Malam ini adalah malam natal. Para tamu yang menginap di pondok-pondok peristirahatan berkumpul di gedung serba guna, untuk merayakannya. Acara perayaan natal itu diawali dengan pertunjukan drama “Gadis penjual korek api” yang dimainkan oleh Maya dan teman-temannya.
Seusai pertunjukan selesai, mereka masih berkumpul di sana karena panitia juga mengadakan pesta natal.
Maya memandang ke sekeliling ruangan itu, matanya mencari sosok Masumi.
Tadi ketika ia sedang melakukan pertunjukan, ia dapat melihat Masumi yang sedang duduk bersama tamu yang lain, menonton pertunjukannya. Tapi kini Masumi tidak terlihat.
Tanpa sadar, maya menghela napasnya kecewa.
“ada apa denganmu, Maya” tanya Rei yang mendengar helaan napas Maya.
“Ah..ti..tidak…Rei…” sahut Maya.
“Dari tadi aku perhatikan kamu seperti mencari-cari seseorang, apa yang kamu cari itu pak Masumi?” goda Rei.
“Bukan….” Sahut Maya cepat “untuk apa aku mencarinya”
“Benarkah?” tanya Rei tidak percaya.
“Benar..”
“Hei itu kan pak Masumi” tunjuk Rei ke arah belakang Maya.
Dengan cepat, Maya menoleh ke belakangnya, tapi ia tidak melihat Masumi. Rupanya Rei hanya mengerjainya.
“Tuh kan benar, kamu mencarinya. …”kata Rei sambil tertawa “Ayo, mengaku saja…”
“Tidaak…” kata Maya dengan wajah malu.
“Ayolah, Maya…mengaku saja kalau kamu mencarinya” desak Rei.
“Tidak…Rei apa-apaan sih” sahut Maya sambil mencubit lengan sahabatnya itu.
“Aaaww…sakit Maya” jerit rei.
“Rasakan”
“Tapi itu membuktikan kalau aku benar kan?”
“Tidak” jawab Maya cepat “Ah, sudahlah. Aku mau mengambil kue dulu. Sepertinya kue di sana enak-enak” lanjut Maya mencari alasan sambil pergi meninggalkan Rei yang masih tersenyum-senyum.
Maya sedang memilih-milih kue yang diinginkannya ketika seorang pelayan mendekatinya.
“Nona Maya Kitajima?” tanya pelayan itu.
“I..iya benar” sahut Maya sambil melihat pelayan itu dengan tatapan bertanya.
“Ada seseorang yang menitipkan pesan untuk anda” kata pelayan itu sambil menyerahkan secarik kertas yang terlipat ke tangan Maya.
“oh..terima kasih”
“Sama-sama, Nona” sahut pelayan itu sambil mengangguk hormat.
Setelah pelayan itu pergi, Maya membuka lipatan kertas itu. Tulisan di kertas itu sangat singkat.
‘Mungil, aku menunggumu di tempat rahasia kita. Ada pengagummu yang ingin bertemu.”
Maya tersenyum senang membacanya kemudian ia melirik ke arah rei, yang sedang mengobrol dengan teman-temannya yang lain.
Dengan diam-diam, Maya pergi menyelinap keluar dari gedung itu, ia tidak ingin teman-temannya tahu.
“Selamat malam, nona” sapa seseorang ketika Maya keluar dari gedung itu.
“Eh?”
“Anda Maya kitajima?” tanyanya.
“Benar”
“Kalau begitu, silahkan anda ikut saya” kata orang itu “Pak Masumi memerintahkan saya untuk mengantarkan anda”
“Pak Masumi?”
“Benar” angguk orang itu “Silahkan naik, nona” lanjutnya sambil menunjuk ke sebuah mobil mini yang biasa di pakai tamu untuk mengelilingi tempat peristirahatan itu.
Tak sampai 5 menit, mobil mini yang membawa Maya telah sampai di belakang goa.
“Terima kasih” kata Maya sambil turun dari mobil itu.
“Hmm…sebentar, nona…”
“Ya?’
“Mungkin anda memerlukannya” kata orang itu sambil menyerahkan sebuah senter kepada Maya.
“Ah iya…..sekali lagi terima kasih” kata Maya lalu ia berjalan menuju goa dan memasukinya.
Dengan menggunakan senter, Maya lebih mudah untuk berjalan, tak lama ia telah sampai di depan celah goa kunang-kunang.
Maya pun melangkah masuk ke dalam dan ia kembali disuguhi dengan ratusan cahaya kunang-kunang.
Tapi ada yang berbeda dari goa itu sekarang.
Tepat di tengah goa, terdapat sebuah pohon natal kecil dengan bintang yang bercahaya di atas puncaknya dan di lantai goa, berserakan sesuatu.
Maya membungkuk dan mengambil benda itu. Ia lalu mengerutkan keningnya.
“I..ini kan..kelopak….” kata Maya “Kelopak mawar ungu…”lanjutnya sambil tersenyum senang.
Tapi kemudian Maya menyadari bahwa sedari tadi, ia tidak melihat Masumi.
“Pak Masumi…anda ada di mana?” seru Maya sambil mengedarkan pandangannya tapi ia tidak menemukan sosok Masumi.
“Pak Masumi….”
Siiing…….
“Pak Masumi….jangan main-main…anda ada di mana?”
Masih tidak ada jawaban.
“Pak Masumi…..kalau anda tidak keluar, aku akan pergi” kata Maya lagi.
Masih saja tidak ada jawaban ataupun gerakan.
“Pak Masumi….aku benar-benar pergi” ucap Maya sambil membalikkan badannya.
BRUUK…..
“Aaaw…..” teriak Maya ketika ia merasa menubruk sesuatu…atau seseorang di belakangnya.
“Pak Masumi?” tanya Maya saat melihat sosok orang yang dirtubruknya.
Masumi tersenyum menatap Maya.
“Jahat…dasar jahat….dari tadi aku panggil, tidak menyahut. Ternyata ada di belakangku” seru Maya.
“Lho…salahmu sendiri, tidak melihat ke belakang, mungil. Dari tadi aku kan ada di sini” sahut Masumi.
“Tapi mengapa anda tidak menyahut? Aku kan sudah memanggil anda berulang kali” kata Maya tidak mau kalah “Anda selalu menyalahkan aku. Anda memang menyebalkan….”
“Maaf…maaf aku,mungil….”ucap Masumi “Aku hanya bercanda”
“Tidak lucu…..huh…..” kata Maya sambil memalingkan wajahnya “Aku tidak akan memaafkan anda”
“Walaupun, aku memberimu…ini?” tanya Masumi sambil menyodorkan sebuket besar mawar ungu, yang tadi disembunyikannya di belakang punggungnya.
“Pak Masumi…i…ini?”
“Mungil, akulah pengagum rahasiamu. Akulah orang yang selama ini bersembunyi di balik----“
“Pak Masumi……akhirnya anda mengakuinya” seru Maya senang, memotong perkataan Masumi dan langsung memeluk Masumi “Sudah lama sekali aku menunggu anda mengucapkannya, dan akhirnya anda mengucapkannya juga”
“Eh…tung…tunggu dulu, mungil” ucap Masumi sambil melepaskan pelukan Maya dan menatapnya heran.
“Apa maksudmu dengan “akhirnya?” dan “menunggu aku mengucapkannya?” tanya Masumi yang kebingungan.
“Masa anda tidak mengerti dengan apa yang aku ucapkan, pak Masumi?” kata Maya balik bertanya.
“Mungiil…..”
“Aku sudah mengetahui kalau anda adalah mawar ungu, sejak…..hmmm….sejak……”kata Maya sambil mengerutkan keningnya.pura-pura berpikir.
“Sejak kapan?” tanya Masumi tidak sabar.
“Hmm….sejak.... sejak….kapan ya?hmmm…tunggu, pak Masumi, aku ingat-ingat dulu”
“Mungil…” seru Masumi gemas karena Maya masih saja berpura-pura.
“Ah….sekarang aku ingat---“ kata Maya tiba-tiba sambil menjentikkan jarinya “Aku tahu bahwa anda adalah mawar ungu ketika----“
“Ketika apa?” tanya Masumi yang sudah penasaran.
“Ketika---- Apa anda benar-benar ingin tahu, pak Masumi?” Kata Maya malah balik bertanya.
“Mungiillll……” ucap Masumi gregetan.
“Anda benar-benar penasaran ya, pak Masumi?”
“Kamu mau mengatakannya atau tidak?”
“hmm….katakan atau tidak ya?” ucap Maya sambil pura-pura menimbang-nimbang dan membuat Masumi benar-benar dibuat gemas.
“Ayo lekas katakan”
“Ah…tidak….”
“Eh?”
“Aku tidak mau mengatakannya, pak Masumi” jawab Maya “Anda pikirkan saja sendiri kapan anda begitu ceroboh sampai bisa membongkar identitas anda sebagai mawar ungu”
“Kamu tidak benar-benar----“ kata Masumi sambil memegang bahu Maya dan mendorong Maya sampai merapat ke dinding goa.
Kemudian Masumi menurunkan wajahnya sehingga sejajar dan hanya berjarak beberapa senti dengan wajah Maya.
“Pak Masumi….apa….apa yang sedang anda lakukan?”
“Apa yang sebaiknya aku lakukan pada gadis bandel sepertimu, yang tadi berani mempermainkan aku?” kata Masumi balik bertanya.
“Pak Masumi..aku tidak memper---“
Maya tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena Masumi telah membungkam mulutnya.
Masumi melumat bibir maya dan terus menciuminya sampai keduanya kehabisan napas, barulah Masumi melepaskan ciumannya.
“Ehm..pak Ma---“
“Itu hukumannya karena kamu berani mempermainkan aku, mungil” bisik Masumi sebelum wajahnya menjauhi Maya.
“Pak..pak…Masumi….”
“Ayo sekarang kebih baik kita duduk di sana” ajak Masumi sambil menggandeng tangan Maya dan berjalan menuju salah satu sisi.
“Wah, pak Masumi….anda sudah menyiapkan segalanya rupanya”kata Maya “ sampai tikar pun anda bawa” ledek Maya ketika melihat lantai di sisi itu telah beralaskan tikar.
“Soalnya aku baru menyadari kalau lantai di sini itu kotor, mungil. Celanaku penuh tanah semua” ucap Masumi memberi alasan sambil menarik Maya duduk di sampingnya.
“Kalau begitu mengapa anda mengajakku kembali ke sini?” tanya Maya yang telah duduk di samping Masumi.
“Karena aku tidak bisa menemukan tempat lain agar bisa berduaan denganmu” kata Masumi “Hmmm…sebenarnya ada sih tempat yang lebih nyaman” sambungnya.
“Jadi, mungil. Lebih baik kita pindah saja ke sana ya” ajak Masumi kemudian.
“Eh?”
Masumi berdiri dan menarik tangan Maya agar ikut berdiri.
“Ki—kita mau ke mana, pak Masumi?”
“Ke pondokku” jawab Masumi pendek.
“A..apa? ke pondok anda?”
“Benar” angguk Masumi.
“Ah..tidak….tidak mau” ucap Maya sambil menggelengkan kepalanya.
“Mengapa tidak mau. Di sana lebih nyaman. Kita bisa ngobrol sambil duduk di atas sofa sambil ----“
“Ah tidak, pak Masumi. Di sini saja mengobrolnya” kata Maya bersikeras.
“Kita pindah saja, mungil. Lebih enak di pondokku. Dan tidak ada yang berani menganggu kita” ucap Masumi sambil menggandeng tangan Maya dan membawanya keluar goa.
“Ta..tapi---“
Masumi tidak mendengarkan protes Maya, ia terus saja berjalan keluar dari goa. Tapi di depan mulut goa, tiba-tiba, langkahnya terhenti dan ia membalikkan badannya dan masuk dalam goa kunang-kunang lagi.
“Pak Masumi…akhirnya anda memutuskan tetap di sini saja kan?” tanya Maya sedikit lega, walaupun sebenarnya berduaan dengan Masumi di dalam goa itu pun membuat jantung berpacu cepat, tapi setidaknya ia tidak akan kepergok teman-temannya masuk ke pondoknya Masumi.
Maya tidak bisa membayangkan kalau saja teman-temannya tahu kalau ia masuk ke pondok Masumi. Teman-temannya itu pasti akan terus meledeknya dan mencercanya dengan pertanyaan, ingin tahu apa yang terjadi antara dia dengan Masumi.
Kejadian semalam ia tidak pulang dan bersama Masumi saja, Rei masih terus menanyainya dan meledeknya. Apalagi, tadi ia juga menyelinap pergi, tanpa sepengetahuan teman-temannya. Kalau tidak kepergok kan, bila pulang nanti ia bisa mencari-cari alasan, toh tidak ada buktinya.
Masumi tidak menjawab pertanyaan Maya, ia hanya terus melangkah mendekati pohon natal dan berdiri di depannya.
“Pak Masumi apa---“
“Aku lupa mengambil ini” kata Masumi sambil mengambil hiasan bintang yang ada di puncak pohon natal itu lalu memasukkannya ke dalam sakunya “Nah, sekarang kita ke pondokku” lanjut Masumi sambil kembali berjalan terus sampai keluar goa.
“Ah, pak Masumi…tidak mau…kita kembali saja” ucap Maya ketika mereka sudah berada di jalan menuju pondok Masumi.
“Mengapa?”
“Aku takut kepergok---“ kata Maya yang tidak menyelesaikan kalimatnya ketika ia melihat ke arah teman-temannya yang sedang mengobrol dan berjalan tak jauh di depannya..
“Pak Masumi…anda..anda jalan duluan ya” kata Maya sambil menarik tangannya yang di pegang Masumi dan bersembunyi di belakang punggung Masumi.
“Mungil ada apa?”
“ssst..pak Masumi jangan keras-keras, nanti di dengar teman-temanku” bisik Maya.
“Teman-temanmu?”
“Iya..itu yang di depan…” sahut Maya perlahan.
“oh mereka…”kata Masumi pendek “Memangnya mengapa…”
“Jangan mengajakku berbicara, nanti mereka mendengar, Masumi berjalan saja”
“Eh..?”
“Sudah, pak masumi. Berjalan saja”
Akhirnya Masumi berhenti bertanya dan terus berjalan perlahan, mengikuti teman-teman Maya.
Teman-teman Maya, akhirnya sampai di depan pondok mereka, saat mereka akan masuk dalam pondok mereka, tanpa sengaja Hotta melihat Masumi yang sedang berjalan.
“Eh…itu pak Masumi” kata Hotta pada teman-temannya sehingga membuat semua temannya melihat ke arah yang ditunjuk Masumi.
Teman-teman Maya pun tidak jadi masuk dan menunggu Masumi mendekat.
“Selamat malam, pak Masumi” sapa Hotta diikuti yang lain.
“Oh malam” sahut Masumi “Kalian sudah mau istirahat?”
“Hmm iya, pak Masumi” jawab Hotta lagi.
“Aku juga mau kembali ke pondokku”
“Eh pondok anda?”
“Pondokku yang diseberang sana” sahut Masumi sambil menunjuk pondoknya.
“Oh..kalau begitu selamat beristirahat, pak Masumi. Saya tidak akan mengangguk anda lagi” kata Hotta dan mengajak teman-temannya masuk ke dalam pondok. Hanya Rei yang masih tinggal dan menatap Masumi.
“Ehm..pak Masumi…maaf….”
“Ya?”
“Apa anda tidak bersama Maya?”
“Eh?”
“Maaf, kalau saya bertanya seperti itu tapi Maya menghilang sejak pesta tadi. Saya kira dia mencari anda”jelas Rei.
“I..itu---”
“Tapi sepertinya anda tidak bersamanya” ucap Rei lagi ketika melihat Masumi hanya sendirian “jadi mungkin Maya telah pulang duluan ke pondok dan tidur” lanjut Rei mengambil kesimpulan sendiri.
“Ehem…mungkin seperti itu” jawab Masumi.
“Kalau begitu saya masuk dulu ke dalam, pak Masumi” ucap Rei “Selamat Malam”
“Malam…”
Masumi menunggu sampai rei masuk ke dalam pondoknya dan menutup pintu, setelah itu ia membalikkan tubuhnya dan….. Maya tidak ada di belakangnya.
“Eh kemana anak itu pergi?” gumam Masumi “pantas saja Rei mengatakan bahwa aku sendirian”
Masumi mengedarkan pandangannya, tapi tidak ada siapapun yang terlihat.
“Mungil…mungiiil…” panggil Masumi “Kamu ke mana sih?”
“ssst…pak Masumi….pak Masumi…..”
Masumi menoleh ke arah datangnya panggilan suara dan ia tertawa ketika melihat Maya melongokkan kepalanya di balik tempat sampah yang besar yang ada di sana.
“Mungil? Mengapa kamu bersembunyi di situ?” tanya Masumi di antara tawanya.
“Sst…pak Masumi…jangan tertawa. Nanti terdengar mereka”
“Habisnya,kamu seperti---“
“Pak Masumi…mereka…mereka sudah masuk semua kan?” tanya Maya.
Masumi mengangguk.
“Mereka tidak melihat aku kan?” tanya Maya lagi.
Masumi menggeleng.
“Kamu kenapa sih main petak umpet seperti itu?” tanya Masumi sambil menahan tawanya.
“Gara-gara pak Masumi sih”
“Lho koq menyalahkan aku?”
“Iya…hampir saja aku kepergok mereka. Bisa habis aku kalau ketahuan mereka. Hari-hariku tidak akan bisa tenang” sahut Maya.
“Koq bisa begitu?”
“Iya. Mereka pasti akan bertanya terus padaku apa hubunganku dengan anda dan terus meledekku” jawab Maya.
“Mengapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya pada teman-temanmu itu, mungil?”
“Eh, memangnya boleh?”
“Maksudmu?”
“Aku kira pak Masumi tidak suka kalau hubunganku dengan anda diketahui oleh siapapun” jawab Maya.
“Siapa yang mengatakan seperti itu?”
“Jadi tidak apa-apa, kalau aku mengatakan---“
“Mengatakan apa?”
“Bahwa aku adalah……. kekasih anda?” tanya Maya dengan wajah memerah.
“Katakan saja kalau kamu mau mengatakan seperti itu”
“Benar tidak apa-apa?” tanya Maya tidak yakin.
“Tidak apa-apa”
“Pak Masumi, benar tidak---“
“Kamu itu cerewet ya, mungil. Bertanya berulangkali” ucap Masumi memotong kata-kata Maya “Sekarang lebih baik kita masuk saja ke pondokku” lanjutnya sambil menarik tangan Maya dan membawanya masuk ke dalam pondoknya.
@@@@@
“Ini, minumlah” kata Masumi sambil menyodorkan segelas susu coklat hangat pada Maya yang sedang duduk meringkuk di atas sofa , di dalam pondok Masumi.
“Terima kasih, pak Masumi” kata Maya sambil mengambil gelas dari tangan Masumi dan menyeruputnya perlahan.
Masumi duduk di samping Maya dan diam memperhatikan Maya.
“Mengapa melihatku terus?” tanya Maya.
“Tidak..tidak apa-apa. Habiskan saja susu coklatmu” ucap Masumi.
Setelah Maya meletakkan gelasnya yang kosong di atas meja, Masumi menarik Maya ke dalam pelukannya.
“Aku punya hadiah natal untukmu” ucap Masumi.
“Eh?”
Masumi mengeluarkan hiasan bintang dari sakunya dan memberikannya untuk Maya.
“Sebuah bintang natal untukmu…” kata Masumi.
“Hmm…terima kasih, pak Masumi” kata Maya sambil mengambil bintang natal itu.
“Apa kamu tidak ingin membukanya?” tanya Masumi.
“Membuka? Membuka apa?”
“Membuka bintang natal itu” jawab Masumi.
“Eh..bintang natal ini dapat dibuka?” tanya Maya sambil menunjukkan bintang natal yang diberikan Masumi.
“Tentu saja”
“Ba..bagaimana cara membukanya?”
Masumi mengambil bintang natal itu dari tangan Maya dan membukanya.
Ceklek…
Bintang natal itu terbelah dua.
“Nah, sudah terbuka kan..” kata Masumi sambil memperlihatkannya pada Maya.
“Pak Masumi..di dalam bintang natal itu….”
“Ambillah, itu untukmu….”
Maya mengambil isi dari bintang natal itu dan memandanginya.
Sebuah bros berbentuk bintang dengan taburan berlian di atasnya.
“Pak Masumi…ini cantik sekali….” Kata Maya.
“Syukurlah kalau kamu suka” ucap Masumi “Sini aku pasangkan di bajumu” lanjut Masumi, mengambil bros itu dari tangan maya dan memasangkannya ke baju Maya.
“Hmm..pak Masumi…aku juga punya kado untukmu… tapi kadoku tidak sebagus kado yang anda berikan padaku” kata Maya.
“Eh kado?”
Maya mengangguk lalu meraih tasnya dan membukanya.
Maya mengeluarkan sebuah kotak kubus berukuran kurang lebih 5 x 5 cm.
“Ini untuk anda” ucap Maya.
“Un..untukku?”
Maya mengangguk.
“Boleh aku membukanya?”tanya Masumi.
“Sekali lagi, Maya mengangguk.
Perlahan-lahan, masumi membuka kotak itu dan melihat isinya dan ia sangat terkejut kemudian ia menatap Maya.
“mungil…..koq kosong?” tanya Masumi.
“Ah, masa pak Masumi tidak dapat melihatnya?”
“melihat apa?”
“Melihat apa yang ada di dalam kotak itu” sahut Maya “Jangan dibuka lama-lama, nanti isinya keluar semua” lanjutnya sambil mengambil kotak itu dari tangan Masumi dan menutupnya.
“Eh?” tanya Masumi dengan tatapan tidak mengerti pada Maya.
“Simpan ya, pak Masumi. Jangan di buka kalau tidak terlalu perlu” kata Maya sambil menyerahkan kotak itu ke tangan Masumi.
“Tapi Maya…aku tidak tahu apa yang kamu berikan padaku…” kata Masumi “Jadi, bisakah kamu memberitahukannya padaku apa yang ada dalam kotak itu?”
Maya menatap Masumi.
“Hmm…pak Masumi…ini dalam kotak itu adalah….”
“Apa?”
“itu isinya……” kata Maya masih menggantung kalimatnya.
“Apa, mungil?”
“Tapi anda jangan menertawakan aku”
“Eh?”
“Janji dulu, anda tidak akan menertawakan aku” ulang Maya “Kalau anda sudah berjanji, baru aku akan memberitahukannya pada anda”
“Mungil…”
“Berjanjilah padaku, pak Masumi”
“Baiklah, aku janji aku tidak akan menertawakanmu. Jadi….sekarang katakan padaku apa isi dari kotak ini?” tanya Masumi.
Maya mengambil kembali kotak di tangan Masumi.
“Ini kotak ini adalah……” kata Maya “ciumanku…” lanjutnya perlahan.
“eh?”
“Anda janji tidak tertawa”
“Aku tidak tertawa, mungil. Kamu tadi mengatakan apa?”
“Aku memasukkan semua ciumanku ke dalam kotak ini, pak Masumi…”sahut Maya.
“Memasukkan---“
“Benar” angguk Maya “Jadi anda mau menerimanya tidak?”
“Aku pasti menerima kado darimu, mungil” ucap Masumi.
“Tapi mengapa anda---“
“Itu karena aku tidak menyangka kalau kotak itu berisi ciumanmu…..maaf, aku sangat terkejut “ ucap Masumi “aku sangat menyukai kado itu. Terima kasih mungil”
“Anda benar-benar menyukainya?” tanya Maya tidak yakin.
“Sangat suka” tegas Masumi “Tapi---“
“Tapi apa?”
“Tapi karena sekarang kamu berada di dekatku, tidak bisakah kamu memberikan ciuman itu langsung padaku?” tanya Masumi.
“Eh?”
“Ayolah, Maya. Berikanlah ciuman langsung itu padaku”bujuk Masumi.
“Hmm…tapi…tapi….”
“Tapi apa?”
“Tapi aku malu…” kata Maya “Jadi pak Masumi harus menutup mata ya”
“Menutup mata?”
“Maya mengangguk dan menatap Masumi.
“Hmm….baiklah aku akan menutup mataku” ucap Masumi kemudian ia menutup matanya.
Masumi menunggu, lalu ia merasa ada sesuatu yang mendekat ke bibirnya.
Masumi mengintip dan melihat Maya sedang menatapnya.
“Apa sudah cukup, pak Masumi?” tanya Maya.
Masumi meraih sesuatu yang didekatkan maya ke mulutnya dan melihat bahwa kotak itu yang ditempelkan Maya ke mulutnya.
“Mungiiiil….”
“Apa, pak Masumi?” tanya Maya polos.
“Yang aku minta itu---“
“Kan sama saja, pak Masumi. Isi dalam kotak ini juga kan ciumanku” sahut Maya.
Masumi menghela napasnya.
“Kamu itu benar-benar membuat aku----“
CUP
Dengan cepat, Maya mengecup bibir Masumi…..dengan bibirnya sendiri.
“Apa seperti itu, pak Masumi?” bisik Maya tanpa menjauhkan bibirnya dari bibir Masumi.
Masumi menjawab pertanyaan Maya dengan mencium Maya dan mereka terus berciuman…semakin dalam…..dan dalam…….
Sambil terus menciumi bibir Maya, Perlahan-lahan, Masumi mendesak tubuh Maya sehingga terbaring di sofa.
Masumi melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya semalam di dalam goa. Tapi kali ini, tidak ada lagi alarm tanda bahaya yang berbunyi di kepalanya sehingga Masumi tidak berhenti menyentuh dan menciumi setiap inchi dari tubuh Maya sampai akhirnya ia pun……menyatukan tubuh mereka.
@@@@@
Keesokan harinya……
Maya terbangun dari tidurnya dan merasa tidak mengenali di mana ia berada. Lalu ia teringat kembali kejadian semalam. Masumi menciuminya, menyentuhnya dan -----.
Mengingat hal-hal yang dilakukan Masumi sepanjang malam itu baik di sofa dan di tempat tidur membuat Maya tersenyum dengan wajah memerah dan terasa panas.
Maya lalu menoleh dan melihat Masumi yang masih tidur. Karena posisi tidur Masumi yang miring menghadapnya, Maya jadi dapat melihat wajah Masumi.
Perlahan-lahan, maya menggeser tubuhnya dan mendekatkan dirinya pada Masumi. Dengan jarak yang begitu dekat, Maya dapat melihat wajah Masumi dengan jelas. Maya tersenyum melihat wajah Masumi yang tampak tenang dan damai itu.
Lalu, maya mengulurkan tangannya dan dengan jari telunjuknya, perlahan-lahan ia menyentuh lengkungan kedua alis Masumi, lalu turun menyusuri tulang hidung dan berhenti di bibir Masumi.
Kemudian, Maya mendekatkan bibirnya ke bibir Masumi. Tapi….ketika jarak antara bibir mereka sangat teramat dekat, maya menghentikan gerakannya.
Maya takut membuat Masumi terbangun, jadi ia hanya diam saja dan menatap Masumi dengan posisi seperti itu.
“Lakukanlah..” ucap Masumi perlahan, tanpa membuka matanya.
“Eh?”
“Bukankah kamu ingin menciumku? Jadi lakukanlah” ulang Masumi, masih belum membuka matanya.
“Ah..pak…pak Masumi…..anda….an…anda sudah bangun rupanya….” Ucap Maya terkejut sambil memalingkan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
“Memangnya kenapa kalau aku sudah bangun?” tanya Masumi sambil membuka matanya dan menatap Maya.
“Ka..kalau….ada sudah ba..bangun kan, a..aku---“
“Kamu apa?” tanya Masumi sambil melingkarkan tangannya ke tubuh Maya dan menariknya mendekat.
“A..aku…i..itu…”
Tangan Masumi yang berada di atas tubuhnya membuat Maya tidak dapat berkata-kata. Jantungnya berdebar kencang dan wajahnya semakin memerah.
“Kamu apa, mungil?” tanya Masumi.
Maya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, aku akan mengatakan----“
“A..apa?”
“Merry Christmas…..” ucap Masumi lalu mengcup ringan bibir Maya.
“Eh?”
“Mengapa menatapku seperti itu? Tidak salah kan kalau aku mengucapkannya. Hari ini kan hari natal…”
“Ah iya….sekarang hari natal” kata Maya membenarkan ucapan Masumi “hmmm…..Selamat natal juga, pak Masumi”
“Lalu…”
“Eh lalu--…..lalu apa?”tanya Maya.
Masumi tidak menjawab pertanyaan Maya. Ia hanya menarik selimut sehingga menutupi mereka berdua.
“aaaaa……..pak Masumiii……”
@@@@@
Hari semakin terang dan tiba-tiba terdengar sirene polisi meraung-raung dan kegaduhan di luar pondok.
“Su..suara apa itu, pak Masumi..?” tanya Maya yang masih berada di pelukan Masumi.
“Hmm…aku juga tidak tahu” jawab Masumi “Biar aku lihat” lanjutnya sambil bangun lalu mengambil mantel kamarnya dan bergegas memakainya.
Masumi menyibakkan tirai jendela dan mengamati kejadian di luar.
Tiba-tiba ia tersenyum.
“Pak Masumi, ada apa? Mengapa anda tersenyum?” tanya Maya yang penasaran.
Masumi menatap Maya dan tersenyum geli.
“Pak Masumii…..”
“Mungil, di luar aku melihat mobil polisi---“ ucap Masumi menyebutkan apa yang dilihatnya “Lalu aku juga melihat teman-temanmu yang terlihat panik sedang berbicara dengan polisi itu, sepertinya mereka sedang melaporkan---“
“Melaporkan apa? Apa…apa ada sesuatu yang terjadi dengan teman-temanku?” tanya Maya panik “Pak Masumi, tolong ambilkan pakaianku, aku ingin menemui---“
“Mungil, tidak usah panik seperti itu” sahut Masumi masih berdiri di ambang jendela “Teman-temanmu terlihat baik-baik saja…..”
“Ta…tapi----“
“Sepertinya mereka hanya melaporkan bahwa ada anak yang hilang”
“Eh..anak yang hilang?” tanya Maya sambil mengerutkan keningnya “Di pondokku kan tidak ada anak-anak” lanjut Maya yang belum ‘ngeh’ dengan kata ‘anak’ yang diucapkan Masumi.
“Mungil, menurutmu siapa? Siapa yang tidak pulang ke pondoknya semalam?”
“Eh?”
Maya menatap Masumi yang sedang tersenyum-senyum.
“Hah….jadi..jadi maksud anda……mereka….mereka mencari akuu…?” tanya Maya menunjuk dirinya.
Masumi mengangguk.
“Pak Masumi….tapi aku kan bukan anak-anak. Mengapa nada---“ protes Maya.
“Ah iya..kamu benar mungil Sekarang kamu memang bukan anak-anak lagi, kamu sudah menjadi wanita dewasa” kata Masumi, menatap Maya penuh arti.
“Pak..pak…Masumiii…” ucap Maya tersipu “Ta…tapi….aaaaaaa…..bagaimana ini……” lanjutnya ketika ia ingat kembali bahwa teman-temannya sedang mencari-carinya “bagaimana aku menjelaskan pada teman-temanku? Bagaimana pak Masumii….”
Masumi tertawa melihat Maya yang terlihat ‘panik’.
“Pak Masumiii…..jangan tertawa saja” seru Maya “beritahukan padaku bagaimana aku menjelaskan pada mereka……aduh bagaimana ini, pak Masumi….aku harus bagaimanaaa…….”
Masumi menghampiri Maya dan menatapnya.
“Pak Masumi, jangan menatapku, lekas pikirkan cara agar aku dapat menghadapi teman-temanku….alasan apa yang harus aku berikan pada mereka?”
“Nanti saja kita memikirkannya, mungil” jawab Masumi enteng.
“Eh”
“Nanti….” ulang Masumi sambil menyusupkan dirinya ke dalam selimut “Setelah aku selesai melakukan ini”.
“Aaaa…..pak….pak Masumii….masa anda mau memulainya lagi…”seru Maya ketika Masumi memeluknya dan menciuminya lagi.
The End
sooo sweeeettt.... <3
BalasHapusaih pak masumi
BalasHapusberapa ronde itu, kasiyan atuh maya nya *blushing*
waduh masumi.... gak nyianyisin ksmpatin nih...... kadian atuh p polisix,bingung cari maya
BalasHapusAda lanjutannya lagi kan y...*spesial buat Tahun baru. ^^
BalasHapuswakakakakakak hantammmm teruuussss masumiiiiii
BalasHapustahon baru klo bisa diisi dgn kelahiran krucil ^^
wah cerita yg manis , aku suka sampai baca berkali kali apalagi percakapan antara masumi dan maya yg terlihat hidup dan penuh canda ( halahh bacanya dlm bis loh sampe senyum sumringah sendiri jadi malu) ,teruskan donk lanjutannya , kira kira apa yach alasan maya ke teman temannya karna menghlang apa masumi mau membantu maya membuat alasan secara masumi sangat senang membuat maya blushing2
BalasHapuswkwkwkwkwwkkwk ternyata MH kuat juga ya...emang mau berapa ronde sih...sekali libas ajeeee.....gimana reaksi Rei n the gank begitu tau Maya sama MH semlaman yaaaaa??? bikin sekuelnya dongggg XDDDD
BalasHapushahaha,,luccuuuuu,,,
BalasHapusitu p masumi mau ngapain lagee sih,,,pdhl maya lg di cariin ma polisi
masumi liat sikon dong masa mau nambah lg
BalasHapusmaya, sampe dcari polisi tu
ntr cari alasn ya yg bs berdua sehari semalam ato 2 hari 2 malam ato lebih lama jg gpp
wkwkwk
wooooooooiiiii MH ckckckckckck anak orang tuh ati2 nt digerebek tuh wkwkwkwkwkwkwkwkwk
BalasHapus