“Ah…anda sudah sampai, nona” sambut George ketika melihat Candy sedang berdiri di depan pintu masuk “Silahkan masuk. Saya sudah menyiapkan kamar untuk anda” lanjutnya sambil membawakan koper Candy.
Candy mengangguk dan mengikuti George menuju kamar yang akan ditempatinya.
“George, Albert…maksudku paman William. Beliau ada di mana?”
“Tuan William belum datang, nona”
“Apa belum datang?” tanya Candy “lalu untuk apa dia menyuruhku ke mari?”
Sabtu, 24 Desember 2011
A Christmas Gift For You (2 of 2-end)
Malam ini adalah malam natal. Para tamu yang menginap di pondok-pondok peristirahatan berkumpul di gedung serba guna, untuk merayakannya. Acara perayaan natal itu diawali dengan pertunjukan drama “Gadis penjual korek api” yang dimainkan oleh Maya dan teman-temannya.
Seusai pertunjukan selesai, mereka masih berkumpul di sana karena panitia juga mengadakan pesta natal.
Maya memandang ke sekeliling ruangan itu, matanya mencari sosok Masumi.
Tadi ketika ia sedang melakukan pertunjukan, ia dapat melihat Masumi yang sedang duduk bersama tamu yang lain, menonton pertunjukannya. Tapi kini Masumi tidak terlihat.
Tanpa sadar, maya menghela napasnya kecewa.
Seusai pertunjukan selesai, mereka masih berkumpul di sana karena panitia juga mengadakan pesta natal.
Maya memandang ke sekeliling ruangan itu, matanya mencari sosok Masumi.
Tadi ketika ia sedang melakukan pertunjukan, ia dapat melihat Masumi yang sedang duduk bersama tamu yang lain, menonton pertunjukannya. Tapi kini Masumi tidak terlihat.
Tanpa sadar, maya menghela napasnya kecewa.
Kamis, 22 Desember 2011
A Christmas Gift For You (1 of 2)
Pagi terasa dingin saat Maya terbangun dari tidurnya. Ia pun lalu membuka tirai jendela kamarnya dan melihat keluar.
“Wah…putih semua….” Seru Maya ketika melihat pemandangan putih diluar akibat salju yang turun semalam.
Bergegas ia memakai syalnya dan membuka pintu kamar serta berlari keluar.
Sesampainya di luar, Maya berjalan ke sana kemari, meninggalkan jejak kakinya di mana-mana sambil menikmati pemandangan putih di sekelilingnya. Ia lalu membungkukkan badannya dan mengambil segenggam salju dan membentuknya menjadi bola-bola.
Tiba-tiba, senyum jahil menghias wajah Maya ketika ia melihat Rei yang baru keluar dari pondok peristirahatan dan sedang merentangkan tangannya dan menguap.
“Bruk…”
“Wah…putih semua….” Seru Maya ketika melihat pemandangan putih diluar akibat salju yang turun semalam.
Bergegas ia memakai syalnya dan membuka pintu kamar serta berlari keluar.
Sesampainya di luar, Maya berjalan ke sana kemari, meninggalkan jejak kakinya di mana-mana sambil menikmati pemandangan putih di sekelilingnya. Ia lalu membungkukkan badannya dan mengambil segenggam salju dan membentuknya menjadi bola-bola.
Tiba-tiba, senyum jahil menghias wajah Maya ketika ia melihat Rei yang baru keluar dari pondok peristirahatan dan sedang merentangkan tangannya dan menguap.
“Bruk…”
Kamis, 15 Desember 2011
Story About You and Him #5
“Maya…kamu sedang apa?” tanya Koji sambil menepuk bahu Maya perlahan dan membuat Maya menoleh.
“Koji?” ucapmu yang melihat pria muda itu “Aish…mengapa Koji bersama Maya?”tanyamu.
Lalu kamu menoleh menatap Masumi.
“Masumi….ayo kita datangi mereka…dan jauhi Maya dari Koji” ucapmu sambil menarik tangannya.
Melihat Maya yang menoleh, Masumi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia malah menyeretmu menuju……menuju……
“Koji?” ucapmu yang melihat pria muda itu “Aish…mengapa Koji bersama Maya?”tanyamu.
Lalu kamu menoleh menatap Masumi.
“Masumi….ayo kita datangi mereka…dan jauhi Maya dari Koji” ucapmu sambil menarik tangannya.
Melihat Maya yang menoleh, Masumi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia malah menyeretmu menuju……menuju……
Sabtu, 03 Desember 2011
1001 Mawar Ungu part 02
Masumi segera bergegas ke arah gadis itu. Tapi gadis itu keburu berbaur dengan kerumunan orang dan menghilang dari pandangannya.
“Maya…itu kamu…itu pasti kamu” gumam Masumi sambil mengedarkan pandangannya. Matanya terus mencari sosok gadis itu.
“Di mana kamu berada? Di manaaaa?” tanyanya terus sambil menyusuri jalan di sekitar situ.
Sampai akhirnya, ia menemukan kembali sosok itu. Gadis yang memakai yukata biru yang tadi dilihatnya sedang memilih mainan di sebuah kios.
Masumi pun segera mendekati gadis itu.
“Mungil…” katanya sambil menarik lengan gadis itu dan hendak membalikkan badan si gadis.
Selasa, 29 November 2011
Why I did Fall in Love With You
“Aku tidak pernah tahu mengapa aku bisa jatuh cinta padanya…pesona apa yang dimilikinya sehingga aku tidak mampu memalingkan hatiku darinya. Padahal, dia hanyalah gadis mungil dengan wajah yang ‘biasa’ jika dibandingkan dengan banyak wanita cantik di sekelilingku”
Masumi memandang dari kejauhan gadis mungil yang biasanya tampak ‘biasa’ itu. Hari ini, ada yang lain darinya. Dia tampak cantik dan dewasa dalam balutan gaun putih dan elegan. Wajahnya berseri-seri dan senyuman tidak pernah berhenti mengembang dari bibirnya.
Lalu…lagu itu mulai terdengar…lagu yang menandakan bahwa upacara pernikahan akan dimulai.
Di depan altar, seorang pria muda sedang menunggunya. Pria itu adalah Koji…ya dia adalah Sakurakoji. Koji menatap penuh cinta dan tersenyum pada gadis mungil yang sedang melangkah perlahan mendekatinya.
Masumi memandang dari kejauhan gadis mungil yang biasanya tampak ‘biasa’ itu. Hari ini, ada yang lain darinya. Dia tampak cantik dan dewasa dalam balutan gaun putih dan elegan. Wajahnya berseri-seri dan senyuman tidak pernah berhenti mengembang dari bibirnya.
Lalu…lagu itu mulai terdengar…lagu yang menandakan bahwa upacara pernikahan akan dimulai.
Di depan altar, seorang pria muda sedang menunggunya. Pria itu adalah Koji…ya dia adalah Sakurakoji. Koji menatap penuh cinta dan tersenyum pada gadis mungil yang sedang melangkah perlahan mendekatinya.
Selasa, 15 November 2011
Story About You and Him #4
Pertemuan Masumi dengan Mr. Robin ternyata tidak memakan waktu lama. Saat jam makan siang, Masumi sudah selesai dan keluar dari gedung X.
“Hua….akhirnya selesai juga pertemuanmu dengan bapak gendut berkepala botak itu, Masumi. Aku hampir saja mati kebosanan mendengarkan percakapan kalian” ucapmu sambil berjalan disamping Masumi.
“Memangnya siapa yang menyuruhmu mengikutiku terus?”
“Habis kalau aku tidak mengikutimu, aku harus mengikuti siapa?” tanyamu balik bertanya.
“Tidak tahu” sahut Masumi sambil mengangkat kedua bahunya “Terserah kamu dan aku akan sangat berterima kasih kalau kamu berhenti mengikutiku”
“Jangan harap, Masumi…” sahutmu cepat “Selama aku di sini, aku akan terus mengikutimu, kan aku sudah mengatakan kalau aku adalah bayanganmu”
Masumi hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapanmu.
“Hua….akhirnya selesai juga pertemuanmu dengan bapak gendut berkepala botak itu, Masumi. Aku hampir saja mati kebosanan mendengarkan percakapan kalian” ucapmu sambil berjalan disamping Masumi.
“Memangnya siapa yang menyuruhmu mengikutiku terus?”
“Habis kalau aku tidak mengikutimu, aku harus mengikuti siapa?” tanyamu balik bertanya.
“Tidak tahu” sahut Masumi sambil mengangkat kedua bahunya “Terserah kamu dan aku akan sangat berterima kasih kalau kamu berhenti mengikutiku”
“Jangan harap, Masumi…” sahutmu cepat “Selama aku di sini, aku akan terus mengikutimu, kan aku sudah mengatakan kalau aku adalah bayanganmu”
Masumi hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapanmu.
Minggu, 06 November 2011
Story About You and Him #3
15 menit kemudian…..
Masumi keluar dari ruangannya dan menuju ruang meeting, yang tentu saja kamu tidak ketinggalan mengekorinya.
Para manager yang telah berkumpul segera membungkuk hormat ketika melihat kedatangan Masumi.”Selamat pagi, pak Masumi” sapa mereka bersamaan.
“Pagiii…..bapak-bapak semua….” Sahutmu semangat.
“Pagi…” sahut Masumi “Silahkan kalian semua duduk kembali” lanjutnya sambil duduk ke kursinya yang biasa.
“Masumi….” Katamu “aku duduk di mana?” tanyamu ketika melihat semua kursi terisi penuh.
Masumi hanya mendelik padamu.
“Iya deh..iya…..aku berdiri di sana saja” sahutmu sambil berjalan menuju jendela besar yang ada di ruangan itu.
Masumi keluar dari ruangannya dan menuju ruang meeting, yang tentu saja kamu tidak ketinggalan mengekorinya.
Para manager yang telah berkumpul segera membungkuk hormat ketika melihat kedatangan Masumi.”Selamat pagi, pak Masumi” sapa mereka bersamaan.
“Pagiii…..bapak-bapak semua….” Sahutmu semangat.
“Pagi…” sahut Masumi “Silahkan kalian semua duduk kembali” lanjutnya sambil duduk ke kursinya yang biasa.
“Masumi….” Katamu “aku duduk di mana?” tanyamu ketika melihat semua kursi terisi penuh.
Masumi hanya mendelik padamu.
“Iya deh..iya…..aku berdiri di sana saja” sahutmu sambil berjalan menuju jendela besar yang ada di ruangan itu.
Sabtu, 22 Oktober 2011
Sebuah Peran untuk Masumi (4 of 4-end)
Keesokan harinya…..
“Masumi, ayo saatnya kita latihan” ucap Maya sambil masuk ke dalam ruangan Masumi.
Masumi yang sedang membaca dokumen, mengangkat kepalanya dan memandang Maya.
“Aku tidak mau” sahutnya sambil kembali membaca dokumennya.
“Ayolah Masumi….bukankah kamu sudah setuju?”
“Tidak….”
“Masumi….”
“Masumi, ayo saatnya kita latihan” ucap Maya sambil masuk ke dalam ruangan Masumi.
Masumi yang sedang membaca dokumen, mengangkat kepalanya dan memandang Maya.
“Aku tidak mau” sahutnya sambil kembali membaca dokumennya.
“Ayolah Masumi….bukankah kamu sudah setuju?”
“Tidak….”
“Masumi….”
Jumat, 14 Oktober 2011
1001 Mawar Ungu part 01
Masumi membuka salah satu laci mejanya, ia lalu mengeluarkan sebuah foto. Ditatapnya foto itu dengan penuh kerinduan. Setiap memandang foto itu, ingatannya kembali pada hari-hari di masa lalu. Hari-hari di mana ia masih bisa melihat gadis itu dan menggodanya.
Tok…tok…tok…..
Mizuki menunggu beberapa saat tetap tidak juga ada jawaban jadi sekali lagi ia mengetuk pintu.
Tok..tok..tok….
Masih tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya Mizuki meraih handle pintu dan perlahan membukanya. Ia melihat pemandangan yang sudah tidak lagi mengejutkannya.
Atasannya sedang memandangi foto dengan sendu dan larut dalam pikirannya.
Kamis, 13 Oktober 2011
Sebuah Peran untuk Masumi (3 of 4)
Maya berjalan cepat-cepat menuju halte bis. Sambil menunggu bisnya datang, Maya menelpon pak Kuronuma.
“Pak Kuronuma, ini Maya. Saya---“ucap Maya saat mendengar telpon di angkat.
“Maya….” Seru pak Kuronuma memotong perkataan Maya “Kamu ke mana saja? Bukannya latihan, kamu dan Pak Masumi malah pergi dan tidak kembali lagi”
“Ma..maaf, pak. Hmm…itu pak…itu karena….” Sahut Maya gelagapan.
“Jadi…kamu menelponku hanya untuk minta maaf?” tanya pak Kuronuma.
“Ti..tidak, pak. Bisa saya bertemu dengan bapak? Ada yang ingin saya diskusikan”
“Diskusikan? Apa yang mau kamu diskusikan denganku?” tanya Pak Kuronuma terdengar bingung.
“Pak Kuronuma, ini Maya. Saya---“ucap Maya saat mendengar telpon di angkat.
“Maya….” Seru pak Kuronuma memotong perkataan Maya “Kamu ke mana saja? Bukannya latihan, kamu dan Pak Masumi malah pergi dan tidak kembali lagi”
“Ma..maaf, pak. Hmm…itu pak…itu karena….” Sahut Maya gelagapan.
“Jadi…kamu menelponku hanya untuk minta maaf?” tanya pak Kuronuma.
“Ti..tidak, pak. Bisa saya bertemu dengan bapak? Ada yang ingin saya diskusikan”
“Diskusikan? Apa yang mau kamu diskusikan denganku?” tanya Pak Kuronuma terdengar bingung.
Senin, 10 Oktober 2011
Kencan
Disalah satu bangku taman, Maya sedang duduk menunggu. Sesekali matanya menatap ke arah pintu masuk. Ia lalu melirik arlojinya.
“Lagi-lagi terlambat” keluhnya.
Matanya lalu beralih pada seorang bocah laki-laki yang sedang asyik berlari ke sana kemari mengejar burung-burung jinak yang banyak di taman itu.
“Wusss…telbang…” seru bocah laki-laki itu merentangkan tangannya sambil tertawa gembira.
“Hati-hati, Yuki-chan. Jangan lari-lari nanti kamu jatuh” seru Maya sambil menghampiri bocah itu dan menggendongnya.
“Tuyun…tuyunin…Yuki gak mau digendong” seru Yuki berontak
“Lagi-lagi terlambat” keluhnya.
Matanya lalu beralih pada seorang bocah laki-laki yang sedang asyik berlari ke sana kemari mengejar burung-burung jinak yang banyak di taman itu.
“Wusss…telbang…” seru bocah laki-laki itu merentangkan tangannya sambil tertawa gembira.
“Hati-hati, Yuki-chan. Jangan lari-lari nanti kamu jatuh” seru Maya sambil menghampiri bocah itu dan menggendongnya.
“Tuyun…tuyunin…Yuki gak mau digendong” seru Yuki berontak
Kamis, 29 September 2011
Sebuah Peran Untuk Masumi (2 of 4)
Masumi berjalan cepat menuju studio 5, tempat latihan putri salju.
BRAK…
Ia pun membuka pintu keras-keras.
Orang-orang yang kebetulan sedang latihan akting, menghentikan latihannya dan melihat siapa yang datang.
Pak Kuronuma yang melihat pria yang datang itu segera menghampiri Masumi.
“Apakah sekarang anda telah memiliki waktu untuk berlatih bersama kami, Pak Masumi?” tanyanya.
Masumi tidak menjawab pertanyaan pak Kuronuma, ia hanya mengedarkan pandangannya ke orang-orang yang sedang berkumpul di atas panggung.
“Pak Kuronuma, di mana Maya Kitajima?” tanya Masumi ketika ia tidak melihat orang yang di carinya.
BRAK…
Ia pun membuka pintu keras-keras.
Orang-orang yang kebetulan sedang latihan akting, menghentikan latihannya dan melihat siapa yang datang.
Pak Kuronuma yang melihat pria yang datang itu segera menghampiri Masumi.
“Apakah sekarang anda telah memiliki waktu untuk berlatih bersama kami, Pak Masumi?” tanyanya.
Masumi tidak menjawab pertanyaan pak Kuronuma, ia hanya mengedarkan pandangannya ke orang-orang yang sedang berkumpul di atas panggung.
“Pak Kuronuma, di mana Maya Kitajima?” tanya Masumi ketika ia tidak melihat orang yang di carinya.
Rabu, 28 September 2011
Story About You and Him #2
Pak sopir segera membukakan pintu untuk Masumi dan Masumi pun keluar dari mobil.
“Aku juga mau ikut kelu---“
Duk…
“Aduh…” teriakmu karena kepalamu terbentur kaca mobil, karena pada saat kamu mau keluar, pak sopir menutup pintu.
“Aih…pak sopir tidak sopan. Aku kan belum keluar” gerutumu sambil bergeser ke pintu lain dan membuka pintu.
Sopir yang tanpa sengaja melihat pintu yang dibuka olehmu kemudian menutup lagi, merasa heran.
“Mengapa pintu yang sebelah sana, bisa membuka dan menutup sendiri?”tanyanya bingung. Ia pun berdiri diam dan terus menatap pintu itu.
“Aku juga mau ikut kelu---“
Duk…
“Aduh…” teriakmu karena kepalamu terbentur kaca mobil, karena pada saat kamu mau keluar, pak sopir menutup pintu.
“Aih…pak sopir tidak sopan. Aku kan belum keluar” gerutumu sambil bergeser ke pintu lain dan membuka pintu.
Sopir yang tanpa sengaja melihat pintu yang dibuka olehmu kemudian menutup lagi, merasa heran.
“Mengapa pintu yang sebelah sana, bisa membuka dan menutup sendiri?”tanyanya bingung. Ia pun berdiri diam dan terus menatap pintu itu.
Minggu, 18 September 2011
Sebuah Peran Untuk Masumi (1 of 4)
Tok..tok…tok…
Pintu ruangan Masumi terbuka, tampak Mizuki melongokkan kepalanya.
“Permisi, pak” ucap Mizuki
Masumi yang sedang membaca dokumen, mengangkat kepalanya.
“Ya…Mizuki ada apa?”
Mizuki pun masuk ke ruangan Masumi.
Ia meletakkan beberapa kertas yang terjilid rapi di meja Masumi.
“Apa ini?” tanya Masumi sambil mengambil kertas itu.
“Ini proposal mengenai perayaan yang akan dilakukan, pak” jawab Mizuki.
“Perayaan? Perayaan apa?”
Pintu ruangan Masumi terbuka, tampak Mizuki melongokkan kepalanya.
“Permisi, pak” ucap Mizuki
Masumi yang sedang membaca dokumen, mengangkat kepalanya.
“Ya…Mizuki ada apa?”
Mizuki pun masuk ke ruangan Masumi.
Ia meletakkan beberapa kertas yang terjilid rapi di meja Masumi.
“Apa ini?” tanya Masumi sambil mengambil kertas itu.
“Ini proposal mengenai perayaan yang akan dilakukan, pak” jawab Mizuki.
“Perayaan? Perayaan apa?”
Your Love Make Me Strong (2 of 2-end)
Ruang konferensi pers di gedung Daito
Kedatangan Masumi yang mengenggam erat tangan Maya membuat wartawan yang hadir di sana segera mengerumuni mereka berdua dan mengajukan banyak pertanyaan.
“Pak Masumi apa benar anda dan nona Maya terlibat affair?”
“Apa yang sebenarnya akan anda lakukan di kapal itu bersama Maya?”
“Apakah kalian pergi diam-diam tanpa sepengetahuan tunangan anda?”
“Mengapa anda mengkhianati nona Shiori?.....”tanya wartawan yang tiada henti dan terus mengikuti Maya dan Masumi.
Masumi mengacuhkan semua pertanyaan wartawan dan sambil melindungi Maya, ia terus berjalan menuju tempat yang telah disediakan untuk konferensi.
Kedatangan Masumi yang mengenggam erat tangan Maya membuat wartawan yang hadir di sana segera mengerumuni mereka berdua dan mengajukan banyak pertanyaan.
“Pak Masumi apa benar anda dan nona Maya terlibat affair?”
“Apa yang sebenarnya akan anda lakukan di kapal itu bersama Maya?”
“Apakah kalian pergi diam-diam tanpa sepengetahuan tunangan anda?”
“Mengapa anda mengkhianati nona Shiori?.....”tanya wartawan yang tiada henti dan terus mengikuti Maya dan Masumi.
Masumi mengacuhkan semua pertanyaan wartawan dan sambil melindungi Maya, ia terus berjalan menuju tempat yang telah disediakan untuk konferensi.
Rabu, 07 September 2011
Story About You and Him #1
(Sebuah cerita yang ringan dan segar, konyol, ngawur, aneh bin ajaib serta sedikit gila….jadi yang gak suka baca cerita model-model kaya gini, lebih baik gak usah bacaaa ^^)
(Sebuah khayalan tanpa batas, yang idenya muncul tiba-tiba tanpa diundang di kepala….
Bagaimana bila tokoh ‘kamu’ dari dunia nyata merecoki Masumi? Hmmm…jadilah sebuah cerita yang kacau balau ^o^)
(Dan inilah kolaborasi 'dua dunia' yang menghasilkan sebuah cerita yang lain daripada yang lain xixixi...)
Sinar matahari yang menembus kisi-kisi jendela menyilaukan matamu.
“Hmmm….” Gumammu sambil merentangkan tanganmu dan membalikkan badanmu.
BRUK…
Tanganmu menyentuh sesuatu yang ada di sampingmu.
Seketika itu, perasaanmu mengatakan bahwa ada seseorang yang tidur di sebelahmu.
(Sebuah khayalan tanpa batas, yang idenya muncul tiba-tiba tanpa diundang di kepala….
Bagaimana bila tokoh ‘kamu’ dari dunia nyata merecoki Masumi? Hmmm…jadilah sebuah cerita yang kacau balau ^o^)
(Dan inilah kolaborasi 'dua dunia' yang menghasilkan sebuah cerita yang lain daripada yang lain xixixi...)
Sinar matahari yang menembus kisi-kisi jendela menyilaukan matamu.
“Hmmm….” Gumammu sambil merentangkan tanganmu dan membalikkan badanmu.
BRUK…
Tanganmu menyentuh sesuatu yang ada di sampingmu.
Seketika itu, perasaanmu mengatakan bahwa ada seseorang yang tidur di sebelahmu.
Minggu, 04 September 2011
Your Love Make Me Strong (1 of 2)
(Special Ending "POWER of LOVE")
Sehari sesudah badai, suasana pesisir pantai Sendai lain dari biasanya. Dipinggir pantai itu dipenuhi banyak orang. Bukan hanya penduduk lokal saja tetapi juga banyak wartawan yang berkumpul.
Berita tentang ditemukannya sebuah kapal yang selamat dari badai dan tidak ada kerusakan yang berarti menjadi pembicaraan ramai. Mereka menganggap hal ini sebagai keajaiban.
Lampu blitz dari kamera wartawan seolah tiada henti ketika kedua penumpang yang ada dalam kapal itu dikeluarkan.
“Mereka kan---“ ucap salah satu wartawan terkejut diikuti wartawan lain yang juga sama terkejutnya ketika mengenali penumpang yang selamat itu. Mereka semakin antusias mengambil gambar dan mengikuti mobil ambulance yang membawa Maya dan Masumi ke rumah sakit terdekat dan dengan sabar berkumpul untuk menunggu kabar terbaru di sana.
*****
Sehari sesudah badai, suasana pesisir pantai Sendai lain dari biasanya. Dipinggir pantai itu dipenuhi banyak orang. Bukan hanya penduduk lokal saja tetapi juga banyak wartawan yang berkumpul.
Berita tentang ditemukannya sebuah kapal yang selamat dari badai dan tidak ada kerusakan yang berarti menjadi pembicaraan ramai. Mereka menganggap hal ini sebagai keajaiban.
Lampu blitz dari kamera wartawan seolah tiada henti ketika kedua penumpang yang ada dalam kapal itu dikeluarkan.
“Mereka kan---“ ucap salah satu wartawan terkejut diikuti wartawan lain yang juga sama terkejutnya ketika mengenali penumpang yang selamat itu. Mereka semakin antusias mengambil gambar dan mengikuti mobil ambulance yang membawa Maya dan Masumi ke rumah sakit terdekat dan dengan sabar berkumpul untuk menunggu kabar terbaru di sana.
*****
Rabu, 24 Agustus 2011
Kejutan Masumi
(sekuel I love you, Masumi)
“Aku ingin putus darimu, Masumi” kata Maya tiba-tiba ketika Masumi datang menjemputnya.
“Mengapa?”Tanya Masumi
“Apa aku harus mengatakan alasannya?” Maya balik bertanya
“Tentu saja aku harus tahu alasannya. Apa yang menyebabkan kamu tiba-tiba bicara seperti itu”
“Karena..kamu datang terlambat, aku harus menunggumu lamaaaa” sahut Maya kesal
“Jangan main-main kamu Maya. Aku sudah memberimu penjelasan, mengapa aku datang terlambat”
“Ah, alasan apapun aku tidak mau tahu. Pokoknya aku mau putus karena kamu datang terlambat” kata Maya
“Tapi, tetap saja itu tidak masuk akal” Ucap Masumi bersikeras “Masa karena aku datang terlambat, kamu langsung memutuskan hubungan kita”
“Kenapa tidak?”Tanya Maya
“Aku ingin putus darimu, Masumi” kata Maya tiba-tiba ketika Masumi datang menjemputnya.
“Mengapa?”Tanya Masumi
“Apa aku harus mengatakan alasannya?” Maya balik bertanya
“Tentu saja aku harus tahu alasannya. Apa yang menyebabkan kamu tiba-tiba bicara seperti itu”
“Karena..kamu datang terlambat, aku harus menunggumu lamaaaa” sahut Maya kesal
“Jangan main-main kamu Maya. Aku sudah memberimu penjelasan, mengapa aku datang terlambat”
“Ah, alasan apapun aku tidak mau tahu. Pokoknya aku mau putus karena kamu datang terlambat” kata Maya
“Tapi, tetap saja itu tidak masuk akal” Ucap Masumi bersikeras “Masa karena aku datang terlambat, kamu langsung memutuskan hubungan kita”
“Kenapa tidak?”Tanya Maya
Senin, 22 Agustus 2011
POWER of LOVE (chapter 10-End)
Maya tersadar dari pingsannya. Ia memandang sekelilingnya. Ia berada di sebuah ruangan berukuran kecil. Tidak ada apa-apa di sana.
Ceklek…
Seseorang masuk dalam ruangan itu.
“Apa kamu sudah sadar, Maya?” tanyanya
“Ka..kazuya….” ucap Maya saat mengenali orang yang menyapanya.
“Halo..Maya…kita bertemu lagi” ucap Kazuya
Kazu---“
“Tapi sayangnya kali ini kamu sial. Sesuai dengan ucapanku waktu itu..aku tidak akan melepaskanmu…kamu harus membayar apa yang telah kamu lakukan padaku” lanjut Kazuya lagi
“a..apa maksudmu?”Tanya Maya tidak mengerti
Ceklek…
Seseorang masuk dalam ruangan itu.
“Apa kamu sudah sadar, Maya?” tanyanya
“Ka..kazuya….” ucap Maya saat mengenali orang yang menyapanya.
“Halo..Maya…kita bertemu lagi” ucap Kazuya
Kazu---“
“Tapi sayangnya kali ini kamu sial. Sesuai dengan ucapanku waktu itu..aku tidak akan melepaskanmu…kamu harus membayar apa yang telah kamu lakukan padaku” lanjut Kazuya lagi
“a..apa maksudmu?”Tanya Maya tidak mengerti
Minggu, 14 Agustus 2011
POWER of LOVE (chapter 09)
Pementasan pertama yang berlangsung di Tokyo itu akhirnya selesai dan sangat sukses.
Tepuk tangan dari penonton terus membahana seolah tiada henti.
Dibelakang panggung, Maya sedang berusaha keluar dari kerumunan orang yang mengelilinginya.
“Permisi…permisi…biarkan saya lewat” pinta Maya berulang-ulang.
Tapi orang-orang itu terus mengerumuni dan menyalami Maya.
Tiba-tiba ada satu tangan yang menariknya keluar dari kerumunan itu.
“Satomi…”ucapnya ketika ia melihat siapa yang melakukannya.
“Selamat, Maya. Pementasanmu sangat mengagumkan” katanya sambil memberikan buket mawar merah yang besar.
“Terima kasih, Satomi. Untuk bunganya dan karena kamu bersedia datang dan menonton pementasanku. Kamu memang temanku yang baik” ucap Maya tulus
“Teman? Jadi benar-benar sudah tidak ada lagi tempat untukku. Maya?” Tanya Satomi kecewa
Tepuk tangan dari penonton terus membahana seolah tiada henti.
Dibelakang panggung, Maya sedang berusaha keluar dari kerumunan orang yang mengelilinginya.
“Permisi…permisi…biarkan saya lewat” pinta Maya berulang-ulang.
Tapi orang-orang itu terus mengerumuni dan menyalami Maya.
Tiba-tiba ada satu tangan yang menariknya keluar dari kerumunan itu.
“Satomi…”ucapnya ketika ia melihat siapa yang melakukannya.
“Selamat, Maya. Pementasanmu sangat mengagumkan” katanya sambil memberikan buket mawar merah yang besar.
“Terima kasih, Satomi. Untuk bunganya dan karena kamu bersedia datang dan menonton pementasanku. Kamu memang temanku yang baik” ucap Maya tulus
“Teman? Jadi benar-benar sudah tidak ada lagi tempat untukku. Maya?” Tanya Satomi kecewa
Kamis, 11 Agustus 2011
POWER of LOVE (chapter 08)
Malam hari di kamar Masumi.
Masumi sedang termenung sendiri.
Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang saat kakek Shiori memintanya untuk secepatnya menikahi shiori..
“Menikah?” tanyanya “Mengapa ketika aku diminta untuk cepat menikahi Shiori, ada keraguan di hatiku. Bukankah dia adalah tunanganku? Selama ini,aku selalu berusaha menjadi tunangan yang baik baginya. Tapi mengapa sepertinya ada yang salah. Apa yang sebenarnya yang terjadi antara aku dan Shiori dulu? Atau perasaanku padanya juga ikut hilang?” Tanya Masumi pada dirinya “Apa yang harus aku lakukan sebenarnya?”
Masumi menghembuskan napasnya dalam.
“Keputusan apa yang sebaiknya aku ambil?Apakah aku memang harus menikahi Shiori karena ia adalah tunanganku?Ah…aku benar-benar tidak tahu..mengapa tidak ada setitik ingatan pun yang aku ingat tentang hubunganku dengan dia…jawaban apa yang harus aku berikan pada kakek Shiori bila beliau menanyakannya lagi?apa?”
Masumi sedang termenung sendiri.
Ingatannya kembali pada kejadian tadi siang saat kakek Shiori memintanya untuk secepatnya menikahi shiori..
“Menikah?” tanyanya “Mengapa ketika aku diminta untuk cepat menikahi Shiori, ada keraguan di hatiku. Bukankah dia adalah tunanganku? Selama ini,aku selalu berusaha menjadi tunangan yang baik baginya. Tapi mengapa sepertinya ada yang salah. Apa yang sebenarnya yang terjadi antara aku dan Shiori dulu? Atau perasaanku padanya juga ikut hilang?” Tanya Masumi pada dirinya “Apa yang harus aku lakukan sebenarnya?”
Masumi menghembuskan napasnya dalam.
“Keputusan apa yang sebaiknya aku ambil?Apakah aku memang harus menikahi Shiori karena ia adalah tunanganku?Ah…aku benar-benar tidak tahu..mengapa tidak ada setitik ingatan pun yang aku ingat tentang hubunganku dengan dia…jawaban apa yang harus aku berikan pada kakek Shiori bila beliau menanyakannya lagi?apa?”
Rabu, 10 Agustus 2011
TRAGEDY
Masumi sedang mengendarai mobilnya menuju bandara Tokyo. Sesekali matanya melirik ke kursi di sampingnya. Di kursi itu tergeletak sebuah buket besar yang berisikan 100 tangkai mawar ungu.
Hari ini, gadis mungilnya akan kembali ke Tokyo setelah hampir sebulan maya meninggalkan Jepang dan melakukan pementasan bidadari merah di beberapa Negara Asia.
“Maya…akhirnya tour keliling asiamu usai juga. Aku sudah sangat rindu padamu. Aku benar-benar tidak sabar bertemu denganmu” gumam Masumi sambil tersenyum senang.
Pada salah satu pintu kedatangan di bandara Tokyo, suasana tampak ramai. Bukan ramai oleh penumpang tetapi di penuhi wartawan yang akan meliput kedatangan pemeran bidadari merah itu dan juga petugas kepolisian yang sedang berjaga-jaga.
Tak lama menunggu, seorang gadis mungil berpakaian modis dan memakai kaca mata hitam disertai rombongannya tampak keluar dari pintu itu. Wartawan yang sedari tadi sudah menunggu langsung mendekati rombongan itu. Untung saja, pihak bandara telah menyiapkan petugas kepolisian untuk mengawal rombongan itu sehingga keadaan tetap dapat dikendalikan.
Maya tidak memperdulikan keadaan di sekelilingnya, matanya mencari-cari seseorang. Orang itu berjanji akan menjemputnya saat ia tiba di bandara.
Akhirnya orang yang dicarinya berhasil ditemukannya. Tak jauh tepat di depannya, seorang pria tampan memegang biket besar mawar ungu berdiri sambil tersenyum menatapnya.
“Masumi…” ucap Maya sambil menatap rindu pria itu.
Maya segera berlari menuju arah pria itu dan segera memeluknya.
Hari ini, gadis mungilnya akan kembali ke Tokyo setelah hampir sebulan maya meninggalkan Jepang dan melakukan pementasan bidadari merah di beberapa Negara Asia.
“Maya…akhirnya tour keliling asiamu usai juga. Aku sudah sangat rindu padamu. Aku benar-benar tidak sabar bertemu denganmu” gumam Masumi sambil tersenyum senang.
Pada salah satu pintu kedatangan di bandara Tokyo, suasana tampak ramai. Bukan ramai oleh penumpang tetapi di penuhi wartawan yang akan meliput kedatangan pemeran bidadari merah itu dan juga petugas kepolisian yang sedang berjaga-jaga.
Tak lama menunggu, seorang gadis mungil berpakaian modis dan memakai kaca mata hitam disertai rombongannya tampak keluar dari pintu itu. Wartawan yang sedari tadi sudah menunggu langsung mendekati rombongan itu. Untung saja, pihak bandara telah menyiapkan petugas kepolisian untuk mengawal rombongan itu sehingga keadaan tetap dapat dikendalikan.
Maya tidak memperdulikan keadaan di sekelilingnya, matanya mencari-cari seseorang. Orang itu berjanji akan menjemputnya saat ia tiba di bandara.
Akhirnya orang yang dicarinya berhasil ditemukannya. Tak jauh tepat di depannya, seorang pria tampan memegang biket besar mawar ungu berdiri sambil tersenyum menatapnya.
“Masumi…” ucap Maya sambil menatap rindu pria itu.
Maya segera berlari menuju arah pria itu dan segera memeluknya.
Rabu, 03 Agustus 2011
POWER of LOVE (chapter 07)
‘Ckiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttt………..’
Mobil itu hampir saja menabrak Maya.
Tinggal beberapa inci lagi…
Tapi untung saja, pengemudinya sigap, mobilnya bisa berhenti tepat pada waktunya.
Dua orang pria bergegas keluar dari mobil itu.
“Anda tidak apa-apa, no---“ ucap salah seorang dari mereka
“Mayaaa” ucapnya lagi ketika ia mengenali siapa yang hampir ditabraknya.
“Maya…apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?” tanyanya yang melihat Maya jatuh terduduk.
“Maya..jawab aku..”katanya lalu ia berjongkok dan mengguncang-guncang lembut tubuh Maya, mencoba menyadarkan gadis itu.
Dengan berlinangan air mata, Maya memandangi pria yang mengguncang-guncang tubuhnya.
“Sa..satomi?” ucap Maya perlahan ketika ia mengenali pria itu.
“Satomiiii” kata Maya lagi, kemudian secara tiba-tiba ia memeluk Satomi erat dan menangis di dadanya “Huaaaaa……”
Mobil itu hampir saja menabrak Maya.
Tinggal beberapa inci lagi…
Tapi untung saja, pengemudinya sigap, mobilnya bisa berhenti tepat pada waktunya.
Dua orang pria bergegas keluar dari mobil itu.
“Anda tidak apa-apa, no---“ ucap salah seorang dari mereka
“Mayaaa” ucapnya lagi ketika ia mengenali siapa yang hampir ditabraknya.
“Maya…apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?” tanyanya yang melihat Maya jatuh terduduk.
“Maya..jawab aku..”katanya lalu ia berjongkok dan mengguncang-guncang lembut tubuh Maya, mencoba menyadarkan gadis itu.
Dengan berlinangan air mata, Maya memandangi pria yang mengguncang-guncang tubuhnya.
“Sa..satomi?” ucap Maya perlahan ketika ia mengenali pria itu.
“Satomiiii” kata Maya lagi, kemudian secara tiba-tiba ia memeluk Satomi erat dan menangis di dadanya “Huaaaaa……”
Minggu, 24 Juli 2011
POWER of LOVE (chapter 06)
Seminggu kemudian di kediaman Hayami
Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pintu. Dengan sigap, sopir membukakan pintu penumpang. Lalu keluarlah seorang wanita anggun diikuti oleh seorang pria jangkung yang masih tampak sedikit pucat.
Pria jangkung itu berdiri diam terpaku sambil memandangi rumah besar di depannya dengan bingung.
“Shiori ini….”
“Ini rumahmu Masumi” jawab Shiori yang mengerti kebingungan Masumi
Lalu, Shiori menggandeng tangan Masumi dan mengajaknya masuk.
Dengan ragu-ragu, Masumi mengikuti Shiori.
“Shiori…benarkah...di sini tempat tinggalku?” Tanya Masumi ragu
“Ini memang rumahmu Masumi” jawab Shiori yakin.
“Kamu sudah pulang?” tanya seorang pria tua yang duduk di kursi roda
“Dia……?”
Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pintu. Dengan sigap, sopir membukakan pintu penumpang. Lalu keluarlah seorang wanita anggun diikuti oleh seorang pria jangkung yang masih tampak sedikit pucat.
Pria jangkung itu berdiri diam terpaku sambil memandangi rumah besar di depannya dengan bingung.
“Shiori ini….”
“Ini rumahmu Masumi” jawab Shiori yang mengerti kebingungan Masumi
Lalu, Shiori menggandeng tangan Masumi dan mengajaknya masuk.
Dengan ragu-ragu, Masumi mengikuti Shiori.
“Shiori…benarkah...di sini tempat tinggalku?” Tanya Masumi ragu
“Ini memang rumahmu Masumi” jawab Shiori yakin.
“Kamu sudah pulang?” tanya seorang pria tua yang duduk di kursi roda
“Dia……?”
Minggu, 17 Juli 2011
POWER of LOVE (chapter 05)
Tak lama setelah Maya pergi, dokter yang memeriksa Masumi keluar dari kamar Masumi.
“Bagaimana dok? Bagaimana keadaan Masumi?” Tanya Shiori panik
“Anda tidak perlu panik, nona. Pak Masumi baik-baik saja. Kesadarannya kini mulai pulih, tapi-----“ ucap dokter
“Tapi apa, Dok?”
“Lebih baik saya menjelaskannya di ruangan saya saja, nona. Silahkan ikut dengan saya” kata dokter
Shiori lalu mengikuti dokter itu menuju ruangannya.
“Bagaimana keadaannya, dok?” Tanya Shiori segera setelah berada di ruang dokter,
“Seperti yang saya katakan tadi, bahwa kesadaran pasien telah pulih dan kondisi fisiknya juga sangat baik. Hanya saja---“
“Bagaimana dok? Bagaimana keadaan Masumi?” Tanya Shiori panik
“Anda tidak perlu panik, nona. Pak Masumi baik-baik saja. Kesadarannya kini mulai pulih, tapi-----“ ucap dokter
“Tapi apa, Dok?”
“Lebih baik saya menjelaskannya di ruangan saya saja, nona. Silahkan ikut dengan saya” kata dokter
Shiori lalu mengikuti dokter itu menuju ruangannya.
“Bagaimana keadaannya, dok?” Tanya Shiori segera setelah berada di ruang dokter,
“Seperti yang saya katakan tadi, bahwa kesadaran pasien telah pulih dan kondisi fisiknya juga sangat baik. Hanya saja---“
Senin, 11 Juli 2011
I LOVE YOU, MASUMI
(note:maya dan masumi sudah berpacaran 3 bulan )
“Kapan kamu akan mengatakan bahwa kamu mencintaiku, maya?” Tanya Masumi tiba-tiba ketika mereka sedang menikmati sunset.
Maya memandang Masumi yang duduk di sampingnya.
“Haruskah aku mengatakannya, Pak Masumi?” Tanya Maya polos
Masumi menghembuskan napas panjang.
“Bukankah sudah berkali-kali aku mengatakan padamu, jangan panggil aku Bapak. Apakah aku lebih cocok jadi ayahmu daripada pacarmu?” Tanya Masumi kesal
Maya tertawa mendengar kata-kata Masumi
“Maafkan aku-------“ Maya menggantung kalimatnya.
Masumi memandang Maya, menunggu kelanjutan kalimat Maya.
“Pak masumi” lanjut Maya sambil tersenyum jahil
“Kamu benar-benar membuat aku kesal, Maya…”keluh Masumi sambil memasang wajah sedih
“Jangan bersedih seperti itu, pak Masumi… bila anda memasang wajah sedih seperti itu, wajah anda akan terlihat semakin tua” canda Maya
Wajah Masumi menjadi semakin murung.
“Jadi….aku benar-benar tidak cocok sebagai pacarmu ya?” Tanya Masumi sedih pada Maya
“Aku kan hanya becanda, pak masumi..anda jangan bersedih seperti itu donk…” bujuk Maya
“Tapi benar kan…..kalau orang lain melihat kita berduaan seperti ini, mereka pasti beranggapan kalau aku seperti seorang paman yang sedang bersama keponakannya bukannya sepasang kekasih?” ucap Masumi lagi
“Mungkin juga…”sahut Maya membenarkan kata-kata Masumi yang membuat Masumi semakin murung.
“Kapan kamu akan mengatakan bahwa kamu mencintaiku, maya?” Tanya Masumi tiba-tiba ketika mereka sedang menikmati sunset.
Maya memandang Masumi yang duduk di sampingnya.
“Haruskah aku mengatakannya, Pak Masumi?” Tanya Maya polos
Masumi menghembuskan napas panjang.
“Bukankah sudah berkali-kali aku mengatakan padamu, jangan panggil aku Bapak. Apakah aku lebih cocok jadi ayahmu daripada pacarmu?” Tanya Masumi kesal
Maya tertawa mendengar kata-kata Masumi
“Maafkan aku-------“ Maya menggantung kalimatnya.
Masumi memandang Maya, menunggu kelanjutan kalimat Maya.
“Pak masumi” lanjut Maya sambil tersenyum jahil
“Kamu benar-benar membuat aku kesal, Maya…”keluh Masumi sambil memasang wajah sedih
“Jangan bersedih seperti itu, pak Masumi… bila anda memasang wajah sedih seperti itu, wajah anda akan terlihat semakin tua” canda Maya
Wajah Masumi menjadi semakin murung.
“Jadi….aku benar-benar tidak cocok sebagai pacarmu ya?” Tanya Masumi sedih pada Maya
“Aku kan hanya becanda, pak masumi..anda jangan bersedih seperti itu donk…” bujuk Maya
“Tapi benar kan…..kalau orang lain melihat kita berduaan seperti ini, mereka pasti beranggapan kalau aku seperti seorang paman yang sedang bersama keponakannya bukannya sepasang kekasih?” ucap Masumi lagi
“Mungkin juga…”sahut Maya membenarkan kata-kata Masumi yang membuat Masumi semakin murung.
Kamis, 07 Juli 2011
POWER of LOVE (chapter 04)
Dua minggu sudah berlalu sejak peristiwa kecelakaan yang dialami Masumi.
Kondisi Masumi semakin membaik bahkan luka-luka di tubuh Masumi mulai menghilang tetapi Masumi masih belum terbangun dari komanya.
Tim dokter yang menangani Masumi tidak dapat memastikan kapan Masumi dapat tersadar kembali.
Kondisi tentang belum sadarnya Masumi dari komanya dan tidak adanya kepastian kapan Masumi dapat sadar kembali mulai membuat para pemegang saham Daito resah.
Karena tidak mungkin sebuah perusahaan apalagi perusahaan sebesar Daito tidak ada yang memimpin.
Mereka mulai kasak-kusuk mengenai bagaimana nasib perusahaan Daito.
Akhirnya rapat pemegang saham dilakukan untuk membahas persoalan itu..
Terjadi perdebatan seru dalam rapat tersebut.
Para pemegang saham terbagi menjadi 2 kubu. Satu kubu menginginkan agar kedudukan Masumi sebagai Daito segera dicabut dan digantikan dengan orang lain. Kubu yang lain tidak setuju karena belum ada orang yang dianggap cocok sebagai direktur utama yang sekompeten Masumi.
Kondisi Masumi semakin membaik bahkan luka-luka di tubuh Masumi mulai menghilang tetapi Masumi masih belum terbangun dari komanya.
Tim dokter yang menangani Masumi tidak dapat memastikan kapan Masumi dapat tersadar kembali.
Kondisi tentang belum sadarnya Masumi dari komanya dan tidak adanya kepastian kapan Masumi dapat sadar kembali mulai membuat para pemegang saham Daito resah.
Karena tidak mungkin sebuah perusahaan apalagi perusahaan sebesar Daito tidak ada yang memimpin.
Mereka mulai kasak-kusuk mengenai bagaimana nasib perusahaan Daito.
Akhirnya rapat pemegang saham dilakukan untuk membahas persoalan itu..
Terjadi perdebatan seru dalam rapat tersebut.
Para pemegang saham terbagi menjadi 2 kubu. Satu kubu menginginkan agar kedudukan Masumi sebagai Daito segera dicabut dan digantikan dengan orang lain. Kubu yang lain tidak setuju karena belum ada orang yang dianggap cocok sebagai direktur utama yang sekompeten Masumi.
Rabu, 06 Juli 2011
POWER of LOVE (chapter 03)
Maya keluar dari rumah sakit tersebut dengan gontai. Ia tidak dapat melihat Masumi. Ia tidak dapat menjenguknya.
Maya berjalan seperti orang linglung. Ia hanya terus berjalan perlahan-lahan dengan tidak sadar. Pikirannya kosong. Bahkan ketika ia menyeberang jalan, ia tidak mendengar teriakan pengemudi taksi yang menyuruhnya cepat menepi.
Jauh Maya berjalan, Maya melewati sebuah gereja. Ia berhenti di depan gereja tersebut dan hanya diam memandangi gereja tersebut.
Seorang pendeta yang kebetulan keluar, melihat Maya yang hanya berdiri diam memandangi gereja itu.
Pendeta itu lagi mendekatinya, ia melihat wajah Maya yang terlihat sangat sedih.
Dengan perlahan ditepuknya bahu Maya,
“Anakku,mengapa kamu hanya berdiri diam di sini? Dan mengapa wajahmu terlihat sangat sedih?” Tanya Pendeta itu.
Maya berjalan seperti orang linglung. Ia hanya terus berjalan perlahan-lahan dengan tidak sadar. Pikirannya kosong. Bahkan ketika ia menyeberang jalan, ia tidak mendengar teriakan pengemudi taksi yang menyuruhnya cepat menepi.
Jauh Maya berjalan, Maya melewati sebuah gereja. Ia berhenti di depan gereja tersebut dan hanya diam memandangi gereja tersebut.
Seorang pendeta yang kebetulan keluar, melihat Maya yang hanya berdiri diam memandangi gereja itu.
Pendeta itu lagi mendekatinya, ia melihat wajah Maya yang terlihat sangat sedih.
Dengan perlahan ditepuknya bahu Maya,
“Anakku,mengapa kamu hanya berdiri diam di sini? Dan mengapa wajahmu terlihat sangat sedih?” Tanya Pendeta itu.
Minggu, 03 Juli 2011
POWER of LOVE (chapter 02)
Di apartemennya, maya sedang bersiap-siap untuk pergi ke lokasi syuting iklan untuk mempromosikan pertunjukan bidadari merah yang akan dipentaskan di 7 kota besar di seluruh jepang mulai akhir bulan depan.
Sebelum keluar dari apartemen, maya mengambil spidol dan mendekati kalender yang tergantung dekat pintu. Lalu diberinya tanda silang pada tanggal kemarin.
Sambil melakukan itu Maya tersenyum senang.
“Empat hari lagi….empat hari lagi….aku akan bertemu Masumi”ucapnya.
Kemudian Maya membuka pintu Apartemennya keluar sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
Di depan pintu, maya terkejut.
“Koji….”serunya.
Sebelum keluar dari apartemen, maya mengambil spidol dan mendekati kalender yang tergantung dekat pintu. Lalu diberinya tanda silang pada tanggal kemarin.
Sambil melakukan itu Maya tersenyum senang.
“Empat hari lagi….empat hari lagi….aku akan bertemu Masumi”ucapnya.
Kemudian Maya membuka pintu Apartemennya keluar sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
Di depan pintu, maya terkejut.
“Koji….”serunya.
Jumat, 01 Juli 2011
POWER of LOVE (chapter 01)
(sekuel dari cerita 'Saat Kau Jauh dari Sisiku')
Bandara Narita, Tokyo ; tengah malam
Di terminal 1 pintu kedatangan terlihat sesosok pria jangkung mendorong troli yang berisi setumpukan koper berjalan menuju pintu keluar bandara dan berhenti di tempat antrian taksi.
Sopir taksi segera mengangkat koper-koper itu ke dalam bagasi.
Setelah pria itu masuk dan duduk di kursi penumpang, taksi itupun mulai meninggalkan bandara.
“Mau ke mana, Pak?” Tanya sopir taksi itu.
“Semenanjung Izu” kata pria jangkung itu yang tak lain adalah Masumi Hayami.
Masumi menyandarkan punggungnya,
“Maya, aku pulang” katanya perlahan. Diwajahnya yang masih tergurat sisa-sisa keletihan muncul sebuah senyuman lembut…
Sebenarnya saat di bandara, masumi ingin segera ke apartemen maya untuk menemui gadis itu, dia sudah sangat merindukan gadis itu. Tapi setelah dia pertimbangkan lagi bahwa waktu saat ini yang sudah lewat tengah malam, dipastikan Maya sudah tidur nyenyak dan dia tak ingin mengganggu waktu tidur gadis mungil tercintanya itu.
Kepulangannya yang mendadak ini -4 hari lebih cepat dari rencana semula-tidak diketahui oleh siapapun, tidak oleh maya yang saat terakhir kali dia meneleponnya, dia tidak memberitahukan bahwa kepulangannya akan dipercepat, juga tidak oleh ayahnya, atau siapapun.
Bandara Narita, Tokyo ; tengah malam
Di terminal 1 pintu kedatangan terlihat sesosok pria jangkung mendorong troli yang berisi setumpukan koper berjalan menuju pintu keluar bandara dan berhenti di tempat antrian taksi.
Sopir taksi segera mengangkat koper-koper itu ke dalam bagasi.
Setelah pria itu masuk dan duduk di kursi penumpang, taksi itupun mulai meninggalkan bandara.
“Mau ke mana, Pak?” Tanya sopir taksi itu.
“Semenanjung Izu” kata pria jangkung itu yang tak lain adalah Masumi Hayami.
Masumi menyandarkan punggungnya,
“Maya, aku pulang” katanya perlahan. Diwajahnya yang masih tergurat sisa-sisa keletihan muncul sebuah senyuman lembut…
Sebenarnya saat di bandara, masumi ingin segera ke apartemen maya untuk menemui gadis itu, dia sudah sangat merindukan gadis itu. Tapi setelah dia pertimbangkan lagi bahwa waktu saat ini yang sudah lewat tengah malam, dipastikan Maya sudah tidur nyenyak dan dia tak ingin mengganggu waktu tidur gadis mungil tercintanya itu.
Kepulangannya yang mendadak ini -4 hari lebih cepat dari rencana semula-tidak diketahui oleh siapapun, tidak oleh maya yang saat terakhir kali dia meneleponnya, dia tidak memberitahukan bahwa kepulangannya akan dipercepat, juga tidak oleh ayahnya, atau siapapun.
Selasa, 28 Juni 2011
SAAT KAU JAUH DARI SISIKU
Dear Pak masumi…..ups…maksudku masumi (aku sudah janji hanya memanggilmu masumi tanpa embel-embel ‘pak’ ^ ^)
5 hari sudah berlalu sejak kepergianmu ke Amerika untuk perjalanan bisnis….
Hari-hari yang aku lewati tanpa dirimu begitu panjang dan lamaaaaa…..
Satu hari serasa seribu tahun…..
Hatiku sangat…sangat merindukanmu……….
Setiap ada kesempatan, aku selalu membuka folder handphoneku yang berisikan fotomu. Aku bukan hanya memandangi gambarmu tapi juga mengelus dan menciumi gambar wajahmu.
Bila malam tiba, saat aku sudah berada dalam kamar apartemenku…..aku hanya bisa menyapa fotomu yang sedang tersenyum, yang terpajang di samping tempat tidurku…..
Tapi…masumi, mawar unguku…..
Sebenarnya ada penyesalan dalam hatiku….
Seharusnya sebelum kamu pergi, aku tidak meminta foto yang sekecil ini padamu…tapi harusnya aku meminta foto yang sangat besaaar….bila perlu sebesar poster film yang biasa di pajang di bioskop……Karena fotomu yang sekarang terpajang di meja samping tempat tidurku itu kurang besar, kurang jelas bagiku untuk memandang wajahmu, aku tidak puas…..
Atau mungkin..harusnya jangan foto yang aku pinta……tapi sebuah patung lilin yang seukuran dengan dirimu dan sama persis menyerupai dirimu-patung lilin seperti yang ada di museum madam Tussauds-, agar aku bisa lebih puas memandangimu dan merasa kamu selalu ada di sampingku….
Walaupun sejujurnya.. aku lebih sangat…sangat mengharapkan dirimulah yang sebenarnya, -bukan foto sebesar poster ataupun patung lilin-, yang selalu ada di sisiku dan selalu menemaniku…karena hanya kamu yang nyata…yang bisa memberikan aku pelukan hangat, kecupan lembut dan kata-kata penambah semangat….
5 hari sudah berlalu sejak kepergianmu ke Amerika untuk perjalanan bisnis….
Hari-hari yang aku lewati tanpa dirimu begitu panjang dan lamaaaaa…..
Satu hari serasa seribu tahun…..
Hatiku sangat…sangat merindukanmu……….
Setiap ada kesempatan, aku selalu membuka folder handphoneku yang berisikan fotomu. Aku bukan hanya memandangi gambarmu tapi juga mengelus dan menciumi gambar wajahmu.
Bila malam tiba, saat aku sudah berada dalam kamar apartemenku…..aku hanya bisa menyapa fotomu yang sedang tersenyum, yang terpajang di samping tempat tidurku…..
Tapi…masumi, mawar unguku…..
Sebenarnya ada penyesalan dalam hatiku….
Seharusnya sebelum kamu pergi, aku tidak meminta foto yang sekecil ini padamu…tapi harusnya aku meminta foto yang sangat besaaar….bila perlu sebesar poster film yang biasa di pajang di bioskop……Karena fotomu yang sekarang terpajang di meja samping tempat tidurku itu kurang besar, kurang jelas bagiku untuk memandang wajahmu, aku tidak puas…..
Atau mungkin..harusnya jangan foto yang aku pinta……tapi sebuah patung lilin yang seukuran dengan dirimu dan sama persis menyerupai dirimu-patung lilin seperti yang ada di museum madam Tussauds-, agar aku bisa lebih puas memandangimu dan merasa kamu selalu ada di sampingku….
Walaupun sejujurnya.. aku lebih sangat…sangat mengharapkan dirimulah yang sebenarnya, -bukan foto sebesar poster ataupun patung lilin-, yang selalu ada di sisiku dan selalu menemaniku…karena hanya kamu yang nyata…yang bisa memberikan aku pelukan hangat, kecupan lembut dan kata-kata penambah semangat….
Langganan:
Komentar (Atom)

