Halaman

Sabtu, 28 Januari 2012

Tidaaak......part 3

(Lanjutan cerita ini kembali dibuat oleh :Mia Hayämi)

‘’Begini Rei, biar aku jelaskan. Aku dan pak Masumi sekarang....’’

‘’Aku mengantar Maya kesini untuk mengambil pakaiannya’’jawab Masumi.

‘’Pakaian? Memangnya Maya akan pergi kemana?’’. Rei terlihat kebingungan.

‘’Begini Rei aku dan Pak Masumi akan....’’

‘’Kami akan tinggal bersama’’lanjut Masumi.

Rei nampak sangat terkejut.’’Apaaaa....tinggal bersama, tapi bagaimana bisa?’’

’’Pak Masumiiii....’’. Maya menyenggol pinggangnya.

’’Kau kenapa sih? Sakit tahu’’.

‘’Habis pak Masumi selalu memotong pembicaraanku’’.

‘’Aku akan bermaksud baik membantumu bicara pada Rei. Bukannya berterima kasih malah menyenggol pinggangku sampai sakit’’.

‘’Rasakan itu....’’

‘’Mayaaaa....’’. Masumi mulai terlihat kesal sekaligus gemas dengan sikap kekasihnya.




‘’Hei kalian berdua’’teriak Rei. ‘’Sudah hentikan dulu perdebatan kalian. Sekarang kalian harus menjelaskannya padaku’’.

Rei melirik tajam pada Maya.

‘’Begini Rei , aku dan pak Masumi sudah resmi menjadi sepasang kekasih, lalu kami memutuskan untuk tinggal bersama. Aku dan pak Masumi baru saja membeli sebuah apartemen’’.

Rei terlihat terkejut mendengar penjelasan Maya.’’Jadi kalian sekarang adalah sepasang kekasih dan sudah membeli sebuah apartemen?’’.

Masumi dan Maya mengangguk bersamaan.’’Sejak kapan kalian berpacaran?’’

‘’Sejak kemarin’’jawab Maya.

‘’Hah? Kemarin? Dan kalian sudah langsung memutuskan untuk tinggal bersama?’’.

Maya dan Masumi kembali mengangguk bersamaan.

‘’Sebenarnya pak Masumi yang memaksaku untuk tinggal bersama. Maaf Rei mulai malam ini aku akan tinggal dengannya’’.

Rei melirik tajam kepada Masumi dan tatapan Rei dapat diartikan oleh Masumi.’’Awas saja kalau kau berbuat bermacam-macam pada Maya’’itulah arti tatapan Rei pada Masumi.

‘’Sayang, sebaiknya kemasi pakaianmu secepatnya’’.

‘’Baiklah’’.

‘’Tunggu ! Sebaiknya aku ikut membantu membereskan pakaianmu’’.

‘’Tidak perlu, biar aku saja sendiri’’.

‘’Tidak, lebih cepat lebih baik’’. Masumi menarik Maya masuk kedalam kamar.

Maya mengambil sebuah tas yang cukup besar dan mulai memasukkan pakaiannya.’’Hanya seginikah pakaianmu mungil, apa tidak ada lagi?’’

‘’Pakaianku cuma segini’’.

‘’Ternyata pakaianmu sedikit sekali. Sepertinya aku harus membelikan banyak pakaian untukmu’’.

Masumi melihat ke sebuah laci pakaian yang dari tadi sama sekali belum dibuka.’’Ini isinya apa?’’tanyanya sambil membuka laci tersebut.

‘’Aaaaaa.....jangan dibuka’’. Maya mendorong Masumi sampai terjatuh dan kaget melihat kekasihnya sudah tersungkur dilantai.

‘’Pak Masumi, tidak apa-apakan? Maafkan aku....’’. Maya membantunya berdiri.’’Apa ada yang sakit?’’

‘’Mayaaaa.....’’.

Maya menundukkan kepalanya.’’Maaf...’’.

Rei yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.

‘’Kau kenapa mendorongku? Memangnya isi laci itu apa sampai aku dilarang melihatnya’’.

Masumi berjalan dengan memegangi pinggangnya. ‘’Sayang, sepertinya aku terkena encok’’.

‘’Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakiti pak Masumi’’.

‘’Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi’’.

‘’Oh itu...isinya adalah....’’. Wajah Maya merona merah karena malu.’’Isinya adalah pakaian dalamku’’. Maya mengecilkan suaranya.

’’Oh, ternyata isiniya itu, aku kira apa’’. Masumi terlihat canggung.’’Biar aku bantu memasukkannya’’.

‘’Tidak, biar aku saja. Aku kan malu’’.

‘’Sayang, kita akan tinggal bersama jadi kau tidak perlu malu-malu lagi denganku, mungkin kau juga akan sering melihat pakaian dalamku’’.

‘’Aku tahu, tapi tetap saja aku malu’’.

‘’Baiklah, aku tidak akan membantumu memasukkan pakaian dalam ke dalam tas’’.

Masumi akhirnya pergi dari kamar. Sementara itu Maya cepat-cepat memasukkan semua pakaian dalamnya ke dalam tas.

‘’Pak Masumi, aku sudah selesai’’.

‘’Baiklah kita pergi sekarang’’.

‘’Rei. Aku pergi dulu’’.

Rei menarik tangan Maya dan bicara setengah berbisik kepadanya.’’Maya, kamu harus hati-hati dengan pak Hayami, kalau dia berani berbuat macam-macam. Gunakan ini’’.

‘’Apa ini?’’

‘’Semprotan bubuk merica. Kalau pak Hayami berani berbuat kurang ajar padamu semprotkan saja ini’’.

‘’Pak Masumi tidak mungkin berbuat kurang ajar padaku’’.

‘’Ingat dia itu laki-laki. Demi kebaikanmu sebaiknya kau bawa saja’’.

‘’Baiklah kalau itu membuatmu tenang. Aku akan membawanya’’.

Rei mengantar kepergian Maya sampai pintu depan.Rei menghembuskan nafas panjang.’’Semoga mereka berdua dapat hidup berbahagia’’.

@@@@@

Mobil mulai memasuki parkir bawah tanah apartemen. Mereka berdua turun dari mobil, Masumi mengambil tas Maya dari dalam bagasi, kemudian salah satu tangannya merangkul pinggang Maya. Pintu lift terbuka. Mereka berdua pun masuk.Masumi terlihat begitu senang dan hatinya bersorak gembira.Maya memperhatikannya yang sedang senyum-senyum sendiri.

’’Pak Masumi, kenapa Anda senyum-senyum sendiri seperti orang gila....kikikikik....’’

‘’Apa kau tidak suka melihat orang lagi senang’’.

Masumi tersenyum nakal dan mendekati wajah Maya.

’’Pak Masumiiii.....jangan seperti ini.Nanti ada orang yang melihat kita’’.

‘’Tidak ada orang disini, hanya ada kita berdua’’.

Masumi semakin mendekatkan wajahnya dan hampir menyentuh bibir Maya.

Ting!

Pintu lift terbuka seorang petugas kebersihan masuk kedalam lift.

Masumi dan Maya segera membetulkan posisi .’’Tuh kan apa ku bilang’’bisik Maya.
Maya tersenyum penuh kemenangan.

’’Awas kau nanti mungil, aku akan membalasmu’’bisiknya.

Lift kembali terbuka, mereka berdua keluar.

Pintu apartemen terbuka dan Maya berlari masuk.

Maya begitu mengagumi apartemen pilihannya selain apartemennya luas dan mewah, perabotannya pun sangat bagus. Maya tersenyum sendiri, dia tidak menyangka akan mempunyai selera yang bagus.Masumi tiba-tiba memeluknya.’’Pak Masumi,apa yang akan Anda lakukan?’’

‘’Bukankah sudah aku katakan tadi kalau aku akan membalasmu’’.

Tanpa berkata apa-apa lagi Masumi langsung menyapukan bibirnya dan perlahan-lahan mata Maya menutup.

Tsukurimasho.....Tsukurimasho
Sate sate nani ga dekiru kana
Hai, dekimashita

Masumi memasang wajah kesal dan dengan perasaaan tidak rela dia melepaskan ciumannya.

‘’Siapa sih sih yang menelepon menganggu saja’’.

Maya yang melihat kekesalan kekasihnya hanya tersenyum geli.

Masumi pun langsung menuju balkon ketika tahu siapa orang yang telah meneleponnya.

‘’Apa kamu sudah mendapatkan barang yang aku minta?’’tanyanya dengan berbisik.

‘’Saya sudah mendapatkannya pak Masumi’’.

Masumi melirik Maya yang sedang duduk disofa sambil membaca sebuah majalah yang baru saja tadi dibelinya, takut Maya mendengar pembicaraannya.

‘’Bagus. Besok pagi aku tunggu ditempat biasa’’.

‘’Baik pak Masumi’’.

‘’Hijiri, terima kasih atas bantuanmu’’.

‘’Sama-sama pak Masumi’’. Masumi menutup teleponnya, kemudian duduk disamping Maya dan dipeluknya Maya dengan erat.

‘’Sayang, apa kau tidak mengantuk? Aku sudah mengantuk, kita tidur saja yuk’’.

‘’Aku belum mengantuk. Tidur saja sendiri’’.

‘’Tapi aku ingin kau menemaniku tidur malam ini dan juga malam-malam berikutnya’’bisiknya.

Deg...deg...deg...deg...

Maya dapat mendengar suara jantungnya yang bertalu-talu.

’’Pak Masumi, ternyata takut tidur sendiri ya....ckckckck....tidak disangka direktur Daito seorang penakut’’.

‘’Maya Kitajima! Teriaknya.’’Mau sampai kapan kau akan menguji kesabaranku, dari tadi pagi kau selalu saja membuatku gemas dengan sikapmu’’.Masumi mencubit kedua pipinya.

‘’Siapa suruh Anda mau menjadi kekasihku’’. Maya mengatakan itu dengan cueknya sambil terus membaca majalah.

Masumi sudah mulai terlihat sangat kesal.

‘’Aaaaa....Pak Masumi , apa yang Anda lakukan?Turunkan aku’’.

Masumi tersenyum jahil.’’Mungil, ternyata kau sangat ringan’’.

‘’Cepat turunkan aku!’’

‘’Tidak mau’’. Masumi pergi menuju kamar dengan mengendong Maya.’’Eh, kenapa membawaku kesini, kamarku ada disebelah’’.

‘’Mulai sekarang kamarku adalah kamarmu juga’’.

BRUK!

Masumi membaringkan Maya di tempat tidur tanpa melepaskan pelukannya.

‘’Pak Masumiii....’’.

Maya kini dapat merasakan hembusan nafas kekasihnya di wajahnya .

Selama beberapa saat Masumi terus menatapnya dan debaran jantung Maya kembali berdegup dengan kencang.

‘’Ternyata kau sangat cantik kekasihku’’bisiknya lembut.

Wajah Maya merona merah.

Masumi menelan ludahnya ketika melihat bibir mungil Maya yang sedikit terbuka.

Perlahan-lahan Masumi mulai mendekati, sekarang jarak antara kedua bibir mereka hanya berjarak 1 cm.

’’Sayang, terima kasih sudah mau tinggal bersamaku disini dan aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Aku akan menjadikanmu sebagai wanita paling bahagia di dunia’’.

‘’Pak Masumiiii....’’. Maya begitu terharu mendengar ucapan kekasihnya.

Cup!

Bibir Masumi mulai mengulum bibir Maya.

Maya mulai merasakan suatu arus deras melewati nadi-nadinya dan dirinya merasa tidak berdaya oleh sentuhan kekasihnya dibibir dan diseluruh tubuhnya.Sampai berapa lama ciuman itu berlangsung, Maya tidak tahu.

Tanpa melepaskan ciumannya, Masumi mulai melepaskan pakaiannya dan pakaian Maya satu persatu.

Maya semakin tidak mampu menolak untuk menerima setiap sentuhan Masumi.Ketika Masumi merasakan getaran tubuh Maya , ia kembali memeluknya sangat erat sambil terus menciumi wajah dan leher kekasihnya.

Maya merasa otaknya sudah tidak sanggup mengingat apa yang telah dia rasakan.Ia hanya menutup matanya sambil menikmati setiap sentuhan Masumi ditubuhnya.

Masumi kembali menerkam bibir kekasihnya dengan begitu bernafsu seolah tidak puas untuk mengecap bibir mungil kekasihnya dan Maya merasakan kembali bibir Masumi menjelajahi mulutnya tanpa henti sampai mereka berdua telah merasakan romantisme percintaan.

Desahan demi desahan semakin terdengar keras dari arah kamar.Jantungnya berdetak kencang dan nafasnya terasa sesak seperti ada yang menyumbat tenggorokannya . Maya sekarang merasa telah dibawa oleh suatu keasyikan yang begitu menggelora dan begitu indah. Maya semakin terhisap dalam dengan kuat masuk ke dalam tubuh kekasihnya, Kini tubuh mereka sudah menyatu.

Maya merasakan bahagia yang meluap-luap dari dalam dirinya. Dia merasa seperti berada dalam surga dimana tidak ada kekuatan sekuat apa pun yang dapat memisahkan mereka.Maya benar-benar telah merasakan cinta di dalam hatinya untuk pria yang kini telah menjadi kekasihnya.

’’Aku mencintaimu Masumi Hayami’’.

Masumi menatapnya mesra dan tersenyum lembut.

’’Aku juga mencintaimu Maya Kitajima’’.

Jari-jari Masumi mulai menelesuri setiap lekuk wajah Maya, menyentuh mata, pipi, bibir dan juga lehernya.

Mereka masih berpelukan dengan sangat erat dan masih enggan untuk memisahkan diri.Seluruh ruangan menjadi hening hanya terdengar nafas mereka berdua.Masumi kembali mengecup bibir Maya. Sentuhan yang ringan dibibirnya tapi terasa manis.

Akhirnya mereka pun terlelap tidur karena kelelahan.

@@@@@

Cit..cit..cit...

Suara burung membangunkan Maya yang masih dalam keadaan tidak berpakaian. Kamar sudah bermandikan cahaya matahari. Maya tidak dapat menemukan Masumi disisinya.

’’Masumi....’’panggilnya.

Maya kemudian kembali teringat tentang kejadian tadi malam. Wajahnya langsung memerah semerah tomat, lalu menutup wajahnya.

’’Bagaimana ini, sepertinya aku tidak mampu menatap wajah Masumi lagi....kyaaaaaa......’’. Maya kembali melihat tubuhnya di balik selimut dan wajahnya kembali memerah.’’Sekarang pak Masumi sudah tahu seluruh bagian tubuhku’’.

Suhu di wajah Maya meningkat, ia pun langsung cepat-cepat membersihkan diri dan berpakaian.

Masumi dengan pakaian santainya berada di basement apartemen menunggu kedatangan Hijiri.

Seorang pria mendekatinya.

’’Pak Masumi....’’

‘’Mana barang yang aku inginkan?’’

‘’Ini pak Masumi....’’.Hijiri dapat melihat sinar bahagia di wajah atasannya.’’Sepertinya rencana tinggal satu apartemen dengan Maya berjalan dengan lancar’’.

‘’Begitulah...’’.

Masumi mulai melihat isi tas kertas yang dibawa Hijri. Dia mengeluarkan sebuah kotak dan didalamnya terdapat sepasang cincin.

‘’Terima kasih Hijiri’’.

‘’Semoga lamaran Anda berhasil’’.

Hijiri kemudian pergi meninggalkan Masumi yang tersenyum-senyum sendiri melihat kedua cincin itu.Masumi akhirnya cepat-cepat kembali ke apartemen menemui Maya.

‘’Pak Masumi, dari mana saja?’’tanya Maya ketika pintu terbuka .

’’Maaf tadi ada sedikit urusan. Wajah Maya kembali merona setiap kali mengingat kejadian tadi malam dan Masumi menyadari itu.

’’Kau tidak perlu malu, dengan apa yang kita lakukan semalam’’.

Wajah Maya semakin memanas

Blusshhhh....asap keluar dari kedua telinganya.

‘’Wah perutku sudah lapar’’kata Masumi sambil mengelus-elus perutnya dan berlalu pergi menuju dapur.’’Rupanya kekasihku sudah menyiapkan makan pagi’’.

Maya duduk di meja makan masih dengan perasaan malu, lalu menyambar sandwichnya dan memakannya dengan lahap.

’’Pak Masumi tidak pergi ke kantor?’’

‘’Tidak hari ini aku sengaja libur demi menikmati kebersamaanmu di apartemen baru. Lagi pula ada hal penting yang harus aku lakukan nanti malam’’.

Maya terlihat bingung apa maksud dari perkataannya dan hanya berkata’’Oh, semoga urusannya lancar’’.

‘’Semoga saja sayang’’.

Mereka menghabiskan waktu siang mereka dengan berbicara disofa dan mereka memutuskan untuk membuat makan siang bersama dan dapur pun terlihat seperti kapal pecah setelah mereka selesai memasak.

Tsukrimasho...tsukurimasho...
Sate sate nani ga dekiru kana
Hai, dekimashita

Masumi segera menerima telepon dengan pandangan kesal.

’’Halo Mizuki! Ada apa?’’

‘’Maaf, pak Masumi telah menganggu liburan Anda bersama Maya, tapi bisakah Anda pergi ke kantor sebentar saja, ada sedikit masalah disini’’.

‘’Apakah sepenting itukah ?’’

‘’Benar pak Masumi, sebenarnya...’’Mizuki memelankan suaranya.

‘’Kakeknya nona Shiori ada disini dan dia terlihat sangat marah’’.

Masumi menghembuskan nafas panjang.’’Baiklah aku akan segera kesana’’.

‘’Apa ada masalah?’’

‘’Sepertinya aku harus pergi ke kantor, tapi aku pergi ke sana tidak akan lama, aku akan segera kembali’’.

‘’Aku mengerti. Pergilah!’’.

Setelah selesai makan, Masumi pun segera pergi.

‘’Hati-hati dijalan!’’

Masumi kemudian berbalik.

’’Ada yang lupa’’.

Cup!

Masumi mengecup bibir Maya.

’’Sampai jumpa lagi sayang!’’.

Maya hanya tersenyum mengantar kepergian Masumi. Maya pergi ke dapur dan berjuang sendirian untuk membersihkan dapurnya.

‘’Huuufffttt....’’.

Maya mengelus keningnya, untuk melepaskan rasa lelahnya Maya berselonjoran di sofa sambil menunggu kedatangan Masumi.

Terdengar suara pintu terbuka Maya segera bangun dari sofa dan ia tersenyum senang melihat kedatangan kekasihnya, tapi senyuman diwajahnya telah menghilang dengan kedatangan Shiori.

’’Nona Shiori’’serunya kaget.

‘’Halo Maya!’’sapanya dengan tersenyum.

‘’Pak Masumi kenapa nona Shiori berada disini?’’

‘’Sayang maafkan aku. Ikut aku ada yang ingin aku katakan padamu’’.

Maya mengikuti Masumi masuk ke dalam kamar.

‘’Pak Masumi, katakan sebenarnya apa yang telah terjadi’’.

Maya mulai terlihat cemas.Masumi kemudian memeluk Maya.’’Maafkan aku ‘’, lalu melepaskan pelukannya dan menatap Maya tajam.

’’Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan kita sampai disini’’.

Mata Maya sudah mulai memerah dan berkaca-kaca.

’’Tapi mengapa?’’. Tangisan Maya mulai pecah.’’Bukankah kita baru memulai hubungan kita bahkan kita sudah membeli sebuah apartemen. Kenapa kau lakukan ini padaku?’’

‘’Maafkan aku Maya. Maaf’’.

‘’Apa semua ini karena nona Shiori?’’

Masumi menganggukkan kepalanya.

’’Aku akan kembali segera menikahi Shiori. Maya, kamu boleh memiliki apartemen ini karena aku dari dulu sudah berniat membelikanmu sebuah apartemen yang bagus’’.

‘’Aku tidak butuh apartemen yang bagus yang aku butuhkan adalah dirimu Masumi Hayami’’.

‘’Maafkan aku . Sekarang ini Shiori lebih membutuhkan diriku dari pada kamu Maya’’.

‘’Pak Masumi jahat....jahaaaaaatttt....’’teriak Maya sambil memukul-mukul dada Masumi.

‘’Pak Masumi kan sudah janji akan membahagiakanku, tapi semuanya itu hanya omong kosong’’.

‘’Maaf, aku tidak bisa memenuhi janjiku’’.

‘’Dari tadi pak Masumi terus bilang maaf...maaf...Aku tidak ingin bertemu dengan pak Masumi lagi. Aku benci...benci....’’.

Maya mendorong keluar Masumi dari kamar dan Shiori tersenyum senang melihat pertengkaran mereka berdua.Shiori langsung memeluk lengan Masumi.

’’Kau lihat Maya, pada akhirnya Masumi akan kembali lagi padaku. Masumi sudah tidak men-cin-tai-mu lagi’’. Shiori tersenyum puas , kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Masumi. Mereka pun berciuman panas di depan Maya.

Maya yang melihat itu merasa sesak nafas , hatinya terasa sakit dan ingin sekali berteriak.

TIIIIIIDAAAAAAKKKKK!!!

@@@@@

Hah...hah...hah...hah...

Maya menyentuh dadanya dan melihat kesekeliling.

’’Syukurlah ternyata semua itu hanyalah mimpi’’ ucap Maya sambil mengusap keringat dingin di keningnya.

@@@@@

Ceklek!

Masumi masuk dengan wajah kusut dan membuat Maya cemas.

’’Ada apa? Apa yang terjadi dengan Anda pak Masumi?’’

‘’Aku baru saja diberitahu kalau Shiori meninggal, tadi kakeknya Shiori datang ke kantorku dan dia marah-marah padaku kalau aku yang menyebabkannya meninggal, tapi kamu tidak perlu cemas , kesalahpahaman ini sudah diselesaikan’’.Masumi menyentuh pipi Maya dengan lembut.

‘’Shiori meninggal? Kapan?’’

‘’Kemarin malam di rumah sakit’’.

Maya duduk kembali di sofa. Perasaannya sekarang bercampur aduk antara senang dan sedih. Senang karena mimpinya tidak menjadi kenyataan , sedih karena Shiori meninggal. Maya menghela nafas panjang.

‘’Sayang, kau kenapa? Wajahmu terlihat pucat? Kamu baik-baik saja kan? ‘’tanya Masumi dengan perasaan cemas.

‘’Aku baik-baik saja. Sungguh’’.

‘’Aku mau ganti pakaian dulu, sebaiknya kau juga mungil’’.

‘’Kenapa aku juga harus ganti pakaian lagi. Aku baru saja menggantinya?’’

‘’Karena malam ini aku akan mengajakmu kesuatu tempat yang istimewa’’.

Maya mengerutkan dahinya.

’’Kemana? Apa Anda tidak akan pergi ke rumah Shiori untuk mengucapkan bela sungkawa?’’

‘’Aku akan pergi kesana besok, tapi untuk hari ini aku dan kamu mempunyai acara khusus. Aku sudah lama mempersiapkannya, jadi aku tidak ingin acara yang aku siapkan kacau gara-gara berita kematian Shiori’’.

‘’Hmmmm...baiklah’’. Maya masuk ke dalam kamarnya.

Masumi cepat-cepat menghubungi Hijiri.

‘’Apa semuanya sudah siap?’’

‘’Semuanya sudah siap pak Masumi. Semoga acara Anda melamar Maya berjalan sukses’’.

Masumi tersenyum senang.

’’Sebentar lagi aku dan Maya akan pergi kesana’’.

Masumi masuk ke kamarnya sambil bersenandung ria. Tiba-tiba langkahnya terhenti, dia lupa kalau Maya ada di dalam sedang mengganti pakaiannya.

@@@@@

(Cerita ini dilanjutin oleh Haviati Oktora)

Masumi tertegun saat sudah berada di dalam kamar. Sama sekali dirinya tidak ingat kalau Maya berada di sana juga. Sedang berganti baju.

Sementara Maya yang sedang memegang sebuah baju terusan terbengong melihat ke arah laki-laki yang baru masuk itu. Beberapa saat terlihat bingung sebelum akhirnya:

“KYAAAAAA!!!!”

Teriakannya membuat Masumi terlonjak kaget.

“A..ada apa, Maya?” dengan langkah panjangnya Masumi segera mendekat.

Alih-alih berhenti, teriakan Maya malah semakin histeris.

“PAK MASUMIIII!!! KENAPA MALAH MENDEKAAAT!!!???”

Gadis itu berusaha menyembunyikan tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam ke balik pintu lemari yang masih terbuka.

Masumi menghentikan langkahnya, baru menyadari alasan gadis itu berteriak. Awalnya dia pun kikuk, namun bukan Masumi namanya kalau tidak segera menguasai kembali sikapnya.

“Kenapa memang, Mungil?”seringai jahil muncul di wajahnya yang tampan. “Semalam aku bahkan sudah melihat yang lebih dari ini.”

Kontan wajah Maya memerah.
“P..Pak Masumiii,” Maya meringis salah tingkah. Masih menyembunyikan tubuhnya di balik pintu lemari. “Keluarlah duluu. Aku maluuuu,” pintanya dengan wajah memelas.

“Malu? Yang benar saja,” dengan santai Masumi malah mendekat.

“Pak Masumi mau apa?” tanya Maya segera dengan waspada. Pintu lemari yang sejak tadi dipegangnya semakin ia geser ke arah tubuhnya. Kini hanya kepalanya yang nampak menyembul dari balik pintu tersebut.

“Ya mau ganti baju juga, lah,” jawab Masumi kalem. ‘Baju ku juga kan ada di dalam sana.”

“Ta..tapi,” Maya kembali tergagap dengan wajah memerah. Menyiapkan tenaga untuk mempertahankan posisi pintu yang melindungi tubuhnya saat dilihatnya lengan Masumi terulur untuk membukanya.

“Ayolah, Maya. Bagaimana aku bisa ganti baju kalau kau terus disitu?”

“Ganti bajunya giliran saja,” tawar Maya. “Aku tidak akan lama, kok. Paling cuma 3 menit. Pak Masumi di luar duluuu,” Maya masih mencoba membujuk kekasihnya itu.

“Tidak mau!” geleng Masumi keras kepala. “Ini kan kamarku juga!”

“Pak Masumiiii,” gadis itu seperti mau menangis.

Diam-diam Masumi tersenyum.
“Baiklah,” ujarnya akhirnya. “Aku akan menutup mataku.”

“Tutup mata?”

“Iya. Sama saja kan? Aku tidak mungkin melihatmu kalau mataku tertutup.”

“T..tapi benar, ya. Tutup mata?”

“Iyaa… ,” angguk Masumi. Langsung menutup matanya. “Cepat! Hitungan tiga menit langsung dimulai.”

“T..tiga menit?” Maya mengerutkan kening.

“Kau bilang cuma butuh waktu tiga menit untuk ganti baju,” sahut Masumi tanpa membuka matanya.

“Iya tapi…,” Maya masih kebingungan dengan tingkah laku kekasihnya itu.

Perlahan gadis itu mulai keluar dari balik pintu lemari.
“Jangan ngintip!” ancamnya seraya terus melihat dengan curiga ke arah Masumi. Lengannya erat memegang baju terusan di depan tubuhnya.

“Cepatlah, atau waktu tiga menitmu akan habis!”

“I.. iya,” Maya dengan gugup segera mulai memakai bajunya. Gadis itu berkali-kali mengeluh karena kegugupan membuat ia seperti anak balita yang baru pertama kali memakai baju sendiri. Keheranan setengah mati mengapa bajunya terasa menjadi sempit sehingga ia kesulitan memakainya.
“Ah!” Maya berteriak putus asa, saat menyadari bajunya terbalik. Dengan tergesa ia membukanya lagi baju yang baru berhasil dipakainya itu.

“Waktumu satu menit lagi, Mungil,” suara Masumi mengejutkannya.

“Kyaaaa!!” Maya kembali memekik saat menyadari Masumi sudah membuka matanya. Terlambat untuk sembunyi.
“Katanya semenit lagi tapi mengapa sudah membuka mata?” protesnya.

“Lho? Bagaimana aku tahu berapa lagi waktumu kalau aku tutup mata? Aku kan harus lihat jam,” jawab Masumi santai. Seringai jail menghiasi wajah tampannya. “Nah, aku tutup mata lagi. Semenit ya, Mungil,” meski tak rela melepaskan pandangannya dari sosok Maya yang begitu menggoda, lengkap dengan wajahnya yang memerah, Masumi kembali menutup matanya.

Maya memandang kekasihnya dengan kesal, bercampur gemas saat menyadari kalau Masumi sedang menggodanya. Dengan cepat ia mengenakan kembali bajunya dan menghela nafas lega saat baju terusan berwarna putih itu kini melekat ditubuhnya dengan benar.
“Sudah!” ujarnya kemudian dengan masih menyisakan nada kesal dalam suaranya.

“Lho, kurasa belum satu menit, mungil. Kau yakin sudah memakainya dengan benar?”

“Pak Masumiiii…,” kekesalan Maya dibalas dengan gelak tawa lelaki itu. Masumi membuka matanya dan berdesir melihat gadis yang berdiri didepannya dengan ekspresi kesal. Wajah yang bertekuk, bibir yang mengerucut, dan wajah yang masih merona merah itu benar-benar menggemaskan di matanya.
Masumi melangkah mendekat dan langsung meraih Maya ke dalam pelukannya.
“Kau cantik sekali, Maya,” bisiknya dengan penuh perasaan.
Maya masih menekuk wajahnya. Bergeming saat Masumi mencoba meraihnya mendekat.

“Hai, kau marah, ya?” bisik Masumi. Maya memalingkan wajahnya. Masih kesal.
“Mayaaa,” Masumi meraih dagu gadis itu dan memutarnya agar kembali berhadapan dengannya.

“Pak Masumi sudah menggodaku. Aku malu sekali tadi,” ujar Maya akhirnya.

“Malu? Sayang, kau tak perlu merasa malu lagi padaku. Kau dan aku sudah bersama sekarang. Semalam, itu baru awal. Masih ada malam-malam lain yang akan kita habiskan bersama.”

Wajah Maya kian merona mengingat apa yang mereka lakukan semalam.
“I.. itu kan beda,” sergah Maya.

“Oya?” senyum jail kembali menghiasai bibir Masumi. “Aku ingin tahu dimana bedanya. Hmm.. bagaimana kita ulang saja apa yang kita lakukan semalam, jadi aku… Aduh!!” Kalimat laki-laki itu berakhir dengan pekik kesakitan saat jemari Maya mencubit pinggangnya dengan kuat.
Diusapnya pinggang yang kini berdenyut sakit.
“Kau ini galak sekali,” keluhnya.

“Katanya mau mengajakku pergi. Cepatlah ganti baju!” Maya membulatkan matanya dengan gemas.

Kembali Masumi menyeringai.
“Mau melihatku ganti baju?”

Maya kembali bersiap mencubit kekasihnya itu, tapi Masumi kembali berkelit.

“Aku tidak keberatan kalau kau mau,” ujar Masumi lagi.

“Pak Masumiiiii!!” Maya menjerit kesal. Lalu dengan wajah semerah tomat gadis itu berbalik dan melangkah dengan langkah-langkah lebar keluar kamar, meninggalkan Masumi yang terkekeh senang melihat reaksinya.
Maya tidak menunggu lama. Tak sampai 10 menit, Masumi sudah kembali keluar kamar. Sudah rapi dan wangi.

“Siap berangkat?”

Maya menyambut uluran tangan Masumi dan melompat bangun.
“Sebenarnya Pak Masumi mau mengajakku kemana?”

“Hmmm… nanti kau akan tahu sendiri.”

Masumi membawa mobilnya gedung Daito.

“Kenapa kita ke Daito?” Maya kembali bertanya heran.

Masumi hanya menjawab dengan senyum misterius dan menarik kekasihnya memasuki lift.
Laki-laki itu menekan tombol menuju lantai paling atas. Angin dingin menerpa saat mereka berada di pelataran paling atas gedung tersebut. Maya merapatkan diri ke tubuh kekasihnya. Jaket tebal yang dia pakai rupanya tidak cukup hangat menyelimuti tubuh mungilnya.
Diedarkannya pandangan ke sekeliling pelataran. Tidak ada apapun. Hanya pelataran yang lenggang dan berangin.

“Sebenarnya kita mau apa kesini?”

“Tunggu sebentar lagi. Kau akan tahu.”

Belum semenit sejak Masumi menjawab, Maya mendengar suara gemuruh helikopter yang semakin mendekat. Benda itu kemudian muncul dari kejauhan, mendekat dan akhirnya mendarat tepat di tengah pelataran.
Setengah merunduk untuk menghindari angin dari baling-baling, keduanya mendekat dan melompat masuk.

“Kita mau kemana?” tanya Maya penasaran setelah mereka duduk dengan nyaman di dalamnya. Suaranya setengah berteriak untuk mengalahkan suara baling-baling yang bergemuruh.

“Pakai ini,” Masumi memakainkan headset di telinga Maya. Setelah yakin kekasihnya nyaman memakainya, ia pun memakai benda yang sama di telinganya.

“Dengan ini kau tidak usah berteriak-teriak kalau mau bicara,” senyum Masumi.
Suaranya terdengar sangat jelas di telinga Maya.
Gadis itu tersenyum malu-malu.

“Kita mau kemana?” tanyanya lagi.

Helikopter mulai mengudara.

Masumi meraih jemarinya dan menggenggamnya erat.
“Ke suatu tempat. Tak akan lama, kok,” jawabnya kemudian. “Mudah-mudahan kau akan menyukainya nanti,” kembali laki-laki itu tersenyum lembut.

Maya balas tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke pemandangan di bawahnya. Kerlip lampu kota nampak menghampar di sana. Lalu menaikkan pandangan ke arah langit.
“tetap saja…, ” ujar gadis itu setengah mengeluh.

“Tetap saja apa?”

“Bintangnya terlihat sedikit. Padahal kita sudah lebih dekat dengan langit.”

Masumi ikut menengadahkan kepala untuk melihat langit.
“Mungkin karena cuaca juga sedang tidak begitu cerah malam ini,” sahutnya kemudian. “Tapi kau tahu? Bintang yang paling terang sudah berada dekat denganku sekarang,” ujarnya seraya kembali memalingkan wajah menatap gadis mungil di sampingnya.

“Oya?” Maya menoleh untuk melihat kekasihnya. “Mana?”

“Kau,” jawab Masumi membuat Maya kembali merasakan wajahnya memanas.

“Kau adalah bintangku yang paling terang.”

Maya merasakan jemarinya diremas lembut. Meskipun malu mendengar keterus terangan Masumi, gadis itu merasa sangat bahagia mendengarnya. Beberapa saat keduanya hanya berpandangan dalam senyum, sampai suara seseorang mengalihkan perhatian mereka dari wajah masing-masing.

“Sudah hampir sampai, Tuan.”
Pilot di depan mereka yang berkata. Maya sangat mengenali suara itu. Hijiri.

“Pak Hijiri?” sapanya ragu. Sang pilot menoleh dan tersenyum.

“Selamat malam, Nona Maya.”

Masumi melemparkan pandangannya ke luar helikopter.

“Ah, iya,” laki-laki itu nampak berbinar riang. “Kita bisa mulai sekarang!” ujarnya lagi.

“Baik, Tuan.”

Maya mengerutkan keningnya tak mengerti dengan pembicaraan keduanya namun tak berani bertanya.

Tak berapa lama kemudian, Masumi kembali menoleh ke arah Maya, tersenyum.

“Coba lihat ke bawah, Sayang,” pintanya. Maya menurut.
Sedetik kemudian gadis itu terperangah. Dadanya bergemuruh kencang dan matanya sontak memanas.
Pekikan pelan keluar dari mulut gadis itu.

Di bawah sana, terhampar puluhan lampu, atau lilin, Maya tidak bisa memastikannya, merangkai kalimat yang membuat gadis itu ingin menjerit karena bahagia:

‘Bersediakah kau menikah denganku, Maya Kitajima?’

@@@@@


Bersambung ke part 4....

16 komentar:

  1. timpuuuuk Siomay....pletak..pletak..pletak..

    perhatian buat yg lanjutin..jgn ada badai..

    BalasHapus
  2. Jiaaaaah untung mimpi gak kebayang deh klo Masumi beneran nyium shiori huueeekkk hahahahah ayo lanjutannya lamaran seperti apa yang bakal dilakuin Masumi buat Maya...

    BalasHapus
  3. jorokin shiori dari teras apartemen!!

    BalasHapus
  4. wah... jangan sampe kejadian beneran nih mimpi...., tendang shiomay jauh2... >,<

    BalasHapus
  5. to : takamiya family
    turut bersukacita atas meninggalnya shiori..

    wi2n

    BalasHapus
  6. Maya : kyaaaa pak masumi, kenapa anda masuk tidak mengetuk pintu dulu
    Masumi : jiaaahhhh, kamar kamar gue...

    wakakakaka...

    lanjotttttt writersss...

    BalasHapus
  7. mantaapppp.... uhuyyy...weddinggg.....

    BalasHapus
  8. dan Masumi pun terpaku melihat kekasihnya sedang ganti baju...mau balik lg tapi sayang, dan spt-nya acara lamaran bakalan tlb....xixixixi, gawat jd ngayal.com neeh...

    BalasHapus
  9. waduh... lupa apa lupaaaaa???? XDD

    BalasHapus
  10. lanjuuut...Maya kan blm jawab pertanyaan Masumi :D

    BalasHapus
  11. iya lanjuuut..., lebih cepat lebih baik hehe

    BalasHapus
  12. plak ! akhirnya melamar juga:P


    BalasHapus