Sabtu, 03 Desember 2011
1001 Mawar Ungu part 02
Masumi segera bergegas ke arah gadis itu. Tapi gadis itu keburu berbaur dengan kerumunan orang dan menghilang dari pandangannya.
“Maya…itu kamu…itu pasti kamu” gumam Masumi sambil mengedarkan pandangannya. Matanya terus mencari sosok gadis itu.
“Di mana kamu berada? Di manaaaa?” tanyanya terus sambil menyusuri jalan di sekitar situ.
Sampai akhirnya, ia menemukan kembali sosok itu. Gadis yang memakai yukata biru yang tadi dilihatnya sedang memilih mainan di sebuah kios.
Masumi pun segera mendekati gadis itu.
“Mungil…” katanya sambil menarik lengan gadis itu dan hendak membalikkan badan si gadis.
Gadis itu terkejut.
“Apa-apaan ini” katanya marah sambil membalikkan badannya “Lepaskan”
“Ka..kamu….kamu bukan…..” ucap Masumi ketika melihat wajah gadis itu.
“Bukan apa?” tanya gadis itu marah.
“Kaoru, ada apa?” tanya pria muda di sebelah gadis itu sambil menengok.
“Orang itu tiba-tiba menarik lenganku” jawab gadis tersebut sambil menggosok tangannya yang tadi ditarik Masumi.
“Anda….berani-beraninya mengganggu adikku” ucap pria muda itu ikutan marah pada Masumi.
“Ma..maaf…saya kira anda adalah orang yang saya kenal” ucap Masumi kemudian dengan cepat membalikkan badannya dan pergi meninggalkan tempat itu.
“Apa yang aku lakukan? Apa tadi aku salah lihat?Masumi..masumi ada apa denganmu? Sampai orang lain pun kamu kira Maya” gumamnya sambil mengelengkan kepalanya.
“Kaoru, kak Ryu…kalian sedang melihat apa?” tanya seorang gadis lain yang baru keluar dari dalam toko mainan itu. Gadis yang berpakaian sama dengan Kaori.
Kaoru dan Ryu pun membalikkan badannya dan menghadap ke arah gadis itu.
“Tidak…tadi ada pria yang tiba-tiba menarik lenganku sehingga membuatku terkejut” jawab Kaoru.
“Menarik lenganmu?”
“Iya, dasar orang itu sembarangan saja. Menarik lenganku keras-keras dan kemudian dengan mudah mengatakan maaf, salah orang. Tidak tahu apa kalau lenganku sakit karena ditariknya” gerutu Kaoru “Memanggil aku mungil lagi. Tidak usah dikatakan aku juga tahu kalau tubuhku memang mungil”
“Mu..mungil?” gumam gadis itu sambil menatap jalan.
Sebersit pemikiran muncul di benaknya.
“Mungkinkah itu----“
Tapi dengan cepat digelengkan kepalanya.
“Tidak…tidak mungkin. Dia tidak mungkin berada di tempat seperti ini”
“Hei…koq malah jadi bengong” tegur Kaoru “Ada tidak topeng yang kamu cari itu?”
Gadis itu mengangguk.
“Ada. Ini dia” katanya sambil menunjukkan sebuah benda di tangannya. “Dan aku juga menemukan ini” katanya lagi sambil menunjukkan boneka momochan berwarna pink “Lucu ya kak Ryu. Ini untuk Momo-chan”
Pria yang dipanggil Ryu, mengangguk kepalanya.
“Ada lagi yang ingin kamu cari?” tanya Kaoru lagi.
Gadis itu menggeleng.
“Kalau begitu, ayo lekas kamu bayar lalu kita cari makanan” kata Kaoru lagi.
Gadis itu pun mengangguk dan tak lama kemudian mereka bertiga meninggalkan kios mainan dan menuju kios yang menjual penganan kecil.
@@@@@
“Hoye….papa puyang” ucap seorang bocah perempuan sambil berlari menghampiri Ryu.
“Anak papa yang manis belum bobo?” tanya Ryu sambil menggendong gadis mungil itu.
“Belom….Momo kan nungguin papa” sahutnya.
“Maaf, Tuan. Saya sudah menyuruh Momo-chan tidur. Tapi dia tidak mau. Dia mengatakan ingin menunggu anda” ucap seorang perempuan setengah baya pada Ryu.
“Oh..begitu. Tidak apa-apa, bi. Terima kasih. Bibi istirahat saja, biar saya yang menjaga Momo-Chan” sahut Ryu.
“Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan”
Ryu mengangguk lalu dialihkannya pandangannya pada gadis mungil yang kini ada dalam pelukannya.
“Kamu memang bandel. Disuruh bobo koq tidak mau” katanya pada Momo yang sedang bergelayut manja padanya.
“Ih..papa…..Momo kan cudah bilang, kalau Momo menunggu papa” sahut gadis itu.
“Mengapa harus menunggu papa?”
“Kalena….tante Maya bilang mau bawa oleh-oleh buat Momo” jawabnya “Eh…Momo salah…harusnya Momo menunggu tante Maya bukan menunggu papa” ralatnya sambil menepuk jidatnya, berlagak seperti orang dewasa.
Melihat tingkah laku Momo yang menggemaskan membuat Ryu tertawa.
“Papa…tuyunin Momo….Momo mau ke tante Maya….” Kata Momo sambil meronta turun.
Ryu pun akhirnya melepaskan pelukannya dan membiarkan Momo berlari mendekati seorang gadis dibelakangnya.
“Tante Maya…mana oleh-olehnya?” tagihnya sambil mengenadahkan tangan mungilnya.
“Tidak ada, tante Maya lupa membawakanmu oleh-oleh” sahut Kaoru yang berada di samping Maya, menggoda gadis mungil itu.
“Bohong…Tante Kaolu tukang bohong…..Tante Maya tadi cudah janji, mau beliin Momo oleh-oleh”sahut Momo “Beli kan tante Maya? Tidak lupa kan?” tanyanya sambil menatap penuh harap pada Maya.
Maya tersenyum kemudian berjongkok dihadapan Momo.
“Tentu saja tidak lupa, Momo chan” katanya sambil mengusap-usap kepala Momo chan. Lalu ia mengeluarkan boneka yang tadi di belinya.
“Ini boneka Momo untuk Momo chan” ucap Maya sambil menyerahkan boneka itu ke tangan Momo.
“Boneka Momo? Koq nama bonekanya sama dengan nama Momo?”tanyanya heran.
“Karena namanya sama, makanya tante Maya membelikan untuk kamu” sahut Maya “Kamu suka?”
Momo chan mengangguk.
“Iya….Momo cuka cekali…..” sahutnya senang “Telima kasih bonekanya, Tante Maya…..”lanjutnya sambil memeluk Maya.
Maya pun membalas pelukan Momo.
Momo lalu melepaskan pelukannya dan matanya beralih pada Kaori.
“Tante Kaolu…kalau tante Kaolu….bawa oleh-oleh apa buat Momo?”
“Tidak ada” sahut Kaoru “Kamu kan sudah dapat oleh-oleh dari tante Maya. Masa Tante Kaoru harus memberi juga?”
“Huh….dasal tante Kaolu pelit…..”kata Momo sambil memanyunkan mulut mungilnya, dan membuat 3 orang dewasa yang ada di sana tertawa.
“Karena kamu sudah mendapat oleh-oleh, sekarang waktunya anak papa ini bobo ya” kata Ryu sambil menghampiri Momo.
“Momo mau bobo sama Tante Maya” jawabnya sambil menatap Maya, kembali dengan tatapan penuh harap.
“Tidak mau…..” terdengar suara Kaoru, yang memang suka menggoda anak kakaknya itu “Aku tidak mau bobo denganmu, Momo-chan”
“Memangnya ciapa yang mau bobo sama Tante Kaolu?” tanya Momo sambil menatap Kaoru.
“Lho…kalau bobo dengan tante Maya berarti kan bobo dengan tante Kaoru. Tante Maya kan satu kamar dengan tante” sahut Kaori.
“Tidak….” jawab Momo-chan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang mungil “Tidak bobo di kamar tante Kaolu koq…..”
“Lalu bobonya dimana?”
“Di kamal papa….bobo beltiga…papa, momo, cama tante Maya” jawab Momo sambil jarinya menunjuk orang-orang yang disebutnya.
“Eh….”
“Momo-chan…mana boleh---“
“mengapa tidak boleh, papa? Lanjang papa kan becar….cukup koq beltiga” jawab Momo polos.
“Karena….kalau tante Maya bobo bareng kita. Kasihan tante Kaori tidur sendiri. Tante Kaoru takut tidur sendiri” jawab Ryu “Betul kan tante Kaoru?” tanyanya sambil melirik ke Kaori.
Kaoru tertawa perlahan mendengar pertanyaan Ryu.
“Ehem…iya….tante takut kalau bobo sendirian” kata Kaoru akhirnya pada Momo.
“Ih…tante Kaolu, cudah becar juga masa bobonya masih halus ditemenin” kata Momo sambil menertawakan tantenya.
“Jadi Momo-chan. Momo-chan bobonya dengan papa saja ya?” tanya Ryu lagi.
Momo-chan menggeleng.
“Momo mau bobo sama tante Maya” ucapnya bersikeras.
“Lho, jadi----“
“Kalau papa takut gak bobo cendirian?”
Ryu menatap gemas Momo-chan lalu digelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, malam ini Momo boleh ya bobo cama Tante Maya dan tante Kaolu” ucapnya “Boleh ya tante Kaolu? Momo mau nemenin tante Kaolu….”tanyanya kemudian pada Kaori.
“Hmm..boleh tidak ya?” sahut Kaoru seolah berpikir.
“Tante Kaolu…..”
“Iya deh…iya…..Momo-chan boleh bobo di kamar tante Kaoru” kata Kaoru
“Hoyeee……..” seru Momo girang sambil menarik tangan Maya dan mengajaknya menuju kamar Kaoru “Tante Maya, nanti dongengin 3 beluang ya…..”
@@@@@@
Selesai mendongeng pada Momo dan Momo terlelap, perlahan-lahan Maya menarik laci yang di pinggir ranjangnya dan mengambil sebuah kotak.
Sambil membawa kotak itu, ia keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.
Maya duduk di salah satu sofa dan membuka kotak tersebut dan mengeluarkan isinya. Tak lama kemudian dia terlihat asyik mengerjakan sesuatu.
“Maya?” tanya Ryu yang melihat lampu ruang tamu menyala dan punggung Maya yang sedang duduk di sofa.
“Eh, kak Ryu….” Sahut Maya sambil menoleh.
“Kamu belum tidur?”
“Aku belum mengantuk,kak” sahut Maya “Kak Ryu sendiri mengapa belum tidur?”
“Aku mau mengambil air” jawab Ryu sambil memperlihatkan gelas yang kosong ditangannya.
“Oh..begitu….”
Ryu menghampiri Maya dan dilihatnya gadis itu sedang melipat kertas.
“Mengapa?” tanyanya.
“Eh…”
“Boleh aku tahu mengapa kamu selalu membuat origami mawar itu, Maya?” tanya Ryu “Aku selalu melihatmu melakukannya setiap kamu memiliki waktu senggang juga mengapa warna kertas yang kamu pilih selalu sama, berwarna ungu?”
“Eh…ini karena…….karena aku…..” jawab Maya yang tidak melanjutkan kalimatnya. Maya hanya menunduk dan menatap origami mawar ungu yang belum selesai dibuatnya. Wajahnya terlihat sendu.
“Maya, Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih” ucap Ryu dengan nada menyesal.
“Tidak…kak Ryu….bukan seperti itu…..” ucap Maya sambil menggeleng “Hanya saja aku belum bisa mengatakannya sekarang”
“Maya…”
“Maafkan aku, kak Ryu. Aku---”
“Aku mengerti, Maya” ucap Ryu memotong perkataan Maya “Aku tidak akan memaksamu untuk menjelaskannya padaku. Hanya…bila suatu saat kamu ingin membicarakan sesuatu yang selama ini mengganjal dihatimu, ingatlah bahwa kamu bisa mencari aku ”
“Kak Ryu…” kata Maya sambil menatap Ryu “Terimakasih….”
Ryu tersenyum lalu menghembuskan napasnya dalam.
Hampir 3 tahun, ia bersama gadis itu, tapi ia masih juga belum mengerti tentang gadis itu. Tentang pandangan mata gadis itu yang kadang terlihat sedih dan origami mawar ungu yang selalu dibuat olehnya.
@@@@@
Rumah Masumi
“Akhirnya kamu pulang juga, Masumi”
Masumi yang sedang menutup pintu menoleh kea rah suara yang menegurnya.
“Ka..kakek…” katanya tidak menyangka. Ia pun segera menghampiri pria baya yang dipanggilnya kakek itu.
“Masumi….kamu sudah pulang?” tanya Shiori yang duduk di sebelah kakeknya “Apa kamu sudah makan? Atau mau minum? Aku buatkan” lanjutnya sambil bangun dari duduknya.
“Tidak…tidak perlu, Shiori. Aku tidak menginginkan apa-apa. Kamu duduk saja” sahut Masumi kemudian pandangannya beralih ke kakek Takamiya.
“Mengapa kakek ada di sini?” tanya Masumi ketika ia sudah duduk di salah satu sofa.
“Memangnya aku tidak boleh kemari?” ucap Kakek Takamiya balik bertanya.
“Bukan….bukan begitu, kek”jawab Masumi menggelengkan kepalanya “Saya hanya----“
“Kamu dari mana saja, Masumi? Jam segini baru pulang?” tanya Kakek Takamiya memotong perkataan Masumi.
“Saya---“
“Kakek...Shiori kan tadi sudah mengatakan kalau Masumi banyak pekerjaan, jadi pulang terlambat” kata Shiori cepat “Betul begitu kan, Masumi?”
“Diam, Shiori. Kakek tidak bertanya padamu. Kakek bertanya pada Masumi.Apa dia tidak bisa menjawab sampai kamu yang harus menjawabnya?”
Kakek Takamiya kembali menatap Masumi.
“Masumi..apa benar yang dikatakan Shiori? Apa kamu begitu sibuk sampai pulang malam begini? Bahkan di hari libur pun kamu terus saja bekerja dan sama sekali tidak punya waktu untuk istrimu?”
“Kakek…sudahlah…..kakek tidak usah mempermasalahkannya” ucap Shiori lagi “Aku tidak apa-apa. Aku mengerti kesibukan Masumi”
Kakek Takamiya menoleh dan menatap Shiori gemas.
“Kamu..kamu mengapa selalu membelanya?”
“Ka..kek…”
Kakek Takamiya menghela napasnya.
“Kakek hanya ingin melihatmu bahagia, Shiori” kata kakek Takamiya “Tapi…sejak kamu menikah dengannya, kakek tidak melihatmu bahagia”
Shiori menggeleng.
“Tidak….kakek salah. Siapa yang mengatakan aku tidak bahagia. Aku bahagia menikah dengan Masumi”
“Jangan membohongi kakek, Shiori. Kamu cucu kakek. Kakek sangat mengenalmu”
“Tapi kakek, aku benar-benar----“
“Benar apa yang dikatakan kakekmu, Shiori” ucap Masumi menyela kata-kata Shiori :Aku memang tidak bisa membuatmu bahagia”
“Masumi….mengapa kamu berkata seperti itu?”
“Kenyataannya memang seperti itu kan? Jadi jangan bohongi dirimu lagi” sahut Masumi.
“Masumii…..”
“Kamu mengakuinya, Masumi? Kamu mengakui kalau kamu tidak dapat membuat Shiori bahagia. Mengapa kamu lakukan itu? Mengapa kamu tidak berusaha membuatnya bahagia?”tanya Kakek Takamiya mulai marah.
“Maafkan saya, kakek. Saya…tidak bisa melakukannya” jawab Masumi.
“Tidak bisa? Mengapa kamu mengatakan tidak bisa?Apa yang kurang dari cucuku sehingga kamu tidak bisa membahagiakannya?”
Masumi menatap Shiori lalu beralih menatap kakek Takamiya.
“Tidak ada yang kurang dari cucu anda. Cucu anda adalah sosok wanita yang sempurna. Hanya saja----“
“Hanya saja apa?”
“Hanya saja saya tidak dapat mencintainya. Dihati saya ada gadis lain. Karena itu saya tidak dapat mem---“
PLAK…
Sebuah tamparan keras melayang mengenai pipi Masumi sebelum Masumi menyelesaikan kalimatnya.
“Kakek…apa yang kakek lakukan?” seru Shiori pada kakeknya “Masumi, kamu tidak apa-apa?” tanyanya lagi pada Masumi.
Bergegas Shiori mengeluarkan sapu tangan, dan mendekati Masumi hendak membersihkan darah yang mengalir di sudut bibir Masumi, akibat tamparan kakek Takamiya yang begitu keras.
“Aku tidak apa-apa, Shiori” ucap Masumi menolak bantuan Shiori. Ia mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan tangannya.
“Masumi….”
“Aku benar-benar tidak apa-apa Shiori. Kamu duduklah kembali. Tidak usah menghawatirkan aku” ucap Masumi.
“Ta..tapi---“
“Duduklah, Shiori. Apa kamu tidak dengar?” ucap kakek Takamiya”Dia mengatakan kalau kamu tidak perlu menghawatirkannya”
“Ta..tapi kakek…..”
Melihat tatapan mata kakeknya yang tegas dan tidak bisa dibantah, Shiori kembali duduk.
Kakek Takamiya kembali menatap Masumi, dan Masumi pun balas menatap tatapan kakek Takamiya. Mereka saling bertatapan.
“Bagus….bagus sekali kamu mengatakan hal seperti itu, Masumi” ucap kakek Takamiya “Kamu memang sengaja melukai Shiori. Kamu benar-benar-----“
“Maafkan saya, kakek. Saya memang salah. Tapi saya tidak mau terus merasa bersalah. Jadi---“
“Jadi apa? Apa yang kamu inginkan?”
“Saya….saya ingin…..menceraikan Shiori”jawab Masumi yakin.
“A..apa? kamu mengatakan apa, Masumi?” tanya Shiori “Mengapa? Mengapa kamu mau menceraikan aku? apa..apa salahku?”
“Shiori…”
“Kakek..mengapa Masumi mau menceraikan aku?apa salah aku?” tanya Shiori pada kakeknya mulai histeris.
“Shiori, kamu tenanglah” kata kakek Takamiya.
“Aku tidak mau, kakek. Aku tidak mau dicerai olehnya. Aku mencintainya……Aku tidak----.“
Bruk….
“Shiori…kamu kenapa, Shiori?” tanya kakek Takamiya ketika melihat Shiori mendadak jatuh tidak sadarkan diri.
“Shiori…” panggilnya sambil mengguncang-guncangkan tubuh Shiori.
“Shiori…” kata Masumi sambil mendekati tubuh Shiori yang sedang diguncang-guncang kakek Takamiya.
“Pergi, jangan mendekatinya” ucap kakek Takamiya “Puas kamu sekarang? Kalau terjadi sesuatu dengan Shiori, aku tidak akan memaafkanmu, Masumi….”
Masumi terpaksa mundur, ia bergegas meraih ponselnya dan memanggil ambulance.
@@@@@
Keesokan harinya….
Maya terpaku menatap layar televisi. Berita di televisi itu sedang menayangkan berita tentang Ayumi.
Ayumi baru saja tiba di bandara setelah melakukan tour keliling asia dalam rangka pementasan bidadari merah. Ayumi terlihat disambut sangat meriah oleh wartawan yang memenuhi bandara.
Satu tahun yang lalu, Ayumi yang saat itu telah berhasil mengoperasi matanya dan dapat melihat kembali, memperoleh hak untuk mementaskan bidadari merah, menggantikan Maya.
Maya yang menghilang dan tidak diketahui keberadaannya menyebabkan keputusan tersebut terpaksa diambil dalam rapat Persatuan Drama Nasional, yang juga disetujui oleh ibu Mayuko.
Hal tersebut dilakukan agar karya agung bidadari merah tetap memiliki pewaris sehingga tetap menjadi karya yang abadi.
“Ayumi….selamat untukmu” gumam Maya.
“Tante Maya…” panggil Momo sambil menarik-narik tangan Maya “Momo mau es klim”
Tarikan tangan Momo di tangannya menyadarkan Maya kalau sekarang ia sedang berdiri di tempat penjualan televisi dalam sebuah supermarket.
“Ehem..Momo-chan…tadi mengatakan apa?” tanya Maya sambil menatap gadis kecil di sampingnya.
“Momo mau es klim, tante Maya” ulang Momo.
“Hmm…bukannya kata papamu, kamu tidak boleh makan es krim?”
“Tapi momo mau es klim….catu….catu aja, tante Maya. Yang paling kecil” sahut Momo “Boleh ya, tante Maya….ya?” lanjutnya menatap Maya penuh harap.
“Tapi..papamu mengatakan---“
“Ssst…” ucap Momo sambil meletakkan jari telunjuk mungilnya di depan mulutnya “Tante Maya, jangan kasih tahu, papa. Lahasia…..kalau engga ada yang kasih tahu kan, papa tidak akan tahu”
“Eh…”kata Maya mengerutkan dahinya “Mana boleh begitu”
“Boleh….boleh koq” sahut Momo sambil menganggukkan kepalanya.
“Tidak boleh, Momo chan. Beli yang lain saja” bujuk Maya.
“Aaaaang….tante Maya” rengek Momo “Momo tidak mau yang lain. Momo maunya es klim”
“Yang lain saja ya? Coklat, kue atau…roti?” tawar Maya.
Momo menggeleng.
“Tidak mau….momo maunya es klim” jawab Momo bersikeras.
“Momo chan…”
“Ayo…tante Maya….beliin momo es klim…..”
“Jangan yang lain saja…” bujuk Maya “Hmm….bagaimana kalau susu saja?”
Momo menggeleng.
“Mengapa kalau cucu boleh, tapi es klim tidak boleh?” tanya Momo tiba-tiba.
“Eh…?”
“Es klim juga kan dibuat dari cucu” lanjut Momo.
“Siapa yang mengatakan kalau es krim terbuat dari susu?” tanya Maya ingin tahu.
“Memangnya tante Maya tidak tahu” jawab Momo.
Maya menggeleng, pura-pura tidak tahu.
“Momo chan tahu dari mana?”
“Hmm….iklan di TV” jawab Momo.
“Iklan?”
Momo mengangguk.
“Iya….iklan cucu ada Moo-nya….di iklan es klim juga ada moo-nya. Jadi es klim dibuat dari cucu” jawab Momo.
“Benarkah begitu?”
“Iya..benel…Momo tidak akan salah” sahut Momo yakin “Jadi boleh ya…Tante Maya?”
“Tidak….”
“Aaaang…tante Mayaaa….” Kata Momo lagi “mengapa masih tidak boleh?”
“Es krim bisa membuatmu batuk” sahut Maya.
“Mengapa bisa begitu?”
“Karena es krim itu dingin. Nah dinginnya itu yang bisa membuat batuk” jelas Maya.
“Tapi…kemalin Momo minum cucu yang baru diambil dari kulkas, Momo tidak batuk. Kan cama-cama dingin” sahut Momo.
“eh..?”
“Ayolah, tante Maya. Beliin Momo Es klim…..” ucap Momo lagi “Momo kan tidak lagi batuk dan di lual juga panas, tidak ujan. Jadi boleh ya makan es klim”
“Hmm..bagaimana ya?”
“Tante Maya…..boleh ya?” pinta Momo sambil menatap Maya penuh harap.
“Hmm….”
“Tante Maya….”
“Baiklah…kita beli es krim” kata Maya akhirnya.
“Hoye…..” teriak Momo senang “Momo makan es klim…Momo makan es Kliim….”
@@@@@
Masumi melangkah perlahan keluar dari rumah sakit menuju supermarket di seberang jalan karena ia ingin membeli beberapa botol air mineral. Sejak malam, Masumi tinggal di rumah sakit, menunggui Shiori. Dokter mengatakan kalau tekanan darah Shiori rendah sehingga harus dirawat beberapa hari di rumah sakit tersebut dan tidak boleh mendapat tekanan yang berat mengingat kondisi kejiwaannya yang masih labil.
Kakek Takamiya sebenarnya tidak setuju Masumi menunggui Shiori, tetapi Masumi memaksa. Bagaimanapun ia masih suami Shiori sehingga ia masih mempunyai tanggung jawab atas Shiori.
Beberapa meter mendekati supermarket, langkah Masumi terhenti.
Matanya menatap tidak percaya, gadis di depan supermarket yang sedang berlutut dan membersihkan mulut seorang gadis kecil dengan tissiu.
Ia mengejap-ngejapkan matanya berulang-ulang kali.
“Mungil…” gumamnya “Itu…benar kamu….aku tidak salah lihat…benar aku tidak salah lihat”
Masumi mempercepat langkahnya mendekati gadis itu.
Tapi sebelum ia tiba, sebuah mobil berhenti di depan supermarket tersebut.
Seorang pemuda keluar dari mobil itu.
“Papa…” teriak gadis kecil berlari ke arah pemuda itu. Pemuda itu menggendong gadis kecil tersebut, mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan supermarket.
Dengan cepat, Masumi membaca plat mobil tersebut lalu meraih ponselnya.
“Hijiri…” katanya “Tolong cari pemilik plat mobil ini” lanjutnya sambil menyebut beberapa nomor.
Setelah itu, ia kembali menutup telponnya.
“Siapa gadis kecil itu? Mengapa ia bisa berada bersama Maya?” tanya masumi dalam hati “Apakah…gadis kecil itu anak Maya dan pemuda tadi…suaminya?”
Masumi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak..tidak mungkin….gadis kecil itu pasti bukan anak Maya. Umur gadis kecil itu kelihatannya lebih dari 3 tahun. Jadi siapa dia? Juga siapa pemuda yang bersamanya?”
@@@@@@
Beberapa hari kemudian…..
Maya sedang melangkah perlahan sambil bernyanyi-nyanyi kecil sambil membawa sekantong buah di pelukannya.
Tiba-tiba….
Seseorang menarik lengannya dan membuat Maya menoleh.
Ia pun membelalak kaget melihat siapa orang yang melakukannya.
Bruk…
Sekantong buah yang dipegangnya jatuh berserakan.
“Pak…Masumi…” ucapnya dalam hati “Mengapa anda---“
“Mungil…akhirnya aku berhasil menemukanmu” ucap Masumi “Aku---“
“Lepaskan…” teriak Maya memberontak, berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Masumi.
“Mungil….”
“Siapa anda?” tanya Maya “Lepaskan aku…”
“Eh….”
Masumi terhenyak, ia melepaskan cekalannya di lengan Maya.
“Mungil…kamu tidak mengenal aku?” tanyanya tidak percaya sambil menatap Maya.
Mendengar ribut-ribut di luar, Ryu keluar dari rumah.
“Kak Ryu….” Seru Maya sambil menghampiri Ryu dan bersembunyi di belakang punggung Ryu.
“Maya, ada apa?”
“Nama gadis itu..Maya?” tanya Masumi pada Ryu.
Ryu mengangguk.
“Benar. Memangnya mengapa? Anda mengenalnya?”
“Aku sangat mengenalnya” jawab Masumi dengan yakin “Maya, ini aku….masa kamu tidak mengingat aku” lanjutnya pada Maya.
“Maya…kamu mengenal pria itu?”
“Tidak…aku tidak mengenal pria itu, kak Ryu” sahut Maya.
“Mayaa….” ucap Masumi sambil mendekati Maya.
“Kak Ryu….tolong aku, suruh dia pergi. Aku tidak mengenalnya” ucap Maya pada Ryu.
“Maya…ini aku…Masumi hayami. Masa kamu sama sekali tidak mengingat aku?”
Maya menggeleng dan semakin menyembunyikan tubuhnya di belakang Ryu.
“Maaf” kata Ryu “Tapi gadis ini mengatakan bahwa dia tidak mengenal anda. Jadi tolong anda tinggalkan kami” kata Ryu pada Masumi.
“Ijinkan aku bicara dengannya” sahut Masumi memaksa.
“Kak Ryu..aku tidak mau….”ucap Maya ketakutan.
Masumi berusaha menarik Maya dari belakang Ryu.
“Aaaaa…tidak…..” teriak Maya.
Ryu menahan tangan Masumi dan memeganginya.
“Sekali lagi, maaf Tuan. Saya sudah mengatakannya pada anda dan anda sudah mendengarnya sendiri bahwa dia tidak mengenal anda” ucap Ryu lagi.
“Anda menyingkirlah dan biarkan aku menyelesaikan urusanku” kata Masumi “aku sangat mengenal gadis itu”
“Tidak..” sahut Ryu tetap menghalangi Masumi.
“Kamu….”
“Silahkan anda pergi”
“Aku benar-benar harus bicara dengannya” tegas Masumi.
“Tapi gadis itu tidak mau berbicara dengan anda” sahut Ryu bersikeras.
Masumi mulai kesal.
“Mengapa anda menghalangiku? Apa hubungan anda dengan gadis itu?” tanyanya.
Ryu menatap Masumi.
“Aku……suaminya” jawabnya pendek.
“Eh..?”
Masumi tercekat dan tidak mempercayai pendengarannya.
“Ka..kamu mengatakan apa? Kamu benar su…sua---“
Ryu mengangguk.
“Jadi, tolong jangan ganggu istriku. Anda pergilah”
Pandangan Masumi beralih pada Maya.
“Maya…benarkah dia adalah suamimu?” tanyanya.
Maya menatap Ryu lalu Masumi kemudian ia…….menganggukkan kepalanya.
Deg….
Jantung Masumi serasa berhenti melihat anggukan Maya.
“Jadi…jadi kamu sudah menikah…karena itu kamu melupakan aku? apa begitu, mungil? Karena itu kamu melupakan aku?” ucapnya dalam hati dengan sendu.
“Tuan, jadi sekarang anda bisa pergi dan tidak menganggu kami lagi?” tanya Ryu ketika melihat Masumi terdiam.
Perlahan Masumi menganggukkan kepalanya.
“Aku pergi, mungil” ucap Masumi “Jaga dirimu baik-baik” lanjutnya lalu melangkah gontai menuju mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Dengan mata berkaca-kaca, Maya menatap mobil Masumi yang semakin menjauh.
“Pak Masumi…maafkan aku……”
Bersambung ke part 3....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Ceritanya bagus... ditunggu updetannya... :)
BalasHapusmakin penasaran nh sama ceritanya,,, lanjutannya jgn lama2 ya,,, :D
BalasHapusMutia na rival
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusini ryu, kakak kandung ato kakak angkat, walah, bisa bertambah saingannya masumi, hehhh, dimana2 dia tetap menderita, tolong beri kebahagiaan dia ya, aqaqaq
BalasHapuslho lho lho lho ? ? ? knp maya pura2 gitu ya ?
BalasHapusikutan bingung ...loh loh ...tp itu anak manggil maya tante kokkkk bukan manggil emak ....
BalasHapusAh Maya.. Pasti ada udang di balik bakwan...
BalasHapusCupid, ayo lanjutkan ^^
hadehhhhh mayaaaaa...!!!! *geplak maya*
BalasHapusudah masumi sinnih, sama sayah saja *peluk masumi-sama*
Jeng..jeng...jeng...bagaimana kah kisah selanjutnya?? Jgn kemana2 tetap di TKP....wkwkwkwwkkwk*OVJ mode on
BalasHapuswalah kok jadi gini mengapa gini terbayang bayang ....(singasong) update lagi donk jadi penasaran apa yg akan terjadi, mengapa maya menolak masumi
BalasHapusHaduh haduh haduuhhh....
BalasHapusmaya..please deh jgn bersikap spt itu ke masumi..kasian kan udah 7taun ngurusin kamu di tambah lg penderitaan 3taun merit ama si-ori...
abis ini masumi bkl dpt kebahagiaan yg sprt apa ya.....bisnya cintanya ma maya penuh liku gituh...
*nagih updatean lagih*
Waiting...waiting...
sudah pertengahan tahu 2012 koq blm ada lanjutannya ya,,,, ayo dilanjut duuunk,,,kapan mw diupdate lg ceritanya
BalasHapusMutia Na Rival