak Maya belikan balon lagi ya” bujuk Maya pada Yuki sambil mengusap air mata Yuki.

Yuki mengangguk.

Maya lalu berdiri dan mengajak Yuki menghampiri penjual balon dan membelikannya satu balon lagi.

Masumi masih duduk diam di tempat duduknya, memandang tidak mengerti pada mereka berdua tapi kemudian ia menghampiri mereka berdua.

“Jangan dekat-dekat” seru Yuki sambil berdiri di depan Maya, menghalangi dan dengan matanya yang masih ada sisa-sisa air mata menatap marah Masumi.

“Pelgi….paman montel jahat pelgiiii…” teriaknya

Masumi menghentikan langkahnya dan menatap Maya.

Maya tersenyum melihat tingkah Yuki kemudian ia berlutut.

“Yuki-chan tidak boleh begitu. Dia bukan paman monster jahat. Coba Yuki-chan lihat, memangnya wajahnya seperti monster?”ucap Maya pada Yuki.

Yuki menatap lekat Masumi.

“Betul kata kak Maya. Memangnya wajahku menyeramkan?” celetuk Masumi “Masa cakep begini dibilang monster”

“Cakepan juga Yuki” sahut Yuki “Betul kan kak Maya. Cakepan Yuki?” tanyanya pada Maya meminta Maya menyetujui perkataannya.

Dengan tawa ditahan, Maya mengangguk.

“Iya, kamu memang paling cakep, Yuki” ucap Maya sambil mengusap-usap rambut Yuki gemas.

“Tuh, dengal kan kata Kak Maya, kalau Yuki yang cakep” ucap Yuki pada Masumi.

“Iya..iya, memang benar. Kamu yang paling cakep” sahut Masumi sambil berjalan lagi mendekati mereka.

“Belenti!” seru Yuki lagi “Capa yang curuh mendekat?”

“Yuki, kan tadi Kak Maya sudah bilang. Kamu tidak boleh begitu”

“Tapi..tapi kata mama, kita kan tidak boleh dekat-dekat cama olang yang tidak dikenal, Kak Maya” jawab Yuki polos

“Tapi, kak Maya kenal. Dia teman kak Maya” sahut Maya

“Teman kak Maya?” Tanya Yuki tidak percaya

Maya mengangguk.

“Namanya Masumi”

“Macumi?” ulang yuki

“Bukan Macumi, yuki-chan. Tapi Masumi” sela Masumi tiba-tiba “Coba katakan Masumi”

“Macumi” kata Yuki

“Bukan, Yuki-chan. Masumi” sahut Masumi

“Iya…Macumi…”kata Yuki “Macumi…dali tadi juga Yuki cudah bilang Macumi” lanjutnya.

Masumi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah sedangkan Maya tertawa-tawa geli.

&&&&

Mereka menyewa sebuah tikar dan menghamparkannya di lapangan rumput, tempat banyak keluarga lain yang bercengkerama dan menikmati suasana sore.

“Jauh…paman Macumi jauh di cana…jangan dekat-dekat” ucap Yuki sambil mendorong Masumi

Masumi hanya bisa menghembuskan napasnya dan menuruti keinginan Yuki.

Yuki kemudian membuka tas yang digendongnya dan mengeluarkan buku gambar dan pensil warna.

Tak lama kemudian, dia terlihat asyik menggambar.

“Yuki-chan sedang menggambar apa?’ tanya Masumi sambil melirik ke gambar yang sedang Yuki buat.

Yuki berusaha menutupi gambarnya dengan jari-jari tangannya yang mungil.
“Adaaa deh…paman Macumi, mau tahu saja…” seru Yuki “paman Macumi tidak boleh lihat”

“Ah, kelihatan koq. Itu gambar beruang kan?” tanya Masumi

“Bukaaaan….ini bukan gambal beluang”

“Jadi gambar apa?” tanya Masumi lagi “ oh..gambar monyet ya?”

“Bukaan….” Teriak Yuki sambil manyun “Paman Macumi payah, maca gambal ini juga tidak tahu” lanjutnya.

“memangnya itu gambar apa?” pancing Masumi.

“ini gambal paman montel, tahu…” sahut Yuki “Nanti kalau gambal paman montelnya sudah selesai, disebelahnya, yuki gambal ultlaman yang lagi menembak paman montel” lanjut Yuki menjelaskan gambarnya.

“gambar paman montel? Jadi maksudnya dia menggambar aku?” ucap Masumi sambil melirik pada Maya yang juga sedang memandangi Masumi sambil tersenyum.

“Benar-benar ya anak jaman sekarang” gumam Masumi sambil menepuk dahinya.

Ting…ting…ting…..

“Yuki-chan, mau es krim?” Tanya Masumi tiba-tiba saat ia mendengar suara penjual es krim tak jauh dari tempat mereka.

“Mauuu….es klim…Yuki mau es klim..” jawab Yuki senang sambil menghentikan kegiatan menggambarnya.

“Yang rasa coklat ya?” Tanya Masumi

“Gak mauuu….Yuki maunya yang putih” jawabnya lagi

“Yang putih?”

“Mungkin maksudnya yang rasa vanilla, Masumi” sahut Maya yang disertai anggukan Yuki

“Lebih enak juga yang coklat, Yuki-chan”

“Gak mau…yang putih” kata Yuki bersikeras

“Yang coklat saja, Yuki-chan” goda Masumi

“Gak mauuu….Yuki mau yang putih..pokoknya yang putih” sahut yuki ngotot kemudian ia memalingkan wajah polosnya menatap maya seperti mau menangis.

“Kak Maya.,.paman Macumi jahat, Yuki kan maunya yang putih”ujarnya mengadu pada Maya.

“Yuki-chan, jangan menangis. Sini biar kak Maya pukul paman Macumi-nya,biar belikan yang Yuki-chan mau” sahut Maya sambil pura-pura memukul Masumi.

“Iya deh…iya.... paman belikan yang putih” sahut Masumi kemudian “Ya ampun, anak jaman sekarang, kecil-kecil sudah belajar ngotot, pintar cari dukungan pula” keluhnya sambil beranjak pergi menuju penjual es krim.

Maya terkikik mendengar perkataan Masumi.

Tak lama, Masumi kembali dengan es krim vanilla di tangannya dan memberikannya pada Yuki.

Mata Yuki berbinar senang melihat es krim itu dan iapun asyik memakannya. Ia juga membiarkan Masumi duduk di samping Maya.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Maya. Siapa anak itu?” Tanya Masumi

“Oh…dia anak tetanggaku, Masumi. Tadi ketika aku mau pergi, aku bertemu ibunya. Ibunya ada urusan penting, jadi ia minta tolong padaku untuk membantunya menjaga Yuki. Karena bibi pengasuhnya tidak datang dan dirumahnya tidak ada siapa-siapa” jelas Maya

“Mengapa kamu tadi tidak mengatakannya? Pantas saja kamu meminta aku datang ke sini” ucap Masumi

“memangnya kenapa? kamu keberatan?” Tanya Maya

Masumi menghela napas.

“Tidak…aku tidak keberatan” katanya “Jadi..kita kencan di sini dan bersama anak itu” lanjutnya.

Maya mengangguk.

“Ya..kalau itu maumu. Aku hanya bisa setuju” kata Masumi

“Itu baru Masumi-ku” sahut Maya senang dan dengan cepat menghadiahi ciuman di pipi Masumi.

Masumi tersenyum dan menatap Maya lembut.

Perlahan wajahnya mendekat ke wajah Maya.

“Kak Maya” panggil Yuki mengejutkan keduanya dan membuat mereka menoleh, melihat Yuki yang mulutnya belepotan es krim.

“Yukichan, mulutmu belepotan sekali. Sini kak Maya bersihkan” ucap Maya sambil mengambil tisu dari tasnya.

Yuki mendekati Maya dan membiarkan Maya membersihkan mulutnya, dan saat itu matanya tertuju pada seorang ayah dan anak laki-laki seumuran dengannya sedang bermain bersama dan tertawa gembira.

“Nah..sekarang sudah bersih” ucap Maya.

“Terima kasih, kak Maya” sahut Yuki.

Matanya kembali menatap ayah dan anak tersebut, sebersit keinginan muncul dibenaknya untuk melakukan hal yang sama dengan mereka.

Yuki lalu mendekati Masumi dan memandanginya.

“Mengapa memandangi terus, Yukichan?” tanya Masumi

“Paman Macumi, Yuki ingin sepelti itu” jawab Yuki sambil menunjuk ke arah ayah dan anak itu.

“Seperti itu?”

Yuki mengangguk dan menatap Masumi penuh harap.

“Tidak ah. Aku tidak mau melakukannya. Tadi kamu bersikap memusuhi, sekarang memintaku melakukan hal seperti itu? Aku tidak mau” sahut Masumi memasang mimik tidak peduli.

Yuki masih terus menatap Masumi, perlahan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

“kak Maya, Paman Macumi jahat. Maca Yuki mau sepelti mereka, paman Macumi tidak mau” seru Yuki sambil menghampiri Maya dan memeluknya.

“Yuki mau apa?” tanya Maya sambil mencoba menenangkan Yuki.

“Yuki..mau sepelti mereka” sahut Yuki, menunjukkan pada Maya apa yang ia inginkan.

“Seperti itu?”

Yuki mengangguk.

“Masumi…kamu suka sekali menggodanya ya…” kata Maya sambil melirik ke arah Masumi yang sedang memandanginya dengan senyum tertahan.

“Iya deh…iya….” Sahut Masumi mengalah sambil bangun dari duduknya dan meraih Yuki, kemudian ia jongkok di depan Yuki.

“Sudah jangan menangis, Yuki chan. Anak laki-laki koq sedikit-sedikit menangis. Tadi katanya ultraman. Ultraman koq cengeng”ucap masumi pada Yuki “Ayo, hapus dulu air matamu”

Yuki menghapus air matanya dan memandangi Masumi.

Masumi lalu berdiri dan mengangkat tubuh Yuki, memegangi dada dan kaki Yuki sehingga yuki berbaring terbalik ditangannya.

“Yuki chan sudah siap?” tanya Masumi

Yuki mengangguk dan merentangkan tangannya.

“Sekarang….kita terbaaaaaang……” seru Masumi sambil mengayunkan tubuh
Yuki tinggi-tinggi.

“Hollee…telbang…..” teriak Yuki kegirangan “Yang tinggi paman Macumi….yang tinggi…..”

Masumi berulang kali mengayun-ngayunkan tubuh Yuki ke kiri dan ke kanan.
“Jangan kencang-kencang, Masumi. Nanti Yukichan jatuh” seru Maya yang melihat Masumi mengayunkan tubuh Yuki tinggi-tinggi.

Masumi memperlambat gerakannya.

“Paman Macumi, koq belenti sih?” protes Yuki”Ayo lagi…yang tinggi, paman Macumi”

“Apa Yukichan tidak mendengarkan kata kak Maya? Kak Maya takut Yuki chan jatuh” sahut Masumi sambil melirik ke arah Maya.

“Ah, kak Maya tidak asyik….Sudah jangan dengarkan kak Maya, paman macumi….Ayo lagi” pinta Yuki.

Sekali lagi, Masumi memandang Maya yang hanya bisa balas memandanginya dan berkata “hati-hati” tanpa suara pada Masumi.

Masumi pun kemudian melakukannya lagi.. Mengayunkan Yuki tinggi-tinggi, yang membuat Yuki tertawa kegirangan.

&&&&&

Matahari mulai terbenam, saat mereka meninggalkan taman. Dengan mobilnya, Masumi mengantar Maya dan yuki ke apartemen Maya.

“Terima kasih, Masumi karena kamu mau membantuku menjaga Yuki chan” ucap Maya sambil menggendong Yuki yang sedang tertidur pulas.

“Tidak masalah, Maya. Memangnya apa sih yang tidak bisa aku lakukan?” sahut Masumi menyombongkan diri.

“Huh, dasar” ucap Maya “Kamu kan memang sudah pantas untuk menjadi seorang ayah, jadi ya memang harus bisa menjaga anak”

Masumi mengangguk.

“Benar katamu, Maya. Aku memang sudah saatnya untuk menjadi seorang ayah Jadi kapan---?” tanya Masumi menggantung kalimatnya sambil menatap Maya penuh arti.

“Kapan apa?” tanya Maya tidak mengerti.

“Masa kamu tidak mengerti maksudku sih, Maya?” tanya Masumi gemas.

“Memangnya apa maksudmu?” tanya Maya polos.

“Hmm…kapan…kamu bersedia menikah denganku dan menjadi ibu untuk anak-anakku?” tanya Masumi perlahan sambil menatap Maya dengan lembut.

“Eh…. itu…..ehmmm……itu……”

Pertanyaan Masumi membuat Maya menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus menjawab apa, jadi Maya hanya bisa menatap Masumi.

“Apa…apa aku boleh menjawabnya nanti, Masumi?” ucap Maya akhirnya.

“Nanti kapan?”

“Ya..nanti….di kencan kita selanjutnya mungkin….” sahut Maya.

“Jadi…aku harus menunggu sampai kencan berikutnya untuk mendengar jawabanmu?” keluh Masumi.

Maya mengangguk.

“Ah, sudah ya, Masumi. Aku mau masuk ke dalam. Aku harus mengembalikan Yukichan pada ibunya” kata Maya sambil membuka pintu apartemennya.

Tapi sebelum Maya sempat masuk ke dalam apartemennya, masumi memegang tangannya.

Maya menatap masumi dengan pandangan tidak mengerti.

“Aku harus menunggu jawabanmu soal itu, tapi kalau yang ini, aku tidak usah menunggu sampai kencan berikutnya kan?” tanya Masumi sambil membungkukkan badannya dan mengecup bibir Maya.

“Ma..masumi….” kata Maya kaget ketika Masumi melepaskan kecupannya, tetapi wajahnya belum menjauh dari wajah Maya yang memerah.

Sekali lagi, Masumi mendekatkan bibirnya ke bibir Maya.

“Jangan Masumi….” Bisik Maya “Nanti Yukichan melihat”

“Tidak mungkin melihat. Dia kan sedang tertidur pulas” bisik masumi sambil melihat ke Yuki.

“Pokoknya jangan, Masumi” ucap maya lagi dengan perlahan, sambil menolehkan wajahnya menjauhi wajah Masumi.

Akhirnya dengan berat hati, masumi menegakkan tubuhnya.

“Masa imbalannya hanya ini? Padahal aku kan sudah membantumu menjaga Yukichan” keluh Masumi “Tidak adakah ciuman panjang yang bisa aku dapat malam ini?”tanya Masumi penuh harap.

Maya menatap Masumi, seperti mempertimbangkan sesuatu.

“Hmmm…Masumi…kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kamu mampir dulu di apartemenku? Untuk sekedar minum teh?” ajak Maya malu-malu.

“Minum teh?” tanya Masumi.

Maya mengangguk.

“Kamu..kamu masuk saja dulu, Masumi. Ini kuncinya. Rei sedang pergi. Aku….aku akan mengantarkan Yukichan dulu ke ibunya, baru akan menyusulmu”lanjut Maya sambil menyerahkan kunci apartemennya ke tangan Masumi dan berjalan lebih dulu meninggalkan Masumi menuju apartemen orang tua Yuki.

Masumi menatap kepergian Maya dan kunci yang ada di tangannya.

Dengan tersenyum, ia pun pergi menuju apartemen Maya dan menunggu Maya di sana.

The end

8 komentar:

  1. Xixixi lucu aku suka...makasih sis fenny...

    BalasHapus
  2. hahahahaha, jadi kapan lanjutannya, nda tetima ini end

    BalasHapus
  3. kencan ala meteor garden versi MM cm beda t4 aja...XD thanks

    BalasHapus
  4. aduh jgn jd oneshot dunk.lanjutin dunk sist.aku sukaaa...bgt. Lanjut pleaseee..!

    BalasHapus
  5. wakakakaa...
    asli ngakak sista

    gak pake end yah

    what happen next di apartemen maya..?????

    BalasHapus
  6. lho..lho...lho...koq minta dilanjutin... Yang terjadi kemudian di apartemen Maya, Masumi cuma diajak minum teh doang koq sama Maya...minum teh plus...plus... wkakakakaka XDDD

    BalasHapus
  7. Yang bikin penasaran ya plus... Plus ... Itu wkwkwkwk 🤣

    BalasHapus