“Pak sopir, bisa lebih cepat?”tanyaku sambil melirik arloji.
“Maaf, nona” sahut sopir taksi itu “Tapi anda bisa melihatnya sendiri jalan sangat macet”
“Ta..tapi-------“ ucapku sambil kembali melirik arlojiku “Kalau begini, aku bisa terlambat…….”
Aku segera mngeluarkan dompetku dan mengeluarkan beberapa yen dan menyerahkannya pada sopir taksi.
“Aku turun saja di sini” ucapku sambil keluar dari taksi.
“Nona…kembaliannya?”
“Untuk anda saja, pak” sahutku sambil berlari.
Aku berlari dan terus berlari menuju gereja yang masih berada beberapa blok lagi dari sini.
Aku tidak boleh terlambat…tidak boleh……
Hari ini adalah hari pernikahan pak Masumi, mawar unguku dengan nona Shiori. Dan aku ingin melihatnya secara langsung pernikahan mereka dengan mata kepalaku sendiri, jadi aku berlari menuju gereja….
Aku tidak tahu, mengapa…..mengapa aku malah mendatangi gereja tempat pak Masumi menikah……
Aku tidak tahu….apakah aku sanggup melihat pernikahan itu…..
Tapi aku terus berlari mendekati gereja itu…aku tidak bisa menghentikan langkah kakiku……
Aku benar-benar ingin melihat pernikahan itu….sangat .ingin melihatnya…..
@@@@@
Akhirnya, dengan napas ngos-ngosan, aku sampai juga di depan gereja itu.
Halaman gereja itu telah penuh dengan deretan mobil mewah, milik tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan mereka.
Aku segera berjalan mendekati pintu gereja.
“Berhenti” ucap seorang petugas keamanan yang berjaga di depan pintu gereja ketika aku akan beranjak masuk.
“Ya?”
“Maaf, nona. Tolong anda menunjukkan kartu undangan anda terlebih dahulu” ucapnya.
“Kar…kartu undangan?” tanyaku
“Benar…kartu undangan” tegas petugas itu.
“A…aku tidak punya” ucapku.
“Kalau begitu, anda tidak dapat masuk, nona” kata petugas itu “silahkan anda pergi”
“Tolong, ijinkan aku masuk” kataku memohon pada petugas itu “Aku ingin melihat pernikahan mereka”
“Sekali lagi, maaf.nona. Bila anda tidak memiliki kartu undangan, anda tidak dapat masuk” ucap petugas itu dengan tegas.
“Ta..tapi…tapi…..”
“Silahkan anda pergi” usir petugas itu padaku.
Aku pun terpaksa pergi. Aku tahu percuma aku ngotot, petugas itu tidak akan mengijinkan aku masuk.
Akhirnya aku mengitari halaman gereja,. Dan tanpa sengaja mataku melihat pintu samping gereja yang tidak ada penjaganya.
Dengan cepat, aku mendekati pintu itu, mencoba membukanya.
Aku menarik napas lega, pintu itu tidak terkunci.
Aku menengok ke kiri dan ke kanan, tidak ada yang memperhatikan aku. Dengan cepat aku menyelip masuk ke dalam gereja.
Aku melihat ke sekelling ruangan gereja itu. Ruang gereja telah dihias dengan indah. Bunga mawar merah tersebar di mana-mana.
Aku kembali mengendap-ngendap, dan duduk di sebuah bangku kosong pada deretan paling belakang.
Tak lama kemudian….
“Para hadirin, dimohon tenang. Karena acara akan segera di mulai….”
Suara itu terdengar dari depan altar.
Lalu aku melihatnya…..
Di sana…di depan sana, pak Masumi…mawar unguku sedang berjalan menuju tengah altar, Lalu berdiri diam, menunggu.
Kemudian, aku melihat, tak jauh dari tempatku duduk. Nona Shiori yang tampak anggun dan cantik tengah bersiap untuk berjalan menuju altar didampingi oleh kakeknya.
Lagu pengiring pernikahanpun mulai terdengar….
Dengan langkah perlahan, nona Shiori berjalan mendekat……semakin mendekati pak Masumi…..
Aku merasa dadaku semakin sesak…..
Aku merasa air mataku akan menetes keluar…..
Tapi aku mencoba menahannya….
Langkah nona Shiori semakin dekat dengan pak Masumi…….
Sekarang…pak Masumi mengulurkan tangannya dan menyambut tangan nona Shiori…..
Kini..mereka berdua……bersama-sama menghadap ke arah pendeta, yang akan memberkati pernikahan mereka….
Lagu pengiring pengantin pun berhenti, digantikan oleh suara pendeta…..
“Bila ada saudara-saudara yang mengetahui bahwa pernikahan mereka tidak dapat dilakukan…..saudara-saudara dapat mengatakannya sekarang, atau tidak sama sekali….” Ucap pendeta itu sebelum memulai upacara pernikahan mereka.
Aku sangat….sangat ingin berteriak…kalau aku tidak setuju…..aku tidak rela pak Masumi, mawar unguku menikah dengan nona Shiori….Aku tidak rela…..walaupun aku harus mengakui bahwa mereka berdua adalah pasangan yang cocok…..tapi aku sungguh tidak rela……sangat tidak rela…..”
Tapi…aku tidak bisa mengatakannya. Aku menutup mulutku…..menggigit bibirku keras-keras agar ucapan itu tidak keluar dari mulut……aku benar-benar menahannya…..
“Karena tidak ada yang keberatan dengan pernikahan mereka. Maka, saya akan memulai acara pernikahan ini” ucap pendeta itu lagi.
Dengan mata berkaca-kaca, aku menatap punggung pak Masumi…..
“Masumi Hayami….” Ucap pendeta itu “Bersediakah anda menerima Shiori Takamiya menjadi istri anda, menemaninya dalam suka dan suka, dalam sedih dan senang sampai maut memisahkan kalian?”
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Air mata mulai menetes membasahi pipiku.
“Tidak…katakan tidak, pak Masumi….” Gumamku “Ku mohon katakan tidak”
“Aku---“ terdengar suara pak Masumi “berse----“
“TIDAAAK…….”.teriakku keras sambil berdiri.
Tanpa aku bisa mencegahnya, kata itu terlontar keluar dari mulutku.
Lalu…. aku melihat pak Masumi membalikkan badannya dan melihat ke arahku…..
Bukan..bukan hanya pak Masumi……tapi juga nona Shiori dan semua orang yang ada di sana, Mereka semua menatapku.
Dan aku merasa waktu seolah berhenti…..tidak ada yang bergerak…..tidak ada yang berbicara…..mereka semua hanya diam dan menatapku…….
@@@@@
(Lanjutan cerita ini dibuat oleh :Nisa Nurul Aziemi)
“Maya, apa yang kau lakukan di sini?” Mata Masumi membelalak terkejut. Hatinya tergetar melihat gadis mungilnya ada di gereja ini. Namun kakinya seolah tak sanggup bergerak.
Sementara semua mata memandang ke arah Maya, Shiori terkejut bukan kepalang. Kenapa dia selalu ada di dekat Masumiku? Jeritnya dalam hati. Marah, karena melihat Masumi yang begitu terpaku akan sosok mungil yang menyebalkan itu. Wanita cantik itu tidak rela kalau hari pernikahannya jadi berantakan karena dia.
"Tolong..." Kata Shiori tertahan, "siapa saja, tolong usir gadis tidak tahu diri itu! Tolong usir dia!" Jeritnya semakin keras.
"Apa kalian tidak dengar? Cepat usir gadis itu!" Jeritan Shiori semakin keras, histeris.
Dari balik tiang-tiang gereja, tiba-tiba keluar beberapa orang lelaki bertubuh tinggi besar, memakai setelan gelap, lengkap dengan kaca mata hitamnya. Entah bagaimana, kehadiran mereka yang tadinya tidak disadari, malah membuat keadaan dalam gereja itu semakin mencekam.
"Cepat usir gadis itu!" Perintah Shiori, di wajahnya terukir ekspresi marah, yang diyakini oleh siapapun di dalam gereja itu, baru kali ini terlihat.
"Nona Shiori..."
Entah bagaimana caranya, Shiori seolah mendengar suara Maya.
"Tidak Maya, semuanya harus berakhir di sini. Kau harus benar-benar menyingkir dari hadapanku, dan juga Masumiku."
Mata wanita itu menatap puas ke arah Maya yang sedang digiring paksa oleh beberapa pengawal keluarga Takamiya. Tanpa ampun mereka menarik keluar gadis itu. Bagaimana mungkin tubuh kecil itu sanggup melawan kekuatan tubuh perkasa para pengawal Shiori, jangankan seorang, ini sampai tiga orang.
Tidak ada seorangpun yang akan menolongmu Maya. Batin Shiori puas. Tidak akan ada yang bisa mengalahkanku. Meskipun kau terpilih Bidadari Merah, AKU SUNGGUH TIDAK PEDULI! Sudah saatnya kau sadar akan kedudukanmu. Tidak ada yang boleh mengalahkan Shiori Takamiya.
Tanpa disadari oleh Shiori, di wajahnya terpantul senyuman licik. Kembali beberapa tamu di gereja itu berbisik-bisik.
Namun, ketika Shiori mengalihkan pandangannya pada Masumi, pria itu sudah melangkahkan kakinya. Meninggalkan altar.
"Masumi?" Shiori berusaha meraihnya.
Tapi Masumi bergerak lebih cepat dari wanita itu, yang direpotkan oleh gaun dan kerudungnya. Sesuai keinginannya sendiri, gaun itu dibuat sedemikian rupa sehingga dia bisa terlihat seperti putri-putri di dalam buku cerita anak. Begitu megah, begitu cantik.
Namun gaun itu malah membuatnya sulit bergerak.
"Masumi! Berhenti!" Shiori mulai panik. "Masumiii~ jangan pergii!"
Beberapa orang mulai bangkit dan membantu Shiori yang terjatuh dalam usahanya meraih Masumi.
"Masumi! Kalau kau berani melangkah lagi, aku sungguh tidak akan mengampunimu!" Ancam Tenno Takamiya.
Mendengar itu langkah Masumi terhenti.
"Benar, Masumi. Kalau kau berani melangkahkan kakimu keluar dari sini, aku sungguh tidak akan ragu-ragu akan menghancurkanmu. Kau camkan itu!" Kembali lelaki tua itu berkata.
“Kakek…” kata Shiori lemah. Namun hatinya bahagia akan perlindungan kakeknya tersayang.
Perlahan Masumi membalikkan tubuhnya lalu menatap tajam pada lelaki tua itu. Dadanya naik turun. Lalu dia memandang ke arah ayah angkatnya, yang terus memperhatikan semuanya tanpa berkata apapun. Namun dari raut wajahnya yang merah, Masumi tahu kalau ayahnya itu marah besar kepadanya.
Masumi sudah muak akan semuanya. Dan dia sungguh ingin membunuh orang-orang yang berani menyentuhkan tangan-tangan kotornya pada Maya. Kalau sampai gadis itu terluka, dia tidak akan memaafkan mereka, Shiori, kakeknya, terlebih ayahnya.
Tiba-tiba lelaki tua itu berkata, "apa kau sadar apa yang telah kau lakukan? Kau telah mempermalukan aku! Mempermalukan Hayami! Mempermalukan Daito! Kau sungguh tidak tahu terima kasih Masumi! Kau harus sadar akan kedudukanmu Masumi! Kau itu sudah kupilih untuk jadi penerus Hayami, maka kau harus menurutiku!" Eisuke murka, tangannya mencengkeram kursi rodanya begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
"Bukankah sudah kubilang, kau HARUS menikahi Shiori?" Lanjut Eisuke. "Sadarkah kau apa yang bisa diperoleh Daito? Oleh kau? Dunia berada dalam genggaman tanganmu!"
"Ayahmu benar, Masumi." Tenno Takamiya tiba-tiba menyahut. "Bukankah sudah kukatakan waktu itu, kalau aku akan menyerahkan semua hartaku kepadamu. Semua kekuasaanku bisa kau genggam dengan begitu saja Masumi! Apa itu masih kurang?"
Tanpa ragu Masumi menjawab, "ya! Ya, masih sangat kurang. Karena aku tidak memiliki cinta gadis itu!"
“Jangan bercanda, Masumi!” bentak Eisuke. “Cinta?! Bukankah sudah kukatakan berkali-kali jangan pernah terbawa perasaanmu! Kau benar-benar tidak becus!”
“Apakah karena itu kau menjalani hidupmu dengan begitu menyedihkan, Ayah? Menyakiti ibu Tsukikage, menghancurkan segala yang dimilikinya, alih-alih melindunginya?”
“Kau! Kurang ajar, kau!”
“Ya, Ayah. Aku memang kurang ajar. Tidak mendengarkan perintahmu. Tidak punya pendirian. Tapi semuanya sudah berakhir, Ayah. Aku tidak peduli lagi.” Masumi berkata seperti itu seraya membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi.
“Masumi!” kembali Tenno Takamiya mengeluarkan suaranya, “jangan kau lupa, kalau ancamanku masih berlaku. Aku akan menghancurkanmu.” Lelaki tua itu benar-benar murka.
Langkah Masumi kembali terhenti, kembali membalikkan tubuhnya ke Tenno Takamiya yang berdiri di samping Shiori. Tangannya terkepal, wajahnya luar biasa memerah, menandakan kemarahannya yang sudah bukan kepalang.
Anak bau kencur ini sudah berani-beraninya mempermalukanku, keluargaku. Jangan harap kau bisa bebas begitu saja!
Ekspresi wajahnya menyiratkan seperti itu. Namun Masumi tidak gentar. Teriakan Maya tadi, bagaikan siraman air es ke sekujur tubuhnya, menyadarkannya akan seluruh kekacauan yang telah dibuatnya.
“Anda berani melakukan itu?” Tanya Masumi tenang.
“Kurang ajar, kau!”
“Tuan Tenno Takamiya yang terhormat, jangan kira aku tidak mengetahui keadaan perusahaanmu sebenarnya.”
Wajah Tenno Takamiya yang tadinya merah padam serta merta memucat. Matanya membulat kaget. Dia sungguh tidak menyangka Masumi bisa tahu keadaan yang sebenarnya.
“Apa kau yakin kalau aku membeberkan semuanya di sini, dan memberikan tontonan yang tidak sepatutnya pada para undangan di sini?” pancing Masumi.
Tenno Takamiya sungguh tidak sanggup berkata apa-apa.
“Kakek… benarkah itu? Benarkah apa yang dikatakannya?” Tanya Shiori lemah.
Pandangan Tenno Takamiya beralih ke Shiori. Matanya memandang cucu kesayangannya itu dengan nanar. Terbersit dalam ingatannya saat Shiori lahir. Tidak pernah satu haripun dia kecewa kalau kenyataan cucunya itu perempuan. Bila memungkinkan, memindahkan gunungpun akan dia lakukan demi kebahagiaan cucunya itu.
“Shiori…” hanya itu saja yang lelaki tua itu sanggup katakan.
“Tidak… tidak mungkin…” Shiori menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “TIDAAK!”
Pada saat itu, keadaan di dalam gereja sudah mulai gaduh. Masumi yang menyadari itu, akhirnya berkata, “lebih baik kita akhiri saja di sini. Sebelum semuanya semakin memalukan lebih dari ini.” nada suaranya tegas, dingin, aura pembunuhnya kembali keluar. Membuat para tamu di dalam gereja menjadi ciut, tidak berani bergosip.
“Aku akui, kalau aku ini memang bodoh. Tidak berani berkata tidak, hanya menerima semuanya, dan… akhirnya malah seperti ini.” Masumi mengalihkan pandangannya ke arah Shiori, “aku sudah mengikuti segala permintaanmu, Shiori. Bahkan terus menemanimu, membantumu keluar dari depresimu. Tapi kau tetap keras kepala, tidak mau mendengar perkataan orang lain. Yang lebih memalukan lagi kau tidak mau berusaha untuk menjadi dewasa, dan menghadapi semuanya seperti wanita yang berani. Jadi maaf kalau aku sekarang berkata jujur; kau itu tidak lebih dari gadis kecil, yang tidak rela mainan kesayangannya direbut oleh orang lain. Sudah saatnya kau benar-benar menghadapi kenyataan. Dan biarkan aku meraih kebahagiaanku sendiri!”
“Lalu… bagaimana… dengan kebahagiaanku?” Tanya Shiori lemah, airmata bercucuran di pipinya.
“Frankly my dear, I don’t give a damn.” Masumi mengutip perkataan tokoh utama dalam Gone with the Wind, ekspresi wajahnya dingin.
Seolah tidak sanggup menahan terpaan emosi lebih jauh lagi, Shiori jatuh pingsan. Kembali seisi gereja itu kembali gaduh.
“Aahh… Nona Shiori…”
“Cepat panggil dokter!”
“Segera bawa dia pergi dari sini…”
Melihat itu, Masumi sungguh tidak peduli lagi. Dia hanya ingin segera pergi dari gereja itu. Pergi menemui gadis mungilnya. Namun sebelum dia pergi, dia memandang ke arah ayah angkatnya.
“Oh ya Ayah. Kau boleh mencoret namaku sebagai ahli warismu, atau memecatku sebagai anakmu, mengusir aku dari Daito. Terserah. Kau boleh melakukan apapun, aku sama sekali tidak peduli. Tapi ingat Ayah, Bidadari Merah sudah jadi milikku. Kalau kau berani mengambilnya, atau mengusik Maya Kitajima sedikitpun, jangan harap aku tidak akan menghancurkanmu. Atau siapapun yang berani menghalangiku!” kata Masumi dingin.
Eisuke masih terus memandang Masumi dingin.
“Benar Ayah. Kau tahu kalau aku pasti bisa melakukannya. Kau yang mengajari aku semuanya. Bahkan lebih.”
Eisuke tahu Masumi tidak main-main. Dan apa yang anak angkatnya itu katakan memang benar. Masumi sanggup melakukan itu semua. Eisuke selama ini lengah. Tidak, sebenarnya dia tahu kalau diam-diam Masumi bergerak di belakang punggungnya, berusaha menghancurkannya lewat Bidadari Merah. Namun Eisuke terus menyangkal semua itu, tidak mau mempercayai kalau Masumi berani mengkhianatinya. Inilah akibatnya bila memelihara singa sejak kecil, seberapapun kau pikir kau sudah menjinakkannya, singa itu tetap liar, menakutkan. Tidak akan ragu untuk menerkam dan membunuhmu suatu saat. Dan itulah yang terjadi pada Eisuke, sang jenderal Daito Entertainment. Harus terpaksa menerima kekalahannya di tangan anak angkatnya sendiri.
Namun terkutuklah dia bila dia mengakuinya dengan lantang.
Melihat Eisuke yang hanya diam saja, Masumi kembali tersenyum dingin. Dia tahu kalau ayah angkatnya itu mengerti semua maksudnya. Masumi menganggukkan kepala ke arah Eisuke, seraya membalikkan tubuhnya. Melangkah keluar dari gereja itu. Dan tidak ada satu orang pun yang berani menghentikannya.
BLAAMM
Udara segar menyambut Masumi di luar gereja. Angin semilir bertiup, seolah menyambut lelaki yang terlihat semakin tampan dengan tuxedo hitam yang dikenakannya saat itu. Belum lagi perasaan ringan yang memenuhi hatinya, dan perasaan itu terpancar di wajahnya, semakin membuatnya terlihat tampan.
Masumi sungguh tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, saat ini yang perlu dilakukannya adalah mencari gadis mungil tersayangnya, meminta maaf padanya, mengatakan padanya betapa Masumi mencintainya, lalu meyakinnya untuk menjadi miliknya.
“Anda butuh tumpangan, Tuan?” seorang wanita berambut panjang, memakai gaun berwarna biru gelap yang pas di tubuhnya, semakin menunjukkan keanggunannya. Dan khusus untuk hari ini, dia melepas kacamata yang sudah menjadi trademark-nya dan memakai lensa kontak.
“Mizuki?” Masumi luar biasa terkejut. Penampilan sekretarisnya itu benar-benar bikin pangling. Masumi terus melotot memperhatikan Mizuki.
“Hahaha… jangan bikin aku ge-er, Pak Masumi. Bisa-bisa kita yang digosipkan oleh orang banyak.”
Masumi terkekeh, “ya lebih baik jangan membuat keadaan lebih kacau dari ini. Kau benar Mizuki, tampaknya aku memang butuh tumpangan.”
“Baik, Pak. Ke arah sini.” Lalu keduanya berjalan ke tempat mobil Mizuki diparkir.
Setelah keduanya sampai di tempat mobil Mizuki parkir, wanita itu berkata, “aku melihat saat mereka menarik Maya keluar dari gereja. Lalu mereka melemparkannya tepat di depan pintu.”
Mendengar itu Masumi mengepalkan tangannya. Gerakan kecil itu tidak luput dari pandangan Mizuki, diam-diam wanita cantik itu tersenyum.
“Aku mendekatinya lalu menawarkan untuk mengantarnya pergi ke manapun yang dia mau. Tapi dia menolak. Dia bilang dia ingin sendirian. Lalu berjalan ke arah sana.” Tangannya menunjuk suatu arah. “keadaannya sungguh menyedihkan, Pak Masumi. tidak berhenti menangis. Aku sungguh khawatir. Lalu aku meminta salah seorang supir kantor untuk diam-diam mengikutinya. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu.”
Masumi tersenyum pada Mizuki, berterima kasih.
“Yah, Anda tahu kan bagaimana Maya. Apa lagi dia sudah terpilih sebagai Bidadari Merah. Urusannya bisa panjang.” Mizuki mengedikkan pundaknya, seolah yang dia lakukan itu bukanlah hal besar. “Dan, setelah Maya berjalan tidak jelas arah, akhirnya dia malah sampai ke suatu taman. Maya masih ada di sana. Dan supir itu juga masih terus menjaganya di sana.”
“Bagaimana dengan para wartawan? Apa ada yang memergokinya?” Tanya Masumi khawatir.
“Anda tidak perlu khawatir. Rupanya penjagaan yang sudah disiapkan oleh Klan Takamiya tidak main-main. Tidak ada wartawan dalam radius 1 km. Supir yang kutugaskan mengikuti Maya sudah meyakinkan kalau tidak ada siapapun yang mengikutinya. Sampai saat terakhir dia melapor pada saya, Maya masih berada di posisi yang sama. Duduk termenung di bangku itu. Sendirian.”
Masumi mengangguk. Saat dia hendak membuka pintu, Mizuki memanggilnya.
“Pak Masumi…” katanya sambil mengeluarkan kunci mobil, “saya pikir, lebih baik Anda yang pergi sendiri menemui gadis itu.” Seraya menyerahkan kunci tersebut pada Masumi. “Nanti aku akan meminta supir itu untuk menjelaskan arahnya lewat email, dan aku akan meneruskannya pada Bapak.”
Masumi menerima kunci mobil itu. Lalu masuk ke dalam mobil. Dia berpikir mungkin memang sudah saatnya sekretarisnya itu menerima bonus ekstra.
“Pak, silahkan pakai mobil saya kemanapun Bapak ingin pergi. Jangan pikirkan apa-apa, di sini biar saya yang membereskan semuanya.”
Untuk beberapa saat gerakan Masumi terhenti. Mungkin sekretaris kesayangannya itu tidak menyadari betapa besar arti bantuannya itu. Masumi menghela napas, dan mengalihkan pandangannya ke arah Mizuki, “terima kasih Mizuki, untuk semuanya.” kata Masumi, hikmat.
Tanpa sadar Mizuki terharu mendengar betapa lembut ucapan bosnya itu. Untuk mengalihkan perhatiannya Mizuki buru-buru berkata, “oh, jangan khawatir. Aku akan meminta jatah lemburku hari ini. Juga ongkos taksi nanti saat aku pulang nanti. Plus, Anda harus menaikkan gajiku jadi dua kali lipat!”
Masumi berkedip, “itu pemerasan namanya!” sungutnya.
“Memang!”
Keduanya malah tertawa.
Tidak lama kemudian Masumi menyalakan mesin mobil, memasukkan kopling, dan melambaikan tangannya pada Mizuki, “sampai nanti, ya.” lalu menginjak pedal gas, mulai menjalankan mobilnya meninggalkan area parkir gereja itu.
Mata Mizuki mengikuti lampu mobil bagian belakangnya, batinnya berkata, semoga berhasil, Pak Masumi. Kalian berdua sangat membutuhkannya.
@@@@@
(Lanjutan cerita ini dibuat oleh :Mia Hayämi)
Maya masih duduk di bangku taman masih memasang wajah sedih tidak jarang air matanya keluar.
‘’Masumi, apakah kau sudah menikah dengannya sekarang?’’. Maya menghela nafas kemudian menunduk sedih lagi.
Tanpa disadari Maya, Masumi sudah berada di belakangnya, tersenyum.
‘’Aaaaawww.....’’teriak Maya.
Masumi menyentuhkan sekaleng minuman dingin di wajah Maya.’’Pak Masumiiii...’’serunya terkejut.
Maya mengucek-ngucek matanya masih tidak percaya dengan adanya Masumi disini.’’Apa..apa yang Anda lakukan disini, bukankah Anda sekarang sedang menikah dengan nona Shiori’’suaranya sedikit dipelankan.
Masumi duduk disamping Maya.’’Ini minuman untukmu’’.
‘’Jus Jeruk’’komentarnya.
‘’Aku tidak mungkin memberikanmu bir dan membiarkanmu mabuk kalau itu sampai terjadi bisa gawat’’.
‘’Huh....’’. Maya mengerucutkan bibirnya dan Masumi hanya tersenyum sambil meneguk birnya.
‘’Anda belum menjawab pertanyaanku tadi pak Masumi?’’
‘’Aku tidak jadi menikah dengannya. Aku sudah membatalkan pernikahanku dengan Shiori’’. Mata Maya membulat.’’Eeh...’’.
‘’Aku tidak mungkin meneruskan pernikahanku dengan Shiori setelah kau berteriak di dalam gereja tadi. Kau menyelamatkanku dari pernikahan yang tidak aku inginkan. Bukankah itu yang kau inginkan mungil?’’
‘’A...apa maksud Anda?’’tanya Maya gelagapan.Masumi mendekatkan wajahnya pada Maya dan menatapnya tajam. Maya menahan nafasnya dan jantungnya seakan akan melompat keluar, sebelumnya dia tidak pernah sedekat ini dengan Masumi.
’’Kau mencintaikukan mungil?’’
‘’Kenapa Anda mengira seperti itu?’’
‘’Bukannya tadi kau berteriak TIDAAAAAAAKKKK disaat upacara pernikahanku, itu artinya kau tidak ingin aku menikah dengan Shiori. Ayo mengaku saja, tidak perlu malu-malu’’.Masumi menyenggol badan Maya berkali-kali.’’Kau mencintaiku kan?’’
‘’Itu...itu....sebaiknya aku pergi saja’’. Maya bangkit dari kursinya.’’Hey kau mau pergi kemana mungil, jangan pergi begitu saja. Aku belum selesai bicara denganmu’’.
‘’Apa yang Anda inginkan dariku?’’
‘’Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu tadi di gereja’’.
‘’Memangnya aku harus mempertanggung jawabkan apa?’’tanyanya keheranan.
‘’Karena kau sudah membuatku batal menikah dengan Shiori, jadi kau sekarang harus menjadi kekasihku mungil dan selalu berada disisiku’’.
Maya berdiri mematung, terkejut.’’Kekasih?’’
‘’Iya, apa kau tidak mau aku jadi kekasihmu ? Kalau tidak mau aku akan kembali menikah dengan Shiori. Sekarang pilih mana menjadi kekasihku atau aku menikah dengan Shiori? Ayo jawab , aku hitung sampai tiga. Satu...dua...tiga...’’.
Maya masih diam tidak menjawab.
’’Jadi kau tidak mau jadi kekasihku? Baiklah , sebaiknya aku pergi dan meminta maaf pada Shiori atas perbuatanku tadi karena meninggalkan dia altar’’.
Masumi berjalan menjauh, Maya masih berdiri di tempatnya. Suara alarm mobil terdengar keras.
Grep!!!
Maya berlari dan memeluk Masumi dari belakang. Masumi tersenyum senang dan hatinya bersorak gembira. Taktiknya berhasil.
‘’Jangan pergi...Jangan menemui nona Shiori’’.
‘’Apa itu artinya kau ingin menjadi kekasihku mungil?’’
Maya mengangguk pelan dan Masumi menghela nafas lega kemudian membalikkan dirinya.’’Terima kasih’’.
Cuuuuppp!!!
Tanpa aba-aba Masumi langsung menciumnya. ‘’Sebaiknya kau pulang sekarang kekasihku, aku akan mengantarkanmu ‘’.
Maya hanya mengangguk dan masuk kedalam mobil.Di dalam mobil Maya tidak berani menatap Masumi, dia masih belum percaya kalau pria yang ada disampingnya sekarang sudah menjadi kekasihnya.’’Aku kekasih Masumi Hayami’’ujarnya dalam hati.
Seketika wajahnya merona merah.
Masumi hanya tersenyum geli melihat Maya yang duduk gelisah di sampingnya. Kehangatan menjalar ke tubuh Maya ketika Masumi menggenggam tangannya.Maya berusaha melepaskannya tapi Masumi menggengamnya lebih erat lagi.Akhirnya Maya membiarkannya.
‘’Kita sudah sampai’’.
Masumi melihat Maya tertidur lelap. Pelan-pelan dibukannya sabuk pengaman dan selama beberapa saat dia terus memperhatikan Maya yang sedang tertidur. Jari-jarinya menelusuri wajah Maya, kemudian tersenyum lembut, lalu berbisik di telinganya. ‘’Sekarang kau adalah milikku dan aku akan segera mengikatmu’’.
Lalu pandangan matanya berhenti di bibirnya tanpa ragu lagi Masumi langsung saja melumatnya,Maya kemudian mendesah dan mulai membuka matanya.’’Pak Masumi...’’
Masumi tersenyum.’’Akhirnya kau bangun juga, kita sudah sampai’’.
‘’Benarkah?’’Maya melihat kesekeliling dan dia dapat melihat apartemennya.
Maya keluar dari mobil begitu pun juga Masumi.’’Sekarang masuklah mungil’’ujarnya sambil mengusap-usap dagunya.’’Aku akan menghubungimu lagi dan aku akan membawa ke tempat istimewa untuk kencan kita nanti.
Maya mengangguk senang.’’Sampai jumpa pak Masumi!’’
‘’Sampai jumpa!’’. Masumi masuk kedalam mobilnya kembali.
Maya menyentuh bibirnya karena dia merasa sesuatu yang hangat dan lembab telah dirasakannya tadi.
Maya terus sibuk dengan pemikirannya’’Mungkinkah pak Masumi tadi....ah tidak mungkin, tapi jika itu benar....’’.
Wajahnya kembali merona merah setiap kali memikirkan kemungkinan itu.’’Kyaaaaa.....’’Maya berteriak lalu menutup wajahnya karena malu.
Masumi telah berada di rumahnya dan pelayannya mengatakan kalau ayahnya sedang menunggunya di ruang kerja. Masumi segera menemui ayahnya dan kedatangannya disambut dengan wajah kesal dan marah dari Eisuke.
‘’Kau sudah mempermalukan keluarga Hayami dan keluarga Takamiya tadi’’.
‘’Aku tahu dan aku akan bertanggung jawab , seharusnya ayah tidak perlu memaksaku menikah dengan Shiori karena uang, lagi pula sejak awal aku tidak mencintainya. Meskipun aku sekarang menikah dengan Shiori itu sudah tidak ada gunanya lagi bagi ayah karena sekarang keluarga Takamiya sedang berada diambang kebangkrutan. Selama beberapa hari aku telah menyelidiki kondisi perusahaan mereka dan ternyata perusahaan takatsu grup sedang banyak mengalami kerugian yang sangat besar, jadi sekarang ayah jangan coba-coba lagi mencampuri urusanku terutama urusan perasaanku. Aku sudah tidak ingin menjadi boneka ayah lagi . Satu hal lagi Maya Kitajima sekarang sudah resmi menjadi kekasihku dan aku akan segera menikahinya dalam waktu dekat. Aku harap ayah mau menerimanya sebagai menantumu. Permisi!’’
Eisuke hanya terdiam dan tidak diberi kesempatan lagi untuk berbicara.
bersambung ke part 2....
tentu aja menbatalkannya
BalasHapusHARUS membatalkannya! Kan udah tau maya jg gak setuju n brarti maya cinta masumi. -muri-
BalasHapusaaaaaa...... suka banget ceritanya..... pas banget kalimatnya..... suka suka suka....
BalasHapuswohoo kereeennn ayo para writer kolaborasi lagi lanjutkan ceritanya XDDD
BalasHapusSuka! Suka! Ayo tuntaskan nisa,fenny!
BalasHapusberhasil..berhasil.. *dora mode on
BalasHapusBagus...
Ayo lanjutkan Sis Cupidx and sis Nisa
-Sari-
ayoo2 writer yg lain lanjutkan...hohohohohoh
BalasHapusah sukka sekali dengan cerita ini
BalasHapussiapapun writernya, benang merahnya Happy Ending buwat MM yahhh *tereak*
^^ lanjottt writers
kencan pertama MM
hehehhee...
wah... cerita gabungan writers, kolaborasi... sukaaaa.. rasain shomay.... jdi laper pengen shomay, tpi gak shiomay shiodong2 pasti rasanya gak enak,hatinyakan licik,jdi busuk dagingnya....:p
BalasHapusudah lamaaaa yg baca cerita kolaborasi lagi...
BalasHapusterakhir baca kolaborasi hilman lupus & zara zettira.
bagus..bagus.. sukkkaaaa deh...nyambung....
lanjutannya yg romatis ya jeng Nisa...hehehe..