Maya mengajak Candy ke pondoknya karena Masumi dan Albert masih mempunyai sesuatu yang harus di kerjakan. Sesampainya di pondok, Maya memperkenalkan Candy pada teman-temannya.
Setelah itu, mereka bersepeda keliling area peristirahatan dan berhenti di sebuah hutan kecil yang ada di sana, sambil menikmati bekal mereka.
“Apa pekerjaanmu, Candy?” tanya Rei.
“Oh..aku adalah seorang perawat” sahut Candy sambil memakan bekalnya.
“Perawat?”
“Benar…” angguk Candy.
“Wah, pekerjaanmu memang pekerjaan yang mulia, setiap hari menolong orang sakit “kata Maya terkagum.
“Ah, biasa saja” jawab Candy merendah “Kalau pekerjaan kalian apa?”kata Candy balik bertanya.
“Oh, kami semua pemain sandiwara” jawab Maya yang diikuti anggukan teman-temannya.
“Kalian…pemain sandiwara?”
“Benar” sahut Hotta “Besok malam, menjelang pergantian tahun, kami akan mengadakan pertunjukan di gedung serba guna. Kamu menonton ya?”
“Hmm..baiklah. Aku akan menonton pertunjukan kalian” ucap Candy sambil berdiri.
“Mau ke mana?” tanya Maya yang kebingungan melihat Candy pergi.
“Aku mau melemaskan otot-ototku dulu” jawab Candy “Apa kamu mau ikutan?”tanya Candy mulai memanjat sebuah pohon besar yang ada di depannya dan membuat Maya dan teman-temannya membelalakkan matanya, menatapnya tidak percaya
Tak lama, Candy telah sampai di sebuah dahan yang cukup tinggi dan duduk di sana.
“Wah…..pemandangan yang indah” serunya “Apa kalian mau bergabung denganku di sini? Di sini menyenangkan…bisa melihat pemandangan dan udaranya sangat enak” ajak Candy kemudian pada Maya dan teman-temannya yang sedang menatap bengong padanya.
Setelah beberapa saat berada di atas pohon, Candy dengan cekatan menuruni pohon itu.
“Wah di atas jadi sangat menyenangkan” ucapnya saat telah tiba di bawah.
“Ka..kamu bisa memanjat pohon?” tanya Rei.
“Tentu saja….kalau di bukit pony, setiap hari aku memanjat pohon” sahut Candy “Bahkan aku sudah berpindah-pindah dari pohon yang satu ke pohon yang lain sambil bergelantungan, seperti tarzan. Itu menyenangkan lho”
“Hah…”
Jawaban Candy membuat maya dan teman-temannya ternganga dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Karena hari semakin siang, Maya dan teman-temannya kemudian kembali ke pondok untuk latihan sandiwara yang akan dilakukan besok malam. Sedangkan Candy pamit pulang ke pondoknya untuk beristirahat.
@@@@@
Menjelang sore, Masumi dan Albert menyusuri jalan bersalju menuju pondok mereka, diikuti oleh Maya dan Candy di belakang mereka. Sesekali, Masumi menjelaskan sesuatu yang kemudian ditimpali Albert.
“Ya ampun…mereka itu….masih saja membicarakan urusan bisnis” keluh Candy.
“Benar…masa dari tadi, sejak kita meninggalkannya di ruang pertemuan, lalu sekarang dalam perjalanan pulang ke pondok pun belum selesai juga” timpal Maya.
Kedua gadis itu saling berpandangan, kemudian dengan kompak sebuah senyuman jahil muncul di bibir mereka.
Keduannya menganggukkan kepalanya, kemudian…..
“Masumiii…………….Albert…………….” panggil Maya dan Candy berbarengan sehingga membuat kedua pria itu menghentikan pembicaraannya dan menoleh.
“A..p---“
‘Bruk…..’
Dua bola salju melayang mengenai wajah mereka.
“Yes..berhasil…..” teriak Candy.
“Lemparan yang jitu, Candy” ucap Maya.
“Kamu juga…tepat sasaran. Kita memang hebat” sahut Candy.
Kedua gadis itu berhigh five kemudian tertawa kegirangan.
Masumi dan Albert, membersihkan salju di wajah mereka masing-masing kemudian mereka bertatapan dan menatap Maya dan Candy yang masih tertawa-tawa.
“Kaliaaaaan………..”
“Ups….” Kata Candy menghentikan tanyanya dan menatap Maya.
“Lariii……..” teriak keduanya kompak dan berlari menjauhi Masumi dan Albert, yang segera mengejar mereka.
Dan sepanjang sore itu……mereka menghabiskan waktu dengan berkejar-kejaran dan saling melempar bola salju sambil tertawa-tawa riang.
@@@@@
Malam harinya di pondok Masumi…..
“Maya..kamu sepertinya cocok dengan Candy?” tanya Masumi sambil merangkul Maya.
Maya mengangguk.
“Candy…gadis yang menyenangkan dan lucu“kata Maya
“Dan juga memiliki sifat yang sama denganmu…” sambung Masumi.
“Apa?”
“Tukang iseng….”
“Ah…tidak……kapan aku pernah mengisengimu, Masumi? Tidak pernah. Aku ini gadis baik hati yang tidak pernah mempermainkan orang. Tidak seperti kamu---“ucap Maya.
“Aku? aku memangnya kenapa?” tanya Masumi sambil menatap Maya.
“Kamu kan yang biasanya mempermain----“
Cup….
Dengan cepat, Masumi mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Maya.
“Tuh kan…orang lagi bicara saja. Selalu kamu gang---“
Cup…
Sekali lagi, Masumi mengecup ringan bibir Maya.
“Masumii…..”
“Apa?” tanya Masumi dengan tatapan tidak bersalah.
“Ah, kamu tuh tidak bisa diam….” Keluh Maya sambil mendorong tubuh Masumi “Lebih baik aku pergi, tidak dekat-dekat denganmu. Aku kembali ke pondokku saja ya. Besok aku mau belajar memanjat pohon dengan Candy” lanjutnya sambil berdiri.
Tapi dengan sigap, Masumi kembali menarik tangan Maya dan dan membuatnya terduduk dan merangkulnya kembali.
“aaw….Masumiiii…….”
“Kamu tadi mengatakan apa, Maya? Memanjat pohon?”tanya Masumi sambil menatap Maya tidak percaya,
“Iya” angguk Maya “Sepertinya menyenangkan kalau bisa memanjat pohon seperti Candy”
“Can..candy memanjat----“
“Benar, Masumi. Dia itu sangat pandai memanjat” sahut Maya “jadi aku mau belajar dari----“
“Tidak boleh” seru Masumi cepat.
“Eh?”
“Aku tidak mengijinkanmu melakukannya. Yang benar saja, Maya. Masa seorang gadis memanjat pohon”
“Tapi sepertinya seru, Masumi” sahut Maya sambil terkikik.
“Lalu…lalu bagaimana kalau kamu jatuh? Pokoknya kamu tidak boleh melakukannya”tegas Masumi.
“Kalau jatuh?” tanya Maya “Kalau jatuh kan ke bawah, Masumi, masa ke atas” lanjutnya sambil tertawa.
Masumi menatap kesal Maya.
“Kamu itu…..di ajak bicara serius. Malah becanda”ucap masumi sambil melepaskan rangkulan “Tidak mengerti apa kalau aku sangat mengkhawatirkanmu”
“Ah, Masumi…tidak perlu khawatir….Aku akan baik-baik saja”
“Aku tetap melarangnya” sahut Masumi.
“Boleh ya…sekali saja…aku ingin mencoba---“
“Tidak….” Tegas Masumi.
“Masumiii…..”
Masumi diam dan mengacuhkan Maya.
“Masumi…..” panggil Maya lagi sambil menatap Masumi,Tapi Masumi memalingkan wajahnya.
“Masumi, kamu benar-benar marah ya?” tanya Maya akhirnya.
Masumi tetap diam dan tidak menjawab.
“Masumi, tidak usah marah seperti itu. Kalau tidak boleh ya sudah. Aku tidak akan melakukannya” kata Maya “Lagipula……lagipula tadi aku hanya becanda koq. Siapa juga yang mau memanjat pohon……..”
Masumi masih tetap saja diam.
“Masumi…jangan marah lagi….maaf ya…maaf…….” Ucap Maya sambil mengecup pipi Masumi sehingga membuat Masumi menoleh dan menatapnya.
“Kamu itu----“
“Masumii……maaf……aku kan sudah mengatakan kalau aku hanya becanda…..masa kamu marah terus sih” kata Maya sambil menatap Masumi.
“Oh..jadi kamu mempermainkan aku?sengaja membuat aku khawatir”
“Tidak…..” sahut Maya cepat “Aku tidak memperma----aaawww….” Seru Maya yang tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba Masumi mendorong tubuhnya sehingga terbaring di sofa.
“A..apa? kamu mau apa?”
“Kamu tahu kan hukuman apa yang akan aku berikan kalau kamu berani---“
“Tapi…Masumii…aku kan tidak mem----hhhmmmf..”
Maya kembali tidak mampu menyelesaikan kalimatnya karena Masumi terus menghujaninya dengan ciuman. Maya hanya bisa membalas ciuman Masumi.
Dan mereka pun berciuman dengan lamaa……sampai keduanya kehabisan napas.
“Ma..masumiii…..” ucap Maya ketika Masumi memisahkan bibir mereka dan menatap Maya “A…aku pulang ke pondokku ya…..sudah malam…nanti---“ lanjut Maya sambil mencoba mendorong tubuh Masumi, tapi Masumi tidak bergeming.
“Tidak..” geleng Masumi.
“Eh?”
“Malam ini, kamu tidak perlu kembali ke pondokmu” lanjutnya.
“Eh..ta..tapi nanti teman-temanku----“
“Teman-temanmu pasti tahu kamu berada di mana kalau kamu tidak pulang” sahut Masumi enteng.
“Masumiiii……”
Masumi mengecup bibir Maya ringan kemudian ia bangun dan membopong tubuh Maya.
“A..aku mau dibawa ke mana?”tanya Maya.
“Ke kamarku” sahut Masumi pendek sambil tersenyum.
Aaa…ma..mau apa ke kamarmu?” tanya Maya lagi.
“Menurutmu……apa yang akan aku lakukan, Maya?” kata Masumi balik bertanya sambil menatap maya dan terus melangkah ke kamarnya.
Maya hanya bisa diam dan wajahnya tiba-tiba saja memerah dan terasa panas. Tentu saja, ia tahu apa yang akan dilakukan Masumi di dalam di sana………..
@@@@@
Sementara itu di pondok lain…..
Candy dan Albert sedang duduk di sofa, di depan perapian.
Candy menyandarkan kepalanya ke dada Albert dan Albert memeluknya.
“Apa kamu senang berada di sini, Candy?” tanya Albert.
“Hmm…iya. Di sini menyenangkan “ jawab Candy “Tadi aku berkenalan dengan teman-temannya maya. Mereka itu pemain sandiwara, sama seperti Ter—“ ucap Candy sambil segera menutup mulutnya, hampir saja ia kelepasan mengucap kata Terry dan ia merasa takut Albert marah karena masih menyebut nama itu.
“Oh..jadi mereka pemain sandiwara seperti Terry” ucap Albert dengan nada biasa saja sambil mengangguk kepalanya.
Candy mengangkat kepalanya dan menatap Albert.
“Kamu…kamu tidak marah?” tanya Candy.
“Marah? Mengapa aku harus marah?” tanya Albert bingung.
“Karena…aku menyebut nama---“
“Nama Terry?” tanya Albert sambil tersenyum “Candy…candy, mengapa aku harus marah? Aku tahu siapa Terry dan apa hubungan kalian dulu. Jadi…mengapa aku harus marah?”
“Albert….”
“Dia adalah bagian dari masa lalumu, juga pernah menjadi pria yang kamu cintai. Dan mungkin sekarang juga masih---“
“Tidak” seru Candy “Sekarang pria yang aku cintai…..adalah Albert”
“Aku tahu…..tapi tetap saja tidak mudah melupakan kenanganmu bersama Terry. Dan aku mengerti itu….” Sahut Albert.
“Albert…..”
Albert tersenyum dan mengeratkan pelukannya.
“Hmm…lalu…..apa yang kamu lakukan dengan Maya dan teman-temannya tadi?” tanya Albert mengalihkan pembicaraaan.
“Oh, aku menunjukkan keahlianku pada mereka” sahut Candy.
“Ke..ah..li..an..mu?” tanya Albert sambil mengerutkan keningnya “Keahlian apa?”
“Keahlian memanjat pohon” jawab Candy “Mereka sampai terbengong-bengong melihat kecekatanku memanjat, Albert” lanjutnya sambil tertawa.
“Hahaha…mereka pasti bertanya-tanya….jangan-jangan kamu sebenarnya keturunan mon---“
“Albert…mulai lagi…..” kata Candy cepat “Menyebalkan….Albert menyebalkan. Selalu mengataiku”lanjutnya sambil memukuli dada Albert.
“Candy, aku sudah pernah mengatakan padamu….” Ucap Albert sambil memegangi tangan Candy “Anak gadis tidak boleh kasar. Dan apa kamu tidak kasihan kalau tubuhku ini penuh memar kalau kamu pukuli terus?”
“Habisnya……Albert sih….”
“Aku apa?”tanya Albert sambil menatap Candy.
“Albert---“
“Apa?”ulang Albert sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Candy dan perlahan mencium bibir Candy dengan lembut.
Candy pun hanya bisa menutup matanya dan membalas ciuman Albert. Dan sepanjang malam itu, mereka terus berciuman.
@@@@@
Hari terakhir di penghujung tahun diawali dengan pagi yang cerah. Maya, Masumi, Candy dan Albert berjalan-jalan menyusuri area peristirahatan.
Duk…duk…duk….
“Eh suara apa itu?” tanya Candy.
“Oh itu suara orang yang sedang menumbuk ketan untuk dijadikan mochi” sahut Masumi.
“Mochi?”
“Benar. Setiap akhir tahun, di sini memang ada tradisi membuat mochi untuk dibagikan pada tamu” jelas Masumi lagi.
“Oh…boleh kami melihat pembuatannya?” tanya Candy yang penasaran.
“Tentu saja” sahut Masumi, sambil membawa tamunya menuju tempat orang-orang yang sedang membuat mochi.
Dengan antusias Candy dan Albert juga Maya menyaksikan orang-orang yang membuat mochi secara tradisional itu. Seorang pekerja sibuk menumbuk ketan yang ada dalam lesung dengan menggunakan alu dan yang lain membalikkan ketan yang telah ditumbuk itu dengan tangan yang basah. Mereka terus melakukan pekerjaan tersebut sampai ketan itu lengket dan menjadi bulatan besar.
“Boleh aku mencobanya?” tanya Candy pada salah seorang pekerja.
“Eh…silahkan” sahut pekerja itu kemudian memberikan alu pada Candy. Candy menumbuk-numbuk ketan tersebut.
“Nanti dulu, nona. Ini harus dibalik dulu ketannya” seru pekerja itu sambil membalikkan ketan yang ada di dalam lesung tersebut “Nah sekarang silahkan ditumbuk lagi”
Setelah beberapa kali mencoba, Candy menyerahkan kembali alu tersebut pada pekerja itu.
“Ah ternyata pegal juga menumbuk-numbuk ketan seperti itu” ucapnya “Aku menunggu mochinya yang sudah jadi saja” lanjutnya.
“Memang paling enak yang sudah jadi, Candy” celetuk Maya sambil tertawa “Tinggal am….”
“Benar katamu, Maya” sahut Candy membenarkan “Dan harusnya kalian---“ lanjut Candy sambil menunjuk ke Masumi dan Albert “Yang menumbuk-numbuk---”
“Eh mengapa kami?”
“Supaya tangan kalian berotot. Lumayan tuh menumbuk ketan terus…hitung-hitung olah raga” jawab Candy enteng sambil tertawa.
“Ha..tidak mau…..” sahut Masumi dan Albert bersamaan.
“Huh…dasar pria-pria pemalas” ucap Candy.
“Bukannya pemalas. Tapi itu kan memang bukan pekerjaan kami, Kami tidak mau mengambil alih pekerjaan mereka, Kasihan kan mereka---“ sahut Albert.
“Ah alasan…..bilang saja tidak bisa”
“Bukan tidak bisa—“ kata Masumi “Tapi kami lebih suka memakannya saja daripada disuruh buat” lanjutnya sambil tertawa.
Memangnya siapa yang menolak bisa disuruh memakannya? Aku juga mauu…..” seru Candy.
“Silahkan mencobanya, nona” ucap pekerja yang tiba-tiba datang dan membawa sepiring mochi.
“Ah…terima kasih” ucap Candy senang dan mengambilnya satu, diikuti Maya, Masumi dan Albert.
Setelah puas mencicipi mochi, mereka berempat pun meninggalkan tempat itu dan kembali berjalan-jalan.
@@@@@
Malam harinya, Maya, Masumi, Albert dan Candy bergabung dengan tamu yang lain berkumpul di gedung seba guna untuk merayakan pergantian tahun.
Acara kembali di mulai dengan pertunjukan sandiwara yang dimainkan oleh Maya dan teman-temannya. Setelah itu, mereka berkumpul untuk makan malam bersama dan dihibur oleh penyanyi-penyanyi yang sengaja diundang oleh panitia tempat peristirahatan itu untuk memeriahkan malam pergantian tahun.
“Apa ini?” tanya Candy ketika melihat makanan yang tersaji di atas meja saat menjelang tengah malam.
“Oh itu soba” jawab Maya “toshikoshi soba. Setiap malam tahun baru, kami memakannya”
“Mengapa?” tanya Albert.
“Hmm..karena kami percaya kalau kami memakannya, maka di tahun yang baru, kami akan memiliki kesehatan yang baik dan panjang umur”jawab Maya.
“Ah..kalau begitu aku akan memakannya” ucap Candy “agar aku tetap sehat dan berumur panjang” lanjutnya sambil mengambil sebuah mangkuk yang berisi soba tersebut dan mencicipinya.
“Hmm..enak” ucapnya “Ayo..Albert….cobalah. Enak lho…..”lanjutnya sambil membagikan mangkuk yang lain pada Albert, Maya dan Masumi.
Mereka pun kemudian memakan sobanya masing-masing.
Seusai makan soba, Maya, Masumi, Candy dan Masumi juga tamu-yamu yang lain berkumpul di depan gedung serba guna dan mulai menghitung mundur waktu.
5……4…….3…..2…….1…………
Duar…….
Dan langit malam itu dipenuhi oleh nyala kembang api yang beraneka warna.
@@@@@
Hari pertama di tahun yang baru…..
Maya sedang mengajari Candy bermain hanetsuki ketika dilihatnya Masumi keluar dari pondok peristirahatan.
“Masumi….”panggil Maya “ayo kita bermain ini” lanjutnya sambil menunjukkan hogoita dan kok-nya.
“Tidak mau” geleng Masumi “Kalian saja yang main. Aku menonton saja”.
“Ayolah Masumi….” Ucap Maya sambil menyodorkan hogoitanya “Kamu melawan Albert”
“Eh..aku juga main? Aku tidak bisa” sahut Albert.
“Iya..ayo…kita main” ajak Candy sambil menarik tangan Albert “Seru juga lho…”
“Ayo Masumi….tuh lawanmu sudah menunggu” ucap Maya sambil menarik tangan Masumi.
“Ah..tidak..aku tidak mau” ucap Masumi “Itu kan permainan anak perempuan—“
“Eh, permainan anak perempuan?” tanya Albert.
“Benar. Hanetsuki biasanya dimainkan oleh anak perempuan”jelas Masumi.
“Wah..kalau begitu aku menonton saja” ucap Albert kemudian “kalian saja yang main” lanjutnya yang langsung disetujui Masumi.
“Baiklah..baiklah kalian yang menonton…tapi----“ ucap Maya sambil tersenyum jahil.
“Tapi apa?”
“Tapi kalau ada salah satu dari kami yang kalah, kalian yang dicoreng wajahnya ya?”
“Eh dicoreng?” tanya Candy dan Albert bersamaan.
“Benar. Dalam permainan ini biasanya yang kalah, wajahnya di coreng. Jadi bagaimana---“ tanya Maya sambil melirik Candy lalu melirik ke Masumi dan Albert “Mereka yang dicoreng”
“Setuju….” Seru Candy dengan gembira.
“Tidak setuju” seru Albert dan Masumi “Kalian yang main, koq kami yang di coreng”protes Masumi.
“Ya tidak apa-apa” ucap Candy “Daripada kalian hanya duduk diam dan menonton saja”
“Kalau begitu…ayo kita mulai…..” kata Maya semangat “Kalian duduk manis di sana ya…dan menunggu……” lanjutnya “Awas kalau sampai kabur….”
Lalu Maya dan Candy bermain hanetsuki.
Plak…plok…plak….
“Aaa……..” teriak Maya ketika dia tidak dapat mengembalikan bola.
Maya pun mendekati Masumi dan mengambil kuas yang telah berlumur tinta hitam.
“Ah tidak mau…” seru Masumi.
“Eit..tidak boleh protes, Masumi……”ucap Maya sambil menyapukan kuas hitam itu ke kening Masumi “Nah selesai……maaf ya Masumi……” lanjutnya dengan wajah menyesal.
“Kamu…”
Maya hanya tersenyum kecil kemudian kembali bermain bersama Candy.
Tak lama Candy yang menghampiri Albert dan menyapukan kuas hitam, dan begitu seterusnya. Masumi dan Albert hanya bisa pasrah ‘merelakan’ wajahnya di coreng-moreng oleh kedua gadis itu.
Sampai….
“Cukup sudah” seru Masumi ketika Maya untuk kesekian kalinya mencoreng wajahnya yang sudah penuh dengan tinta hitam “Kamu tuh benar-benar---“
“Tapi permainannya kan belum selesai, Masumi” ucap Maya “Benar kan Candy?”
Candy mengangguk mengiyakan.
“Tapi kalian kan sudah melihat, kalau wajah kami sudah penuh tinta seperti ini. Kalian tuh benar-benar ---“ucap Masumi kesal.
“Iya..kalian sudahan saja. Wajah kami ini mau dibuat sehitam apa lagi?”tanya Albert.
“Tapi biarpun wajah kalian hitam. Kalian tetap tampan koq” sahut Candy “Benar kan Maya?”
“Benar. Jadi tidak apa-apa—‘
“Tidak….” Seru Masumi dan Albert serempak “Cukup sudah”
“Sekarang tugasmu membersihkan wajahku ini, Maya” ucap Masumi sambil menarik tangan Maya.
“Tugasmu juga Candy….” Timpal Albert.
“Tidak mau….” Seru Candy dan Maya “Kalian bersihkan saja sendiri”
“Harus mau..ini kan gara-gara kalian, wajah kami jadi---“
Maya dan Candy saling berpandangan.
“Hmm….baiklah..baiklah…akan kami bersihkan. Tapi lepaskan tanganku dulu dong Albert. Kalau kamu pegangi, bagaimana aku membersihkannya?” tanya Candy.
“Benar, Masumi. Lepaskan tanganku dulu” kata Maya.
Masumi dan Albert akhirnya melepaskan tangan kedua gadis itu.
Tapi begitu tangan mereka dilepaskan, Maya dan Candy menjauhi kedua pria itu.
“Kalian…masih tampan koq dengan wajah hitam seperti itu, jadi…..tidak perlu kami dibersihkan ” seru Candy dan Maya sambil berlari menjauh dan tertawa keras.
Masumi dan Albert saling berpandangan.
“Awas kalian…kalau tertangkap…..gadis-gadis nakal” seru mereka sambil mengejar kedua gadis itu.
@@@@@
Dan akhirnya liburan akhir tahun pun berakhir. Mereka semua kembali ke Tokyo.
Maya dan Masumi mengantar Albert dan Candy yang akan kembali ke Amerika, ke bandara Narita.
“Terima kasih telah mengantar kami” ucap Albert sambil menyalami Masumi “Dan aku menunggumu di New York untuk membahas masalah kerja sama kita” lanjutnya.
“Sampai berjumpa lagi, Maya” ucap Candy “Saat Masumi datang ke New York, kamu ikut juga ya. Kita bisa kembali bersenang-senang. Aku akan mengajakmu ke lakewoods dan bukit pony….nanti aku ajari memanjat—“bisiknya keras pada Maya.
“Eh?”
“Candyy…..”
“Hahaha..maaf…aku hanya becanda. Kita bisa main-main di sana. Dan aku akan mengenalkanmu dengan teman-temanku” lanjut Candy sambil tertawa.
“Hmm…baiklah. Aku menunggu undanganmu, Candy” sahut Maya “dan semoga saja, Masumi akan mengajakku”
“Oh..harus……Masumi harus mengajakmu” ucap Candy.
“Hmm..kita lihat saja nanti” sahut Masumi sambil tertawa “Tapi sepertinya kalau kalian bertemu, kami akan susah menghadapi kalian berdua”
“Masumii…..”
“Ah sudahlah…itu kalian sudah dipanggil” ucap Masumi ketika mendengar pengumuman bahwa sudah saatnya penumpang tujuan New York untuk masuk ke dalam pesawat.
“Ayo Candy. Kita pergi” ajak Albert “Sampai jumpa lagi di Amerika, Masumi….juga kamu Maya….” Lanjutnya sambil mendorong trolinya menuju pintu pemeriksaan tiket..
“Bye….maya…..bye..Masumi….” kata Candy sambil melambaikan tangannya dan berjalan mengikuti Albert.
“Sayonara….” Seru Maya sambil membalas lambaian Candy sampai Candy dan Albert sudah tidak terlihat lagi olehnya.
“Mereka sudah pergi” ucap Masumi “Jadi….sekarang kita juga bisa pergi?”tanyanya pada Maya.
Maya mengangguk dan mereka pun meninggalkan bandara.
The End

Btw candu dan albert selama dijepang bicaranya pake bhs apa yak jpg ato inggris?*pertanyaan ngga penting* . Ditunggu kelanjutannya MM berkunjung ke Amerika ketemu ama annie , archie neil dan jg lisa pasti seru...:D
BalasHapusBuahahhahahhhaha...... Aaneh2 wae da.. Lucu jugaaa liad tingkah masumi, mayaa mw manjat poon.. Qiqiqiqi... Muanteeppp... Ditunggu episopp berikutnyaaaaa...
BalasHapus