Halaman

Sabtu, 24 Desember 2011

The Night Before Christmas

“Ah…anda sudah sampai, nona” sambut George ketika melihat Candy sedang berdiri di depan pintu masuk “Silahkan masuk. Saya sudah menyiapkan kamar untuk anda” lanjutnya sambil membawakan koper Candy.

Candy mengangguk dan mengikuti George menuju kamar yang akan ditempatinya.

“George, Albert…maksudku paman William. Beliau ada di mana?”

“Tuan William belum datang, nona”

“Apa belum datang?” tanya Candy “lalu untuk apa dia menyuruhku ke mari?”


“Maaf, nona. Tuan William ada urusan yang mendesak dan harus diselesaikannya” jawab George.

“Mengapa kamu yang harus minta maaf? Harusnya dia yang minta maaf padaku. Jauh-jauh aku datang kemari tapi ternyata dia malah tidak ada”gerutu Candy “Kalau begitu lebih baik aku merayakan natal di rumah Pony” sambungnya.

“Hmm…itu…..saya tidak tahu. maafkan saya, nona Candy” jawab George.

“Aku sudah mengatakannya, George. Tidak perlu minta maaf. Bukan salahmu”sahut Candy “Ah sudahlah tidak perlu dibahas lagi”

“Silahkan, di sini, Nona Candy” ucap George sambil membukakan pintu sebuah ruangan dan meletakkan koper yang di bawa Candy di dalam ruangan itu.

“Ah, iya. Terima kasih” jawab Candy.

“Selamat beristirahat, nona Candy. Dan saya permisi dulu” pamit George sambil menghormat kemudian dia keluar dan menutup pintu.

Candy melempar tas tangannya ke atas sofa dan merebahkan dirinya ke tempat tidur besar yang ada di sana.

“Ah….dasar Albert…..benar-benar deh, kalau tahu kan aku tidak perlu kemari”ucapnya kesal. Ia lalu meraih bantal dan meninju-ninjunya.

“Dasar Albert jelek…benar-benar menyebalkan……”

@@@@@

Beberapa hari sebelumnya.

Candy bersama anak-anak rumah Pony sedang mempersiapkan pesta natal. Candy mengumpulkan anak-anak itu dan mengajarkannya bernyanyi.

Lagu yang sama seperti natal sebelumnya, lagu yang dibuatnya khusus untuk ibu Pony dan ibu Lein.

‘yang hangat seperti kue pie ayam itu ibu Pony, yang manis seperti tart keju itu ibu Lein. Rumah Pony adalah rumah kue. Rumah kue yang sangat riang. Kami sangat sayang ibu Pony dan Ibu Lein….”

“Nah…lagunya seperti itu” ucap Candy pada anak-anak tersebut “Kalian masih ingat kan dengan lagunya?”

Anak-anak itu mengangguk.

“Bagus….” Seru Candy “Kalau begitu mari kita mulai….”

“Do…re…mi…..” ucap Candy mengambil suara. “Tok…tok…tok…..1…2……3……..”

Mereka pun memulai menyanyikannya di konduktori oleh Candy.

“Booss……..” teriak Jimmy sambil berlari mendekati candy.

“Eit…stop…stop dulu……”ucap Candy pada anak-anak yang bernyanyi lalu ia menatap Jimmy.

“ada apa?”tanyanya “Kamu sudah datang terlambat, mengganggu latihan menyanyi lagi”

“Ada surat untuk anda,bos….”sahut Jimmy dengan bapas terengah-engah sambil menyerahkan sebuah amplop pada Candy.
“Surat?” tanya Candy sambil mengangkat alisnya “dari siapa ya?” tanyanya sambil mengambil surat itu.

“Ah…dari Albert….” Ucapnya senang ketika ia membaca nama pengirimnya.

“Jimmy, kamu pimpin anak-anak belajar lagu ya…aku pergi dulu” ucap Candy sambil berlari meninggalkan anak-anak itu.

“Hei…bos…..” teriak Jimmy “Boss……bagaimana sih masa langsung pergi begitu saja”

Anak-anak kecil itu menatap Jimmy, menunggu.

“Hmm….baiklah…..sekarang kita mulai lagi…..1,2,3……” ucap Jimmy akhirnya.

@@@@@

Candy merobek surat itu. Dia sangat penasaran dengan apa yang ditulis Albert. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Albert. Terakhir ia bertemu dengan Albert saat di bukit Pony. Ketika itu ia akhirnya tahu bahwa Albert selain paman Williamnya tapi juga orang yang ditemuinya saat kecil, dan yang disebutnya “pangeran…..pangeran Candy”

‘Dear..Candy……’ candy mulai membaca surat itu.

‘Apa kabarmu di sana? Tapi aku bisa menduga kamu pasti sehat-sehat saja dan masih suka memanjat pohon….’

“Ah dasar Albert, tahu saja” gumam Candy tersenyum kemudian melanjutkan membaca.

‘Aku menulis surat ini karena aku ingin mengundangmu untuk merayakan natal bersama di Lake wood.. Bagaimana Candy, apa kamu setuju? kalau kamu setuju, kamu hubungi aku, nomor teleponku aku cantumkan di bawah. Nanti aku akan meminta George untuk menjemputmu. Dari Albert’

“Albert mengundangku merayakan natal? Natalan berdua dengan Albert?” kata Candy girang “Tentu saja aku mau…sudah lama aku tidak melihatnya…….aku ingin berjumpa dengan Albert…….”

“Albert…..aku mauu…….tunggu aku……” seru Candy “Yeah….yipiiii…..” lanjut Candy sambil meloncat kegirangan.

Candy segera menelpon Albert dan mengatakan bahwa ia setuju, dan ia juga mengatakan bahwa dirinya tidak perlu dijemput karena ia bisa pergi sendiri.

Dan disinilah ia sekarang, di Lakewood…..sendirian……(????)

@@@@@

Karena kesal, Candy keluar kamarnya dan berjalan-jalan.

Banyak kenangan di Lakewood. Pertama-tama ia menuju kebun mawar Anthony.

Di musim dingin, tidak ada satupun Mawar yang tampak, semuanya putih tertutup salju.

Candy menutup matanya dan membayangkan saat kebun Mawar itu penuh dengan bunga mawar dan ia melihat Anthony di sana, sedang menatapnya dan tersenyum. Ingatannya kembali pada kenangannya dengan Anthony.

Kenangannya yang sesaat, dan berakhir dengan----.

Cepat-cepat, Candy menghapus air mata yang menetes pada pipinya.

Ia lalu kembali berjalan menyusuri taman yang luas itu dan sampailah di tepi danau.

Danau yang juga penuh dengan kenangannya. Tempat ia pertama kali berjumpa dengan Archie dan juga kenangannya dengan Stea.

Stea yang senang melakukan banyak percobaan namun selalu gagal. Salah satu percobaan Stea yang pernah dicoba Candy adalah sepatu yang berjalan di atas air. Di danau itulah Candy mencoba sepatu Stea dan berakhir dengan basah kuyub.Candy tersenyum mengingat kenangan itu.

Lalu matanya tanpa sengaja melihat beberapa pekerja yang sedang sibuk melakukan sesuatu di sebuah pohon, tak jauh dari tempatnya berdiri.

Candy pun bergegas menghampiri mereka.

“Kalian sedang apa?”tanya Candy.

“Oh, kami sedang membersihkan salju yang ada di pohon ini” sahut salah seorang pekerja “Setelah itu kami akan menghias pohon ini”

“menghias pohon?”

“Benar”

“Saya boleh ikutan ya pak menghias pohon” ucap Candy.

Pekerja itu mengangguk memperbolehkan.

Candy menunggu sampai pohon itu selesai dibersihkan dari salju, kemudian ia ikut membantu pekerja itu menghias pohon.

“Paman….biar saya yang memasang bintang natal itu dipuncaknya ya?” kata Candy setelah selesai menghias bagian bawah pohon.

“Ta..tapi…pohon ini tinggi, nona. Nanti anda terjatuh dan---“

“Tidak usah khawatir, paman. Saya itu jago memanjat” sahut Candy sambil mengambil bintang natal itu dan menaiki tangga yang bersandar di pohon tersebut.

Dengan cekatan, Candy naik ke atas dan sebentar saja, ia sudah sampai di puncak pohon dan memasangkan bintang natal tersebut.

“Nah…selesai….” Ucap Candy.

Setelah itu ia pun turun kembali. Di tengah perjalanan turun, kakinya terpeleset dan ia terlambat pegangan.

“Aaaaa…..” teriak Candy .

“No…nona……”

“Bruk…..”

“Eh…?” tanya Candy heran karena ia tidak membentur tanah. Ia merasa ada sepasang tangan yang menangkap tubuhnya.

Candy melihat Albert yang sedang tersenyum memandanginya.

Wajah Albert begitu dekat dengan wajahnya dan membuat jantungnya berdebar kencang.

“Al…albert….” Gumam Candy.

“Ehem…ehem…..” dehem seseorang “Sampai kapan kalian tetap dengan posisi seperti itu?”

“Eh….”

Albert cepat-cepat menjauhkan wajahnya dan melepaskan Candy. Pipi Keduanya tampak memerah.

“Aaah…kalian…” seru Candy ketika ia sudah menenangkan dirinya dan berlari menghampiri beberapa orang yang berdiri tak jauh darinya.

“Patty…..apa kabarmu?.......Annie…..kamu sehat-sehat saja kan?”Aku senang sekali bertemu kalian” ucap Candy sambil memeluk ke dua gadis itu.

Mereka saling berpelukan.

“Ehemm…..aku tidak diajak berpelukan juga, Candy?”

Candy melepas pelukannya dan menoleh.

“Archie….” Katanya sambil meninju lengan Archie “Kamu masih sama saja dengan dulu. Masih harum” ucap Candy yang mencium bau wangi dari tubuh Archie.

Archie tertawa mendengar perkataan Candy.

“Dan kamu tidak pernah membuat Aniie menangis kan?” sambung Candy.

“Pria tampan seperti aku, tidak suka membuat wanita menangis” jawab Archie “Betul kan, Annie?” tanyanya pada Annie sambil merangkulnya.

“Ar…Archie….” Ucap Annie sambil tersipu.

Candy tertawa melihat mereka.

“Oh ya…mengapa kalian bisa ada di sini? Dan kapan kalian tiba?” tanya Candy penasaran.

“Kami diundang paman William eh Albert maksudku dan baru tadi pagi tiba di sini” jawab Archie.

“Albert yang mengundang kalian?”

“Betul, Candy” angguk Patty.

Candy menatap Albert yang sedang berdiri di belakangnya.

“Wua…Albert…..terima kasih karena telah mengundang mereka. Tadinya aku pikir aku akan merayakan natal sendiri. Aku sudah sangat kesal saja tadi”

“Mengapa kamu berpikiran seperti itu?” tanya Albert.

“Soalnya tadi ketika aku tanya George, ia mengatakan bahwa kau tidak ada dan harus menyelesaikan urusanmu” jawab Candy “Rupanya George membohongi aku. Pantas saja ia terus meminta maaf”

“Bukan George membohongimu…tapi aku yang meminta George berkata seperti itu kalau kamu bertanya dengan aku” jawab Albert.

“Oh…jadi Albert biang keladinya…Kamu membuat aku kesal tahu” kata Candy.

“Maaf..maaf. aku hanya ingin memberimu kejutan” sahut Albert.

“Huh…”

“Sudah Candy. Masa kamu marah dengan Albert eh paman William” kata Annie menengahi.

“Panggil saja aku Albert, Annie” celetuk Albert “Rasanya nama itu lebih enak di dengar daripada paman William. Kesannya koq aku tua sekali dengan panggilan itu”

Kata-kata Albert membuat semuanya tertawa termasuk Candy.

@@@@@

Malam harinya….

Karena malam itu adalah malam sebelum natal, maka mereka berkumpul di tepi danau, dekat pohon natal yang tadi dihias. Mereka mengadakan barbeque party.

Albert dan Archie memanggang daging, sedang Candy, Patty dan Annie menata piring dan gelas serta kue-kue di atas meja.

“Jangan terus mengambil kue itu, Buppe…”teriak Candy pada Buppe, bajing milik Albert, yang terus menerus mencomot kue.

“Kik…Kik…Kik…..” ucap Buppe sambil berlari menjauh setelah kembali mencomot kue.

“Buppe nakaaal….” Seru Candy sambil mengejar Buppe.

Buppe berlari dan naik ke atas pundak Albert.

“Buppe ada aoa?”

“Kik..kik..kik….kik….” kata Buppe pada Albert seolah menjelaskan bahwa Candy pelit dan tidak memperbolehkannya memakan kue.

“Buppeee……” seru Candy hendak menangkap Buppe tapi dengan sigap Buppe menghindar.

“Sudahlah, Candy” ucap Albert “Masa kamu rebutan kue dengan Buppe” lanjutnya.

“Bukannya berebut, Albert”ucap Candy “Habisnya aku kesal. Buppe terus mengambil kue sambil menyenggol-nyenggol gelas yang sudah di tata rapi”

“benarkah begitu, Buppe?”tanya Albert pada bajing kesayangannya itu.

“Kik…kik….” Jawab Buppe.

“Itu katanya tidak sengaja, Candy”

“Huh…”

Buppe turun dari pundak Albert dan naik ke pundak Candy.

“Kik..kik….kik…kik….”katanya ‘berbicara’ di telinga Candy, seolah meminta maaf.

“Baiklah, aku maafkan. Tapi jangan nakal lagi” kata Candy.

“Kik…”

@@@@@

Seusai barbeque, Candy dan Albert duduk berdampingan sambil menikmatkerlap-kerlip pohon natal.

“Eh, kemana Archie, Annie dan Patty?” tanya Candy yang menyadari mereka hanya berdua.

Albert mengangkat bahunya tanda tidak tahu.

“Aku akan mencari mereka” ucap Candy sambil bangun dari duduknya.

“Jangan” cegah Albert sambil menarik tangan Candy.

“Eh?”

“Duduklah” pinta Albert “Ada yang ingin aku katakan padamu”lanjutnya.

Candy menatap Albert dengan pandangan bertanya kemudian ia kembali duduk.

“Apa? Apa yang ingin kamu tanyakan?”

Albert hanya diam dan menatap Candy.

Deg….

Tatapan Albert membuat jantung Candy berdetak tidak keruan.

“Hmm….Albert….katanya ada sesuatu yang ingin kamu katakan, mengapa sekarang hanya diam saja?” tanya Candy.

“Hmm…Candy….”

“Ya?”

“Mulai hari ini, aku ingin menghapus nama Audrey di belakang namamu” kata Albert memulai kalimatnya.

“Eh?”

“Aku tidak mau menjadi paman Williammu. Dan seperti yang aku katakan tadi siang, rasanya aneh kalau aku dipanggil paman William, olehmu ataupun yang lain. Jadi mulai hari ini kamu bukan putri keturunan keluarga Audrey lagi”

“Hmm…begitu?” tanya Candy “Baiklah tidak apa-apa kalau itu keputusanmu, Albert”

“Jadi, kamu setuju?”tanya Albert “Kalau begitu kita deal?”lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.

“Deal…” sahut Candy sambil membalas uluran tangan Albert.

“Lalu…”

“Lalu? Masih ada lalu?” tanya Candy.

Albert mengangguk.

“Apa lagi?”

“Aku juga tidak mau menjadi kakak angkatmu” sahut Albert.

“Eh..?”

“Aku tidak mau mempunyai adik dengan wajah penuh bintik dan suka memanjat pohon sepertimu” ucap Albert memberi alasan.

“Ih…Albert” seru Candy sambil memukuli tangan Albert “Albert suka begitu deh” Tapi…tidak apa-apalah tidak punya kakak seperti Albert juga” sambung Candy.

“Oke..deal?”lanjut Candy mengulurkan tangannya.

“Deal…” kali ini Albert yang membalas uluran tangan Candy.

Tiba-tiba Candy tertawa, ia merasa tingkah mereka lucu.

“Hahahaha…Albert,. Apa yang kita lakukan mengingatkan aku pada acara kuis di televisi” katanya di sela tawanya.

“Iya juga ya” sahut Albert lalu ikut tertawa.

Tapi kemudian, Albert menghentikan tawanya dan memandang Candy dengan mimik serius.

“Eh…Albert….Ada apa lagi?” tanya Candy yang menjadi grogi karena ditatap Albert sedemikian rupa.

“Ada hal lain lagi yang ingin aku katakan padamu” ucap Albert.

“Hah…masih belum habis juga?”

Albert mengangguk.

“Tapi, untuk yang satu ini, kamu harus memikirkan baik-baik sebelum mengatakan ‘deal” lanjut Albert.

“Albert, ada apa sih? Mengapa kamu begitu serius?” tanya Candy penasaran.
Albert menghembuskan napasnya sebelum memulai perkataannya.

“Candy, aku tahu dalam hidupmu ada dua orang pria yang kamu cintai dan mencintai kamu” mulai Albert dengan hati-hati “Yang pertama adalah Anthony, lalu yang kedua---“

“Terry” sambung Candy sambil mengangguk “Tapi keduanya pergi meninggalkan aku. Anthony sudah pergi jauh dan tidak mungkin kembali lagi. Sedangkan Terry…..aku yang memintanya pergi dan memilih Susanna”

“Candy….”

Candy menatap Albert dan tersenyum.

“Tidak apa-apa Albert. Aku bisa menerimanya. Mereka mungkin bukan ditakdirkan untukku. Mungkin suatu saat akan datang seorang ‘pangeran’ untukku” ucap Candy.

Albert diam menatap Candy dan Candy pun membalas tatapan Albert.

“Apa……. aku bisa menjadi pangeranmu?” tanya Albert tiba-tiba.

“Eh?..apa…apa maksudmu?”

“Tadi aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mau mengangkatmu menjadi putri dari keluarga Audrey dan juga tidak ingin menjadi kakak angkatmu. Itu karena aku ingin hubungan kita lebih dari itu” jawab Albert.

“Mak..maksudmu?”

“Aku….mencintaimu, Candy. Jadi aku ingin kamu memandangku sebagai seorang pria yang mencintaimu bukan sebagai paman yang mengadopsimu atau kakak angkatmu”

“Al..Albert….men…mencintaiku?” tanya Candy tidak percaya.

Albert mengangguk.

“Ya, aku mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi kekasihku dan pendamping hidupku”

“Ehm..i..itu……a…aku…..”

“kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, Candy. Kamu boleh memikirkannya dulu. Aku akan sabar menunggu jawabanmu”

“Tapi aku mau menjawabmu sekarang” ucap Candy.

“Eh?” kini giliran Albert yang terkejut.

“Jawabannya adalah…..tidak” sahut Candy.

“Ti..tidak? jadi kamu me---“

“Tidak menolak maksudnya, Albert” lanjut Candy sambil tersenyum “Aku tidak menolak….aku mauu……”

“Be…benar kah? Kamu tidak ingin memikirkannya dulu?”

“Ah, untuk apa aku memikirkannya lagi? Kamu kan sudah menjadi ‘pangeranku’ semenjak umurku 6 tahun”

Albert mengerutkan keningnya.

“Semenjak umurmu 6 tahun?” tanya Albert.

“Apa kamu mau mendengar ceritaku, Albert?”kata Candy balik bertanya.

“Cerita tentang apa?”

“Waktu aku berumur 6 tahun” kata Candy memulai ceritanya “aku menangis di atas bukit Pony karena Annie berhenti mengirimiku surat dan aku pun menginginkan papa dan mama sepertinya. Lalu seorang ‘pangeran’ datang menghampiriku. Ia bertanya padaku mengapa aku menangis. Pangeran itu memainkan sebuah lagu dengan alat musik yang dibawanya dan aku menjadi tertawa ketika mendengar suara yang keluar dari alat musik itu. Melihat aku tertawa, pangeran itu mengatakan----“

“Adik kecil, kau lucu bila sedang tertawa” sambung Albert.

“Benar. Dia mengatakan itu. Dialah…cinta pertamaku……Dialah pangeranku. Sayangnya aku baru tahu kalau dia adalah pangeranku saat kami bertemu lagi di bukit Pony. Padahal, dia pernah menolongku saat aku jatuh di air terjun, waktu Anthony meninggal, dan aku berpisah dengan Terry, dia yang menghiburku. kamipun pernah tinggal bersama saat dia hilang ingatan, ia juga yang mengangkat aku menjadi putri keluarga bangsawan, dan tidak menyetujui pertunanganku dengan neil”

“Candy…itu….”

“Mengapa kamu tidak pernah mengatakan bahwa kamulah orang yang aku temui di bukit Pony ketika itu, padahal kan waktu kita tinggal bersama, aku juga sudah pernah menceritakan tentang pangeranku ini”kata Candy memtong perkataan Albert.

“Saat itu kan aku sedang hilang ingatan, Candy. Jadi aku tidak bisa mengingatmu” ucap Albert “Dan terakhir kita bertemu itu saat kamu memohon padaku agar tidak menyetujui pertunanganmu dengan neil, jadi aku tidak ingat soal itu, Candy….lagipula……”

“Lagipula apa?”

“Lagipula seingatku gadis kecil yang aku temui saat di bukit Pony itu, sangat berbeda dengan yang sekarang. Dulu dia begitu manis,tapi sekarang---“

“Sekarang apa?”

“Sekarang sih dia berubah jadi cantik----“

“Ih Albert…bisa saja deh”ucap Candy tersipu.

“Tapi sayangnya masih saja bandel dan seperti monyet yang suka memanjat pohon” sambung Albert sambil tertawa.

“Huaa….koq ujungnya tidak enak seperti itu sih” seru Candy “Dasar Albert jahat….”lanjutnya sambil memukul Albert.

“Eh…anak gadis tidak boleh kasar seperti ini” ucap Albert sambil memegangi tangan Candy.

“Tapi biarpun aku kasar, tapi Albert kan mencintai aku”sahut Candy.

“Kapan aku mengatakan hal seperti itu?’ tanya Albert pura-pura lupa.

“Ah, tadi kan kamu yang mengatakan sendiri bahwa kamu mencintaiku dan ingin menjadi pangeranku”

“Oh..tadi aku mengatakan itu ya? Sepertinya aku salah bicara” ucap Albert pura-pura menyesal “Aku tarik kembali u----“

“Tidak boleh….” Sambar Candy cepat “apa yang kamu ucapkan tidak boleh ditarik kembali”

“Mengapa? Tulisan yang salah saja bisa diralat” kata Albert masih menggoda Candy.

“Tapi yang ini sudah tidak bisa diralat. Sudah deal….”

“Aku tidak mengatakan Deal”

“Ah, pokoknya sudah tidak boleh diralat lagi. Mulai hari ini, Albert adalah ‘pangeranku’ dan Albert tidak boleh meninggalkan aku juga tidak boleh bersama gadis lain” tegas Candy.

“Benarkah begitu?”tanya Albert

“Iya….”angguk Candy “pokoknya tidak boleh ada gadis lain selain aku di hati Albert”

“Hmm…..baiklah. Aku janji, tidak akan gadis lain di hatiku selain gadis bandel dan suka memanjat pohon sepertimu” kata Albert.

“Ah…Albert…lagi-lagi mengatakan begitu. Tidak adakah kalimat yang lebih bagus dari itu?” protes Candy.

“Kalimat lain?” tanya Albert pura-pura berpikir lalu kemudian ia menggeleng.

“Tidak ada. Aku tidak menemukan kalimat lain. Kalau aku mengatakan bahwa kamu gadis yang lemah lembut….itu kan tidak sesuai dengan kenyataannya…”

“Albeeert…..” seru Candy kesal.

Albert hanya tertawa menanggapi kekesalan Candy tapi kemudian wajahnya kembali serius dan menatap lekat Candy.

“Al---“

“Candy, seperti katamu bahwa mulai hari ini, aku sudah menjadi ‘pangeran’mu jadi aku boleh----“ kata Albert menggantung kalimatnya.

“Bo..boleh..ap….apa?”

Albert tidak menjawab pertanyaan Candy, ia malah mendekatkan wajahnya ke wajah Candy dan mengecup bibir Candy dengan lembut.

Setelah itu ia kembali menatap Candy dan sekali lagi mengecupnya. Tapi kali ini bukan hanya kecupan melainkan ciuman lembut dan dalam.

Candy menutup matanya, melingkarkan tangannya dileher Albert dan membalas ciuman Albert. Mereka berciuman dan terus berciuman sampai----

Siiiiing……duar…..duar……

Suara itu mengagetkan Candy dan membuat Candy menoleh ke atas langit. Dan ia melihat langit malam yang gelap dipenuhi dengan cahaya kembang api berwarna-warni.

“Wah indah sekali” seru Candy.

Kembang api itu terus terlihat menerangi langit malam.

“Candy…Albert….mengapa kalian masih duduk di sana? Ayo kita nyalakan kembang api bersama: teriak Archie.

“Ah iya…..” jawab Candy sambil bangun dari duduknya dan menarik tangan Albert.

“Ayo, Albert. Kita bergabung bersama mereka” ajak Candy.

Albert mengangguk dan mengikuti Candy yang berlari menghampiri Archie, Patty dan Annie yang sudah sedari tadi memasang kembang api. Mereka pun terus menyalakan kembang api dan menikmati cahaya kembang api itu, sambil menunggu datangnya hari natal……

Dan kisah baru tentang mereka pun di mulai......

The end

6 komentar:

  1. huaaaaaa jd pgn baca candy2 lg...XD
    makasih ff nya :)

    BalasHapus
  2. suka....candy candy ,komik pertama yg membuatku keranjingan komik jepang....

    BalasHapus
  3. hihihihihi jadi teringat jaman smp , pertama kali membaca rumah Pony ...

    kisah ini mengingatkan pada memori masa kecil * sambil pasang muka muram menatap matahari terbenam *

    BalasHapus
  4. i luv it a lot , candy2 is my first comic too hahahhahha ^_^

    BalasHapus
  5. Aawww,,,, kok akhirnya tidak seperti the end,,,??? Itu mulai babak baruu ntu untuk dilanjutinnn... Ayoooooooo dilaanjutinn jng lamaa2 yaa.. Ntr age taon baruu neeeeeee... Brrrr

    BalasHapus