Maya memandangi ponselnya sambil berbaring telungkup di sofa. Ponsel itu pemberian Masumi, sebelum ia pergi ke Tokyo. Ya….sehari setelah natal, Masumi memang kembali ke Tokyo untuk menjemput tamunya yang datang dari Amerika. Tapi Masumi berjanji pada Maya akan segera kembali ke pondok secepatnya untuk merayakan tahun baru bersama.
“Huh….pak Masumi ke mana sih?” gerutu Maya “Masa sampai sekarang tidak juga menelponku” lanjutnya kesal.
Rei yang masuk ke dalam pondok, menghela napasnya melihat tingkah Maya.
Rei dan teman-temannya memang sudah mengetahui bahwa Maya dan Masumi adalah sepasang kekasih, sejak beberapa hari yang lalu, tepatnya ketika hari natal. Ya…..di hari natal itu…………
Saat itu, Rei dan teman-temannya yang khawatir dan takut terjadi sesuatu dengan Maya karena Maya tidak pulang juga ke pondoknya, akhirnya menghubungi pengelola tempat peristirahatan itu dan menelpon polisi.
Bersama beberapa polisi, Rei dan teman-temannya menyusuri area peristirahatan itu, mencari-cari Maya. Namun, Maya tetap juga tidak ditemukan. Sampai akhirnya, ada seorang pekerja yang memberitahukan bahwa kemarin malam, ia diperintahkan Masumi untuk membawa Maya ke sebuah goa yang ada di sekitar tempat peristirahatan itu.
Mendengar informasi itu, mereka pun segera pergi ke goa itu untuk mengeceknya, tapi mereka tidak menemukan Maya di sana.
Akhirnya, Rei dan teman-temannya disertai beberapa polisi itu menuju pondoknya Masumi.
“Tok…tok….tok……”
Ceklek….
Terdengar suara pintu dibuka oleh Masumi.
“Maaf, pak Masumi…apa Maya----“ tanya Rei yang tidak menyelesaikan kalimatnya karena tanpa sengaja, ia melihat di dalam, dan melihat Maya sedang…..makan ramen.
“Mayaaa…… apa yang kamu laku---“seru Rei “Ehm..maaf, pak Masumi, bisa saya masuk ke dalam untuk menemui Maya?” tanya Rei pada Masumi.
“Oh..silahkan” sahut Masumi sambil memberi jalan pada Rei.
“Hei, Rei….” kata Maya “Apa—“
“Kamu…..” teriak Rei “Aku kebingungan dan takut terjadi sesuatu denganmu, kamu malah enak-enak makan di sini”
“ehem…maaf. Mengganggu sebentar” ucap salah seorang polisi “Jadi ini sebenarnya---“
“Oh..tidak ada apa-apa, pak polisi” sahut Masumi tenang “mungkin teman-temannya Maya tidak membaca pesan Maya atau----”
Masumi menoleh dan menatap Maya.
“Mungil…”panggilnya.
“Eh..i..ya?”
“Kamu menginap di sini, tidak memberitahukan pada teman-temanmu?”tanyanya pada Maya.
“Eh..a…aku…lupa” ucap Maya perlahan.
“Nah, anda sudah mendengarnya kan, pak Polisi.Kekasih saya itu memang ceroboh” ucap Masumi yang membuat teman-teman Maya saling pandang “Kemarin malam, saya sudah mengatakan kalau mau menginap di tempat saya, seharusnya ia meninggalkan pesan pada teman-temannya agar teman-temannya tidak khawatir” lanjut Masumi kembali pada polisi itu lagi.
“Apa…kalian benar sepasang kekasih?” tanya polisi itu sambil menatap bolak-balik Maya dan Masumi.
“Memangnya kenapa, pak?” kata Masumi balik bertanya “Apa anda tidak pernah melihat sepasang kekasih yang umurnya terpaut jauh?”
“Eh itu….”
Polisi itu kemudian menatap Maya..
“Nona, apa benar pria ini kekasih anda?” tanyanya.
Maya menatap Masumi dan menganggukkan kepalanya.
“Anda tidak perlu takut, nona. Katakan saja yang sebenarnya. Kalau pria itu bukan ---“
“Dia benar kekasihku” jawab Maya cepat.
“Benarkah? Anda katakan saja sejujurnya, nona. Apa anda berada dalam tekanan sehingga tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya?”tanya polisi itu, yang sepertinya tidak percaya.
“eh?”
“Begini, nona. Apa anda ditekan, dipaksa atau dibujuk pria ini sehingga anda terpaksa mengatakan bahwa pria itu kekasih anda. Anda katakan saja terus terang. Tidak perlu takut….” Kata polisi itu lagi “Atau jangan-jangan pria ini mengancam anda dan berbuat hal yang tidak sopan serta---“
Masumi yang mendengar perkataan polisi itu mengepalkan tangannya.
“Dasar polisi kurang ajar. Apa disangkanya aku ini seorang maniak” gerutunya dalam hati.
“Maaf, pak polisi…apa anda melihat gadis itu terlihat ketakutan atau merasa di ancam oleh saya?” tanya Masumi menahan dirinya untuk tidak memukul polisi itu.
“Nona?” tanya polisi itu mengacuhkan pertanyaan Masumi.
“Aku tidak dalam tekanan ataupun ancaman” kata Maya “Pria itu benar-benar kekasihku, dan a…aku sangat mencintainya” lanjutnya sambil menatap Masumi dengan lembut.
“Nah anda sudah dengar kan?” tanya Masumi pada polisi “Jadi tolong anda jangan sembarangan menuduh orang, Saya bisa menuntut anda atas pencemaran nama baik”lanjutnya dingin.
“Maaf. Saya hanya----“ucap polisi itu sambil menatap Maya, seolah menyelidikinya.
“Pak polisi, apa anda pikir gadis itu masih di bawah umur?”tanya Masumi “Gadis itu memang bertubuh mungil. Tapi saya bisa pastikan kalau gadis itu telah cukup umur untuk menjalin hubungan dengan seorang pria. Anda bisa melihat kartu identitasnya kalau tidak percaya”
“Benar, pak polisi” kata Rei yang akhirnya angkat bicara “teman kami ini memang bukan anak-anak, walau wajahnya masih polos seperti itu”
“Reii…..”
“Dan benar pria itu adalah……kekasihnya. Kami juga mengenalnya” lanjut Rei.
“Lalu mengapa kalian melaporkan berita kehilangan kalau teman kalian itu ternyata bersama kekasihnya?”
“Kami tidak tahu kalau dia bersama kekasihnya. Teman kami ini agak ceroboh, jadi yang kami takutkan dia tersesat atau---“
“Tapi kalian kan bisa mengeceknya dulu di pondok kekasihnya sebelum melaporkan berita kehilangan” sela polisi itu.
“Ah iya. Itu memang salah kami yang terlalu tergesa-gesa. Tadi itu kami terlalu panik, jadi---“
“Jadi karena sekarang orang yang mereka cari sudah ditemukan dan dalam keadaan yang baik-baik saja. Maka saya rasa sudah tidak ada masalah lagi”ucap Masumi memotong perkataan Rei.
“Benar, pak Polisi. Kami rasa masalahnya sudah selesai. Kami sudah menemukan teman yang kami cari” ucap Hotta menyetujui perkataan Masumi “Terima kasih atas bantuan anda dan maafkan kami karena tadi kami membuat sedikit kegemparan”
Polisi itu memandangi mereka yang ada di sana satu per satu.
“Hmmm……baiklah kalau menurut kalian sudah tidak ada masalah lagi”ucapnya kemudian “Kalau begitu kami permisi” pamit polisi itu kemudian pergi, diikuti polisi yang lain meninggalkan mereka.
@@@@@
Setelah polisi-polisi itu pergi, Rei menarik tangan Maya.
“Hei..Reee….i…..”
“Pak Masumi, saya pinjam Maya sebentar” ucap Rei sambil terus menarik tangan Maya dan membawanya ke pondok mereka.
“Kalau begitu, kami juga pamit, pak Masumi” ucap Hotta mewakili teman-temannya “Maaf telah menganggu waktu anda” lanjutnya kemudian membalikkan badannya dan kembali ke pondok mereka diikuti teman-temannya yang lain.
Rei menghempaskan Maya ke sofa.
Maya bangun dari sofa dan langsung memeluk Rei.
“Rei…aku bahagia………sangat bahagiaaa………” serunya sebelum Rei berkata apapun.
“Dan aku menderita” sahut Rei “Jadi lepaskan pelukanmu” lanjutnya sambil berusaha melepaskan pelukan Maya.
“Aku sangat bahagia, Rei…..” kata Maya lagi “akhirnya aku bisa bertemu dengan mawar ungu dan menjadi kekasihnya”
“A..apa maksudmu, Maya? Pak Ma..masumi itu---“
Maya mengangguk.
“Pak Masumi adalah mawar ungu. Pengagum rahasiaku selama ini ” sahut Maya “Ehm..sebenarnya aku sudah tahu sejak lama sih kalau pak Masumi itu mawar ungu. Tapi kemarin malam dia mengakuinya. Dia mengucapkan kata-kata yang selama ini aku tunggu, Rei. Dia akhirnya mengatakan bahwa dialah mawar ungu, pengagum setiaku…..aaaa….aku senang sekali” lanjutnya dengan binar bahagia.
“Eh tunggu..tunggu, Maya. Kamu mengatakan kalau pak Masumi mengakui kalau ia adalah mawar ungu, lalu bagaimana ceritanya kalian bisa menjadi sepasang kekasih?” tanya Rei “siapa tahu saja beliau kan hanya mengagumi aktingmu saja”
“Malam sebelumnya, pak Masumi sudah mengatakannya” jawab Maya.
“Mengatakan---?”
“Iya” angguk Maya “pak Masumi mengatakan kalau dia mencintaiku......”
“Malam sebelumnya itu ketika badai—“
“Benar. Ketika badai salju. Aku dan pak Masumi terjebak di goa. Di sana, pak Masumi mengatakan kalau dia mencintaiku lalu aku jawab kalau aku juga mencintainya….”
“Ah..akhirnya kamu mengakuinya juga, Maya. Kemarin aku tanya, kamu tidak pernah mau mengakuinya. Sekarang---“
“Kan kemarin malam pak Masumi sudah mengijinkan aku memberitahukan pada teman-temanku bahwa aku adalah kekasihnya” sahut Maya polos.
“Hah..”
Ucapan Maya membuat Rei bengong.
“Maya, kamu tuh benar-benar---“ ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aaa..Rei aku senang sekali…..” kata Maya lagi “apalagi semalam---“
“Semalam apa?”
Maya menatap Rei lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidaak…tidak apa-apa….” Sahutnya dengan wajah memerah.
“Maya, apa----”
“Ah..tidak Rei……Aku tidak akan memberitahukannya padamu…” lanjut Maya dengan wajah masih merah “ini rahasia…..”
“Mayaaa……”
“Kalau kamu berani, kamu tanya saja sendiri ke pak Masumi……aku tidak mau menjawabnya……” ucap Maya “Aku mau ke kamar mandi duluu….” Lanjut Maya sambil berlari ke kamar mandi.
“Heii….Maya…kamu harus mengatakan padaku apa yang kalian lakukan semalaman…..”seru Rei sambil mengejar Maya.
“Ih…Rei mau tahu saja deh….tidak boleh, Rei….ini Ra-ha-si-aaa…..” Sahut Maya kemudian dengan cepat ia menutup pintu kamar mandi.
@@@@@
Dan sekarang 4 hari sudah berlalu dari hari natal,Rei menggeleng-gelengkan Maya yang uring-uringan dan terus menatap layar ponselnya karena Masumi masih belum juga menelponnya.
Rei pun kemudian menghampiri Maya.
“Maya…..kamu sedang apa?” tanya Rei.
“Rei…ini----“
“Sudah…jangan memandangi ponsel itu saja. Kamu ini tidak pagi, tidak siang, tidak malam. Terus saja menatap layar ponsel itu” kata Rei memotong perkataan Maya.
“Habisnya, pak Masumi----“
“Pak Masumi masih belum juga menelponmu?”tanya Rei.
Maya menggeleng.
“Nah lho…jangan-jangan….pak Masumi sudah melupakanmu” goda Rei sambil tertawa.
“Reiiii………”
“Maaf..maaf…Maya….” sahut Rei yang melihat wajah Maya berubah murung “Aku hanya becanda” lanjutnya.
“Tapi…tapi kalau benar seperti katamu----“
“Ah tidak mungkin. Menurutku, pak Masumi bukan tipe laki-laki seperti itu”kata Rei mencoba menenangkan Maya “Mungkin beliau sibuk mengurusi tamunya sehingga belum sempat menghubungimu”
“Tapi---“
“Sudahlah Maya, jangan terlalu berpikir banyak. Pak Masumi mana mungkin bisa melupakanmu. Kalau beliau berani melupakanmu, aku---“
“Apa?”
“Tidak…tidak apa-apa. Memangnya aku bisa apa menghadapi pak Masumi” sahut Rei enteng sambil tertawa.
“Reiii……”
“Percaya saja padanya, Maya. Bukankah beliau adalah mawar ungumu?” ucap Rei “Tunggu saja sampai pak Masumi kembali, baru kamu tanyakan padanya mengapa beliau tidak menelponmu”
“Kamu benar, Rei” angguk Maya “Aku akan menunggu sampai pak Masumi kembali”
“Tapi…aaaaa…..tetap saja menjengkelkan…apa dia sama sekali tidak bisa menelponku atau mengirimiku pesan….”lanjut Maya.
“Sudah…sudah…daripada kamu uring-uringan terus, lebih baik kita main salju di luar” ajak Rei sambil menarik tangan Maya.
“Aa…tidak mau…..”
“Ayolah ikut saja” kata Rei lagi “kamu terus diam di sini dan memandangi ponselmu terus juga percuma” lanjutnya sambil terus menarik tangan Maya dan memaksanya keluar.
@@@@@
Malam harinya…..
Maya kembali memandangi layar ponselnya. Tapi tetap saja tidak ada pesan masuk ataupun panggilan masuk dari Masumi.
Dengan kesal, Maya pun melempar ponselnya ke tempat tidur lalu menghempaskan tubuhnya.
“Pak Masumi, anda ke mana saja? Aku rindu padamu…” gumamnya dan tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya.
‘jingle bell…jingle bell…’
Suara dering dari ponselnya, membuat Maya segera mengambil ponselnya.
Melihat nama yang tertera di layar ponselnya, membuat Maya menghapus air mata..
“Pak Masumiii…..anda ke mana saja? mengapa baru sekarang menghubungi aku? tidak tahukah anda, kalau aku----“ tanya Maya begitu mengangkat ponselnya “halo…halo……..”lanjutnya ketika ia sama sekali tidak ada yang menyahutinya.
“Ya…mungil?” tanya Masumi.
“Pak Masumi…..mengapa anda tidak menjawab pertanyaanku? Malah diam saja. Aku kira anda tidak mendengarkan---“
“Justru karena aku sedang mendengarkan suaramu, Mungil” sahut Masumi.
“Anda kapan kembali? Tidak tahu kah kalau aku sangat rindu---“
“Aku juga merindukanmu”
“Kalau begitu mengapa anda belum kembali juga dan sama sekali tidak menghubungiku. Anda jahat sekali….”
“Ehem…siapa yang mengatakan kalau aku belum kembali?”
“Eh..?”
“Aku sudah ada di depan pondokmu. Jadi---“
“Aaa…pak Masumi….mengapa tidak mengatakannya dari tadi….” Seru Maya sambil bangun dan bergegas mengambil syalnya kemudian ia membuka pintu pondoknya.
Di luar pondok, Maya melihat Masumi sedang berdiri dan tersenyum menatapnya.
“Pak Masumii….” Ucap Maya sambil memeluk Masumi, tapi kemudian ia melepas pelukannya.
“Jahat….anda jahat sekali…..mengapa anda tidak menghubungi aku sama sekali…..” katanya sambil memukuli Masumi.
“Maaf…maafkan aku, beberapa hari itu aku benar-benar sibuk” sahut Masumi sambil memegangi tangan maya “Kita ngobrol di pondokku ya…” lanjut Masumi sambil membawa Maya ke pondoknya.
‘Aaah….nanti dulu” seru Maya.
“Eh…”
“Aku menulis pesan dulu untuk teman-temanku kalau aku bersama anda. Aku tidak mau---“
“Ah benar juga. Bahaya kalau teman-temanmu itu kembali menelpon polisi” ucap Masumi sambil tertawa.
“Pak Masumii……”
@@@@@
“Mengapa anda tidak menghubungiku?” tanya Maya lagi ketika mereka sudah berada di pondok Masumi.
“Aku kan sudah mengatakannya, mungil. Aku sibuk…” jawab Masumi.
“Benarkah?” tanya Maya “Sebegitu sibukkah sampai tidak bisa menelponku sebentar saja atau sekedar mengirimiku pesan?”
Masumi menghela napasnya.
“Maafkan aku, mungil” ucap Masumi “Bukannya aku tidak punya waktu sama sekali----“
“Jadi kenapa?Apa….tamu anda itu cantik, jadi---“
“Eh…kamu tahu dari mana kalau tamuku cantik?” tanya Masumi memotong perkataan Maya.
“Jadi….tamu anda itu seorang wanita..cantik?”
“Hmm……”
“huh….jadi alasan sebenarnya anda tidak menelponku adalah karena anda bersama tamu anda yang cantik itu sehingga anda melupakan aku. Dasar pak Masumi jahaaat…..” seru Maya sambil mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya, tidak mau menatap Masumi.
“Bukan…bukan karena itu, mungil….”
“Bohong….anda bohong…..” ucap Maya “Anda---“
“Mungil, lihat aku…”
“Tidak…aku tidak mau…anda jahat…anda memperma---“
Masumi meraih dagu Maya dan menolehkan wajahnya sehingga kepala Maya menghadapnya. Lalu dilihatnya air mata gadis itu sudah mengalir membasahi pipinya.
“Mengapa kamu menangis?” tanya Masumi sambil menghapus air mata Maya dengan jarinya.
“Ha..habisnya..pak Masumi---“
“Aku apa?” tanya Masumi sambil membawa Maya ke pelukannya dan mengecup kepalanya lembut.
“Anda dan wanita itu---“
“Tidak ada apa-apa antara aku dan wanita itu. Wanita itu tamuku. Hmmm…kekasih tamuku tepatnya”
“Eh? Kekasih tamu anda?”tanya Maya sambil mengangkat kepalanya dan menatap Masumi tidak mengerti.
“Benar.tamuku membawa kekasihnya ke Jepang”
“Tapi..tapi anda mengatakan bahwa tamu anda adalah seorang wanita cantik?”
“Lho..benar kan? Tamuku membawa kekasihnya. Kekasihnya itu memang wanita cantik. jadi kekasihnya yang wanita cantik itu tamuku juga kan?”
“Aaah…pak Masumi…aku jadi bingung…..”ucap Maya.
“Sama…aku juga bingung, mungil…” sahut Masumi sambil tertawa “Jadi kita tidak perlu mengurusi urusan mereka. Kita urusi saja masalah kita sendiri”
Maya mengangguk.
“Lalu…mengapa anda tidak menghubungiku?”
“Kamu..mengapa masih bertanya terus?” kata Masumi balik bertanya.
“Pak Masumi belum menjawabnya. Anda mengatakan sebenarnya anda memiliki waktu lalu mengapa?”
“Karena aku takut---“
“Takut?” tanya Maya sambil menaikkan kedia alisnya “Takut apa?”
“Takut….kalau aku mendengar suaramu, aku akan meninggalkan tamuku dan bergegas ke sini untuk menemuimu….” Jawab Masumi
“Lalu….mengapa sekarang anda ada di sini? Apa anda meninggalkan tamu anda?”
Masumi menggeleng.
“Mereka ada disini” jawab Masumi kemudian.
“Eh?”
“Mereka mau merayakan tahun baru di sini” jelas Masumi “Besok aku kenalkan mereka padamu ya”
“Mengapa anda mau mengenalkan aku pada mereka?”
“Mengapa tidak?” tanya Masumi “Sepertinya kamu akan cocok dengan kekasih tamuku itu”
“Eh? Mana..mana mungkin aku bisa cocok dengan---“
“Cocok, mungil. Dia gadis yang ramah dan menyenangkan” sahut Masumi.
“Benarkah?” tanya Maya.
Masumi mengangguk.
“Kalian pasti bisa menjadi teman” ucapnya yakin.
“Lalu…..”
“Lalu apa?”
“Lalu, pak Masumi akan memperkenalkan aku sebagai apa?”
“Maumu dikenalkan sebagai apa, mungil?” tanya Masumi balik bertanya sambil tersenyum.
Maya menggeleng.
“Bagaimana kalau sebagai………” kata Masumi menggantung kalimatnya “hmmm….keponakanku?”
“Eh?” tanya Maya sambil membelalakkan matanya .
“Tidak mau ya? Kalau begitu aku kenalkan kamu sebagai pemain sandiwara yang mengisi acara---”
“Pak Masumiii…..”
“Jadi…aku harus memperkenalkanmu sebagai apa, mungil?”
“Tidak tahuu….pak Masumi jahaat…aku pergiii…..” kata Maya sambil bangun.
“Tunggu….” Seru Masumi sambil menarik tangan Maya dan memeluknya kembali “Jangan ngambek begitu donk….”
“Habis---“
“Aku hanya becanda, mungil. Tentu saja, kamu akan aku perkenalkan sebagai kekasihku” jawab Masumi.
“Apa anda tidak malu memperkenalkan aku sebgai kekasih anda. Pak Masumi?” tanya Maya “Aku kan tidak menarik, pendek, juga----“
“Sebenarnya sih---“
“Pak Masumii……”
“Aku tidak akan malu kalau kamu mengubah panggilanmu padaku”
“Eh, panggilan?”
Masumi mengangguk.
“Jangan memanggilku ‘pak’” kata Masumi.
“Jadi aku harus memanggil anda apa?” tanya Maya polos.
“Dan hilangkan kata ‘anda’. Dengan kekasih koq memakai ‘pak’ dan ‘anda’. Itu sih seperti atasan ke bawahan” sahut Masumi.
“Jadi?”
“Jadi? Kamu masih bertanya ‘jadi’?” tanya Masumi “panggil namaku saja, mungil”
“Hmm….nama anda?”
Masumi mengangguk “Dan ganti kata anda dengan kamu…ya ampun, kamu tuh benar-benar ya. Cara memanggil saja harus diajarkan” lanjut Masumi frustasi.
Maya terkikik.
“Ehem..baiklah. Aku akan memanggil anda….eh kamu, hmm….Mmm…Masumi…” ucap Maya.
“Katakan sekali lagi..” pinta Masumi.
“Masumi….Masumi…Masumiiii”
“Benar seperti itu, mungil….”
“Tapi an…eh kamu juga jangan memanggilku mungil….” Protes Maya.
“Jadi aku harus memanggilmu apa, mungil?”
“Aaah…Masumiii……”seru Maya sambil mencubit lengan Masumi “Menyebalkan…”
Masumi terbahak.
“Tidak lucu…” sahut Maya sambil mencubit lengan Masumi lebih keras.
“Aduh……..Ampun..ampun…..mu---“
Maya akan mencubit Masumi lagi.
“Iya…deh ….iya….ampun……Maya……” ucap Masumi, yang membuat Maya tersenyum senang.
“Kekasihku ini jahat sekali. Lihat lenganku sampai merah” keluh Masumi menunjukkan bekas cubitannya.
“Aa,,,,sa..sakit ya, Masumi?”
“Sakit sekali….” ucap masumi sambil pura-pura meringis.
“Ma..maaf ya, Masumi…aku tidak sengaja…” ucap Maya sambil menatap masumi dengan tatapan menyesal “Aku tidak bermaksud membuatmu---“
Cup…
Maya tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, karena Masumi dengan cepat mengecup bibirnya.
“Ma..masumi…..kamu lagi-lagi---“
“Lagi-lagi apa?” tanya Masumi sambil kembali mengecup bibir Maya.
“Masu---“
“Aku…rindu padamu, Maya. sangat rindu” bisik Masumi sambil mendekatkan bibirnya kembali kepada Maya. Tapi kali ini, Masumi tidak hanya mengecup Maya tetapi mencium Maya.
Perlahan, Maya melingkarkan tangannya ke leher Masumi dan membalas ciuman Masumi. Mereka pun terus berciuman dengan panjang dan lamaaa…..melepas semua kerinduan mereka karena beberapa hari tidak bertemu.
@@@@@
Keesokan harinya…..
“Maya, kenalkan ini Tuan William” kata Masumi memperkenalkan Maya pada seorang pria muda berambut pirang
“Albert….” ucap pria itu, baik pada Maya maupun Masumi “Panggil saja Albert” lanjutnya “di sini, kita tidak perlu terlalu formal”
“Ah baiklah kalau begitu” angguk Masumi “Albert, kenalkan ini Maya Kitajima, kekasihku” ulang Masumi memperkenalkan mereka “Maya, ini Albert. Tamuku juga rekan bisnisku”
“Halo, Maya…senang berkenalan denganmu” ucap Albert sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya dan Maya pun membalas uluran tangan Albert “Ha..halo juga, hmm Albert”
“Dan ini---“ kata Masumi pada gadis di sebelah Albert.
“Namaku Candies White” ucap gadis berambut keriting dan berwajah penuh bintik itu “Kamu bisa memanggilku Candy” lanjutnya ramah sambil mengulurkan tangannya “Senang berkenalan denganmu, Maya….”
bersambung ke part 2....
hahahahha mantabs n keren idenya dah cupid hohohoho LANJUTKAAAANNNNN
BalasHapusWaaaww.. ..MM duet dng AC... Omigotz. Ga ga ga kuku... Keren bgd.. Ku bc ambil kaget2 gt.. Loh loh loh... Hehehhem.. Ga sbr menunggu kelanjutannya.. Thx ..
BalasHapusHAHAY... let your imagination free Cupid!
BalasHapusLanjoot gaaann... :)
gimana ceritanya tuh albert bs kenal ama masumi,,,,
BalasHapusfresh bgt tyuh idenyah,,masih agak aneh sih,,tp masih teteuupp nunggu updatean selanjutnyah
wkwkwkwk... bengeran cuma craxy cupid yg bsa jadiin satu CA ma MM nih... ^¥^ cuma klo seandainya ma tery lbh nyambung kali ya, sama2 dunia seni peran.... d tunggu lanjutannya nih^^
BalasHapusGimana Albert bisa kenal Masumi? hmm...ituh karena saia si cupid stress, yang ngenalin mereka berdua, sis Aan wkakakakakaka..... :p
BalasHapusEmang cocok dah sesuai dgn namanya cuteCRAZY...*ups. Ditunggu lanjutannya yach. Ide mu mantap sis.^^
BalasHapusyaaayyyyy...!!!
BalasHapusada kang Albert...!!! ^^
lanjotttt cupid..!!!
wkwkkkwkwkkkk.....
BalasHapusCC + TK = ....
*dijawab sendiri aja yach
lanjooot
jadi candy sm albert ikut kolaborasi di MM nh,,,hahaha cocok krn hampir sama kya masumi n maya kisahnya,,, lanjut sista,,,
BalasHapusMutia na rival
penasaran dengan kelanjutannya, jangan lama2 ya...
BalasHapus